Chapter Text
Tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang mampu menebak akan masa depan dunia mereka, bahkan para ahli sekalipun. Masih hangat di ingatan Renjun, saat itu hari Jumat malam, ia sedang menunggu kakaknya pulang dari kampusnya di depan meja makan, tepat jam 7 malam langit berubah menjadi terang seakan ada yang melontarkan kembang api dalam jumlah besar, cahayanya begitu menyilaukan mata dan beberapa detik kemudian terdengar suara ledakan.
Hari itu adalah hari terakhir bagi umat manusia untuk hidup normal, karena setelahnya banyak terjadi kekacauan. Banyak orang yang mendadak menjadi gila dan menyerang secara membabi buta. Hal itu juga terjadi pada ayahnya hingga membunuh ibunya, sementara ia melarikan diri untuk mencari kakaknya, namun hingga saat ini, tiga tahun kemudian, Renjun tidak pernah bertemu dengan kakaknya. Dengan tubuh lemah dan pengetahuan nol akan bela diri, ia mencari kakaknya di hampir semua shelter yang ada di Seoul, namun pengungsi di sana tidak ada yang mengenal atau melihat kakaknya. Renjun akhirnya menyerah, dengan terpaksa menerima kenyataan bahwa kakaknya mungkin saja bernasib buruk seperti ayah atau ibunya. Hari-harinya di shelter hanya pergi ke kantin, naik ke atap atau pergi ke kamarnya.
"Kau suka One Piece?"
Selama Renjun tinggal di shelter ini, hanya pekerja dapur atau para tentara yang mengajaknya berinteraksi, itupun hanya sekadar menyapa atau menanyakan kabar, sementara pengungsi lain sibuk dengan kesedihan mereka sendiri, bukan hanya dirinya yang kehilangan anggota keluarga. Namun pagi ini seseorang mengajaknya berbicara, bahkan ia juga menaruh nampan makannya di meja yang sama dengan dirinya.
"Huh?" Renjun sedikit terkejut.
Pria tersebut tertawa karena reaksi Renjun, "Jaketmu, arti tulisan itu One Piece." Ucapnya seraya menunjuk bagian dadanya, di mana terdapat huruf Jepang di sana.
"Ini milik kakakku," kedua matanya terasa panas, ia begitu merindukan kakaknya. "Kakakku yang menyukainya."
"Ah aku kira kau suka," Ia tersenyum tipis kemudian melahap sarapannya. "Sejujurnya aku baru datang ke tempat ini, jadi kukira aku bisa berteman dengan seseorang, dan kebetulan aku melihatmu menggunakan jaket One Piece, aku sangat menyukai komiknya."
"Maaf sudah membuatmu kecewa." Seandainya kakak Renjun ada di sini, mungkin orang tersebut dapat bercengkrama mengenai One Piece ataupun anime lain bersama kakaknya.
"Tidak masalah, lagipula aku tidak kecewa, walaupun kau bukan penggemar, kita masih bisa berteman bukan?" Senyum itu kembali muncul.
"Iya." Renjun membalas senyuman pria tersebut, tidak ada salahnya berteman.
Pagi ini sarapannya sama dengan kemarin, namun entah mengapa rasanya menjadi lebih lezat. Mungkin karena hari ini yang bertugas memasak lebih baik dari yang kemarin, atau karena akhirnya ia memiliki teman.
"Sebelumnya kau tinggal di mana?"
"Aku tinggal di shelter yang berada di Gangnam." Renjun tidak tahu di daerah sana terdapat shelter.
"Maaf bila terdengar lancang, mengapa kau pindah ke tempat ini?"
"Karena suatu hal," Jawabnya sembari tersenyum, "Maaf aku tidak bisa memberikanmu sebuah jawaban."
"Tidak masalah," Renjun mencengkram sumpitnya. "Boleh aku bertanya lagi?"
Pria tersebut menganggukkan kepalanya, lalu kembali melahap makannya.
Renjun memang sudah tidak memiliki harapan lagi, namun apa salahnya bertanya untuk kesekian kalinya, ia tidak akan kecewa seperti yang sudah-sudah, "Apa kau mengenal seseorang bernama Hendery?"
Makanan yang hendak ia suap ke dalam mulutnya terhenti di udara, wajahnya yang semula ramah berubah kaku.
“Kau baik-baik saja?” Perasaan Renjun mendadak menjadi tidak enak. “Apa kau tahu?”
Pria itu meletakkan kembali makanan itu ke atas piringnya, kedua tangannya terkepal seakan tengah menahan sesuatu, “Kau Huang Renjun?”
Nafsu makan Renjun sudah hilang sepenuhnya, “Iya. Jadi kau mengenalnya?”
“Tentu saja, Hendery adalah junior di kampus, kebetulan kami berada di organisasi yang sama.”
“Oh.” Renjun takut sekali untuk melontarkan kalimat selanjutnya, namun ia harus tahu di mana kakaknya, dan bagaimana keadaannya. “Apa kau tahu di mana kakakku berada?”
“Tidak, terakhir kali aku melihatnya..” Pria itu memejamkan matanya selama beberapa detik, sekilas terlintas ketakutan di wajahnya. “Di malam itu, saat langit berubah menjadi aneh dan orang-orang mulai bertingkah gila.”
Walaupun Renjun sudah berkali-kali mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya, tetapi rasa sakit itu tetap ada. Ia hanya ingin tahu status kakaknya, apakah ia baik-baik saja, atau apakah ia sudah bergabung dengan kedua orangtuanya. Meskipun kakaknya sudah meninggal pun ia akan menerimanya, setidaknya ia akan berhenti berada di atap gedung ini, menunggu kakaknya datang menemuinya.
“Bagaimana keadaannya pada saat itu?”
“Hendery…dia, dia takut dan juga panik dengan apa yang terjadi, namun si bodoh itu justru masuk kembali ke ruangan untuk mengambil sesuatu.” Pria itu tersenyum kecut.
oOo
Tunggu aku di mobil.
Itu adalah kalimat terakhir yang ia dengar dari juniornya, ia dan teman-temannya menunggu kedatangan pria itu namun Hendery tak kunjung datang. Jaehyun mengusap wajahnya yang penuh dengan peluh, beberapa menit sebelumnya semua tampak baik-baik saja. Mereka semua duduk sembari menyiapkan beberapa hal untuk acara cosplay di kampus, masing-masing sibuk dengan kerjaan mereka, namun Hendery justru sibuk dengan ponselnya.
“Berhenti menatap layar ponselmu.” Jaehyun menegurnya.
“Sebentar, aku masih menunggu pesan adikku.”
“Aku robek poster Chopper-mu.” Ancaman itu berhasil membuat Hendery kembali fokus pada tugasnya, namun sebagai gantinya mulut Hendery tidak berhenti mengoceh.
“Sampai kapan kita di sini? Adikku sudah menyuruhku untuk pulang.”
“ Hyung , aku mau pulang.”
“ Hyu –aw! Kau kejam sekali!” Hendery mengaduh sembari mengusap kakinya yang baru saja ditendang oleh Jaehyun.
“Kau berisik.”
“Kalian berdua berisik.” Salah satu anggota akhirnya bersuara, Minhyung namanya. Ia berdiri dari duduknya lalu berjalan ke dispenser air untuk mengisi gelasnya kembali. Jaehyun melempar gelas kertas kosong ke kepala Minhyung, namun sayangnya meleset dan justru mengenai tirai jendela, ia kira Minhyung akan semakin mengejeknya atau membalas perbuatannya, namun pria itu justru terdiam di depan dispenser air, tak kunjung kembali.
“Teman-teman..” Minhyung menyibak tirai jendela, “Kemarilah.”
“Hei Minhyung, kau baik-baik saja?”
“Kemari!”
Dari enam orang yang berada di ruangan tersebut, hanya Jaehyun dan Hendery yang bangun dan menghampiri Minhyung, dan akhirnya Jaehyun tahu apa yang membuat Minhyung tak beranjak dari duduknya. Di luar sana, langit berubah sangat terang, namun tidak wajar, perasaan Jaehyun mulai tidak enak. Ia kembali ke mejanya untuk merapikan barang-barangnya.
“Kita harus segera–” belum selesai ia berbicara, tiba-tiba terdengar suara ledakan dahsyat hingga membuat gedung kampus mereka bergetar. Setelah itu semuanya berubah menjadi kacau, teman-temannya yang semula tidak peduli lari dari ruangan, lalu terdengar suara teriakan yang sarat akan ketakutan dan kesakitan. Jaehyun tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, namun intinya ia harus segera pergi dan mencari tempat yang aman untuk berlindung.
“Aku bawa mobil, ayo kita pergi.” Ia mengajak Minhyung dan Hendery yang terlihat begitu shock dengan apa yang terjadi, “Cepat!”
Mereka berlari keluar, menyusul yang lain, melewati kekacauan yang terjadi di lorong dan berbagai sudut area kampus, beberapa bahkan ada yang ingin menyerang namun beruntung mereka bertiga lari dan menghindar dengan gesit.
Sebentar lagi , batin Jaehyun membisikkan kalimat itu berkali-kali. Sebentar lagi mereka akan sampai di parkiran mobil, sebentar lagi bila saja seandainya Hendery tidak mendadak berhenti berlari.
“Kalian duluan.”
“Kau gila?!”
“Aku akan menyusul kalian, aku harus mengambil sesuatu.” Wajah Hendery pucat, namun tak ada keraguan di matanya. “Tunggu aku di mobil.” Ia menyerahkan tasnya kepada Jaehyun lalu masuk kembali ke dalam area kampus, menghilang di antara kekacauan yang terjadi.
“Hendery!!!!”
“Minhyung, kita harus menemaninya.”
Pria itu menggeleng lemah, jelas terlihat ketakutan. “Sama saja dengan bunuh diri.”
“Aku tidak bisa meninggalkannya, apa kau tidak khawatir dengan temanmu sendiri?”
“Aku mengkhawatirkannya, namun aku juga takut dan masih ingin hidup. Kau lihat apa yang terjadi di dalam sana kan? Mereka saling menyerang!”
Jaehyun terdiam, tangannya meremas tas yang Hendery titipkan padanya. Sekeliling mereka memang sudah benar-benar kacau, tapi ia tidak bisa meninggalkan Hendery begitu saja.
“Kita tunggu Hendery di mobil, aku yakin dia akan kembali.”
Akhirnya Jaehyun setuju untuk menunggu di mobil, tetapi Hendery tak kunjung kembali, yang mendatangi mobilnya justru orang-orang gila yang berusaha menghancurkan mobilnya. Sosok menyebalkan yang selalu membuatnya kesal itu tidak pernah kembali, entah apa yang telah menimpanya di dalam sana.
“ Hyung , kita harus pergi.”
“Tapi Hendery…”
“Mereka akan membunuh kita, hyung .”
Ia bingung.
“ Hyung ?”
Jaehyun memukul stir mobilnya seraya berteriak frustasi, terpaksa ia harus meninggalkan Hendery. Dengan kedua mata yang berkaca-kaca ia mulai meninggalkan kampusnya.
Maafkan aku.
oOo
Mereka berdua pindah ke atap shelter setelah menghabiskan sarapan mereka, di sanalah Jaehyun menceritakan semuanya pada Renjun.
“Kakakku sangat bodoh.” Renjun menyeka air mata yang terus-menerus jatuh dari matanya. “Seberapa penting barang itu dibanding nyawanya sendiri.”
“Maafkan aku.” Jaehyun merasa begitu bersalah, seandainya ia menemani Hendery untuk masuk ke dalam, mungkin anak itu dapat bertemu kembali dengan adiknya.
“Tidak perlu, apa yang terjadi pada kakakku bukan salahmu.” Renjun tidak berani menatap Jaehyun, ia malu dan merasa sangat lemah. “Itu adalah pilihannya sendiri.”
“Terima kasih sudah menceritakannya kepadaku, mulai sekarang aku tidak akan menatap gerbang shelter lagi, berharap dia akan datang.” Bohong, sejujurnya Renjun masih akan terus berharap, walaupun kecil kemungkinan kakaknya akan selamat.
Jaehyun bingung, ingin rasanya ia memeluk Renjun untuk meredakan kesedihannya, tetapi mereka baru saja bertemu, meskipun berkali-kali Hendery menyebut nama Renjun di setiap percakapan mereka, tetap saja ia adalah orang asing bagi Renjun.
“Kau tidak sendiri,” Kalimat itulah yang terlontar dari bibirnya, “Aku akan menemanimu, mulai detik ini.”
Kedua mata yang berkaca-kaca itu menatapnya, di bawah sinar matahari ia dapat melihat jelas wajah Renjun, ia tidak menemukan kemiripannya dengan Hendery meskipun mereka sama-sama memiliki hidung yang mancung.
“Aku tidak bisa membawa Hendery kembali, tapi setidaknya aku bisa menjadi temanmu.” Ucap Jaehyun, ia mengulurkan tangannya pada Renjun. “Namaku Jung Jaehyun.”
Renjun meraih tangan Jaehyun lalu menggenggamnya, “Aku Huang Renjun.”
Di tahun ketiga setelah bencana itu terjadi, di tengah teror manusia-manusia gila di luar shelter, Renjun akhirnya memiliki seorang teman yang begitu berharga bagi Renjun, karena orang tersebut memiliki kenangan tentang kakaknya, karena Hendery mereka saling terikat, kakak dan seorang sahabat.
