Chapter Text
Kalau bukan demi papaku, aku mungkin sudah membanting tasku ke wajah pria di depan lalu keluar dari ruangan sambil membanting pintu.
Pagi ini aku sedang melaksanakan interview kerja. Pria di depanku adalah calon bos di tempat aku melamar pekerjaan. Sedari awal pertemuan, pria itu sudah menguji perasaanku agar tidak terbawa emosi.
Tenang Maggie. Aku mendengus samar, mengingatkan diri.
Apa tadi alasannya? Ada tele conference dengan Menteri Keuangan Afrika? Yang benar saja! Pria itu membuatku menunggu selama sejam, planga-plongo seperti orang tolol karena tidak tahu harus ngapain. Dan, sekarang dia dengan seenaknya bilang CV-ku biasa saja?
Pria itu melemparkan CV milikku ke atas meja, seakan itu hanya kertas biasa tak berarti. Ia menatapku santai.
"Aku membutuhkan staf yang bisa diandalkan. Bisa melakukan banyak hal. Gesit. Lincah. Pintar. Siap bekerja kapanpun aku membutuhkannya. Pelamar super." Mata pemuda itu seakan menerawang ke dalam diriku, berbicara pada sisi terdalamku. "Kamu sepertinya tidak cocok, Maggie."
Sebisa mungkin aku tidak menunjukkan wajah masamku kepadanya. Astaga, ternyata sifatnya masuk ke dalam sifat orang-orang yang paling aku benci. Sombong. Sebisa mungkin aku tidak menunjukkan wajah masamku kepadanya. Tipikal orang seperti ini suka melihat kemarahan lawan bicaranya. Wajahnya yang tampan dan matanya yang menawan sangat berbanding dengan mulutnya.
Apakah seluruh keluarganya seperti ini? Terlalu percaya diri. Lagian pede sekali dia mengatakan itu padaku. Kantornya ini masih kosong melompong, belum ada satu pun staf dan dia berani berucap begitu?
Tahan Maggie, aku mengingat diri sekali lagi. Aku hampir saja berteriak di depan wajahnya: aku bisa melakukan itu semua, ya! Tidak peduli jika dia berbeda 5-6 tahun denganku, tidak peduli keluarganya orang berada, akan aku kulempar tasku di lantai ke wajah songongnya. Jika dia akan melapor ke pamannya, orang yang memperkerjakan Papa, ih Dasar Pengadu! Egonya saja yang sebesar monas, disentil sedikit langsung menjadi orang paling disakiti di dunia.
Aku mendengus samar. Baiklah, jika itu yang pria ini mau, ingin mengujiku dengan merendahkanku seperti ini, oke. Akan kubalas. Strategiku untuk membalasnya langsung tersusun di kepalaku. Berhadapan dengan orang seperti ini, jika ingin melawannya, kalian harus menjatuhkan egonya. Serendah yang kalian bisa.
"Kalau boleh tahu, Pak. Konsultan ini nanti di bidang apa?" Aku melancarkan pancingan pertamaku pertama. Menunjukkan aku masih tertarik untuk mengambil pekerjaan darinya. Kemudian, nanti saat dia mulai tertarik padaku, akan kutolak dia mentah-mentah.
"Ya, keuangan. Rekayasa keuangan tingkat tinggi tepatnya."
Bagus, diterimanya. Lihat, wajahnya tampak sedikit senang.
Aku menganggukkan kepala.
"Kliennya nanti siapa aja ya, Pak?"
Pemuda itu tertawa, seakan dia sudah menjadi konsultan elit dan itu merupakan jawaban yang retoris. "Banyak. Salah satunya negara Afrika yang baru saja mengalami inflasi gila-gilaan. Mereka semua pusing, mulai dari presidennya hingga lembaga keuangan dunia saja tidak punya solusi untuk negara tersebut. Lalu, mereka baru saja meneleponku."
Aku mengangguk-angguk, mengikuti kesenangannya menyombongkan diri.
"Lantas, apa solusi yang Bapak miliki?" Aku bertanya kembali.
Pemuda itu menatapku. Mungkin ia mulai bertanya-tanya, mengapa aku cerewet sekali bertanya padahal ini interview. "Solusi apa?" tanyanya.
Jackpot! Hah, ketemu! Itu kelemahannya. Dia belum memiliki solusi yang tepat untuk permasalahan barusan. Selanjutnya, aku memberikan pancingan kedua. Memberikan komentar.
"Solusi Bapak dalam menyelesaiksn inflasi gila-gilaan itu. Jika dilihat Bapak sebenarnya tengah memikirkannya, kan? Jadi, solusi untuk negara Afrika ini bukan ketemu, kan?"
Pemuda itu diam sebentar, seakan mencerna apa yang sedang terjadi. Matanya tampak lebih antusias, ia memperbaiki posisi duduk. "Iya, aku sedang memikirkan beberapa opsi."
Bagus, pancingan keduaku diterima juga. Baiklah, saatnya membuatnya kagum.
"Kalau begitu, Bapak membutuhkan banyak data, informasi, selengkap mungkin, untuk mengambil opsi terbaiknya. Informasi yang diberikan dari para pejabat, menteri-menteri, bahkan lembaga keuangan belum dapat membuahkan solusi yang Bapak inginkan, kan? Kalau begitu, Bapak membutuh seseorang yang bisa mendapatkan informasi sedetail detail-detailnya. Mulai dari sepotong kalimat, angka, secuill fakta yang tidak diperhatikan, hal-hal ini bahkan dapat membantu Bapak untuk memberikan solusi yang pas dalam menyelesaikan masalah ini. Rekayasa keuangan tingkat tinggi."
Aku mengakhiri kalimatku. Lihatlah, pria itu terdiam mendengar komentarku. Matanya membulat, semakin antusias dengan ketertarikan palsuku terhadap pekerjaannya.
"Kau benar, Mag. Aku membutuhkan seseorang yang dapat mencarikanku informasi detail-detailnya." Pria itu tersenyum. Senyuman yang bisa melelehkan hati jika aku tidak ingat aku sedang berusaha menjatuhkan egonya. Aku harus bertahan.
"Baguslah Bapak menyadari hal tersebut, karena sayangnya hanya sedikit orang yang dapat mengerjakan hal tersebut. Dan pemilik CV yang tadi Bapak lemparkan itu merupakan salah satu dari sedikit orang itu." Suaraku terdengar ketus, kusengajakan. Biar dia berpikir dirinya dapat memancingku kembali.
Pemuda itu terdiam sejenak, kemudian tertawa. Tawanya terdengar renyah dan enak didengar, seakan kegembiraan yang dia rasa dapat menular kepada orang-orang di sekitarnya. Tawanya juga terdengar dia tidak sedang mengejekku, melainkan dia tidak percaya aku akan membalas kekesalanku seperti itu. Aku meremas jemariku. Sabar Maggie, sedikit lagi.
Setelahnya, ia menatapku penuh binar bahagia. Aku tersenyum dalam hati. Sekarang kau menginginkanku. Pancingan ketigaku sukses mendapatkannya.
"Baiklah, sepertinya kita tidak perlu berlama-lama lagi interview. Langsung saja, apakah kau mau menjadi stafku, Maggie?"
Aku memberikan senyuman terbaikku. Sorot mata pria itu semakin antusias. Aku tertawa dalam hati. Here it comes!
"Tidak," jawabku santai.
"Eh?" Seketika binar di matanya mulai meredup. Oh, sungguh menyenangkan melihatnya.
Aku menyeringai tipis. Sukses sudah strategiku untuk menyakiti ego kecilnya. "Saya tidak lagi berminat untuk menjadi karyawan Anda, Pak."
Thomas, pria yang duduk di depanku, terdiam. Ia memperbaiki posisi duduknya. Berdeham. Tampak berusaha memperbaiki raut wajahnya agar tampak antusias. "Aku minta maaf jika sebelumnya aku keliru menilaimu. Kau sepertinya staf yang aku cari-cari selama ini. Sekretaris dengan kemampuan super power—"
"Kalau begitu, Anda bisa meminta seseorang yang ahli dalam bidang teknik untuk membuatkan sebuah robot pintar, cantik, gesit, agar bisa mengisi posisi tersebut." Aku menjawab dengan tenang. Mungkin tak terlihat, tapi bibirku tengah mengukir senyuman kecil. Aku tahu jawabanku terdengar menggelikan, tapi yasudahlah.
Thomas kembali diam. Kemudian, ia menahan tawa.
"Kita bekerja dengan akal logika dan analisis statistik. Aku tidak tertarik menggunakan hal ribet seperti itu untuk mengembangkan kantor firmaku, walau tentu mereka bisa lebih gesit dalam mencari informasi. Tapi yang kubutuhkan adalah seorang manusia yang dapat membantu dan mendampingiku ketika bekerja. Bukan kecerdasan buatan yang tak berperasaan."
Thomas tersenyum kembali, mencondongkan tubuhnya sedikit maju. "Dengan CV yang kau miliki, ada banyak perusahaan yang rebutan untuk merekrutmu, Maggie. Baiklah, karena kau sudah terlanjur kesal denganku, kita buat simple bagaimana? Berapa tawaran terbaikmu sekarang? Aku kalikan sepuluh kali lipat. Bonus tahunan. Cuti satu bulan setahun. Kau bisa bekerja bebas, fleksibel dan mengatur waktu sendiri. Oke?"
Itu tawaran yang menggiurkan. Dengan tawaran gaji yang aku miliki lalu dikalikan sepuluh lipat, aku bahkan bisa melanjutkan studi S2-ku. Kemudian bonus tahunan juga cuti satu bulan setahun. Astaga, dengan uang sebanyak itu dan waktu cuti, aku bisa membawa keluargaku ke tempat-tempat impian mereka.
Tapi, Thomas salah besar! Dia berurusan dengan calon karyawan sepertiku, Maggie; alumni top kampus league di Eropa, gesit, dapat diandalkan, pintar, dan cantik yang tidak bisa digoyahkan prinsip kerjanya yang ia dapat dari nasehat papanya.
Pekerjaan apapun yang kau lakukan, baik itu dari yang kecil hingga terbesar, selalu utamakan satu hal. Adab.
Sedari kecil aku sudah ditanamkan etos kerja yang bagus mulai dari cara berperilaku hingga berpikir. Jadi, jika menuruti prinsipku, Thomas bukanlah sosok pemimpin atau bos yang aku inginkan. Jika saat interview saja dia sudah begini, bagaimana nanti ketika aku setuju menjadi stafnya? Lihatlah, Thomas tadi melemparkan CV yang berisi pencapaianku selama ini ke atas meja dengan santai, mengatakan CV-nya biasa saja.
Memang sebagus apa CV pria itu, huh, sampai CV milikku dilempar begitu saja ke atas meja?
Aku tersenyum lagi, kali ini tampak manis. Meyakinkan dia kembali—mempermainkannya lagi."Terima kasih atas penawarannya, Pak. Sungguh, mendapatkan semua hal jgu merupakan keinginan yang saya dambakan menjadi seorang staf."
Wajah Thomas kembali tampak antusias, tidak menyangka akhirnya pancingan yang tadi ia lempar berhasil dimakan. Tapi, sayangnya raut itu tak akan bertahan lama.
"Tapi, sayangnya, saya bukan calon karyawan kebanyakan. Anda harus lebih baik lagi dalam mencuri hati karyawan seperti saya."
Aku mengambil tasku dari lantai lalu berdiri.
Terlihat wajah Thomas berubah bingung. Apa maksudnya? Pasti pertanyaan itu yang mengelilingi kepalanya sekarang. Dia pasti juga sedang mencerna apa maksud dari senyuman di wajahku. Kenapa tampak senang sekali? Ia pasti juga mempertanyakan kenapa mataku berbinar penuh kemenangan.
"Saya memprioritaskan nilai moral di atas segalanya dan sepertinya Anda tidak memiliki hal tersebut ketika hendak merekrut saya. Maka, saya menolak penawaran untuk menjadi staf Anda."
Aku melangkah mundur, hendak berpamitan. "Terserah, Anda mau bilang saya kurang ajar, tidak tahu adab terhadap orang yang lebih berkuasa dari saya. Silakan. Tapi, daripada melemparkan sesuatu yang sudah susah payah saya capai, siapa yang lebih tidak punya adab disini? Karena saya sedari tadi duduk diam manis mendengarkan, menjawab, dan menanyai seputar hal pekerjaan."
Lihatlah wajah yang tampan itu, Thomas hampir melongo mendengar kalimatku. Dadanya pasti terasa ditinju keras oleh batu.
Kau kalah, aku menang.
"Selamat pagi, Pak Thomas."
Kemudian, aku balik badan. Melangkah menuju pintu ruangan, lalu keluar dari ruangan.
