Actions

Work Header

Wedlock

Summary:

Bagi Jungwon pernikahan adalah sebuah hal yang sakral, harus dilakukan sekali seumur hidup karena dia akan berjanji di hadapan Tuhan. Bagi dia, menikah itu harus dengan orang yang ia cintai, orang yang menjadi pilihannya sendiri. Karena ia akan menghabiskan seluruh hidupnya bersama dengan orang itu, berbagi kisah suka maupun duka.

Tapi ketika orangtuanya menjodohkan dirinya dengan pria pilihan mereka, Jungwon tidak bisa menolak. Dia hanya bisa berharap kalau pernikahannya dengan Jay akan berjalan seperti pernikahan normal pada umumnya.

Notes:

hi! jadi aku post ini di watty tapi aku publish juga di sini, biar menuhin tag jaywon :>
happy reading luvs <3

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Meeting You

Chapter Text

Bagi Jungwon pernikahan adalah sebuah hal yang sakral, harus dilakukan sekali seumur hidup karena dia akan berjanji di hadapan Tuhan. Bagi dia, menikah itu harus dengan orang yang ia cintai, orang yang menjadi pilihannya sendiri. Karena ia akan menghabiskan seluruh hidupnya bersama dengan orang itu, berbagi kisah suka maupun duka.

 

Pernikahan itu suatu hal yang membahagiakan karena kau bisa tinggal bersama, memasak bersama, bergurau, menangis, apapun itu bersama dengan orang yang begitu kau kasihi.

 

Jungwon pikir begitu.

 

Sampai akhirnya kedua orangtuanya menjodohkan dirinya dengan orang pilihan mereka. Ya, pilihan kedua orangtuanya, bukan pilihan Jungwon. Saat itu Jungwon bimbang apa yang harus dia lakukan, jujur saja dia belum memiliki kekasih, dia juga masih menikmati masa mudanya bersama teman-teman.

 

Jadi, ketika orangtuanya menyuruh (ya, menyuruh secara halus agar Jungwon menuruti mereka) untuk menikah, Jungwon tidak tahu harus menolak dengan cara apa. Dia sudah bilang kalau dia akan menikah dengan orang pilihannya, orang yang ia cintai. Tapi kedua orangtuanya membalas.

 

“Kalau gitu, bawa pacar kamu kesini, suruh dia nikah sama kamu kalau emang kalian saling cinta.”

 

Jungwon hanya bisa terbisu. Tidak ada yang bisa dia bawa, karena saat itu belum ada yang dia cintai secara romantis. Ia hanya bisa menurut saat orangtuanya mengatur jadwal makan malam, perkenalan, bahkan pertunangannya dengan orang itu.

 

“Jay itu anak yang baik loh, dari segi bibit, bebet dan bobotnya udah paling top markotop. Kamu ga usah khawatir.” kata papanya kala itu.

 

Ia tahu kalau Jay memang orang baik, pemuda itu tampan dan rupawan, bisnis keluarga yang sekarang ia pegangpun berjalan lancer dan cukup besar. Kalau menjadi suami, Jay ini memanglah tidak usah diragukan kwalitasnya.

 

Tapi Jungwon belum menyukainya.

 

Catatan, belum. Siapa tahu nanti Jungwon akan suka padanya. Jungwon masih berpikir, kalau memang pernikahan mereka harus terjadi, setidaknya biarkan Jungwon mengenal Jay lebih lama dulu, biarkan ia jatuh cinta pada Jay dulu.

 

Orangtuanya bilang jika mereka menunda-nunda pernikahan kemungkinan batalnya akan menjadi lebih besar. Jungwon tidak bisa melawan, Jay juga diam saja seperti tidak ingin membantah. Aneh sekali.

 

Omong-omong soal Jay, ia juga tidak tahu apa Jay menyukainya atau tidak. Bisa juga ‘kan Jay membencinya. Mereka tidak diberikan kesempatan untuk mengenal satu sama lain lebih jauh, hanya empat kali bertemu, lalu mereka menikah. Semua berjalan begitu cepat.

 

Saat mereka sudah mengikat janji di hadapan Tuhan dan orang banyak, Jungwon tahu tidak ada lagi jalan keluar dan kata mundur. Ya sudahlah, kalau memang takdirnya menikah dengan Jay, dia akan menerimanya.

 

Jadi saat itu Jungwon tahu, pernikahan tidak selalu harus berjalan karena dua insan yang saling mencinta.

 


 

Sebagai hadiah pernikahan, orangtua mereka sudah membelikan rumah yang cukup besar untuk mereka berdua. Rumah ini terasa asing untuk Jungwon, bukan rumah yang selama dua puluh empat tahun ia singgahi. Ia harus membiasakan diri dengan semua ini.

 

Pagi ini mereka berdua habiskan di rumah baru mereka, sama-sama mengambil cuti di kantor dengan alasan berbulan madu. Jungwon mendengus, daripada berbulan madu mungkin ia lebih butuh berekenalan dengan Jay. Banyak hal yang ia tidak ketahui dari suaminya itu.

 

“Jungwon, tunggu.”

 

Jungwon yang hendak berjalan ke dapur menghentikan langkahnya. Jay sedang duduk di sofa dan memanggil namanya. “Iya?”

“Boleh ngomong sebentar engga?” tanyanya dengan berhati-hati.

 

Jungwon mengangguk, lalu ia mendudukkan diri di single sofa bersebelahan dengan Jay. “Kenapa?” tanyanya.

 

“Saya mau ngomong agak serius sih.” kata Jay. “Ga keberatan ‘kan?”

 

Jungwon mengernyit, bingung dengan perubahan raut wajah Jay yang mendadak serius ditambah nada suaranya yang terdengar begitu mendominasi. “Boleh, silahkan ngomong aja kalau begitu.”

Butuh waktu cukup lama sampai Jay akhirnya membuka suara. Pemuda itu menarik napas dan mengembuskannya perlahan seolah mempersiapkan diri untuk sesuatu. Jungwon berpikir mungkin Jay akan menceraikannya saat itu juga.

 

Wow, dia akan menduda setelah dua hari menikah dengan Jay.

 

“Saya tau pernikahan kita ini karena perjodohan.” akhirnya si jangkung membuka suara. “Saya tau, kita sama-sama belum saling mengenal, sama-sama engga saling cinta.”

 

Jungwon mengangguk, tapi ia tidak menyela ucapan Jay. Ia membiarkan pemuda itu terus melanjutkan ucapannya. “Saya tau mungkin canggung buat kita yang saling ga kenal, tiba-tiba harus satu rumah, status kita juga menikah.”

 

“Um, maaf sebenernya apa yang mau kamu bicarain sama aku?” tanya Jungwon semakin kebingungan. Ia tidak paham kenapa Jay begitu bertele-tele. Jungwon malah semakin berdebar takut dengan apa yang Jay akan katakan.

 

“Jadi begini, saya cuma mau bilang kalau gimana sebaiknya kalau kita coba saling… terbiasa satu sama lain?”

 

“Hah?” Jungwon mengerjap. “Terbiasa satu sama lain gimana maksudnya?”

Jay tersenyum canggung, “Saya cuma mau pernikahan kita sama seperti pernikahan umumnya. Engga ada kecanggungan diantara kita, engga ada rasa ga enak ataupun apa. Saya mau pernikahan yang bener-bener jadi pernikahan pertama dan terakhir saya.”

 

Ah, ternyata Jay memiliki pemikiran yang sama dengannya tentang sebuah ikatan pernikahan. Jungwon terpaku, ia pikir Jay akan mengatakan sesuatu yang keji seperti ‘lebih baik kita hidup masing-masing’ atau ‘kita akan bercerai dalam waktu 3 bulan’ tapi ternyata Jay ingin mencoba.

 

Mencoba untuk hidup bersamanya.

 

“Saya mau belajar buat ngenal kamu lebih jauh, Jungwon. Saya juga mau belajar buat menjadi suami yang baik, pasangan yang baik walau kita engga saling kenal sebelumnya.” kata Jay, ia terlihat begitu serius.

 

Kalau boleh jujur, Jungwon tidak tahu harus menjawab apa dari pernyataan suaminya ini. Jungwon pikir Jay akan mengatakan kalau sebaiknya mereka berjalan masing-masing saja, tidak saling mengusik satu sama lain dan hidup dengan tenang sampai akhirnya mereka akan bercerai. Jungwon sudah memikirkan skenario terburuk dalam pernikahan mereka.

 

“Gimana? Kamu mau?” Jay bertanya penuh harap. Jungwon bisa melihat wajahnya yang tanpa ragu, tapi ada ketakutan di sana. Jungwon berpikir apa yang membuat pemuda itu takut.

 

Jungwon akhirnya mengangguk dengan pelan, ia juga sendiri merasa begitu tidak yakin. Tapi ia tidak bisa menolak tawaran Jay yang masih mau berjuang untuk pernikahan mereka. “Iya, aku mau.”

 

Ia tahu, sejak hari itu mungkin kehidupan mereka berdua akan berubah drastis.

 


 

Jay bukanlah pria yang romantis. Atau itulah yang Jungwon simpulkan setelah hampir satu bulan melakukan pendekatan dengan Jay. Ya, pendekatan. Jika biasanya pendekatan dilakukan sebelum dua insan menjalin sebuah hubungan romantis, tapi mereka berdua baru melakukan pendekatan saat mereka berdua sudah resmi menikah.

 

Kembali lagi ke topik awal, Jungwon sudah memperhatikan semua sikap Jay dan apa yang pria itu lakukan untuknya. Jay adalah pria yang sedikit canggung, entah karena mereka tidak dekat sebelumnya atau itu memang bagian dari sifat Jay.

 

Jay juga bukan orang yang suka mengumbar kata-kata manis (sungguh, kata-kata manis yang Jay ucapkan hanya ketika malam dimana Jay mengajaknya untuk menjalin hubungan pernikahan yang baik) malah kadang Jay terkesan begitu canggung. Entah karena mereka belum terlalu dekat, atau memang karena itu adalah sifat alami dari Jay.

 

Tapi pria itu lebih sering bicara dengan tindakannya. Jungwon sudah bisa melihat kalau Jay lebih senang melakukan apapun untuk orang lain. Dia suka memasak, disela pekerjaannya yang sibuk Jay masih menyempatkan diri membuat sarapan untuk mereka. Hal-hal kecil seperti membantu Jungwon untuk mengambilkan piring atau menuangkan air, atau membawakan Jungwon susu hangat saat ia tidak bisa tidur.

 

Kalau begini, siapa juga yang tidak berdesir hatinya?

Jungwon tahu kalau dia masih belum menyukai Jay secara romantis, tapi ia sudah bisa merasakan desiran di dadanya saat Jay melakukan hal-hal kecil namun cukup untuk menyentuh hatinya. Jay ternyata memanglah pria yang baik.

 

“Malam ini kamu mau makan apa? Biar saya masakin.”

Jungwon menoleh dari laptopnya, masih ada beberapa laporan yang harus dia kerjakan untuk meeting besok pagi. Jay berdiri di depannya menatapnya dengan begitu lembut. “Kamu baru pulang, Kak. Ga mau pesen di luar aja?” tanyanya.

 

“Saya tadi pulang kerja sekalian belanja. Sayang banget kalau engga dipakai bahan makanannya.” Jay berkata. Selanjutnya ia memandang Jungwon dengan perasaan tak enak. “Atau kamu mau pesen diluar aja? Takutnya kamu mau makan sesuatu.”

Jay terlihat sungkan dengannya, Jungwon juga jadi tidak enak hati, ia takut Jay berpikir kalau Jungwon tidak mau makan masakannya. “Bukan gitu, Kak. Aku takutnya kamu capek pulang kerja langsung masak. Nyiapin bahan masakannya juga ‘kan makan waktu.”

“Engga kok,” bantah Jay pelan. “Saya engga ngerasa direpotkan, ‘kan saya yang nawarin kamu.” katanya lagi. “Jadi ada yang kamu mau makan? Saya tadi beli daging sama seafood, ada sayur juga. Pasta juga ada kalau mau.”

 

Mulut Jungwon membulat. Wow, Jay benar-benar berperan sebagai suami yang baik dan siaga. Ia jadi tidak enak hati, Jungwon bahkan tidak berkontribusi apapun dalam pernikahan mereka ini.

 

“Pasta boleh. Kayaknya enak deh kalau makan pasta.” jawab Jungwon. “Kak, aku bantu kamu masak boleh ‘kan?”

 

Jay mengerjap, “Eh?” ia menatap Jungwon tak percaya. Ini pertama kalinya Jungwon menawarkan diri untuk membantu Jay. “Kamu ‘kan lagi kerja, engga usah ga apa, saya bisa kok sendiri.”

 

“Engga, aku udah selesai kok.” Jungwon berdiri dari duduknya, sedikit merenggangkan tangannya. “Aku juga mau belajar masak dari Kak Jay, jadi nanti kita bisa gantian.”

 

“Kamu yakin?” Jay terlihat ragu.

 

Jungwon tertawa, “Tenang aja Kak, walau aku engga jago masak kayak kamu, tapi aku tau kok bumbu-bumbu masak.” humornya. “Lagian ada Kak Jay, kalau aku salah, Kakak bisa bimbing aku.”

 

Senyuman terkembang di wajah Jay, ia menyukainya ketika Jungwon berkata seperti itu, seakan Jungwon benar membutuhkannya. Ia mengangguk. “Kalau gitu ayo masak bareng. Pasta engga susah kok masaknya.”

Jungwon berbinar senang. “Ayo!”

 


 

Mereka memutuskan untuk membuat creamy garlic prawn fettucine. Sebenarnya Jungwon juga tidak paham betul bagaimana cara membuatnya, tapi Jay yang menyarankan untuk membuat itu.

 

“Jungwon, kalau airnya udah mendidih kamu tolong masukin dua sendok minyak ke sana ya.”

 

Jay juga sejak tadi tidak memintanya untuk melakukan pekerjaan berat atau menyulitkan. Pria itu hanya meminta Jungwon untuk mengambilkan bahan masakan dan menyiapkannya, lalu meminta Jungwon untuk merebus air. Gampang, Jungwon melakukannya dengan baik.

 

Sementara Jay banyak melakukan pekerjaan seperti mengupas udang dan membersihkannya. Jungwon jadi tidak enak hati.

 

“Kak, ini beneran aku bantunya gini aja?”

 

Jay menggumam, masih fokus mengupas udang. “Iya itu udah bener kok.”

Jungwon diam sesaat dan cemberut. “Tapi… ini gampang banget. Sementara Kakak harus ngupasin udang satu-satu.”

Jay diam, ia berhenti mengupas udang. Ia melihat kearah Jungwon yang masih mencebik, terlihat begitu lucu. “Masak pasta itu gampang kok. Emang cuma gini aja,” katanya lembut. “Lagian gapapa biar saya aja yang kupas udang, kulit udang itu tajem, nanti tangan kamu luka.”

 

Saat itu juga detak jantung Jungwon bertambah dua kali lipat. Gawat, padahal Jay hanya mengatakan hal itu, harusnya ia biasa saja menanggapinya. Tidak ada yang salah, Jay hanya tidak mau Jungwon luka dan malah menyusahkannya nanti. Iya, pasti begitu.

 

Tapi sekarang Jungwon bisa merasakan pipinya yang begitu panas, entah mengapa tapi ia malu. Jadi ia berdehem. “Aku bukan anak kecil, Kak.”

 

Jay terkekeh, “Saya ga bilang kamu anak kecil, saya cuma engga mau kamu luka nantinya karena ngupas udang, Jungwon.”

 

Jungwon hanya mendengus, ia tidak membalas ucapan Jay. Bukannya ia sengaja mengacuhkannya tapi ia tidak tahu harus merespon dengan apa. Jadi ia mulai menyibukkan diri dengan melihat air yang sudah mendidih saja.

 


 

“Kamu lebih suka lagu apa, Won?”

 

“Hmm apa ya? Kayaknya engga ada yang terlalu spesifik deh, Kak.”

 

Sekarang mereka berdua sedang menikmati makan malam di meja makan. Sedikitnya Jungwon merasa bangga karena ia sudah bisa membantu menyiapkan makan malam walau lebih banyak Jay yang bekerja. Tapi lihat, ialah yang menaruh makanan di piring, menatanya begitu cantik dan menggoda.

 

“Hm, saya juga liat kamu bukan tipe orang yang suka ngedengerin musik ya.” Jay menggumam.

 

Alunan musik terdengar, menjadi pengiring makan malam mereka yang cukup tenang. Jay tadi sempat menyetel lagu (Jungwon tidak tahu ini lagu apa tapi terdengar begitu merdu) di televisi mereka, membiarkannya menyala dan memutar musik secara acak.

 

“Sebenernya suka-suka aja sih, tapi engga ada lagu spesifik yang aku bener-bener suka.” Jungwon kembali menyuap makanannya, mengunyah lalu menelan. Kemudian ia melirik lagi pada Jay. “Eh tapi ada satu lagu yang berkesan banget buat aku.”

 

Jay mengangkat alisnya, “Oh ya? Apa itu?”

 

“Seattle,” kata Jungwon, senyum tipis terkembang di bibrinya. “Aku suka lagu itu.”

“Wow, kenapa kamu bisa suka lagu itu?” tanya Jay penasaran.

 

Jungwon menggumam, ia kembali mengingat bagaimana bisa ia menyukai sebuah lagu sampai begitu berkesan diingatannya. “Hmm kenapa ya,” ia tersenyum malu. “Dulu lagi aku SMP aku pernah ngerasain kayak capek banget gitu, it felt too much. Biasa lah masa-masa lebay-nya anak remaja.”

“Trus ada satu temenku yang bilang, kalau capek istirahat aja, abis itu dia selalu ajak aku bolos les kalau udah keliatan capek, atau bolos kelas.” Jungwon terkekeh mengingatnya. “Abis itu kita bakal ngumpet dan bakal ngedengerin lagu ini dari earphone punya dia.”

 

Jungwon merasakan nostalgia saat menceritakannya. “Dia bilang lagu ini tuh artinya seseorang rindu sama rumahnya, walau sejauh apapun dia pergi, dia tetep rindu sama tempat asalnya. Seperti orang yang sejauh apapun pergi, dia pasti tetep akan inget sama rumahnya.”

 

Jay memperhatikannya dengan begitu serius, mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Jungwon. “Lagunya emang enak,” Jay berkomentar. “Itu… orang itu cinta pertama kamu?”

Jungwon membelalak, “Eh bukan kok.” sanggahnya langusung. “Dia satu-satunya temenku dari kecil. Tapi sayang pas kuliah dia pindah negara, haha. Sampai sekarang jadi ga pernah ketemu lagi.”

 

Jay mengangguk, “Kalau emang cinta pertama kamu juga engga apa kok. Saya malah seneng dengernya karena kamu terbuka sama saya.” ujarnya.

 

Jungwon mendengus geli. Masalahnya memang orang itu bukanlah cinta pertamanya. Kalau diingat lagi, memangnya Jungwon pernah punya cinta pertama? Ia menggeleng. “Terserah aja deh.”

 

Mereka berdua kembali melanjutkan makan malam mereka dalam keheningan sampai akhirnya Jay angkat suara. “Tapi saya juga dulu tinggal di Seattle loh.”

 

Jungwon membelalak, ia langsung melihat pada Jay. “Hah? Kakak beneran dari Seattle?” Jay mengangguk. “Coba certain, Seattle emang bagus banget ya?”

“Ya bagus.” Jay tertawa. “Tempatnya indah, bersih. Kalau cuacanya cerah, langitnya biru terang, bagus banget.”

 

Jungwon berbinar mendengarnya. “Ih! Beneran kayak yang ada di lagu dong!” serunya. “Ah, aku jadi mau liat langsung.”

 

Jay tersenyum, “Kamu mau kesana?”

 

“Mau sih, tapi mungkin nanti.” Jungwon mengingat jadwalnya yang padat, tidak mungkin ia bisa pergi dalam waktu dekat ini. Lagipula ia tidak pernah kemana-mana sendiri, dia harus mengajak temannya missal Sunoo atau Riki. Ya, nanti dia akan mengajak mereka. “Tapi nanti deh liat waktunya.”

 

“Kalau gitu nanti saya ajak kamu ke Seattle, ya.” Jay tersenyum padanya. “Kalau kamu engga sibuk, tentu aja. Tinggal atur jadwalnya aja.”

 

Jungwon mengerjapkan matanya, “Hah?”

 

“Di Seattle masih ada keluarga saya, sepupu-sepupu saya juga ada di sana. Mereka engga dateng ke pernikahan kita karena jauh katanya.” jelas Jay. “Daripada mereka yang kesini, nanti kita aja yang kesana. Sekalian jalan-jalan saya juga kenalin kamu ke keluarga saya yang lain.”

 

Jungwon sedikit terkejut dengan ajakan Jay, tanpa di duga pria itu malah mengajak Jungwon liburan. “Emang gapapa?”

 

“Ya ga apa-apa dong. Hitung-hitung kita bulan madu deh, ‘kan kemarin pas ambil cuti kita cuma diem aja di rumah.” ujar Jay. Jungwon merona mendengar kata bulan madu. “Nanti di sana saya bisa ajak kamu ke tempat-tempat bagus, saya familiar kok sama kotanya.”

 

Jungwon mengangguk saja, ia membiarkan Jay bercerita tentang kampung halamannya dulu. Jay kalau bercerita begitu menggebu, begitu terlihat nyata, begitu hidup. Jungwon memperhatikannya, sepertinya ia tidak akan pernah bosan kalau mendengar Jay bercerita.