Work Text:
Pelukan, genggaman tangan, rasa hangat itu terasa sangat nyata hingga realita mengangkatnya dari pulau kapuk itu.
Kegiatan jalan-jalan di Golden Hour untuk yang terakhir kalinya yang memakan waktu lama itu membuat Caelus merasa pegal dari ujung kepala sampai ujung jari kaki. Memang mereka sedang berada di dunia mimpi, tapi ia sangat yakin rasa lelah, letih, lesu, pegal dan linu yang ia rasakan saat ini tetap akan terbawa sampai ke dunia nyata.
Ini adalah kesempatan mereka pergi bermain untuk yang terakhir kalinya di Penacony. Kereta Astral Express sudah harus berangkat menuju lokasi selanjutnya.
Ia tidak menyangka akan merasa sangat capek, jadi setibanya mereka di kereta, ia langsung memilih untuk tidur.
Hangat,
adalah satu kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan aneh yang ia rasakan sekarang ini. Ia merasa tubuhnya ditarik untuk berlari oleh seseorang. Ia pun ikut berlari, walaupun ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Langkahnya terasa ringan, hatinya terasa bahagia, walaupun berlari ia tidak merasa lelah sama sekali.
Sosok tersebut tersenyum, kemudian tertawa, membuat Caelus ikut tertawa bersamanya. Walaupun jauh di lubuk hatinya, ia merasa sangat kebingungan karena ia sendiri tidak bisa mengendalikan tubuhnya saat ini.
Tiba-tiba ia merasa mereka sudah berpindah lokasi, yang awalnya hanya warna putih sejauh mata memandang, kini berubah menjadi sebuah parkiran yang dekat dengan pantai. Caelus merasakan angin yang sangat kencang dari arah laut, pandangannya pun beralih kepada sosok misterius itu yang hanya menatap lurus ke laut, tidak terlihat jelas rupanya, seperti ada yang berusaha menghalanginya untuk mengetahui fakta.
Walaupun berlalu dengan sangat cepat, walaupun situasi dan lokasi silih berganti, ia dapat mengingat dengan jelas apa saja yang terjadi. Makan-makanan pedas di restoran cepat saji, menghabiskan koin di game center, berlama-lama di dalam photo booth, berfoto menggunakan filter-filter mata belo dan kumis kucing berwarna pink neon.
Hatinya seperti berbunga, ia merasa ikut jatuh cinta dengan sosok tersebut, tangannya yang terasa lembut ketika digenggam. Bahu yang lebar membuatnya merasa nyaman ketika bersandar, wangi parfum yang tidak terlalu menyengat, perbedaan tinggi mereka yang tidak terlalu berbeda membuatnya tidak perlu bersusah payah berjinjit atau membungkuk ketika berinteraksi dengan sosok itu. Apalagi rambut hitam berkilau di bawah sinar matahari itu membuat Dan Heng terlihat menawan di matanya.
Sebentar, Dan Heng?
"Caelus kamu tidak mau makan? Nanti kuhabiskan semua loh?" March menggoyangkan bahunya dengan keras, sepertinya ia sudah berusaha membangunkan Caelus sebelumnya. "Sebenarnya apa saja yang kalian lakukan sampai-sampai ia tepar seperti ini?" Ia dapat mendengar suara Dan Heng dari arah atas kanannya.
Caelus yang sudah bangun pun langsung duduk dengan posisi benar, ternyata ia tadi tertidur di sofa sampai-sampai posisi kepalanya berubah yang awalnya menyender di sofa malah turun menyentuh lantai.
"Woi, kamu dengar tidak? Caelus."
"Oh, ya." Kedua temannya hanya menatapnya dengan raut wajah heran, kemudian pergi menemui Himeko yang sedang mendengarkan curhatan Pom-Pom tentang badannya yang terlalu gembul untuk membersihkan sela-sela di dalam kereta.
"HAH?!" March yang awalnya fokus melihat foto-foto di dalam kameranya hampir saja menjatuhkan kameranya setelah mendengar ucapan Caelus.
"Kok bisa?"
"Gatau, kamu pikir aku ga kaget ketika melihatnya muncul di mimpiku sendiri ga ada angin ga ada hujan?"
"Iya juga sih, hmm, jangan-jangan..." March meliriknya dengan ekspresi yang ia sendiri tidak bisa ia cerna.
"Aku sendiri tidak ingin tahu apa maksud dari 'jangan-jangan'mu itu."
"Kamu tahu tidak sih, katanya kalo kita memimpikan seseorang, bukan orang itu yang sedang rindu dengan kita, melainkan kita lah yang menginginkan orang tersebut muncul di mimpi kita."
"SUDAHLAH MARCH!" Caelus dengan telinga yang memerah berusaha keras untuk tidak mendengar ocehan dari March dengan menutup kedua telinganya rapat-rapat.
Walaupun berujung sia-sia karena March tiba-tiba saja mengeluarkan megaphone yang ia dapatkan entah dari mana sehingga suaranya tetap bisa ia dengar dengan jelas.
Untung saja kamar itu kedap suara, apa yang akan terjadi jika orang-orang di Astral Express mendengarkan March mengucapkan "Caelus menyukai Dan Heng, tetapi ia tidak mau mengakuinya!" berulang- ulang kali.
