Actions

Work Header

Way For Love

Summary:

Five times (or more) Noah tried to gatekeep Yejun and one time Yejun found out about it.

Notes:

Hai! Work ini berisi akumulasi disjointed scenes yang meng-highlight hubungan antara dua tokoh (Yejun-Noah). Jadi jangan terlalu memikirkan soal timeline. Yang jelas, scene terakhir adalah resolusi cerita. Selamat membaca!

@yejuncengkok on twt

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

1

Pagi di kelas Antropologi Hukum, Han Noah menguap lebar. Agak menyesal karena datang terlalu awal, bukan karena masih sepi dan harus menunggu lama hingga kelas dimulai. Ini lebih karena dia jadi tidak bisa tiduran di kasurnya lebih lama. Biasanya juga Noah datang di deretan jam paling telat saking cintanya pada kasur kosannya di pagi hari. Ini semua salah Yejun yang memaksanya untuk berangkat bersama. Semester ini dia harus rajin, katanya. Kalau bukan karena Yejun mengancamnya akan membeberkan foto aibnya di group chat mereka, Noah sih tidak akan menurut untuk memeras diri jadi ambis seperti si rambut biru. Untungnya AC ruangan ini menyala, setidaknya dia bisa menikmati ruangan dingin sambil menunggu kelas dimulai.

Jarinya dengan lambat mengetik di layar. Mengirim pesan tidak jelas ke grup yang jadi rumahnya belakangan ini.

kentutbonggu

Muncul seringai geli di bibir Noah. Menghabiskan waktu dengan mereka berempat, bahkan via chat, tidak pernah membosankan (atau lebih tepatnya mengganggu mereka tidak pernah membosankan).

Grup berisi lima orang ini sebetulnya terbentuk secara tidak sengaja. Mereka berawal saling mengenal dari AKORD, UKM kampus yang berkecimpung di dunia menyanyi hingga bermain band. Noah dan Yejun adalah teman sebelum masuk universitas. Mereka masuk AKORD dan mengenal Bonggu saat masih sama-sama maba. Pada saat mereka bertiga memasuki semester 3, Hamin dan Eunho yang baru saja menjadi maba bergabung. Kemudian bertepatan dengan festival kampus yang berlangsung, organisasi induk mengarahkan mereka untuk mencoba membuat unit band sendiri dan tampil dalam salah satu line up saat konser dies natalis kampus. Ini karena kecakapan dan kompatibilitas dengan satu sama lain. Sejak saat itu mereka mulai sering hang out bersama dan menjadi dekat.

Noah menghabiskan waktunya dengan mengusik mereka dalam group chat hingga kelasnya sendiri mulai ramai, kursi-kursi kosong mulai terisi. Noah juga sampai tidak sadar seseorang menghampirinya.

“Han Noah, ini kosong nggak? Gue duduk sini ya?” itu Ma Wooin, salah satu teman sekelasnya. Biasanya dia duduk di deretan kedua dari depan.

Noah melirik sebentar kemudian mengangguk, “Ya, duduk aja.”

Ma Wooin tidak lantas melepaskan perhatian Noah, dia memasukkan ponsel dan mengajak Noah kembali bicara.

“Lo kenal Nam Yejun Akuntansi kan?”

“Kenal.”

“Gue minta nomornya dong.”

Mendengar itu ada sesuatu yang terasa terusik dalam diri Noah hingga dia tidak hanya menoleh melainkan memutar seluruh tubuhnya menghadap Wooin.

“Buat apa?”

Ekspresi menyelidik Noah ditangkap Wooin dengan antisipasi, “Emm, bukan gue sih. Lo tau Minji?”

“Anak antrop?”

“Iya, yang matkul Pengantar Antropologi nya sekelas sama kita di semester satu.”

Noah menggeleng, alisnya makin mengkerut mendengar informasi itu.

“Alah cewe yang kuliah bawa gitar terus itu, yang rambutnya pendek sebahu.”

Sebuah bayangan samar seorang perempuan muncul di otak Han Noah, “Iya terus kenapa?”

“Nah dia yang mau minta nomornya Yejun.”

Noah kini sepenuhnya meletakkan ponselnya yang masih menampilkan room chat dari grup Kentut Bonggu.

“Ngapain dia minta nomornya Yejun?” Tanpa sadar nada sengit Noah lolos di pertanyaan itu.

Melihat reaksi Noah yang kelihatan seperti curiga, Wooin menggaruk pelipisnya “Eh? Ya guenya kurang tau. Minji ada urusan sama Yejun kali?”

Sementara itu dosen memasuki ruangan dan mulai menyapa kelas. Noah menyadari itu dan diam menimbang, Wooin di sampingnya masih menunggu. “Bilangin aja ke orangnya Yejun nggak mau.”

“Hah? Tapi—”

“Tolong bilangin ya, makasih.” setelah memutus pembicaraan mereka, Noah mengalihkan pandangannya ke depan. Berpura-pura sibuk memperhatikan kuliah. Nyatanya apa yang disampaikan dosen di depan kelas buram karena pikiran Noah sedang melayang. Ini baru awal tahun ketiga sudah mulai ada yang mencoba mendekati Yejun lagi. Merepotkan saja, batin Noah.


2

Tahun ini dari lima diantara mereka, hanya Yejun yang ikut kepanitiaan dalam orientasi mahasiswa baru. Sempat diolok-olok oleh empat yang lain tentang se-babu apa jiwa Nam Yejun (kecuali Bonggu, si kepala merah muda murni hanya khawatir Yejun kecapekan). Tapi ya yang namanya Yejun, tidak akan terpengaruh pada hasutan apa saja. Jika ia mau, ia akan berjuang di sana. Yejun akan melakukannya bahkan jika harus bertaruh pada ketidakpastian sekalipun. Jadi meski telah menjadi pengurus BEM fakultasnya, anggota AKORD, juga ketua kelas di mata kuliah Auditing, Yejun tetap nekat mendaftar kepanitiaan acara. Karena Bonggu sudah capek mengingatkan, dia hanya berakhir mendoakan tubuh Yejun agar kuat menyokong jiwa maso pemiliknya.

Ada satu hal yang sudah jadi rahasia umum mahasiswa, popularitas akan selalu didapatkan saat seorang kakak tingkat mencemplungkan diri dalam acara yang secara langsung berurusan dengan maba. Popularitas diantara para mahasiswa baru unyu-unyu pastinya. Poin plus untuk kating yang cakep.

Nam Yejun? Oh jangan tanya, sudahlah berparas indah, suara bagus, aktif berorganisasi, kepribadiannya baik pula. Siapa juga yang tidak jatuh hati? Semenjak hari pertama orientasi mahasiswa baru, popularitas Yejun langsung melambung tinggi terutama di FEB, fakultas asalnya. Hampir setiap hari ada saja hadiah ataupun cemilan yang disasarkan untuknya, coklat, boba tea, sekotak sushi, sampai chicken wings telah beberapa kali ia terima. Yah Yejun sih tidak menseriusinya. Kata dia ini semua juga bakal reda saat musim orientasi selesai. Semua pemberian adik adik tingkat itu juga tidak ia nikmati sendiri, lebih sering cuma ditinggal di sekre AKORD untuk dimakan teman-temannya. Semua orang senang-senang saja dengan ini.

Sayangnya Han Noah tidak.

Rasa kesal menggerogotinya setiap Yejun bilang tidak bisa dalam ajakan makan berlima. Atau saat Yejun baru sampai kos malam malam sekali.

Hari ini juga, Yejun membuat Noah kesal karena meneleponnya saat enak-enak tidur di sofa sekre untuk meminjam kamera pada siang hari yang panas. Terpaksa dirinya balik ke kos dulu untuk mengambil kamera di lemarinya.

Setelah bertanya pada mahasiswi yang berjaga di sekitar event, Noah ditunjukkan jalan menuju Yejun yang rupanya sedang duduk-duduk dalam salah satu sarnafil. Dan ia tidak sendiri. Seseorang dengan perawakan tinggi sedang mengobrol dengannya. Hanya dengan melihatnya saja Noah tahu dirinya kesal. Maba caper, matanya menilai. Seringai miring muncul di bibir Han Noah.

Yejun melihat Noah mendekat, “Ah, bentar ya, Joohon. Temen gue dah dateng.” Noah tidak menunggu Yejun menghampirinya, dia langsung masuk dan duduk di salah satu kursi.

“Lo harus traktir gue yoshinoya sih habis ini Jun. Panas banget anjir dan lo suruh gue bolak balik sekre kosan? Gila apa.” Noah megap-megap menyerahkan tas berisi kamera.

“Gue bukan nyuruh ya, di chat gue bilangnya kalo lo mau aja.”

Noah mendecih, tidak menjawab karena masih mengatur napas.

“Minum bang?” Seseorang mengulurkan botol minum padanya. Ah, iya, Noah lupa kalau tadi ada orang lain.

Tapi Noah tidak menerima uluran botol air dingin itu, ia sudah punya rencana lain.

“Yejun Yejun, gerah.” Dengan jari telunjuknya, Noah memperlihatkan tengkuknya yang keringatan, juga rambut panjangnya yang berantakan dan poni yang kemana-mana.

Helaan napas lelah Yejun terhembus. “Lupa lagi?” Dan Noah menanggapi dengan nyengir. Ingin rasanya Yejun menampar wajah mengesalkan itu keras-keras, “Logikanya gimana coba lo ngambil kamera bisa tapi karet rambut enggak?”

“Ada yang namanya prioritas.” Kata Noah tidak tahu diri. “Lagian gue juga bisa minta ke elo.” Kata Noah tidak tahu diri (lagi).

Yejun memang selalu membawa satu kotak kecil karet rambut dalam tas yang ia bawa kemana mana. Harusnya ini aneh, mengingat si rambut biru tentunya tidak membutuhkan barang seperti itu. Sedikit yang tahu jika Yejun membawanya tersebab Noah. Noah dan rambut pirang panjangnya dan 'lupa bawa iket rambut gwehh' nya menggerakkan Nam Yejun untuk membeli sekotak karet rambut kecil-kecil yang ia bawa kemana-mana. Namun dengan semua barang tidak berguna lain dalam tasnya, karet rambut bukanlah apa-apa yang perlu dijustifikasi. (Perlu contoh? Nam Yejun membawa sumpit, band-aid, obeng kecil, heating pad, dll dalam tasnya. Jaga-jaga kalau ada yang butuh, katanya. Hero complex tai kucing.)

Yejun hanya memberi Noah tatapan datar. Dia meraih ranselnya yang ada di kursi, kemudian membuka resleting. Tangan Yejun mengaduk isi tas bagian depan. Saat tangannya keluar, sudah ada sebuah ikat rambut warna hitam yang menyangkut di jari-jarinya. “Nih.”

“Iketin lah. Nanggung amat. Cape tau gue jalan kaki bolak-balik.”

Yejun meskipun masih terlihat sebal, ia menurut saja. Mengikat rambut belakang Noah dengan telaten. Sebelum selesai dia mencuri kesempatan untuk menjambak rambut Noah, berakibat pada si pemilik rambut yang berteriak sakit. Rasain, ejek Yejun balik sambil melet. Rupanya Yejun yang mau saja disuruh tidak lain karena sudah ada rencana balas dendam.

Joohon, maba malang yang menyaksikan semua itu menahan sakit hatinya yang tidak nampak. Seperti bunga yang layu bahkan sebelum sempat mekar, dia kalah bahkan sebelum dapat kesempatan untuk memulai. Dia tidak tahu ini hanya perasaannya atau benar-benar terjadi, tapi saat Yejun tidak melihat, orang bernama Noah itu meliriknya dengan congkak. Seakan pamer jika Yejun tidak akan pernah jadi miliknya. Mau tidak mau akhirnya ia mengalihkan pandangan.

“Oh iya, nanti lo pulang duluan aja. Gue masih kumpul kepanitiaan di deket rektorat sampai malem.”

“Buset dah Jun. Kata gue lo stop membabu demi seutas lanyard.”

“Kalo kata gue lo stop ngebacot.”

Dan mereka pun lanjut berdebat masalah sepele tanpa tahu malu. Meninggalkan satu orang di sarnafil itu terabaikan.

Ah, Joohon tidak tahan lagi. Dia harus pergi sebelum hatinya meradang lebih parah. “Eh... Yejun, gue balik ke gedung dulu ya. Temen ada yang nyariin hehe. Makasih buat yang tadi.”

“Ah, iya. Sama-sama. Sampai nanti ya Joohon.”

Anak itu pergi dengan canggung.

Sepeninggal maba itu, Noah menyabet botol air di meja yang tadi ia tolak. Meminumnya brutal. “Jun lo serius?? Enak banget dia, maba tapi manggil lo gak pake embel-embel apa-apa.”

“Itu gue yang minta, seumuran soalnya.”

“Dihh tetep aja.” Meskipun mereka ada dalam sarnafil, Noah masih tetap kepanasan. Air dingin yang ia baru minum juga tidak terasa membantu apa-apa mengatasi gerahnya. “Oh iya. Tadi dia bilang makasih tuh makasih apa?”

Kali ini Yejun tidak menjawab. Hanya memberi Noah tatapan yang sulit diartikan. Kecewa, kesal, bingung, emosi-emosi yang sulit diterka bercampur aduk di sana.

“Kepo.”


3

Noah melempar tasnya ke sofa begitu masuk sekretariat AKORD. Mengipasi wajahnya dengan tangan. Sedang sepi-sepinya tapi suhu ruangan 4×7 meter itu terasa gerah. Maklum, AC sekre memang rusak sejak dua bulan yang lalu. Yang tidak maklum adalah fakta bahwa anak AKORD sudah lapor tapi hingga kini masih belum ada tindakan.

“Wuis, itu tas gaada laptopnya kah bang?” Suara Hamin langsung menyambutnya. Sedikit kaget, Noah mengira tidak ada orang tadi.

Tertawa, Noah menjawab Hamin sambil merebahkan tubuhnya ke sofa, “Nggak lah! kalo sekaya Bonggu gue baru berani begitu.” Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat belum ada tanda balasan atau apapun dari Eunho. Mereka janjian untuk mengaransemen lagu bersama sore ini. “Eunho belum ke sini min?”

Hamin yang masih berada di depan layar laptopnya menggeleng sebagai jawaban. Noah melepas sepatunya, menapaki lantai tanpa karpet yang terasa dingin kemudian berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan. Mencoba peruntungannya mencari ikat rambut yang biasa Kim Herin, salah satu anak AKORD senior, simpan di laci lemari ini bersama setumpuk make-upnya. Berujung nihil, tidak ada satupun ikat rambut tersisa. Noah malah menemukan klip rambut berwarna ungu metalik. Ah, ini tidak enaknya punya rambut panjang, Noah mengeluh. Kalau sedang gerah begini keringat paling banyak ada di tengkuknya.

Namun pada akhirnya klip rambut itu diambil juga, lumayanlah untuk menyingkap poninya yang mengusik wajah.

“Lo ngerjain apa sih?” Noah menarik kursi dengan kaki dan duduk di samping Hamin, tangannya sibuk memasang klip rambut.

“Cuma liat-liat coveran kita minggu lalu.”

Hamin melirik klip rambut yang terlihat mencolok di atas rambut Noah yang berwarna kuning pucat itu. Lalu menunjuknya, “Jelek.”

Diejek begitu, Noah hanya bisa tertawa. “Gerah anjir, nggak ada kucir yang bisa di-looting.”

Mereka kembali menonton video cover di layar laptop Hamin.

“Liat di mana sih? Perasaan kita belum dikasih link gdrivenya.” Tangan Noah terulur ke touchpad, mengeluarkan video dari mode fullscreen. Hamin melirik sinis karena Noah mengotak-atik tontonannya.

“Kan kemarin udah di upload sama anak PDD bang, di Youtube official AKORD.”

“Owalah... Baru tau gue,” angguk yang lebih tua. Ia melirik details untuk melihat angka viewers yang sudah mencapai ribuan. “Viewersnya mantep tuh. Feedbacknya gimana?”

“Positif sih." Tiba-tiba mood Hamin seperti naik saat mengingat sesuatu, "Bang Yejun jadi idola dadakan.”

“Hah?”

Dengan excited, Hamin menggeser layar turun dari video. “Liat deh di comment section nya, pada nanyain sosmed bang Yejun.”

“Lo harus bacain komenannya sih bang. Nih nih liat,” Hamin menunjukkan beberapa top comment di bawah video itu.

[jz24ufd] 1 day ago
Yg rambut biru siapa?

[imjongkook97] 14 hours ago
bgs bangt, hbs dengerin ini lupa sm versi asliny. myla abangkuuh

[leemwnah] 13 hours ago
centernya yejun anak feb gasiiiiiii, ganteng banget oyyy

[ddukseudduk] 9 hours ago
great cover! ❤️❤️

[FlyingCatOnAPan] 7 hours ago
Band bentukan akord emang gak pernah gagal

[0_0529luna] 5 hours ago
Ada yang tahu sosmed rambut biru ? Tolong reply doi prodi mana dan sudah punya pacar belum

[__KENZ7__] 2 hours ago
GUE JATUH CINTA SAMA SUARA YANG BERDIRI DITENGAH

[cutiecutieppang] 37 minutes ago
buat yang nanya ini sosmed yejun(rambut biru berdirix tengah)
ig:namyjn12,twt:junjun_n,linkedin:yejunnam

[kimsarah3] reply to [cutiecutieppang] 30 minutes ago
ngapain linkedin juga😭😭😭😭

[cutiecutieppang] reply to [kimsarah3] 4 minutes ago
kkkkkk liat aja dulu,dijamin minder kamu༎ຶ‿༎ຶ

Saat Hamin masih berisik menunjukkan komentar-komentar tentang Yejun, Noah diam saja. Alisnya naik tapi tatapannya datar. Berbeda dengan Hamin yang tersenyum bangga, tidak ada senyum sama sekali di bibir Noah. Ada yang sedang ia kalkulasi dengan serius dalam kepalanya. 

“Tapi memang bang Yejun pas rekaman kemarin keren banget sih.” Ucap Hamin, lagi-lagi bangga seolah Yejun adalah kakaknya sendiri. Dia juga memberikan like pada beberapa komentar. Tiba-tiba tangan Noah terulur menghentikan pergerakan tangan Hamin yang sibuk menebar like pada komentar yang ia suka.

“Bang?”

“Jangan like yang itu.”

“Hah?” Hamin menggaruk kepalanya bingung. Dan kebingungannya bertambah saat Noah mereport komentar yang menyebar akun sosial media Nam Yejun. “Bang lo ngapain? Kenapa direport?”

“Lo anak informatika masa nggak tahu doxing sih. Yejun kena doxing nih.” Noah scroll kolom komentar dan melakukan report lagi pada komentar-komentar yang berbau tentang informasi Yejun. Anehnya komentar sejenis yang ditujukan kepada dirinya atau member lain tidak.

“Ya enggak atuh bang. Doxing itu penyebaran info pribadi.” Hamin melempar argumen dengan ketus. Agak marah karena ilmu yang ia dalami dibawa-bawa. “Emang akun sosmed termasuk info pribadi? Sosmednya bang Yejun aja gak ada yang gembokan.”

“Mereka belum izin kan nyebarinnya.”

Hamin semakin bingung. Ia melihat sendiri Noah yang mereport komentar tentang Yejun dan melewati yang lainnya. Hamin terpikir sesuatu, “Kalo gitu yang punya gue juga dong.” Dia menunjuk salah satu komentar yang berbicara tentang dirinya.

Noah membaca sekilas komentar yang ditunjuk Hamin, “Apaan gitu doang. Mau report ya report sendirilah.”

“Lahh?”

Karena kesal akhirnya Hamin menarik laptopnya paksa. Itu menghentikan Noah dari acara report mereportnya.

Hamin bergeser secara agresif dari Noah. Mengamankan laptopnya. “Bang Noah rese. Gue mau nonton sendiri aja.” Kemudian menggeser kursi dan duduk membelakangi Noah. Suhu ruangan itu terasa semakin panas tanpa mereka sadari.

Noah menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari. Sebetulnya dirinya sendiri juga bingung mengapa merasa tidak senang dengan konsistensi komentar-komentar seperti itu pada video mereka. Tapi itu hanya pikiran sampingan. Yang utama dipikiran Noah sekarang adalah bagaimana agar semua komentar itu hilang.

Sebuah bohlam imajiner menyala di atas kepala Noah.

“Hamin.”

“Hm.” Jawab yang lebih muda setengah hati.

“Yang megang akun Youtube AKORD selain anak PDD siapa lagi?”.

Hamin sebenarnya malas mengingat-ingat. “Emm... Kayaknya cuma mereka. Eh sama pacarnya bang Eunho juga. Dia kan mantan kadiv PDD, kayaknya masih megang.”

Setelah itu tidak ada lagi suara dari Noah.

“Emangnya abang mau ngapain?” Karena masih tidak ada jawaban, Hamin menoleh ke belakang, “Bang?”.

Sayangnya, Noah sudah lenyap.

1 jam kemudian, seluruh komentar yang bertanya atau menjawab terkait Nam Yejun di bawah video cover mereka telah hilang.


4

Langit pantai mendung malam itu. Menuai gerutuan Bonggu yang tidak ada ujungnya.

Sejak Hamin dan Eunho bergabung, mereka menjadwalkan main berlima setidaknya sekali tiap semester. Semester ini dengan menyewa mobil (courtesy of Chae Bonggu) mereka berlima menghabiskan dua hari mengunjungi beberapa lokasi di pinggiran kota. Dan ini adalah malam terakhir. Harusnya jika mengikuti rundown yang Bonggu buat, mereka akan mengakhirinya dengan berkemah lalu stargazing sambil tiduran di pasir pantai yang sepi. Dari aplikasi, cuaca diramalkan cerah. Tapi siapa yang menyangka kalau cuaca di pesisir selabil itu? Yang pasti bukan Bonggu.

Yejun akhirnya mengusulkan untuk membuat api unggun dan makan mie cup sebagai kompensasi. Untung saja disambut hangat oleh yang lain. Mengelilingi api unggun yang Noah buat, Yejun dengan murah hati memetik gitar dan membiarkan Hamin dan Eunho bernyanyi sepuasnya. Bonggu masih duduk cemberut sambil sesekali mengacungkan jari tangah ke langit. Hal itu memicu tawa Noah yang berkepanjangan.

Pukul 00.03 suara dari kemah lima mahasiswa itu mulai mereda. Begitupun dengan api unggun yang kini redup karena bahan bakarnya sudah habis menjadi abu dan arang. Di depannya Bonggu sudah terpejam dengan kondisi duduk dan tungkai terlipat-lipat. Hamin juga, si maknae tertidur bersandar pada Eunho. Meninggalkan Noah, Yejun, dan Eunho yang bangun untuk bebersih. Yejun tertawa melihat Bonggu yang semakin menggulung seperti nasi kepal.

“Bamby, ayo pindah ke tenda. Sakit leher lo nanti.” Ucap Yejun lembut sambil menggoyangkan bahu yang lebih muda. Yang bersangkutan hanya menggumam tidak jelas, tanda belum sepenuhnya sadar.

“Apa gue gendong ya… Anaknya nggak bangun bangun.”

“Kayak kuat aja.” Celetuk Noah yang sedang memunguti sampah di sekitar.

“Diem lo.”

Yejun membalas dengan melempar batu kecil yang mengenai Noah tepat di kepalanya. “Aduh!” Noah berseru dan mengusap-usap bagian yang sakit. “Kasar amat pak dirjen BEM—ampun!” Sebelum dilempar dengan batu yang lebih besar Noah sudah terbirit-birit membawa kantong-kantong sampahnya pergi. Mencari tempat pembuangan yang ada di sekitar situ. Yejun bersungut-sungut karena batal melempar amunisinya.

Eunho yang sedang melemparkan sisa ranting kayu ke api tergelak menyaksikan itu, “Tarik berdiri aja bang. Biar bang Bonggu jalan sendiri balik ke tenda.”

“Hah emang bisa?”

Eunho mengangguk. “Iya, dia kalo pas lagi tidur diberdiriin biasanya bablas sleepwalking.”

“Yaudah deh.”

Saat hendak menarik Bonggu, Yejun tersandung, menyenggol cup mie di dekatnya hingga tumpah. Kejadian cukup cepat hingga Eunho yang ada di sampingnya tidak cukup sigap untuk menghindar (ditambah situasi bahunya sedang disandari Hamin). Alhasil, celana sekitar pahanya kini basah oleh kuah mie instan. Yejun langsung panik dan minta maaf berkali-kali. Misi memindahkan Bonggu jadi terlupakan.

Namun seperti yang diharapkan, reaksi Eunho hanya tertawa kalem. “Duh udahh nggak apa-apaa, lagian bang Yejun nggak sengaja juga.”

“Tapi tetep aja celana lo jadi basah… lo ada spare nggak?”

“Tinggal ini sih bang hehe.”

Yejun menghela napas, maklum. Karena sesuai rencana ini memang malam terakhir mereka kelayapan. Baju ganti juga semestinya tidak bersisa, berhubung besok pagi sudah kembali ke kota.

“Ganti pake punya gue ya? Gue masih ada satu yang bersih.” Yejun menawarkan.

“Eh beneran nggak papa bang?”

“Aman kok.”

Dan begitulah ceritanya sebelum Eunho membangunkan Hamin untuk pindah ke tenda. Juga untuk menghampiri tas Yejun di sana dan mengambil celana di lokasi yang telah Yejun instruksikan.

Sweatpants abu-abu sudah didapat Eunho, tetapi baru mau beranjak mencari toilet di selasar kios pantai, dia bertemu Noah. Sepertinya orang paling tua di sirkel mereka itu berhasil bertemu tempat pembuangan melihat dua tangannya kini kosong dari kantong sampah.

Noah mengangkat alisnya dan menarik gulungan kain di tangan Eunho. “Apaan nih?”

Eunho mengernyit dan menarik celana itu balik.

“Oh ini, celana gue basah ketumpahan kuah mie nya bang Yejun,” Eunho menunjuk noda basah dan berbau kaldu di celananya, “ini mau ganti.”

“Ya maksud gue kenapa celana Yejun gitu?”

Eunho semakin mengernyit, “Ya karena orangnya tanggung jawab minjemin? Bang, lo kenapa si?”

Noah tanpa berpikir langsung berkata, “Pake punya gue aja.”

“Hah?”

“Lo ganti pake punya gue, celananya Yejun siniin.”

“Emang cukup?”

Satu jitakan mendarat di kepala Eunho dengan pedas.

“Gini-gini kaki gue panjang ya.”

Eunho menggaruk kepalanya. Masih linglung dengan situasi. Bau mie instan dari celana Eunho tercium naik.

“Ish udah gue pinjemin aja, cepet kesiniin celananya Yejun.” Lalu Eunho yang masih tidak paham situasi hanya menurut, mengulurkan sweatpants abu-abu Yejun yang masih berbau wangi deterjen. Kemudian mengikuti Noah untuk mengambil celana ganti yang dia maksud.

Aneh sekali. Setiap hari dia memang aneh, tetapi baru malam ini Han Noah bersikap sangat aneh, pikir Eunho.

Saat sampai, bersih-bersih oleh Yejun rupanya sudah hampir selesai. Api sudah dimatikan. Peralatan sudah dibereskan. Hanya tinggal mereka yang tersisa untuk masuk tenda dan beristirahat (kecuali siapapun yang akan berjaga). Yejun menyadari celana Eunho yang belum diganti dan bertanya. Noah melirik Eunho untuk diam lalu menjawab sendiri dengan mengarang bebas. Yejun hanya tertawa dan manggut-manggut. Entah aware dengan masalah sebenarnya atau tidak.

Ini semua memang semakin aneh, tapi apapun yang sedang berlangsung di antara Noah dan Yejun, Eunho belum berani berspekulasi.


5

“Gue liat lo tadi ngapain.” todong Chae Bonggu saat kakinya sudah sampai pada bingkai pintu ruang instrumen AKORD. Kesabarannya sudah habis di jalan. Maunya langsung menghakimi si rambut pirang tanpa tedeng aling-aling.

Noah sendiri sedang ada di depan keyboard. Jari-jarinya menari lincah di atas tuts, memainkan melodi acak yang sedari tadi melantun dalam ruang penuh instrumen musik itu.

Bonggu tahu Noah tidak akan menggubrisnya. Tapi tetap saja Bonggu bicara. “Lo tadi ke FEB kan? Gue sempet liat lo di gedung A”.

Noah masih asyik dengan permainannya.

“Ih bang!” Akhirnya Bonggu berjalan mendekat. Setelah melintasi ruangan yang cukup luas itu dia langsung duduk di kursi yang sama dengan Noah. Kursi itu memang dimaksudkan untuk pemain keyboard, ia memiliki permukaan yang sempit karena didesain untuk satu orang. Dengan Bonggu ikut duduk di atasnya, Noah jadi tergeser.

Tapi tidak. Noah masih belum terdistrak sedikitpun. Bahkan saat bagian samping badan mereka saling menempel, berebut tempat duduk. Noah masih fokus memainkan keyboard.

Bonggu jadi kesal.

Diluar prediksi, Bonggu langsung mengangkat jarinya. Pada kunci yang memiliki nada tinggi, Bonggu menekannya. Tentu saja melodi yang sedang dimainkan secara mulus oleh Noah langsung rusak. Hancur oleh bergabungnya satu nada melengking yang dibunyikan tanpa henti.

Noah langsung berhenti bermain, tetapi ia tidak marah. Noah malah menertawakan Bonggu yang menatapnya dengan alis menukik. Menurutnya pemandangan itu ditambah suara melengking dari tuts yang ditekan Bonggu sangat lucu. “Dasar tukang ketawa!” Akhirnya si rambut pink melepas jarinya juga. Nada yang berbunyi menyakitkan tadi menguap hilang.

“Apa-apa diketawain. Padahal gue serius.”

“Iya iya maaf...” Noah minta maaf padahal masih tertawa kecil. “ Eh lo nggak bisa pindah duduk ke mana gitu napa Bam? Sempit banget.”

“Ck.” Dengan terpaksa Bonggu berdiri lalu duduk di kursi terdekat. Letaknya ada di samping keyboard. Jadi kini posisinya dia berseberangan dengan Noah.

Noah mulai meletakkan jari-jarinya lagi di atas tuts. Dia akan mulai bermain lagi, tapi tidak jadi karena Bonggu keburu mencabut adaptor yang terhubung pada keyboard. Mengakibatkan benda elektronik itu mati dalam sekejap.

Sekali lagi, Bonggu menguji kesabarannya. Tetapi Noah tetap tidak marah. Dia menghela napas dan mengangkat tangan menyerah. “Iya gue ke gedung A FEB tadi pagi. Kok lo tau sih?”

“Bang? Gue literally kuliah di situ tiap hari.” Bonggu melempar tatapan heran.

“Oh iya heheh.”

“Nggak usah heheh. Mending jelasin kenapa lo habis labrak orang di sana.”

Noah menggoyangkan kakinya. Ada perasaan gugup tapi mau bagaimana lagi? Cepat atau lambat perbuatannya juga pasti akan diketahui teman-temannya. Mengedikkan bahu, si rambut pirang hanya menimpali, “Lo sebut labrak, gue sebut ngingetin.”

Bonggu menatap Noah tajam. Sudah capek pada orang yang berusia satu tahun di atasnya itu. Ngeles terus.

Jujur Noah tidak kuat dengan tatapan Bonggu yang seperti itu. Kedua mata bulat besar dengan bingkai yang menukik itu serasa menginterogasinya tanpa ampun. “Ok fine. Tuh cewe deketin Yejun. Gue lihat dia gak qualified, red flag malah. Udah gue bilangin buat mundur lewat dm tapi masih nekat mepet terus. Yaudah deh gue samperin ke fakultasnya. Yang mana kebetulan aja fakultas lo.”

“Udah berapa kali lo gini bang?”

Han Noah tanpa sadar menghindari mata Chae Bonggu. “Baru tiga kali.” Bonggu menaikkan satu alisnya.

“Empat. Lo udah labrak orang soal hal yang sama empat kali.”

“Iya dehh, empat. Tapi ngapain sih lo ngurusin segala?”

“Coba bilang itu ke diri lo sendiri. Ngapain lo serepot itu ngurusin urusan bang Yejun.” Keberanian Bonggu terhitung cukup mengerikan untuk mengatakan hal seperti itu. Secara teknis, Noah berteman dengan Yejun lebih lama dari pada dirinya. Jauh lebih lama. Tapi itu tidak penting. Yang penting bagi si anak konglomerat itu adalah pertemanan mereka berlima. Dari semua orang, Bonggu adalah yang paling tidak ingin persahabatan mereka bubar. Bonggu sayang sekali pada mereka berempat. Saking sayangnya, kadang kala ia sampai berpikir bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab untuk mengurai segala sesuatu yang tidak beres di antara mereka.

Termasuk yang sekarang sedang berlangsung pada dua pilar circle mereka.

Noah menunduk dan menekan tuts, tidak peduli jika keyboard itu tidak mengeluarkan suara apapun. Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya.

“Bang Yejun gak tahu kan soal ini?”

Noah menggeleng.

“Lo sadar gak sih bang, dengan ngelakuin ini lo tuh nutup jalan bang Yejun dari orang-orang yang mungkin jadi pacar potensialnya dia. Yang mungkin aja bakal jadi masa depannya dia.”

Yang lebih tua masih menutup mulut, maka Bonggu melanjutkan.

“Kalo lo gini terus lama-lama hubungan kalian makin nggak sehat tau bang.”

Noah berdecak. Akhirnya terpaksa mengangkat topik yang paling tidak dia suka.

“Lo inget Yejun putus sama monyet FK pas semester tiga?”

Bonggu menaikkan satu alis, “Monyet FK? Senior Kangmin maksudnya?”

“Iya itu, anak monyet.” Noah spontan merasa jijik mendengar nama itu lagi setelah sekian lama. “Sore setelah mereka putus, tiga malam penuh Yejun nangisin tuh cowo. Nangis beneran. Kek ada air mata ngalir sama sesenggukan, dia gitu semaleman selama tiga hari.”

Bonggu terhenyak. Dia baru mendengar ini.

“Seinget gue cuma sehari doang…”

“Ya maklum kalo lo gak tau, waktu itu lo, Hamin, sama Eunho kan belum begitu kenal sama kita. Yejun siangnya pas ketemu kalian aja berlagak ketawa-ketiwi, malemnya nangis-nangis kaya orang bego.” Emang bego, Noah meralat dalam hati. “Dan gak berhenti di situ, gara-gara itu Yejun sampai empat mingguan jadi nggak semangat ngapa-ngapain, bahkan kuliah. Padahal lo tau sendiri dia yang paling niat kuliah diantara kita.” Tangan Noah mulai mengacak rambutnya sendiri. Kemudian memegangi kepalanya seolah frustasi. “Belum tentang yang dia habisin uang buat beli es krim sama coklat. Gara-gara galau katanya.”

Bonggu masih belum bersuara. Agak kaget pada fakta tentang Yejun yang baru ia terima.

“Padahal juga gue udah marahin dia bisa-bisanya galauin tukang selingkuh? Tapi mana mau Yejun dengerin gue? Lo tau sendiri kan Yejun orangnya kaya gimana.” Bonggu mengangguk patah-patah. Setuju dengan poin betapa keras kepalanya Nam Yejun.

“Ya karena itu. Gue nggak mau lagi kejadian kaya gini keulang. Dan buka peluang ke orang yang deketin Yejun sama aja buka peluang buat dia patah hati lagi. Gue nggak mau Yejun patah hati lagi.”

“Sebagai temen gue cuma mau lindungi dia.”

Kemudian hening. Baik Noah maupun Bonggu tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Satu hembusan napas Bonggu memecah keheningan, “dan lo yakin semua itu cuma karena lo ‘temen’nya bang Yejun?” Noah tidak menjawab. Awalnya dia membuka mulut, tapi ditutupnya lagi disusul dengan menundukkan kepala.

Bonggu menggeleng. “Enggak. Lo lakuin itu karena lo suka sama bang Yejun.” finalnya.

Dan atas pernyataan itu, Han Noah tidak memberikan objeksi apa-apa.

“Gue tetep kasih tau bang Yejun soal yang tadi.”

Dan begitu saja Bonggu pergi.

Noah tidak melihat atau melirik kepergiannya sama sekali. Tangannya memasang adaptor kembali ke lubangnya, lalu jemarinya naik lagi ke atas tuts keyboard, menekan kuncinya kasar. “Ya, kasih tau aja. Yejun gak mungkin marah ke gue.” Bisiknya tidak peduli pada keyboard yang tidak bersalah.

Meski dalam hati cukup takut bila Yejun akan menjauhinya setelah ini.


+1

“Maaf yah bang bukannya mau ikut campur, tapi mending abang cek lagi deh status kalian berdua itu apa.”

Yejun makin membenamkan wajahnya ke bantal. Namun makin dalam ia mendusal di sana, makin berisik suara-suara di kepalanya. Sore pukul 15.14 tadi Bonggu menemuinya saat keluar gedung B fakultas. Bukan sapaan yang ia terima, melainkan Bonggu yang langsung menyeretnya masuk ke dalam mobil. Mobil Bonggu, tentu saja. Yejun mana punya mobil.

Di dalam mobil rupanya sudah ada Eunho dan Hamin. Apa yang ia terima kemudian serentetan cerita dan laporan ini itu tentang Noah dan apa yang ia lakukan belakangan. Semua cerita di mana sikap Noah mengenai Yejun sudah tidak wajar jika disebut teman biasa.

Hamin, Eunho, terutama Bamby sudah menunggu Yejun mengamuk atau paling tidak memblokir Noah. Tapi tidak ada tebakan yang sesuai. Yejun tidak marah, tidak kaget, tidak salting, tidak ada reaksi yang berarti. Dia hanya tersenyum. Senyum yang berbunyi ‘yaudah sih?’.

Masalahnya di jauh hari, Yejun sudah menduga kemungkinan hal seperti ini akan terjadi. Kata siapa dirinya oblivious? Yejun itu cerdas, secara intelektual dan emosional. Dia sudah tahu selaku teman, Noah kerap bersikap over posesif pada dirinya. Yejun bahkan sudah punya persenan tebakan tentang seberapa banyak Noah naksir padanya. Dia bisa saja langsung bertanya pada Noah tentang ini. Dia selalu bisa melakukannya. Masalahnya adalah, dia tidak tahu dengan dirinya sendiri. Apakah dia merasakan hal yang sama? Apakah dia bisa mengembalikan semua perlakuan spesial yang Noah berikan? Yejun tidak tahu jawabannya.

Biarkan aku memberimu sebuah fakta: Yejun tidak pernah jatuh cinta sebelumnya.

Dia tidak pernah memiliki perasaan romantis untuk orang lain. Tidak ketika cinta dari keluarga, teman, hobi dan nilai bagus saja sudah cukup untuknya. Pernah berkencan, berpacaran, ya. Tapi saat itu dia melakukannya bukan karena sungguh-sungguh menyimpan rasa. Apakah untuk coba-coba saja? Apakah untuk mengetahui reaksi orang di sekitarnya? Ada banyak alasan, tapi perasaan suka tidak pernah jadi salah satunya.

Terakhir kali ia menjalin hubungan pun karena dia ditembak duluan. Yejun menerima dengan niatan untuk tahu pacaran itu seperti apa. Sebelum pacaran betulan dengan Noah—UHUK—kalau kalau suatu saat Noah jadi menembaknya. Namun endingnya malah dia diselingkuhi. Saat hal itu terjadi, hal pertama yang Yejun pikirkan bukanlah Kangmin, pacarnya yang selingkuh, tapi justru Noah! Yejun membayangkan suatu saat Noah juga akan menyelingkuhinya jika mereka pacaran. Aneh sekaligus brengsek si Yejun ini memang. Tapi itulah yang sebenarnya terjadi.

Dia jadi sedih sekali waktu memikirkan itu. Apalagi setiap melihat Noah yang masih mengguyurnya dengan perhatian. Memeluknya, mengusap punggungnya, mengelap air matanya, sampai memisuhi mantannya, Noah lakukan untuk Yejun hingga tiga malam pasca putus terlalui. Noah seperhatian ini dan sesayang ini padanya, tapi untuk apa? Untuk apa jika suatu saat Noah akan bosan lalu mengkhianatinya juga? 

Pikiran yang liar dan over generalized tentunya. Namun nyatanya itulah yang membuatnya galau hingga berminggu-minggu.

Dengan Noah yang masih bersikap sama padanya, dan Yejun yang masih belum memahami perasaannya sendiri, mereka berdua melanjutkan opera sabun tersebut.

Hingga akhirnya para penonton, berikut ketiga teman dekat mereka, merasa terganggu dan turun tangan.

Yejun melempar bantal ke tembok. Jam digital di nakasnya menunjukkan angka 17.10, sudah hampir malam. Yejun ingin melakukan sesuatu sebelum hari ini berakhir. Kamar kos Noah berada di sampingnya dengan jarak tepat satu kamar saja. Kemungkinan dia sedang tidur, atau work-out, atau tidak keduanya. Tidak penting sih. Mengunjungi kamar satu sama lain adalah hal paling dasar yang mereka lakukan sejak saling mengenal. Seharusnya yang ini pun bukan masalah besar, kan?

Akhirnya Yejun berdiri dan keluar dari kamar. Berjalan lurus hingga berhenti di depan pintu kamar Noah. Apa-apaan ini? Sejak kapan Yejun ragu untuk mengetuk kamar Noah? Ini pasti karena omongan Bonggu tadi. Akhirnya si rambut biru menarik napas dalam dan memantapkan hatinya, Yejun mengetuk pintu kamar kos Noah tiga kali.

Iya siapa? Buka aja!

Tanggapan sang pemilik kamar terdengar acuh tak acuh seperti sedang sibuk melakukan sesuatu.

Jangan minggir dulu ah kenapa sih! Masa gue yang harus gendong lagi?!

Yejun pun memutar kenop. Pintu terbuka menampakkan Noah yang sedang sibuk dengan ponselnya, dia memegangnya dalam posisi landscape. Si pirang itu duduk di tempat tidur dengan bersila dan punggung menempel tembok. Rambut bagian belakang dikucir asal-asalan. Sedang nge-game ternyata, Yejun tanpa sadar merasa lega dalam hati.

“Ah tolol!” Umpatnya pada entah siapa dalam game yang sedang ia mainkan. Noah melirik ke depan menemukan Yejun yang berdiri canggung di bingkai pintu.

“Lah Jun? Perasaan gue udah ratusan kali bilang kalo lo mau masuk kamar kos gue masuk aja elahh. Ketok-ketok kaya siapa aja.” Keluh Noah dengan nada frustasi. Masih terbawa emosi dari permainan di ponselnya yang apes.

“Ya tetep harus ketok dong. Kalo lo lagi gak pake baju gimana?”

“Yaudah.”

Yejun memutar bola mata mendengar jawaban setengah hati itu, mengklarifikasi, “Yaudah gimana?”

“Ya… udah. Telanjang.” Jawaban yang seenaknya itu menandakan perhatian Noah sudah sepenuhnya tersedot ke dalam game lagi.

Yejun tertawa geli. Masuk dan menutup pintu di belakangnya.

“Mabar sama siapa sih? Gak ajak-ajak.” Yejun naik ke tempat tidur dan beringsut duduk di samping kiri Noah. Dia melipat kakinya hingga menempel dada dan ikut bersandar pada tembok. Tangannya memeluk lutut lalu kepalanya diletakkan di atasnya.

“Sama temen kelas.” Noah dengan emosi sekali lagi mengumpat pada rekan mainnya di antah berantah. “Tapi payah tau, masa gue yang gendong terus mainnya.”

Yejun bergeser mendekat hingga ujung bahu mereka bersinggungan dan mengintip layar Noah, “Lo make assassin sih.”

“Assassin kalo mainnya jelek ya jelek anjir.” Gerutunya. “Bamby noh lo kasih assassin juga dia tetep beban.”

Yejun tertawa kencang. Noah dan sifat sok jagonya selalu menggemaskan.

“Tapi mayan kan, kalo menang mereka dapet coklat lo kuning.”

“Ya kalo menang,” Gerutu Noah. “Ini aja udah mau defeat.” Pesimis pada permainan yang sedikit banyak tidak mungkin membawa dirinya jadi MVP. Yejun hanya mengangguk-angguk setuju. Kelihatan dari base yang sudah dikeroyok sementara hanya terlihat hero Noah yang ada di sekitar situ. Berjuang mati-matian.

“Yejun.”

“Apa.”

“Iketin ulang rambut gue dong. Tangan gue sibuk nih.” Noah menoleh ke kanan. Dia menunjukkan bagian belakang kepalanya, tempat di mana seikat rambut pirang awut-awutannya berada. (Dia melakukan ini dengan matanya yang masih menempel ke layar HP).

Yejun diam sebentar. “Kalo jari lo tinggal tiga deh gue iketin.”

“Bujug iya iya dah nanti gue iket sendiri. Serem amat.”

Yejun tertawa lagi. Dengan Noah yang masih sibuk nge-kill musuh-musuhnya, Yejun otomatis langsung menunda pembicaraan yang dia bawa. Tidak kondusif kalau dia bicara sekarang. Maka Yejun memilih untuk menunggu orang di sampingnya memenangkan game dan berhenti mengumpat terlebih dahulu. Yejun beralih melirik foto-foto yang ditempel dan disusun acak di pintu lemari baju si rambut pirang. Lirikan berganti tolehan. Yejun memutar kepalanya ke kiri, telinga kanan menempel lutut. Ia kini sepenuhnya menghadap lemari itu. Matanya memindai setiap lembar cetak yang Noah tempel di sana. Mayoritas foto Noah sendiri yang berpose di gym, mirror selfie baju ketekan pamer otot. Tipikal, Yejun mendengus.

Selebihnya ada foto bersama teman atau keluarga, ada juga foto objek random. Namun ada satu foto yang paling menarik perhatian Yejun setiap kali masuk ke kamar Noah, yaitu foto mereka berdua saat kelulusan SMP.

Yap, benar. Yejun dan Noah telah berteman cukup lama. Mereka bahkan sudah saling kenal sejak SD. Ketika kebanyakan orang hanya menghabiskan waktu bersama sahabat mereka sepanjang satu jenjang pendidikan, Yejun dan Noah melakukannya selama 4 jenjang (universitas dihitung). Apakah tidak bosan?

Bosan sekali! Sangat bosan! Kalau kata Yejun.

Aku muak melihat wajahnya. Kalau kata Noah.

Tapi nyatanya mereka masih menemui satu sama lain, bahkan mengambil kos di tempat yang sama saat kuliah. Old habits die hard, kalau kalian tanya Yejun.

Dalam foto yang mulai menguning itu, Yejun masih belum setinggi sekarang, sedangkan Noah belum se-bulky sekarang. Noah merangkul lehernya erat. Mereka membawa satu buket bunga yang dipegang bersama-sama. Tanpa pose yang berarti keduanya hanya tersenyum lebar—nyaris tertawa—pada kamera. Terlihat begitu bahagia meskipun hanya mengambil latar belakang tembok bertegel nama sekolah yang suram. Yejun masih ingat sekali itu adalah kakaknya yang mengambil gambar, sementara yang membawakan buket bunga adalah bundanya Noah.

Waktu seperti berjalan lambat di kamar itu. Yejun masih tenggelam dalam memori, kepalanya juga masih nyaman bersandar di atas dua lututnya, tidak menyadari Noah sudah berhenti mengeluarkan berbagai cacian di sampingnya. Tanda sudah selesai bermain. Si pirang meletakkan ponselnya menjauh, mengulang ikatan rambutnya yang kendor. Dia lalu menoleh untuk memandangi kepala Yejun yang membelakanginya.

“Nam Yejun.” lirihnya.

Yejun tidak bergerak, pun menjawab. Entah karena volume suara Noah yang terlalu rendah yang membuatnya tidak dengar atau memang malas menanggapi saja.

Noah melirik jam dinding sekilas. Dengan detak jantung yang berdentum-dentum di dalam dadanya, dia akhirnya mengambil resiko. Pada saat jarum jam tepat berhenti di angka enam, mulut Noah mengatakan sesuatu yang serius dengan nada paling sembarangan yang pernah dia keluarkan. “Gue suka sama lo, ayo pacaran.”

Tidak butuh satu detik untuk menunggu reaksi dari Yejun. Noah sendiri juga tidak menyangka kalau reaksi Yejun akan berupa: menolehkan kepala secepat kilat dibarengi dengan mendorong Noah hingga jatuh ke alas tidurnya. Sekejap kemudian si rambut biru sudah bangkit untuk menarik kerah Noah kasar dan menduduki tubuhnya.

“LOH LOH JUN MAU NGAPAIN?!” Noah kebingungan. Dalam waktu sore hari begini, jendela kamarnya yang menghadap arah timur laut tidak memberikan penerangan yang cukup untuk melihat wajah Yejun dan ekspresi apapun yang kini sedang ia pakai. Noah memaki dirinya di masa lalu (red: 30 menit yang lalu) kenapa tadi tidak berinisiatif menghidupkan lampu saat Yejun datang bertamu.

“Jun… lo tuh beratt, sesek woi! Lo duduk atas perut gue hoekk! Isi perut gue kek mau keluar semuaa!” Noah protes sambil mengeluarkan suara aneh. Juga terbatuk, dampak dari tarikan kerah yang mengencang oleh Yejun.

Masih belum ada reaksi dari Yejun. Noah mendengar secara kasar suara napas Yejun yang terkesan… emosi? Apa dia marah?

“Enteng banget ya…” Han Noah merinding. Suara Yejun barusan terdengar marah sekali.

“Enteng banget lo ngomong gitu. Enteng banget sekarang bilang pacaran pacaran. Lo tau gak sih udah berapa lama gue eneg sama lo yang terus-terusan perlakuin gue lebih? Padahal status kita cuma temen?? Gue gak tahu ya gue suka sama lo apa nggak, tapi kalo lo perlakuin gue kaya begitu terus gimana gue nggak ngarep coba?! Ditambah gue denger sekarang lo gatekeep gue?? Mau gue kesepian terus lo ya?? Kalo tiap ada yang mau deketin gue lo singkirin minimal jadiin gue pacar kek? Gue udah nungguin lamaa banget tapi lo nggak nembak-nembak sampe—sampe, sampe tadi…”

Yejun terdiam sekejap, pipinya memerah saat ingat kalau Noah baru saja menembaknya. Di bawah, Noah tersenyum-senyum menggoda membuatnya kesal, tapi Yejun pilih melanjutkan, “Tahun lalu gue nyoba pacaran sama orang lain biar lo berhenti, tapi lo masih aja ngerecokin. Udah capek gue ngingetin soal batasan tapi lo gak pernah peduli! Dikit-dikit lo pura-pura sakit biar gue batal ngedate dan nemenin lo kan?? Ngaku! Sadar gak, gue mulai berantem sama Kangmin tuh gara-gara lo? Pas hubungan gue kandas juga jangan-jangan lo seneng???”

“Lah?? Dia duluan yang selingkuhin lo kok!” Sangkal Noah tidak terima.

“Iya tapi tetep aja—!” Dan Yejun berhenti tiba-tiba.

Pegangannya pada kerah baju Noah mengendur. Kepalanya juga perlahan menunduk. Dadanya naik turun kasar, napasnya seakan habis disebabkan rap freestyle yang baru saja ia semburkan pada Noah.

Ketika napas Yejun mulai kembali stabil, Noah melembut dan bertanya, “Capek? Istirahat dulu kalau capek.”

Di atasnya, Yejun menggeleng.

“Udah keluar semua berarti?”

Yejun mengangguk dua kali.

“Terus ini, lo mau jadi pacar gue atau—?”

Ada suara isak lirih. “Mau…”

Noah tertawa kecil, gemas. “Yaudah sini peluk. Nggak usah nangis, cup cup.” Dalam posisi masih berbaring, Noah membuka lengannya. Yejun langsung menjatuhkan tubuh, memposisikan wajahnya di samping kepala Noah. Helai helai rambut biru gelap dan kuning pucat bertabrakan. Yejun memeluk pacarnya dan memejamkan mata erat-erat.

Haha, pacar. Akhirnya kesampaian juga satu kata itu di fase hubungan panjang mereka berdua.

“Tapi Noah,”

“Hmm?”

“Kalo gue gak bisa suka sama lo balik gimana?”

“Lah ini kan lo lagi suka sama gue?” Noah tertawa dan mengeratkan pelukannya. “Literally badan lo lagi nempel di atas gue anjir mana mungkin lo gak suka sama gue?”

Ah.

Noah benar.

Mana mungkin dia tidak menyukai Noah?

Ketika dia bertahan hampir 15 tahun bersama Noah. Ketika dia tidak pernah komplain dengan semua perlakuan spesial Noah. Ketika dia tidak bisa menolak semua permintaan Noah. Ketika Noah adalah yang pertama kali dia pikirkan saat dia putus. Ketika hanya dengan memikirkan Noah mengkhianatinya saja, dia sampai menangis berhari-hari.

Mana mungkin dia tidak menyukai Noah. Noah benar. Entah dia sedang gashlighting atau tidak, tapi sepertinya dia benar. Yejun percaya padanya.

Hati Yejun menghangat. Jadi selama ini Yejun jatuh cinta? Dia tidak menyadarinya.

“Tapi Noah,”

“Apa lagii?”

“Jangan selingkuhin gue ya.”

Noah tidak menjawab. Yejun yang ketakutan langsung mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Noah.

“GPA lo 4 kan? Pikir sendiri ya sayang.” Yejun merasakan tangan kanan Noah pergi ke belakang kepalanya lalu menarik wajah Yejun turun. Dan Noah menciumnya seperti itu.

Di luar langit mulai gelap. Mereka masih ada dalam posisi yang sama hingga beberapa menit kemudian. Setelah Noah menciumnya di bibir, Yejun balas menciumi wajah Noah. Noah mengaku jika menurutnya Yejun itu menggemaskan, Yejun balas bilang di matanya Noah itu cantik. Mereka banyak bertukar pengakuan yang selama ini mereka pendam sendiri. Dan itu membuktikan lebih jauh bahwa Yejun memang sudah jatuh pada Noah sejak lama. Sekali lagi, dia hanya tidak menyadarinya.

Dan hari ini Noah menyadarkannya.



“Nam Yejun, pindah posisi dong. Ampek dada gue, lo berat banget blergh—”

Notes:

RRrrah akhirnya saya kesampaian nulis noye di ao3 juga...
Oya! Nama-nama oc yang ada di work ini murni fiksi ya, tidak berasosiasi dengan tokoh nyata manapun. Saya ngarang betulan itu pas nulis.
Makasih ya sudah membaca!

@yejuncengkok on twt