Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-04-28
Words:
1,204
Chapters:
1/1
Kudos:
2
Hits:
48

spring: Oubaitori

Summary:

Hanyalah percakapan ringan antara dua orang yang bertanya-tanya bagaimana hidup berjalan. "Apakah aku sudah menjalankan hidup yang dia perjuangkan?"

Musim semi menari di pelupuk mata, isyaratkan janji semesta bahwa semua pasti mekar seperti bunga.

/english version will be posted soon/

Notes:

Disclaimer:
ONE PIECE dan karakternya adalah milik Eiichiro Oda, levarciel menulis ini hanya untuk melayarkan OTP getek tanpa mengambil profit apa pun.

Notes:
- Latar fanfiksi ini adalah Wano dan dianggap sebagai musim semi (inspo: official art Straw Hats di Wano)
- Sebuah pengandaian kalau Nami bertemu Law pasca insiden 'tuduhan' Shinobu ... sebelum Law menyerahkan diri untuk membebaskan krunya.
- Seasons of LawNami akan terus ada sepanjang tahun. Info lengkapnya di utas pinned twitter @orenjihearts atau di tumblr @levarciel. Btw, kalau ada lawnami shippers yang mau mutualan, DM/mention saja nanti pasti ku-follback ♡ Maaf kalau jarang muncul, aku sedang lumayan hiatus.

Work Text:

Oubaitori (n.) the idea that people, like flowers, bloom in their own time and in their individual ways.

✿✿✿✿✿

"Bepo dan yang lain akan lebih memilih mati daripada membuka mulut. Jangan menghina kruku!"

Sesaat setelah Trafalgar Law menyerukannya, dia keluar ruangan. Jika Shinobu meragukan mereka, mana mungkin Kapten Bajak Laut Hati dapat mempercayai orang-orang itu begitu pertempuran mengganas nanti? Lebih baik dia pergi membebaskan rekan-rekan daripada adu mulut bertambah panjang.

Kendati sebal, Law cukup mawas diri supaya tidak memperburuk situasi. Akan ada waktu yang tepat untuk mengungkit atau menyelesaikan masalah ini.

Kemudian, terdengar langkah berderap dari belakang. Law kenal aroma citrus samar yang menyeruak di udara. Ha! Navigator Topi Jerami kurang ahli menyembunyikan hawa keberadaannya.

"Apa lagi, Nami-ya?" gusar Law.

Perempuan itu berjalan menjajarinya. "Aku mengerti mengapa dia frustrasi. Mereka telah menunggu momen ini selama 20 tahun," tutur Nami hati-hati, mengulang tanggapannya untuk Usopp beberapa menit lalu.

Tidak ada reaksi yang ditunjukkan oleh pria bertopi. Dapat dipahami, Shinobu kerap bergerak bersama Nami. Tentu sang Nona lebih mengenalnya daripada Law.

"Namun, aku juga percaya Bepo, Penguin, Sachi, dan yang lain tidak akan berkhianat." Kelanjutan ucapan Nami membuat Law melirik dari sudut mata.

Ketika dia bertarung di Dressrosa, Law mempercayakan krunya kepada Nami. Benar saja, dia telah menolong mereka di Zou. Selama sepuluh hari, mereka banyak berinteraksi ... mengingat betapa antusias para awak Bajak Laut Hati bercerita tentang Nami padanya. Law jadi sedikit penasaran apakah rekan-rekannya juga menceritakan dia pada Nami?

"Maksudku, di situasi sepanas sekarang ... musuh dapat memanfaatkan setiap percikan konflik." Nami terus berbicara, seolah takut Law salah paham.

"Aku tahu," tanggap Law pendek.

"Mau makan sesuatu sebentar, Torao-kun?" ajak Nami, yang kemudian segera menambahkan, "Maaf, aku terbiasa dengan nakama. Luffy dan Zoro akan lebih bertenaga jika makan dan minum sebelum berangkat ke pertempuran sengit. Kalau kamu merasa ini buang-buang waktu, lupakan saja."

"Tidak kok. Kita bisa makan sesuatu."

Sebuah persetujuan yang tidak Nami sangka. Walau begitu, toh, mereka mencari kedai terdekat jua. Law butuh dinginkan kepala.

✿✿✿✿✿

Pohon sakura warnai panorama dalam lembut merah muda, segarkan mata jiwa yang banyak habiskan waktu di samudra. Bahkan, di tanah sengsara, keindahan sederhana tetap ada; menjadi pelipur mereka yang tersiksa, mewujud pengingat bahwa asa tak sepenuhnya musnah.

... sebab yang bersemi bukan cuma bunga.

Perlawanan jiwa-jiwa yang mendamba kebebasan akan mekar bersama. Segera.

"Katanya, manusia seperti bunga." Bertopang dagu, Nami edarkan pandangan ke pepohonan di depan sana. "Bell-mère pernah bercerita tentang filosofi oubaitori. Setiap orang akan mekar dengan cara masing-masing."

Semilir angin menyapa pohon sakura, ceraikan beberapa kelopak ringkih yang kemudian melayang bebas di udara. Tatapan hazel Nami berubah sayu tatkala meneruskan, "Meski begitu, tidak semua tanaman bisa hidup dengan baik hingga berbunga, kan?"

Pertanyaan retoris tersebut mengambang, sisakan jeda untuk menghela napas. Pria bertato DEATH di tangan seolah menangkap tanya yang tak terkatakan.

Kira-kira, kita bunga yang seperti apa?

Law tidak sepuitis itu untuk bisa berikan respons yang bagus. Lebih tepatnya, dia pun tidak tahu. Jangankan Nami, dia bahkan tidak cukup mengerti diri sendiri. Sejak 13 tahun lalu, sudahkah dia tumbuh sesuai harapan sosok yang berkorban nyawa demi menjadi pupuknya? Apakah dia adalah bunga liar berduri yang terlilit sulur gelap Sang Kematian? Apakah bunga bernama Trafalgar Law layu sebelum merekah?

" ... yang dia perjuangkan?"

"Huh?" Refleks, Nami menoleh. Gumaman rendah Law tidak terdengar jelas olehnya.

"Abaikan saja."

Kening nona berambut jingga berkerut, tetapi mungkin saja roh musim semi bantu sampaikan maksud. Sebuah pemahaman mengalir lembut bak cairnya salju ke tanah yang menghangat.

"Kita hidup," lirih Nami sarat arti.

Pupil Law sesaat membesar. Lalu, dia menimpali, "Kita belum mati."

Navigator muda menepuk punggung kapten dari kru rival spontan, akibatkan pria itu mendelik akan tindakan sok akrab. Tahu bahwa percuma saja menegurnya, dia biarkan si perempuan berbicara.

"Hahaha. Jangan mati dengan mudah, oke? Aku juga belum mau mati." Tangan gemulai terentang ke arah matahari di celah bunga-bunga, diikuti oleh gumaman penuh tekad, "aku ingin berbunga."

Dari sudut mata Law, tertangkap senyuman lembut yang seolah ditujukan untuk sesuatu di kejauhan. Pasti untuk perempuan Angkatan Laut yang membesarkannya.

Sedikit banyak mereka mengetahui kisah hidup satu sama lain meski sejumlah hal masih rahasia. Penderitaan Law dan Nami cukup serupa. Terenggutnya seseorang yang menyayangi tanpa batas tepat di depan mata, hingga kalimat cinta tinggalkan luka paling perih. Mereka yang pergi telah memberi Law dan Nami kesempatan 'tuk lanjutkan hidup. Namun, terkadang ada gundah ... sudah benarkah cara hidup yang mereka pilih?

"Kamu juga. Kamu pasti jadi bunga yang mencolok seperti Luffy atau Zoro. Orang-orang akan memperhatikan setiap gerak kalian," tunjuk Nami.

Dalam hal ini, tampaknya disejajarkan dengan kapten dan pendekar pedang dungu merupakan suatu pujian. Law setuju bahwa mereka memang mencolok.

"Kalau kamu, Nami-ya?" tanyanya kemudian.

"Heiii, tidakkah lebih bagus jika kamu yang menjawab dan memujiku?" sungut si kartografer, menghela napas lebih dramatis dari biasanya.

Begitu Law menoleh, Nami juga menoleh balik dan mengedipkan mata. Sebelah mata Law memicing seolah itu pemandangan aneh, lalu tangan Nami mengetuk meja dengan tenaga ekstra sampai Law sedikit berjengit.

"Kenapa? Kan, kamu yang punya ide tentang bunga." Sengaja atau tidak, intonasi Law terdengar lebih menyebalkan dari biasanya.

"Baiklah, baiklah." Nami mengangkat kedua bahu. Volume suaranya memelan saat bertutur, "aku bunga yang cantik ... saja."

"Saja?" Law tidak bisa tidak bertanya.

"Aku sadar aku lemah," tandas si Kucing Pencuri. Dibandingkan dengan para nakama, kekuatan fisik Nami tergolong rendah. Keberaniannya pun tidak segila mereka.

Tadi dia berkelakar dengan Usopp tentang pengandaian bila mereka tertangkap oleh musuh. Bertahan hidup harus menjadi prioritas utama, kan? Nami sadar dia penakut. Jikalau dia lebih kuat, pasti tak perlu memikirkan skenario buruk semacam itu.

Agaknya, malah Law yang tidak terima. Menurut Law, Nami memiliki kecerdasan dan kemampuan yang berguna. Perempuan tersebut lebih berani dari yang dia sendiri sangka. "Kamu tidak selemah itu," tukasnya.

Validasi pendek Law lambungkan angan Nami ke pertempuran silam. Terkadang mereka berbeda pendapat, tetapi Law memandangnya setara dan membiarkan Nami 'tuk ambil keputusan sendiri asalkan paham konsekuensi. Ah, pria bertopi bulu tersebut memang lebih hangat dari yang dia sendiri kira.

"Terima kasih. Tapi kalau melihatku kesulitan, kau harus datang. Kan, kita aliansi," candanya.

"Ya, hanya selama kita beraliansi," pungkas Law diplomatis.

Setiap bunga punya warna, fungsi, waktu, dan aroma tersendiri. Tanaman berbunga lebih dari sekali. Jadi, mereka dapat mekar lebih indah di masa depan. Selama hidup, mereka bisa mekar lagi ... dan lagi.

Layu bukan berarti mati. Lambat bukan berarti takkan berbunga. Yang tampak ringkih bisa memiliki keistimewaan tersembunyi. Satu bunga tak boleh dibandingkan dengan yang lain.

Begitu pula manusia. Tanya yang tak terkata belum menemukan jawaban pasti. Meski begitu, Law dan Nami masih hidup. Ada saat menang, kalah, bimbang, dan rapuh. Namun, mereka hidup. Mereka akan terus hidup disaksikan oleh Corazon dan Bell-mère dari surga.

Mereka akan bersemi dan merekah lagi ... kendati hidup dari musim ke musim tidaklah mudah.

Konversasi singkat berakhir tanpa perpisahan yang lazim. Tiba-tiba Trafalgar Law gunakan kemampuan buah iblisnya untuk bertukar posisi dengan kelopak sakura yang gugur di depan sana. Pola tersebut berlangsung beberapa kali sampai sosok Law tidak terlihat.

Nami terhenyak di tempat. Bukan karena Law mendadak pergi, tetapi ada momen super singkat sebelum pengguna ope ope no mi berpindah ke benda kedua. Dia menoleh ke arah Nami dengan senyum tipis di wajah.

Syukurlah suasana hati Law membaik. Entah kenapa, Nami jadi lebih lega. Dia tadah kelopak sakura tersebut di telapak tangan, menggenggam sebentar untuk dilepaskan lagi ke udara.

Semoga berhasil, Torao-kun.