Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-04-13
Words:
1,296
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
26
Bookmarks:
2
Hits:
200

Everlasting Yellow Tulip

Summary:

Jeno tidak begitu menyukai bunga; namun bukan hanya karena makhluk hidup itu dapat layu, dan Renjun belum mengetahui alasan lainnya.

Notes:

a gift for a courageous friend, but everyone is welcomed to enjoy it together because I know she would love it too.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Berada di luar ruangan untuk waktu yang tidak sebentar saat musim semi masih belum terlalu lama dimulai, mungkin bukan pilihan yang cukup bijak. Akan tetapi, Renjun tidak asing dengan udara dingin. Ia berteman baik, maka dari itu ia menyambutnya dengan hangat. Hanya saja, mungkin hal ini tetap tidak terlalu bagus untuk roti yang ia beli tadi. Dalam perkiraannya, roti-roti ini sudah tidak akan hangat lagi sesampainya ia di apartemen nanti.

Bunga memiliki berbagai macam jenis dan dapat tumbuh di musim yang berbeda-beda. Namun, tidak ada yang mengalahkan indahnya bunga-bunga yang mekar di musim semi. Musim semi tidak hanya ditandai dengan suhu yang menghangat, bukan hanya salju yang meleleh, melainkan juga bunga yang berbondong-bondong mekar; dan justru itulah penanda utamanya. Jadi, tidak salah jika Renjun berhenti mengayuh dan lebih memilih menuntun sepedanya–maklum saja, pengendara sepeda di Amsterdam tidak kenal yang namanya berkendara pelan-pelan, lebih baik tidak mengambil risiko terserempet–untuk mengagumi bunga-bunga yang dipajang hampir di sepanjang jalan.

Tentu akan lebih mudah untuk menemukan bunga-bunga ini di musim yang identik dengan mereka, namun Renjun merasa jadi ada lebih banyak toko bunga dibanding yang ia ingat sebelumnya di sepanjang jalan yang biasa ia susuri ini. Bisa jadi karena ia belum lama tinggal di kota ini juga. Lagi pula, ini musim semi pertamanya di Amsterdam. Rasanya seperti semua orang berubah menjadi penjual bunga dan ia tidak perlu repot mendatangi kebun bunga untuk melihatnya dalam jumlah yang banyak.

Dengan banyaknya orang yang berjualan bunga, Renjun bisa melihat tanda harga yang berlomba-lomba menawarkan nominal lebih kecil. Walaupun harga yang ia ingat sebelum musim semi lebih murah dari ini semua, tidak ada salahnya jika ia mau membeli beberapa tangkai bunga hari ini, bukan? Hanya saja, karena banyaknya pilihan, ia butuh waktu lebih untuk membuat keputusan.

Renjun punya kebiasaan memegang dan memutar-mutar cincin di jari manis kirinya jika sedang berpikir. Terkadang, ia juga melakukannya jika sedang merasa gugup. Sedikit atau banyak, hal ini membuatnya lebih tenang. Namun kali ini, ia jadi mendapatkan sebuah ide: membeli beberapa bunga berwarna biru untuk Jeno.

Ia tentu tidak lupa kalau Jeno tidak begitu menyukai bunga, tapi bukan berarti Jeno membencinya. Selain itu, menurut Renjun, memberikan bunga tidak harus pada momen-momen spesial saja. Jadi tidak ada salahnya jika sesekali ia memberikan bunga untuk lelaki itu. 

Renjun mengambil setiap bunga yang berwarna biru. Namun ia jadi sadar kalau kebanyakan bunga berwarna biru tidak memiliki kelopak dan tangkai yang besar. Mereka memiliki ukuran kecil atau tumbuh berbonggol. Sebelumnya, Renjun hanya tahu kalau tidak ada mawar dan tulip berwarna biru yang tumbuh alami. Terlintas di benaknya, mungkin warna biru memang paling indah dan paling tepat dimiliki langit dan laut.

Renjun cukup terkejut ketika ia menerima uang kembali dan si penjual mengatakan kalau ia boleh mengambil setangkai bunga lagi sesuai pilihannya. Tanpa pikir panjang, ia memilih setangkai tulip kuning. Sejujurnya, sejak tadi ia sudah memandangi bunga itu. Hanya saja, menurutnya setangkai tulip kuning kurang cocok disandingkan dengan bunga-bunga biru ini dan ia juga merasa sayang saja jika hanya membeli satu tangkai. Selain itu, dengan bentuk dan ukuran bunga-bunga biru ini, akan sulit diletakkan dalam satu vas yang sama.

Pedal sepeda dikayuhnya dengan cepat setelah mengucapkan perpisahan pada penjual bunga tadi. Namun tidak cukup kencang untuk membahayakan dirinya atau berpotensi membuat barang-barang di keranjangnya jatuh. Renjun tidak lagi mengkhawatirkan rotinya yang sudah dingin, toh nanti bisa ia hangatkan dengan berbagai cara. 

Satu tangannya penuh memeluk belanjaannya pagi ini saat membuka pintu apartemen, tapi ia bahagia dan puas. Bahagianya bertambah saat menemukan Jeno ternyata sudah terbangun dan sedang meletakkan teko bening berisi teh hangat di atas meja makan. Selain teko, terlihat ada dua gelas bening dengan salah satunya baru saja diisi oleh lelaki itu.

Goedemorgen,” ucapnya sebelum meneguk teh dalam cangkirnya.

Goedemorgen, aku kira kamu belum bangun.” Atau masih di kasur , tambahnya dalam hati. Renjun hafal, biasanya Jeno akan malas beranjak dari kasur jika tidak menemukannya atau mendengarnya melakukan sesuatu dari dalam kamar. Jadi sebuah kejutan yang menyenangkan menemukan lelaki itu sudah ada di sini.

Jeno berjalan ke arahnya, lalu mengambil barang-barang dalam pelukannya untuk kemudian meletakkannya di meja makan. Renjun mengira bahwa Jeno akan menanyakan perihal bunga-bunga itu terlebih dahulu, namun di luar dugaannya, Jeno justru meraih kedua tangannya.

“Tangan kamu dingin. Kenapa keluar rumah nggak pake sarung tangan?” tanya Jeno sambil ibu jarinya membuat gerakan memutar di punggung tangan Renjun.

Renjun bahkan baru tersadar kalau tangannya dingin saat merasakan hangatnya kulit Jeno. Ia hanya terkekeh dan membuat ekspresi sedikit menyesal karena sudah membuat Jeno khawatir. Tapi dalam pembelaannya, udara sudah menghangat dan sarung tangan juga menghalanginya dalam merasakan berbagai hal langsung di kulitnya.

Selagi tangan Jeno sibuk menghangatkan tangannya, Renjun memberanikan diri berjinjit sedikit untuk meraih bibir Jeno, menghapus cemberut yang timbul di wajah tampan itu. Jeno hanya menghela napas sambil memutar matanya setelah Renjun memberi sedikit jarak kembali. Namun Renjun juga melihat ada senyum yang coba Jeno tahan. 

“Aku tadi beli roti, tapi udah nggak hangat sih sekarang. Enaknya diapain ya?” Mereka tidak selalu sarapan dengan roti dan biasanya tidak masalah jika memakan roti tanpa mengolahnya lagi. Tetapi, mereka tetap lebih menyukai ketika suhunya masih hangat.

Kali ini, saat hendak melihat roti yang dibawanya, Jeno akhirnya menyadari kehadiran bunga-bunga berwarna biru itu. Tangannya tidak lagi mencoba meraih bungkusan roti, melainkan beberapa bonggol bunga yang harus dipisah dalam beberapa bungkus juga.

“Banyak bunga yang dijual di sepanjang jalan tadi karena udah musim semi, terus aku kepikiran kamu. Jadi aku beli semua yang warnanya biru,” Renjun menjelaskan dengan singkat.

“Hm.” Jeno hanya menjawabnya dengan gumaman, tapi Renjun bisa merasakan apresiasinya saat melihat senyum di wajah Jeno dan bagaimana jemarinya menyentuh kelopak-kelopak bunga itu dengan lembut.

“Makasih ya,” lanjutnya. Renjun merasakan satu kecupan hangat di keningnya setelah itu.

“Tapi aku mau taruh bunga-bunga ini di vas, nggak dibiarin gini aja. Aku tau bunga bakal layu, tapi kita bisa sedikit memperlambat itu,” tegas Renjun.

Jeno tidak langsung menanggapinya, tapi ia kembali meraih teko tadi dan menuangkan isinya di gelas lain, untuk Renjun. Sekarang, giliran Renjun yang sedikit cemberut, namun ia tetap menerima cangkir yang disuguhkan Jeno padanya. Sebelum Renjun sempat meminum teh itu, Jeno menarik kursi yang paling dekat dengannya, kemudian mengisyaratkan Renjun untuk duduk menyamping di pangkuannya. Renjun tahu kalau Jeno tahu ia tidak akan menolak. Renjun suka dipangku sambil dipeluk.

Sebelum Jeno berbicara, Renjun menyempatkan meminum sedikit tehnya. Hangat. Kedua telapak tangannya ikut mencari kehangatan dengan menangkup cangkir itu.

“Iya, nanti kita taruh di vas semuanya. Termasuk satu tangkai tulip kuning itu,” ucap Jeno dengan tenang sambil mendekapnya.

Renjun hampir lupa dengan keberadaan satu bunga itu. Ia hanya mengangguk.

Detik berikutnya, Jeno meletakkan dagunya di pundak Renjun. Netra mereka saling pandang dengan hangat. Bola mata Jeno tidak berwarna biru, tidak juga bagian tubuhnya yang lain, namun Renjun setuju kalau warna biru cocok untuknya. Tidak heran jika Jeno menyukai warna itu. Renjun bisa merasakan ketenangan dan kedamaian hanya dengan memiliki Jeno di sisinya.

“Tapi kamu harus tau kalo alasanku kurang suka bunga bukan cuma karena mereka bisa layu, dan aku bener-bener apresiasi apapun yang kamu kasih buat aku.”

Tubuh Renjun menghangat dalam dekap Jeno, napasnya tenang beraturan. 

“Tapi aku nggak terlalu butuh bunga-bunga itu. Aku udah punya satu tulip kuning yang nggak akan pernah layu dan akan jadi satu-satunya bunga yang rela aku pandangin selama sisa hidupku.”

Renjun hendak memalingkan wajahnya, sebab tiba-tiba rasa hangat yang lain merayapi pipinya. Namun satu tangan Jeno meraih sisi wajahnya dan menahannya. Renjun merasakan tangan Jeno yang lain juga meninggalkan pinggangnya, kemudian disusul dagu Jeno tidak lagi bertumpu di pundaknya, dan ia seketika merasa telanjang tanpa dekapan Jeno. Namun itu tidak bertahan lama, sebab tangan itu kembali dengan setangkai tulip kuning yang Jeno bawa di tengah-tengah mereka.

“Kamu kebahagiaan yang abadi, kegembiraan yang nggak akan pernah redup, harapan yang nggak akan layu. Dan kamu lebih dari cukup.”

Jeno menyodorkan setangkai tulip kuning itu, dan Renjun meraihnya.

Notes:

Yellow tulips mean happiness, cheerfulness, and hope.