Actions

Work Header

We Meet Again

Summary:

Maki tak menyangka di waktu-waktu suram seperti ini dia akan bertemu dengan seseorang yang pernah mewarnai hari-harinya di masa lalu.

or

Maki bertemu dengan Harua lagi setelah bertahun-tahun.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

"Taki-san... sarapan sudah siap, keluarlah! mari kita makan bersama."

Entah sudah keberapa kali Maki mengetuk pintu di depannya itu. Namun sekalipun tidak ada tanda-tanda dari si pemilik kamar untuk membukanya.

Sudah hampir seminggu berlalu, dan Taki masih saja mengurung dirinya dikamar. Membuat semua orang di istana kini mulai khawatir dengan dirinya.

Namun bukan tanpa alasan Taki mengurung dirinya dikamar.

Semenjak hari pemakaman Yudai. Taki mengejutkan keluarganya lagi dengan aksi pengakuannya. Sama seperti Yudai, tentu saja Taki mendapatkan amarah besar dari sang ayah.

Sang ayahpun kemudian melarang Yuma untuk bertemu dengan Taki setelah itu, dan membuat Taki akhirnya memilih untuk mengurung dirinya sebagai ekspresi ketidaksetujuannya.

Maki pun yang memastikan Taki tak akan keluar dari kamarnya. Berlalu untuk menuju ke ruang makan, yang dimana disana sudah ada sang ayah dan ibunya.

"Selamat pagi." sapa Maki pada kedua orangtuanya dan duduk di tempatnya biasanya.

Sang ibupun tersenyum pada sang anak, "Selamat pagi, Maki-chan." balasnya.

Ayahpun kini memandang Maki dengan tatapan penasarannya, "Bagaimana? dia masih tidak ingin keluar?" tanyanya merujuk pada Taki.

Maki menggeleng, "Belum ayah, akan kucoba lagi nanti." balasnya lesu.

Ayah pun hanya mengangguk dan melanjutkan sarapannya. Sebelum terhenti kembali ketika Maki mengutarakan sesuatu kepadanya lagi.

"Ayah, biarkan saja Taki-san bertemu dengan Yuma-senpai, aku yakin pasti setelahnya dia akan ingin keluar dari kamarnya." saran Maki, membuat ayah kini menatap nyalang kepada dirinya.

"Dan membiarkannya berakhir seperti kakakmu, tidak Maki! ayah sudah cukup dengan semua ini!" tegas ayah.

Maki hanya menundukkan kepalanya takut mendengar suara keras sang ayah, "Maaf." lirihnya.

"Oh ya, aku dengar Harua-san akan kesini." ujar ibu menyela.

Mendengar sebuah nama yang tak asing di telinganya. Membuat Maki menjadi sedikit semangat.

"Benarkah Bu?! kapan dia akan datang?" tanya Maki pada sang ibu.

"Entahlah, seharusnya hari ini." jawab sang ibu dengan senyuman.

"Maki.. aku tahu soal dirimu dengan Harua." ungkap sang ayah dengan nada dinginnya.

Maki mengangguk kecil, "Iya, ayah."

"Jadilah anak yang baik, ayah tahu, kau satu-satunya yang bisa ayah andalkan disini."

•••

"Maki-kun, bagaimana kabar Taki-kun?"

Maki kini sedang berada di kantin dengan Yuma. Kekasih saudaranya itu datang dengan tiba-tiba, membuatnya sedikit terkejut.

"Yuma-senpai... kau membuatku kaget." ucap Maki memegang dadanya yang berdebar kencang.

Melihat itu, Yuma terkekeh dan duduk di hadapan Maki, "Maaf."

"Dia masih saja mengurung dirinya, Senpai." balas Maki atas pertanyaan Yuma tadi.

Yuma menekuk bibirnya mendengar jawaban Maki itu. Rasanya kini dia menjadi semakin merasa bersalah telah menuruti perkataan Taki hari itu untuk bertemu ayahnya.

"Senpai, apa Taki-san sudah tidak menghubungimu lagi?" tanya Maki, yang mendapatkan gelengan dari Yuma.

"Tidak, semua pesan juga panggilanku tidak ada satupun yang dijawab olehnya." jelas Yuma.

"Baiklah, mungkin Taki-san masih perlu waktu sendiri."

"Benar, biarkan dia sendiri dulu, aku sangat tahu, ini pasti berat untuknya terima."

Percakapan keduanya pun berlangsung sampai waktu istirahat berakhir. Dan ditengah jam sekolah, Maki entah mengapa diperintahkan untuk pulang.

Mau tak mau Maki pun menurutinya. Dan dia sedikit bingung ketika mobil yang dikendarainya tidak menuju rumah malah menuju entah kemana.

"Kita akan pergi kemana?" tanya Maki pada sang sopir.

"Rumah sakit Pangeran, saya diperintahkan untuk mengantar anda kesana." jawab sang sopir menjelaskan.

Mendengar itu, detak jantung Maki bertambah lebih kencang. Semenjak kecelakaan Yudai, dia jadi sedikit parno mendengar nama tempat itu. Dan yah, di sepanjang perjalanan, pikiran Maki terus saja memikirkan siapa lagi yang masuk kesana.

Mobil Maki pun akhirnya sampai di rumah sakit. Dan sesampainya di sana. Maki langsung diantarkan olah seorang petugas keluarga kerajaan untuk menemui sang ayah dan ibunya.

"Ada apa Bu?" tanya Maki pada sang ibu yang tengah menahan tangisnya itu.

"Taki... kami menemukan Taki overdosis di kamarnya." ungkap sang ibu dibarengi tangisannya yang pecah.

Dunia Maki rasanya berhenti untuk sesaat. Kemudian tak lama dia bisa merasakan hangatnya pelukan sang ibu yang kembali menyadarkannya.

"Tapi jangan khawatir, dokter mengatakan jika dia akan baik-baik saja." tambah sang ibu, membuat Maki sedikit lega.

Setelah menunggu hampir tiga puluh menit. Akhirnya keluarga kecil itu diperbolehkan untuk memasuki ruangan dimana Taki dirawat.

Maki memandang lesu saudaranya yang tengah berbaring di brankar rumah sakit. Jujur saja, dia tak menyangka Taki akan berbuat sejauh ini.

Selama hidupnya Maki sangat tahu jika Taki jarang berbuat hal yang ekstrem, dan ini pertama kalinya dia menemukan Taki berbuat hal gila seperti ini.

Mungkin benar kata orang-orang, cinta memang terkadang bisa membuatmu gila.

"Maki-chan... apa kau tidak ingin pulang?" tanya sang ibu mengalihkan pandanga Maki pada Taki.

Maki mengangguk, "Tentu saja Bu, aku ingin membersihkan badanku, dan kembali lagi kesini nanti." jelasnya.

Sang ibu menggeleng, "Tak perlu kembali Maki-chan, temani saja Harua yang baru saja sampai." pintanya, yang langsung diangguki oleh Maki.

Maki pun melangkah untuk keluar dari ruangan Taki. Namun tepat ketika Maki berada di ambang pintu, sang ayah mencegatnya.

"Maki, jaga jarakmu dengannya, ayah masih ingat tangismu malam itu, dan ayah tidak ingin melakukannya lagi, kau mengerti?"

"Baik, ayah."

Maki pun kembali ke istana. Dan sesampainya di sana, pemuda itu langsung disambut dengan pria mungil yang sudah menunggunya di depan pintu utama.

"Selamat datang, Maki-kun." sapa pemuda itu pada Maki.

Maki tersenyum dan memeluk erat pemuda kecil itu, "Harua-san, kapan kau datang?!"

"Baru saja, Maki-kun."

Maki pun melepaskan pelukannya, dan segera mengajak Harua untuk masuk. Sebelumnya Maki berganti baju terlebih dahulu sebelum bergabung dengan Harua di ruang tamu.

"Harua-san, kau tau aku sangat merindukanmu!" ungkap Maki mendudukkan dirinya di sebelah Harua.

"Kau bisa saja, aku juga Maki-kun, sudah tiga tahun kita tidak bertemu." ujar Harua mengingat pertemuan terakhir mereka bersama.

Maki hanya mengangguki perkataan Harua. Yang diangguki kini beralih menatapnya, "Maki-kun, maaf soal kepergian kak Yudai, pasti ini semua sangat berat untuk kalian."

"Tak apa Harua-san, kak Yudai sudah bahagia sekarang disana." balas Maki dengan senyumnya.

"Ngomong-ngomong, Maki-kun, aku dengar Taki-san baru saja masuk ke rumah sakit, apa itu benar?" tanya Harua memastikan.

Maki mengangguk, "Aku baru saja dari sana."

"Ada apa dengannya?" tanya Harua lagi.

"Yah, Taki-san mengalami overdosis." jawab Maki enteng, membuat Harua sedikit terkejut.

"Apa?! bagaimana bisa?"

"Ceritanya panjang Harua-san, tapi intinya Taki sekarang tengah sedikit bertengkar dengan ayah." jelas Maki.

Harua mengangguk paham, "Apa aku harus berkunjung?" tawarnya.

"Tentu saja, besok aku akan mengantarmu kesana."

•••

Keesokannya, Harua yang ditemani Maki pun berkunjung untuk menjenguk Taki. Dan untungnya, hari ini pemuda itu sudah sadarkan diri.

"Taki-san, senang bertemu denganmu!" sapa Harua, yang dibalas senyuman oleh Taki.

"Kenapa kau kesini Harua-san? ada perlu apa?" tanya Taki pada Harua, yang langsung mendapat pukulan ringan di pundaknya.

"Hei! apa aku tidak boleh mengunjungi temanku yang sakit, huh?" kesal Harua.

Taki terkekeh, "Tentu saja boleh Harua-san, terimakasih telah datang kesini."

"Taki-san, bagaimana keadaanmu?" sela Maki menanyai saudaranya itu.

Taki mendengus kecil lalu menggeleng, "Tak lebih baik Maki-chan."

"Bahkan lebih buruk, rasanya aku ingin mati saja jika ayah masih saja melarangku untuk menemukannya." ujar Taki.

Mendengar itu Maki mengeraskan giginya, "Taki-san, jangan berkata seperti itu!"

"Kalau begitu, bantu aku untuk bertemu dengannya lagi, Maki-chan."

Maki menghela nafas panjang, "Aku sedang berusaha."

Kunjungan kedua pemuda itupun kini sudah selesai. Dan sekarang, Maki dan Harua tengah berjalan untuk menuju ke mobil mereka yang berada di basement rumah sakit.

"Maki-kun, apakah aku boleh bertanya sesuatu?" Harua menghentikan langkahnya, membuat Maki melakukan hal yang sama.

"Tentu saja."

"Orang yang ingin ditemui oleh Taki-san, siapa dia? aku rasa Taki-san benar-benar ingin sekali menemuinya." tanya Harua dengan raut penasarannya.

Maki pun menunduk untuk berpikir sebentar, "Namanya adalah Yuma, dia adalah kekasih dari Taki-san." jawabnya.

"Lalu apa yang salah dengan itu?"

"Yuma-senpai, adalah seorang lelaki, Harua-san." ungkap Maki.

Mendengar itu, tubuh Harua membeku. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Maki yang tahu Harua kehilangan kalimatnya segera menariknya pergi.

"Mari pulang."

Disepanjang perjalanan pulang. Mobil hanya dipenuhi dengan kesunyian. Entah mengapa, tapi itu membuat Maki sedikit muak.

Hingga Maki memutuskan untuk memecah kesunyian tersebut, "Harua-san?"

Harua yang merasa terpanggil, mengalihkan matanya untuk menatap Maki di sebelahnya.

"Kau baik-baik saja kan?" tanya Maki, membuat Harua menautkan alisnya bingung.

"Maksudmu apa Maki-kun? tentu saja aku baik-baik saja." balas Harua apa adanya.

Maki pun mengangguk, "Syukurlah, aku kira kau—"

"Maki-kun, pasti ini berat untukmu kan?" potong Harua atas perkataan Maki.

"Tentu, apa yang dirasakan Taki-san benar-benar lebih parah dariku dulu, dan aku sedikit kasihan padanya." jelas Maki.

"Ayahmu pasti benar-benar marah kepada Taki-san hingga Taki-san bisa berbuat jauh seperti ini." pikir Harua.

Maki mengangguk, "Sejak hari pemakaman kak Yudai, Taki-san benar-benar berubah."

"Dia berubah setelah mengatakan semuanya pada ayah."

"Mari berharap, Taki-san bisa mendapatkan akhir bahagianya." Harua menepuk paha Maki untuk menenangkannya.

•••

Istana malam ini benar-benar sepi. Hanya ada Maki dan Harua yang tinggal disana. Dan itu membuat Harua sedikit takut untuk tidur sendiri malam ini.

Pria mungil itu melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar Maki. Dan untung saja, si pemilik kamar dengan senang hati untuk memperbolehkannya masuk.

"Harua-san? kenapa?" tanya Maki pada Harua yang masih berdiri di dekat pintu yang sudah tertutup.

Harua tidak menjawab. Dia terlalu sibuk untuk mengalihkan matanya dari pemandangan pemuda di depannya yang sedang bertelanjang dada.

"Harua-san?" panggil Maki lagi, membuat Harua kini terpaksa memandang Maki yang tengah bertelanjang dada.

Namun bukannya menatap ke arah mata Maki, Harua malah dialihkan oleh bekas luka yang memenuhi tubuh atletis pemuda tersebut.

"Masih belum hilang juga ternyata?" tanya Harua tanpa sadar masih memandangi tubuh Maki.

Maki yang menyadari itu hanya terkekeh, "Kupikir, memang seharusnya bekas luka ini tidak hilang."

"Karena aku akan selalu mengingat betapa aku mencintaimu dulu Harua-san, dengan semua luka ini." gumam Maki.

Harua menundukkan kepalanya mendengar perkataan Maki tersebut, "Sudahlah Maki-kun, aku akan menangis harus mengingat malam mengerikan itu."

~ Tiga tahun lalu....

"Akhh...! ayah tolong hentikan, itu sakit!"

"Ayah! tolong!"

Pria paruh baya itu benar-benar tuli dengan rintihan kesakitan sang anak. Dirinya masih saja dengan tega menyabetkan tongkat rotan itu ketubuh sang anak.

Bahkan darah yang mengalir dari luka yang ditimbulkan. Tidak membuat sang ayah berhenti untuk menghukum sang anak yang menurutnya sudah salah.

"Dasar anak bodoh! kau pikir tindakanmu itu benar huh?!"

"Kau itu pria! tak seharusnya kau mencium Harua seperti itu! dasar bodoh!"

"Ayah! itu sakit..."

Sang ayah benar-benar kejam. Membuat seorang pemuda lain di sebalik pintu hanya bisa menahan tangisnya, mendengar suara tangisan orang yang dicintainya itu di sebalik pintu.

•••

"Harua-san? apa kau ingin tahu kenapa kak Yudai bisa mengalami kecelakaan?" tawar Maki kepada Harua yang berbaring di sebelahnya.

"Tentu jika kau tidak keberatan bercerita." Harua pun mengubah posisi tidurnya untuk menghadap Maki, begitu juga dengan pemuda lainnya.

"Malam itu, sebelum kecelakaan kak Yudai..."

"Kak Yudai dan ayah terlibat sedikit pertengkaran, dan membuat kak Yudai memutuskan untuk pergi dari rumah."

"Kenapa kak Yudai bisa bertengkar dengan ayahmu?" sela Harua.

Maki menghela nafasnya panjang sebelum menjawab, "Kak Yudai, malam itu dia mengatakan jika dia mencintai seorang wartawan, dan yah dia juga seorang lelaki."

"Ayah tentu saja marah, dan menampar kak Yudai di hadapan ibu, Taki-san, dan aku."

Harua menutupi mulut menganganya dengan telapak tangannya. Semua ini benar-benar mengejutkannya, dia tak menyangka semua ini akan terjadi pada keluarga kerajaan yang lain.

"Maki-kun, aku benar-benar minta maaf." lirih Harua.

"Tak apa Harua-san, ini bukan salahmu, mungkin saja ini karma yang harus diterima ayahku karena telah berani menyiksa anak lima belas tahun hanya karena preferensi seksualnya." jelas Maki sedikit terkekeh.

"Maki-kun, jangan berkata seperti itu." Harua menepuk pundak Maki untuk menghentikan omong kosong pemuda itu.

Hening, hening untuk sesaat bagi keduanya.

"Harua-san, aku sudah berpikir sejak beberapa hari lalu."

"Dan ini soal Taki-san."

"Apa itu, Maki-kun?" tanya Harua menatap lamat mata Maki.

"Aku ingin menggantikan posisi Taki-san menjadi Pangeran Mahkota." ungkap Maki.

"Jika ayahku melarang Yuma-senpai dan Taki-san bertemu karena Taki-san yang kini sudah menjadi Pangeran Mahkota.."

"Maka aku ingin menggantikan Taki-san agar dia bisa bersama dengan Yuma-senpai setelahnya." jelas Maki yakin.

Mendengar perkataan Maki itu membuat Harua tersenyum. Tangannya bergerak untuk mengusap pipi mulus pemuda di hadapannya itu.

"Maki-kun... aku akan selalu mendukungmu."

•••

Taki yang baru saja terbangun dari tidurnya. Langsung dikejutkan oleh wajah seseorang yang hampir seminggu ini dia rindukan.

"Yuma-chan!"

Yuma tersenyum melihat Taki yang berubah menjadi semangat itu. Tubuhnya menghambur untuk memeluk pemuda yang masih terbaring di brankar tersebut.

"Aku benar-benar tidak percaya kau ada disini." ujar Taki penuh kebahagiaan.

"Aku juga tidak percaya aku bisa menemuimu lagi." balas Yuma tak kalah bahagianya.

Taki melepaskan pelukannya dan menatap pria berambut pirang dihadapannya itu, "Bagaimana kau bisa kesini Yuma-chan?"

"Apa ayahku sudah memperbolehkan kita untuk bertemu?" tanya Taki penasaran.

Yuma mengangguk, "Tentu Taki-kun, ayahmu menelponku sendiri tadi."

"Beliau mengatakan jika aku diperbolehkan untuk menemuimu dan setelah kau sembuh, beliau juga mengatakan aku bisa membawamu pergi." jelas Yuma.

Mendengar kalimat panjang Yuma membuat Taki sedikit bingung. Namun, kebahagiaan terlalu mendominasi dirinya. Sehingga dia tidak terlalu memikirkan hal itu.

"Yuma-chan! mari kita pergi dari sini, dan hidup bahagia bersama!"

•••

"Harua-san... kau pergi terlalu cepat, aku baru saja sedikit menghabiskan waktu denganmu." gerutu Taki yang kini tengah mengantarkan Harua untuk menuju ke mobilnya bersama Maki.

"Taki-san benar Harua-san, aku masih merindukanmu." tambah Maki berusaha untuk membuat Harua tidak jadi pergi.

Harua tersenyum gemas dan mengusak rambut Maki, "Aku akan kembali, jangan khawatir."

"Itu pasti sangat lama." tebak Maki lesu.

Harua menggeleng, "Tidak Maki-kun, aku akan kembali liburan musim dingin ini." jelas Harua, membuat kedua pria lainnya menjadi sedikit bahagia.

"Janji?" Maki menyodorkan jari kelingkingnya kepada Harua.

Dan Harua dengan yakin menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Maki, "Janji!"

"Baiklah, kalau begitu aku pamit, sampai bertemu lagi!" final Harua sebelum masuk kedalam mobilnya.

Mobil Harua pun melaju keluar dari halaman depan istana. Meninggalkan dua pemuda yang masih berada di sana.

"Sepertinya aku juga harus pergi." ujar Taki tiba-tiba, membuat Maki menatapnya kesal.

"Kau selalu saja meninggalkanku." gerutu Maki.

Taki terkekeh dan mengusak rambut Maki itu, "Maaf ya, Pangeran Mahkota..."

"Tapi masakan Yuma-chan tidak bisa aku tinggalkan, dia pasti sudah menungguku sekarang." ujar Taki semangat.

"Hei Taki-san, aku boleh iku?" tanya Maki.

Taki terlihat sedikit berpikir sebelum menjawab, "Boleh, asal kau sudah ijin kepada ayah."

"Taki-san, kau sialan!"

 

— END

Notes:

next? yay or nah?

Series this work belongs to: