Actions

Work Header

Incinerate

Summary:

Semenjak kejadian yang menimpa keluarga barunya, Jungwon merubah sikapnya. Lambat laun, Jungwon membenci dirinya dan rumah panti asuhan. Kebangkitan itu tidak bisa ia elakkan. Ia berencana untuk menghilang dan hidup selayaknya manusia di kehidupan sosial sekitarnya. Hingga salah satu teman dekatnya, berasal dari rumah panti asuhan yang sama, tewas di depan matanya akibat serangan Vampir. Akankah Jungwon berhasil menemukan kebenaran yang selama ini terpendam?

Chapter 1: Prologue

Chapter Text

Delcaster, 1849.

Saat itu tengah hujan lebat. Jalanan becek dan berlumpur. Sebuah kereta kuda melewati jalanan setapak menuju rumah bangsawan. Kusirnya terus memukul kuda-kudanya untuk melaju lebih cepat. Sepasang suami-istri dengan seorang anak kecil yang tubuhnya menggigil, tampak pucat dan khawatir di dalam kereta kuda.

“Apa yang akan terjadi dengan anak kita?” Yang perempuan bertanya dengan nada lemah sambil mengusap peluh di dahi anaknya. Seikat kain menutupi lehernya dengan bercak darah yang terus mengucur. Dia kemudian mengangkat wajahnya untuk melihat wajah suaminya. “Dokter keluarga tidak cukup?”

Anaknya terbatuk-batuk, yang perempuan semakin merengkuh dengan erat.

“Aku kira dengan suntikan biasanya dan jahitan kali ini akan berhasil.” Ada nada ketidakpastian di dalamnya. Dia mendongak sekali lagi.

“Kau yang⸺”

“Meritta, sudah kukatakan. Dia tidak akan bertahan lebih lama lagi.”

“Tolong,” suara istrinya semakin lirih. “Tolong, jangan katakan seperti itu.” Istrinya mulai tersedu-sedu di atas wajah anaknya yang semakin pucat dan bibir yang sangat kering.

Mereka bergoyang keras di dalam kereta kuda tatkala roda kereta kuda sudah menyentuh gerbang depan rumah bangsawan.

Meritta, nama istrinya. Memandangi halaman rumah bangsawan dengan tatapan lara. Tangannya digenggam erat oleh suaminya.

“Percayalah padaku. Seperti kau mempercayaiku saat aku melamarmu.”

Suara tangisan lebih keras lagi. Tapi gemerisik hujan lebih keras di luar sana.

Kereta kuda itu berhenti dalam hentakan keras. Sang kusir mengingatkan jika mereka telah tiba di pintu depan. Seorang pelayan pria membukakan pintu, di tangan kirinya sudah terbuka lebar payung hitam yang siap menyambut mereka.

“Selamat petang, saya Dalvis. Tuan dan Nyonya Carlyle, mari.”

Meritta yang pertama menapakkan kakinya, berdiri di seberang pelayan pria itu. Tak acuh jika sebagian jubahnya basah akan hujan. Tuan Carlyle membopong anaknya dan berjalan cepat menaiki anak tangga pintu depan. Sepasang pelayan pria, lagi, menyambutnya tanpa ekspresi di bagian depan rumah. Seorang pelayan mengarahkan jalan untuk Tuan Carlyle dan seorangnya lagi membantu melepas jubah basah milik Meritta.

Pelayan pertama mengikuti mereka yang menaiki anak tangga ke lantai dua. Sedangkan pelayan yang membantu Meritta berdiam di lantai bawah.

“Tuan Carlyle, kehadiran anda sudah sangat dinantikan.”

Tuan Carlyle terhenyak sejenak di sebuah pintu kayu yang berdekorasi indah.

“Be-benarkah?” Gagapnya.

Meritta sama terkejutnya dengan suaminya mencoba untuk bertanya apa maksud pelayan itu namun sang suami juga sama tidak mengerti.

Pintu di sebelah kiri mereka terbuka. Sekali lagi, dua orang pelayan pria meraih tubuh anaknya dan membaringkannya di atas kasur. Seorang pria paruh baya duduk tenang di sofa panjang, di seberang kasur, menatap anaknya yang tubuhnya bergetar hebat.

Dia berdiri ketika Tuan Carlyle menghampirinya.

“Apa yang terjadi, Daniel?” Tangan pria tua itu mengisyaratkan sesuatu sehingga salah satu pelayannya menarik tubuh Meritta perlahan untuk keluar dari ruangan.

Pikiran Meritta yang masih kacau, selain karena nama suaminya yang secara informal dipanggil itu, dia dipenuhi kebingungan saat dirinya sendiri tidak boleh berada di dekat anaknya.

“Tapi itu anakku. Apa⸺apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan?” Wajah Meritta merah padam, beberapa anak rambutnya mencuat. Sanggul rambutnya tidak lagi rapi. Dia tidak memerdulikan penampilannya sebagai seorang bangsawan ketika anaknya sedang tidak baik-baik saja. 

“Daniel, apa yang kau lakukan? Katakan sesuatu. Daniel!” Teriaknya histeris.

Daniel berbalik dan kembali menghampiri Meritta dengan wajah panik. Dia merangkul istrinya, memeluknya sebentar, dan berbisik. “Tolong, tolong percayalah. Aku sendiri tidak yakin tapi percayalah.” Lalu mendorong pelan Meritta keluar ruangan. Meritta terdiam, pintunya terkunci dan pelayan pria itu berdiri di depan pintu. Pelayan itu menghadang Meritta yang berniat untuk memasuki ruangan itu lagi tapi seorang pelayan perempuan kali ini muncul dari balik punggungnya.

“Nyonya, mari ikut saya.”

Meritta menoleh cepat dan selama beberapa detik memperhatikan pelayan itu dengan seksama. Kakinya masih terpancang di depan pintu.

“Mari, Nyonya Carlyle.” Tangan kanannya terbuka dan mengarahkan Meritta untuk mengikutinya.

Seakan mengerti akan dilempari serentetan pertanyaan, pelayan itu berbalik dan berjalan mendahuluinya. Sebuah etika yang tidak benar, meninggalkan seorang bangsawan begitu saja. Akan tetapi Meritta mau tidak mau harus mengikutinya untuk mendapatkan jawaban penenang. Jawaban mengenai apa yang akan terjadi kepada anak semata wayangnya di dalam ruangan itu.

“Nama saya Emily, Nyonya Carlyle. Anak anda akan baik-baik saja. Tuan kami, Tuan Bennet jarang sekali menerima orang untuk dilakukan pengobatan.”

Mereka berjalan di lorong besar dengan langit-langit yang tinggi. Keramik-keramik mahal berjejer terpajang di beberapa sudut lorong dan tirai rumahnya yang berbahan beludru mahal juga mengalihkan pikiran Meritta. Pria tua tadi, Bennet, mungkin seorang bangsawan kaya raya tapi seumur hidupnya menjadi bangsawan juga, Meritta tidak pernah sekali mendengar nama Tuan Bennet. Nama yang terdengar asing di gendang telinga ataupun di secuil memorinya.

Emily dan Meritta sudah berada di sayap bangunan lain. Dia melihat beberapa pelayan wanita sibuk membersihkan lukisan-lukisan dan lainnya membawa baki.

Emily berhenti di depan sebuah ruangan hangat dan perapian yang telah dinyalakan sebelumnya. Sebuah gaun cantik tergeletak juga di atas kasur.

“Nyonya bisa beristirahat sejenak di sini.”

Pelayan yang membawa baki tadi langsung ikut memasuki kamar itu dan meletakkan baki berisikan teko, secangkir teh panas, dan kue-kue kering.

“Silahkan berganti baju terlebih dahulu Nyonya karena tubuh anda akan sakit nantinya. Kuenya masih hangat, silahkan.” Meritta hendak menjawab namun Emily melanjutkan perkataannya, “Jika butuh sesuatu, panggil nama saya Nyonya. Terima kasih.”

Sedetik berikutnya, Emily benar-benar keluar dari kamarnya. Suasana menjadi lebih hening. Dia mendekati jendela kamar. Dirinya benar-benar berada di sayap bangunan yang berbeda. Meritta bisa melihat balkon kamar tadi tapi tertutupi oleh tirai saat ini. Hujannya lebih deras, berangin, meniup-niup dahan pohon di halaman rumah.

Meritta menoleh, menatap baki tadi. Dia mendekati cangkir teh itu dan memandanginya lama.

 

***

 

Keesokan paginya, Tuan dan Nyonya berada di ruang makan. Wajah suaminya jauh lebih lelah pagi ini. Meritta meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat. Tuan Carlyle melihat istrinya dan tersenyum balik.

Pintu ganda ruang makan terbuka. Ruang makan terasa sangat hangat dan beraksen warna putih dengan ukiran kayu indah di dinding ruangan. Tuan Bennet berjalan masuk. Semuanya sangat hening. Sebelum Tuan Bennet sendiri yang berdeham ketika langkah kakinya sudah dekat dengan meja makan.

“Anak kalian sudah sembuh. Tapi masih tertidur sangat pulas. Aku tidak berani membangunkannya.”

Dengan lesu, Tuan Carlyle menjawab. “Tak apa, Tuan, kami,” Daniel melihat istrinya sekilas. Melihat senyuman istrinya. “Kami sangat berterima kasih. Tapi anak kami sudah bertahun-tahun seperti ini dan dokter dimanapun tidak mengetahui penyebabnya. Apa yang terjadi?”

Tuan dan Nyonya Carlyle memperhatikan dengan seksama tiap patah kata yang akan diutarakan oleh Tuan Bennet.

“Dia hanya demam. Aku sendiri juga tidak mengetahui nama penyakitnya apa tapi dia sangat demam tinggi. Mungkin karena infeksi luka di bagian lehernya, Daniel.”

Tuan dan Nyonya Carlyle tampak bernapas lega dan duduk lebih tenang di atas kursinya. Meskipun Meritta menyimpan banyak sekali pertanyaan.

Pada waktu mencecap gelas miliknya, tatapan Meritta bertemu dengan Emily di sudut ruangan. Emily membalas tatapan Meritta dengan senyuman hangat. Senyum kecil di bibir Meritta ketika sadar ada perasaan hangat di dalam hatinya.

“Berapa usia anak kalian?”

“Masih dua belas tahun, Tuan.”

“Anak kalian adalah anak yang baik.”

Meritta yang mendengar ujaran aneh itu melempar tatapan cemas ke arah Tuan Bennet yang kini sudah memandangnya dalam diam.

“Ah, tentu, anak kami adalah anak yang berbudi luhur dengan ajaran kebangsawanan saat ini.” Senyum cemas tersirat pada Tuan Carlyle.

Tuan Bennet langsung terkekeh seraya memotong daging di atas piring. Tuan Carlyle ikut tertawa.

“Silahkan, mari makan bersama.”

Lalu mereka makan bersama.

Tuan Bennet melahap makanannya dengan asik. Itu seperti hidangan yang keluar sekali dalam setahun. Dia harus sampai menyeka bibirnya karena saus daging lumer ke ujung bibirnya.

Meritta bolak-balik menatap gerak-gerik itu.

“Sebenarnya, keadaan anak kalian terus memburuk, kan ?”

“Benar.”

“Bagaimana jika dia tinggal bersamaku?”

Suara irisan pisau dengan piring berhenti, dentingan antar sendok dan piring berhenti, ruangan sangat amat sunyi.

Meritta mencondongkan tubuhnya, kedua matanya mulai memerah.

“Tidak.”

“Baiklah, saya hanya bercanda.”

Sesuatu yang aneh akan terjadi. Meritta menyadari hal itu. Suaminya mungkin mengenal Tuan Bennet jauh lebih lama darinya hingga Tuan Bennet-pun harus mengganti pengucapan formal dan amarah pada intonasinya.

Sisa waktu makan dihabiskan dengan rasa keheningan yang pekat.

 

***

 

Dua tahun kemudian.

“Perjanjian perdagangan kali ini tidak mudah. Jadi tidak bisa begitu saja dibatalkan.”

“Tapi aku dengar keadaan laut sedang tidak bagus.”

Meritta membenarkan kerah baju suaminya, sedangkan Daniel merapikan meja kerjanya. Beberapa kertas berserakan. Mereka berada di ruangan kerja suaminya di sayap barat bangunan. Ruangan yang menghadap ke halaman belakang dengan kebun bunga yang indah. Ada anak laki-lakinya yang tengah berjongkok diam di sana.

“Bagaimana kabar Tuan Bennet?” Tanya Meritta dengan nada ketus.

“Aku menghubunginya akhir tahun lalu setelah itu, aku rasa hubungan kami kembali agak renggang.”

“Itu bukan salahku.”

Meritta menjauhi tubuh Daniel dan terkekeh ringan. Daniel mengejar Meritta dan memeluknya.

“Aku janji akan pulang secepatnya.”

Ketika pintu ruangan itu diketuk. Meritta tahu jika waktu bersama suaminya akan habis tapi semenjak anaknya sembuh, usaha keluarga besar Daniel menjadi lebih besar. Orang tua Meritta yang mengetahui juga tampak senang karena bisa menjalin dan memiliki pasangan bisnis yang menguntungkan.




“Tuan Muda, apa yang anda lakukan di sini?”

Seorang pelayan berusia muda, mungkin sekitar dua puluhan, berlari mendekati seorang anak kecil di tengah kebun bunga. Angin menghunus tubuhnya lebih cepat. Dia mendongak dan melihat awan kelabu menggantung di arah selatan.

“Sebentar lagi hujan⸺”

“Burungnya mati, kenapa bisa burungnya mati?”

“Tuan Muda Jean, semua makhluk hidup akan⸺”

Perkataan pelayan muda itu sekali lagi berhenti. Burung itu mati dengan mengenaskan. Hitam, terpanggang.

“Abby! Apa yang kau lakukan? Suruh Tuan Muda Jean masuk!” teriak seorang pelayan wanita.

Pelayan muda itu bernama Abby, berambut hitam ikal dengan kulit sawo matang, berbalik ke arah yang memanggil namanya.

Dia langsung mengangkat tubuh Jean. Jean tertawa kegelian dan Abby turut tersenyum, masih menggoda Tuan Muda Jean.

Meritta yang akan mengantarkan kepergian suaminya memeluk Jean yang berlari ke arahnya. Daniel juga merangkul tubuh Jean. Mereka tertawa bersama dan senyum mereka sangat cerah, berbanding terbalik dengan cuaca saat itu.

Tanpa disadari Meritta, sebulan kemudian, dia harus menangis meraung-raung di lantai bawah. Bukan untuk menyambut tubuh hangat suaminya, melainkan sebuah surat dari bagian Keamanan dan Kelautan jika kapal suaminya karam. Tubuh suaminya tidak akan pernah ditemukan, tubuh suaminya tidak akan pernah pulang ke dalam pelukan Meritta. 

Jean yang bersembunyi di balik anak tangga terdiam. Pertanyaan yang sama terus bermunculan. Kenapa semuanya akan mati?

“Tuan Muda.” Abby berjalan cepat untuk menarik tubuh Jean. “Anda tidak seharusnya di sini, mari ikut saya.”

Jean tidak mendengarkan Abby tapi tangannya dengan patuh digenggam oleh Abby. Ia masih menatap ibunya yang merosot dan menangis terus-menerus di dalam dekapan pelayan wanitanya.

Pintu ke arah halaman belakang terbuka ketika seorang pelayan dengan basah kuyup masuk lalu melipat sebuah payung. Jean yang melihat itu langsung berlari begitu saja. Dengan kaki-kaki mungilnya itu dia berlari menembus hujan, tidak peduli jika tanah berlumpur atau bahkan dengan kubangan air hujan.

 

***

 

Jean yang basah kuyup berjalan keluar dari sebuah karnaval. Hujan kemarin menyambar semua wilayah dan seluruh jalanan berlumpur. Ia melihat kaki tanpa sepatunya terendam lumpur. Lalu pandangannya teralihkan ke arah kedua tangannya. Tangan kanannya terangkat. Sebuah luka yang mulai menutup sendiri.

Pikirannya berbisik untuk melangkahkan kakinya ke arah sebuah rumah bangsawan lain. Jadi Jean meninggalkan karnaval itu tanpa menoleh sedikit pun. Suara roboh yang keras terdengar dari kejauhan. Ia menoleh dengan pelan, tubuhnya mulai menggigil. Dari kilatan bola matanya, ada api biru yang memenuhi tempat karnaval itu. Suara tawa dan jeritan memenuhi pendengaran, ia jatuh pingsan.

 

***

 

Shancher, 1941.

Seorang laki-laki bersimpuh di tengah kegelapan malam. Di belakangnya ada seorang laki-laki lainnya yang mencekik lehernya. Yang bersimpuh terbatuk. Tanpa menunggu waktu, laki-laki di belakang memutar kepala yang bersimpuh dengan cepat dan muncul suara patah terdengar keras. Darah sudah banyak menempel di pakaian dan memercik ke wajah pucatnya.

“Jean.”

Seorang laki-laki yang seumuran dengannya memanggil namanya. Dia berdiri tak jauh dari api unggun. Apinya besar, merah, dan menjilat-jilat.

Jean menggeret tubuh yang telah mati itu. Bersama dengan laki-laki lain, mereka melemparkan tubuh itu ke dalam kobaran api.

“Silahkan lakukan. Setelah ini kita bisa mandi. Aku benci bau amis.”

“Mengesankan.”

Lalu Jean membuka telapak tangan kanannya. Api biru kecil muncul. Ia melemparkan api biru ke dalam kobaran api di depannya dan seketika semuanya menjadi api biru, berkobar lebih besar. Mereka harus mundur beberapa langkah karena hembusannya sangat terasa pedih.

“Jean, tidakkah kau merasa pedih ketika api itu muncul di tanganmu?” Laki-laki lain bertanya seraya melepas sarung tangan hitam miliknya.

Dengan tatapan kosong, Jean menatap telapak tangannya, “Mungkin sudah mati rasa.” Sedetik berikutnya, Jean menghilang.

“Sial, sering kali meninggalkanku.”