Work Text:
Malam sudah lama mengungkung langit ketika Mika Kagehira — siswa kelas akhir akademi Yumenosaki sekaligus anggota dari idol group Valkyrie — mendapati notifikasi pesan berturut-turut dari ponselnya. Mika bangkit dari kursi jahit untuk mengambil ponsel yang tadi ia isi baterai. Benar saja, ada rentetan pesan dari teman sekamarnya, Ritsu.
Mikarin, di mana? Nazunyan cariin, katanya mau ketemuan abis Nazunyan latihan.
Atau Mikarin latihan?
Eh, tapi kata Maa-kun, Oshisan-san lagi pergi ke luar negeri lagi.
Mikarin di mana?
“Oh, iya! Nazuna-nii … aku lupa!”
Mika kembali ke arah meja kerja. Ia ambil kostum yang sejak tadi dikerjakannya dan merebahkannya ke atas meja. Dahi Mika mengernyit. Rasanya masih ada yang kurang di sana sini, namun Mika terlalu buntu untuk memperbaikinya. Jadi, dia segera melipat kostum tersebut untuk dibawa pulang serta membereskan meja kerjanya. Tak lupa, Mika menyapu kain-kain perca yang tercecer dan mengumpulkannya di sisi dinding, siapa tahu masih bisa digunakan untuk hal lain besok.
Setelah memastikan studio mereka tidak begitu berantakan, Mika mengambil jas musim dinginnya dan melilitkan syal ke leher. Tak lupa, mematikan AC, lampu, dan mengunci pintu. Kala berbalik, barulah ia menyadari bahwa koridor begitu sepi, lengang, dan gelap. Satu-satunya pencahayaan adalah dari cahaya bulan purnama yang menerobos kaca jendela besar di salah satu sisi lorong.
Mika menyipitkan mata, mengambil ponsel untuk melihat jam. Pukul Sepuluh malam. Pantas saja sudah begitu gelap dan sepi. Padahal, tadinya Mika hanya berniat tinggal di sekolah sampai pukul delapan. Namun, inspirasi yang datang tiba-tiba membuatnya agak kalap menyelesaikan desain kostum untuk konser akhir tahun mereka.
“Uh — ” Mengucek matanya beberapa kali, tak kunjung juga Mika dapatkan fokus optik yang dia inginkan. Barulah ia teringat kalau penglihatannya memang agak buruk bila dihadapkan dengan gelap. Tapi bagaimana lagi. Mau tidak mau, dia harus melintasi koridor gelap ini bila mau mencapai pintu keluar.
Mika akhirnya memantapkan diri untuk melangkah, sambil berharap kakinya tidak tersandung lapisan keramik yang tak rata.
Baru berjalan beberapa langkah, angin malam berembus melalui celah di ventilasi. Dingin, memang sekarang sudah masuk bulan Desember. Mika harus merapatkan kembali syal di lehernya.
Mika terdiam. Ada sesuatu yang terbawa serta bersama dengan embusan udara tadi. Suatu aroma yang familiar — aroma yang sempat membuat heboh suasana kelas tiga kala pagi tadi. Aroma dupa….
Mika menoleh ke kanan dan kiri. Nakkun? Apa Nakkun masih di sini?
***
Natsume berjengit kaget ketika menyadari pintu ruang kelasnya dibuka oleh seseorang.
“Nakkun?”
“Mika-kun???”
Natsume Sakasaki — leader dari idol group Switch yang berada di bawah naungan agensi New Dimension, sekaligus teman seangkatan Mika, walau berbeda kelas — tengah sibuk membersihkan pakaiannya yang ditempeli dedaunan.
Dedaunan? Batin Mika keheranan. Dia menatap sekitar. Kenapa banyak daun di pakaian Nakkun?
“Nakkun kenapa masih di kelas malam-malam?”
“Mika-kun mengapa masih di sekolah malam-maLAM?”
“Etto … Aku tidak sadar kalau sudah semalam ini ketika menjahit tadi.” Mika memutuskan untuk menjawab pertanyaan Natsume terlebih dulu. “Kalau Nakkun?”
“Hmm.” Berpangku dagu, gestur Natsume tampak seperti memikirkan sesuatu. “rahaSIA.”
“Eehh? Nakkun tidak mau memberitahuku??”
“Apa untungnya bagiku kalau memberitahu Mika-KUN?”
Melihat ekspresi sedih dan kecewa sebagai reaksi spontan Mika, batin Natsume menjadi tidak nyaman. Bagaimana pun, Kagehira Mika dalah terman tersayangnya dan merupakan orang yang paling jujur dan murni yang pernah Natsume temui. Jadi, akhirnya dia memilih mengalah pada egonya. “Oke, akan kutunjukkan apa yang sedang aku lakuKAN. Mika-kun sudah mau pulang, KAN? Ya sudah sekalian saJA. Kemari, mendekatLAH.”
Mika bergerak mendekat. Natsume membenahi posisi syalnya sebelum membuka salah satu jendela di area belakang. Kalau Mika tidak salah ingat, jendela tersebut memang berada persis di samping tempat duduk Natsume di kelas. Pemuda bersurai merah itu kemudian naik ke atas kursi, menjadikannya pijakan untuk melangkah keluar jendela yang terbuka.
“Apa yang kau tunggu, aYO?”
Mika tidak memiliki pilihan lain. Dia mengeratkan tali tas selempang yang berisi rancangan kostum, lantas mengikuti langkah Natsume untuk melompat ke luar kelas melalui jendela.
Seingatnya, sisi di samping ruang kelas tiga adalah kawasan taman. Mika tidak pernah menjelajahi area taman secara keseluruhan, dia lebih senang menghabiskan waktunya untuk berlatih atau membuat berbagai macam kostum untuk tampil. Apalagi di malam hari. Dengan penglihatannya yang tak bersahabat dengan gelap, Mika hampir kesulitan mengikuti langkah Natsume yang menuntunnya di depan.
“Mika-kun? Kau tidak apa-aPA?”
“Uhh… Maaf Nakkun, aku kesulitan melihat kalau cahaya kurang seperti ini….”
Natsume tidak menjawab. Sebaliknya dia langsung meraih salah satu tangan Mika untuk digenggam. Dengan menampilkan sebuah senyum tipis, Natsume lanjut bergerak ke depan. Melewati semak-semak dan masuk ke area rumah kaca. Mereka terus berjalan di antara pot-pot bunga dan hidroponik. Cahaya bulan bersinar menembus atap-atap kaca. Bersamaan dengan Natsume yang menoleh untuk sesekali mengecek keadaan, pendar purnama seakan membasuh iris dwiwarna milik Mika. Natsume terkesiap.
“Kita mau ke mana, Nakkun?”
“Tunggu dan lihat saJA.”
Dengan genggam tangan yang makin erat, mereka terus berjalan hingga akhirnya keluar dari rumah kaca. Natsume berbelok ke area perpustakaan. Mereka dihadapkan dengan sebuah tunggul setinggi dada yang ada di samping gedung besar tersebut. Natsume yang melompat terlebih dulu. Ketika dirinya sudah sampai di atas, ia mengulurkan tangan untuk membantu Mika naik.
Perjalanan mereka belum selesai.
Di tengah gelap, Mika jadi tidak paham akan denah sekolahnya sendiri. Dia hanya bisa mengikuti Natsume yang menuntunnya melewati celah-celah pagar dan tembok. Melompat, berbelok, menaiki tangga. Hingga pada akhirnya Natsume berhenti mempin dan berbalik, apa yang disuguhkan di depan matanya adalah sesuatu yang tidak Mika duga.
“Ini….”
“Ya.” Kata Natsume, menjatuhkan tubuh untuk duduk di sebuah bangku kayu yang terlihat baru digeser entah dari mana. “Di siNI, kau bisa melihat panggung untuk konser akhir tahun dengan pemandangan terbaIK.”
Menatap penuh binar takjub, Mika tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya. Dia lalu duduk di samping Natsume, memandangi panggung besar yang tengah dipersiapkan di area lapangan di bawah sana.
Meski pandangannya buruk dikungkung gelap, Mika lebih dari tahu kalau panggung besar di bawah sana akan jadi sesuatu yang menakjubkan nantinya. Apalagi ketika sudah disorot lampu warna-warni dan berbagai dekorasi artistik. Batinnya mulai memvisualisasikan berbagai performa dari banyak idol unit pada konser akhir tahun nanti. Ditambah, dia sempat mendengar dari Fukushochou-san kalau keempat perwakilan dari masing-masing agensi benar-benar ambisius mengerjakan setnya — itu sebabnya Mika juga tak kalah bersemangat mengerjakan kostumnya hingga selarut ini, di sekolah.
“Aku baru tahu ada bangku di tempat ini!”
Natsume tampak tidak senang. “Uh, aku menyeret bangku ini dari guDANG. Makanya pakaianku koTOR. Kalau Mika-kun penasaRAN.”
“HAAAH?” Mika berseru tidak percaya. “Nakkun membawa ini sendirian? Dari gudang di sana itu? Bukannya jauh?”
“BegituLAH.”
“Apa tidak berat?”
“Tidak, hanya merepotKAN. Tapi kurasa sepadan karena bisa mendapat spot terbaik beSOK.”
“Benar juga.” Mika menganggukkan kepala. “Rencananya Nakkun mau menonton di sini dengan siapa besok? Maksudnya, Nakkun sampai repot-repot membawa bangku dari gudang….”
Bukannya Mika berharap atau apa pun, namun, meski mereka berteman cukup dekat, Mika yakin Natsume sudah mempersiapkan tempat ini untuk menonton bersama seseorang … atau beberapa orang. Masalahnya, setelah diberi tahu rahasia kecil ini, ada keinginan di dalam hati Mika untuk bisa melihat konser itu di tempat dengan pemandangan terbaik. Tapi itu tidak mungkin, kan? Lagi pula, dia juga akan tampil —
“Belum taHU.” Jawaban Natsume mengejutkan Mika. “Mungkin aku bisa mengajak Sora dan Tsumugi-senPAI, mungkin aku juga bisa mengajak para niiSAN, atau mungkin aku juga bisa mengajak Mika-KUN. Aku belum terlalu memikirkanNYA.”
“Eh?? Aku?? Nakkun mengajakku menonton dari sini?”
“Mika-kun tidak maU? Ya suDAH.”
“Eh, mau kok!! Aku mau! Kalau Nakkun mengizinkan….”
Natsume menoleh, menorehkan senyum kecil. “Boleh KOK. Kalau Mika-kun selesai tampil, langsung datang saja kemaRI. Kita menonton bersaMA.”
Mika tersenyum lebar mendengarnya.
“Ngomong-ngomong, kenapa Mika-kun bisa tahu aku ada di keLAS?”
“Oh,” Mika tertawa kecil, wajahnya bergerak mendekat dan mengendus pelan aroma orang yang sedang duduk di sampingnya. “Bau parfummu. Bau dupa. Tercium sampai koridor. Tadi pagi sempat membuat heboh di kelas, kan? Ternyata berguna juga, ya, hahahaha. Aku jadi bertemu dengan Nakkun dan melihat semua ini.”
“ParfumKU?” Natsume mencium aroma syalnya sendiri. “Benar juga, masih menemPEL. Lain kali, kalau Mika-kun mau melembur lagi, bilang saja padaKU. Biar aku pakai parfum yang sama agar mudah dikenaLI.”
Mika belum sempat memahami secara utuh perkataan Natsume ketika getaran ponsel yang tersimpan di saku membuyarkan atensi keduanya.
Nazu-nii memanggil.
“EHHH AKU LUPA ADA JANJI DENGAN NAZU-NII!” Mika berseru panik. Diraihnya tangan Natsume agar bangkit berdiri. “Ayo segera kembali ke dorm, Nakkun!”
Mereka berdua tak banyak berbicara ketika perjalanan pulang. Selain karena Mika yang harus lebih fokus memperhatikan jalan lantaran malam semakin larut, tampaknya memang sudah tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan selain satu hal.
“Oh ya, Mika-KUN.” Ucap Natsume ketika mereka sudah berada di dekat gerbang sekolah. Berjalan beriringan, dengan tangan masih belum dilepaskan satu sama lain sejak meninggalkan tempat rahasia itu.
“Ada apa, Nakkun?”
Natsume menggunakan tangannya yang terbebas untuk meletakkan jemarinya di depan mulut. “Tempat tadi, pastikan itu menjadi rahasia kiTA.”
.
.
.
