Actions

Work Header

Is This The End For Us?

Summary:

Kenyataan menampar Taki bahwasanya dia tidak akan bisa mendapatkan orang yang selalu dia cintai selama dia masih menjadi keluarga kerajaan.

or

Hubungan Taki dan Yuma yang diujung tanduk.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Taki dan Maki berlarian masuk ke dalam rumah sakit. Kaki-kaki jenjang mereka berlari untuk menuju ke ruang gawat darurat. Yang dimana di sana sudah ada kedua orang tua mereka.

"Kak Yudai... bagaimana keadaannya?" tanya Taki terengah-engah pada sang ayah, yang dimana yang ditanyai hanya menggelengkan kepalanya tak tau.

Taki pun mendengus, hatinya berdebar lebih kencang sekarang. Dia benar-benar takut jika kakaknya mungkin saja tidak akan bisa diselamatkan. Mungkin kita akan jadi mimpi buruk untuknya.

"Aku benar-benar tak menyangka kak Yudai akan berakhir seperti ini." gumam Maki mendudukkan dirinya di sebelah sang ibu.

Pemuda itu masih ingat dengan kejadian semalam. Dimana kakaknya itu mendapatkan tamparan dari sang ayah. Dan kemudian memutuskan untuk pergi.

Namun naasnya, Yudai malah berakhir dengan keadaan setengah hidup karena mengalami kecelakaan parah di jalanan kota yang ramai.

Mata Taki kini tertuju pada sang ayah yang nampaknya sangat tenang. Pikirannya, mungkin ayahnya masih marah dengan kejadian kemarin.

Namun peduli apa Taki, menurutnya kakaknya pantas untuk mencintai siapapun. Karena dia sendiri juga memiliki seseorang yang dia cintai, yang mungkin jika ayahnya tahu, dia pasti juga akan berakhir mendapatkan tamparan dari sang ayah.

Hampir dua jam berlalu, dan akhirnya seorang dokter keluar dari ruang gawat darurat. Membuat keempat orang disana berdiri dengan tegang.

"Dokter, bagaimana keadaan putra saya?" tanya sang ibu dengan raut khawatirnya.

Dokter pun menunduk maaf sebelum menjawab, "Maaf yang mulia, namun sepertinya saya tak yakin Pangeran Yudai akan bisa diselamatkan, dia mendapatkan banyak sekali luka dari kecelakaan yang dialaminya." jelas sang dokter.

Hati Taki berhenti untuk sesaat mendengar penuturan dokter itu. Ini benar-benar mimpi buruk baginya. Dia tidak ingin mengetahui ini semua.

Taki pun pergi dari depan ruang gawat darurat. Menghiraukan Maki yang sedari tadi terus memanggilnya.

Pemuda itu kini berada di taman belakang rumah sakit untuk melampiaskan kesedihan dan amarahnya yang sekarang sudah menjadi satu.

Taki benar-benar sedih karena mengetahui mungkin saja kakaknya tidak akan pernah bangun setelah ini. Dia juga marah, karena kakaknya kini seolah memberikan bebannya kepada dirinya yang merupakan anak kedua dari keluarganya.

Selama hidupnya, Taki benar-benar tidak pernah membayangkan jika dia akan berada di posisi kakaknya. Karena bagaimanapun Taki tahu bahwa dia tidak sehebat Yudai.

Toh lagian, bukan hanya itu yang Taki pikiran. Ini soal kehidupan impiannya. Taki benar-benar bermimpi akan bisa hidup tenang dengan seseorang yang dia cintai.

Namun semua itu seolah hancur, bahkan ayahnya pun sudah mengatakan bahwa dirinya harus bersiap jika mungkin saja Yudai benar-benar pergi.

Taki harus menjadi Pangeran Mahkota yang selanjutnya.

•••

Bel makan siang sudah berbunyi. Dan Taki memutuskan pergi ke rooftop untuk makan siang disana. Dia melarang Maki untuk ikut bersamanya kesini. Taki masih perlu waktu untuk menyendiri.

Namun tidak untuk seseorang, Taki melihat seorang pemuda dengan rambut pirangnya menghampirinya. Senyumannya yang menunjukkan gigi gingsulnya benar-benar membuat hati dan pikiran Taki relax untuk sesaat.

"Yuma-chan... kemarilah!" sapa Taki pada pemuda itu, Yuma untuk duduk di sebelahnya.

"Sudah lama menungguku?" tanya Yuma mulai membuka bekal makan siangnya.

Taki menggeleng, "Belum, aku baru saja sampai."

Keduanya pun memulai kegiatan makan siang bersama mereka. Dan setelah semuanya selesai, kini dilanjut dengan Taki yang tiduran di paha Yuma sembari pria yang lebih tua mengusap-usap rambutnya.

"Yuma-chan, kau sangat harum..." puji Taki menghirup aroma kulit putih Yuma itu.

Yuma hanya terkekeh dan menyeka rambut Taki yang menutupi dahinya. Lalu mendaratkan sebuah ciuman ringan disana. Membuat yang dicium kini menatap dirinya.

"Apa?" tanya Yuma melihat raut Taki yang aneh itu.

Taki pun dengan cepat menarik tengkuk Yuma, dan menciumnya tepat di bibir kesukaannya itu. Yuma awalnya sedikit terkejut, namun bisa mengimbangi sang lawannya di menit selanjutnya.

Namun entah mengapa, Yuma merasa sedikit ada yang aneh dengan ciuman Taki siang ini. Terasa seperti ada kegelisahan di sana. Yuma rasa, pikiran Taki benar-benar kacau sekarang.

"Kau baik-baik saja kan, Taki-kun?" tanya Yuma pada Taki setelah ciuman mereka berakhir.

Taki mengangguk, "Aku baik-baik saja Yuma-chan, hanya saja, aku sedikit terpikirkan oleh kakakku." jelasnya.

Mendengar itu, Yuma pun bergerak untuk mengusap-usap kembali rambut Taki, "Maaf soal kejadian yang menimpa kakakmu, pasti itu sangat berat untukmu dan keluargamu." ujarnya lembut.

"Yuma-chan, kau ingin tahu kenapa kakakku bisa mengalami kecelakaan?" tawar Taki, yang hanya mendapatkan tatapan bertanya dari Yuma.

"Kau tahu, dimalam sebelum kakakku mengalami kecelakaan, dia mengatakan jika dirinya adalah gay."

Tiba-tiba tengan Yuma berhenti bergerak mendengar kalimat tersebut.

"Dan yah, ayahku tentu saja tidak menerima itu, dan kakakku kemudian pergi dari rumah untuk menemui orang yang dicintainya itu."

"Lalu berakhir dengan kecelakaan itu?" tanya Yuma tanpa sadar.

Taki mengangguk, dan beranjak untuk duduk dan menyamakan dirinya dengan Yuma. Tangannya bergerak untuk menarik wajah Yuma guna menatap dirinya.

"Yuma-chan... aku tahu mungkin ini akan terjadi juga padaku jika aku nanti memilih jujur kepada ayahku."

"Namun bisakah kau terus berada di sisiku, sampai mungkin waktu itu datang?" pinta Taki pada Yuma.

Yuma mengangguk, dan memeluk Taki yang mulai meneteskan air matanya itu, "Tentu saja Taki-kun, aku tidak akan pergi kemana-mana."

•••

Taki kini sedang berada di ruangan dimana Yudai dirawat. Dokter mengatakan jika Yudai sudah lebih aman sekarang. Tapi dokter juga mengatakan jika Yudai mungkin akan bangun lebih lama.

Taki mengusap-usap tangan dingin nan pucat kakaknya itu. Sungguh tenang jika dirinya melihat bagaimana kakaknya tidur itu. Seolah Yudai kini merasakan bebannya yang selama ini dia tanggung telah hilang.

"Kak... bangunlah... jangan tinggalkan aku sendiri...." gumam Taki penuh harap pada Yudai yang tenang itu.

Tiba-tiba suara pintu yang terbuka terdengar. Lalu disusul oleh sesosok pemuda yang tak lain adalah Maki masuk ke dalam ruangan.

"Aku sudah mendapatkan alamatnya!" ujar Makin mengangkat kertas yang ada di tangannya.

Taki tersenyum melihat kedatangan saudaranya tersebut. Lalu melangkah untuk menghampirinya.

"Terimakasih, Maki-chan." Taki tersenyum menerima secarik kertas berisi alamat seseorang dari Maki.

"Kau akan pergi sendiri? atau ingin kutemani?" tanya Maki pada Taki yang akan pergi itu.

Taki menggeleng, "Tak perlu Maki-chan, aku sudah meiliki seseorang yang akan menemaniku." finalnya lalu berjalan keluar dari ruangan Yudai.

Dan disinilah Taki sekarang, di depan sebuah apartemen di pinggiran kota Tokyo. Di sebelahnya ada Yuma yang sedari tadi terus mengeluh karena dirinya yang dipaksa Taki untuk ikut dengannya.

"Kau yakin ini tempatnya, Taki-kun?" tanya Yuma tak percaya memandang suasana lorong apartemen yang sepi.

Taki mengangguk, "Tentu." lalu tangannya bergerak untuk mengetuk pintu di depannya.

Dan tak lama, seorang pria membuka pintu tersebut. Yang tak lain dan tak bukan adalah Fuma. Fuma yang mengetahui siapa seseorang yang berada di depannya itu segera membungkuk hormat.

"Oh... Pangeran..." sapa Fuma.

"Benarkah ini rumah Murata-san?" tanya Taki, yang langsung diangguki oleh Fuma.

"Benar Pangeran, mari silahkan masuk." pinta Fuma kepada kedua orang di depannya untuk masuk.

Taki pun segera masuk ke dalam apartemen Fuma, dengan diikuti Yuma di belakangnya. Mereka berdua mendudukan diri mereka di sofa yang ada di ruangan itu.

Fuma yang terkejut melihat kedatangan Taki pun kini menjadi sedikit panik. Dirinya segera berlalu ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk tamunya.

"Pangeran, kau ingin minum sesuatu?" tanya Fuma kikuk.

Taki pun tersenyum, "Tentu, air putih saja."

"Lalu..." Fuma menatap Yuma, Yuma yang tau maksudnya lalu menjawab, "Sama sepertinya, air putih saja." tunjuknya pada Taki.

Kemudian setelahnya, Fuma kembali dari dapur dengan dua gelas air putih di tangannya. Dirinya kemudian mendudukkan dirinya di sebelah kedua pemuda itu.

"Ekhem... maaf jika hanya bisa memberi ini." ujar Fuma.

Taki menggeleng, "Tak apa Murata-san, lagian aku disini bukan untuk beramah-tamah." jelas Taki.

Fuma mengehela nafas panjang, sebelum menatap Taki, "Pangeran, apa yang anda lakukan disini?" tanyanya.

"Murata-san, kau sudah tahu tentang kakakku kan?" tanya Taki.

Fuma mengangguk, "Tentu, maaf soal itu, aku benar-benar tidak menyangka Pangeran Yudai akan mengalami kejadian mengerikan semacam itu."

"Murata-san, jujur saja, apa yang sebenarnya terjadi denganmu dan kakakku, huh?" tanya Taki dengan raut penasarannya.

Fuma pun menundukkan kepalanya, dia ragu untuk menjawab pertanyaan Taki itu.

"Maaf, seharusnya aku tidak membiarkan perasaan Pangeran Yudai tumbuh kepadaku." sesal Fuma.

"Kau tau Murata-san, kakakku mengalami kecelakaan karena dirimu kurasa." ungkap Taki, yang membuat Fuma menatapnya kaget.

"Maaf... aku benar-benar minta maaf, aku—" Fuma berdiri dan membungkuk sedalam mungkin pada Taki, rasanya Fuma kini dipenuhi oleh rasa bersalah.

Taki yang melihat tingkah Fuma pun menggeleng, dan menarik pria itu untuk duduk kembali, "Tidak perlu meminta maaf Murata-san."

"Aku pikir kakakku juga salah, dia terlalu stres dengan reaksi ayahku waktu kak Yudai mengatakan jika dia mencintaimu pada beliau." jelas Taki.

Fuma benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Kemudian tangan Taki menepuk pundaknya. Membuatnya melihat ke arah pemuda tersebut.

"Murata-san, apakah aku boleh meminta sesuatu padamu?"

Fuma mengangguk, "Tentu, Pangeran."

"Maukah kau menemui kak Yudai setelah dia siuman nanti."

•••

Taki terbangun dari tidurnya karena suara ketukan pintu yang mengganggunya. Dilihatnya, sekarang masih pukul tiga pagi, membuatnya bertanya-tanya siapa yang berani untuk menganggu dirinya sepagi ini.

Taki pun melangkah untuk membuka pintu, dan dilihatnya sang ibu yang berada di depan kamarnya. Namun Taki menautkan alisnya ketika melihat ibunya itu menangis.

"Ada apa, Bu?" tanya Taki coba menenangkan sang ibu dengan memeluknya.

Ibunya itu tidak menjawab pertanyaannya. Masih saja menangis di pelukan Taki. Sampai Maki dengan wajah lesunya menghampiri Taki.

"Ada apa, Maki-chan?" tanya Taki melihat adiknya itu.

"Taki-san, kak... Yudai..." Maki terlihat ragu dengan ucapannya, membuat Taki sedikit kesal dengan itu.

"Apa yang terjadi dengan kak Yudai, Maki-chan?!"

"Kak Yudai... Kak Yudai sudah tiada, Taki-san." ujar Maki dibarengi dengan air matanya yang mulai menetes.

Rasanya, jantung Taki berhenti untuk sesaat. Tak terasa air matanya juga jatuh dari pelupuknya.

"Taki-chan... Maki-chan... kalian bersiaplah, kita akan pergi ke rumah sakit." ibu melepaskan pelukannya, dan menatap kedua putranya bergantian.

Taki dan Maki pun hanya mengangguki perintah sang ibu itu. Dan segera kembali ke kamar mereka masing-masing untuk berganti baju.

Dan kini keluarga tersebut segera menuju ke rombongan mobil yang disiapkan untuk mengantarkan mereka. Dan tepat ketika Taki ingin menaiki mobil yang sama dengan ayah dan ibunya juga Maki, dirinya diberhentikan.

"Maaf Pangeran, anda bisa menaiki mobil berikutnya." ujar seorang petugas kerajaan.

Taki pun hanya mendengus, dan pergi sendirian ke mobil kedua di rombongan tersebut. Mobilpun segera melaju ketika semuanya sudah naik.

Dan tak perlu waktu lama bagi rombongan untuk tiba di rumah sakit. Setibanya disana, keluarga kerajaan langsung disambut oleh para wartawan yang sudah siap meliput mereka.

Namun keluarga kerajaan memilih untuk menghiraukan para wartawan untuk sesaat. Dan memasuki gedung rumah sakit, di mana disana semua pegawai rumah sakit memberikan ungkapan belasungkawa pada mereka.

"Kami sudah siap mengantarkan jenazah Pangeran Yudai untuk pergi ke tempat persemayaman." ucap kepala rumah sakit kepada sang kaisar.

Sang kaisar hanya tersenyum dan mengatakan rasa terimakasihnya pada pihak rumah sakit.

Di sisi lain, Taki dan Maki mengikuti ibu mereka untuk pergi ke ruangan dimana tubuh kakaknya berada. Dan sungguh hati Taki benar-benar sakit melihat keadaan sang kakak disana.

Tubuh Yudai sepenuhnya tidak bergerak. Kain putih kini menyelimuti seluruh badannya. Membuat ibunya menangis, begitu juga kedua putranya yang lain.

Taki merasa benar-benar kehilangan. Kakaknya yang selalu menyayanginya kini telah pergi. Rasanya Taki sudah kehilangan setengah dari dirinya.

Taki yang sudah tak kuat dengan atmosfir kesedihan yang mendera. Memutuskan untuk keluar dari ruangan Yudai. Dan pergi ke rooftop rumah sakit untuk menenangkan dirinya.

Disana dia berteriak sekeras-kerasnya, melampiaskan rasa kesedihan dan amarahnya. Taki sungguh sedih dengan Yudai yang pergi meninggalkannya. Taki juga sangat marah karena Yudai akhirnya kini memberikan bebannya kepada dirinya.

Taki pikir ini semua sangat tidak adil. Hidupnya benar-benar tidak adil. Dia tidak menginginkan semua ini.

•••

Prosesi pemakaman Yudai pun berlangsung selama beberapa hari. Dan di hari pemakaman pun Taki sudah bertemu dengan Fuma yang sangat merasa bersalah dengan kepergian kakaknya tersebut.

"Murata-san, tak usah terlalu dipikirkan, kakakku sudah bahagia sekarang disana." ujar Taki menenangkan Fuma.

Fuma pun hanya mengangguk, dan menyeka air matanya. Kemudian dia tersenyum pada Taki sebelum berlalu pergi dari hadapan pemuda itu.

Taki pun melangkah keluar dari bangunan rumah duka. Dia ingin mencari udara segar untuk menjernihkan pikirannya. Dan untungnya kondisi kali ini cukup tenang.

Tak ada satupun wartawan yang terlihat, karena memang pemakaman kakaknya ini dilakukan secara privat. Dan jauh dari liputan publik.

Tak sengaja mata Taki melihat seseorang yang berdiri tak jauh darinya. Dan seketika Taki berlari untuk menghampiri orang tersebut.

Tubuh Taki menghambur untuk memeluknya. Air matanya yang sudah berhenti tiba-tiba menetes kembali untuk kesekian kalinya. Tubuhnya bergetar.

Seseorang itu, Yuma mengusap punggung bergetar Taki untuk menenangkannya, "Jangan menangis, Taki-kun..."

"Yuma-chan.... aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang." Taki melepaskan pelukannya untuk menatap Yuma tepat dimata.

"Kak Yudai sudah pergi sekarang... dia meninggalkanku sendiri dengan segala bebannya." racau Taki yang membuat Yuma meringis mendengarnya.

"Yuma-chan... aku tidak ingin semua ini, aku tidak ingin menjadi apa yang ayahku berikan padaku sekarang, aku tidak ingin menjadi seorang Pangeran Mahkota!" ungkap Taki.

Yuma bergerak untuk mengusap kepala Taki, "Kau tidak boleh berkata seperti itu Taki-kun, semua orang kini bergantung padamu."

"Tidak Yuma-chan! aku tidak ingin orang-orang bergantung padaku, aku tidak sehebat kakakku!" tegas Taki.

"Lagian, aku hanya ingin hidup dan menua bersamamu nantinya Yuma-chan..."

Taki lebih menatap lekat kedua manik indah di depannya itu, "Namun sekarang, semuanya sudah hancur, aku mungkin tidak akan bisa bersama denganmu lagi mulai sekarang."

Yuma tersenyum, "Taki-kun, aku tidak akan pergi kemana-mana, aku akan selalu berada di sisimu."

"Itu tidak mungkin Yuma-chan, tidak dengan posisiku sekarang ini." sergah Taki.

"Taki-kun...?"

"Yuma-chan, ayo kita kabur! ayo kita pergi kemanapun dan jangan pernah kembali! ayo kita hidup bersama dengan damai." ajak Taki kepada Yuma dengan yakin. Membuat pria lainnya menautkan alisnya bingung.

"Maksudmu apa, Taki-kun?"

"Aku sudah muak dengan ini Yuma-chan, aku ingin pergi dari sini." tegas Taki.

Yuma menggeleng, "Tidak Taki-kun, aku, kau tidak akan pergi kemanapun."

"Taki-kun, kau tahu, kak Yudai mungkin saja akan sangat sedih jika melihatmu pergi seperti ini." ujar Yuma.

Taki pun menundukkan kepalanya, pikirannya semakin tidak karuan sekarang.

"Taki-kun..." Yuma kembali memeluk Taki.

Taki mengehela nafas panjang dan kembali memeluk pria berambut pirang itu, "Yuma-chan... apa kau ingin bertemu dengan ayahku?"

— END

Notes:

Lanjut gak?

Series this work belongs to: