Work Text:
lampu jalan yang bundar itu sedikit kuning cahayanya. jaehyun bisa pura-pura lupa siklus bulan kemudian mengatakan yang menyinari jalanan hari ini adalah cahaya rembulan. toh, lampu jalan dan bulan sedikit mirip. sama-sama bulat bercahaya. bila bulan punya matahari, lampu jalan punya listrik untuk membantunya memancarkan cahaya.
malam ini, leehan punya jaehyun. akan tetapi, jaehyun bukan matahari ataupun listrik. jika harus pakai perandaian yang lebih persis, dibilang pacar juga belum. perjanjian seratus hari pdkt baru jalan sepertiganya. kalau pacarannya sekarang, berarti jaehyun dan leehan jilat ludah bersama-sama (bukan berarti belum pernah jika dilihat secara literal). kalau pacarannya ditunda, nanti jaehyun dan leehan terlihat seperti teman tapi mesra padahal mereka sudah siap komitmen. buktinya, pdkt saja sudah komitmen seratus hari.
jaehyun menghela napas pelan. dia enggak tahu isi hati leehan bagaimana, tapi jaehyun pribadi sudah kebelet pacaran.
“ihan,” panggil jaehyun.
samping-sampingan, jadi suara jaehyun dikeluarkan secukupnya. kalau ada yang punya anjing, pasti cukup bikin anjing penjaga rumah menggonggong. secukupnya untuk jaehyun yang baru selesai melamun sedikit bahaya. bisa dikira maling. soalnya bisa curi hati punya leehan—seperti sekarang.
jaehyun cuma pake hoodie panjang abu-abu yang menurut leehan sama kayak pas mereka cobain coki-coki di unit asrama dia, tapi entahlah. mungkin jaehyun punya satu lusin, atau setengah lusin. atau satu lemari isinya hoodie abu-abu semua. atau cuma satu, tapi jaehyun rajin mencuci. bukan itu poinnya, jadi leehan berhenti pikirkan.
leehan perhatikan bagaimana jaehyun kena cahaya remang-remang dari lampu jalan yang kuning. matanya jaehyun jadi berbintang terang. leehan penasaran jaehyun mau bilang apa, jadi dia jawab, “kenapa, kak?”
“ini aku mikir, ya, baru mikir. cuma kebayang aja karena suasananya cakep, belum mau aku lakukan, gitu. intinya begitu, oke?” cakap jaehyun, sambil tangannya gerak-gerak membentuk huruf x di depan dada atau lambai tangan cepat-cepat. semuanya mengisyaratkan tidak, bukan, dan belum.
“oke,” leehan jawab singkat karena sudah kepalang penasaran sama kalimat jaehyun.
“tadi habis kamu tanya tentang bunga, aku jadi pengen kasih kamu juga. mawar aja dulu. soalnya sebelum mars, kan ada rose. nanti aku kasih kamu satu tangkai mawar merah, soalnya aku juga enggak hafal hanakotoba. cuma tahu mawar,” ujar jaehyun.
leehan jadi agak sedih. hari ini bukan hari paling baik yang dia lalui. jaehyun yang ingat lagu favorit dia, terus menyempatkan diri dengar lagu baru dari penyanyi favorit dia, cukup bikin leehan terharu. jaehyun tidak ingat atau tidak dengar lagu baru itu pun, leehan berani bilang satu hal: jaehyun selalu cukup untuk leehan. jadi, leehan betul-betul ingin jawab baik-baik, bahwa enggak masalah kalau jaehyun cuma tahu mawar, nanti leehan yang cari tahu bunga lain untuk diberi ke jaehyun. soalnya setelah rose, ada mars. leehan bisa bawa bunga di atas sepeda yang nanti akan dia kayuh ke rumah jaehyun yang belum dia tahu letaknya di mana. akan tetapi, tidak bisa leehan keluarkan kalimat itu. rasanya seperti ada yang cekat di leher.
alhasil, untuk tuturkan pikiran manis itu dengan tubuhnya, leehan selipkan jemarinya di jari-jari jaehyun yang ditutup lengan hoodie. senyum jaehyun yang manis ikut mekar saat melihat mata leehan sudah jadi bulan sabit. jaehyun bawa tangan yang tertaut dalam genggam itu sambil terus melangkah.
“pas aku kasih bunga mawar itu, nanti ada kartu ucapan dari aku yang ditulis tangan,” ungkap jaehyun. sekarang, tangannya ia ayunkan. angin malam yang dingin jadi tidak terasa karena tangan dan tangan sama dengan kulit dan kulit juga hati dan hati yang menghangat bila saling bersentuhan.
leehan terkekeh. huft. lagi-lagi, leehan pasang ketawa yang hanya bisa dilakukan orang terlalu tampan. jaehyun refleks eratkan genggaman dia ke leehan, tetapi bukannya kesakitan, leehan malah ketawa lebih kencang. jaehyun jadi gugup dan kalimatnya lanjut lagi.
“nanti tulisannya, a rose by any other name would smell as sweet.”
artinya, leehan meski bukan leehan namanya, akan tetap disayang jaehyun. tidak ada permusuhan keluarga atau tragedi di antara leehan dan jaehyun, tapi jaehyun benar-benar sayang leehan dan tugas terakhirnya membahas romeo dan juliet. leehan tahu sedikit karena mendengar jaehyun yang mengeluh tentang thee, thou, thy, dan thine, tapi ujungnya jadi ketagihan setelah paham.
“atau bisa aku ubah juga jadi a fish by any other name would smell as salty! soalnya kan air laut asin terus kamu suka ik—”
kalimat jaehyun terpotong karena sekarang tangan leehan pindah ke pinggangnya, tapi genggaman tangan belum dilepas. dipeluk dari belakang sama leehan hangat juga, ternyata. jauh lebih hangat dari sebatas pegangan tangan, juga lebih romantis dari ciuman. punggung tangan jaehyun dielus-elus, jadinya hangat kubik. napas leehan yang derunya terasa di tengkuk jaehyun, bikin merinding kuadrat. jantung leehan yang detaknya seperti dikejar anjing imajiner yang kaget karena suara jaehyun beberapa menit lalu kedengaran, bikin jatuh cinta sekali (sampai jadi tidak bisa dihitung).
jaehyun berhenti bicara. dia hanya ikuti langkah kaki leehan yang mundur lalu maju tidak jelas di trotoar. kalau mereka berdirinya tidak seimbang, bisa-bisa jatuh bersama-sama dan saling tindih. namun, sudah tidak ada yang takut jatuh. toh, mereka sudah pernah jatuh sekali dan berulang kali lagi. jadi, jaehyun diam saja. anggap saja mereka di sebuah ruang dansa dengan lampu gantung mewah.
“bulannya cantik, ya,” ujar leehan.
jaehyun tertawa. ia melepaskan diri dari pelukan leehan hingga kini mereka saling berhadapan. leehan terlihat seolah ia baru saja menelan bulan sehingga sekujur tubuhnya bercahaya. yah, setidaknya begitu dari perspektif jaehyun.
“iya, cantik banget,” balas jaehyun, tetapi matanya lurus menatap leehan.
stop! stop! stop! stoooop! isi kepala jaehyun begitu, tapi mumpung nyalinya besar, jaehyun tidak inisiatif memutus tatapan mereka. ajang memuji leehan yang terlalu tampan dengan latar musik romantis itu berubah menjadi ajang pertandingan siapa yang bisa tahan tidak berkedip paling lama. tidak ada kalimat yang mengonfirmasi, hanya insting leehan yang sudah mulai terbiasa dengan jaehyun yang kadang terlalu berani, serta jaehyun yang sudah terbiasa dengan keanehan leehan.
jaehyun bisa merasa mara bahaya akan datang. ia mau bersin. namun, sangat disayangkan kalau kalah! mata jaehyun masih baik-baik saja, tapi leehan sudah terlihat tidak kuat. matanya leehan sudah memerah dan sudah berkaca-kaca.
satu, dua, tiga! jaehyun meniup mata leehan lalu lari terbirit-birit setelah leehan berkedip. bersinnya tidak jadi (sangat tidak nyaman), tetapi leehan ternyata mengejar (sungguh sangat melelahkan). jaehyun lari, lari, lari. sesekali tertawa ketika melihat jarak leehan cukup jauh, lalu teriak saat leehan sudah dekat.
orang yang pendekatan biasanya memang kejar-kejaran, kan?
“anjing! anjiiiiiing!” jaehyun berteriak (volume sepuluh kali lipat dari teriakannya selama berlari) karena melihat seorang pria berkacamata memegang anjing putih yang sebenarnya tidak begitu besar. namun karena panik, jaehyun langsung putar balik secepat mungkin.
“dapat!” seru leehan. jaehyun yang berlari tidak memperhatikan jalan di depan karena sibuk mengecek anjing yang menyalak sekarang akhirnya pulang juga ke pelukan leehan.
“ada anjing, hah, tadi, hah, di sana, hah. ihan, untung kamu, hah, belum sampe,” ujar jaehyun masih terengah-engah. jaehyun buka mulut lagi untuk bicara, tapi suaranya belum bisa keluar. lelah juga berlari tengah malam begini.
leehan hanya elus-elus punggung jaehyun supaya napas gebetannya itu teratur lagi. jaehyun tidak menolak. justru tangan jaehyun sekarang sudah genggam bagian pinggang baju leehan.
“aku bukan takut anjing, loh, ya. cuma tadi, tuh, kaget! jadi aku lari, huft. dipikir lagi tolol juga,” gerutu jaehyun.
untuk yang itu, leehan percaya karena sudah pernah lihat jaehyun peluk-cium-gendong anjing teman mereka. hampir leehan bilang, mungkin jaehyun merasa anjing putih yang kecil itu (leehan sempat lihat dari jauh) lebih berkuasa daripada jaehyun (anjing besar yang sebenarnya kecil dan penakut karena kecil juga nyalinya), tapi ditahan. leehan cuma geleng kepala kemudian bilang, “enggak tolol, kok. insting aja itu, kak.”
bibir jaehyun mengerucut, lalu kepalanya ia istirahatkan di pundak leehan. tangannya sudah nyaman melingkari pinggang leehan yang ramping, sedangkan leehan balas dengan usap-usap kepala jaehyun (kasihan, siapa tahu masih takut dengan anjing putih yang kecil itu). mereka tetap seperti itu sampai leehan berhenti mengelus kepala jaehyun.
“hng?” jaehyun sedih karena kepalanya dianggurkan.
“ada bintang,” jawab leehan. jarinya tunjuk langit yang tidak bisa jaehyun lihat.
padahal jaehyun masih mau pelukan, tapi ia putar badannya lalu mengikuti arah telunjuk leehan. ternyata, betulan ada bintang yang terang. cuma bulan yang tidak ada (tapi menurut jaehyun, bulan memang cantik, kok). senang karena ada bintang, jaehyun peluk tangan leehan. kepalanya sandar lagi di bahu leehan.
“aku mau lihat bintang,” ujar jaehyun tiba-tiba menjauhkan diri dari leehan.
“gimana, kak?” tanya leehan bingung.
mata leehan membulat ketika lihat jaehyun sudah baring di trotoar untuk lihat bintang, tapi sebenarnya tidak sekaget itu. bukan jaehyun namanya kalau tidak merealisasikan perkataannya. dan lebih-lebih, bukan leehan namanya kalau tidak menemani jaehyun merealisasikan ide-ide manisnya. leehan pun ikut berbaring di samping jaehyun.
“kalau sudah tua nanti, aku pengen ketawa pas lihat bintang. soalnya di le petit prince, disuruh begitu. kamu mau temenin aku ketawa sambil lihat bintang gak, kak? sekarang kan aku udah nemenin kamu—”
leehan tersenyum ketika mendapati jaehyun sudah tertidur. di trotoar. leehan diam saja melihat bintang paling tidak tahu lelah di hadapannya. jaehyun kalau tertidur seperti tidak punya beban apa-apa. mulutnya terbuka sedikit. ekspresinya jadi polos. terus tubuhnya terlihat menciut. kecil (padahal tinggi mereka tidak jauh beda).
ponsel leehan bergetar di saku celananya. ternyata alarm karena sekarang hari sudah berganti. leehan memasang alarm itu karena terlalu sering begadang (tidak ada efeknya, leehan tetap sering begadang), tetapi sekarang ia gunakan untuk membangunkan jaehyun.
“kak, bangun,” bisik leehan sambil menggoyangkan bahu jaehyun. “ayo balik ke asrama.”
“lima menit ….”
“kak jaehyun,” panggil leehan. “kalau bangunnya cepet, masih keburu ciuman.”
“hng?” mata jaehyun langsung terbuka.
leehan bantu jaehyun duduk, lalu berdiri setelah matanya terbuka sempurna, dan akhirnya jalan setelah jaehyun sadar tadi leehan bilang apa. sepanjang perjalanan, jaehyun membela diri bahwa ia tidak bangun karena mau ciuman. katanya, ia terbangun karena kaget diajak ciuman langsung tanpa menggunakan alasan klasik seperti sebut nama coki-coki. sebuah perkembangan karakter yang boleh diabadikan, menurut jaehyun.
alasan-alasan itu bikin leehan senang, jadi dia iya-iya saja sambil mendengarkan.
namun, mereka sudah di lampu jalan terakhir sebelum bangunan asrama. sekian belas langkah lagi, mereka akan sampai dan pisah untuk tidur di unit masing-masing. leehan berhenti jalan, jaehyun juga turut serta karena tangan mereka daritadi ternyata tidak lepas-lepas genggamannya.
leehan tuntun jaehyun sampai bersandar di lampu jalan yang berdiri tegak. tidak ada kendaraan yang lewat, apalagi pejalan kaki. mungkin ada satpam di asrama, tapi bisa saja ketiduran di posnya.
“mau dicium, kak?”
mata jaehyun membulat tidak terima. “kok gitu kalimatnya?”
hari ini, memang enggak ada bulan, tapi ada mata leehan yang jadi bulan sabit juga lampu jalan yang terangnya buat jalanan asrama seperti ada bulannya (sampai leehan dan jaehyun berlagak seolah mereka daritadi jalan-jalan di bawah cahaya rembulan). sekarang, mereka juga niatnya mau ciuman di bawah cahaya rembulan (imajiner seperti bilangan yang enggak nyata, tapi ciumannya betulan).
“boleh aku cium, kak?”
“nanya melulu, ihan,” gerutu jaehyun.
“loh, kalau aku gak nanya, berarti tanpa consent, dong. kan gak boleh, kak,” jawab leehan setengah serius.
“kan tadi udah tanya?”
“oke kalau gitu.”
jaehyun tutup mata tunggu bibir leehan sampai di tujuan. hidung mancungnya leehan ternyata kena pipi jaehyun kalau posisinya miring begini. napas pelannya leehan sudah daritadi sapu wajah jaehyun (mungkin ada gerogi-geroginya kayak jaehyun yang jantungnya mau turun ke perut). tangannya leehan juga hangat sekali karena pegangan tangannya tidak putus.
pipi jaehyun jadi hangat. bingung sekali. padahal bukan pertama kali ciuman.
bibir leehan hanya menempel. suaranya saja kecil sekali ketika leehan menjauhkan bibir mereka. namun tidak lama setelah itu, leehan kecup lagi bibir jaehyun. masih tidak bergerak, tapi suaranya semakin basah. jaehyun jadi agak malu juga karena setiap lepas bibir yang bersatu, leehan selalu tatap mata jaehyun lamat-lamat.
“makasih udah temenin aku malam ini, kak,” bisik leehan.
giliran leehan yang sandar di bahu jaehyun. giliran jaehyun juga yang elus-elus punggung leehan. setelah beberapa saat, jaehyun tangkup wajah leehan supaya sejajar dengan dirinya.
“mau aku cium, gak?” tanya jaehyun.
leehan terkekeh.
“tiap kamu ketawa gitu, harus denda seribu, deh,” ujar jaehyun tiba-tiba.
leehan ketawa lagi.
“yang kayak gitu juga.”
“kenapa cuma seribu?”
“kamu kan sering ketawa,” jawab jaehyun jujur.
leehan ketawa sampai matanya jadi bulan sabit untuk ke sekian kalinya malam ini.
“jadi? mau aku cium?” jaehyun tanya satu kali lagi memastikan.
leehan hanya beri anggukan.
jaehyun pun satukan bibir mereka dalam sebuah pagutan. yang pelan, yang manis, dan yang bercahaya. mungkin memabukkan karena pelannya melawan hukum gravitasi. mungkin juga bikin sakit gigi karena manisnya kalahkan coki-coki. mungkin juga menyaingi cahaya rembulan malam ini yang terang benderang (menurut leehan dan sudah disetujui oleh jaehyun). mungkin juga paling romantis sepanjang 40 hari mereka pendekatan.
guk! guk! guk!
jaehyun palingkan wajah kaget. ternyata anjing putih yang kecil itu yang menyalak.
“lanjut aja! maaf, ya!” seru riwoo, teman jaehyun dan leehan yang anjingnya ada dua dan baru satu yang pernah diajak ke asrama (sembunyi-sembunyi). jaehyun malu bukan main. berarti daritadi … ia dan leehan … dilihat riwoo ... dan anjingnya ….
“jjangyi, jangan nakal!" jaehyun masih bisa dengar riwoo tegur anjingnya lalu lanjut berjalan ke asrama.
yah, begitulah akhir perjalanan di bawah cahaya rembulan malam ini.
