Actions

Work Header

pictures of us.

Summary:

Seungcheol dreams of a future with Jeonghan and their daughter in it.

Notes:

this is a work of commission
commissioned by peakdescent on twt

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Seorang laki-laki berambut pirang terang berdiri di dekat pintu kaca besar dengan stiker pelangi besar menempel dengan rapi di bagian tengahnya. Sebuah mantel yang cukup tebal tersampir di tangannya, matanya fokus memandang ke dalam ruangan dibalik pintu itu, memperhatikan seorang wanita yang beberapa tahun lebih tua darinya dengan seorang bocah perempuan berumur satu tahun berpipi tembem, mata bulat, bibir tipis, dan rambut hitam lurus yang dikuncir dua di masing-masing sisi kepalanya - meski hanya sedikit dari rambutnya yang berhasil terikat dengan baik karena pada dasarnya memang belum banyak rambut yang tumbuh di kepala anak kecil itu.

“Lihat, itu ada siapa itu. Papa…”

Ketika wanita itu keluar dari ruangan di hadapannya, masih dengan bocah kecil yang menggemaskan dalam gendongannya dan tas ransel kecil berwarna pink serta jaket tebal tersampir di tangannya, senyuman merekah di wajah pria itu. Ia dengan cepat melangkah mendekat dan menjulurkan tangannya untuk meraih gadis mungil itu untuk dipindahkan ke dalam pelukannya.

Hey sweetie. Aduh cantiknya ini kuncirnya”

“Maaf ya tadi aku iseng kuncir rambut dia karena kelihatannya dia agak keganggu waktu tidur siang.”

“Nggak papa kak, lucu kok. Ternyata bisa juga diikat walau sedikit banget hahaha. Anyway, how was she? Nggak rewel kan kak?”

“Nggak sama sekali. Mirae nggak pernah rewel kok, cuma tadi susunya nggak habis. Sisanya harus aku buang karena kualitasnya sudah nggak bagus.”

“Oh… dia memang belakangan ini lagi agak susah kak. Terakhir minum jam berapa?”

“Sudah agak lama sih, mungkin habis ini dia bakal laper lagi.”

“Oke deh kak. Thank you once again kak sudah mau aku titip Mirae in such a short notice padahal daycare lagi penuh juga .”

“Nggak papa, Han. She is such a good girl kok, nggak ngerepotin sama sekali. Ya kan, cantik?”

Wanita itu mengusapkan jarinya di pipi tembem si bocah kecil, ada tawa kecil yang keluar dari anak itu. Disusul dengan tawa dua orang dewasa yang memandangnya penuh dengan tatapan sayang.

“Kalau gitu aku pamit kak, terima kasih sekali lagi.”

“Sama-sama Han, hati-hati ya. Salam untuk Seungcheol.”

Jeonghan tersenyum simpul sambil pamit mengundurkan diri dari hadapan wanita itu. Ia melangkah menuju mobil berwarna silver yang diparkir tidak jauh dari bangunan tempat daycare langganannya berada.

“Duduk disini ya, sayang. Yeay… kita pulang! Mimi sudah mau pulang ya, nak?”

Mirae - atau Mimi, nama panggilan sayang dari Jeonghan - menepuk-nepuk tangannya riang ketika Jeonghan menyebut kata pulang, seakan akan mengerti bahwa mereka akan segera kembali ke rumah dimana ia dapat bermain dengan segudang koleksi boneka dan buku bacaannya. Jeonghan tertawa kecil melihat tingkah laku anaknya itu. Ia lanjut memasangkan sabuk pengaman pada baby car seat milik Mirae. Setelah memastikan semuanya aman, Jeonghan meninggalkan satu kecupan singkat di dahi Mirae sebelum menutup pintu mobil bagian belakang dan berjalan menuju bagian kemudi.

Sebelum akhirnya menjalankan mobilnya untuk menuju apartemen tempat mereka tinggal, Jeonghan mengambil ponsel dari saku celananya lalu mengetik beberapa kalimat ke sebuah nomor yang disimpannya dengan nama “Seungcheol”. Belum sempat menginjak gas, ponselnya kemudian berbunyi, membuat Jeonghan dengan segera menjawab panggilan masuk tersebut.

“Halo?”

“Hai, sudah jalan pulang ya?”

“Baru saja mau jalan. Kenapa, Cheol?”

“Nggak papa, tadinya mau aku susul terus pulang bareng. Tapi ya sudah kalau memang sudah di perjalanan.”

“Gimana caranya deh kamu mau nyusul, mobil kamu gimana?”

“Kan bisa aku tinggal di kantor. Kesana naik bus.”

“Nggak usah, sudah mau pulang kok ini kita. Ya kan, nak?”

Jeonghan menolehkan kepalanya ke arah belakang, tersenyum lebar sambil melibatkan Mirae dalam percakapannya dengan Seungcheol. Lagi-lagi, bocah kecil itu tertawa kecil sambil bertepuk tangan kecil.

“Mana gadisku? Mau dengar suaranya dong, Han.”

“Ini. Mirae… say hi to Dadda. Hi Dadda!!”

Terdengar suara Seungcheol dari speaker ponsel Jeonghan yang memang dipasang dengan volume lebih keras menyapa anak semata wayangnya itu. Melontarkan beberapa pertanyaan dan ungkapan kerinduan khas orang tua terhadap anaknya. Mirae yang masih berumur satu tahun dan belum pandai berbicara, hanya bisa tertawa kencang dan bergoyang kegirangan ketika mendengar suara Daddanya. Seungcheol tentu menjawab pekikan semangat Mirae itu dengan pujian-pujian penuh kasih dan sayang serta janji manisnya untuk segera bertemu dengan Mirae malam nanti.

“Ya sudah, aku jalan pulang dulu ya.”

“Hati-hati, Han. Nanti mungkin aku pulangnya agak telat, jadi mungkin mampirnya agak malam.”

“Kalau sudah terlalu malam dan kamu capek nggak usah juga nggak papa kok. Lagian besok sudah Sabtu, i’ll drop her to your place and you have her for the whole weekend kayak biasa.”

“I just miss her too much kalau nggak ketemu hari ini mungkin aku bisa gila. Aku sempatkan untuk mampir.”

“Oke kalau begitu. Nanti berkabar ya.”

“Oke, see you.”

Panggilan diputus oleh Jeonghan. Ia lalu bergegas mengemudikan mobilnya melesat membelah jalanan kota yang cukup ramai sore itu. Maklum, hari Jumat pukul empat sore, orang-orang berlomba-lomba menyelamatkan diri mereka dari kubangan kapitalisme untuk sesegera mungkin menikmati akhir pekan yang dinanti-nanti setiap saat. Lalu lintas padat, ditambah musim yang semakin dingin ini memang tidak pernah bersahabat bagi mereka yang tidak pandai mengontrol emosi ketika berkendara. Untungnya Jeonghan bukan bagian dari orang-orang tersebut, tapi ia tahu betul orang yang memiliki kesabaran setipis kain kasa ketika sedang berada di balik setir mobil, siapa lagi kalau bukan Seungcheol.

Ngomong-ngomong soal Seungcheol, akhir-akhir ini pikirannya sedang dipenuhi oleh pria itu. Pria yang pernah mengisi hatinya dari mereka remaja sampai bersama beranjak dewasa, pria yang berhasil menarik perhatiannya hingga ia rela membiarkan pria itu hadir di setiap momen dalam hidupnya, pria yang dengan sukses dapat mengubah persepsinya soal cinta dan hubungan romansa, pria yang pernah menjadi kekasih hatinya, belahan jiwanya, bahkan hingga menjadi ayah dari Mirae, anak yang dikandungnya selama sembilan bulan.

Pernah. Artinya, sekarang tidak lagi sama. Mereka adalah pribadi yang sama-sama keras kepala, dengan emosi dan semangat yang meluap-luap, serta mimpi-mimpi duniawi yang sama hebatnya. Setelah beberapa tahun menjalani hubungan cinta, takdir kemudian menyadarkan mereka bahwa ternyata mereka terlalu muda, terlalu naif, terlalu ciut untuk berani melangkah ke jenjang yang lebih serius. Bahwa masih banyak hal yang ingin mereka capai dan kebanyakan di antaranya justru tidak sejalan.

Hubungan yang sudah dibangun bertahun-tahun itu kemudian kandas di tengah jalan. Seungcheol selalu menganggapnya bahwa ini semua hanya sebuah permasalahan waktu saja, sedangkan Jeonghan merasa bahwa mereka masing-masing butuh caranya sendiri untuk memperbaiki komitmen dan bercermin dari kesalahan. Tapi pada dasarnya, keduanya sepakat untuk tidak lagi bersama, sebagai sepasang kekasih.

Namun hidup kadang memang patut ditertawakan. Beberapa bulan setelah malam berakhirnya jalinan kasih mereka, Jeonghan memberi kabar yang cukup mengejutkan. Ada janin yang sedang berkembang dengan sehat di dalam perutnya, sudah hampir tiga bulan lamanya. Awalnya, Jeonghan datang dengan ekspektasi nol besar, tujuannya hanya supaya Seungcheol tentang tahu tentang keberadaan bakal calon bayi mereka itu. Sama sekali tidak pernah mengharapkan lebih, pikirnya mereka tidak lagi bersama maka pasti akan sulit untuk Seungcheol ikut terlibat bersama dengan dirinya, siapa tahu juga ada seseorang yang telah menggantikan posisinya di hati Seungcheol.

Faktanya, Seungcheol justru pada akhirnya dengan suka rela ingin ikut dalam setiap langkah perjalanan Jeonghan. Meski tentu pria itu memerlukan beberapa waktu untuk memproses berita besar tersebut dan memikirkan langkah tepat yang harus ia lakukan. Bahkan pada waktu-waktu tertentu saat itu, banyak perbedaan pendapat dan selisih paham yang menimbulkan masalah kerap terjadi di antara mereka. Namun semua itu sudah lewat, kini Mirae sudah berumur satu tahun, banyak hal yang sudah berubah, pemikiran mereka pun juga jauh lebih dewasa. Mengesampingkan perasaan dan ego masing-masing, Seungcheol dan Jeonghan kini sepakat untuk bekerja sama mengasuh Mirae, sebaik mungkin hadir sebagai sosok orang tua untuk putri kecil mereka, tidak lebih.

“Tumben, nggak langsung masuk.”

“Nggak bisa pencet kodenya, tanganku penuh.”

“Bawa apa?”

Jeonghan mengambil salah satu tas berbahan kertas tebal dari tangan kiri Seungcheol, yang ternyata cukup berat meski terlihat ringan dari tampak luarnya. Ia mengintip isi tas tersebut dan mempersilahkan Seungcheol untuk masuk ke dalam apartemennya.

“Tadi aku mampir ke supermarket karena pewangi mobilku habis, malah keterusan beli yang macam-macam lainnya. Kebanyakan buah sih, buat kamu dan Mirae saja.”

“Ini kamu kayak belanja bulanan Cheol. Gimana ceritanya mampir beli parfum mobil tapi justru bawa melon satu biji, pisang dua sisir, semangka, apa lagi ini, stroberi…”

“Iya, tadi kelihatannya fresh semua soalnya. Sayang kalau nggak dibeli, hehe.”

“Tapi ini kebanyakan, aku sama Mirae nggak akan habis. Takutnya nanti keburu busuk.”

“Dibawa saja ke studio, dibagikan ke teman-teman kamu. Ngomong-ngomong, mana si cantik? Sudah bobo ya?”

“Belum, tadi masih main di kamarnya. Kayaknya memang nunggu kamu.”

Mendengar jawaban Jeonghan tersebut, Seungcheol bergegas melangkah menuju kamar dengan pintu putih serta stiker huruf yang merangkai kata ‘Mirae’ terlihat menempel di permukaannya bersamaan dengan beberapa stiker karakter animasi Sanrio yang menyebar tak beraturan mengelilingi tulisan tersebut.

Oh, my baby…”

Layaknya robot otomatis, Mirae yang sedang berbaring dengan koleksi boneka-boneka favoritnya dalam sekejap bangkit hingga duduk sambil tertawa riang ketika mendengar suara Seungcheol menyapa telinganya. Bayi itu kemudian merangkak dengan cepat ke arah Seungcheol yang memang sengaja masih berdiri di ambang pintu, ingin melihat bagaimana anak gadisnya itu mendekat kepadanya dengan senyuman manis terlukis di wajahnya. Jeonghan yang sedari tadi mengekor langkah Seungcheol juga ikut tersenyum melihat interaksi dua insan di hadapannya itu.

“Sini cantik… ayo coba jalan, nak. Berdiri yuk.”

Akhir-akhir ini, baik Seungcheol maupun Jeonghan memang sedang rajin-rajinnya menstimulasi Mirae untuk mulai belajar berjalan. Meski kalau boleh jujur, ternyata tidak semudah yang mereka bayangkan. Beberapa kali Mirae sudah tampak percaya diri berdiri dengan tegak di atas kedua kakinya, lalu mulai bergerak melangkahkan kakinya meski hanya beberapa sentimeter atau satu sampai dua langkah saja yang pasti akan langsung disusul dengan adegan kembali tersungkur jatuh dengan lutut kecilnya sebagai tumpuan.

Jeonghan, yang notabenenya lebih banyak menghabiskan waktu dengan buah hatinya itu dibandingkan Seungcheol, juga rajin menciptakan berbagai cara untuk melatih Mirae berjalan lancar. Mulai dari bermain lempar tangkap sederhana hingga beberapa kali mengajarkan Mirae untuk berjalan di atas kakinya dengan harapan bahwa hal tersebut akan dicontohnya dengan mudah.

“Mimi… sini, nak.”

Melihat Mirae yang lagi-lagi nyaman merangkak cepat ke arah Seungcheol dan dirinya, Jeonghan ikut memanggil bayi itu untuk merangsang keinginannya untuk bangkit dan berjalan. Ternyata diterima dengan baik, bocah gembul itu mengangkat badannya untuk berdiri, maju beberapa senti ke depan, namun untuk kesekian kalinya kembali menjatuhkan diri ke lantai.

“Aw… good job, Mirae.”

Seungcheol yang pada dasarnya memang tidak sabar untuk segera memeluk anaknya itu, kini giliran mendekat ke Mirae dan membawanya ke dalam gendongan hangatnya. Ia membubuhkan ciuman ciuman singkat di seluruh permukaan wajah si kecil, yang mengakibatkan tawa renyah khas anak-anak keluar dari mulutnya. Badan Mirae diangkatnya tinggi-tinggi lalu digoyangkan dengan gemas, kembali diturunkan untuk diciumi wajahnya hanya untuk kemudian kembali diangkat ke atas dan melakukannya secara berulang-ulang. Mirae tampak menikmati itu semua, terdengar dari suara pekikan dan tawanya yang memberikan kehangatan di dalam jiwa Seungcheol.

“Tadi di daycare ya, nak? Main sama teman-teman, ya? Seru, ya?”

Seperti memahami pertanyaan sang Ayah, meskipun belum bisa menjawabnya dengan jelas, Mirae melonjak-lonjak kegirangan dan menepuk-nepukkan tangannya. Tanda bahwa ia memang senang hatinya. Seungcheol mencium jari-jari kecil Mirae yang menggemaskan itu, beberapa bagiannya bahkan dimasukkan ke dalam mulutnya dan ‘menggigit’nya sebagai ungkapan rasa gemasnya terhadap sang buah hati.

“Sudah minum susu belum ya ini si cantik.”

“Belum, Dadda.” Jeonghan yang mewakili menjawab pertanyaan Seungcheol, dibalas dengan senyuman kecil dengan lesung pipi khas pria kelahiran bulan Agustus itu. Jeonghan balas tersenyum, masih fokus memandangi gerak-gerik Mirae yang terlihat sangat senang di dalam pelukan hangat Seungcheol.

“Minum susu ya habis ini, nak.”

She always seems happier whenever you are around.”

We both know that’s not true.”

Serius. Dengar suara kamu aja mata dia langsung lebar.”

Tangan Jeonghan dijulurkan mengusap kepala Mirae, menyentuh helaian rambut lurusnya yang persis seperti milik Jeonghan. Mirae bereaksi terhadap sentuhan tersebut, memalingkan wajahnya menatap Jeonghan sambil tersenyum lebar.

“Pa..pap..a”

“Iya, nak…”

Meski gadis kecil itu belum bisa berjalan dengan lancar, namun kemampuan berbicaranya justru lebih cepat berkembang. Mirae sudah bisa melafalkan ‘Papa’, ‘Dadda’, ‘mamam’ yang artinya makan, ‘yaya’ yang artinya dia sedang senang, ‘tata’ dengan gelengan kepalanya yang artinya ia tidak mau atau tidak suka.

Beberapa bulan yang lalu, Jeonghan terbangun dari tidurnya di Minggu paginya dengan Seungcheol yang terus-menerus menelepon ponselnya berkali-kali hanya untuk mengatakan bahwa Mirae akhirnya menyuarakan kata pertamanya. Papa. Yang membuat Jeonghan bergegas meninggalkan apartemen untuk menghampiri Seungcheol di rumah miliknya demi mendengar bagaimana Mirae memanggilnya secara langsung. Mereka menangis terharu sepanjang pagi itu. 

See? Dia senang juga kok kalau ada kamu. Dia senang kalau ada kita berdua bareng sama dia.”

“Ah, mungkin kamu nggak paham maksudnya. Dia selalu semangat kalau kamu datang menjemput dia setiap weekend atau kalau aku antar dia untuk bertemu kamu. Mendengar aku mengucapkan kata ‘Dadda’ saja, dia pasti langsung melunjak dengan semangat.”

Her first word is literally ‘Papa’ dan kamu ribut soal ini?”

“Bukan gitu, maksudku mungkin seharusnya dia lebih banyak bareng kamu saja, Cheol.”

Seungcheol menghela nafas. Ia menurunkan Mirae dari pangkuannya dan membiarkan bayi perempuan itu untuk kembali bermain di playmatnya.

“Kan sudah beribu kali berbicara soal ini. Kalau dia sama aku, nanti kasihan. Ujung-ujungnya akan banyak aku titipkan ke daycare karena aku nggak bisa meninggalkan pekerjaanku. I thought you said this is the best for us.”

Co-parenting they said, it’s gonna be the best decision for you they said. Nyatanya, justru tidak segampang yang dibayangkan. Bahkan mungkin menikah justru lebih mudah dari ini semua - setidaknya itu yang Seungcheol pikirkan. Untuk bisa tetap terlibat bersama secara langsung dalam tiap tumbuh kembang buah hati mereka namun sekaligus harus terus bersikap ‘profesional’ terhadap satu sama lain karena memang pada dasarnya tidak ada hubungan romansa yang mengikat, bukanlah suatu hal yang dapat dilakukan dengan remeh. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan, juga pengorbanan terhadap hal-hal yang mungkin terkesan sepele sekaligus menyampingkan ego serta perasaan mereka dan mengutamakan Mirae sebagai fokus utamanya.

Seungcheol terutama yang kerap kali memikirkan hal ini dalam diamnya. Meski tampaknya ia terlihat santai dan tenang akan keadaan di antara dirinya dan Jeonghan, namun justru hal inilah yang sering mengusik hati dan otaknya. Mulanya ia berpikir mungkin memang harus banyak waktu yang mereka butuhkan untuk beradaptasi hingga terbiasa dengan situasi yang seperti ini atau mungkin cara mereka selama ini kurang tepat, butuh perbaikan dan improvisasi di dalamnya agar lebih terasa nyaman dan tidak mengganjal. Namun melihat Mirae yang kian tumbuh dan beranjak besar, ada sesuatu dalam diri Seungcheol yang bergejolak setiap bayangan akan masa depannya dengan keluarga kecilnya itu mengusik di siang hari. Menurutnya, ia dan Jeonghan tidak bisa terus-terusan hidup dalam kondisi yang seperti ini. Menurutnya, sama seperti arti nama buah hatinya itu, Seungcheol mengharapkan masa depan yang indah dengan Mirae dan Jeonghan di dalamnya.

I know… tapi kamu jadi sering bolak balik mampir kesini padahal jaraknya nggak dekat.”

“Do you see me complaining about that?”

“Nggak sih…”

“Ya sudah, kan? Nggak ada yang perlu dipusingkan. Selama ini juga nggak kenapa-napa, aku happy happy aja kok jalaninnya. Kalau kamu bolehin juga aku tiap hari kesini pun nggak masalah. Mirae masih banyak butuh kamu daripada aku, Han.”

“Tap-”

“Sambil jalan kita lihat ya, kalau memang kamu masih merasa ada yang mengganjal, bilang ke aku. Mungkin kita coba cara baru. Udah malam ini, Mirae minum susu dulu. Aku bawa dia ke kamarmu ya, nanti kamu susul.”

Jeonghan melirik jam dinding di belakangnya. Sudah hampir pukul delapan malam, lewat beberapa menit jadwal susu malam untuk Mirae. Ia lalu bergegas ke dapur untuk mengambil stok asi yang sudah dipompanya sore tadi, menghangatkan dan memasukkannya ke dalam dot berwarna kuning favorit anaknya. Ketika ia masuk ke dalam kamarnya, pemandangan pertama yang menyapa matanya adalah Seungcheol yang bersandar pada headboard kasurnya dengan Mirae dalam pangkuannya yang asik tertawa-tawa setiap kali tangan Seungcheol menggelitik perut mungilnya.

Tanpa Jeonghan sadari, senyuman lebar terukir di bibirnya. Salah satu hal paling cantik yang pernah ia saksikan dalam hidup. Tidak pernah Jeonghan bayangkan sebelumnya, bahwa di umurnya yang akan menginjak umur dua puluh delapan Oktober nanti, ia justru menghabiskan banyak waktunya dengan seorang anak perempuan yang ia kandung selama sembilan sebulan, seorang anak perempuan yang hadir di tengah-tengah hubungannya yang rumit dengan mantan kekasihnya, seorang anak perempuan yang justru menjadi pelita sekaligus penyelamat untuk mereka.

Ia akui, ini mungkin menjadi salah satu fase dalam hidupnya yang membutuhkan banyak upaya dan pengorbanan sekaligus menjadi salah satu cara pendewasaannya dalam menghadapi situasi yang sangat tidak terduga. Harus berkompromi dan berkomitmen dengan Seungcheol untuk selalu hadir sebagai sosok orang tua yang bertanggung jawab dan harmonis di hadapan putri kecil mereka namun di satu sisi harus terus-terusan menekan perasaan dan emosi yang mereka miliki terhadap satu sama lain demi kebaikan Mirae. Meski ia harus menyimpan banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalanya, menyingkirkannya jauh-jauh, dan membiarkan garis takdir kehidupan membawanya ke perjalanan yang memang sudah ditentukan. Semua Jeonghan lakukan untuk kenyamanan orang-orang yang ia cintai, Mirae dan tentu, Seungcheol.

“Sini Cheol, biar Mirae minum susu dulu.”

“Oh udah? Itu Papa bawa susu, cantik minum dulu ya. Biar aku aja Han.”

“Nggak papa? Pegel nggak?”

“Nggak papa kok.”

Jeonghan menyodorkan botol susu dari genggamannya untuk kemudian Seungcheol berikan kepada Mirae. Ia menyamankan posisi Mirae di pangkuannya, membiarkan bocah itu setengah berbaring dengan lengan kirinya sebagai bantal dan tumpuannya. Mirae yang pada dasarnya memang sudah menantikan jatah susu malamnya ini dan mulai mengantuk dengan cepat memasukkan ujung dot tersebut ke dalam mulutnya lalu menikmati setiap tetes cairan berwarna putih itu masuk ke dalam tenggorokannya.

Kedua orang tua itu memfokuskan pandangan mereka kepada bayi berumur satu tahun yang amat mereka sayangi itu. Jeonghan yang kini sudah menyusul untuk ikut duduk di sebelah Seungcheol, sibuk merapikan anak rambut Mirae yang menutupi seperempat bagian dari dahinya lalu dengan lembut mengusap pucuk kepala buah hatinya itu.

“Cepet banget rambutnya tumbuhnya.”

“Iya ya, udah mau panjang. Tipis ya Han tapi rambutnya, kayak kamu.”

“Iya, aku juga udah notice ini dari awal.”

Seungcheol menggoyang-goyangkan badannya pelan, mencoba menimang-nimang Mirae dalam dekapannya agar gadisnya itu bisa mulai terlelap dengan nyenyak. Suara nafas kecil dapat ia dengar keluar dari mulut Mirae di sela-sela tegukannya menelan susu dari dalam botol. Tak perlu menunggu waktu yang lama, mata kecil Mirae sudah mulai terpejam perlahan-lahan. Jeonghan dapat menangkap bahwa anaknya itu mencoba untuk melawan rasa kantuknya, mungkin masih ingin menikmati susu atau mungkin masih ingin menghabiskan waktu lebih dengan Daddanya. Sedangkan Seungcheol masih terus menimang-nimang Mirae dalam pelukannya, menunggu sampai buah hatinya terlelap masuk ke dalam mimpi.

“Han.”

Suara Seungcheol lirih memanggil Jeonghan, hampir berbisik, takut mengganggu si kecil yang sudah memejamkan matanya.

“Ya?”

Seungcheol tidak langsung menjawab pertanyaan Jeonghan, membuat Jeonghan mau tidak mau menatap Seungcheol yang masih terus memperhatikan wajah Mirae dengan tatapan penuh kasih.

“Kenapa, Cheol?” suara Jeonghan tidak kalah pelannya dengan suara Seungcheol.

“Nggak papa, cuma akhir-akhir ini ingat hal-hal di masa lalu.”

Jeonghan paham arah pembicaraan yang dimaksud Seungcheol ini. Tentang kesalahan dan masalah yang terjadi di antara mereka dulu. Kalau boleh jujur, terkadang mereka memang masih suka membicarakan soal apa yang terjadi dengan hubungan mereka di masa lampau yang membuat mereka memutuskan untuk tidak lagi bersama sebagai pasangan kekasih. Seungcheol terutama yang masih sering mengungkit itu semua, meski Jeonghan berkali-kali mengatakan bahwa sudah sewajarnya untuk mereka move on dan fokus terhadap hal-hal di depan mereka saja.

“Nggak usah dibicarakan lagi, yang sudah ya biar saja sudah.”

“Aku minta maaf, Han.”

Ada diam di antara mereka ketika Seungcheol melontarkan permintaan maaf kepada Jeonghan. Entah permintaan maaf yang keberapa kalinya, Jeonghan sudah tidak lagi sanggup menghitung. Sejak Mirae lahir sampai sekarang usianya menginjak satu tahun, Seungcheol memang kerap kali meminta maaf atas kesalahan yang pernah ia perbuat dahulu, sebuah bentuk tanda penyesalan darinya terhadap Jeonghan dan Mirae. Jeonghan sendiri juga selalu menjawab bahwa ia memaafkan Seungcheol, bahwa Seungcheol bukanlah satu-satunya pihak yang bersalah, bahwa semua yang terjadi melibatkan mereka berdua bersama.

“Iya, aku selalu maafin kamu. Aku kan juga bilang, bukan salah kamu.”

“Tapi tetap aja. Kadang kalau malam-malam begini, apalagi kalau aku di rumah sendiri, seringnya kepikiran hal-hal yang mungkin bisa saja nggak akan terjadi kalau aku nggak egois waktu itu.”

“Siapa yang bilang kamu egois? Aku nggak pernah bilang kamu egois.”

“Aku tahu, tapi aku selalu merasa kalau aku egois selama ini.”

“Kalau alasan kamu merasa kamu egois itu karena kamu masih mau mengejar impian-impian kamu waktu itu menurutku nggak egois sama sekali kok. Lagipula, bukannya apa-apa tapi Mirae ini kan sama sekali nggak pernah kita rencanakan. Wajar, kalau kamu butuh waktu untuk bisa terima kenyataan.”

But i wish i was there for you sooner, karena ternyata nggak semenakutkan yang aku bayangkan.”

“Nggak perlu ada yang disesali, semuanya kan udah lewat”

But i'm sorry, Han. I really am, maaf aku biarin kamu sendirian waktu itu. Maaf, butuh waktu yang lama buat aku untuk akhirnya bisa proses semuanya.”

You already apologised to me like a thousand times and I already forgave you too. Aku pun juga minta maaf, karena aku pasti juga ada salahnya. Sempat menarik diri dari kamu.”

“Aku paham dan menurutku kamu berhak juga kalau bertindak yang seperti itu.”

“Impas kan kalau begitu?”

“Masih mengganjal rasanya tapi, kayaknya aku akan selalu hidup dalam penyesalan. Nggak menemani kamu waktu Mirae masih di perut, kamu juga harus melahirkan sendiri, waktu Mirae lahir pun aku nggak banyak bantu.”

“Sudah lah Cheol, yang penting kan keadaan yang sekarang. Kamu hadir untuk Mirae, sudah lebih dari cukup.”

Seungcheol menghela nafasnya, ia memandang Mirae yang sekarang sudah sepenuhnya terlelap di dalam dekapannya. Botol susu berwarna kuning yang semula berada di genggaman bocah itu kini sudah tergeletak sembarangan di sampingnya. Seungcheol kemudian meninggalkan kecupan singkat di dahi anaknya itu, lalu mengusap lembut pipi gembul Mirae yang mirip dengan pipinya semasa ia kecil dulu. Lalu kembali memandang Jeonghan yang tersenyum melihat Mirae tertidur dengan pulas dengan bibir kecil yang mengurucut ke depan.

Kehadiran Mirae di tengah-tengah mereka sedikit banyak memang sudah mengubah kepribadian mereka, tentu ke arah yang lebih baik. Masing-masing saling sadar diri bahwa saat ini sudah bukan waktunya lagi untuk mereka mengedepan ego masing-masing dan keinginan yang menggebu-gebu selayaknya dulu, bukan waktunya lagi untuk mau menang sendiri, bukan waktunya lagi untuk saling menyalahkan. Baik Seungcheol maupun Jeonghan belajar untuk bersikap besar hati dan menerima masing-masing, semuanya demi Mirae.

“Sini Cheol, biar Mirae aku gendong.”

Mirae dipindahkan Seungcheol ke dalam dekapan Jeonghan. Ada gerakan kecil dari bayi tersebut, Jeonghan buru-buru menimang-nimangnya agar Mirae tidak terbangun dan menangis. Mata Jeonghan menilik jam dinding yang berada di hadapannya. Sudah hampir pukul sembilan ternyata, pantas matanya sudah mulai berat ingin segera dipejamkan. Sebenarnya, untuk ukuran Jumat malam di akhir pekan, jam sembilan malam memang sepertinya masih terlalu awal untuk tidur, Jeonghan yang dulu juga pasti akan setuju dengan hal tersebut. Namun semenjak Mirae lahir, jam tidurnya juga ikut berubah mengikuti sang buah hati, selain itu ia juga berusaha untuk ikut mengistirahatkan dirinya setiap Mirae tertidur, kalau-kalau nanti harus terjaga di tengah malam karena Mirae menangis.

“Mulai ngantuk juga ya, Han?” Seungcheol ternyata menyadari hal tersebut.

“Iya, mungkin habis ini langsung tidur juga.”

Jeonghan menguap lebar, Seungcheol tertawa melihatnya. Merasa bahwa Jeonghan terlihat menggemaskan melakukan hal yang kelewat sepele dan manusiawi tersebut. Mirae yang semula berada di gendongannya kini sudah dibaringkan di atas kasur ukuran queen milik Jeonghan, tepat berada di sampingnya. Jeonghan juga ikut setengah berbaring di kasurnya sembari membenahi sleep sack milik Mirae yang sedikit terangkat di bagian sampingnya.

“Ya udah, kamu tidur aja Han. Aku sekalian pamit kalau gitu. Besok aku kesini lagi atau kamu yang antar Mirae ke rumah.”

Mendengar Seungcheol yang hendak pergi meninggalkannya dan Mirae, tiba-tiba Jeonghan merasakan ketidaknyamanan dalam dirinya. Entah mengapa namun hati kecilnya merasa bahwa ia tidak ingin Seungcheol kembali ke rumahnya dan meninggalkannya serta Mirae malam ini.

“Seungcheol.”

“Ya?”

Seungcheol yang sudah beranjak dari kasur dan hendak mengemasi barang-barangnya kemudian berhenti dan kembali memfokuskan pandangannya kepada Jeonghan.

“Tidur disini aja malam ini, besok tinggal bawa Mirae pulang ke rumah.”

Terkejut Seungcheol mendengar ajakan Jeonghan untuk menginap. Sebenarnya ini bukan yang pertama kali, mereka sudah sering berbagi ranjang - tentunya dengan Mirae - beberapa kali sebelumnya. Namun biasanya semua terjadi dikarenakan situasi-situasi tertentu yang mengharuskan mereka untuk berbuat yang demikian. Ketika Mirae demam misalnya, atau rewel karena tidak mau ditinggal Seungcheol, atau mungkin mereka sudah merencanakan liburan atau acara bersama di esok hari. Kalau yang seperti ini, datang secara tiba-tiba, jujur baru pertama kalinya untuk mereka.

“Maksudku, kalau kamu mau…”

Jeonghan menyadari bahwa kalimat tadi keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa pertimbangan berlebih. Begitu saja ajakannya agar Seungcheol bermalam di tempatnya keluar dengan sendirinya mengikuti kata hati Jeonghan. Meski ada rasa takut Seungcheol akan menolak, namun kebanyakan dari perasaannya justru berharap bahwa Seungcheol akan mengiyakan.

“Boleh?”

“Boleh.”

“Kalau gitu biar aku mandi dan ganti baju dulu.”

Jeonghan hanya mengangguk. Ia membiarkan Seungcheol melangkah berjalan menuju lemari yang terletak di samping kiri kasurnya, laci paling bawah dibuka oleh Seungcheol dan diambil beberapa helai pakaian tidur miliknya yang tersimpan rapi di dalamnya. Melakukan semuanya dengan santai, tanpa ada rasa canggung, seakan-akan dia sendiri juga tinggal di apartemen itu. Jeonghan juga sama sekali tidak merasa terganggu, malah menyamankan posisinya di kasur sembari memandang Mirae yang tampak terpejam pulas di sampingnya. Ada senyuman kecil tersungging di bibir Jeonghan, tatapannya melembut mengamati buah hatinya.

“Han.”

“Ya?”

Suara Seungcheol terdengar dari ambang pintu kamarnya. Jeonghan sedikit bangkit dari tidurnya dan menatap Seungcheol yang berdiri sambil memegang handuk basah dengan dada telanjang tanpa busana dan hanya celana pendek selutut yang menempel pada badannya. Jeonghan menelan ludahnya, ini bukan pertama kalinya ia menyaksikan Seungcheol topless di hadapannya, bahkan kenyataannya pun mereka sudah pernah saling bertelanjang bulat bersama, meski itu sudah lama sekali.

“Aku belum terlalu mengantuk, aku nonton TV dulu, ya?”

“Oh, iya nggak papa. Atau mau aku temani?”

“Nggak perlu, kamu istirahat aja. Aku tahu kamu capek, kerjaanmu tadi pasti banyak.”

“Nggak papa?”

“Nggak papa. Temani Mirae saja, nanti kalau ada apa-apa panggil aja, ya.”

“Oke. Makasih, Cheol,” Seungcheol hanya tersenyum sebagai jawaban, lantas melangkah menuju ruang tengah apartemen Jeonghan dan menyalakan televisi yang sesungguhnya selama ini jarang sekali difungsikan oleh pemiliknya.

Jeonghan dapat mendengar sayup-sayup suara percakapan orang-orang di layar televisi yang mengisi ruang tengahnya di luar sana, lalu terdengar pula suara tawa Seungcheol mengiringi. Ia kembali menyamankan posisi tidurnya, tersenyum hangat karena entah mengapa rasanya begitu nyaman dan aman.

Ketika kemudian - mungkin - hampir menyentuh jam tengah malam, Jeonghan dapat merasakan kasur di bagian sampingnya terisi. Berhasil membangunkan Jeonghan dari tidurnya, meskipun hanya sebentar.

“Maaf, kebangun ya?”

Kamar tidurnya memang hanya dihiasi oleh lampu tidur yang redup, namun Jeonghan dapat melihat kekhawatiran di wajah Seungcheol tatkala ia bangkit dari tidurnya. Ia dengan cepat menggeleng.

“Udah dimatiin TVnya?”

“Udah. Mirae aman kan?”

“Aman, kok.”

Seungcheol mencium lembut dahi putri kecilnya, lalu mengusap pipinya yang menggemaskan sebelum akhirnya ikut berbaring di samping Mirae. Jeonghan hendak berbagi selimut dengan Seungcheol, namun Seungcheol menolaknya.

“Nggak perlu, nggak dingin kok.”

Jeonghan hanya menurut. Lagi-lagi fokusnya teralihkan oleh dada bidang Seungcheol dan perutnya yang sedikit terbentuk karena ia tahu akhir-akhir ini Seungcheol rajin mengunjungi gym untuk melatih badannya.

Lets just go back to sleep, Han.”

“Hm. Good night, Cheol.”

“Good night, Jeonghan.”

Malam itu, Jeonghan berani bersumpah, bahwa untuk setelah sekian lamanya ia dapat tertidur nyenyak dengan perasaan yang nyaman dan hatinya menghangat. Entah karena memang pikirannya akan proyek pekerjaan besar yang selama ini mengusiknya kini sudah tertuntaskan dengan lancar atau karena kehadiran Seungcheol di sisinya yang membantunya terlelap.


“Terima kasih, ya.”

Jeonghan menundukkan kepalanya singkat setelah mengucapkan terima kasih kepada seorang perempuan dengan celemek berwarna coklat berdiri di belakang meja kasir. Dua tangannya meraih dua gelas berisi kopi dan coklat hangat yang kemudian dibawanya menuju sebuah meja di pojok kedai kopi tersebut. Ada seorang laki-laki yang duduk tenang sembari memainkan ponselnya, menunggu kehadiran Jeonghan.

“Ini kopi kamu.”

“Makasih, Han.”

Jeonghan mengangguk lalu buru-buru meniup pelan coklat hangatnya sebelum akhirnya menyeruput sedikit cairan pekat tersebut. Ada helaan nafas lega setelah badannya merasa lebih hangat dari sebelumnya. Cuaca di luar memang sedang tidak bersahabat, musim dingin sudah mulai datang namun terkadang tidak dapat diprediksi intensitasnya. Terkadang suhu terasa dingin sekali namun ada beberapa saat juga nampak biasa saja. Hari ini contohnya, tadi pagi saja cuaca rasanya kelewat dingin namun tiba-tiba saja terlihat lebih cerah dan manusiawi ketika siang datang.

“Apa kabar Soonyoung?”

“Baik, kayaknya bulan depan dia udah bisa sidang tesisnya.”

“Wow? Nanti berkabar dong kalau memang sudah bisa terlaksana.”

“Iya, Han. Mirae sendiri, gimana? Apa kabar? Tumben nggak diajak?”

“Sehat dia, udah mulai bisa jalan dikit-dikit. Lagi sama Daddanya.”

“Oh, di rumah Seungcheol?”

Jeonghan menggeleng, “Di apartemenku. Seungcheol semalam menginap.”

Jihoon yang semula asik menikmati kopinya kini terpaksa menghentikan kegiatannya itu. Memandang Jeonghan penuh arti, mengalihkan seluruh perhatiannya kepada teman di hadapannya itu.

“Kenapa?”

“Aku nggak salah dengar?”

“Nggak, Seungcheol memang menginap. Tadi malam dia mampir tapi waktu mau kembali ke rumahnya udah terlalu malam. Jadi aku pikir nggak ada salahnya menginap, toh hari ini seharusnya jadwal Mirae untuk gantian bermalam di rumahnya, biar nanti bisa dia bawa pulang Mirae sekalian.”

Jeonghan jelas berbohong, semalam ketika Seungcheol hendak pamit kembali pulang, malam bahkan belum terlalu larut. Apalagi mengingat ini akhir pekan, Seungcheol juga pria dewasa yang sebenarnya wajar-wajar saja kalau harus berkendara di malam hari.

“Tumben?”

“Maksudnya?”

“Ya tumben aja, biasanya Seungcheol menginap kalau Mirae sakit atau kalian ada janji untuk pergi bersama besoknya. Hari ini kalian belum ada rencana untuk pergi bareng, kan?”

Lagi-lagi Jeonghan menggeleng. Ia masih asik menyeruput coklat hangatnya tanpa menghiraukan tatapan Jihoon yang penuh tanda tanya.

“Kenapa, sih?”

“Nggak papa, Han. Tapi ngomong-ngomong, kamu pernah ada pikiran untuk balikan sama Seungcheol nggak?”

“Aneh banget pertanyaan kamu.”

“Loh nggak aneh dong, kan kalian dulu juga pernah pacaran. You guys literally have a daughter together, nggak heran kalau pikiran itu bisa muncul kapan aja.”

Jeonghan termenung, jadi memikirkan pertanyaan yang Jihoon lontarkan barusan. Kalau dipikir-pikir, untuk kembali bersama Seungcheol menjadi sepasang kekasih yang berbagi rasa romantis, Jeonghan belum pernah mempertimbangkan sampai kesana. Bagaimana mungkin, sejak Mirae lahir, satu-satunya hal yang mengisi pikiran dan hari-harinya hanyalah gadis kecil tersebut. Jadi untuk sampai memikirkan adanya kemungkinan baginya dan Seungcheol untuk kembali memadu kasih seperti dahulu kala dan hadir menjadi sepasang orang tua yang utuh untuk Mirae, Jeonghan rasa semuanya masih terlalu jauh.

“Nggak deh, Hoon.”

“Nggak apa? Nggak akan bisa balik atau nggak kepikiran sampai kesana?”

“Ya nggak kepikiran aja sampai kesana, akhir-akhir ini kan fokus kami ya ke Mirae aja.”

“Berarti nggak memungkinkan kalau bisa terjadi kan suatu hari nanti? Kamu dan Seungcheol kembali bersama lagi?”

Pertanyaan Jihoon barusan dibiarkan begitu saja tanpa jawaban keluar dari mulut Jeonghan. Pria itu lebih memilih untuk meneguk habis coklatnya dan membuang mukanya ke arah jendela di sebelah kanannya. Kalau sudah seperti ini, tandanya Jeonghan setuju dengan opini Jihoon itu. Terbukti dari membisunya Jeonghan karena sesungguhnya ia tidak bisa lagi menyangkal pendapat yang lebih muda, pun tidak bisa membohongi dirinya sendiri atas fakta bahwa memang semuanya mungkin saja terjadi di masa mendatang.

Sepanjang perjalanan pulang Jeonghan menuju apartemennya, pertanyaan Jihoon di kedai kopi langganan mereka tadi tidak berhenti-hentinya mengusik otaknya. Apa benar suatu saat nanti akan ada masa depan dimana Seungcheol dan dirinya kembali bersama lagi secara utuh? Kalaupun iya, apa benar Seungcheol masih menyimpan perasaan yang sama seperti dulu? Karena jujur, bagi Jeonghan, ia akan melakukan apapun yang dapat ia lakukan untuk memberikan kehidupan yang sempurna untuk Mirae, meski itu mengharuskannya untuk menjalin cinta dengan Seungcheol lagi.

“Cheol! Aku pulang! Mirae…!”

Jeonghan setengah berteriak dari arah pintu masuk apartemennya. Setelah meletakkan sepatu di rak khusus sepatu, ia melangkah masuk menuju ruang tengah. Dan dalam sepersekian detik, manik matanya dapat menangkap kehadiran dua orang yang namanya ia sebut tadi.

Seungcheol, lagi-lagi, tanpa pakaian menghiasi tubuh bagian atasnya membiarkan dada dan perutnya terekspos begitu saja tidur terlentang di karpet tebal yang terletak di ruang tengah milik Jeonghan. Di atas dada lebarnya itu, Mirae terlelap pulas dengan posisi telungkup, tangannya melingkar sempurna di perpotongan leher Seungcheol. Jeonghan dapat melihat adanya sebuah buku cerita bergambar di tangan kanan Seungcheol yang tergeletak begitu saja. Satu kesimpulan yang dapat Jeonghan tarik, Seungcheol dan Mirae mungkin sedang membaca buku cerita bersama namun Mirae justru terlelap lebih dulu di dekapan Seungcheol hingga membuat pria dewasa itu mau tidak mau juga ikut memejamkan matanya menuju alam mimpi.

Bibir Jeonghan ditarik ke atas, tersenyum simpul melihat Mirae yang terlihat begitu nyaman dan tenang berada di dalam pelukan Seungcheol. Ia mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi kamera, mengabadikan momen di hadapannya itu. Seungcheol pasti senang, pikirnya. Nanti, ia akan kirimkan foto candid itu ke ponsel Seungcheol.

Niatnya, Jeonghan ingin membiarkan ayah-anak tersebut untuk tetap terlelap seperti semula. Namun mungkin Seungcheol dapat mendengar gerak-gerik Jeonghan dan merasakan kehadirannya setelah beberapa jam tadi Jeonghan pergi meninggalkan keduanya untuk bertemu dengan Jihoon, mencari udara segar dan berbagi sedikit cerita.

“Han?”

Seungcheol menyapa Jeonghan dengan suara beratnya, khas seperti orang yang baru saja terbangun dari tidurnya. Mata Seungcheol terbuka sebelah, sedang yang satu lagi masih mencoba untuk beradaptasi dengan cahaya yang masuk setelah beberapa waktu dipejamkan. Badannya hendak diangkat bangkit, namun menyadari Mirae yang masih dengan asyiknya terlelap di atas dadanya, Seungcheol mengurungkan niat.

“Ya? Maaf, kamu jadi kebangun.”

“Nggak papa. Jam berapa sekarang? Udah selesai ketemu Jihoonnya?”

“Jam dua siang. Sudah, barusan aku sampai rumah.”

“Jam dua? Lama juga aku tidurnya.”

“Dari jam berapa?”

Satu pertanyaan Jeonghan ungkapkan kepada Seungcheol sambil berlalu menuju kamarnya, membuka jaket dan pakaian hangat yang ia kenakan untuk berlindung dari cuaca menusuk di luar. Jeonghan juga mengambil sisir dari meja riasnya untuk merapikan rambut pirangnya yang mulai memanjang dan agak luntur di beberapa bagian - tidak punya cukup waktu untuk merawat rambutnya di salon.

“Jam sebelasan kayaknya.”

“Habis aku tinggal langsung bobo dong berarti?”

“Iya kayaknya. Mirae minta baca buku, aku bacain satu yang tipis terus minta lagi yang lain tapi habis itu malah ketiduran anaknya. Aku jadi ikutan ngantuk.”

Jeonghan tertawa mendengar penjelasan Seungcheol.

“Mau aku bantu bangun? Sini, biar Mirae aku gendong. Kamu belum mandi, kan? Mau pulang ke rumah jam berapa?”

“Belum.”

Seungcheol perlahan memindahkan posisi Mirae di atas dadanya lalu membiarkan Jeonghan menggendong Mirae masuk ke dalam pelukannya. Ada gerakan dari anak kecil tersebut yang kemudian disusul dengan terbukanya mata kecil milik Mirae. Ikut bangun karena ia tidak lagi merasakan kulit hangat Daddanya.

“Hai, sayang…. Mirae, ini papa.”

Mirae kecil mengerang di dalam pelukan Papanya, sempat memandang wajah Jeonghan dalam sepersekian detik sebelum kemudian kembali menenggelamkan kepala mungilnya di antara perpotongan leher Jeonghan. Jeonghan kemudian menyadari bahwa sekarang sudah saatnya Mirae untuk minum jatah susu hariannya, maka buru-buru ia pergi ke dapur dan mengambil stok asi dari dalam kulkas lalu menghangatkannya. Semua dilakukan dengan Mirae yang masih berada dalam gendongannya.

“Mau aku bantu, Han?”

Suara Seungcheol terdengar dari arah samping. Handuk kecil melingkar di bahunya. Ada beberapa bercak basah di kaos yang ia kenakan, mungkin air dari rambutnya yang basah menetes membasahi.

Ini satu hal yang Jeonghan sukai tentang Seungcheol. Alih-alih langsung mengambil alih hal-hal yang rasanya Jeonghan membutuhkan bantuan, Seungcheol justru akan menawarkan terlebih dulu. Membiarkan Jeonghan menentukan, sampai mana harusnya ia melangkah. Mempertimbangkan suara Jeonghan, tidak semena-mena langsung mengatur dan memimpin semuanya.

“Tolong bantu gendong Mirae dulu boleh? Aku takut dia kena panas.”

Dengan cekatan Seungcheol mengambil Mirae untuk didekapnya, membiarkan Jeonghan untuk menyiapkan susu Mirae. Hingga beberapa menit kemudian botol berisi susu itu Seungcheol terima dari Jeonghan dan mempersilahkan Mirae untuk meminumnya. Seungcheol juga membiarkan Mirae berbaring di atas karpet tebal di ruang tengah milik Jeonghan, menikmati susu sambil bermain-main sendiri dengan dunianya. Sedangkan kedua orang tuanya duduk bersebelahan di sofa, mengamati betul-betul setiap pergerakan buah hati mereka sambil sesekali ikut bermain menimpali celotehan riang Mirae.

“Mau pulang jam berapa, Cheol?”

“Oh, aku diusir?”

Jeonghan terkekeh, “Bukan gitu, takutnya kemalaman nanti Mirae malah nggak cukup istirahatnya.”

Seungcheol tampak berpikir sejenak. Matanya lurus memandang Mirae yang kini asik bermain dengan boneka boneka karakter kucingnya.

“Belum kepikiran, Han. Aku justru sebenarnya mau ajak kamu dan Mirae jalan-jalan.”

Jeonghan tampak terkejut dengan ajakan Seungcheol barusan. Pasalnya, tawaran itu datangnya sangat tiba-tiba. Mereka memang tidak jarang menghabiskan waktu bertiga di luar rumah entah sekedar membawa Mirae ke taman atau makan di restoran, namun biasanya semuanya direncanakan dengan baik jauh-jauh hari atau mungkin memang ada acara-acara perayaan tertentu seperti ulang tahun.

“Sekarang?”

“Iya, kapan lagi? Kayaknya Mirae juga bosan di rumah terus.”

Mendengar kalimat Seungcheol barusan, Jeonghan jadi mengalihkan fokusnya ke anak gadisnya yang merangkak riang di depannya. Mempertimbangkan haruskah ia menuruti ajakan Seungcheol untuk menghabiskan waktu bersama dengan putri mereka. Ada sedikit keraguan dalam hatinya. Oh, ralat. Bukan keraguan, namun ketakutan muncul di hati kecilnya. Takut kalau perasaan dan pikiran tentang Seungcheol yang belakangan ini mengusiknya akan semakin menjadi-jadi kalau mereka terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Meskipun ada Mirae di tengah-tengah mereka, namun pasti kebanyakan interaksi yang akan terjadi juga di antara dirinya dan Seungcheol saja.

“Mau kemana?” pertanyaan Jeonghan memecah keheningan.

“Kemana aja boleh sih, makan di luar mungkin. Atau mungkin kamu perlu beli kebutuhan rumah juga sekalian nggak papa.”

“Lagi nggak perlu apa-apa sih.”

“Ya sudah jalan-jalan aja, makan, atau duduk-duduk santai.”

Bibir tipis Jeonghan digigit, sambil otak dan hatinya berperang keras untuk mencari pemenangnya. Membiarkan akal sehatnya menolak ajakan Seungcheol atau justru memilih suara hatinya untuk bergegas mengganti bajunya ke setelan yang lebih hangat dan mempersiapkan bawaannya sebelum pergi keluar meninggalkan apartemen.

“Aku ganti baju dulu kalau gitu.”

Dan pada akhirnya, lagi-lagi hati Jeonghan menjadi pemenang mutlak hari itu.

Seungcheol sudah memperkirakan ini akan terjadi. Akhir pekan, tanggal muda, cuaca dingin, ditambah jam makan malam sudah dekat pula. Restoran-restoran yang menjadi rencana tujuan mereka kebanyakan sudah penuh direservasi. Sebenarnya salah Seungcheol sendiri tidak inisiatif untuk memesan tempat terlebih dahulu untuk ‘keluarga’ kecilnya, alhasil kini ia dan Jeonghan - serta Mirae yang berada dalam gendongan Jeonghan - harus terjebak duduk di sebuah taman besar sambil mencoba mencari-cari restoran yang sekiranya bisa menerima mereka.

Taman itu dikelilingi oleh banyak sekali macam rumah makan dan kafe yang menggugah selera, namun banyak di antara mereka yang kurang baby friendly, sekiranya ada pasti sudah penuh atau waiting list sampai puluhan jumlahnya. Seungcheol sibuk mencari restoran terdekat dari tempat mereka berada, yang sekiranya mudah dijangkau dengan berjalan kaki atau mungkin beberapa menit berkendara saja. Karena sumpah, jalanan sedang tidak bersahabat, macet dimana-mana, lagipula mobil Seungcheol juga sudah terparkir dengan ciamik di sebuah parking area umum yang sudah penuh, takutnya kalau keluar dari tempat tersebut nanti justru akan susah mendapat tempat berteduh lagi.

“Aduh galau dimana ya enaknya?”

“Aku ngikut aja, Cheol. Yang penting ada makanan yang bisa Mirae makan juga dan nggak terlalu rame.”

“Kalau yang ada cuma fast food gimana?”

Jeonghan tampak berpikir sejenak. Sebenarnya dia masih sangat menghindari untuk memperkenalkan Mirae dengan hidangan-hidangan cepat saji, namun kalau memang keadaan memaksa Jeonghan juga tidak bisa berbuat apa-apa.

“Ya… jadi opsi terakhir deh. Kalau ada yang lebih oke dari itu, mendingan yang lain dulu.”

Seungcheol kembali menyibukkan diri untuk menggali informasi tempat makan untuk mereka kunjungi. Mirae duduk di pangkuan Jeonghan sambil tersenyum kecil, Jeonghan sendiri juga tidak bisa menahan rasa gemasnya untuk membubuhkan kecupan-kecupan kecil di pipi gembul Mirae.

“Sabar ya nak, Dadda lagi cari mamam.”

“Mma..mamam..mm.”

“Iya nak, habis ini kita makan. Mirae lapar ya nak?”

“Yaya.. yaya..”

Jeonghan tertawa kecil mendengar jawaban Mirae. Anaknya itu begitu menggemaskan dan cerdas. Sayang sekali dia dengan buah hati yang ia kandung selama sembilan bulan itu.

“Kayaknya ada ini Han, restoran pasta sama pizza gitu. Tapi agak jalan kesana, gimana kamu mau nggak?”

“Ya nggak papa, asal pasti beneran nggak penuh.”

“Aduh kok nggak ada nomor teleponnya. Aku coba cek dulu kesana gimana? Aku pastiin dulu, nanti aku kabarin kamu.”

“Nggak papa? Aku disini aja?”

“Iya, disini aja. Kasian Mirae juga, aku kesana dulu ya.”

Belum sempat Jeonghan menjawab, Seungcheol sudah lebih dulu berlalu meninggalkannya dengan Mirae yang masih dalam dekapannya. Semakin erat pula pelukannya dengan anak semata wayangnya itu karena cuaca pun semakin dingin seiring larutnya malam.

Beberapa menit berlalu semenjak Seungcheol pergi memeriksa ketersediaan kursi kosong di restoran yang ia maksud tadi. Mirae mulai bergerak gelisah di dalam rengkuhan Jeonghan, beberapa erangan juga mulai keluar dari mulut kecilnya. Jeonghan dapat menangkap perasaan anaknya yang mulai tidak betah dengan situasi yang mereka hadapi. Kelaparan, lelah, ditambah cuaca yang semakin tidak mendukung. Baju dan jaket tebal yang mereka pakai mulai terasa percuma serta tidak lagi berfungsi dengan baik.

“Sabar ya nak, sebentar lagi Dadda datang kok. Itu lihat itu, ada bebek, nak.”

Jeonghan mencoba menghibur Mirae yang semakin menunjukkan rasa tidak nyamannya dengan menunjuk patung bebek yang terletak di pintu masuk sebuah restoran di seberang mereka. Bukannya terhibur, Mirae justru semakin rewel di dalam pelukan Jeonghan, rupanya patung itu tidak cukup lucu untuk bocah berumur dua belas bulan itu.

“Ssh…ssh… sabar ya, sayang. Anak cantik nggak nangis dong, nak.”

Isakan kecil mulai terdengar di telinga Jeonghan. Miraenya benar-benar sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dilihatnya wajah kecil anak itu, pipi dan ujung hidungnya yang kecil itu sudah mulai berwarna kemerahan, tanda bahwa bayi itu memang benar-benar merasa kedinginan. Maka dengan segera Jeonghan membuka jaket tebal miliknya dan menggendong Mirae masuk ke dalamnya lalu kembali memasang resletingnya sampai ke atas. Kalau dilihat  dari jauh seakan-akan Jeonghan punya perut yang besar sekali meski nyatanya gundukan itu berisi anak umur satu tahun yang kedinginan.

Feel better, kan? No no cry ya, nak.”

Merasa lebih hangat dari sebelumnya, isak tangis Mirae perlahan mulai meredup. Putri kecil itu merapatkan pelukannya di dalam rengkuhan sang Papa, sambil sesekali mendongakkan kepalanya menatap Jeonghan yang disambut dengan senyuman lebar pria itu.

“Hwa!”

Tangisan Mirae tergantikan dengan tawa renyah yang keluar dari bibirnya setiap Jeonghan bermain peek a boo kecil-kecilan dengan anaknya itu. Mirae akan menempelkan wajahnya ke dada Jeonghan sampai matanya tertutup kemudian kembali mendongakkan kepalanya ke arah Jeonghan yang akan dibalas dengan ekspresi Jeonghan yang menyambut Mirae bahagia.

“Hwa! Peek a boo!”

Permainan sederhana itu terus berlanjut, tanpa mereka sadari ada seorang pria yang melangkah perlahan menghampiri Jeonghan dan Mirae dengan senyuman lebar terlukis di wajahnya. Seakan-akan melihat pemandangan yang paling menakjubkan dalam hidupnya. Tangannya yang semula dibiarkan menganggur, kini terlihat mengetikkan beberapa kalimat di layar ponselnya sebelum pada akhirnya mempercepat langkahnya untuk segera menyapa dua orang di hadapannya itu dan membawa mereka untuk segera bersantap malam.

Seungcheol: ayah, keputusan cheol udah bulat

Seungcheol: mungkin lusa cheol ke rumah untuk ngobrol sama ayah dan bunda

Seungcheol: doakan semuanya lancar.


“Han!!! Aku ada dasi nggak sih disini? Perasaan ada ya, kok aku cari nggak nemu.”

Seungcheol setengah berteriak dari kamar Jeonghan, memanggil dan menanyakan soal keberadaan dasi yang seingatnya sempat ia simpan di salah satu laci milik Jeonghan namun pencariannya di Senin pagi yang ricuh ini hasilnya nihil.

“Ada kok! Dicari lagi coba!”

Jeonghan membalas dengan juga ikut berteriak dari dapur, ia masih sibuk menyiapkan susu untuk Mirae yang berbaring sambil menangis kencang di ruang tengah. Sebuah kebiasaan yang akan selalu terjadi setiap saat gadis kecil itu harus berpisah dengan Daddanya. Seperti saat ini, setelah menghabiskan dua, hampir tiga hari bersama dengan orang tuanya itu, Mirae menangis dan rewel minta ampun ketika tahu bahwa Seungcheol harus kembali bekerja di hari Senin yang cerah ini.

Tidak pernah terbantahkan dan terhindarkan. Mirae akan selalu marah dan kesal hatinya kalau harus berjarak lagi dengan Seungcheol, meski nantinya juga akan bertemu kembali, Seungcheol juga akan senantiasa dengan senang hati sering-sering berkunjung ke rumah Jeonghan. Namun meskipun demikian, reaksi Mirae akan fakta yang dihadapinya pasti selalu sama, tidak pernah terima jika dirinya dan Jeonghan harus berpisah dengan Seungcheol. Seakan-akan paham kalau sesungguhnya Seungcheol dan Jeonghan tidak lebih dari sekedar ‘partner’ dalam berperan sebagai orang tua, seakan-akan meminta akan adanya kemungkinan untuk Seungcheol dan Jeonghan bersatu kembali, tinggal bersama dengan dirinya di dalam rumah hangat mereka menjadi satu keluarga utuh.

“Nggak ketemu Han! Di lemari yang sebelah mana?”

“Di laci yang paling bawah, yang ada stiker pompompourin sama hello kitty yang ditempel anakmu itu!”

“Gimana aku bisa tahu yang mana pompompourin yang mana lagi hello kitty.”

Seungcheol menggerutu sendiri, merasa tidak tahu arah harus mencari di sebelah mana. Sebab laci-laci di bawah lemari pakaian Jeonghan sudah penuh dengan stiker-stiker karakter yang Mirae tempel sembarangan dan tak beraturan. Sulit bagi dia untuk membedakan nama karakter yang dimaksud Jeonghan tadi. Seungcheol memutuskan untuk mencari secara merata pada keempat laci di hadapannya, mengobrak abrik isinya sampai ia berhasil menemukan sebuah dasi berwarna biru yang dengan cekatan ia kenakan. Persetan kalau warnanya tidak cocok sekalipun, ia sudah hampir terlambat pergi bekerja.

“Aku berangkat dulu, Han. Maaf tadi lacinya agak berantakan.”

Jeonghan yang sedang duduk di karpet dengan Mirae dalam gendongannya, masih mencoba membujuk Mirae untuk tenang dan meminum susunya, hanya sanggup mengangguk mengiyakan. Seungcheol menyaksikan bagaimana Jeonghan terlihat kewalahan menenangkan Mirae, berkali-kali tangan laki-laki itu ditepis oleh bayi kecil dalam rengkuhannya, memberontak sambil menangis dan berteriak memanggil nama Seungcheol.

“Dadda..!!!! Dadda….!!!!”

“Dadda harus kerja, nak. Nanti kan juga bisa ketemu lagi, nanti gantian deh kita ke rumah Dadda ya, nak.”

Dengan sabar Jeonghan terus-terusan membujuk Mirae, menawarkan berbagai macam cara agar anaknya itu bisa kembali tenang. Melihat peristiwa di depannya, Seungcheol mempercepat gerakan menali sepatunya untuk bisa segera membantu Jeonghan menenangkan Mirae. Manik mata Mirae yang berhasil menangkap kehadiran Seungcheol mengirimkan sinyal kepada tangan bayi itu untuk terjulur, minta digendong dan dipeluk oleh Daddanya. Jeonghan berusaha untuk menahannya, memberikan kebebasan kepada Seungcheol untuk menyelesaikan urusan dengan sepatunya tanpa gangguan dari Mirae.

“Sabar nak, Dadda lagi pakai sepatu.”

Tidak sekalipun nada bicara Jeonghan terdengar naik dan lebih keras. Suaranya selalu lembut dan sabar menghadapi tingkah ajaib bayinya. Seungcheol selalu mengagumi kemampuan Jeonghan yang satu ini, karena sejujurnya kadang ia sendiri susah sekali menahan emosi tiap kali Mirae untuk bertindak merepotkan dan bandel. Suatu hal yang kemudian Seungcheol sadari, bahwa hidup Mirae dalam genggamannya tanpa Jeonghan pasti akan sangat sulit dilalui.

Beres mengenakan alas kakinya, Seungcheol melangkah mendekat ke arah Jeonghan dan Mirae. Meraih tangan Mirae yang sudah diangkat tinggi-tinggi sejak tadi dan didekapnya ke dalam pelukannya yang hangat. Kemejanya sedikit basah karena air mata Mirae menetes beberapa kali di permukaannya, meski kemudian tangisan bocah itu mereda setelah kembali merasakan pelukan Seungcheol.

“Mirae cantik, lain kali nggak gitu lagi ya, nak. Jangan bikin Papa pusing, Dadda kan cuma kerja sebentar. Nanti ketemu lagi, Dadda bisa kesini atau Mirae sama Papa kalau mau ke rumah Dadda juga boleh, nak.”

Mirae hanya bisa memejam-mejamkan matanya dan masih terisak ringan di dalam pelukan Seungcheol.

“Bener-bener, anak Daddanya banget.”

“Hahahaha, jangan cemburu gitu dong, Han.”

“Nggak cemburu. Lucu aja, aku yang hamil tapi nempelnya sama kamu.”

“Justru karena itu, dia udah puas sembilan bulan sama kamu terus setiap hari juga ketemu kamu, makanya mungkin kalau lihat aku susah lepasnya. Ya kan, nak?”

“Yaya… yaya…”

Seungcheol tertawa kecil mendengar jawaban Mirae. Ia menimang-nimang sebentar anaknya itu sambil merapikan barang-barang yang hendak ia bawa ke kantor. Jeonghan di belakangnya masih berdiri sambil berusaha untuk kembali membawa Mirae dalam gendongannya agar Seungcheol dapat berangkat kerja dengan tenang/

“Sama Papa ya, sayang. Biar Dadda berangkat kerja, nak. Sini, minum susu sama Papa.”

Mendengar kata susu, mata Mirae membelalak bulat sempurna. Kini tangannya giliran dijulurkan ke arah Jeonghan, minta kembali digendong oleh sang Papa.

“Mamm…mamamm…”

“Iya sayang, minum susu dulu yuk.”

Terbebas dari rengkuhan Mirae, Seungcheol bergegas melangkah menuju lorong yang menyambungkan ruang tengah apartemen Jeonghan dan pintu utamanya. Jeonghan dan Mirae mengekor dari belakang, dengan Mirae yang asik memegang botol susu di genggamannya.

“Sudah semua, Cheol?”

“Aman. Kalau ketinggalan juga cuma disini, gampang ambilnya.”

“Ya tapi siapa tahu berkas kantor kamu ada yang kelupaan, kan repot.”

“Nggak ada, aman. Aku berangkat dulu, Han. Telat ini.”

“Iya. Mirae say bye bye ke Dadda, mau berangkat itu.”

Seungcheol mendekat ke arah Mirae, memberikan ciuman di pipi kanan dan pipi kiri gadis kecil itu tidak lupa juga membubuhkan kecupan singkat di dahinya. Sesekali menggoda, menggelitik perut Mirae yang penuh susu.

“Dadda berangkat dulu ya, nak. Kiss bye dong kiss bye.”

Jeonghan menggenggam tangan Mirae untuk didekatkan ke dapan bibir mungilnya lalu melayangkan ciuman jarak jauh ke arah Seungcheol.

Mwah!”

“Sekali lagi.”

Mwah!!! Bye bye Dadda!”

“Aku pamit ya Han. Nanti aku berkabar kalau mau mampir. Kamu nanti hati-hati kalau mau ke studio.”

“Iya, aku juga pasti nanti berkabar.”

“Oke, duluan ya.”

Sebelum Seungcheol benar-benar meninggalkan apartemen milik Jeonghan tersebut, pria itu memberikan pelukan hangat di bahu Jeonghan dan meninggalkan kecupan di pucuk kepalanya. Jeonghan sempat dibuat kaget dan salah tingkah, Seungcheol belum pernah bertindak seperti ini sebelumnya. Namun laki-laki itu terlihat santai dan natural saja melakukan semuanya. Tanpa Jeonghan ketahui bahwa sesungguhnya Seungcheol perlu mengumpulkan keberanian untuk mewujudkan niatnya itu karena jantungnya berdegup tak karuan sejak tadi.


Hari-hari berikutnya berlalu dengan biasa, tanpa ada hal spesial yang terjadi di Seungcheol, Jeonghan dan putri kecil mereka. Sesekali Seungcheol berkunjung ke apartemen Jeonghan setelah jam kerja mereka selesai untuk bertemu dengan Mirae atau mereka akan meluangkan waktu bersama untuk sekedar makan diluar, mencari udara segar. Ketika akhir pekan datang pun Jeonghan akan giliran membawa Mirae ke rumah Seungcheoll, membiarkan anak itu tinggal di sana selama dua hari sebelum Senin datang dan ia harus kembali ke apartemen Jeonghan.

Selama itu pula sebenarnya Jeonghan masih sering kali menemukan dirinya termenung di siang hari, memikirkan soal tindakan Seungcheol tempo hari sebelum berangkat bekerja meninggalkannya dan Mirae. Pelukan hangat dan kecupan singkat di ujung kepalanya kala itu berhasil membuat Jeonghan beberapa kali kehilangan fokusnya dalam menjalankan pekerjaannya. Banyak sekali pertanyaan di kepalanya yang ingin sekali ia ungkapkan, tapi memilih untuk bungkam saja. Menganggap perilaku Seungcheol itu tidak lebih dari gestur pertemanan di antara mereka saja.

Sedangkan bagi Seungcheol sendiri, sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah dalam pikiran dan hatinya. Ke arah yang lebih baik tentu saja. Tentang dirinya, tentang Jeonghan, tentang dirinya dan Jeonghan serta masa depan mereka bersama Mirae. Kalau pertanyaan mulai muncul di benak Jeonghan, justru bag Seungcheol kini ia sudah menemukan jawaban bagi persoalan-persoalan yang kerap mengusiknya belakangan. Satu harapannya, semua berjalan sesuai dengan rencana dan doanya saja.

“Halo, Han? Kenapa?” Seungcheol menempelkan ponselnya di telinga sebelah kanan miliknya. Senyum lebarnya yang semula terlihat jelas di wajahnya perlahan memudar ketika ia mendengar penjelasan Jeonghan di seberang sana, tergantikan dengan raut wajah khawatir dan amarah tampak mulai mengumpul di dadanya.

Tanpa banyak berpikir, buru-buru ia meninggalkan meja kerja miliknya di kantor dan berjalan cepat menuju lift. Dalam perjalanannya ke arah area parkir mobil, Seungcheol menginformasikan kepada bagian HR tempatnya bekerja bahwa ia harus pulang lebih awal hari ini. Mirae masuk rumah sakit, maaf saya tidak sempat mampir ke ruangan HR karena terburu-buru, ketiknya di ruang obrolan mereka.

Ketika kemudian Seungcheol sampai di rumah sakit yang Jeonghan maksud lewat telepon tadi, nafasnya terengah-engah. Ia melangkah masuk ke dalam kamar inap tempat Mirae dirawat. Pemandangan yang pertama kali menyapa manik matanya adalah Jeonghan yang berdiri sambil menimang-nimang Mirae di dalam rengkuhannya serta bagaiamana selang infus terjuntai dari tiang ke tangan kanan Mirae. Sama sekali Seungcheol tidak pernah membayangkan ini terjadi.

“Han.” Seungcheol memanggil Jeonghan lirih, takut membangunkan Mirae yang terlihat pulas tidur di gendongannya. Jeonghan membalikkan badannya, sepenuhnya menghadap Seungcheol yang terus melangkah mendekat.

“Hai, loh nggak papa kantor ditinggal?”

“Nggak tahu, nggak penting. Mirae gimana, Han?”

“Nggak papa, ini kena infus udah mendingan. Udah bisa tidur ini.”

“Masih panas ya tapi?”

“Iya. Semalam padahal sudah mendingan loh, tadi pagi malah nangis terus. Ngga mau aku lepas sama sekali gendongnya, aku duduk juga nggak boleh, harus agak digoyang-goyang. Makin kencang nangisnya nanti bisa-bisa.”

“Rewel terus berarti dari pagi, Han?”

“Iya.”

“Kok tadi nggak bilang?”

“Maaf, aku pikir soalnya kalau udah minum susu sama makan mungkin bakal mendingan. Nggak taunya kok malah makin panas, tapi untungnya nggak sampai kejang aku udah langsung ke dokter.”

Seungcheol mendudukkan dirinya di pinggir kasur rumah sakit yang sama sekali tidak nyaman itu. Matanya menatap nanar ke arah Jeonghan yang terlihat lelah dan berantakan namun tetap sabar sekali menghadapi dan merawat Mirae yang memang sudah demam sejak kemarin.

Di saat-saat seperti inilah, Seungcheol selalu merasa bahwa keputusan mereka untuk menerapkan status co-parent dalam hubungan mereka itu tidak adil dan jauh dari kata efektif. Kejadian-kejadian genting dan mendesak yang seharusnya bisa mereka antisipasi bersama justru kesannya jadi semakin sulit untuk dihadapi. Kalau saja mereka tinggal bersama, Jeonghan tidak perlu repot-repot terjaga semalaman sendiri untuk merawat Mirae, Seungcheol juga tidak harus berkendara jauh-jauh dengan rasa kekhawatiran memenuhi sepenuh hatinya seperti yang baru saja ia lakukan.

“Kamu udah makan belum, Han?”

“Belum sama sekali. Aku nggak berhenti dari pagi. Nggak mau diturunin soalnya ini anaknya, langsung nangis pasti. Aku udah siapin bekal makan siang padahal, pikirku tadinya mau aku bawa ke studio karena rencanaku Mirae aku ajak sekalian aja. Tapi ya… kamu bisa lihat sendiri.”

“Makan dulu, Han. Nanti kalau kamu ikutan sakit jadi bingung semuanya.”

“Minta tolong, Cheol. Kotak bekalnya ada di tas biru itu.”

Seungcheol mengambil kotak bekal makan siang Jeonghan dari tas yang dimaksud. Membuka tutupnya dan juga menyiapkan sendok agar Jeonghan dapat dengan mudah segera menyantapnya. Jeonghan kemudian mendekatkan dirinya ke tempat makan siangnya berada, mengambil sendoknya dan menyiapkan satu suapan untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Belum sempat hidangan itu menyapa lidahnya, Mirae bergerak gelisah dalam pelukannya, terdengar isakan kecil dari bayi itu karena Jeonghan yang semula menggerakkan badannya menimang-nimang Mirae mendadak harus berhenti karena fokus untuk berusaha menikmati makan siangnya. Terpaksa Jeonghan meletakkan kembali sendoknya dan kembali menenangkan Mirae, tangannya menepuk-nepuk halus pantat Mirae agar gadis itu kembali tidur saja.

“Aku suapin ya?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Seungcheol. Mungkin ada rasa iba dan kasihan di dalam dirinya melihat Jeonghan yang hampir seperti mayat hidup itu. Jeonghan sempat mematung dalam diamnya, cukup terkejut dengan tawaran Seungcheol barusan. Ia dapat merasakan jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Tanpa sadar, kepalanya justru mengangguk menyetujui usulan Seungcheol.

“Oke.”

Menit-menit selanjutnya keheningan mengisi ruangan tertutup itu. Seungcheol masih sibuk memasukkan hidangan makanan siang ke dalam mulut Jeonghan yang diterima dengan baik oleh pria di hadapannya itu. Sesekali Jeonghan memeriksa Mirae yang masih terpejam nyaman di dalam dekapannya, meninggalkan kecupan singkat di pucuk kepala gadis kecil itu sambil membisikkan afirmasi-afirmasi positif agar buah hatinya itu lekas sembuh.

Di tengah-tengah sunyi itu, Seungcheol membuka obrolan. “Don’t you think it's gonna be better if you just move in to my house, Han?”

Yakin dengan pendengarannya barusan, Jeonghan gagal menelan butiran nasi di tenggorokannya. Membuat ia tersedak dan terbatuk-batuk. Seungcheol ikut terkejut melihat reaksi Jeonghan, buru-buru menyodorkan air putih untuk membantu Jeonghan meredakan batuknya.

“Maaf, nggak maksud bikin kamu kaget.”

“Nggak papa, kaget dikit aja kok. I thought we are past this convo?”

“Iya, tapi kalau lihat hal-hal kayak gini aku jadi mikir ulang. Aku rasa semuanya bakal lebih nyaman kalau kamu tinggal di rumahku Han atau aku yang pindah ke apartemenmu. Anything, intinya kita tinggal bareng aja.”

“Cheol…”

“Aku nggak maksa, nggak harus dijawab sekarang. Tapi jujur kalau aku pertimbangannya udah aku pikirkan selama ini, kalau kamu pindah ke rumahku seenggaknya aksesnya lebih gampang kemana-mana toh studiomu juga nggak jauh dari daerah rumahku, kalau kamu sibuk juga daycarenya nggak jauh bahkan lebih terjangkau kalau dari apartemen kamu. Misal aku yang pindah ke apartemen kamu pun seenggaknya hal-hal kayak gini bisa diantisipasi lebih baik, akupun juga bisa lebih banyak andil untuk Mirae, jadi kamu nggak banyak sendirian.”

“Aku takutnya nanti kami mengganggu kamu.”

“Han, Mirae anakku juga, anak kita. Kita kenal juga udah lama banget Han, kesampingkan deh kalau kamu my baby papa, kamu itu kan juga sahabat baikku Han. Anggap aja kita roommate biasa kalau memang kamu masih berat.”

“Mirae juga pasti senang ya kalau Dadda dan Papanya ada terus buat dia.”

“Iya, kalau yang itu pasti. Tapi, semua keputusan ada di kamu, aku nggak maksa Han. if you think this one is more comfortable dan kita bisa cari cara yang lebih baik untuk kita improve then im okay. Tapi ya kalau pendapatku, aku rasa semuanya akan lebih baik kalau kita tinggal bersama aja.”

Sejujurnya, semua kalimat yang keluar dari mulut Seungcheol banyak benarnya. Bagaimanapun lingkungan yang nyaman dan harmonis adalah kunci utama agar Mirae dapat tumbuh dengan bahagia. Jeonghan sendiri juga sudah berjanji pada dirinya, akan melakukan apapun yang ia bisa demi mewujudkan kebahagiaan Mirae. Ajakan Seungcheol untuk tinggal bersama sebenarnya juga terdengar masuk akal saja.

Wouldn’t we just be a burden to you? Maksudku, siapa tahu mungkin nanti aku dan Mirae mengganggu privasimu.”

“Kalau privasi yang kamu maksud adalah aku membawa teman kencan ke rumah maka jawabannya nggak sama sekali. I have never dated anyone since you.”

Jeonghan terdiam mendengar jawaban Seungcheol. Merasa sedikit bersalah karena sudah lancang menanyakan hal tersebut tapi hati kecilnya juga ingin berteriak kegirangan mengetahui fakta tersebut. Bahwa tindakan mereka selama ini sifatnya mutual, Jeonghan pun tidak pernah berkencan dengan siapapun sejak hubungan romansanya dengan Seungcheol berakhir, ditambah kehadiran Mirae dalam hidupnya.

“Maaf, bukan maksudku.”

“Nggak papa, aku paham. Justru aku senang kalau kita clear soal masalah ini. Tapi jangan salah, aku nggak keberatan kalau kamu punya teman kencan.”

“Nggak ada.”

Seungcheol hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia pilih untuk membereskan kotak bekal milik Jeonghan setelah Jeonghan memutuskan kalau ia sudah cukup kenyang, sebuah kamuflase yang Seungcheol lakukan untuk rasa gugupnya. Sama dengan Jeonghan, ia juga ikut senang mendengar jawaban Jeonghan barusan. Artinya, doa dan harapannya selama ini semakin bergerak ke arah yang lebih baik.

“Aku pikirkan dulu, boleh?”

“Boleh, nanti beritahu aja keputusanmu, Han.”

Tiga minggu setelah hari dimana Mirae harus dirawat inap itu, Seungcheol datang ke apartemen Jeonghan dengan Mirae yang berada di baby carrier yang tersampir di pundaknya. Bayi itu terlihat senang terduduk dengan nyaman di dalam gendongan tebal itu, menghadap depan, air liur khas milik bayi beberapa kali menetes membasahi paha kecil Mirae yang tersampir di samping kanan kiri  dengan tangannya yang senantiasa ia tepuk-tepukkan setiap kali hal-hal lucu menarik perhatiannya.

“Udah sampai! Yay… ketemu Papa ya, nak. Yuk kita pencet yuk ini belnya, sini Mirae pencet sini.”

Seungcheol meraih telapak tangan Mirae untuk ikut menekan tombol bel apartemen Jeonghan. Sebenarnya Seungcheol tidak perlu melakukan hal tersebut, ia tahu kode pintu apartemen milik Jeonghan namun mengingat Jeonghan yang masih disibukkan dengan agenda mengemasi barang-barangnya itu, Seungcheol lebih memilih untuk membiarkan Jeonghan yang mempersilahkan mereka masuk. Ya, setelah melalui beberapa hari untuk berpikir dan mengambil keputusan, Jeonghan akhirnya setuju untuk tinggal bersama dengan Seungcheol di rumahnya.

“Halo!!! Anak papa udah sampai! Sini sayang, oh my own heart.”

Jeonghan mengangkat Mirae dari baby carrier berwarna abu itu dan membawanya ke dalam gendongannya.

“Senang ya jalan-jalan sama Dadda?”

“Yaya..yaya..!”

“Sudah beres semua Han barang-barangnya?”

“Udah. Sebagian udah diangkut juga kok, ini beberapa aja yang bisa masuk mobil.”

“Syukurlah kalau gitu. Untung Mirae sama aku dulu, kalau nggak kayaknya nggak akan selesai ini dua hari beres-beres.”

“Iya, makasih ya Seungcheol.”

Senyuman dan anggukan Seungcheol berikan sebagai jawaban untuk Jeonghan. Sedang lawan bicaranya itu masih asik melepas rindu dengan buah hatinya. Maklum, dua hari penuh tidak bertemu. Mirae memang sengaja tinggal di rumah Seungcheol tanpa bertatap muka dengan Jeonghan, membiarkan Papanya itu fokus mengemasi semua barang-barang yang akan ikut dipindahkan ke rumah Seungcheol.

“Ini udah minum susu, Cheol?”

“Udah kok.”

“Oh, oke. Kamu udah makan, belum? Aku tadi sebenarnya mau makan siang sebelum habis ini kita berangkat. Kamu mau juga?”

“Boleh, deh.”

“Oke, aku siapin dulu. Mirae disini dulu sama Dadda ya, nak. Sebentar ya.”

Jeonghan mencium pipi Mirae singkat sebelum bangkit melangkah menuju dapur untuk menyiapkan hidangan makan siang untuknya dan Seungcheol.

Melihat Jeonghan yang sudah masuk ke dalam dapur dan hilang dari pandangannya. Seungcheol buru-buru menghampiri Mirae yang terduduk di karpet lalu ikut duduk menghadap anaknya itu. Tangan Seungcheol merogoh kantong celananya. Sebuah kotak berbahan beludru berwarna merah terlihat diambilnya dari dalam.

“Mirae, sesuai rencana tadi ya. Nanti kalau Papa udah kesini, Mirae jalan ke Papa dan tunjukin kotak ini ke Papa ya.”

“Tata…tata”

“Nanti Dadda bantu. Tapi Mirae yang tunjukkan kotak ini ke Papa ya.”

Kotak kecil yang semula berada di genggamannya itu kini ia pindahkan ke tangan Mirae. Tentu saja bocah kecil itu hanya bisa memandangnya dengan tatapan penuh selidik dan penasaran. Tidak lama setelah itu, Jeonghan datang dengan dua piring berisi santapan makan siang untuknya dan Seungcheol. Laki-laki itu tersenyum dan ikut bergabung duduk di sebelah Seungcheol yang sudah menyamankan diri di sofa ruang tengah milik Jeonghan - salah satu benda yang memang tidak dibawa pindah ke rumah Seungcheol.

“Maaf cuma ini, habisin bahan-bahan di kulkas soalnya.”

“Nggak papa, lagipula aku suka nasi goreng buatanmu.”

“Makasih.”

Seungcheol tersenyum. Mulai melahap masakan Jeonghan yang sejujurnya sudah lama sekali tidak ia rasakan lagi. Dulu semasa mereka pacaran, masing-masing dari mereka sering memasak untuk satu sama lain namun ketika mereka memutuskan untuk berpisah kebiasaan itu juga ikut sirna begitu saja. Tapi sepertinya, setelah ini rutinitas itu akan kembali terjadi lagi.

“Pap-pappa…pa!”

“Ya, cantik? Kenapa, nak?”

Jeonghan berhenti mengunyah, fokusnya kemudian teralihkan seluruhnya ke Mirae yang sedang merangkak beberapa meter jaraknya dari dirinya dan Seungcheol. Dengan sabar, Jeonghan menanti gadis kecilnya itu bangkit pelan-pelan terlihat mau mengambil langkah mendekatinya.

“Sini, nak. Mirae punya apa tadi katanya mau ditunjukkan ke Papa ya, nak?”

“Apa, Cheol?”

“Nggak tahu itu, ada tadi dia mau tunjukkan ke Papa katanya. Sini, sayang.”

Sama seperti Jeonghan, Seungcheol juga menunggu dengan sabar untuk Mirae kembali merangkak ke arah tempat mereka duduk. Tanpa sepengetahuan dan diluar perkiraan mereka, Mirae justru dengan percaya diri mengambil beberapa langkah ke depan untuk semakin mendekat badannya ke Jeonghan dan Seungcheol. Kedua orang tua itu mengira bahwa setelah ini gadis kecil mereka akan kembali menjatuhkan diri ke lantai seperti yang sudah-sudah. Maka ketika Mirae dengan lancarnya berjalan beberapa meter dari tempatnya berdiri menuju sofa di seberangnya itu, alangkah terkejutnya Seungcheol dan Jeonghan melihat buah hati mereka itu pada akhirnya bisa berjalan sesuai dengan harapan mereka belakangan ini/

“Loh, loh, loh. Aduh, aduh, pintarnya… aduh, pintarnya anak Dadda!”

“Sini, sini sayang. Sini sama Papa, yay!!!”

Suara teriakan Jeonghan dapat terdengar dengan nyaring memenuhi apartemennya. Setelah melewatkan momen emas kata pertama yang keluar dari mulut bayinya itu dulu, kini Jeonghan dapat menyaksikan secara langsung langkah-langkah pertama Mirae dalam hidupnya. Reflek air matanya terlihat menggenangi pelupuk matanya, tangannya terjulur menyambut Mirae yang tertawa riang mendekat ke arahnya sambil pantat kecilnya bergerak dengan gemas mengikuti langkah kakinya.

“Papp-papa…!”

“Cintaku… sayang, anak cantik anak pintar. Anak Papa dan Dadda yang paling hebat.”

Dibawanya Mirae ke atas pangkuannya dan diciumnya pipi serta hampir setiap inci wajahnya.

“Hebat, nak. Coba itu bawa apa itu di tangannya ditunjukkan ke Papa, nak.”

“Iya, apa sih? Bawa apa, sayang?”

Alis Jeonghan berkerut ketika ia melihat bahwa ada kotak kecil berada di genggaman tangan Mirae. Kotak yang sangat asing untuknya, seingatnya Mirae tidak punya mainan yang seperti ini.

“Apa ini, Cheol?”

“Coba dibuka?”

Mirae yang semula berada di atas paha Jeonghan, kini Seungcheol bawa untuk dipindahkan posisinya di pangkuannya, membiarkan Jeonghan untuk dengan leluasa membuka kota berwarna hitam itu.

Ketika pada akhirnya Jeonghan dapat melihat isi kotak itu, tangannya dengan reflek menempel di mulutnya, gerakan yang menunjukkan bahwa pria itu sedang terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, ada cincin emas dengan hiasan berlian yang meski kecil namun kilaunya hampir menyilaukan mata. Di bagian tutup kotak tersebut, ada sebuah tulisan yang Jeonghan yakin pasti sudah dipersonalisasi sebelumnya. Tulisan yang pelafalannya sama persis dengan sebuah kalimat yang dapat Jeonghan dengar keluar dari mulut Seungcheol setelahnya.

“Let’s build our future together, shall we?”

Air mata Jeonghan yang semula hanya menggenang dan ditahan mati-matian untuk tidak menetes, kini dengan bebas terjun begitu saja membasahi pipinya. Wajahnya ia alihkan untuk memandang Seungcheol sepenuhnya. Senyuman lebar dan lesung pipi pria pemilik seluruh hatinya itu menyapanya dengan hangat.

“Ch-cheol…”

“Ini nggak dadakan, nggak tiba-tiba, nggak juga cuma karena kita mau tinggal bareng terus aku pikir untuk kita nikah sekalian aja. I've been thinking about this for a long time, Han. Lagi, aku nggak memaksa. Kalau memang menurut kamu ini terlalu buru-buru nggak papa, aku punya banyak waktu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, just like our daughter’s name, aku mau kamu ada di masa depanku, Han. Aku minta maaf kalau selama ini aku banyak salahnya, aku banyak gegabahnya, tapi semuanya justru semakin menyadarkan aku kalau aku nggak bisa hidup kalau nggak ada kamu di dalamnya. I want you. No one else but you.”

You are a silly man…”

Jeonghan terisak kecil mendengar ungkapan hati Seungcheol barusan, sedang yang diajak bicara masih mematung mencoba mencerna pernyataan Jeonghan. Mirae di pangkuannya juga ikut terlihat bingung menyaksikan Papanya menangis namun juga tersenyum senang di waktu yang bersamaan.

I thought I was the only one who was crazy all this time. Aku selalu berpikir kalau kesempatan untuk bisa bareng kamu lagi itu tipis hampir nggak ada, kalau mungkin memang jadi co-parent sama kamu buat Mirae udah jadi pilihan yang paling bagus. God, i love you so much i’d do anything for you and Mirae.”

“So it’s all a mutual feeling? Selama ini?”

Jeonghan mengangguk cepat mengiyakan.

“Jadi jawabannya? Want to build a future with me?”

Bukannya menjawab pertanyaan Seungcheol, Jeonghan justru langsung mengenakan cincin di genggamannya itu di jari manis miliknya.

Yes. Thousand yes.”

Seungcheol menghela nafasnya panjang. Jeonghan diraihnya dan dibawa ke dalam pelukannya, berbagi kehangatan bersama dengan Mirae yang masih tenang di atas pangkuannya. Jeonghan balas memeluk Seungcheol, sebuah pelukan yang sangat ia rindukan. Kini sama seperti dulu, Jeonghan bisa bebas mendapatkan kenyamanan ini kembali dalam kesehariannya.

Seungcheol mengecup bahu, perpotongan leher, hingga ke dagu Jeonghan. Senyuman bahagia tersungging di bibir Jeonghan merasakan sentuhan bibir Seungcheol di permukaan kulitnya, ia kemudian menarik dirinya menjauh dari dekapan Seungcheol hanya untuk kembali mendekat menyatukan bibir mereka.

Awalnya Seungcheol terkejut, entah karena Jeonghan yang begitu tiba-tiba atau karena rindunya terhadap rasa memabukkan dari mulut orang yang ia cintai itu. Yang terpenting, hatinya kini penuh, akan rasa bahagia, lega, juga haru karena pada akhirnya semuanya berjalan sesuai dengan harapan dan doanya. Bahwa jawaban akan pertanyaan-pertanyaannya selama ini tidak ada yang meleset satupun. Rasa cintanya kini kembali dipersatukan dengan separuh hatinya.

Ciuman mereka masih terus berlangsung selama beberapa waktu kedepan, saling mencumbu, menyalurkan hasrat dan kasih sayang yang terpendam selama beberapa waktu berpisah, ada gigitan kecil nan manis Seungcheol berikan di belahan bibir Jeonghan, tidak banyak dan tidak terlalu liar namun cukup membuat Jeonghan merinding dibuatnya. Mungkin bisa saja sesi itu berlanjut ke arah yang lebih panas jika saja Mirae tidak mengganggu dengan memanggil nama Daddanya.

“Iya, sayang? Kenapa, nak?”

Bayi itu menjulurkan tangannya, minta digendong Seungcheol. Cemburu rupanya melihat orang tuanya bermesraan yang begitu intimnya. Jeonghan hanya bisa terkekeh melihat tingkah laku Mirae, membiarkan Seungcheol mengangkat Mirae tinggi-tinggi dan bermain-main dengan buah hatinya. Jeonghan ikut mengistirahatkan kepalanya di bahu Seungcheol, tersenyum dan menggoda Mirae tiap kali putri kecil mereka itu mendekat.

Thank you for this, Cheol. I love you.”

“Nothing compares, baby.”

So this is it. This is what the future looks like for them.



 

 

 

 

 

 

 

 

Notes:

this work will always hold a special place in my heart. thank you for the amazing idea. thank you for sharing it with me. thank you. thank you.
for dearest readers too, thank you for tuning. please give this one a lot of love.
see u soon!
follow me on twt: sihirjerau

Series this work belongs to: