Chapter Text
“Hei!”
Seseorang menepuk Pundak Ren dan memilih duduk pada bangku kosong disampingnya.
“Eh?! Senpai Apa kabar?”
“Baik, Kau sendiri?”
Ren tersenyum lebar dan mengangguk senang menanggapi pertanyan Shogo kepadanya.
“Tumben….”
Mendengar tanggapan Shogo, Ren mengernyitkan dahinya dan kembali menyesap kopi yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
“Member lain sedang mengantri membeli thai tea, Senpai.”
Suasana sebenarnya agak canggung bagi Ren, terlebih memang Ren sebelumnya cukup jarang berinteraksi dengan senpainya ini. Baru kali ini Senpainya benar benar mengobrol bahkan duduk disampingnya sendirian.
Shogo masih menatap lekat wajah Ren yang sejak tadi sudah gelisah akibat ditatap lama oleh Shogo, tapi sekali lagi dia tentu tidak akan berani pergi meninggalkan senpainya tiba-tiba dengan alasan risih bukan?.
“Ek-hem…Senpai sendirian juga?” seperti sempat tercekat di awal, Ren rasa tenggorokannya cukup kering untuk memilih topik baru kepada senpai didepannya.
“Tidak…Tadi aku bersama Rui-san, Hokuto, dan Itsuki sih…tapi mereka juga membeli Thai tea…”
“Aaaa..Begitu ya.”
Lagi-lagi diam. Ren kehabisan topik dan Shogo saat ini terlihat sibuk melihat hasil foto di ponselnya.
“Bagaimana Indonesia?” tanpa mengalihkan tatapannya dari ponselnya. Shogo kembali membuka topik untuk Ren.
“Hm…Sangat seru…”
Shogo yang mendengar jawaban Ren segera mematikan ponselnya dan kembali menatap lurus kedepan dengan mengangguk kecil.
“Rampage juga akan kesana tahun depan…Bagaimana respon penggemar? Bukankah mereka negara dengan mayoritas muslim?”
“Kami cukup menikmati kegembiraan penggemar, Bahkan aku melihat seorang penggemar lucu yang berteriak histeris dengan mengatakan “I love you Ren-san” hahahahah…perempuan itu lucu sekali…”
Shogo ikut tertawa sembari membetulkan tali tas selempangnya yang sedikit menggantung berantakan.
“Aku harap aku bertemu penggemar kami secepatnya di Indonesia.”
“Shogo-san tidak perlu khawatir, aku yakin Rampage banyak sekali penggemarnya di Indonesia. Lihatlah.” Ren mengeluarkan sebuah kertas yang dilipat kecil pada casing ponsel belakangnya.
“Surat ini saja menuliskan penggemar bernama wanitapusing menyukai Psychic Fever dan The Rampage…”
Shogo mendorong badannya untuk melihat selembar kertas kecil yang dikeluarkan Ren. Benar saja, kertas itu memang benar menulis nama grupnya.
“Wah…Aku jadi tidak sabar menunggu hari mengunjungi mereka di Indonesia.” Ujar Shogo.
“Tentu saja penggemarmu yang di Indonesia juga memiliki perasaan sama dengan menunggu kedatangan kalian.”
Entah apa yang mengubah suasana. Shogo maupun ren tampak menjadi lebih akrab dengan suasana yang lebih hidup dari sebelumnya. Walau kebanyakan berisi cerita Ren terhadap Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Berbagai cerita menarik, budaya setiap negara, dan ragam penggemar yang dijumpai diceritakan pada obrolan mereka siang itu. Hal ini semakin membuat Shogo lebih bersemangat untuk segera mengunjungi negara negara yang diceritakan Ren.
“Mendengar ceritamu aku jadi ingin cepat melakukan tour ke berbagai negara.”
“Tentu saja kalian harus mencobanya.”
Sebuah ponsel bergetar dan membuat keduanya melihat ponselnya masing-masing. “Shogo-san ternyata itu ponselmu.”
Shogo tersenyum menatap layar ponselnya ketika sebuah nama tertera pada layar miliknya.
“Halo...”
“Aku? Bersama Hokuto, Itsuki, dan Rui-san..”
Ren sedari tadi hanya diam mengamati Shogo yang menerima telpon, tidak terdengar siapa yang menelpon tapi sepertinya menanyakan keberadaan Shogo saat ini.
“Tidak…Mereka membeli minum…aku disini duduk bersama Ren.”
“Astaga…kamu posesif sekali…Hahahahaha..”
Shogo tertawa dan menatap Ren di sampingnya.
Percakapan shogo dengan seseorang di telpon terus berlanjut.
“Sudah ya…mari bertemu di hotel, Sampai nanti.”
Shogo menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.
“Ren tidak memiliki teman yang posesif? Atau sering sekali menanyakan kamu ada dimana? Dan kapan kembali?”
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Shogo membuat Ren berfikir sosok lain yang selalu saja mengikutinya selama kegiatan grup.
“Tentu saja ada!”
“Ahhhh..betulkan perkiraanku!” kini Shogo menatap Ren dengan tatapan tidak percaya. “biar ku tebak!”
Shogo terlihat berfikir keras dengan satu jari menempel di dahinya.
“Senpai…”
“tunggu…biarkan aku berfikir namanya.”
“Ryushin..”
“Ahhh betul iya Ryushin!”
Ren tersenyum lebar dengan respon yang diberikan Shogo setelah sepainya itu mencoba berfikir keras dengan alis tertaut.
“Tadi saat aku melihatmu…aku merasa tumben sekali melihatmu minum kopi sendirian.”
“Ryushin sedang dengan Ryoga san di kedai ujung jalan ini.”
“Kamu tidak ikut dengannya?”
Ren menggeleng pelan dan menaikan bahunya.
“Aku sedang ingin sendiri, terkadang Ryushin sangat cerewet kalau berbicara.”
“Ah…ternyata nasibmu sama juga denganku ya..”
“Shogo-san merasakan hal yang sama? Dengan siapa?”
Shogo terlihat memangku tangannya pada dagunya. “Kamu kenal Riku-san kan?”
Tentu saja!. Siapa yang tidak tau salah satu vokalis utama di grup Rampage dengan tubuh yang berotot indah.
“Tentu, ada apa dengan dia?”
“Bagaimana menurutmu tentang dia?”
Ren terlihat memberi jeda sebentar untuk membayangkan sosok senpainya itu dalam benaknya.
“Riku-san sangat keren…suaranya sangat tinggi dan badannya…bagus?”
“Nahhh…setiap orang yang kutanyai pasti akan merespon hal yang sama! Tapi tau tidak? Dia ternyata orang yang menyebalkan dan sangat tidak mau mengalah?”
“hahahahaha…Senpai sangat bersemangat menceritakan tentang Riku-san…kalian hanya sebagai temankan?”
Shogo terlihat menimbang jawabannya sebentar dan menatap orang-orang yang berlalu lalang di depan meja mereka.
“Aku dan Riku-san memiliki banyak kesamaan yang tidak bisa dilihat orang lain. Sehingga kami cocok satu sama lain. Tapi aku rasa kami memang ditakdirkan untuk dimiliki satu sama lain.”
“Woahhh, Shogo-san sangat mengagumkan…”
“Apanya?”
“Kalimatmu.”
Shogo tertawa pelan menanggapi respon yang diberikan kohai satu agensinya itu.
“Ren-kun?!”
Sebuah suara muncul dari belakang keduanya. Sontak keduanya menoleh dan mengamati seseorang yang memanggil ren.
“Oooo…Ryushin. kemana Ryoga-san?’
Ryushin mengamati Ren dan memberikan hormat setengah membungkuk kepada Shogo.
“Aku kira Ren-san akan kesepian jadi aku buru-buru kembali.”
“Eh?!’
Shogo dan ren saling menatap bingung. Namun berikutnya Shogo segera bangkit dan tersenyum menghampiri Ryushin.
“Ryushin-kun, maaf ya aku mengobrol dengan Ren tadi…”
“Eh…Bukan seperti itu senpai.” Mendengar ucapan Shogo, membuat Ryushin menjadi sedikit tidak enak. Apa wajahnya menunjukkan rasa tidak suka jika senpainya duduk berduaan dengan Ren?.
Ren terkekeh pelan melihat wajah panik Ryushin. Ryushin boleh saja berisik dan pecicilan dengannya, tapi dengan Senpai tentu saja dia kikuk sekali.
“Hey Ren! Sampai jumpa lain waktu, terimakasih atas obrolannya tadi…” Shogo melambaikan tangannya dan terlihat berjalan menjauh dari Ren maupun Ryushin.
Belum ada 5 meter melangkah kini Shogo kembali berbalik dan menatap ren kembali.
“Hey ren! Hati hati…”
“Ada apa senpai?”
“Lama-lama kamu bisa jatuh cinta dengan tingkah dia loh!”
Tanpa menunggu lagi, Shogo kembali meneruskan langkahnya dan menghilang diantara keramaian orang.
Ren masih membuka mulutnya lebar akibat tidak percaya dengan ucapan senpainya itu sebelum pergi. Dia menatap Ryushin perlahan dan mengamati orang didepan itu yang juga menatap dirinya bingung.
“Shogo senpai tadi mengatakan apa terakhir?” tanya Ryushin yang masih setia berdiri dengan minuman Thai tea yang tinggal sedikit di tangannya.
“Ah…Syukurlah kamu tidak mendengarnya”
“Eh?”
Ren bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Ryushin. Entah apa yang tiba-tiba yang dipikirkannya. Tapi sepertinya ren saat ini sedang menetralkan degup jantungnya sendiri.
“Ah…Shogo-san…membuat aku jadi kepikiran aja…” gumam Ren dalam hati.
Melihat Ren yang menjauh. Ryushin segera mempercepat langkahnya dan segera menyusul Ren di depannya.
“Hey! Jangan tinggalin aku dong!”
“Ah persetan! Ryushin jangan mengekori aku terus (T..T)” Maki Ren dalam hati. Dengan cepat Ren berlari dan Aksi kejar kejaran dengan Ryushin tidak dapat dihindari pada siang itu.
