Work Text:
"Yudai-sama, anda sudah ditunggu oleh yang lainnya di ruang tengah." ucap seorang pelayan pada Yudai yang baru saja selesai bersiap.
Yudai hanya mengangguk dan tersenyum pada pelayanan itu. Lalu melangkah keluar dari kamarnya untuk menemui keluarganya yang sudah menunggunya.
Di ruang tengah, Yudai bisa melihat ayahnya, sang kaisar dan ibunya sang permaisuri, dan kedua adiknya sudah berpakaian rapi dan siap untuk pergi.
"Mari kita berangkat." ujar sang ayah, memimpin jalan untuk masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke acara malam ini.
Dan tentu saja, sebagai penerus kekaisaran, sudah menjadi aturan bahwasanya Yudai harus menaiki kendaraan yang berbeda dengan sang ayah.
Dan disinilah dia, berada di mobil kedua di rombongan keluarga kerajaan bersama kedua adiknya, Taki dan Maki.
"Hei, siapa yang akan hadir malam ini? aku lupa dengan itu." tanya Yudai memandang kedua adiknya bergantian.
"Presiden Korea Selatan Kak, mereka akan makan malam bersama kita nanti." jawab Maki menjelaskan, dan Yudai hanya mengangguk.
Yudai menghela nafas dalam, dia sudah terbiasa dengan acara formal kenegaraan macam ini selama ini hidupnya. Namun entah mengapa dia jadi sedikit bosan akhir-akhir ini.
Rombongan mobil pun sudah sampai di tempat acara makan malam negara. Dan kini Yudai dan kedua adiknya tengah membuntuti kedua orang tua mereka masuk ke dalam bangunan istana tersebut.
Sekitar hampir tiga puluh menit keluarga kerajaan menunggu untuk tamu hadir. Dan kini Yudai memaksa senyumnya untuk menyambut kehadiran rombongan kenegaraan dari Korea Selatan itu.
"Selamat datang Pak." ujar Yudai pada kepala negara tetangga tersebut.
"Senang bertemu denganmu, Pangeran." balas Presiden dengan bahasa Inggris yang sedikit dipahami oleh Yudai.
Yudai hanya tersenyum, dan sampai seorang pria muda kini berada di hadapannya. Dan Presiden mengatakan jika itu adalah putranya.
"Selamat malam, Pangeran." sapa pria muda itu dengan bahasa Jepang yang cukup fasih, membuat Yudai sedikit terkejut.
"Bahasa Jepangmu, bagus sekali." puji Yudai.
Pria muda itu tersenyum, "Terimakasih Pangeran, sebelumnya perkenalkan, saya Byun Euijoo." jelasnya.
Yudai mengangguk, "Baiklah, Euijoo nikmati malam ini!"
Makan malam kenegaraan itupun berlangsung lancar. Dan sekarang diakhiri oleh sesi bincang dengan para wartawan oleh Presiden Korea yang ditemani oleh sang putra, dan Kaisar yang juga ditemani oleh putranya.
Yudai lagi-lagi harus memaksa senyumnya, kalau boleh jujur rasanya Yudai ingin saja menyumpahi para wartawan di depannya ini. Flash kamera mereka benar-benar membuat matanya sakit.
Sampai... "Permisi yang mulai, apakah Pangeran mahkota dan putra presiden itu seumuran? dan apakah mereka berteman?"
Mata Yudai kini terpaku pada seorang wartawan muda yang menanyakan pertanyaan tentang dirinya dan Euijoo. Yang entah mengapa, Yudai merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya ketika melihat wartawan tersebut.
Hingga dirinya yang blank itu, disadarkan oleh sang ayah yang memanggil namanya, "Oh... ya tentu kami seumuran, dan yah aku berharap kami akan segera berteman di masa depan." jawab Yudai kepada wartawan, yang tanpa sengaja dia melihat tag namanya.
'Murata Fuma...'
Sesi bertemu dengan wartawan pun telah selesai. Dan kini Yudai bersama dengan kedua adiknya tengah bersantai di salah satu ruangan di istana tersebut sebelum mereka kembali ke kediaman mereka.
Namun Taki dan Maki merasa sedikit aneh dengan Yudai yang sedari tadi melamun. Mereka berdua pun mendekati Yudai yang tengah terduduk di sofa, dan mengambil tempat di sebelah sang kakak.
"Kak, ada apa? kenapa kakak melamun?" tanya Taki menepuk pundak sang kakak, membuat Yudai sontak mendapatkan kesadarannya kembali.
Yudai menggeleng, "Tidak ada apa-apa Taki..." balasnya dengan senyuman.
"Oh ya, kalian tahu apakah para wartawan sudah pergi?" tanya Yudai menatap sang adik.
"Aku tadi melihat, beberapa dari mereka masih membereskan perlengkapan mereka di depan." jawab Maki, membuat Yudai beranjak dari duduknya.
"Kakak mau kemana?" tanya Maki yang melihat kakaknya melangkah keluar itu.
"Aku ingin kedepan sebentar, aku akan segera kembali!" ucap Yudai lalu melangkah keluar dari istana.
Dan kini Yudai sudah berada di depan, tempat sesi wawancara tadi. Matanya menjelajah berupaya menemukan pria yang sedari tadi berada di pikirannya.
Dan voila, Yudai akhirnya menemukan pria itu tengah berbincang dengan salah seorang temannya. Dan tanpa ragu Yudai menghampiri pria itu.
"Selamat malam." sapa Yudai, membuat kedua pria di depannya sedikit terkejut.
"Oh Pangeran! selamat malam." balas keduanya bersamaan sembari membungkuk memberi hormat pada Yudai.
Yudai tersenyum, "Kalian akan segera pulang?" tanyanya.
Yang langsung diangguki oleh keduanya, "Iya Pangeran, kami ingin melaporkan liputan tadi kepada kantor." jelas pria yang membuat Yudai kehilangan pikirannya, Fuma.
"Baiklah, kalian sudah berkerja dengan bagus." puji Yudai.
Keduanya pun kembali membungkuk, "Terimakasih Pangeran." jawab keduanya.
"Oh ya, kalian tidak ingin berkenalan denganku?" tanya Yudai secara tak langsung meminta kedua nama pria di depannya tersebut.
Fuma tersenyum, "Tentu Pangeran, saya Fuma... Murata Fuma, tadi saya sempat memberi pertanyaan pada anda." jelas Fuma, yang diangguki oleh Yudai.
"Iya, aku mengingatnya."
"Kalau saya, Yixiang... Wang Yixiang, Pangeran..." ujar pria lainnya.
Yudai pun mengangguk paham, "Mari bertemu lagi nanti! dan semoga aku mendapatkan pertanyaanmu lagi, Murata-san." ujar Yudai mengakhiri pembicaraan mereka malam itu.
•••
Sudah seminggu berlalu sejak acara makan malam dengan Presiden Korea Selatan. Namun Yudai belum saja melupakan wartawan tampan yang ditemuinya malam itu.
Di pikiran Yudai, kini hanya dikelilingi oleh Fuma. Pria itu benar-benar bisa membuatnya gila kapan saja. Rasanya Yudai bisa saja seharian menjawab pertanyaan wartawan itu, asalkan bisa melihat wajah tampannya selalu.
Pagi ini Yudai mendapatkan sedikit kesempatan untuk mengantarkan kedua adiknya untuk pergi ke sekolah. Dan demi apapun, Yudai sangat senang karena hal itu.
Bagi Yudai, yang selama hidupnya dikekang oleh protokol kerajaan yang ketat. Melakukan kegiatan seperti ini bisa dibilang tidak biasa, dan sangat aneh bagi masyarakat. Namun Yudai tak peduli dengan itu.
Mobilnya kini sudah berada di depan sekolah sang adik. Dan Yudai mungusak rambut kedua adiknya itu sebelum membiarkan kedua pemuda itu masuk ke dalam gedung sekolah mereka.
Sepanjang mengantarkan sang adik, Yudai sedari tadi tak ada habisnya melihat orang-orang tersenyum kearahnya. Dan jujur saja itu membuat Yudai sedikit tak nyaman.
Namun kehadiran seseorang mengejutkannya. Dan itu adalah Fuma yang tiba-tiba berada di sebelahnya.
"Murata-san, kenapa kau disini?" tanya Yudai yang merasa aneh dengan kehadiran Fuma tersebut.
"Tolong, panggil saja Fuma, Pangeran..." pinta sang wartawan yang hanya diangguki oleh Yudai.
"Saya baru saja berbelanja di kombini dekat sini Pangeran, dan yah, rumah saya berada di dekat sini juga, kenapa Pangeran sendiri ada di sini?" tanya balik Fuma pada Yudai.
"Oh... aku baru saja mengantarkan adikku bersekolah." jawab Yudai menunjuk gedung sekolah di depannya.
Fuma terlihat sedikit terkejut dengan informasi tersebut. Namum dia berusaha senormal mungkin menerima informasi tersebut.
"Tentu, aku dengar, sekolah ini memang cukup mahal, dan yah orang-orang seperti kalian pasti bersekolah di sekolah elit seperti ini." ujar Fuma menanggapi.
"Fuma-san?" panggil Yudai, membuat Fuma menatap dirinya.
"Iya, Pangeran?"
"Mumpung aku berada di sini, dan kau bilang rumahmu berada di dekat sini. Kenapa kau tidak mengajakku bertamu ke kerumahmu." pinta Yudai pada sang wartawan.
Fuma terkekeh, "Pangeran, kalau boleh jujur, rumah saya mungkin tak sebanding dengan istana milikmu, dan yah saya tidak ingin Pangeran merasa tidak nyaman di sana nanti." jelasnya.
Yudai menggeleng, "Tidak apa Fuma-san, aku ingin melihat bagaimana rakyatku tinggal." final Yudai, yang membuat Fuma mau tak mau membawa Yudai ke rumahnya.
Dan disinilah Yudai sekarang, berada di flat kecil milik Fuma. Yang menurutnya terlihat nyaman ditinggali daripada kediaman mewahnya.
"Fuma-san, flatmu sangat bersih dan rapi." puji Yudai.
"Terimakasih Pangeran, silahkan..." balas Fuma mempersilahkan Yudai untuk duduk di kursi kayu miliknya.
Fuma pun beranjak menuju ke dapur yang langsung terhubung dengan ruang tamu tersebut, "Pangeran, kau ingin minum sesuatu?" tawarnya pada sang Pangeran.
Yudai sedikit berpikir atas tawaran Fuma itu. Bagaimanapun, menerima makanan ataupun minuman dari orang asing itu terlarang bagi anggota keluarga kerajaan.
Namun dengan sadar akhirnya Yudai menjawab, "Bolehkah aku meminta air putih?"
Dengan senang hati Fuma memberikan segelas air putih pada Yudai. Dan menarik kuris kayu lainnya dan duduk di depan sang pangeran.
Untuk beberapa menit, keheningan menghampiri keduanya. Sebelum Yudai kembali membuak mulutnya.
"Jadi, bagaimana rasanya jadi wartawan?" tanya Yudai menatap Fuma.
"Ya begitulah Pangeran, aku senang-senang saja dengan pekerjaan ini, kau bisa bertemu orang-orang penting dan pergi kemana saja." jelas Fuma.
Yudai mengangguk, "Itu terlihat menyenangkan."
Hening kembali.
"Apa kau tidak ingin menanyakan bagaimana rasanya jadi Pangeran padaku?" heran Yudai.
Fuma terkekeh, "Oh... kalau saya boleh tahu, bagaimana rasanya menjadi Pangeran..."
"Itu menyenangkan, aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan dimanapun dan kapanpun itu." jelas Yudai.
"Tapi... rasanya di lain sisi, ituu juga tidak telalu bagus, kehidupan kerajaan benar-benar melelahkan, aku tidak bisa hidup dengan bebas. " ungkap Yudai sedikit lesu.
Tangan Fuma tanpa sadar meraih telapak tangan Yudai. Membuat sang pangeran sedikit terkejut, namun tak menolak perlakuan itu.
"Maaf, anda pasti sangat terbebani dengan itu."
Yudai mengangguk, "Heem, tapi bagaimanapun aku harus berusaha untuk selalu memenuhi ekspektasi semua orang yang menggantungkan dirinya padaku."
"Aku tidak bisa menyerah sekarang." ujar Yudai yang matanya kini tak sengaja berpapasan dengan Fuma.
Untuk beberapa detik Yudai membiarkan dirinya untuk menatap manik indah tersebut. Sampai Fuma mengalihkan wajahnya darinya.
"Fuma-san?"
"Iya, Pangeran?" Fuma kembali menatap Yudai, namun dia sedikit menunduk, entahlah dia merasa sedikit awkward dengan tatapan Yudai beberapa detik lalu.
"Kau tau, kau benar-benar tampan Fuma-san, setelah pertemuan kita malam itu, aku benar-benar tidak bisa mengalihkan dirimu dari kepalaku." ujar Yudai, sontak membuat Fuma terkejut.
Yudai dengan kesadaran penuhnya menarik dagu Fuma untuk kembali menatap kearah matanya. Dan Fuma sangat sungkan untuk menghentikan perlakuan sang Pangeran itu. Membuatnya hanya bisa diam ketika Yudai mulai mendekatkan wajah keduanya.
"Fuma-san?"
"Pangeran..."
Mata Fuma membesar begitu merasakan benda kenyal nan dingin itu menyentuh bibirnya. Jatungnya berdetak lebih cepat sekarang. Dia seharusnya tak membiarkan ini terjadi, namun dia hanya bisa diam.
Fuma hanya bisa diam ketika Yudai menarik tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka. Yudai benar-benar sudah larut dengan pikirannya sendiri, dia menikmati ini, rasanya dia tidak ingin ini berakhir.
Namun kembali ke realita, Yudai menarik ciumannya ketika merasakan nafasnya mulai menipis. Dia juga bisa melihat Fuma terengah-engah akibat kegiatan mereka berusan.
Dan seperti petir menyambar, pikiran Yudai tiba-tiba berubah kacau dengan cepat. Dia berdiri dari duduknya, membuat Fuma terkejut dan ikut berdiri untuk mensejajarkan diri mereka.
"Maaf... maafkan aku... aku seharusnya tidak melakukan ini." racau Yudai berlalu dari hadapan Fuma.
Fuma coba menghentikan Yudai yang keluar dari flatnya itu. Namun dia tak bisa. Yudai tidak mendengarkan dirinya yang sedari tadi memanggil namanya.
•••
Yudai sangat tahu jika dia melakukan hal yang salah. Namun tetap saja dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak jatuh cinta kepada Fuma.
Hati Yudai sekarang benar-benar menginginkan Fuma hanya untuknya. Pikirannya terus-menerus memikirkan jika dirinya ingin hidup dan menua bersama Fuma.
Yudai kacau, hatinya kacau, pikirannya kacau. Dia tidak bisa terus berdiam diri seperti ini. Dia harus membuat semuanya jelas. Dia menginginkan Fuma.
"Aku... ingin mengatakan sesuatu pada kalian." ucap Yudai berdiri dari duduknya dan melangkah ke hadapan keluarganya yang kini tengah berkumpul di ruang tengah untuk menonton televisi.
"Ada apa sayang? katakan saja, kamu akan mendengarkan." ucap sang ibu pada anaknya.
Yudai pun menghela nafas panjang sebelum berkata, "Aku... gay." ungkapnya.
Yang langsung dihadiahi oleh kesunyian dari keempat orang lainnya. Namun tak lama sampai suara kekehan sang ayah memecah segalanya.
"Oh Yudai... jangan bercanda, kau tahu ayah tak akan percaya pada omong kosongmu itu." balas sang ayah pada Yudai.
Yudai mendengus, "Kali ini aku serius ayah, aku gay, dan aku jatuh cinta pada seorang wartawan bernama Fuma." tegas Yudai.
Ayahpun beranjak dari duduknya, dan tanpa segan menampar sang anak, "Apa yang kau katakan, Yudai?"
"Kau itu penerus ayah, kau adalah pemimpin masa depan Jepang. Tak seharusnya kau melakukan tindakan gila seperti itu." ujar sang ayah kasar.
Yudai mengusap pipi panasnya itu, "Aku tahu ayah, tapi maaf, aku tidak bisa menahan diriku sendiri kali ini." jelasnya, dan melangkahkan pergi dari hadapan sang ayah.
Sang ayahpun hanya bisa marah menatap kepergian sang anak. Sumpah serapah pun keluar bagaikan banjir untuk Yudai. Namun dia tak peduli, dia ingin menemui Fuma sekarang.
Yudai melajukan mobilnya dengan kencang untuk sampai di flat milik Fuma. Dan apa yang dia dapatkan disana, membuatnya sedikit kecewa.
Yudai tak bisa masuk ke dalam, Fuma mengunci flat miliknya. Dan Yudai pikir Fuma mungkin saja belum pulang dari tempat kerjanya. Dan kini Yudai memutuskan menunggu kedatangan pria itu.
Tapi hampir dua jam Yudai menunggu kehadiran pria itu. Namun nihil, dia tidak melihat tanda-tanda bahwa Fuma akan segera kembali.
Sampai Yudai yang tengah terduduk di lantai, dihampiri oleh seorang wanita paruh baya.
"Permisi, apa anda sedang mencari Murata-san?" tanya wanita itu, dengan cepat Yudai mengangguk.
Wanita itu tersenyum, "Maaf, namun aku harus memberitahumu, jika Murata-san sudah pindah beberapa hari lalu."
Jantung Yudai berhenti berdetak untuk sesaat.
"Kalau boleh tahu, dimana Murata-san sekarang tinggal, bi?" tanya balik Yudai.
Wanita itu menggeleng, "Maaf... dia tidak memberitahu kemana dia pindah."
Rasanya, dunia Yudai runtuh sekarang. Dia ingin menangis saja saat ini. Fuma, pria yang hampir satu bulan ini berada di pikirannya kini meninggalkannya.
"Tapi dia meninggalkan sesuatu untukmu, kurasa..." Wanita itu mengeluarkan sebuah amplop coklat dan memberikannya pada Yudai.
"Terimakasih, bi..." ucap Yudai, dan setelahnya wanita itu pergi dari hadapan Yudai.
Tangan Yudai dengan cepat membuka amplop coklat itu. Dan mengetahui jika isi didalamnya adalah sebuah surat yang ditulis oleh Fuma untuknya.
~ Teruntuk, Pangeran.
Maaf dengan ketidaksopanan saya yang pergi secara tiba-tiba. Namun saya pikir ini adalah hal yang bisa saya lakukan untuk anda.
Tidak perlu mencari saya, saya tidak akan pergi jauh. Saya akan tetap berada di sekitar anda. Anda hanya perlu yakin dengan keberadaan saya.
Saya mengerti dengan perasaan anda terhadap saya, namun sepertinya semua orang tidak akan memiliki pikiran yang sama dengan kita. Jadi bagaimanapun mungkin kita tidak akan bisa bersama.
Saya harap, anda memiliki kehidupan yang bahagia walaupun tidak bersama dengan saya. Saya yakin anda pasti akan menjadi kaisar yang hebat.
Saya yakin dengan Pangeran!
~ Dari, Murata Fuma.
Tak terasa air mata Yudai menetes membasahi kertas di tangannya itu. Hatinya hancur, benar-benar hancur hingga rasanya sangat sakit.
Yudai tak menyangka jika Fuma akan melakukan ini semua. Dia merasa dikhianati, walaupun Fuma sebenarnya tidak melakukan hal itu.
Yudai pun menghela nafas panjang, melipat kembali kertas ditangannya dan memasukkannya ke tempat semula. Dia segera menuju ke mobilnya.
Yudai melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Matanya benar-benar menunjukkan bahwa dia tengah marah sekarang. Mungkin Yudai rasa dirinya perlu pelampiasan.
Di jalanan ramai itu, Yudai tak peduli dengan suara klakson yang diarahkan padanya. Dia terus saja melaju tanpa menghiraukan yang lainnya.
"Fuma... kau..."
— END
