Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of new questions/love as an answer
Stats:
Published:
2024-05-10
Words:
2,000
Chapters:
1/1
Comments:
8
Kudos:
48
Bookmarks:
2
Hits:
920

c di coki-coki adalah ciuman (kuadrat)

Summary:

myung jaehyun tinggal turun kalau mau ke unit asrama leehan. eh, tahu-tahu cuma bukan itu, he is also down bad for that gay guy. jaehyun pun turun kuadrat untuk leehan dan coki-cokinya (juga ciuman-ciumannya).

Notes:

for a better grasp tentang ceritanya, boleh baca one-tweet-nya di twitter dulu (klik di sini) hehehe.

happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"eh?" myung jaehyun memperhatikan sikat gigi dan dilihat-dari-ujung-pipet-pun-bukan-pasta-gigi yang ada di tangannya. "eehh?!"

jaehyun pun sadar ia hampir keracunan kalau benar-benar menggunakan pasta gigi yang bukan pasta gigi itu. yang di tangannya adalah sabun cuci muka. pasta giginya masih berdiri dengan manis di keranjang alat mandinya. seolah melambaikan tangan untuk berkata, aku di sini, loh! sambil mengejek jaehyun yang sedang bucin.

enggak boleh begini terus. sambil menghela napas, jaehyun mengembalikan sabun cuci muka ke keranjang dan langsung mengambil pasta giginya. jatuh cinta boleh, tapi jaehyun enggak boleh jadi orang tolol yang langsung kicep pas diajak ketemuan di asramanya leehan buat berbagi coki-coki. ada banyak jalan menuju roma, leehan bilang. bohong kalau jaehyun bilang pikirannya enggak ke sana-kemari. 

satu kali lagi, jaehyun menghela napas terus mulai sikat gigi. minimal kalau jatuh cinta bikin orang jadi tolol, jaehyun mau jadi orang tolol yang giginya bersih dan mulutnya enggak bau. 

tapi kalau enggak mandi, seharusnya enggak apa-apa, kan? emangnya leehan mandi? yang penting sikat gigi, kan? kalau jaehyun mandi sekarang, kasihan leehan tunggu dia lama. nanti leehan kesepian. terus leehan bisa saja jadi mengira jaehyun enggak serius pas mengiyakan ajakan leehan buat pendekatan. kadang jaehyun enggak habis pikir kenapa malah dia yang dijatah satu pertanyaan satu hari selama pendekatan 100 hari yang mereka sepakati padahal leehan yang ajak dia duluan! harusnya leehan yang bertanya terus dia yang jawab enggak, sih? 

waktu itu mereka bicaranya gimana, ya? jaehyun coba ingat-ingat lagi.

“aduh!” dahi jaehyun terbentur di pintu. pintu? pintunya siapa?

jaehyun akhirnya lihat-lihat sekeliling terus sadar dia sambil melamun tadi sudah selesai sikat gigi (sepertinya, karena sudah tidak ada busa di mulutnya) dan sudah cuci muka karena wajahnya masih agak lembap. kerennya, jaehyun juga sudah ganti atasan karena entah bagaimana kerah piyama beruang yang dia pakai selama tidur kena liur sedikit. hoodie abu-abu yang jaehyun pakai ini harusnya bersih dan sudah dicuci (semoga). aman. 

tanpa menunggu waktu lama, jaehyun pun mengetuk pintu unit asrama leehan. jaehyun bisa dengar kunci yang diputar dan kenop pintu yang pelan-pelan bergerak mengikuti pasangannya dari dalam. senyum jaehyun merekah. lalu jadi semakin lebar ketika leehan menyambut dengan hoodie hitam dan celana olahraga yang juga berwarna hitam (sepertinya seragam saat sekolah menengah atas karena ada tulisannya dan sudah sedikit gantung di kaki leehan yang panjang).

leehan juga senyum, tapi tipis-tipis dulu soalnya masih ada coki-coki di mulutnya. tiba-tiba leehan bikin gestur untuk mempersilakan jaehyun masuk ala-ala bangsawan eropa, lalu mundur beberapa langkah dan membuka pintu lebar-lebar. sambil tertawa, jaehyun akhirnya masuk. 

enggak ada yang mengejutkan. leehan cukup pembersih terus dia kebagian asrama sendiri. mungkin bayar lebih mahal atau memang jumlah mahasiswanya ganjil, jadi ada yang sendirian. soalnya jaehyun satu kamar berempat. kamar jaehyun dan teman-temannya sudah seperti kandang hewan berantakannya. tidak tertolong. 

“hari ini aku belum nanya kan, ya,” ujar jaehyun memulai percakapan.

leehan mengangguk. ia pun turut duduk di lantai mengikuti jaehyun yang sudah duduk tanpa disuruh—seperti rumah sendiri. “mau tanya apa, kak?”

“nanti aja,” jawab jaehyun sambil geleng-geleng kepala.

“oke kalau gitu,” leehan berkata. tiba-tiba ia berdiri lalu jalan ke lemari baju. di atas sana, ada gunting. leehan duduk lagi membawa gunting. 

pertama, jaehyun tahu leehan kalau makan ataupun minum itu pelan. leehan bergerak seolah dia punya sepanjang waktu yang berputar di dunia. coki-coki yang daritadi digigit bungkusnya juga begitu. baru sedikit yang termakan. kedua, jaehyun juga tahu leehan selalu punya ide yang sederhana, aneh, dan kadang bikin ekspektasi orang lain hancur berkeping-keping. ketiga, jaehyun tahu yang hancur berkeping-keping sekarang dan terendam kekecewaan adalah giginya yang bersih dan mulutnya yang wangi pasta gigi rasa mint. 

“ini buat kamu, kak,” ucap leehan sambil menyodorkan setengah dari coki-coki yang sudah dia gunting tepat di bagian tengah. 

memang ada banyak jalan menuju roma. satu bisa jadi setengah. satu bisa tetap jadi satu lalu bersatu dengan cara lain. salah jaehyun dia mengharapkan cara lain dan mengabaikan prinsip matematika dasar. tampang jaehyun mungkin seperti anjing yang tidak sengaja tersiram air oleh majikannya yang tidak melihat ke bawah (karena anjing kecil, jaehyun juga kecil, dan leehan besar).

masih dengan mata yang meredup dan tampang memelas, jaehyun mengambil setengah coki-coki itu. sungguh kasihan. coki-cokinya sudah dipotong setengah, tapi cinta jaehyun kepada leehan bertambah setengah (sekarang total kadar cintanya sebanyak 10201204,5. tapi jaehyun belum tahu satuan yang dipakai untuk mengukur cinta disebut apa). pelan-pelan, jaehyun membawa coki-coki itu ke mulutnya. 

manis. bakal lebih manis lagi kalau ….

pikiran jaehyun ke sana-kemari. ia menatap coki-coki yang sekarang di tangannya. omong-omong, cukup imut seperti perkataan leehan karena jaehyun punya sweater paw. atau hoodie paw. seperti anjing betulan. 

tangan leehan yang besar dan sangat lakik (menurut jaehyun pribadi) itu tiba-tiba menggenggam tangan jaehyun. tanpa usaha yang besar, leehan menarik jaehyun mendekat. sekarang mereka hadap-hadapan, posisi masih sama-sama duduk bersila. leehan senyum sampe matanya mau hilang jadi bulan sabit yang kembar. 

“wah … gantengnya …,” gumam jaehyun refleks. 

leehan terkekeh. waduh, bahaya. leehan mungkin punya tips dan trik sendiri karena saat ketawa pun, jaehyun itu yang bisa melakukannya adalah orang ganteng (baca: leehan) seorang. 

“aku boleh coba coki-coki kamu gak, kak?” tanya leehan meminta izin. 

“hah? oh, boleh,” cicit jaehyun memajukan tangannya.

leehan mengambil coki-coki tersebut, tetapi malah diletakkan di meja bersama setengah coki-cokinya sendiri. setengah ditambah setengah berarti satu. coki-coki itu sudah kembali bersatu lagi. sekarang harusnya giliran gigi bersih dan mulut beraroma pasta gigi jaehyun yang bersenang-senang, bukan? 

“kamu mau coba punyaku juga gak?” leehan kembali bertanya. 

jaehyun mengangguk, lalu menggeleng, dan terakhir mengangguk. mungkin keinginan dan gerakan tubuhnya tidak bisa sinkron karena sedikit kaget. jaehyun mengutuk diri sendiri di kepala. padahal kalau melalui pesan, ia bisa mengirim sepuluh bubble chat dengan sangat mudah. di hari biasa kalau mengganggu leehan, dia juga bisa sok berani. yah, tapi itu sebelum leehan mengajaknya pdkt alias pendekatan. sekarang … lain cerita!

coki-coki yang sudah ditaruh akhirnya leehan ambil kembali. leehan menekan coki-coki itu dan menaruh pasta cokelat yang keluar di ujung jari telunjuknya. hanya sedikit. jaehyun hanya menonton dengan mulut menganga. leehan pun mengoles pasta cokelat itu di bibir atas dan bawahnya. sisa di telunjuknya berakhir habis dijilat leehan sendiri. 

“sini,” panggil leehan. 

jaehyun hampir pingsan. jaehyun berharap ia pingsan ketika leehan menggenggam tangannya dan sedikit menarik jaehyun mendekat. tidak cukup di sana, leehan juga melingkarkan tangannya di pinggang jaehyun. sedikit mengangkat pinggang jaehyun sehingga manusia yang mirip anjing itu mau tidak mau bangun lalu duduk kembali sesuai arah gerak tangan leehan.

jaehyun berakhir di pangkuan leehan pagi itu. 

di bayangan jaehyun, suasana akan tiba-tiba jadi sensual. tangan leehan nanti ke sana-kemari. begitu juga tangan jaehyun. tapi realita yang jaehyun alami sedikit berbeda. di depannya, leehan hanya senyam-senyum seperti orang bodoh (menurut jaehyun, titel tidak boleh sama. biar dia saja yang jadi orang tolol. keseimbangan harus dijaga, jadi leehan disebut bodoh tidak apa sekali-kali). tangan leehan di lengan jaehyun. bibir leehan ada cokelatnya.

“silakan,” kata leehan dengan santai. ia sedikit mendongak karena setelah dipangku, jaehyun jadi lebih tinggi daripada leehan.

dari jarak sedekat ini, leehan cantik. jaehyun sedikit iri, tetapi toh, jaehyun juga ganteng! parasnya mungkin tidak sesempurna leehan, tapi jaehyun tidak pernah menganggap dirinya kurang! 

yang kurang dari jaehyun hanya nyali. 

“kok diem, kak? kan ke sini buat makan coki-coki.”

“coki-cokinya kamu ambil loh tadi,” gerutu jaehyun pelan.

“itu udah aku makan. nanti aku beli yang baru lagi buat kamu coba, kak,” jawab leehan santai.

jaehyun ingin bilang, memangnya kalau aku rasa dari bibir kamu, ada bedanya? tapi niat itu dia urungkan.

“sambil tunggu niatku kekumpul, coba yang ada aja.”

jaehyun benar-benar butuh nyali yang besar untuk merespons kalimat leehan. pelan-pelan, ia menghirup napas panjang lalu menghela napas perlahan-lahan. tangannya kini ada di pundak leehan.

“minimal mikir lah! coki-cokinya udah kamu ambil terus pake alasan udah kamu makan. itu di bibir kamu juga udah otw mau kemakan! terus masa nyuruhnya aku yang—yang! argh! yang cium gitu? lagian kamu juga ngide! kurang kerjaan! ngajak ciuman ngapain pake acara alasan coki-coki! aku juga bisa beli coki-coki! malu tahu …. dulu aku mungkin kayak orangutan deket-deket sama kamu tapi abis … itu … malu, ihan. deg-degan tahu …,” cicit jaehyun di akhir kalimatnya. wah, menggebu-gebu.

jaehyun enggak tahu dia kerasukan apa. jaehyun lebih-lebih enggak tahu leehan kerasukan apa karena tangannya sekarang sudah tangkup pipi jaehyun yang berisi. jaehyun langsung menurut. sedikit tunduk supaya jarak mereka bisa jadi nol sentimeter. sejak jarak mereka cuma tinggal lima sentimeter, jaehyun bisa rasa jantungnya lagi disko. empat, tiga, dua, dan satu. kembang api di bilik kiri dada jaehyun sudah terbakar semua. setengah sebelum nol. kupu-kupunya terbang semua. jaehyun susah napas. bibir leehan sampai.

mungkin untuk kasih napas buatan. tapi bukan. 

leehan ciumnya berani. bibir jaehyun yang sebenarnya ada bekas coki-cokinya dilumat supaya bersih. basahnya bikin jaehyun pusing. kembang apinya mati semua karena diguyur liur. yang datang ombak besar kayak di kampung halaman leehan. jaehyun rasanya tenggelam, tapi enggak kenapa-kenapa karena dikasih oksigen sama leehan—entah bagaimana caranya (baca: dicium leehan). oksigennya rasa cokelat, tapi toh, habis juga.

lepas sebentar ciuman sejoli itu. jaehyun bernapas buru-buru. habis ini kan, masih mau ciuman lagi. tapi yang dia lihat, coki-coki yang ada di bibir leehan masih ada. di bibirnya, jaehyun coba jilat, sudah tidak ada. jaehyun juga mau jadi berani sampai punya nyali untuk curi cium di bibir leehan sampe basah sana-sini karena liur. 

“orang gila,” gumam jaehyun tidak sadar. ombak benar-benar buat jaehyun tenggelam. semua diporak-porandakan. yang sisa cuma nama leehan yang bergema tidak ada habisnya. jaehyun harap, kali ini dia bisa keluar dari ombak itu lalu mengajak leehan terbang tinggi bersamanya.

jadi, giliran jaehyun yang turun satu kali lagi dengan inisiatif sendiri. tadi sudah turun dari unit asrama yang dibagi berempat ke punya leehan yang ditinggali sendiri. sejak beberapa waktu sebelum cintanya sebanyak 10201204 (setengahnya apa boleh ditarik kembali? untuk kompensasi karena jaehyun rasa kewarasannya akan hilang), jaehyun juga sudah jatuh cinta dengan leehan. sekarang ia jatuh pelan-pelan. turun. sampai bibirnya dan bibir leehan bertemu. cokelatnya terasa manis. bibir leehan yang jaehyun tidak tahu cara deskripsikannya rasa coki-coki seribu dapat dua yang kecil.

jaehyun juga kecil.

satu kali jaehyun jilat yang di bawah. belum bersih. jadi dijilat lagi sampai cokelatnya habis. tapi karena begitu, bibir jaehyun kotor lagi. leehan coba untuk bantu—ia balas cium-cium dari jaehyun. lidah juga harus dibersihkan jadi leehan yang menerobos di dalam mulut jaehyun. karena lidah jaehyun yang barusan membersihkan cokelat. pasti ada yang lengket di sana.

jaehyun keluarkan lenguh saat lidah leehan mengulum lidahnya. pipinya jadi panas, mungkin sudah memerah. tidak boleh. jaehyun sudah berani, jadi tidak boleh setengah-setengah. ia coba bergulat. lidah lawan lidah sampai bisa bebas. 

leehan jauhkan lagi sampai ciuman mereka terputus. jaehyun baru sadar ternyata dirinya juga sudah terengah-engah. tatapannya turun lihat bibir leehan yang ternyata sudah bersih sekalian saksikan liur mereka yang tertaut hingga lepas. bibir leehan berkilau karena basah. sudah memerah juga karena kerjaan jaehyun.

sekarang jaehyun mau terbang. malunya sudah menendang jadi jaehyun ingin menghilang saja. tapi bagaimana dia bisa hilang apalagi terbang kalau tangan leehan tahan dia di pinggang supaya tidak bisa ke mana-mana?

“mau turun,” bisik jaehyun.

leehan geleng-geleng. “pertanyaan hari ini bilang dulu baru boleh turun.”

sialan. peduli setan dengan pertanyaan hari ini. eum, mungkin jaehyun masih peduli. tapi, tolonglah. baru sedetik lalu kembang apinya dibakar lalu ditenggelamkan ombak dan setelah itu terbang sedikit, sekarang sudah disuruh berpikir. jaehyun mana sanggup! ini namanya penganiayaan. atau penyalahgunaan kekuasaan. masalahnya, leehan tidak bisa dibilang punya kekuasaan. memang jaehyun yang iya-iya saja. toh, untuk apa bilang tidak kalau memang mau bilang iya? tapi tetap saja! 

jaehyun coba putar otak.

“kok gak pulang padahal libur?” hanya itu yang terpikirkan. 

“soalnya mau makan coki-coki di sini,” jawab leehan lalu bersandar di pundak jaehyun. semoga petasannya tidak kedengaran.

“itu aja?”

leehan bilang tidak. “mau bareng kamu juga, kak.”

“makan coki-cokinya?”

leehan ketawa kecil, tapi cukup rambatkan getar di pundak jaehyun. siapa yang akan beritahu leehan bahwa ketampanannya jadi tiga kali lipat kalau ketawa seperti itu? (tiga saja, kalau angkanya lebih, jaehyun yang pingsan.)

“tebak.”

“beneran buat makan coki-coki aja?”

tangan leehan ke bawah meja. ada satu kotak coki-coki yang utuh. 

“coki-cokinya jadi alasan aja,” jelasnya.

“buat apa?” hanya retorika dari jaehyun.

“ciuman.”

karena jaehyun sudah tahu, c di coki-coki adalah ciuman (kuadrat).

Notes:

kalau mau baca lebih banyak tentang mereka, bisa search di profile-ku atau tulis from:6langkah "new questions/love as an answer" di search bar twitter juga bisa! timakaci karena udah baca~

Series this work belongs to: