Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-03-30
Completed:
2025-06-14
Words:
21,081
Chapters:
2/2
Comments:
7
Kudos:
201
Bookmarks:
7
Hits:
3,496

spoil me rotten

Summary:

Changmin punya lima radar yang dapat menangkap basah bahwa Younghoon si wartawan itu, naksir Hyunjae lebih dari sekedar penggemar dan penyanyi. Dan ini, adalah serangkaian turbulensi dalam pembuktian hipotesisnya.

Notes:

to my dearest Dera, i sincerely hope this writings of mine embodies how much love that you and me both carries for our kakak and adek. have a happiest birthday -`♡´-

Chapter 1: Changmin

Chapter Text

 

 

 

Radar kesatu: susu Oatside.

 

Di umur 25 tahun yang katanya titik koordinat paling rawan untuk mengalami quarter-life crisis, Ji Changmin sebenarnya gak ngerasa hidupnya krisis-krisis amat. Cuma memang gak pernah kepikiran aja sebelumnya kalau setelah empat tahun capek mengejar gelar Sarjana, dia malahan berakhir jadi kacungnya Hyunjae. Definisinya gak dalam literal kacung juga sih, secara dia malah ikutan nyoba banyak fasilitas enak selama menjabat jadi contact person sekaligus managernya itu. Kalau dihitung bareng pemasukan bulanan yang jauh di atas UMR dan rekor keliling Nusantara dari schedule nya Hyunjae yang nomaden, keluhan yang membebaninya sejauh ini cuma jam kerja random.

Oh atau mungkin, pengecualian gimana Changmin butuh persediaan kesabaran ekstra untuk menghadapi kenarsisan sang penyanyi.

Hyunjae punya jadwal siaran radio yang on-air dari jam 4 sampai dengan jam 6 sore. Salah satu kanal yang masih eksis di kalangan masyarakat ditengah gempuran music streaming platform dan paling pas didengar sewaktu menghadapi kemacetan ibu kota. Korner acara yang juga paling ditunggu-tunggu dalam siarannya adalah Kontes Matematika dadakan dengan hadiah yang menarik setiap sesinya. Karena kuis ini, cangkupan pendengar radionya jadi gak cuma middle dan older age aja.

Kenarsisan bosnya itu sebetulnya sama sekali gak ada hubungannya dengan pekerjaanya sebagai penyanyi ataupun penyiar radio, tetapi kenarsisan itu diperkarai oleh seorang wartawan entertaiment bernama Kim Younghoon.

Younghoon mungkin bukan salah satu dari pendengar yang masih memakai cara tradisional hanya untuk streaming lagu itu, atau target market dari Kontes Matematika dan hadiah fantastisnya, atau fans yang selalu nangkring di DM Instagram dengan segala macam pujaan. Younghoon–berdasarkan dari hipotesis Changmin, punya ketertarikan lebih pada Hyunjae bukan dalam ikatan emosional antara publik figur dengan warga sipil, tetapi antara manusia dan manusia. Dan Changmin suka berhipotesis.

Whops, incoming.” Pun dengan tangan kanan yang penuh dengan tas perlengkapan Hyunjae dan tangan kiri dengan tasnya sendiri lalu naskah radio yang berada dalam dekapan, Changmin masih dapat mencuri pandang ke arah Younghoon dan wajahnya yang dibarikade kamera. Insting pertamanya bergeser menjauh agar menghindari ikut masuk ke dalam frame, dan yang kedua adalah melirik eksistensi cup kopi di bawah kaki sang wartawan.

My personal photographer. How nice.”  Ucap Hyunjae dengan datar. Namun segera setelah mereka berdua berada lebih dekat dalam radius pria itu dan sekumpulan wartawan lain, senyum ala korporatnya seketika dipamerkan. “Sore semuanya…”

“Sore kak Hyunjae…” Kalau yang barusan diucapkan dalam mode paduan suara oleh beberapa diantara mereka, tanggapan Younghoon datang dalam bentuk kameranya yang diturunkan agar sunggingan pada bibirnya bisa terdeteksi. Lalu setelah itu dia membungkukan badan dan mengambil cardboard holder berisikan dua gelas kopi sembari mengatakan, “Hei, sore.”

Fun fact: pernah ada kurun waktu dimana Changmin tidak begitu menyukai Younghoon. Dia tahu betul apa definisi dari manager tanpa harus repot-repot membuka kamus, tetapi dia benci ketika definisi itu ditodongkan di depan wajah. Contohnya bagaimana kopi yang Younghoon bawa itu selalu diserahkan kepada Changmin alih-alih Hyunjae sendiri, seakan semakin cepat hadiah kecil itu berpindah tangan semakin banyak kesempatan dia dan Hyunjae bercengkrama. Seakan semakin sadar Changmin akan posisinya, semakin tinggi tembok yang akan memisahkan mereka bertiga.

Tapi dia bilang pernah ada karena memang rasa kesal itu sekarang sudah sepenuhnya menghilang, dan memindah-tangankan si kopi dari Younghoon kepadanya berlangsung dalam mode otomatisasi. Karena kalau memang dia berniat mengambil sebuah hikmah, sunggingan dari senyum pertama acap kali transaksi kopi itu berlangsung kini menjadi milik Changmin alih-alih Hyunjae (it’s pathetic, he knows).

“Sore. Tumben rapi amat hari ini outfit nya, Hoon?”

Oh. Iya bener. Biasanya, Younghoon cuma akan berdandan dengan celana jeans, kaos putih, dan flanel polos beserta lanyard yang menggantung pada lehernya setiap mereka berpapasan. Melihat dia dengan blazer hitamnya membuat Changmin untuk pertama kali sadar betapa lebar bahu pria itu.

"Ah." Younghoon memindai dirinya sendiri dari mulai dada sampai ke ujung kaki. "Nanti malem di kantor ada acara."

"Ooh, kirain abis dari sini mau langsung jemput pacarnya main."

Respectfully, kalau aja kedua tangannya gak bener-bener penuh sampai bahkan keseimbangannya hampir hilang, Changmin akan memijat batang hidungnya sebagai reaksi secondhand embarrassment atas celetukan asal Hyunjae tadi karena pertama: dia sok akrab, kedua: Changmin tahu Hyunjae ngomong begitu hanya supaya bisa dapetin feedback yang dia mau.

Contohnya, "Engga, kok. Belum ada pacarnya."

Bingo. Diputar bola matanya malas, mencoba sekuat tenaga untuk menghindari temu pandang dengan seringai yang sekarang berada di seluruh wajah temannya.

“Ahem. Je ayo buruan, lo belum briefing naskah yang hari ini.”

“Oke-oke ayo. Thank you Hoon, buat kopinya. Again.” Jika ada pengeras suara yang disambungkan ke dalam isi kepala Changmin, alat itu pasti sudah mengumandangkan kalimat si kampret satu ini sempet-sempetnya lo dengan suara yang menggelegar.

No problem. Semoga suka ya Hyunjae, Changmin.”

Pada dasarnya Changmin memang orang yang overdramatis. Sebuah piring pecah disaat dia sedang punya fikiran buruk? Insting itu akan benar-benar terjadi dan dia akan menulisnya di Twitter agar semua mutualnya terinformasikan. Tak ada satupun kejadian dalam harinya yang berjalan lancar? Perjalanan pulang dengan KRL akan ditemani oleh lagu Keshi dan kepalanya yang menempel di jendela. Notifikasi liked your story yang datang bersamaan dengan username mantan pacarnya? Dia akan berada di pojok ruangan, membaca semua histori chat mereka semasa berpacaran dan menjalani hari dengan penuh penyesalan.

Mendengar Younghoon pertama kali menyebut namanya (yang entah dia tahu darimana) semenjak mereka sering berpapasan beberapa bulan belakangan? Mungkin ini saatnya mengeluarkan hipotesis baru bahwa Younghoon sedang berusaha memanfaatkan orang dalam untuk lebih memudahkan usaha PDKTnya dengan Hyunjae.

Wow, i’m so fucking smart.

“Dia tahu nama lo.” Bisik Hyunjae ketika mereka berdiri di dalam lift yang tengah menuju ke lantai lima. “He wants me so bad.

 

Suara raungannya yang penuh kefrustasian memenuhi ruangan, membuat Hyunjae terbahak dengan lepas. Here we go again.



***



“Itu kenapa gak lo minum?” Adalah pertanyaan yang Hyunjae ajukan setelah keluar dari ruang siaran disela-sela breaktime. Changmin mendongak dan menemukan sang penyanyi tengah melirik kopi yang sedari tadi belum tersentuh.

“Kan punya lo?”

“Hmm.” Dia bergumam tenang, ikut mendudukan diri di sofa dan sekilas mengintip layar handphone Changmin sebelum menyandarkan kepalanya dan menutup matanya erat. “Gue lupa mau tanya kenapa lo gak pernah mau minum kopi dari Younghoon.”

Alisnya berkerut heran. “Ya karena itu punya lo?”

We never had problems with sharing foods and drinks before.

Alih-alih mempermasalahkan pernyataan? pertanyaan? itu, Changmin lebih khawatir dengan Hyunjae yang bahkan dari suaranya terdengar kelelahan. “Je? Are you ok? Sakit lo?”

“Gak, gak sakit. Tidur. Butuh tidur yang bangun-bangun kepala gue bakalan migrain gara-gara kebanyakan tidur.” Ketika Changmin tidak mengatakan apapun selama beberapa detik, Hyunjae melanjutkan. “Sebenernya kalau dipikir-pikir Younghoon nih bukan tipe gue banget deh, Cil.”

“Kenapa? I think he’s alright.

“Ya itu sih karena emang dia tipe lo.”

“Sotoy!” Pekikannya berhamburan tanpa kontrol. “Tipe cowok gue nggak gue tulis di jidat gede-gede ya.”

“Iya tapi lo tulis di mata.” Hyunjae menarik napasnya perlahan. “Yang pertama tinggi, dan itu fundamental. Kayak, semua orang yang tingginya setara sama lo atau lebih pendek gak akan bikin lo salting brutal. Abis itu lo juga lebih prefer cowok yang rambutnya gondrong. Gak sampai panjang yang gimana-gimana, cuma yang nutupin leher dan poninya seksi kalau disisir pakai jari.”

Reaksi pertamanya adalah menggertakan gigi sambil mencoba untuk tetap tersenyum tenang. “Asli, sotoy abis.”

“Terus yang terakhir–” Lanjutnya, seakan bola mata Changmin yang sedang memelototinya sama sekali gak membuat dia gentar. “–he looks good in blue.

And that was Changmin’s last straw. “Lo ngestalk notes HP gue ya?!”

Yang ditegur mengangkat kedua bahunya santai dengan bibir yang sedikit dikerutkan. “Just perceiving. I’m good at that.

Then stop being good at it!” Protesnya itu hanya ditanggapi Hyunjae dengan kekehan. “Lagian kenapa lo serius amat sih nanggepin Younghoon? Maksud gue banyak kali orang yang naksir lo. Diluar fans lo ya, dan diluar kita tahu dia beneran suka sama lo romantically.”

Because there are other people who think it’s cute.” Sang penyanyi mengucapkannya seakan-akan tengah menjelaskan bahwa satu tambah satu hasilnya adalah dua, namun bahkan Matematika dasar tidak berkemampuan untuk membuat Changmin mengerti. “Because there are other people who think that, so it’s more intriguing. Lo emang gak lihat orang-orang di Twitter tuh suka pada ngomongin gue sama Younghoon? Mereka pikir hasil foto jepretan Younghoon buat gue is lovely. And the daily coffee. Man, the daily coffee. They shipped us so, so bad.

“Shap ship shap ship, kapal selam lo? Pempek Palembang?”

Rambut di puncak kepalanya diacak-acak hingga mencuat tak karuan, lalu sang kopi yang sedari tadi menjadi pembahasan utama mereka kembali ditunjuk Hyunjae dengan dagunya. “Gue gak akan minum itu hari ini jadi buat lo aja. Lagian tadi yang diucapin semoga suka kita berdua, dan gue udah kasih izin buat lo minum. Kalau lo masih ngeyel gak mau minum yaudah gue yang minum karena sayang kalau dibuang. Tapi semisal nanti malem gue insomnia lagi, itu salah lo.”

Fine.” Tangannya mengambil salah satu dari dua cup di meja dan menenggaknya dengan cepat. Kalau membayangkan esok hari yang harus dimulai dengan ketantruman Hyunjae karena kurang tidur, dia akan menghalalkan segala cara untuk menggagalkannya. “Puas?”

Hyunjae kembali berjalan gontai masuk ke dalam ruang siaran seraya mengacungkan ibu jarinya, dan entah sudah yang keberapa kali bola matanya berputar penuh sarkas sore itu.

Kalau dipikir-pikir, pas satu tahun yang lalu setuju dan memulai pekerjaan ini Changmin sebenarnya seratus persen buta tentang apa basis dari menjadi seorang manager dan gak dekat-dekat amat sama Hyunjae. Mereka dikenalin lewat Eric–adiknya yang adalah pacar Sunwoo yang adalah temannya dan waktu itu kebetulan ngajakin dia ikut tahun baruan bareng, dan Changmin yang lagi burnout dengan pekerjaan korporat pertamanya merasa ini adalah jawaban atas semua doa-doanya.

Jadi dengan pengetahuan seadanya dan laptop yang dibuka di tengah kegelapan atas nama penelitian, Changmin menjalankan sistem belajar kebut semalam walau itu gak ikut membantu dia buat lebih cepat mengakrabkan diri dengan Hyunjae. Mungkin gengsinya terlalu besar untuk mengakui ini sekarang, tapi kalau sampai Hyunjae tahu kalau Changmin pernah takut perkara dia pikir bosnya itu mengintimidasi, dia lebih baik kedapatan sial ngunyah pare pas lagi makan siomay. Sekarang setelah setahun mengobservasi dan mencoba mengenal Hyunjae, hal yang paling Changmin takutkan dari dia cuma kalau dia sakit. Karena kalau Hyunjae sakit, semua-muanya bisa berantakan.

Pun indikator keakraban mereka itu yang bisa dibilang persenannya bertambah, Changmin masih sering merasa segan. Dan masih banyak yang gak mereka tahu soal satu sama lain. Dan Hyunjae pasti gak akan tahu kalau Changmin–

Fuck.” Sepuluh menit sebelum siaran berakhir, Changmin dihantam sebuah realisasi yang murni terjadi karena kebodohannya. Perutnya perlahan merasakan nyeri, dan parahnya dia tahu betul apa penyebabnya. Stupid, stupid Ji Changmin.

Lima menit sebelum siaran berakhir, keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya.

Detik pertama Changmin bertemu pandang dengan Hyunjae ketika telah keluar dari ruang siaran, keningnya berkerut hebat. “Why? What’s wrong?

“Gue bego banget, Nje.”

“Hah kenapa? Apanya?”

“Lo bisa nyetir ke tempat manggung sendiri gak?”

“Ya bisa aja sih, tapi lo kenapa anjir?”

“Kopi.” Ucapnya sambil mengerang, menekan perutmya. “Kayaknya tadi susunya itu susu sapi.”

Kedua mata Hyunjae serentak membulat. “Lo lactose intolerant?

Iya, dan dia lupa kalau gak semua orang tahu itu apalagi Younghoon.

“Gue kayaknya mau ke klinik atau rumah sakit deket sini?”

“Oke, gue anter.”

Hyunjae sedang ditengah mengumpulkan barang-barangnya ketika Changmin kembali menyela. “Nje, gue gampang tinggal pesen Gojek. Lo mau manggung dan dari sini ke Cikini macet, gak akan keburu kalau anter gue dulu.”

Dan karena mereka adalah dua orang dewasa berpikiran rasional, Hyunjae mencoba menenangkan diri dengan kembali duduk di sebelah Changmin. “Oke. Gue ke lokasi manggung, lo pesen gocar ke dokter.”

Changmin kembali meringis mengusap perutnya. “Oke.”

“Sakit banget cuy?”

“Kayak mau mati.”

“Gak bahaya kan?”

“Cuma kejadian tiap gue minum susu sapi aja sih. Nje, tapi nanti lo pas udah sampe sana langsung–”

“Cil, iya gue paham harus ngapain.” Walaupun Hyunjae gak bisa lihat langsung di wajahnya, Changmin diem-diem tuh lagi senyum. Karena cuma orang terdekat dia aja yang akan manggil dia bocil, so that’s a good start. Also, Changmin juga tahu sekarang ini Hyunjae sedang sangat amat merasa– “Sori ya… Kita udah kerja bareng setahun, dan gue baru tahu kalau lo gak bisa minum susu sapi.”

“Je, santai. Kita lanjutin conversation cringe ini lagi nanti. Sekarang lo harus manggung, dan gue harus ke dokter.”

Right. Duly noted.

Jawaban itu langsung membuat Changmin mendengus. Dulu Hyunjae pernah bilang kalau pekerjaan ini formalnya cuma tiga puluh persen karena pada dasarnya dia cuma butuh asisten untuk menata jadwal hariannya aja, dan kata yang diakhiri dengan noted semua akan dilarang. Tapi sangking paniknya, dia sendiri yang tadi melanggar peraturan itu. But nevertheless, mereka sama-sama bergerak dalam otomatisasi menuju lobi.

Hyunjae sempat melirik beberapa kali ke belakang ketika berjalan ke parkiran dengan barang bawaanya yang banyak dan berat (dan semakin membuat Changmin merasa bersalah tetapi mungkin rasa bersalahnya harus diundur karena sakit di perutnya hampir membuat jalannya sempoyongan). Setelah punggung itu hilang dibalik mobil, Changmin berfokus pada handphone nya.

Yang kemudian kembali terdistraksi lewat satu suara. “Hyunjae nya kenapa nyetir sendiri, Changmin?”

Of course. Of fucking course. “Hah?”

“Itu.” Younghoon menunjuk spot parkir yang kini kosong. “Hyunjae udah pergi.”

“Oh.” Dia tuh tadinya mau berusaha, sangat berusaha, buat nahan perih di perutnya. Karena kalau dia keliatan sakit Younghoon pasti akan nanya dia kenapa. Dan itu akan bersambung pada penjelasan kenapa dia sakit. Dan lalu bersambung lagi ke persoalan kopi yang adalah pemberian pria di depannya. Tapi kayaknya, keberuntungan hari ini gak ada satupun yang mau berpihak ke dia. Karena pada saat rasa sakit itu menstimulasinya hingga ujung kepala, refleks pertama kali yang Changmin lakukan adalah meremas pergelangan tangan Younghoon. “Sakit banget. Tolong anterin.”

Ekspresi wajah yang tadinya tenang itu berubah drastis dalam hitungan detik “Dokter mana?”

“Mana aja.” Erangnya merana. Tubuhnya hampir jatuh berjongkok kalau saja Younghoon tidak menahannya. “Yang paling deket.”

“Oke.” Genggaman pada lengannya semakin diperkuat “Ayo.”

Younghoon tak menanyakannya apa pun selama perjalanan ke rumah sakit, selama di ruang tunggu, selama duduk bersebelahan sampai obatnya siap diambil, dan sampai mereka berjalan keluar gedung. 

Konversasi nyata pertama mereka yang tidak diawali dengan masih kuat kan? dan tidak diakhiri dengan masih kok adalah ketika keduanya sudah duduk manis di atas bangku plastik penjual Bakpao gerobak di depan rumah sakit (Changmin memesan rasa daging dan Younghoon rasa kacang hijau), dengan langit yang kini sudah sepenuhnya gelap dan bau tanah sehabis hujan.

“Kata dokternya kalau makan roti aman kan ya?”

“Hm? Aman-aman.”

“Oke… Tadi perutnya kenapa?”

Changmin berdeham kikuk sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menjawab pertanyaan barusan sebenernya gak sesusah itu, lagipula semua juga udah kejadian dan keadaanya sekarang udah rada mendingan setelah minum obat. Atau mungkin, bisa segampang itu kalau aja Younghoon gak harus malah jadi repot nganter dia ke dokter, nunggu sampai checkup nya selesai, nawarin blazer untuk Changmin pakai supaya gak kedinginan, dan jajanin dia Bakpao.

Dan karena itu di dalam kepalanya sekarang jadi hanya ada satu jawaban aman. “Sakit.”

Dan untuk pertama kalinya Changmin mendengar suara kekehan sang pria tepat di telinganya. “Iya tahu sakit, maksudnya penyebabnya apa.”

“Karena gue oon.”

“Hm? Kok oon?”

“Jadi tadi gue minum kopi dari lo yang buat Hyunjae yang seharusnya gak gue minum karena gak semua orang tahu kalau gue itu lactose intolerant. Ya pasti lo beli pakai susu biasa lah? Tapi gue tuh lupa terus malah main minum aja. Seharusnya gue gak minum karena itu dari lo khusus buat Hyunjae, maaf. Ini juga bukan salah lo jadi jangan merasa bersalah, maaf. Intinya gue oon.”

Keberanian yang dia kumpulkan untuk pengakuan tadi, kini kembali dipergunakan untuk melirik pria di sebelahnya. Yang, sekarang ini sedang membeku di tempat dengan dagu yang mengantung di udara. Lalu beberapa detik kemudian fungsi tubuhnya kembali, lalu mengangguk penuh indikasi pemahaman sambil mengucapkan, “Ah.”

Untuk mengagumi ekspresi terkejutnya yang menyerupai anjing kecil aja Changmin gak sempat. “Udah gue ingetin gak perlu harus merasa bersalah loh ya!!!”

“Engga.” Younghoon menggeleng. “Ya, sedikit. Tapi karena itu jadi bersyukur. Kalau gak gitu kan nggak akan ketahuan.”

“Hah?”

Mungkin kerutan pada alis Changmin adalah sinyal pertama yang membuat sang wartawan mengeluarkan sebuah gelak tawa dan sebuah pertanyaan yang korelasinya terpental jauh. “Changmin rumahnya dimana?”

“Di… gak rencana mau langsung pulang sih… Harus ngecek Hyunjae dulu ke apartemennya yang artinya gue gak bisa kasih tahu itu dimana. Soalnya ya… ya gak mungkin gue beberin alamat dia sembarangan??? Jadi, ya, gitu.”

Great, now Younghoon will eventually know that he’s a yapper. Changmin diam-diam meliriknya di sebelah tengah menahan tawa. 

“Hmm… berarti kalau kasih tahunya rumah kamu oke-oke aja?”

“Oke…sih? Kan gue warga sipil biasa.”

Younghoon kembali terkekeh, dan Changmin perlahan menangkap sebuah kebiasaan pria itu dalam menyisir rambutnya di sela-sela jemari ketika tertawa. Dammit, Lee Hyunjae.

“Warga sipil biasa.” Beo sang pria dengan nada usil, memberi empasisi bahwa ada yang komedi dari struktur kalimat itu.

“Iya, warga sipil biasa. Jadi sori banget bukannnya gak mau bantu, tapi gue bisa kena masalah kalau nyebarin alamat rumah artis.”

“Kamu tuh laper ya?”

“Hah?”

“Rotinya masih panas, tapi udah habis satu. Terus itu lagi ngunyah yang kedua.”

Dia melirik sobekan roti yang kini ada di genggaman tangan kanan dan kirinya, lalu mendongak pada lawan bicaranya, lalu kembali pada sang roti. “Iya.”

Alih-alih kembali menertawakan, Younghoon hanya merespon dengan sebuah dehaman dan anggukan. Lalu setelah itu, mereka sama-sama berteman dengan keheningan; situasi yang paling dia benci karena Hyunjae pernah bilang kalau ada keadaan dimana Eric atau Changmin bisa bertahan untuk tidak membuka mulut lebih dari sepuluh menit, dia akan memberikan mereka piagam dari emas asli.

Dua menit pertama dan Changmin membubarkan keheningan setelah menyadari sejarah dibalik blazer yang kini melindunginya dari angin malam. “EH LUPA! ACARA KANTOR?!”

Younghoon sempat terlonjak mendengar suara pekikan yang cukup keras itu sebelum menenangkan diri. “Aman, aman. Masih sempet kok abis dari sini.”

“Oh. Oke.“ Changmin kembali mengunyah, salah satu sisi pipinya menggembul karena kunyahannya yang tak kunjung selesai. “Aman.”

Lalu, hening itu kembali berlanjut sampai keduanya sama-sama menghabiskan makanan, Younghoon bangkit untuk membayar, mereka berdiri di pinggir jalan sambil menunggu Gocar pesanannya datang, dan Changmin kembali menjadi orang pertama yang membasmi hening dalam sebuah konversasi.

“Sori, kalau pas di lobi minta tolongnya sambil marah-marah.”

“Santai. Wajar aja, kan lagi kesakitan.”

“Iya, haha… Sama itu juga,” Changmin memalsukan dehamannya. “Makasih udah dijajanin Bakpao.”

“Boleh minta dijajanin balik kapan?”

Kepalanya mendongak cukup tinggi untuk bisa bertemu mata dengan Younghoon. “Kok lo malak anak kecil sih?”

“Jadi gak boleh nih?”

“Ya boleh aja… tapi harus yang harganya setara! Karena lo traktir Bakpao, berarti gue… gue… um… Siomay.”

“Siomay?” Younghoon seketika terkekeh lepas, kepalanya terlempar ke belakang.

“Naik kasta ke Kopi Kenangan dikit masih oke lah ya.”

Bersama dengan kekehannya pria itu kembali membalas. “Kenapa memangnya, kok saya gak boleh malak anak kecil?”

“Karena lo udah om-om?”

Untuk pertama kalinya semenjak mereka sering berpapasan di depan lobi, Changmin melihat ekspresi Younghoon yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Bibir bawah pria itu, kini sedang ditekuk dengan menggemaskan. “Saya baru 32 tahun, Changmin…”

Dia berusaha sebisa mungkin untuk menahan tawanya yang hampir berhamburan. Tujuh tahun. Mereka hanya punya jarak usia sebanyak tujuh tahun. Namun Younghoon gak perlu tahu itu, karena artinya Changmin bisa terus membuatnya menekuk bibirnya kembali.

Sebelum sempat memikirkan respon untuk membalas rajukan tersebut, mobil yang dipesannya sampai di depan mereka. Kepalanya lagi-lagi mendongak, kali ini bertemu pandang dengan Younghoon dan senyum hangatnya. “Maaf ya Changmin, gara-gara saya hari ini jadi harus ke rumah sakit. Hati-hati di jalan, dan salam buat Hyunjae.”

Ada rasa nyeri di dadanya ketika mendengar Younghoon mengucap nama Hyunjae, yang kemudian dengan cepat dihapus dengan sebuah anggukan. “Kakak juga, semoga jalan ke tempat acaranya gak macet.”

Binar yang ada di netra sang pria itu sulit untuk Changmin translasi maknanya, namun dia mencoba untuk tak terlalu mempermasalahkan. Yang lebih harus dipermasalahkan, mungkin bagaimana tubuhnya membeku di tempat ketika telapak tangan besar Younghoon mendarat di puncak kepalanya dan mengusap disana perlahan.

 

Lalu katanya kemudian, “Iya, semoga.”

 

Changmin tidak bertemu dengan Younghoon selama dua minggu setelah kejadian malam itu karena jadwal manggung Hyunjae di luar kota yang padat. Namun pada pertemuan mereka di minggu ketiga, susu di dalam kopi itu kini sudah diganti.



***



Radar kedua: “Drink if the person you like is here. Right now.”

 

Literally why am i here?” Tanyanya dengan suara datar dan wajah malas. Satu toples kacang almond bertengger di pelukannya, bersama kedua kakinya yang terlipat di depan dada di atas sofa.

“Karena lo manager gue?”

“Harusnya hari ini gue libur!”

“Karena diajakin Eric?”

“Yang kakaknya itu lo, bukan gue.”

“Karena lo manager gue yang adalah kakaknya Eric yang adalah pacarnya Sunwoo yang adalah temen lo yang hari ini ngundang kita ke acara perayaan 1 juta followers Instagram nya?”

“Hmm.” Angguknya perlahan, masih dengan pandangan kosong pada langit-langit rumah. “Mungkin karena itu.”

Hyunjae mencuri sang toples sebelum kembali berbicara dari posisi rebahnya di karpet bawah. Di sudut dapur, ada Eric dan Sunwoo yang sedang bertengkar perkara Eric yang memesan Pizza topping nanas dan Sunwoo yang mengancam akan mengakhiri hubungan karena ideologi mereka terlalu berbeda. “Katanya kakak lo bakalan dateng bawa pacarnya hari ini.”

“Kata siapa?”

“Sunwoo.”

“Alah, Sunwoo kan sotoy. Gue belum tahu tuh perkara siapa, berapa umurnya, ketemuan di mana, kapan jadiannya? Sama sekali belum diceritain. Masa iya Uda beberin ke orang duluan daripada gue.”

“Tapi informannya dimana-mana. Mungkin lo gak tahu karena emang Sangyeon belum cerita, cuma informan Sunwoo gak akan salah.”

Fine.” Kacang almond itu kembali direbutnya. “Tinggal kenalan aja, susah amat.”

Informan Sunwoo lagi-lagi tepat sasaran, dan Changmin akhirnya bertemu dengan Chanhee untuk pertama kalinya pada hari itu. Acara kumpul-kumpul yang dijadikan ajang pamer Sunwoo atas followers Instagram satu jutanya itu bukan hanya akhirnya mempertemukan dia dengan pacar sang kakak, tetapi juga menjadi kali pertama Hyunjae bertemu dengan Juyeon.

Who the fuck is that?" Adalah yang kemudian dibisikan sang penyanyi kepadanya ketika pemuda yang mengenakan celana jeans dan jaket leather itu datang bersama Sangyeon dan Chanhee.

Sebuah fakta mencenangkan: selain mahir dalam mendeteksi suasana hati Hyunjae hanya dalam sekali pandang, Changmin juga mahir mengkategorikan makna dibalik setiap nada bicara yang Hyunjae gunakan. Setiap intonasi tak acuh yang dia lemparkan kepada Sunwoo adalah caranya dalam mengorek sebuah informasi tanpa harus terlihat terlalu menginginkan, setiap ledekan yang memancing emosi Changmin adalah dia yang sebenarnya sedang menghibur, dan setiap tarik ulurnya dengan Younghoon di depan lobi adalah dia yang ingin membuat pria itu mengakui obsesinya terhadap Hyunjae.

Lalu nada pertanyaan barusan, masuk ke dalam kategori Lee Hyunjae dan rasa ketertarikannya yang membuncah. Dan kali ini, bukan karena egonya yang harus diberi makan. Kali ini adalah Hyunjae yang akan rela bertekuk berlutut bahkan untuk secuil informasi.

Juyeon ternyata datang kesini karena ajakan dari Chanhee, yang saling mengenal karena Juyeon adalah rekan kerja sahabatnya yang sesama wartawan, yang ternyata adalah–

“Chan, cuma handphone aja kan yang ketinggalan di mobil?”

Changmin menarik kerah kemeja Hyunjae mendekat hingga lehernya kini tercekik sebelum berdesis di salah satu sisi telinganya. “What the fuck is Younghoon doing here?!

Belum sempat baik dia dan juga Hyunjae mendapatkan relevansi dari pertanyaan masing-masing, semua mata dari arah pintu masuk kini tertuju kepada mereka. Termasuk Kim Younghoon. Younghoon yang memakai kemeja hitam ekstra besarnya dengan lengan yang ia gulung hingga siku, dan kacamata frame kotak yang dengan sempurna membingkai wajah tampannya (mungkin kalau begini penampilanya diluar waktu bekerja, Younghoon seharusnya tak bekerja selamanya).

Tetapi masalahnya saat ini Changmin sangat, amat, sedang tidak ingin bertemu dengan Younghoon setelah– setelah–

Look: walaupun baru menginjak usia 25 tahun, tetapi pengalaman datingnya sudah termasuk beragam. Dia pernah menjadi pasangan paling menjijikan semasa SMP dengan panggilan bunda dan ayah, berpegangan tangan sepanjang film di dalam bioskop dengan seragam putih abu-abunya, berpelukan di motor dalam perjalanan dari kampus ke rumah, dan berciuman di dalam mobil yang terparkir di depan pagar rumahnya seusai ngantor. But nothing. Gak ada yang pernah bisa mengalahkan, perasaan setelah kepalanya diusap. It’s worse than any intimacy. It’s worse than drugs. Dan membayangkan puncak kepalanya yang tempo hari diusap, artinya adalah membayangkan Younghoon.

“Kalian berdua ngapain?” Tanya Eric dari ujung ruangan, melirik tangan Changmin yang saat ini masih mencekik kerah kemeja dan bibirnya yang masih berada begitu dekat dengan telinga Hyunjae sebelum keduanya berjengit di tempat dan saling menjauhkan diri.

“Gak ngapa-ngapain!”

Eric sempat mengerutkan alis tak percaya selama lima detik, lalu bocah itu mulai memperkenalkan mereka pada satu sama lain. Dan ketika usai menyodorkan Changmin kepada Younghoon, dia merasa harus secepatnya melarikan diri dengan berpura-pura ke kamar mandi. Lima menit berdiam di atas kloset tertutup dan memberanikan untuk keluar, jalannya kemudian dihadang tepat setelah pintu terbuka. Tubuhnya memantul balik ke dalam usai dahinya menabrak dada Younghoon. “Aduh!”

“Eh, sori!” Telapak tangan sialan itu kembali mendarat di puncak kepalanya. “Sakit gak Changmin?”

“Engga! Gak sakit!” Tubuh kecilnya berusaha menyalip dan kabur diantara mereka, tetapi sebelum jaraknya terkikis terlalu jauh Younghoon dengan sigap menahannya.

“Mau kemana?”

“Balik ke depan…?”

“Oh, oke.”

Pandangannya berpindah antara kamar mandi dan genggaman pada pergelangan tangannya. “Kakak bukannya mau ke toilet?”

Alih-alih menjawab, Younghoon kini berdiri memindai Changmin dari ujung kepala hingga ujung kaki bersama dengan kedua tangannya yang dimasukan ke dalam kantung. Fenomena bibir ditekuk itu muncul lagi, kali ini disertai dengan helaan napas. Bisa dibilang–dia secara tidak langsung sekarang sedang mengospek Changmin.

Namun lagi-lagi akhirnya dia yang pertama angkat bicara. “Lo gak diem-diem memanfaatkan kakak gue supaya tahu alamat rumah Hyunjae, kan?”

“Ini rumah Hyunjae?”

Oke, mungkin tuduhannya tadi terlalu liar. “Rumah orang tuanya.”

“Bukannya rumah Eric? Sangyeon bilang gitu.”

Right… entah pria di depannya ini terlalu mahir berlakon, atau dia memang benar-benar polos. Orang macam apa yang bahkan gak bisa menggali informasi tentang siapa nama adek gebetannya yang bisa aja diinvestigasi dari foto-foto yang sering Hyunjae post? Kalau lagi punya gebetan, Changmin bahkan pasti bisa tahu dimana keluarga mereka berlibur dua tahun lalu.

“Eric kan adeknya Hyunjae.”

“Ah.” There is it again, nada yang sama seperti waktu Younghoon mengetahui tragedi susu dan sakit perut tempo lalu; ketidaktahuan, dan realisasi. Pria ini resmi ditemukan tidak bersalah. Dan itu, sedikit mengganggu keseimbangan ekosistem hipotesisnya.

Sisa kewarasan Changmin kala itu hanya mampu menggerakannya untuk mengatakan, "Mau coba jelly stick?"

Younghoon sedikit memiringkan kepalanya. "Bo...leh?"

Napasnya ditarik panjang sebelum membalikan badan. "Let's go."

Dia tidak harus menengok ke belakang untuk tahu bahwa Younghoon perlahan berjalan mengikuti.

Pertama kali Changmin mampir ke rumah orang tua Hyunjae adalah ketika pemuda itu menginfokan bahwa dia harus menjemput Darong di rumah karena papa, mama, dan adiknya akan berlibur ke luar negeri dan sang anabul harus diungsikan ke apartemen. Satu lirikan ke dalam freezer ketika sedang mencari es batu untuk Americano rumahan buatannya, Changmin menemukan tempat itu dipenuhi oleh jelly stick yang diwadahi cetakan berbagai bentuk.

"Adek lo masih TK?"

Hyunjae yang pada saat itu sedang memindahkan makanan Darong ke wadah lebih kecil menoleh keheranan. "Hah? Udah kuliah anjir."

"Ini jelly stick punya siapa?"

"...Punya gue? Dibuatin nyokap karena beliau tahu gue mau dateng."

"A–" That, might be the fist time he's perceiving Hyunjae in a different light. "–oke."

"Lo kalau mau ambil aja, enak itu. Nyokap gue bikinnya gak terlalu manis kok."

Si jelly stick, turns out sampai dengan saat ini, menjadi salah satu hal yang Changmin nantikan setiap kali Hyunjae menyempatkan untuk mampir kesana. Menemukan dirinya mencuri-curi jatah di dapur mungkin bukan sebuah pemandangan baru, namun mendapati Kim Younghoon, wartawan yang biasanya hanya berpapasan dengannya di lobi duduk di salah satu sudut sofa sembari mengunyah jelly itu (dan terlihat gemas ketika menjilati sisa yang menempel pada sticknya) bukan sesuatu yang pernah dia prediksikan sebelumnya.

Changmin dan Younghoon adalah orang terakhir yang ikut bergabung di ruang tengah dan menutup perkumpulan sore hari itu dalam formasi lengkap. Instingnya mengatakan untuk mencari tempat duduk sejauh mungkin dari sang pria dan berakhir berada ditengah-tengah Sangyeon dan Chanhee dan rasa penyesalannya gak pernah sedalam ini.

Hyunjae di seberang sana juga duduk diantara dua tamu: Juyeon karena Changmin tahu betul misi macam apa yang berputar di kepala sang penyanyi, dan Younghoon karena mungkin sang wartawan akhirnya sampai pada sebuah realisasi bahwa dia harus memanfaatkan kesempatan ini dengan semaksimal mungkin. Netra hitam Younghoon sesekali menangkap arah pandangnya, dan serangkaian kejadian itu begitu memalukan karena Changmin seperti sedang tertangkap basah dan ditelanjangi hidup-hidup. Mungkin itu juga yang membedakan dia dan Hyunjae: satu waktu yang dia habiskan untuk memalingkan wajah dari arah Younghoon, adalah satu waktu dimana Younghoon dan Hyunjae dapat membangun sebuah interaksi ringan.

(Dan pemandangan itu membuat perutnya bergemuruh, penyebabnya masih sulit untuk dianalisa)

"Guys, ini namanya The Card of Destiny." Eric dengan dramatis mengumumkan, sebuah kotak persegi panjang menggantung di udara pada genggaman tangan kanannya. Changmin tahu bagaimana bentuk kartu remi tanpa harus repot-repot membuka Google, tetapi fakta bahwa Eric dengan dramatis mengganti namanya menjadi Kartu Kematian adalah yang dia ingin tahu latar belakangnya.

Sebelum melanjutkan deklarasi lebaynya, bocah itu mengumpulkan semua amunisi alkohol mereka pada malam hari itu menjadi satu di bagian tengah. "Peraturannya gampang: minum, kalau situasi kalian saat ini sesuai sama deskripsi di kartu."

Mungkin Eric sedang beruntung karena strateginya untuk menentang permainan itu serta-merta gagal karena Changmin menjadi satu- satunya orang yang terlihat akan mengajukan protes. Mungkin juga karena besok adalah hari Minggu dan bahkan schedule Hyunjae seharian kosong, berakhir mabuk malam itu bukanlah sebuah masalah besar. Jadi ketika Sunwoo mulai mengeluarkan satu persatu dan membaca isi kartunya, suasana di sekitarnya perlahan demi perlahan mencair dengan sendirinya.

Minum kalau lo pakai kacamata, minum kalau handphone lo Android, minum kalau rumah lo paling deket dari sini, minum kalau lo udah merasakan banyak asam garam kehidupan (yang kebanyakan korbannya adalah Sangyeon dan Changmin hampir muntah ketika mencuri pandang pada Chanhee yang mengusap pipi dan juga punggung kakaknya untuk mengusir mabuk), dan pertengkaran antara Sunwoo dan Eric ketika memperdebatkan siapa yang paling muda diantara mereka berdasarkan bulan lahir untuk memutuskan siapa yang akan minum. Ruang tengah itu begitu dipenuhi suara gaduh, si tante sampai harus berdecak dan menggelengkan kepala pada mereka ketika mampir untuk mengambil air minum di dapur.

Changmin bisa dibilang banyak kena aman sepanjang permainan kartu yang katanya kematian dan penentu nasib itu. Setidaknya belum ada pemikiran kanibalisme yang muncul di kepalanya untuk mengigiti bagian tubuh teman-temannya, yang artinya toleransi alkoholnya masih dalam parameter aman. Namun mungkin akan lebih baik jika malam itu dia mabuk berat. Karena menjadi sadar, artinya dia harus menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya dengan akal sehat yang masih sepenuhnya berfungsi.

Tulisan pada kartu yang dibacakan oleh Chanhee itu isinya sederhana: minum, kalau orang yang lo suka ada di ruangan ini saat ini. Kemudian dia mengerucutkan peraturannya menjadi gak berlaku untuk yang udah pacaran yang secara tidak langsung menyingkirkan dirinya sendiri, Sangyeon, Sunwoo, dan Eric dalam rasio. Mata dari pacar kakaknya itu bermain-main ke seluruh ruangan untuk memancing, alisnya naik dan turun ketika bertemu mata bahkan dengan Changmin yang notabene belum begitu dikenalnya.

Tensi di ruangan itu sepenuhnya berubah ketika Younghoon menjadi satu-satunya orang yang menenggak habis isi gelasnya. Alkohol itu ditelannya tanpa jeda dan tanpa sisa, dan Changmin tanpa sadar tengah susah payah menelan gumpalan saliva di tenggorokannya. Seluruh pasang mata yang menagihnya dengan sejuta rasa penasaran tampak tak membuat wartawan satu itu menjadi gentar, jika air mukanya dapat bersuara mungkin bagian tubuh itu sudah mengatakan alright i did it, no big deal.

Dan seharusnya pernyataan itu kini juga menguntungkan Changmin, karena secara tidak langsung Younghoon sedang membantunya untuk memberikan fakta dan data pada hipotesisnya.

 

Permasalahannya cuma satu: sepuluh menit sebelum pertanyaan sialan itu dilayangkan, Hyunjae dan Juyeon sedang tak ada di dalam ruangan dan pergi mengobrol entah di sudut rumah mana.



***



Radar ketiga: Insta Couple.

 

Chanhee kali ya? Tapi masa iya dia nikung sih?

“...Woy, Ji Changmin!”

Respon pertamanya ketika Hyunjae mengetuk keningnya dengan buku-buku jari adalah mengaduh, dan yang kedua adalah memelototi sang penyanyi yang kini sedang duduk manis di bangku meja rias dengan kaca besar di depannya.

“Sakit anjir!” Gak sesakit itu sebenernya, dia cuma lagi panik aja takut tertangkap basah karena Changmin tahu sebentar lagi Hyunjae bakalan nanya dia lagi ngelamunin apa. 

“Bibir tuh, bentar lagi bolong-bolong lo gigitin. Lagian mikir apaan sih fokus bener? Lagi ngerjain soal UTBK lo?”

“Bocil SMA kah gue menurut lo???”

“Kan emang iya?”

“ARGH.” Teriakannya itu dengan sengaja diarahkan tepat di telinga kanan Hyunjae dan sang korban otomatis menjauh. “Gara-gara lo ya ini. Kemana sih lo sama Juyeon kemarin?!”

“Kemarin kapan?”

“Itu yang pas kita lagi main Kartu Kematian.”

“Kartu apaan tuh? Mainannya si Eric yang waktu itu?”

“Iya.”

“Hmm.” Hyunjae melipat tangannya di depan dada. “Kenapa lo harus tahu gue sama Juyeon kemana? Dan apa korelasinya gue sama sesi bengong lo sore ini? Apa yang gak lo ceritain ke gue? Kalau semisal lo tahu kita kemana emangnya bisa–”

Changmin secepat kilat membekap Hyunjae dengan tumpukan telapak tangannya. “–GAK, GAK BISA. Sekarang tutup mulut lo itu dan berhenti ngoceh sebelum gue panggilin suster.”

Respon Hyunjae setelahnya adalah bermain-main dengan ekspresi jahil di seluruh wajahnya, alisnya yang naik dan turun, yang dia tahu betul berkekuatan membuat darah tinggi Changmin naik. “Oke, gak masalah kalau emang gak bisa.”

Satu menit Ji Changmin menghela napas lega, satu menit kemudian darahnya kembali mendidih.

“Menurut lo Juyeon bakalan beneran dateng gak ya?”

“Maksudnya?”

“Gue kasih dia tiket acara manggung hari ini. Kemarin sih konfirmasi mau dateng bareng Younghoon, tapi gak tahu deh. Ragu aja gue.”

“MAU DATENG SAMA SIAPA LO BILANG?!”

Dengan senyum penuh paksaan Hyunjae mengusap dadanya perlahan untuk menenangkan diri. “Bisa kah ngomongnya gak pakai urat?”

“Gue–” Jedanya kemudian, napasnya ditarik dalam-dalam. “–butuh udara segar.”

Ditinggalkannya ruangan itu tanpa menunggu Hyunjae menimpalinya dengan balasan. Namun samar-samar dari kejauhan, dia mendengar celoteh dengan susunan kalimat yang berbunyi jangan jauh-jauh woy satu jam lagi gue naik panggung!

Changmin memutuskan untuk bersembunyi di aula yang disediakan sebagai tempat bersantai para pengunjung. Salah satu sales Yogurt menahannya di pintu masuk untuk memberikan tiga sachet tester, dan sekarang Changmin sedang mengemuti ujung bungkusnya layaknya kucing yang sedang diberi treats . Dia kembali setengah jam kemudian setelah menyimpulkan bahwa waktu semedinya sudah membuahkan hasil, dan mungkin menerima kenyataan bahwa Younghoon menyukai Chanhee yang adalah pacar kakaknya bukan sebuah kejahatan besar jika dilihat dari sudut pandang lirik lagu Cinta Dalam Hati kepunyaan Ungu. Toh, malam itu dia hanya mengaku karena didesak permainan.

Namun kalau benar Younghoon diam-diam menyimpan rasa untuk Chanhee, lalu Hyunjae…?

“Cuy, dateng beneran nih ternyata.”

Baru juga mendorong pintu ruang tunggu itu hingga terbuka lebar, Changmin sudah ditodong banyak pasang mata yang menatapnya penuh ekspektasi. Refleks bodohnya ketika mendorong sang pintu kembali menutup ketika mendapati Younghoon secara nyata berada disana diteriaki Hyunjae dengan pekikan eh mau kemana lagi lo! dan Changmin terpaksa menghentikan langkahnya sebelum melakukan kebodohan lainnya.

“Ya gak kemana-mana. Kan bentar lagi lo tampil. Haha.”

“Ooh, oke. Tadi humas acaranya kesini terus bilang dia yang bakalan standby jadi lo gak perlu repot. Itu aja tuh, tunjukin ke Younghoon deh stan burger yang enak itu dimana. Dia katanya laper banget belom makan siang. Gue juga udah ada Juyeon yang nemenin disini.”

Lee Hyunjae you piece of shit.

Changmin akhirnya memberanikan diri bertemu pandang dengan sang wartawan. Problematika pertama yang harus dihadapinya adalah bagaimana lidahnya seketika kelu, yang kedua adalah jantungnya yang bekerja ekstra, dan yang ketiga adalah kilas balik dari Younghoon di malam tempo lalu. Dan Younghoon kembali melakukannya lagi: memindai Changmin dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan mata elangnya, menelanjangi dan mengkulitinya hidup-hidup. Dan Changmin tidak punya pilihan lain kecuali mengerucut dan mengecil.

“Kamu udah makan?”

Dirinya berdeham. “Hm?”

“Changmin udah makan kah? Kalau belum, sekalian beli. Tapi tolong tunjukin ya, di luar rame dan luas banget.”

Gimana caranya dia bisa menolak kalau Younghoon meminta dengan sesopan itu? “Oh, iya. Santai-santai. Ayo.”

“Oke.” Pria itu tersenyum kepadanya sebelum menoleh sejenak untuk mengatakan Ju gue cari makan dulu, nanti gue bawain (Juyeon memberinya jawaban dengan mengacungkan jempol) lalu perlahan melangkahkan kaki keluar.

Changmin ikut melakukan hal yang sama ketika sempat menolehkan kepalanya ke arah Hyunjae sakali lagi. Namun siapa pun dapat melihat walau hanya sekilas, kalau sang penyanyi dan seluruh radiasi bahagia yang terpancar di wajahnya begitu senang dengan fakta kedatangan Juyeon dan waktu yang akan mereka habiskan dengan mengobrol. Langkah kaki itu dipijaknya dalam rangka pencegahan intervensi, dan punggung lebar Younghoon yang menunggunya di depan sana sekali lagi membuat tenggorokannya sakit dan meradang.

Entah mana yang lebih kasihan: Sangyeon yang diam-diam punya saingan, Younghoon yang menjadikan Hyunjae batu loncatan untuk melupakan Chanhee, atau Hyunjae yang menaruh ketertarikan pada Juyeon yang adalah rekan kerja Younghoon. Mungkin kesimpulannya adalah Changmin sendiri yang paling patut dikasihani karena menjadi satu-satunya saksi atas komplikasi romansa segi banyak ini.



***



“Ah, oke paham. Mereka tuh tampilnya di hall yang berbeda-beda? Jadi walaupun jadwal manggungnya di waktu yang sama, acaranya gak akan bentrok?”

“Mmm.” Changmin menjawab pertanyaan sang wartawan dengan gumaman. Burger di dalam mulutnya yang tak kunjung tertelan itu membuat salah satu sudut dari pipinya lagi-lagi menggembul, dan dia sedang berusaha sekuat tenaga untuk mengunyah lebih cepat. “Buat artisnya aman sih, cuma yang nonton harus pinter-pinter atur timing . Semisal dia mau nonton artis A di hall itu, terus artis lain yang dia mau tonton selanjutnya cuma punya interval 10 menit sebelum mulai, nah berarti dia harus cepet-cepet lari ke hall satunya lagi yang rada jauh.”

“Perbedaan dari tiap hall nya apa?”

“Kayaknya sesuai kapasitas deh... Jadi semakin populer artis itu, dia bakalan ditempatin di hall yang besar juga.”

“Kalau Hyunjae di hall yang mana?”

“Itu.” Changmin menunjuk satu panggung outdoor dari tiga panggung yang berada pada pojok sudut yang berbeda dan berjauhan. “Salah satu main stage nya.”

“Ooh…” Sang pria mengangguk dengan matanya yang tersebar ke berbagai stan makanan dan merchandise.

“Emangnya lo gak pernah dapat tugas liputan ke festival musik kayak di PRJ gini kak, sebelumnya?”

Yang ditanya menggeleng pelan. “Kadang kalau acara musik tuh assign rebutan, karena kan lumayan sambil kerja sambil nonton. Saya gak pernah kebagian aja, dan gak ambis mau ambil juga. Terus kalau acara kayak gini kan rame dari mulai dateng, parkir, sampai pulang pasti semuanya susah. Jadi, yaudah deh.”

Tapi Hyunjae kan penyanyi…? Changmin tadinya mau nyeletuk gitu, tapi setelah dipikir-pikir dia males juga kalau sehabis ini dijadikan medium konsultasi semisal siapa tahu Younghoon jadi memberanikan untuk membuka diri. Niat itu akhirnya dia urungkan, dan hal yang pertama menyambutnya adalah kekehan di bibir Younghoon.

“Ngetawain apaan lo kak?” Please let me in.

“Itu.” Sang pria menunjuk Changmin secara keseluruhan dengan dagunya. “Ngunyahnya gak selesai-selesai dari tadi.”

“Ya, ya, ya.” Desahnya malas. “Sori gue emang kalau makan super duper dan sangat amat lama.”

“Gak apa-apa, santai.” Balasnya tenang, sangking tenangnya Changmin merasa sedang berada di ruangan yang hanya dihuni oleh mereka berdua alih-alih ratusan pengunjung lainnya.

Langkahnya berhenti di tempat ketika menemukan spot objek bagus untuk dipotret, dan Changmin segera mengeluarkan handphone nya dari dalam kantung. Tepat di sebelah, Younghoon memantaunya dalam diam. Matanya sesekali mengecek teknik Changmin dalam mengambil foto dan bagaimana hasilnya setelah sudut itu berhasil dijepret.

“Cara fotonya emang harus di zoom-zoom gitu ya?”

“Hmm…iya, kadang? Kan konsepnya photo dump.

“Tapi view nya jadi gak kelihatan secara keseluruhan?”

“Tapi kan jadi classic? Artsy? Aesthetic?

“Ah.” Younghoon terkekeh pelan, dan suaranya mengingatkan Changmin acap kali Sangyeon terlalu lelah untuk beragumentasi dengan adik bocahnya lalu menutup kesimpulan bahwa orang dewasa yang seharusnya mengalah.

Dia jadi teringat sebuah kejadian malam kemarin di rumah Hyunjae, ketika tulisan dalam Kartu Kematian itu mengatakan minum kalau feeds Instagram lo jelek dan Chanhee berakhir dengan menggertakan giginya sambil berkata Hoon tolong sadar diri dan buruan minum. Pembelaan sang pria pada malam itu berbasis pada gue fotografer??? yang pastinya ditolak mentah-mentah oleh Chanhee karena siapa lagi yang akan mengenal lo dengan baik selain sahabat lo sendiri?

Changmin udah pernah diam-diam stalk Instagram Younghoon jauh dari sebelum kejadian sakit perut (don’t blame him, he’s a Gen Z and a Scorpio at heart) dan menurutnya bukan feeds Younghoon adalah portofolio yang dengan instan membuatnya ilfil, hanya saja pria itu menyusun persona media sosialnya berdasarkan umur. Dengan kata lain: Younghoon terlalu kaku untuk mengenal apa itu photo dump.

Hal itu juga yang pertama kalinya membuat Changmin menyadari bahwa generation gap diantara mereka rasionya cukup signifikan. Younghoon di umurnya yang menginjak 32 tahun memajang fotonya bersama keluarga besar dan hari liburnya yang dihabiskan bersama ponakan juga anjing kesayangannya, sedangkan Changmin punya berbagai referensi potret kopi gula aren dari berbagai kafe hits dan screenshot Receiptify. Jadi sepanjang misi mereka mengelilingi setiap sudut PRJ tanpa terlewat, Changmin mulai mendoktrinasi Younghoon dengan kuliah 3 SKS tentang “bagaimana membuat followers kita untuk gak ngeskip Instagram story kita”.

 

(“Kalau buat video sih amannya rekam aja dulu kak, jangan lupa kita harus aware sama momen-momen unik dan kita pilih part itu buat jadi highlightnya. Jaman sekarang kalau post story gak perlu full limabelas detik apalagi satu menit, gak ada yang tertarik nonton! Cut jadi maksimal enam detik di bagian serunya aja.”)

 

Yang Changmin tidak sangka, adalah Younghoon sukarela mendengar perkuliahannya dengan fokus tanpa mengeluh. Bibirnya berkali-kali mengucap aah… hmm… ketika menangkap poin-poin penting dalam pelajaran yang Changmin sampaikan, lalu menurut ketika dijadikan boneka percobaan untuk menjajal pose pada spot yang menurut Changmin menarik.

Langit mulai menggelap ketika sudah ada puluhan foto di handphone Younghoon yang adalah hasil jepretan Changmin (fakta bahwa pria itu adalah pengguna android garis keras sempat membuat Changmin meringis), dan setelah itu menyempatkan untuk menonton Hyunjae menyanyi dari barisan paling belakang; Younghoon tepat di sampingnya dengan satu tangan di dalam kantung jaket dan satu tangan menyisir rambut hitam legamnya, dan Changmin yang kembali menggigiti bibirnya hingga terasa perih.

Skenario Younghoon yang berakhir mengantarkan Changmin pulang awalnya dimulai begini: Hyunjae yang berencana untuk makan malam dengan keluarganya sehabis manggung itu mengatakan bahwa dia akan menyetir mobilnya sendiri, Juyeon yang sudah pergi dari dua puluh menit yang lalu karena pekerjaan mendadak, dan keadaan itu membuat Changmin berakhir dengan pilihan memesan Gocar atau menerima ajakan sang wartawan untuk nebeng. Dan sebagai karyawan biasa yang sudah mengkalkulasi jarak dan argo di dalam kepalanya, gak begitu sulit untuk mengatakan oke.

Hanya saja rute jalan pulang itu harus diselingi piknik Sate Taichan di dalam mobil, dengan tambahan perkuliahan 2 SKS pengambilan “angle foto makanan” dan banyak konversasi trivia tentang keduanya yang Changmin masih berusaha proses kenapa dan bagaimana bisa tertumpahkan. Changmin kini tahu bahwa Younghoon adalah anak bontot, kakaknya seorang laki-laki, anjingnya adalah hal yang paling dia cintai, dia sudah berteman dengan Chanhee dari kecil, dan mereka tinggal satu rumah karena the idea of living alone bisa membuat sahabatnya itu terpuruk hingga berhari-hari.

 

(“Jadi maksudnya kakak bakalan tinggal berdua sama Chanhee selamanya gitu kah…?”

“Hahaha ya engga dong, gak selamanya juga. Kalau Chanhee nantinya menikah sama Sangyeon mereka bakalan tinggal bareng gak sih?”

“Hmm… ya mungkin…”)

 

Tetapi fakta paling mengguncang kejiwaanya, kemungkinan adalah rahasia sang wartawan yang ternyata Wota dan Wibu garis keras, dan Changmin harus membarikade dirinya dari digelitiki ketika sedang mencoba mengganti playlist Japan City Pop itu menjadi lagu-lagu Mitski. Keduanya berhasil berdamai ketika memutuskan mengganti saluran menjadi radio dan kemudian melakukan carpool car dadakan ketika intro dari Uptown Girl mulai terputar.

Ketika sampai di depan rumahnya, mereka akhirnya saling bertukar kontak WhatsApp dengan sebuah janji bahwa perkuliahan sosmed tadi bisa dilanjut ketika kapan-kapan Younghoon ada waktu luang.

 

(“Wah, akhirnya jadi tahu juga alamat rumah Changmin… haha.”

“Apaan deh lebay… kakak juga jadi udah tau ya alamat rumah Hyunjae! Rumah artis!”

“Saya boleh ngaku sesuatu gak?”

“....”

“Boleh gak…? Lucu nih ceritanya.”

“Apa lucunya?”

“Jadi ternyata saya pernah nganterin Chanhee sekali kesini, tapi ya saya cuma taunya ini rumah Sangyeon? Sebelum tahu kalau Changmin ternyata adeknya pas di rumah Hyunjae kemarin.”

...Hah.

“Hahaha keren ya, kayak jodoh.”

“Haha… Iya…”)

 

Malam itu Changmin terbaring di atas tempat tidurnya dengan gelisah membayangkan Younghoon yang memeluk kepalanya pasca terbentur ketika sedang mencoba masuk ke dalam mobil. Matanya terpejam membayangkan lengan yang melingkar pada lehernya, pipi yang beristirahat pada puncak kepalanya, usapan kecil pada pelipisnya, dan minyak wangi yang kini teridentifikasi pada alam bawah sadarnya.

Sehari setelahnya, Younghoon meng upload salah satu fotonya dengan Changmin yang tengah berpose berdua di depan salah satu tembok di acara kemarin.

 

Beberapa jam kemudian, internet meledak.



***



Radar keempat: #TEAMMANAGERNIM

 

Changmin sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya entah untuk yang keberapa kali siang hari itu. Bibirnya lagi-lagi menjadi korban kekerasan atas rasa gugupnya, dan migrainnya belum juga hilang walau sudah menenggak obat sakit kepala satu jam yang lalu.

Selain mondar-mandir kegiatan yang tidak hentinya dilakukan adalah mengecek notifikasi handphone setiap lima menit sekali. Padahal nada deringnya sengaja sudah diaktifkan, namun refleks itu enggan hilang pun Changmin mengingatkan dirinya berkali-kali.

Dua setengah jam yang lalu, dia baru saja mengirimi sebuah pesan pada Younghoon dengan bunyi kak, hari ini sibuk kah? Dua setengah jam kemudian, pesan itu tak kunjung terbalas. Dan saat itulah pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi kepalanya.

At the same time, sedang ada diskursi yang bersirkulasi di Twitter selama seminggu lebih tentang fotonya tempo lalu lengkap dengan kompilasi tagar #TEAMJEJE vs. #TEAMMANAGERNIM, dan itu membuatnya luar biasa panik bukan hanya karena ada sebuah akun yang dibuat dan didedikasikan khusus untuk menjodohkan Changmin dan Younghoon, dia juga takut kalau sebenernya sang wartawan merasa gak nyaman dijodoh-jodohin sama dia.

Sangyeon mengetuk pintu kamarnya setelah Changmin dengan merana masih terus memandangi layar handphone. “Cil, lagi ngapain? Itu dimsum di dapur gak dimakan?”

“Gak ngapa-ngapain. Dimsum? Masih kenyang.”

Sang kakak memberinya tatapan curiga, keningnya berkerut seakan tengah memikirkan kata kunci yang cocok untuk mengorek informasi. Yang pastinya akan semakin membuat Changmin gugup, karena keadaanya sedang tidak stabil untuk menerima ceramah dalam bentuk apa pun. Namun dari cara Sangyeon mengambil langkah perlahan untuk masuk ke dalam dan mendudukan diri di ujung tempat tidur, Changmin tahu pembicaraan ini sulit untuk dihindari.

“Jadi…” Dia berdeham, memberikan sedikit jeda untuk menarik-ulur kalimatnya. “Younghoon nih? Gak ketuaan buat kamu emangnya?”

Rahangnya serta-merta menganga lebar. “Kita gak ada hubungan apa-apa??? Dia suka sama Hyunjae.” Atau mungkin Chanhee, which is so fucked up to even imagine.

“Hm.” Respon Sangyeon, singkat dan padat. Dagunya diusap perlahan, keningnya kembali berkerut. “Oke i see.”

Sekarang gantian dia yang memandangi sang kakak dengan penuh curiga. “Udah? Gitu aja?”

“Loh kamu bilangnya engga? Kalau di sosmed kan rumornya, cuma aku dapet konfirmasi langsung nih dari yang bersangkutan kalau itu gak bener. Ya udah. Walaupun sebenernya aku diem-diem team managernim sih…”

“Uda!” Changmin memukul punggung sang kakak dengan keras, yang dipukul mengaduh dramatis. “Gak lucu???”

“Aduh sakit Cil! Lagian masa abang gak boleh ikutan voting?”

“Gak, gak boleh. Itu voting adalah hal tergakjelas di dunia.” Changmin mendorongnya dengan paksa dan mengusirnya keluar. “Sekarang tolong segera pergi dari sini dan baliknya kapan-kapan aja.”

Si Uda terkekeh pelan. “Tunggu dulu sebentar. Itu aku tadinya mau nanyain kamu jadi ikut ke rumah baru gak?”

Ah, iya. Acara perayaan rumah Sangyeon.

Suara ringtone pesan masuk. Layar handphone yang menyala. Kepalanya yang menoleh secepat kilat.

 

You

kak, hari ini sibuk kah?

Kim Younghoon

hai, sori late respond

diundang ke rumahnya sangyeon nih

changmin lagi disana juga gak?

 

Wajahnya seketika mendongak, menemukan sang kakak yang masih berada di depan pintu setengah terbuka dengan gagang yang ditahan. Dijawabnya kemudian pertanyaan yang masih menggantung bersama dengan bola matanya yang berbinar, “UDA IKUT! Aku ikut.



***



Tiga puluh menit. Terhitung sudah tiga puluh menit (Changmin menghitungnya dengan penuh presisi) sejak Younghoon sampai disana, dan belum satu pun dari menit itu dimana sang wartawan mengajaknya berinteraksi kecuali satu sapaan berbunyi hey ketika mata mereka bertemu. Changmin yang terlalu gelisah untuk berada dalam radius dekat dengan pria itu segera berpura-pura mengangkat telepon dan kabur ke kamar Sangyeon. Sepuluh menit menenangkan diri dan mencoba mengumpulkan keberanian untuk kembali ke ruang tamu, dia kemudian menemukan Younghoon yang sedang asyik mengobrol dengan Hyunjae seakan mereka berada di sebuah restoran mewah dengan makanan cantik tertata di meja dan menamakan okasi tersebut dengan judul kencan.

Changmin memutuskan untuk membajak iPad Eric (yang kemudian merengek di telinganya selama lima menit penuh) untuk menutupi wajahnya yang setiap beberapa detik sekali melirik ke arah mereka berdua dan memalingkan matanya secepat kilat acap kali hampir tertangkap basah. Setiap satu momen dimana secara tiba-tiba mereka tertawa di waktu yang bersamaan dan Hyunjae mencondongkan tubuhnya ke arah Younghoon sambil mendorong lengannya pelan, adalah satu hunusan pedang tepat di dadanya.

Mungkin Younghoon memang beneran jadi ilfil setelah dikira suka sama Changmin. Mungkin Hyunjae pelan-pelan juga mulai tertarik dan memutuskan untuk memberi Younghoon kesempatan. Mungkin keduanya sedang menyusun rencana untuk membuat klarifikasi atas kekacauan yang terjadi hanya karena satu postingan foto Younghoon bersama Changmin. Mungkin, sebenarnya Changmin aja yang terlalu overthinking dan kepedean.

Just where the hell Lee Juyeon when i needed him?

Kencan itu kemudian (fucking finally) berhasil dipisahkan ketika Sunwoo dengan heboh mengumumkan makanan mereka sudah datang  bersama dua kantung plastik besar mie ayam yang ditentengnya. Mereka kemudian berkumpul di atas karpet, membentuk lingkaran selagi Chanhee membagikan kotak styrofoam itu kepada mereka satu-persatu. Ironisnya ketika Changmin kembali dari dapur untuk mengambil botol minum di lemari es, tempat kosong yang tersedia tinggal tersisa di samping Younghoon. Changmin mendudukan dirinya disana setenang dan sepelan mungkin, mencoba untuk tidak berjengit setiap kali kulit mereka bersentuhan.

Dan seakan belum cukup menciptakan turbulensi di dalam hidup Changmin, pria itu masih punya permainan lain untuk meresahkan hidupnya. Seperti yang satu ini misalnya: ketika Younghoon yang sedari tadi sedang mengobrol seru dengan Sangyeon tentang diskon Sport Station bulan lalu yang membuat keduanya berhasil mendapat sepatu impian mereka dengan setengah harga, namun di saat yang bersamaan dan tanpa melakukan kontak mata menukar styrofoam mie ayam hingga kini tersedia di depan Changmin versi yang teraduk, lengkap dengan plastik sumpit, saos, dan sambal yang sudah dibuka.

Lalu dia menangkap pandangan Chanhee dari seberang dengan alisnya yang menukik dan sudut bibir yang terangkat, dan Changmin sekali lagi tidak pernah seingin ini ditelan bumi.



***



Ketika dulu Sangyeon pertama kali berencana membeli rumah, dia menanyakan kepada Changmin apa kira-kira hal paling esensial yang harus ada di dalamnya. Alih-alih memberi jawaban pada pertanyaanya, Changmin malahan bertanya balik: Uda beli rumah emang calonnya udah ada? Sangyeon gak serta-merta tersinggung atau emosi ketika ditembak adiknya di tempat. Posisinya pada saat itu memang sedang menjomblo, jadi mungkin kalau dipikir pertanyaan itu ada benarnya. Balasan Sangyeon kemudian hanyalah Ya justru belum ada, makanya disiapin. Jadi nanti begitu ada, semuanya udah siap.

Mungkin siap yang dimaksud adalah saat ini karena Changmin tahu rumah ini sudah bisa dihuni dari satu tahun yang lalu tetapi Sangyeon baru menempatinya sekarang. Pun tujuan utama dari sang kakak membangun rumah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Changmin, tetapi dia tetap terharu karena permintaanya dulu untuk dipasangkan ayunan kayu di halaman belakang ternyata benar-benar dituruti (“for aesthetic purpose Uda, aku bakalan bawa kopi setiap duduk disana buat bahan kasih makan sosmed”).

Sekarang ini langitnya gelap gulita melainkan senja, di genggamannya hanya ada handphone berlayar hitam, kesadarannya telah berkurang 25% akibat alkohol, dan pipinya yang tiba-tiba terasa dingin ketika ada seseorang yang menempelkan kaleng minuman disana.

Kepalanya dalam mode otomatisasi menoleh ke belakang dan menemukan Kim Younghoon dengan senyum teduh khasnya. "Hey."

Changmin tanpa sadar dan diluar kendali membalasnya dengan helaan napas, dan membuat alis sang wartawan menukik naik. "Eh sori, ganggu ya?"

"Mmm," Gelengnya seraya diambilnya kaleng bir dari genggaman Younghoon. "Thanks."

"Mau diminum?"

"Lo bawain buat gue minum kan?"

"Iya sih, tapi sebelum saya tahu kamu udah setengah teler."

"BELUM!" Changmin mencoba membuat dirinya terlihat sadar dan waras, yang kemungkinan besar malahan terlihat jenaka di mata siapapun. "Masih aman, cuma rada ngantuk."

"Oke." Pria itu kemudian melirik sisi kosong pada ayunan yang tengah didudukinya, perlahan mengirim sinyal. "Boleh ikutan duduk?"

"Duduk aja."

"Oke."

Changmin mencoba untuk diam-diam bergeser ketika dirasa tubuh Younghoon berada begitu dekat dengan dia, namun di waktu yang bersamaan mengepalkan genggaman tangan ketika rasa hangatnya menyentil hingga ke ulu hati. Perhatiannya sendiri dia coba alihkan dengan membuka kaleng bir dan meneguknya banyak-banyak.

Lima menit berada dalam posisi yang sama tanpa satu pun dari mereka membuka suara, Changmin mulai merasa kepalanya sebentar lagi akan berasap. Suara Sunwoo dan Eric yang sedang menyanyikan I Miss U But I Hate U di mesin karaoke terdengar begitu jelas hingga ke tempatnya duduk, namun hening diantara mereka masih tetap lebih mencekam.

Changmin sebenarnya gak begitu punya rencana jika diharuskan untuk membuka suara duluan. Atau mungkin Lo nyebelin banget anjir bilangnya di chat oke sampe ketemu ya tapi begitu ketemu gak ada tuh keliatan berminat bertemu dengan gue??? Terus malahan ngobrol dan ketawa-tawa bareng Hyunjae dan gak pernah balas soal emotional damage yang terjadi karena ulah lo ngepost foto kemarin what the fuck are we dan kemudian menyiram sisa birnya ke atas kepala Younghoon , tetapi setelah dia kaji ulang itu sama aja dengan pembunuhan diri.

Jadi dia memilih jalan yang paling aman dan sederhana dengan mengatakan, "Kepingin banget mukul kepalanya Sunwoo supaya berhenti nyanyi."

Kalimat itu berhasil membuat Younghoon tertawa lepas. "Jangan, kasihan itu dia udah mabuk banget. Dari tadi sama Chanhee bulak-balik dicipratin air mulu."

"Mmm, sudah sepantasnya." Dia lalu menoleh. Kali ini, benar-benar menoleh dan menodong Younghoon tepat di bola matanya. “Kayaknya kursus sosmed yang selanjutnya harus kita tunda dulu deh.”

“Kenapa? Takut di jalan ketemu Team Jeje ya?”

Why would you say it like that?” Rengeknya merana dengan rahang yang menggantung di udara. Pria di sebelahnya, still have the audacity untuk nyengir.

“Terus gimana dong bilangnya?”

“Entah.” Bahunya terangkat, memberanikan diri. “Menurut kakak?”

Walaupun di depan Younghoon dia gak menunjukan ketertarikan atas postingan Instagram yang berakhir menghebohkan itu, tapi Changmin diam-diam berharap foto itu di upload gak hanya sekedar karena alasan dibalik fotonya yang nice and worth to post . Walaupun lagi kemungkinan besar hanya itu satu-satunya alasan, karena jika serangkaian radarnya benar dan Younghoon malahan membuat sebuah pergerakan dengan orang terdekat Hyunjae, just what the hell is wrong with this guy? Atau mungkin sebetulnya Changmin selama ini memang sedang dimanfaati, dan menerima kenyataanya adalah hal yang sulit sehingga sekarang dia berada di bawah sebuah impresi that this, between them, could be mean something.

“Changmin kenapa jadi managernya Hyunjae?”

“Hah? Oh. Um,” Can he really tell him this? “Setahun yang lalu gue pernah… hmm, anggap lah at my lowest point . Kerja di one of the big four, gak punya batasan jam kerja, personal lifeless, dan langganan masuk rumah sakit. Gue… seperti kelihatannya, kecil dan rentan. I was drained mentally. Gaji gue banyak tapi percuma gak bisa cuti juga karena mintanya equivalent dengan sidang pengadilan?! Jadi, ya… sewaktu Hyunjae nawarin itu kayaknya memang bener-bener lagi last straw. So, yay, good riddance.

“Sekarang kamunya lagi mentally drained juga gak? Gara-gara masalah ini.”

Okay, so this is how this guy played. “Gak segitunya sih…? Kayaknya, cuma lebih ke butuh penjelasan?”

“Hmm.” Sebuah senyum merekah di wajah Younghoon, bibirnya menempel dan melebar dengan sempurna. “Gitu.”

“Apanya yang gitu?” Gerutunya sebal, diujung kata meledak karena terus-menerus dibawa berputar. “Ngomongnya bisa to the point aja gak sih om?”

“Siapa yang om?” Younghoon terbahak lepas bersamaan dengan raut terkejut di wajahnya

“Ya lo lah, siapa lagi!”

“Nakal ya–” Balas sang pria kemudian, seraya menjedukan keningnya tepat di pelipis Changmin dengan perlahan. “–adek.”

Napasnya lalu tercekat dalam kurun waktu instan. Bukan hanya karena mereka yang kini berada begitu dekat dan Changmin bisa merasakan hembusan napas Younghoon membasuh setiap titik di wajahnya, tetapi juga tubuhnya yang sepenuhnya membeku akibat efek samping dari aproksimitas dari kata adek: diucapkan dalam suara bisik yang berat, dalam, tenang, penuh penekanan, dan seakan mengimplikasi ratusan makna. Adek, yang jika disebut oleh Uda, atau Hyunjae, atau orang-orang disekitarnya hanya akan berakhir menjadi cemooh karena tubuhnya yang kecil dan wajahnya yang berbeda jauh dari umur, namun menjadi ajang pacu jantung ketika Kim Younghoon yang menyebutkannya.

Impulsivitas pertamanya pada malam itu, ternyata terjadi saat ini. Saat menolehkan kepalanya ke kanan sama artinya dengan mengikis jarak diantara mereka, sehingga kini hidungnya secara praktis menempel dengan Younghoon. Dalam kurun yang entah beberapa detik namun terasa seperti selamanya keduanya sama-sama menutup mata tanpa melakukan pergerakan. Baik dia dan juga Younghoon hanya sibuk mengatur napas dan mungkin mengontrol isi kepala sebelum melakukan tindakan, dan Changmin rasa itu adalah keputusan paling baik karena dia akan segera meledak jika ini terjadi dalam sekilas.

Changmin punya tendensi untuk memikirkan skenario terburuk dalam setiap tekanan situasi yang sedang dialami. Seperti saat ini misalnya, ada sebuah kilas balik yang mengacu pada semua analisis radarnya dari mulai kopi yang disiapkan untuk Hyunjae, Younghoon yang terbukti sedang menyukai seseorang dari Kartu Kematian sialan, postingan Instagram pembawa petaka, dan Changmin yang adalah pemergok handal. Dia mahir memotong pengkhianat dan pembohong, dan dia juga pendendam ulung dengan rencana balas dendam yang kejam. Namun ketika ada rasa hangat dari bibir Younghoon yang pada akhirnya menyentuh bibirnya, semua pikiran buruknya dengan instan tersapu bersih.

Cara Younghoon menciumnya mungkin bukan sesuatu yang layak untuk ditulis dalam novel romansa dan mendapat predikat best selling book yang dipajang di dalam rak, namun cara Younghoon menciumnya mengempasisi semua yang dia kenal dari pria di depannya: bahwa Younghoon adalah seorang pria dewasa yang tahu apa yang sedang dilakukannya, yang tidak terburu-buru walaupun berada di bawah suatu pengaruh, yang terkadang bisa menjadi manja saat dia ingin, yang punya hati cantik, dan yang penuh dengan konsiderasi.

Younghoon is a touchy person but only after Changmin lets him. Fakta ini dia ketahui semenjak matanya selalu meminta izin acap kali akan ada kontak fisik yang terjadi di antara mereka, dari caranya berjengit kaget dan menjauh ketika secara tidak sadar memeluk Changmin pasca kepalanya terbentur pintu mobil dan baru kembali memeluk juga mengusapnya setelah Changmin meremas ujung kemejanya dan reasurasi itu membuatnya yakin untuk kembali mendekat. Yakin untuk membuka kembali bibirnya ketika Younghoon sabar menunggu masuk, yakin untuk memiringkan kepalanya agar akses mereka dipermudah, yakin untuk mengimbangi lidah yang perlahan mengeksplorasinya, dan yakin untuk mengikis jarak di antara mereka walaupun sudah tidak ada lagi yang tersisa disana.

Ciuman itu terpaksa harus berakhir begitu mereka sama-sama terlonjak ketika mendengar Sangyeon memanggilnya untuk masuk. Namun hal tersebut tidak begitu saja membuat keduanya bertingkah seakan hal itu tidak pernah terjadi. Keduanya hanya kembali memberi jarak pada tempat dimana mereka duduk, mencoba sekuat tanaga menahan rekah senyum dan rasa malu, berpura-pura memasang wajah datar ketika Sangyeon menghampiri, dan berjalan memisahkan diri hanya setelah sudah berada di dalam rumah.

Malam itu dia dan Hyunjae mendapat privilege tidur di salah satu dari dua kamar yang ada di rumah itu setelah mereka semua setuju untuk menginap. Lalu kamar utama yang sudah pasti ditempati Sangyeon dan Chanhee, kemudian ruang tengah yang berubah menjadi kemah dadakan berisikan Eric, Sunwoo, dan Younghoon. Juyeon datang pada pukul hampir tengah malam setelah pekerjaanya selesai, dan bahkan dari dalam kamar yang tembok dan pintunya tebal itu Changmin dapat mendengar kehebohan dari mereka yang sedang bertanding FIFA lewat playstation.

Hyunjae kini sudah tertidur lelap di sebelahnya ketika Changmin bahkan kesusahan untuk meredamkan suara berisik di kepala. Jam dinding menunjukan pukul dua pagi, dan suara dari ruang tengah kini sudah sepenuhnya hilang yang artinya mungkin sebagian dari mereka juga kini sedang tertidur. Good for them, Changmin guessed. Karena dia tahu betul bahwa not in a million chances dirinya bisa tertidur malam ini setelah apa yang terjadi di halaman belakang tadi.

Pada pukul tiga pagi, Changmin akhirnya menyerah dan mencoba untuk mengikuti intuisinya untuk kedua kali kala itu. Matanya sekali lagi mengecek Hyunjae di sebelah sebelum turun dari tempat tidur dan berjinjit keluar kamar. He really wants to see Younghoon and every fiber in his body just vibrates with insanity. Dan akhirnya pada pukul tiga pagi itu juga, Changmin bertemu pandang dengan Younghoon dengan cahaya layar handphone mengiluminasi wajahnya, yang menjadi satu-satunya di ruang tengah itu yang belum tertidur lelap.

Lalu setelah beberapa detik memproses dan mengkonfirmasi sosok yang tengah berdiri di antara kegelapan adalah Changmin, Younghoon menyunggingkan sebuah senyum.

 

Tidak ada yang dengan usil mempertanyakan mengapa mereka menemukan Changmin di sofa dan tertidur dalam pelukan Younghoon keesokan paginya. Semuanya menjalani aktivitasnya masing-masing dengan normal, mengunyah sarapan dan menyeruput kopi bersama tontonan di televisi. Banyak yang kabur dari ingatannya tentang konversasi mereka di dapur subuh tadi, tetapi satu yang Changmin ingat: ketika Younghoon dengan bangga mengatakan tagar team mana yang lebih menjadi preferensinya.



***



Radar kelima: Four Steps Backward.

 

"Lo tuh kayak, hmm, Sarjana Bolot dari Fakultas Ketidakpekaan.”

"Lee Hyunjae, shut up."

"No, no, no, i meant it. Because who the hell is this stupidly dense when the sign were already fucking there. Kayaknya lebih capek liat lo bolot daripada gue ladenin haters , and that's ten time worse because i can't even go to my burner account without some tweet calling me pelakor yang gak sengaja lewat di timeline. Semakin bolot lo, semakin harus konsultasi gue ke terapis.”

"Je demi Tuhan, diem."

"Oke, oke." Sang penyanyi mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai simbol genjatan senjata, sebelum lanjut menggunakan kapas basah di tangannya untuk membersihkan make up di muka. Mereka baru sampai di apartemen Hyunjae setengah jam yang lalu setelah pulang dari siaran radio, dan sang penyanyi kini duduk manis di meja makan selagi Changmin mengambil piring untuk mewadahi nasi goreng yang tadi mereka beli. “But it’s a good thing that you two figured it out or something.

“Gue gak figured it out apa-apa, di kepala gue mungkin dia masih desperately yearning ke Chanhee but on a second thought wanted to try it out with me.

“Ji Changmin.” Hyunjae menghentikan seluruh aktifitasnya demi memejamkan matanya lelah. Giginya digertakan dengan agresif namun penuh kesabaran, keakan konversasi ini adalah beban berat di pundaknya dan membiarkannya dalam keadaan tak tuntas akan mengakibatkan bencana alam. “You, are an idiot sandwich.

“STOP NGATAIN GUE OON!!! Dan lo juga gak jujur ya kalau selama ini lo udah tau dan cuma mau manas-manasin dan memancing emosi gue doang!!!”

Oke fine gue emang sengaja manas-manasin dan memancing emosi lo. But it was fun!” Hyunjae buru-buru menyegel bibirnya ketika Changmin menembakinya dengan tatapan membunuh. “–Maksud gue selain it was fun adalah it can gives you the testamen of life. Ini semua gak akan jadi masalah kalau lo gak perlahan menyadari bahwa lo ada rasa sama Younghoon, kan? And that you were jealous , ketika semua radar yang ada di kepala lo itu diperuntukkan buat orang lain.”

Damn, he kinda got the point.

“Gue cuma…” Tangannya tertahan di atas karet pada bungkus makanan yang kini berada di atas piring. Kepalanya menunduk lemas ketika gagal untuk menemukan pilihan kata yang tepat dan berakhir dengan mengatakan, “Nevermind.”

Hyunjae catches that. Dia bisa menangkap bagaimana Changmin ingin mengatakan lelahnya bukan disebabkan karena radarnya yang salah sasaran dan membuatnya seperti orang bodoh, tetapi lebih kepada ketidaktahuannya tentang apa yang akan terjadi setelah ini. Like, okay, setelah mendapati Changmin dan piyamanya di lorong malam itu dia dan Younghoon berakhir dengan sesi obrolan serius dengan saksi yang adalah perabotan rumah kakaknya (sang pria menggodanya ketika meminta maaf karena Sangyeon tiba-tiba memanggil mereka masuk in the middle of a goddamn kiss! dengan mengatakan gak apa-apa santai aja, mau dilanjutin? dan Changmin tersedak biskut yang tengah dikunyahnya sampai air matanya berlinang), tetapi tak ada satu reasurasi disana tentang apa pun yang menyangkut kepastian. Dan Changmin menolak untuk digerogoti impulsivitas juga euphoria sesaat.

 

(“Are you gonna be okay, like, someday?

Someday…?

“Setelah kakak gak akan tinggal lagi sama Chanhee.”

“Setelah kamu ngajak dia berdebat soal ini sampai kalian tadi hampir berantem hebat maksudnya.”

“Ya karena gak masuk akal aja masa dia mau kalian tinggal bertiga! Maaf aku kenal Uda dan dia penganut monogamis.”

“Hahaha bukan gitu adek, itu sama sekali bukan kesimpulan dari argumennya Chanhee. Dia cuma… itu cara tersirat paling mudah untuk dia bilang ‘please don’t forget me and please keep checking up on me because being adult and being lonely are both scary things ’”

“Tapi kan dia akan menjalani hidup baru sama Sangyeon, dan Uda adalah orang terakhir di muka bumi ini yang akan bikin Chanhee takut apalagi kesepian.”

Mh-hm, dan konsep itu harus dikenalin pelan-pelan. Itu alasan kenapa Sangyeon bawa Chanhee kesini hari ini.”

“Kalau kakak?”

“Saya? Hmm… I want to furnish my own place. Gak sabar untuk dekorasi rumahnya sesuai preferensi saya, lalu setelah itu ngelakuin hal yang sama kayak Sangyeon.”

“Hal yang sama?”

“Mengenalkan pelan-pelan rumah itu ke orang yang akan saya ajak untuk tinggal disana selama sisa hidup kita.”)

 

Hey, you okay?” Hyunjae mencoba mendistraksinya dari lamunan. Alih-alih penuh dengan keinginan untuk mempermalukan Changmin seperti biasa, matanya kini penuh dengan kekhawatiran.

“Menurut lo kenapa Younghoon gak pernah mengklarifikasi langsung kalau gue salah tanggap?”

Well.” Sang penyanyi mengambil piring yang Changmin sodorkan kepadanya–setengah membuka bungkus dan setengah mengulur jawabannya, sebelum kembali dan bertemu pandang. “Why don't you try to ask him yourself?

Because he thinks you’re cute.

Changmin melompat pada posisi berdirinya hingga pinggangnya terbentur pinggiran meja sambil mengusap dadanya karena jantung yang hampir melompat keluar. Choi Chanhee berjalan mendekat dari pintu masuk dengan tas selempang super kecil yang entah akan muat untuk apa selain mungkin lipbalm nya, dan dua kantung belanja di tangan kanan dan kirinya yang terlihat begitu berat.

Why the fuck are you here?!” Pekiknya dalam panik ketika akhirnya mampu memproses keberadaan pacar kakaknya. “Dan kenapa lo tahu password apartemen Hyunjae anjir?”

“Dikasih tahu sama bos lo lah?” Jawabnya kelewat santai dengan nada why are you so slow thinking? dan seakan berharap Changmin seharusnya bisa menyambungkan benang itu tanpa harus bertanya.

Kepalanya dengan cepat beralih kepada si tersangka, namun Hyunjae kelewat keroncongan sampai hampir menenggelamkan wajahnya pada bungkus nasi goreng yang sedang sibuk disantapnya. Beberapa detik kemudian dia membela diri dengan alasan, “No offense tapi gue butuh teman untuk membahas kelemotan dan ketidakpekaan lo itu.”

You,” Desisnya dengan penuh amarah (the scariness wasn’t even shown in the slightly). “Both are a fucking traitor.

Whatever.” Chanhee mendudukan dirinya pada bangku kosong di sebelah Hyunjae tanpa disuruh, akhirnya menyerahkan nasib kantung belanjanya pada gravitasi dan menaruhnya di lantai. “The point is, you heard me the first time. It’s because he thinks you’re cute, dan Nyangun juga gak lihat ada threat disekitarnya. Dia tahu lo lagi gak naksir siapa-siapa, dan gak ada juga saingan yang lagi deketin lo. So he just having fun because he thinks you’re cute. Also, he doesn't like to burden you."

"No offense tapi temen lo agak naif."

"Mhm."

"Dan sotoy."

"Tell me about it."

"And kinda wholesome. Lo tahu gak kalau dia rela ganti susu di kopi yang dia kasih buat Hyunjae jadi Oatside demi gue?”

Alih-alih merespon Changmin dan trivia retorisnya, Chanhee memilih untuk melirik Hyunjae. Keduanya kini melakukan telepati lewat sorotan mata dan bahasa alis, dan Changmin akan segera mengamuk di tempat jika dalam kurun waktu dekat tidak dibiarkan masuk ke dalam percakapan. “Beneran Sarjana Lemot. Sorry for doubting you.

“Argh.” Rengeknya, menggeser piringnya sejauh mungkin dari pandangan karena nafsu makannya sudah sepenuhnya hilang ketika Hyunjae menggumam setuju dan mengajak Chanhee untuk ber-tos-an. Chanhee reads Younghoon like the back of his hand, like he’s just a transparent guy. And Hyunjae is just as much as the same to him. This is surely a deadly combo.

“Menurut gue lo sama Younghoon cuma butuh civil talk aja. It was either you or him. Kalau lo mau nunggu, then take it easy. Tapi kalau ini udah diluar batas kesabaran lo, then just confront him or something. Gue punya video lo berdua ciuman di ayunan dan foto lo berdua kelon di sofa and if all that shits was platonic then i swear to God, just. fucking. sue. him.

 

Hyunjae baru saja mengancamnya dengan sebuah rekaman serta foto ilegal dan yang ada di pikiran Changmin hanyalah rasa nyeri di salah satu sudut ulu hatinya yang muncul dari betapa dia merindukan Younghoon. Dan pada detik itu juga akhirnya Changmin tersadar, that he really is doomed.



***



Kim Younghoon

barusan cek di gmaps hijau semua sih

kayaknya karena masih jam segini

dia buka sore ke malem ya?

 

You

iyaaa jam segini mah belum ada…

tp kl kesorean pasti pas sampe sana keabisan

huhuhu

 

Kim Younghoon

oh ya udah jalan lebih awal gak masalah sih

nanti muter2 aja dulu

yang penting udah deket sana

 

You

okk…?

 

Kim Younghoon

oke hahahah

aku jalan ya

otw rumah changmin

jemput

 

You

ok…

 

Ironis bagaimana ketika dulu Changmin mencoba untuk menghindari, jalannya selalu berpapasan dengan Younghoon pada timing yang kurang pas. Namun sekarang, bertemu Younghoon bisa dibilang adalah sebuah hak istimewa sangking sibuknya pria itu belakangan ini.

"Kamu… kayak habis pulang dari sidang perceraian.” Not his best ment setelah lagi-lagi hampir dua minggu tidak bertemu Younghoon karena tugas liputannya di luar kota, but what can he say ketika pria itu datang dengan celana bahan, kemeja putih yang dimasukan, rambut yang mencuat berantakan, dan mata merah kurang tidur? It’s giving dia kalah dalam perebutan hak asuh anak.

Sang wartawan mendengus dan terkekeh, mengimplikasi bahwa tawa itu ditujukan kepada dirinya sendiri karena dia pun aware bagaimana bentuk penampilannya kala itu. “Maaf ya, gak sempet pulang dan ganti baju. Tadi sampai Jakarta langsung kesini.”

Changmin wants to wish him hell (he is definitely not). “Enggak apa-apa, masih oke kok… Aku juga outfit nya biasa aja.”

Younghoon menyodorkan telapak tangannya agar dapat Changmin raih. “Oke kalau gitu. Kita jalan sekarang?”

“Mhm, oke.”

 

(Disambutnya sang telapak tangan, sembari berusaha untuk tidak mengubah pipinya menjadi kepiting rebus atas panggilan aku dan kamu yang terdengar begitu natural terjadi setelah mereka berdua latih pada setiap sesi telepon malam hari)

 

It becomes a routine : mereka sama-sama akan mencari fleksibilitas dalam waktu bekerja dimana bisa sejenak bertemu, get lost in time, dan melakukan kursus sosial media lainnya sebagai alibi agar dapat menghabiskan waktu bersama. Kebanyakan Younghoon yang akan menjemputnya ketika secara kebetulan terjadi skenario Loh adek disitu? Kebetulan kakak juga lagi ada liputan deket sana. Mau disamperin? dan Hyunjae yang tak pernah sekalipun protes ketika managernya hilang dari backstage dan bisa ditemukan di dalam salah satu mobil yang diparkir di sana.

He just really, really likes this car picnic date.

Apalagi saat perut mereka sudah sama-sama keroncongan dan akan berhenti di makanan tendaan terdekat lalu menyantapnya di dalam mobil. Terkadang jika Younghoon sedang lowong, alih-alih menunggu di ruang siaran Changmin kembali akan duduk di dalam mobilnya, mendengarkan siaran radio Hyunjae bersama dan usil menelepon untuk sekedar me request lagu atau mengikuti Kontes Matematika. Mereka berhasil memenangkan kuis itu pada suatu hari (atas bantuan otak jenius Chanhee yang pada kala itu berdedikasi menjadi orang ketiga) dan mempergunakan hadiah tiket bioskopnya untuk menonton film berdua.

Akun perjodohannya dengan Younghoon di Twitter surprisingly masih aktif sampai dengan sekarang. Salah satu adminnya pernah mengobrol dengan Changmin di DM, bertanya dengan tulus tentang hal-hal yang membuatnya penasaran alih-alih berfokus pada gosip yang dapat ia hasilkan dari informasi yang didapatnya. Dan itu membuat Changmin merasa dihargai sebagai manusia dan bukan sasaran empuk netizen. 

Tidak ada yang berubah sampai dengan sekarang dengan gaya feeds Instagram Younghoon walaupun mau sebanyak apa sesi kursus sosial media yang mereka lakukan, namun setidaknya menemukan wajahnya dan Bori yang katanya anabul paling dicintainya sedunia itu (Changmin belum sempat bertemu sampai dengan sekarang) ditaruh bersebelahan adalah sebuah kehormatan baginya sendiri.

Hari ini pun, dia mempergunakan kesempatan sebelum beberapa jam kedepan Younghoon sudah harus kembali terbang ke luar kota untuk memboyong sang pria mencoba soto legendaris yang sedang menjadi topik hangat setelah thread viral salah satu influencer. Changmin tidak pernah benar-benar fomo atas segala makanan yang katanya hidden gem itu, tetapi satu thread makanan atau minuman viral artinya satu kesempatan lagi untuk mengirimi Younghoon linknya dan membuat tanggal janji temu.

“Punya kamu yang kuah santan kan?”

Tangannya meraih semangkuk soto yang disodorkan melalui jendela, mencoba bergerak sepelan mungkin agar kuahnya tak berhamburan. Setelah mangkok itu aman di pangkuannya, si kakak mengambil mangkoknya sendiri sebelum kemudian kembali masuk ke dalam mobil. Yang Changmin tidak sangka adalah ketika Younghoon ternyata juga membawa masuk satu nampan dan memindahkan mangkok Changmin ke atasnya.

“Nih tatakin pakai ini.” Ucapnya seraya memindahkan barang-barang lain ke jok belakang. “Hati-hati panas ya, sayang.”

Kalau mangkuk sotonya adalah makhluk hidup, mungkin benda itu sudah berteriak meminta tolong karena Changmin yang memelotinya dengan ganas. Saliva di tenggorokannya berusaha ditelannya dengan susah payah. “...Sayang?”

“Eh?” Ekspresi di wajah Younghoon berubah panik. “Salah ya?”

Changmin memalingkan pandangannya. “Engga, gak salah. Cuma…”

“Cuma…?”

“Enggak, gak ada cuma.” Balasnya ketika dalam sekejap pola pikirnya berubah drastis. Mungkin Hyunjae dan Chanhee selama ini benar, mungkin alasan mengapa Changmin selalu kesusahan dan berakhir dengan mengambil jalan memutar atas banyak hal dalam hidupnya adalah karena tidak pernah ada sebagian dari percaya dirinya yang berani untuk menuntut. “Kakak emang sayang sama aku kan?”

Changmin wishes that he could’ve done it sooner , karena segera setelah keberanian itu tumpah ruah, Younghoon pun memulai bagiannya.

“Adek.” Ucapnya, dalam satu tarikan napas dalam. “Kalau semisal kamu masih ragu kita sejauh ini ngapain, itu tas aku di belakang di dalamnya ada cincin.” Younghoon yang tersadar atas perubahan horror pada mata Changmin melanjutkan dengan cepat. “Tapi kakak tahu gak segampang itu. There’s a lot to process, i know, dan maaf kalau aku bukan sosok yang to the point kayak kebanyakan teman seumuran Changmin. Aku tahu kamu dan aku sama-sama sadar kalau ini semua masih terlalu cepet, jadi kita jalannya pelan-pelan. Tapi bukan berarti aku anggapnya gak serius, karena diantara kita berdua kayaknya aku yang lebih gak bisa main-main soal hubungan. Kakak bukan di umur untuk banyak coba dan eksplorasi, beda sama Changmin. Jadi kalau kamu lihatnya aku banyak ragu, kebanyakan itu karena kakak gak enak sama adek. Gak mau menekan. Gak mau memburu-buru. Gak mau membebani. Gitu aja sih… Tapi kalau adek mau, ayo. Karena apa pun sama Changmin, semuanya akan kakak ayoin. I really, really like you.

Ada sebuah perasaan déjà vu dari bagaimana seisi mobil itu kelewat hening meskipun suara sama-samar dari pemutar musik terdengar ke seluruh sudut mobil. Kilasan kesunyian itu memutar Changmin pada suatu malam di samping gerobak bakpao, di depan rumahnya, di atas ayunan kayu, yang kalau diimplikasikan dengan seberapa dekat mereka sekarang agaknya susah dipercaya sangking tak pernah ada lagi killer conversation diantara mereka. Changmin sudah sepenuhnya menerima fakta bahwa Younghoon yang berada di bawah impresi orang lain tidak sepenuhnya menggambarkan betapa manjanya dia ketika hanya berada berdua dengan Changmin, dan Younghoon sudah hapal diluar kepala bahwa ada beberapa vulnerabilitas yang akan berani Changmin tunjukan hanya di depannya.

“Dek?”

So let me get this straight. Let’s take four steps backward.

Changmin mengikuti pandangannya pada arah jakun Younghoon yang turun lalu kembali naik. “Oke.”

“Aku punya lima radar yang akan membuktikan kalau kamu suka sama Hyunjae. Kamu harus ban–”

“Aku gak pernah suka sama Hyun–”

“–Tunggu, jangan disela dulu. Aku duluan.”

Younghoon menyegel bibirnya dalam mode otomatisasi. “Oke.”

“Susunya sengaja diganti demi aku.”

“Dari awal kopinya memang buat Changmin…”

The person you like yang kamu maksud itu bukan Chanhee.”

“Chanhee…? Adek, aku sama dia dari kecil itu cuma–”

“Kamu upload foto Instagram sama aku bukan untuk memanfaatkan orang dalam dan kamu gak ilfil dijodoh-jodohin sama aku.”

“Ya sama sekali engga?? Changmin–”

“Jadi kamu beneran Team Managernim?”

“Kamu ngiranya aku ngomong begitu gak serius kah?”

Sarjana Bolot dari Fakultas Ketidakpekaan.

Changmin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sebelum kemudian menjerit. Dan mungkin karena hari itu emosinya kelewat sensitif, air matanya tanpa sadar kini sudah membanjiri pipi.  “Hyunjae nyebelin. Kamu nyebelin. Chanhee nyebelin. Semua orang nyebelin.”

“Loh, dek? Kenapa? Is everything okay? Sebentar,” Younghoon kembali mengambil mangkuk soto dari pangkuannya dan ditaruhnya di atas dashboard mobil. Tangannya setelah itu mengusap punggungnya, sepenuhnya bingung harus berbuat apa. Changmin akan menghabiskan beberapa menit lagi untuk membuat pria disampingnya menderita.

Ketika wajahnya itu pada akhirnya kembali mendongak, Younghoon membantunya mengusap air mata dengan ibu jarinya. “Are you okay?

I’m–okay. Peluk aja boleh gak?”

Sang pria tertawa, masih bersama pandangan yang disejajarkan dengan Changmin dan jemari yang mengusap tulang pipinya lembut. “Oke.”

Younghoon menariknya ke dalam pelukan setelahnya. Dia memeluk terus-menerus dan tak ada habisnya, memberi usapan pada kepalanya, membubuhkan kecupan-kecupan kecil pada pelipisnya, menghirup aroma shampoo yang menempel di rambutnya, dan menggoyangkan tubuh mereka kecil ke kanan dan ke kiri ketika isakannya sesekali bermunculan. Changmin yang mengubur dan menyembunyikan wajah di ceruk leher Younghoon itu diam-diam tersenyum, dan fakta bahwa sejujurnya perasaanya sudah lebih baik disimpannya sendiri karena dia masih belum ingin melepas sang pelukan.

His own demon beats him ketika hal random yang secara tiba-tiba muncul di kepalanya itu membuatnya tertawa. “Kak.”

“Hm?”

“Sotonya udah dingin…”

Younghoon mendengus tidak percaya, namun bahkan bukti bahwa kesedihan di mata Changmin sudah berhasil dihapusnya tak membuat pria itu menarik diri dari pelukan. “Kita minta bungkus terus hangatin lagi di rumah?”

“Oke…”

“Oke.”

“Maaf gara-gara aku jadi bulak-balik.”

“Gak masalah.” Dia menggeleng, dan Changmin dapat merasakan kepalanya yang bergerak. “I could do this a thousand times.

Yeah.” Matanya terpejam dengan damai untuk pertama kalinya sejak entah kapan. “Yeah, me too.