Chapter Text
Satu-satunya kesalahan di masa muda Gojo Satoru yang konyol mungkin meninggalkan perasaannya pada perempuan yang ia sukai dan membiarkan sang perempuan mengikatkan dirinya dengan pria lain.
Iori Utahime, nama perempuan itu, ‘hanyalah’ perempuan yang tampak seperti perempuan biasa lainnya. Ia memanjangkan rambutnya sejak pertama kali Satoru mengenal perempuan itu, dan senang memakai pita di ikatan rambut hitamnya. Tingginya pun rata-rata wanita Asia, kisaran 160-an sentimeter, tidak lebih. Perilakunya juga standar, benar-benar terlihat seperti perempuan medioker yang hidupnya lurus dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran. Oh, untuk yang terakhir itu, mungkin tidak sama seperti kebanyakan perempuan muda di Jepang saat ini. Tapi, entah mengapa, Satoru mengira hal itu yang paling memikat dari diri seorang Iori Utahime.
Karena nilai ketimuran itu juga, Utahime—dalam pengamatan obsesif Satoru—tidak terlihat berkencan dengan begitu banyak pria. Sama sekali tidak seperti dirinya. Namun, sekalinya perempuan itu bertemu dengan yang cocok, Utahime dan prianya tidak menghabiskan waktu bertahun-tahun pacaran untuk kemudian menikah dan memiliki anak.
Semua itu terjadi begitu cepat. Mereka memiliki anak di usia satu tahun pernikahan. Kini, pernikahan mereka sudah berlangsung selama 5 tahun dan anak laki-laki Utahime tumbuh menjadi anak berumur 4 tahun yang kecerdasannya di atas rata-rata, terlihat dari interaksi sehari-harinya.
Satoru yang kini menginjak usia kepala tiga (padahal ia tiga tahun lebih muda daripada Utahime) bahkan merasa semua itu terjadi hanya dalam satu kedipan mata. Tanpa teringat kembali akan rasa sakit yang ia pendam, pria itu menjalani kehidupan konyolnya dengan penyesalan dan tumpukan pekerjaan.
Untungnya, dari semua kisah konyol dan menggetarkan itu, tidak berakhir menyedihkan seperti yang pria itu duga. Suami Utahime yang bermarga Fushiguro meninggal dunia karena penyakit yang ternyata sudah lama diderita dan disembunyikan dari banyak orang. Semua kenalan Utahime berduka, termasuk Satoru. Pria itu tulus merasakan sakit yang sama ketika melihat wanita yang dicintainya menangis pilu dengan seorang anak laki-laki yang kebingungan di pangkuannya.
Tak terasa, sudah setahun sejak peristiwa itu berlalu. Bukan berarti Satoru mengira kesempatan untuk bersama dengan Utahime kembali datang, namun bagaimana jika wanita itu sendiri yang memberinya penawaran?
”Satoru,” saat itu, keduanya duduk di taman tempat penitipan anak. Menunggu Megumi, putra Utahime, bermain sembari sesekali melambaikan tangannya pada sang ibunda dan merengut dengan kedua pipi gembulnya ketika Satoru ikut-ikutan mengangkat tangan. Jelas sekali kalau anak laki-laki berusia 5 tahun itu tidak menyukai dirinya.
”Kau ini bodoh sekali.”
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Utahime tanpa ada angin sebelumnya, Satoru melongo. “A… apa yang baru saja kau bilang… Utahime?”
“Kau bodoh sekali, Satoru.” Utahime memandang ke depan dengan senyum di wajahnya. Tunggu… senyum?!
Saat Satoru sudah hampir membuka mulut, Utahime kembali melanjutkan bicaranya.
”Aku sudah tahu semuanya. Kau menyukaiku sejak SMA, kan? Sejak kau masih junior dan aku senior, namun kau sama sekali tidak pernah mempelakukanku sebagai senior yang harus kau hormati. Ck, terkadang aku masih kesal, tapi sudahlah. Intinya…. Aku tahu, aku tahu itu semua, Satoru.”
Pria itu kembali terperangah. “Bagaimana….”
“Satoru, apakah kau masih menyukaiku sampai saat ini? Entahlah, jika melihat apa yang kau lakukan sekarang—menemaniku di jam kerja, menunggu Megumi lebih awal dari jam pulangnya, dan bahkan kau melakukan ini setiap hari dengan risiko pekerjaanmu sendiri, sepertinya jawabannya sudah jelas.”
Utahime mengambil jeda. Satoru menahan napas, masih tak mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab Utahime yang entah bagaimana mengetahui perasaan yang sudah ia sembunyikan belasan tahun itu.
”Dengarkan aku, Satoru, karena aku tidak akan mengulanginya lagi.” Utahime menoleh ke sampingnya, tepat Satoru duduk. Menatap mata pria yang jauh lebih tinggi darinya itu dalam-dalam.
”Aku akan memberimu kesempatan, mungkin untuk pertama dan terakhir kalinya. Jika kau bisa membuat Megumi menyukaimu, paling tidak merasa aman ketika bersamamu, aku akan menyetujui proposalmu untuk menikah. Kita akan menikah.”
”Tapi, aku tidak pernah melamarmu sebelumnya, tuh?”
Alis Utahime bertaut. Ia ingin sekali memukul pria itu seperti yang biasa ia lakukan ketika masih membujang. Melihat Utahime menahan diri, Satoru terkekeh.
”Bercanda. Tapi, kau harus menepatinya ya, Utahime? Janji?”
Satoru mengulurkan jari kelingking yang dibalas dengan tautan kelingking Utahime. Kelingking keduanya saling terikat, lalu sebelum Utahime melepasnya, Satoru mengarahkan jemari wanita itu ke bibir untuk mengecupnya. Pipi Utahime bersemu merah.
”Kau…! Apa yang kau lakukan dengan tangan Ibuku!”
Megumi, entah muncul dari mana, tiba-tiba mendekat dan berkacak pinggang. Utahime melepas kaitan tangannya dari Satoru dengan awkward. Pandangan anak-anak lain dan bahkan guru mereka saat ini tertuju kepada keluarga kecil itu.
”Megumi-chan… tolong pelankan suaramu, ya. Dan juga, bukankah Ibu sudah menyuruhmu untuk memanggilnya ‘Paman’?”
Satoru meringis. Megumi, anak ini yang akan menjadi penentu hubungannya dengan Utahime nanti. Akankah ia mampu mencairkan hati anak kecil ini demi keberlangsungan pernikahannya dengan Iori Utahime?
Pria itu tidak terlalu optimis, tapi masih terlalu dini untuk menyerah. Maka, ia pun berlutut di hadapan anak itu dan menepuk pelan kumpulan rambut halus di kepalanya.
”Megumi-chan, hari ini aku akan menjadi ayahmu, ya.”
Eh…?
Tidak, tidak!
Bukan itu yang mau ia katakan.
Satoru panik ketika tanpa sadar kalimat yang ada di kepalanya tersuarakan. Namun, lagi-lagi, semua sudah terlambat.
Megumi kini meraung usai menepis tangannya, dan Utahime tampak menenangkan sang putra sembari meliriknya sinis seolah berkata, “aku tahu kau bodoh tapi tidak kusangka kau sebodoh ini!”, menyisakan Satoru yang menghela napas berat.
Perjalanan memenangkan hati wanita yang ia sukai bertahun-tahun—dan kini, anaknya juga—tampak lebih jauh dari yang ia kira.
