Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-05-09
Words:
1,864
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
36
Bookmarks:
1
Hits:
439

(my decision is) like the rain, it falls slowly.

Summary:

Eunseok gak suka sama hujan, soalnya dingin.

Tapi, keputusannya menjalin hubungan sama Sungchan seperti cuaca yang ia benci. Bak air hujan yang turun di wajahnya, menyakitinya sedikit demi sedikit.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Seok?” Lelaki itu menoleh ketika pundaknya ditepuk seseorang, seseorang berdiri di belakangnya yang masih sibuk menggigit pensil. “Pulang, ya? Kereta terakhir udah mau dateng, nih.”

“Gue kayaknya naik bis aja.” Sahut Eunseok dengan pandangan yang entah kemana. Bukunya sih emang di depan meja empunya, tapi lelaki yang sedari tadi bersamanya—Park Wonbin—gak sekalipun melihat Eunseok menyentuh bukunya. Pasti lagi ada masalah, dan dirinya bisa menebak akar permasalahan apa yang ada padanya.

“Sungchan, ya?” Bak busur panah, pertanyaan itu menancap di hati Eunseok. Diam, ia gelagapan sembari membenarkan letak kacamatanya yang entah sejak kapan melorot. Wonbin menyadari gerak-geriknya, pasti temennya lagi ada masalah sama pacarnya, si nomor satu sefakultas. Lelaki itu mencebik, emang udah gak bener hubungan mereka dari awal. Semuanya jadi rumit begini, kan.

“Udah, lu pulang duluan aja.” Eunseok akhirnya bersuara setelah jeda yang panjang, dan itu bukan jawaban dari pertanyaan si Marga Park. Emang udah jadi coping mechanism Eunseok kalo ada masalah sama pacarnya itu pasti ke perpus, entah buat bengong doang atau pura-pura belajar aslinya kaga pernah juga. Sebagai sesama mahasiswa kupu-kupu, Wonbin tahu betul kalo temennya yang satu ini udah ngajakin ke perpus, tandanya ada yang gak beres. Jadi, Wonbin cuma menghela napas doang.

Lelaki itu dah kepalang bingung mau ngomong apaan lagi sama orang batu yang masih duduk manis dengan pikiran yang amburadul itu. Yaudahlah, ia menepuk pundak temennya itu kemudian melenggang pergi. Di tengah perpus sepi itu, Song Eunseok yang terjebak dalam pemikirannya sendiri akhirnya mengacak-acak rambutnya sebal.

Kenapa harus Sungchan, ya?

Eunseok bingung, dari sekian banyaknya entitas manusia, kenapa ujung-ujungnya dia kecantolnya sama Sungchan?

Iya, Sungchan yang kapten basket fakultas itu.

Jung Sungchan selalu begitu.

Selalu tampan, selalu menjadi yang pertama, selalu menjadi yang paling menonjol. Gak cuma segi akademik yang bagus, tapi yang lainnya pun orang itu selalu curi spot.

Entah sejak kapan dia selalu begitu, selalu memesona, memikat siapapun yang menatapnya. Termasuk Eunseok.

Eunseok benci, tapi suka juga.

Ya gimana ya, kalo orang bilang, rezeki nomplok namanya. Eunseok gak pernah beneran bilang ke siapapun kalo dia suka Sungchan. Beneran deh, sumpah. Tapi, gaada angin maupun hujan, tiba-tiba lelaki yang setinggi langit itu confess ke dia.

Mulanya semua orang bingung, Eunseok lebih bingung lagi. Dia ini cuma satu dari sekian banyak mahasiswa kupu-kupu yang begitu kelas selesai langsung cabut makan atau hibernasi di rumah, seangkatan yang tahu wajahnya pun paling juga gak banyak, beda sama Wonbin yang emang supel dan dikenal. Udah kayak cerita novel klise aja, tapi emang beneran bikin bingung. Eunseok gak bisa nolak, apalagi waktu itu Sungchan ngomongnya di toilet habis tanding basket. Emang gak etis banget kalo dipikir-pikir, kenapa mereka memutuskan pacaran di toilet? Lagi-lagi, yang namanya rezeki nomplok, gak bisa ditolak.

Eunseok masih inget bener pas lelaki—yang sekarang jadi pacarnya—itu mengutarakan perasaannya. Sungchan bersimpuh di lantai kamar mandi yang dingin, Eunseok yang kebingungan dengan wajah memerah melihatnya. Keduanya sama-sama memerah ketika akhirnya Sungchan dengan terbata-bata menyatakan perasaannya pada lelaki Bermarga Seok itu. Tapi, Eunseok juga gak langsung jawab pas tiba-tiba ditodong lelaki dengan jersey-nya yang masih bersimbah keringat dan headband di kepalanya. Bingung, harus jawab apa coba?

Sungchan itu gigih. Eunseok tahu soalnya, karena setelah kejadian itu, ia gak menyerah. Padahal, lelaki batu itu beneran gak menunjukkan pergerakan apapun walau degup jantungnya hampir keluar dari rusuknya. Wonbin berkali-kali nanyain, “Lu gak diancem sama dia, kan?” Tiap melihat lelaki jangkung itu mendekati temannya. Song Eunseok cuma bisa menggeleng, sebab, Sungchan tidak mengancamnya apapun. Mereka hanya chattingan biasa dan menghabiskan waktu berdua, walau semuanya terasa tiba-tiba. Eunseok masih bisa merasakan sensasi menyenangkan saat berduaan dengan lelaki itu karena ia tidak pernah memaksanya untuk melakukan sesuatu.

Namun, seperti air hujan, seluruh keputusannya seakan menyeretnya jatuh pada keputusasaan.

Sungchan itu orangnya sibuk. Eunseok tahu, dilihat dari segala kegiatan yang dia ikuti, lelaki itu sebenarnya tidak memiliki waktu luang yang banyak. Tepat sebulan setelah hubungan mereka akhirnya benar-benar memiliki status, Jung Sungchan seolah lenyap ditelan bumi.

Sungchannya. Lelaki yang selalu ia temui bermain basket di lapangan pada hari Senin dan Rabu, lelaki jangkung yang selalu menjadi nomor satu di mana saja. Senyum manisnya yang selalu tampak jikalau dirinya sedang berbicara. Sungchannya, miliknya seorang.

Tadinya, ia berharap begitu. Tapi, lambat laun, entah kenapa hubungan mereka merenggang. Seolah-olah Sungchan datang hanya untuk menyicip rasa manis yang tersisa, seolah lelaki itu datang berlandaskan penasaran yang tertanam di hatinya. Eunseok tidak mengerti, tiap ia berbicara dengan Sungchan sehabis lelaki itu melakukan sesuatu, entah diskusi dengan anggotanya atau sekedar bermain basket saat senggang, lelaki itu seolah menghindarinya.

“Chan, mau ngomong, boleh?” Eunseok mencoba, lagi. Entah keberapa kalinya, pandangannya seolah memburam, padahal sudah pakai kacamata, loh. “Bentar ya, sayang.” Sayang. Si lelaki yang memakai kacamata itu ingin benci kalau Sungchan sudah memanggilnya dengan kata itu sekarang. Tapi, susah rasanya. Kepincutnya udah lama, dipanggil sayang lagi, tambah amburadul pikirannya. Eunseok menghela napasnya, berusaha kuat dengan tekadnya sendiri.

“Yaudah, kalau bisa langsung chat aja, ya.” Akhirnya, Eunseok langsung melenggang pergi. Panas di dada dan matanya menjadi alasan utama kenapa dirinya tak sanggup berlama-lama dengan Sungchan. Teks-teks intens dan seluruh panggilan itu—awalnya membuat dadanya hangat. Namun, lama kelamaan hanya perasaan panas yang membuatnya menyesal menetap di dadanya. Mau gimana lagi, Sungchan itu nomor satu di sini. Temannya banyak, yang suka pun banyak. Eunseok cuma satu dari sekian banyak yang beruntung, kan?

Beruntung untuk dicicip sebentar karena rasa penasaran, maksudnya.

Lagi-lagi hatinya bak direndam air hujan yang turun. Padahal, belum musim hujan, dan ia juga kurang suka hujan. Tapi, kenapa segalanya seakan-akan mengguyurnya bak air hujan yang dingin?

“Eunseok!” Wonbin yang kebetulan melihat lelaki itu memanggilnya, Eunseok menoleh. Begitu Wonbin menghampirinya, lelaki dengan Marga Park itu menyadari bahwa mata temannya itu merah.

“Lu kenapa lagi?” Wonbin menatapnya khawatir, sementara Eunseok langsung memalingkan muka karena baru menyadari bahwa dirinya nampak seperti ingin menangis. Maniknya bergetar, berusaha menghiraukan Wonbin yang khawatir di depannya. “Gak papa, kok.”

“Boong ah. Semenjak lu sama Sungchan banyak gak beresnya.” Tuduhan—yang sebenernya lebih ke pernyataan—Wonbin itu membuat Eunseok menghela napasnya dengan senyum kecut. Gimanapun juga, semua ini juga berawal dari keputusannya, kan? Coba aja kalau Eunseok mentingin egonya, dan sadar kalau seorang Jung Sungchan bisa aja main-main doang sama dia. Nasi udah jadi bubur, ia cuma bisa terendam dalam keputusannya sendiri.

“Gue ke perpus dulu ya.” Bukannya menanggapi Wonbin, lelaki itu berlari pergi. “Oi, Seok! Tunggu dulu!” Wonbin mulanya mau menyusul, tetapi kalau dipikir-pikir, emang mungkin Eunseok perlu space buat nenangin pikirannya sendiri. Wonbin tau kalau sebenarnya Sungchan itu emang tipe yang gampang bosen. Semua hal yang dilakuin laki-laki itu abu-abu, entah tulus atau enggak, gak ada yang bisa beneran ditebak. Anehnya juga, kenapa yang kena harus Eunseok, sih? Iya, Wonbin tau kalau Eunseok itu cakep, pinter, ya pokoknya nilai plusnya banyak lah. Tapi, gak rela juga kalau cuma dijadiin tempat singgah sementara gitu.


                              Sungchan (jangan ngarep)


                                       Kira-kira, kapan chatku dibales?
                                  Basketmu cuma dua kali seminggu,                                   lho. Event kemarin juga udah beres, kan?
                                                                                      Sent.


Eunseok sebel. Sumpah, harusnya dia tau kalau emang Sungchan bukan orang yang suka jalin komitmen. Rezeki nomplok apaan, ngomong sama pantat! Pengen acak-acak bumi rasanya. Akhirnya ia mengemasi barangnya dan pulang, harap-harap besok ada harapan baru. Mungkin.



Tanpa disangka-sangka, musim hujan datang.

Eunseok cuma bisa mendengus kesal pas liat ramalan cuaca di handphone-nya. Harusnya, jam satu itu lagi terik-teriknya, tapi daritadi langit udah gelap. Kalau di ramalan cuaca, hujannya jam tiga, barengan samaan kelasnya selesai. Mana lupa gak bawa payung. Nyebelin. Dia gak suka kedinginan.

Baru juga lelaki itu meletakkan ponselnya, tiba-tiba notifnya bunyi. Mulanya, Eunseok gak peduli. Tapi, karena ganggu dan daripada ditegur dosen, ia melirik sebentar untuk melihat dan mematikan nada deringnya.

                                          Wonnen

Woi
Woi
Woi plis putusin aja pacar lu yang sok keren itu, dengerin gueeeee

                                                               Emang kenapa lagi?

Gue gak mau bilang tapi emang harusnya lu tau ini
[Shared a Link]
Di IG basket angkatan loh ☺️


Eunseok membuka link yang Wonbin kirim, isinya adalah... video Sungchan dan seseorang sedang berpelukan di pinggir lapangan. Sementara itu, suara teman-teman mereka teriak “Cie, cie!” dengan semangat. Anehnya, Eunseok sudah tidak merasakan apapun lagi. Bak air hujan yang dingin, perasaannya seolah-olah udah habis diguyur sampai mati rasa. Emangnya mau ngarep apaan lagi? Itu teman-temannya Sungchan juga pasti samaan kaya tuh laki, sukanya gonta ganti pasangan tanpa dasar yang jelas. Paling mereka pikir Eunseok cuma korban lewat sementara, tanpa tau kalau sebenarnya dirinya dan Sungchan masih menjalin hubungan sampai detik ini.

Ia cuma benci. Kenapa dari sekian entitas malah kecantolnya sama seorang Jung Sungchan, sih? Ia benci kenapa lelaki itu sebenernya daya pikatnya tinggi, dan dia juga benci kenapa lelaki itu tau kalau daya pikatnya tinggi, dia bisa memperdaya orang seenaknya.

Seluruh keputusannya seperti air hujan yang mengalir turun, seakan mengantarkannya ke dalam keputusasaan yang tak berujung. Eunseok gak suka. Kelamaan mikirin Sungchan, dia gak ngeh kalau kelasnya udah bubar. Tanpa babibu lelaki itu langsung ngibrit keluar, ninggalin dosen dan yang lain masih kemas-kemas. Bodoamat, dia harus ketemu Sungchan buat beneran ngomong sekarang!

Hujan masih deras, tapi peduli setan. Banyak orang-orang di sekitarnya melihatnya karena berlari-lari, soalnya keramiknya licin gara-gara hujan, takut kepeleset. Kalau hari gini, biasanya tuh orang nongkrong di kantin. Tapi, walaupun kantin rame karena orang-orang emang laper atau pengen disitu karena hujan, Sungchan gak ada di antara hiruk pikuk kehidupan yang ada di kantin. Eunseok melengos, ia pun mencari lagi. Terbesit pikirannya untuk ke lapangan basket, tapi, emang hujan-hujan gini masih ada ya yang mau basket?

Ia pun melirik ke arah lapangan basket segera setelah sampai di pintu keluar, yang bener aja, tuh laki sama temen-temennya hujan-hujanan main basket. Sinting. Mana hujannya deres banget, lelaki dengan Marga Song itu mikir-mikir juga mau teriak manggil, kesannya kaya caper. Tapi, dia juga gak mau kena hujan! Bingung jadinya. Setelah debat dengan pemikiran sendiri, akhirnya lelaki itu menghela napasnya dan menerobos hujan. Toh, besok dia gak ada jadwal. Kayaknya, kalau ujung-ujungnya sakit masih gak papa.

“Jung Sungchan!” Teriakan Eunseok memecah hujan, Sungchan yang masih asik ketawa sama temennya menoleh. Tatapan lelaki itu terkejut melihat orang di depannya bersimbah air hujan tanpa mengenakan pelindung apapun. “Kamu gak bawa payung? Nanti sakit.” Sungchan menariknya ke pojok lapangan yang ada di dekat gedung, atasnya masih berselimut atap, jadi gak basah. Eunseok menggigil, ia melepas kacamatanya yang kuyup. Entah sekarang pandangannya yang buram akibat tidak memakai kacamata ataukah air matanya, ia menampar lelaki yang di depannya.

Mampus lu. Maki Eunseok dalam hati melihat pipi merah Sungchan. “Lu brengsek!” Umpatan keluar dari yang lebih pendek, ia meninju dada Sungchan dengan mata berapi-api. “Gue yang bodoh, udah tau lu sukanya main-main malah suka sama modelan kayak lu! Mulai sekarang, anggep aja gue gak pernah ada! Sialan!”

Sungchan hanya diam, memproses semua perkataan lelaki itu. Pandangannya bak dikhianati, padahal, harusnya Eunseok yang ngerasa gitu. Padahal yang confess duluan juga siapa. Sialan pokoknya.

Eunseok langsung pergi menembus hujan yang berisik, sementara Sungchan berteriak memanggil namanya di belakangnya. Bodoamat, ia berlari secepatnya dan sejauhnya. Sampai suara lelaki di belakangnya hilang ditelan bisingnya hujan. Eunseok akhirnya menangis. Tapi, dia sendiri juga bingung apa yang sebenarnya ia tangisi. Perasaannya ataukah hubungannya?

Bising hujan yang tidak pernah ia sukai seolah-olah menangkupnya untuk meredakan rasa panas yang bergejolak di hatinya. Ia menengadah untuk merasakan rintik-rintik hujan menabrak wajahnya. Seperti keputusannya yang bagai air hujan turun lamat-lamat, menyakitinya sedikit demi sedikit. 

 

                                              🌧️

Notes:

terimakasih sudah membaca! maap kalau jelek dan tidak jelas :P