Actions

Work Header

perfectears

Summary:

Semakin Jaeyun kejar, semakin Jaeyun nggak mengenali Jongseong; gilanya, dia rela mengejarnya sampai ujung dunia.

commissioned by @lonely_luuna.

Work Text:


2019 .

Hari itu, entah dapat keberanian dari mana, Jaeyun akhirnya setuju les pacu kuda seperti yang sudah dianjurkan oleh Papanya. Nggak pernah menyesal untuk akhirnya mendengar Papa, menunggang kuda rupanya nggak seburuk dugaannya. Jaeyun akhirnya diperkenalkan pada Alexis, kuda yang dihadiahi Papa untuknya beberapa tahun setelah ulang tahunnya yang ke dua belas. 

“Oh, lo yang punya Alexis?”

Tapi juga Jaeyun ingat betul ketika Alexis terlihat sangat nyaman dengan kehadiran anak laki-laki sepantaran yang dikenalnya sebagai anak dari kolega bisnis Papa. Dia ingat Jongseong namanya. Dia terlihat akrab dengan kuda-kuda setempat. Mereka digadang-gadang jadi investasi milik kedua keluarga mereka. Karena konon katanya Papanya dan Papa Jongseong bersahabat sejak mereka belia. 

“Kenapa baru mau kenal sama Alexis sekarang?” Dua belas tahun hidupnya, ternyata Jaeyun agak kesal dilontarkan pertanyaan sedemikian. Seolah-olah dia nggak menginginkan Alexis selama ini. Padahal Jaeyun cuma belum sempat saja.

Pun juga dengan Jongseong yang nggak perlu kelihatan ramah di depan Jaeyun, tapi juga bukan itu yang Jaeyun mau dapatkan. Jongseong selalu terlihat sendirian, sesederhana Jaeyun mau kenal lebih dalam, dia selalu menghindari siapapun yang mencoba mendekat. Jaeyun pernah beberapa kali mencoba, tapi dia nggak diterima dengan cukup baik rupanya. Tapi well, Sim Jaeyun tetaplah Sim Jaeyun yang rasa ingin tahunya tinggi sekali terhadap sosok yang lebih tinggi darinya lima sentimeter itu. 

“Sibuk les biola. Lo udah lama bisa naik kudanya?”

“Udah.”

“Pantes udah lama nggak lihat, ternyata diem-diem naik kuda?” tanya Jaeyun menerka. Sangat nggak adil bagi Jongseong kecil ditinggal begitu saja oleh satu-satunya teman bermainnya kala itu. Sampai sekarang pun Jongseong masih menyendiri seperti terakhir kali Jaeyun mengajaknya bermain saat mereka ada di taman kanak-kanak sampai sekolah dasar, mereka kelas tiga saat sebelum akhirnya Jaeyun hilang begitu saja.

“Iya. Di Jayapura nggak banyak lahan kosong buat pacu kuda kah?” Jaeyun menggelengkan kepala, itu jadi kalimat terpanjang yang pernah Jongseong lontarkan. Jaeyun terkikih pelan, Jongseong masih persis seperti yang ditemuinya beberapa tahun silam.

“Sini,” Jongseong memerintahkan kecil untuk Jaeyun mendekat pada Alexis lalu menarik pelan pergelangan tangannya untuk mengusap kepala kuda hitam itu,”Alexis lebih suka diusap-usap dulu kepalanya daripada dikasih makan sebelum ditunggangi.”

Jaeyun nggak pernah menduga jika satu senyuman dari Jongseong kala itu mengubah pandangannya terhadap lelaki Taurus di kemudian hari.


2024.

Jongseong bukan seorang yang avoidant, tapi duduk berdiam diri selama dua jam mendengar celotehan orang dewasa bukanlah hal yang dia suka. Lima belas menit di dalam ruangan terasa sangat sesak. Maka nggak lama lagi, si Taurus akan tinggalkan meja makan untuk sebuah hisapan sebatang rokok di luar sana.

“Lo tuh, masih sama aja ya?” 

“Lama di Monaco memang bisa menilai gue seenaknya gini lagi?” Jongseong menyalakan lintingan nikotin tersebut dengan pematik. Lagi-lagi lelaki yang sering kali dengan acak dia temui entah di sudut rumahnya, atau di saat Papa sedang kunjungan kolega, atau di saat dia ada les pacu kuda. Dia ada di mana-mana, tapi tentu tidak dalam kurun waktu lima tahun kebelakang karena keduanya dipisahkan oleh Benua.

“Di Monaco nggak ada es cendol seenak yang di deket pasar Semanggi.”

“Memang nggak ada. Salah sendiri pergi.” Salah sendiri pergi. Bukan sesuatu yang harusnya Jaeyun indahkan perkataannya. Tapi si Scorpio berhasil mencelos hebat karenanya. Seperti ada yang perlahan mencekiknya. Jaeyun memang bukan siapa-siapa, bahkan bukan seseorang yang Jongseong anggap penting. Lelaki Taurus yang satu itu memang penuh kontradiktif. Mungkin satu kali pun dia nggak pernah menganggap Jaeyun ada, tapi ucapannya seolah-olah dia yang butuh Jaeyun lebih dari apapun.

“Salahin Papa, soalnya Papa nggak mau ninggalin gue.”

Jongseong menghembuskan nafasnya yang penuh kepulan asap Marlboro hitam yang dihisapnya dalam-dalam. Ada yang sebentar lagi akan tumpahㅡ mungkin emosinya.

“Tapi gue malah ditinggal terus.” Jongseong nggak berniat menjebak Jaeyun dengan pernyataan-pernyataan yang menyengat hatinya. Mungkin dia ada di limit perasaannya. Mungkin juga cuma ini satu-satunya cara agar Jaeyun bisa tinggal lebih lama. 

But this time, gue nggak akan pergi lagi. Seenggaknya, gue bakal tinggal lebih lama.” Lima belas tahun mereka mengenal satu sama lain, Jaeyun nggak benar-benar tinggal di sisinya. Bagi Jongseong, walau Jaeyun bukan salah satu orang paling penting di hidupnya ㅡbelum . Tapi Jaeyun jadi satu-satu teman semasa kecilnya, semasa remajanya pula. Mungkin, mungkin sedikit lagi Jongseong akan menganggap sedemikian rupa jika Jaeyun nggak lagi pergi kemana-mana.

Tapi yang terjadi adalah hal yang sebaliknya, Jaeyun berkali-kali pergi dan hadir lagi. 

“Bagus, kalo gitu. Gue jadi nggak perlu repot-repot menata hal yang gak perlu gue tata. Repot tahu, kalau ngerasa kehilangan terus tiba-tiba didatangi secara random kayak gini lagi.” Jaeyun itu nggak bodoh, tapi dia cukup clueless dengan ucapan Jongseong malam itu. Nggak cukup pintar pula untuk menyimpulkan sesuatu yang nggak dia inginkan.

“Mau ikut gue nggak?”

“Kemana?”

“Kabur.”

“Lo nggak mau dibilang nggak berubah. Tapi ini apa namanya kalau bukan avoidant.”

“Bedalah, pokoknya. Gue kasih liat sesuatu, lo udah kebanyakan liat mobil F1. Jadi ikut gue pegang rumput.” Lalu entah keberanian dari mana, Jongseong menarik lelaki yang lebih kecil lima senti darinya pergi dari hall room untuk menyaksikan panggung teater kecil bernama Sinemakara di ujung kota. Rumah bagi Jongseong kala tak ada siapapun yang berada di sisinya.


“Sinemakara gue bikin tiga tahun lalu pas gue tahu ternyata gue diadopsi Papa.” Jaeyun belum berani banyak merespon cerita yang Jongseong utarakan. Pun juga dengan fakta baru tentang keluarga si Taurus yang sedikit mengejutkannya. Atau mungkin memang Jaeyun saja yang ignorant. Banyak hal-hal yang dilewatkannya selama lima tahun belakangan.

Banyak hal baru yang Jaeyun pahami karena selama ini, dia pikir dia sudah cukup mengenal seorang Park Jongseong. Tapi yang terjadi, lagi-lagi kontradiksi. Jongseong terlalu asing untuk Jaeyun.

“Gue pikir all this time, lo kuliah bisnis aja, terus suka fotografi kalau gue liat dari Instagram.

“Tuhkan, berlagak paling kenal gue lagi?”

Tapi nggak kaget sih, kalau Jaeyun merasa dia paling mengenal Jongseong. Lima tahun yang lalu mereka masih sama-sama duduk di bangku SMA, di sekolah dan di tempat duduk yang sama pula. Tapi ternyata Jaeyun memang nggak cukup mengenali Jongseong saja.

“Pas SMA lo kan sukanya fotografi! gue nggak expect lo bakal punya teater kayak gini…..” Jongseong hanya tertawa kecil.

“Sama. Gue juga nggak nyangka gue bisa ngeluarin emosi gue lewat Sinemakara. Lima tahun lalu, lo kenalnya Jongseong yang kaku, kan?”

Lampu-lampu teater meredup bersamaan dengan lantunan musik yang mulai bersenandung. Jaeyun tahu di balik gelapnya ruangan teater, Jongseong melambungkan sebuah senyuman untuk dia.

“Jadi lo hidup kayak gini, selama lima tahun?” Mungkin pilihan Jaeyun untuk tinggal lebih lama bukan jadi pilihan terbaik, tapi setidaknya dia punya sesuatu yang menarik untuk digapai lagi.

“....Iya? karena nggak ada lo aja kali ya. Life seems so boring.”   Gilanya, Jaeyun percaya.


Salah sendiri pergi. Mungkin ucapan Jongseong tempo hari ada benarnya. Lima tahun nggak bertemu Mama, buat Jaeyun terkesima. Sebab Mama kini membuka sebuah pameran di pusat kota. Banyak hal yang Jaeyun lewatkan; soal pameran lukisan-lukisan Mama dengan tema Surrealism . Yang surprisingly, nama Mama pun banyak terdengar di kalangan seniman. Jaeyun memang lebih banyak ikut Papa, cenderung lebih dekat dengan Papa sehingga banyak melewatkan waktu bersama Mama. Maka dia akhirnya pulang untuk Mama.

“Mama sapa teman-teman Mama dulu, kalau masih mau keliling just go ahead. Kalau sudah bosan, nanti ikut Papa pulang.” Jaeyun pun mengiyakan. Mungkin dia nggak akan bosan, sebab netranya kini malah menangkap sosok yang dikenalnya.

“Mama nggak bilang lo bakal datang.”

“Menurut lo kenapa Mama mengorbankan semuanya demi bisa buka exhibition di beberapa kota yang ada di pulau Jawa.” Jongseong menyahutinya dengan satu buah senyuman khas petantang-petentengnya. Lalu menyentuh satu buah lukisan yang nggak dihalangi pelindung apapun. Itu lukisan pertama milik Mama Jaeyun.

“Karena…. dia mau…?”

“Lo dikirim ke Monaco supaya nggak jadi distraksinya Mama.” 

Jaeyun melengos lagi. Kini Jongseong yang berlagak paling mengenal dia ㅡmemang . Lalu seketika, Jaeyun merasa jika dialah orang paling asing di sini.

Good for her punya privilege sebesar ini. Nggak semua seniman bisa bikin pameran.”

“Sebenernya lo mau ngomong apa sih?” Tembak Jaeyun. Setiap harinya Jongseong semakin menyebalkan di mata dia. Ucapan-ucapan yang terdengar kotor perlahan menyayat hatinya. Jaeyun pikir dia nggak cukup bodoh untuk mengerti seorang Park Jongseong, tapi nyatanya dia memang culas. Park Jongseong bagaikan kaca pecah yang berembun.

Don't you miss me that much? Kenapa setiap ngobrol sama gue lo melotot.”

Jaeyun menghela nafasnya,” each time gue ngobrol sama lo. Semakin gue nggak kenal sama lo, semakin lo jadi kerasa nyebelinnya.”

“Pertanyaan gue yang pertama belum dijawab.” Jaeyun belum pernah merasa sebegini kikuk. Setidaknya dalam kurun waktu lima tahun. Hari-harinya di Monaco nggak pernah membuatnya sekalipun merasa gelagapan ditanya soal rindu oleh teman masa kecil. Panik menghantam kepalanya, Jaeyun salah tingkah. 

“Kenapa gue harus kangen sama lo.”

“Iya ya, kan kita kemarin di Sinemakara sampai pagi. Jadi kayaknya lo udah nggak kangen gue?” Jaeyun nggak paham kenapa bisa Sinemakara buka selama dua puluh empat jam.

“Jadi lo mau kritik soal pameran nyokap gue apa mau interview gue kangen lo atau nggak nih?”

“Ah. Kok sekarang lo galak sih. Disakitin berapa kali sama cewek-cewek di Monaco?” Jongseong menenggak tequila yang ada di genggaman, lalu tertawa kecil,” or i would like to say…. how many guys?

Jaeyun nggak bisa percaya wajahnya memerah sempurna. Gilanya, bukan ucapan Jongseong yang membuatnya kalang kabut, melainkan jarak yang terkikis di antara keduanya menenggelamkan Jaeyun pada satu premis soal lima tahun yang Jaeyun lewatkan.

Anyway , gue masih dapet tempat nggak?”


Jaeyun pergi ke Sinemakara. Entah apa yang salah dari kepalanya, sebab pertemuannya dengan Jongseong semalam membawanya dengan penuh percaya diri ke Sinemakara sendirian.

Maaf, setiap hari kamis, kami tutup!

Tapi gedung mereka nggak menunjukkan kalau Sinemakara tutup. Lampunya dibiarkan menyala meski nggak ada satu orangpun di dalamnya. Nggak ada kehidupan berarti di hari kamis buat Sinemakara. Jaeyun masuk ke studio nomor 3, satu-satunya studio dengan lampu yang menyala.

Studio itu tampak lenggang, lantunan musik Jazz memenuhi Hall. Jaeyun melangkahkan kakinya masuk ke backstage, ke arah sumber suara berada. Pintu ruangan tersebut bertuliskan palang PJS ONLY, tapi pintunya tak terkunci. Sim Jaeyun dengan segala rasa penasarannya, memasuki ruangan tersebut.

Ruangan ini bukan studio biasa. Di dalam sini lebih sempit sebab banyak sekali lukisan-lukisan memenuhi penjuru ruangan, baik dinding maupin lantai. Dan semua itu adalah lukisan Mama.


“Nggak lihat tulisan di depan pintu?”

“Kenapa lo bohongin gue….” Jaeyun menyentuh satu persatu lukisan berdebu itu, lukisan yang persis dipajang di pameran Mama. Seketika Jaeyun ditelan bulat oleh perasaan besar bernama kecewa.

“Nggak ada yang bohongin lo.”

“Gue tahu lo bakal bilang begitu….” Suaranya bergetar hebat. Memang dari awal nggak ada yang pernah memberi tahunya saja, kan? They left Jaeyun clueless.

“Gue punya alasan sendiri.”

Sekali lagi, Jaeyun nggak pernah mengenal siapa lelaki di hadapannya ini. Not even once. Not even allowed. Jaeyun dibiarkan jadi orang tolol yang nggak tahu menahu apapun soal teman semasa kecilnya dan tentang keluarganya, tentang apa yang dia lewatkan selama lima tahun nggak menginjakkan kaki di tanah air. Jaeyun dibiarkan begitu saja jadi orang asing.

“Lo itu memang bajingan aja kan… kenapa nggak ada yang ngasih tahu gue. Kenapa semuanya bohong sama gue.

“Nggak ada yang pernah bohong sama lo!”

“Nggak… bagi gue nggak ada bedanya. Kalau gue dibiarkan nggak tahu apa-apa.” Kacau, dan mata Jaeyun mulai berkaca-kaca. Dadanya bergemuruh kencang. Dia merasa jika sejak awal memang nggak ada yang menganggapnya.

“Memang gue nggak sepenting itu, ya?” Kini keadaan Jongseong yang berbalik tercekik. Netra yang berkaca-kaca itu menatapnya bengis, banyak kecewanya.

“Nggak. Lo selalu penting buat gue. Bukan cuma sekedar.” Jongseong menghela nafasnya berat sekali,”gue nggak pernah kasih tahu supaya lo nggak lihat seberapa kacaunya gue di sini, Jaeyun. Terus lo malah pergi. Gue lega lo nggak harus lihat kacaunya gue, tapi juga gue yang paling hancur karena gue nggak punya siapa-siapa selain lo.”

“Selama ini lo pernah mikirin gue nggak sih? Jaeyun, what am I to you? gue nggak pernah sepenting itu juga kan, sampai lo berkali-kali ninggalin gue. Gue bukan barang yang bisa ditinggal dan didatangi seenaknya.” Again, perasaan seolah Jaeyun paling mengenal Jongseong kini hilang begitu saja ditelan rasa kecewa, tercampur jadi satu. Asing dan semakin jauh Jaeyun kejar, semakin dia nggak mengenalnya lagi. Tapi ada satu kesimpulan yang bisa Jaeyun tarik; Jongseong cinta mati padanya di waktu yang salah.

"Nyokap lo beli semua lukisan gue setelah tahu fakta kalau gue diadopsi, buat buka Sinemakara. Yang dipameran juga."

“Jongseong…. you could tell me...”

“Nggak, gue nggak bisa. Makanya gue awalnya terima ditinggal berkali-kali sama lo… you know… but that shits hurt me. Perasaan ditinggal pergi.”

Perasaan ditinggal pergi dan dibiarkan nggak tahu menahu soal apapun memang nggak sebanding. Tapi Jongseong lebih banyak menanggung nyerinya sebab perasaan yang awalnya semu itu mulai dikenalnya sebagai rasa sayang.

Jaeyun bukan satu-satunya yang rugi mereka berselisih seperti ini. Sebab Jongseong memendamnya jauh sebelum mereka akhirnya bertemu lagi.

Tapi bajingannya, bibir kotor Park Jongseong seolah menyihir Jaeyun untuk selalu percaya.

Fin.