Actions

Work Header

Rinai di Penghujung Ria

Summary:

Lima puluh sembilan tahun pasca banjir besar Fontaine.

Sesosok Melusine mempertanyakan keputusan yang diambil sang Immortal untuk menjalin hubungan bersama manusia mortal yang saat ini telah wafat. Namun apa alasan ia mempertanyakan hal tersebut?

Work Text:

Siang itu, di bawah rintik hujan sesosok Melusine membuka payung merah jambu miliknya seusai memberikan seminar kecantikan yang rutin ia adakan di Court of Fontaine. Ia melangkah di bawah payung sesekali melompati genangan dengan kaki kecilnya. Tak terasa langkah kecil-kecil mengurai jarak, menghantarkan dirinya ke sebuah kediaman sederhana.

“Oh! Tante Sigewinne! Ayo masuk!”

“Hihi Terima kasih Ranielle” jawab Sigewinne memberikan senyum lebarnya sambil menutup payung.

“Aku Danielle tanteee”

“Oh maaf aku salah ya” Sigewinne sambil tertawa kecil.

Wanita dengan rupa sama persis muncul dari balik dinding pemisah ruangan “Bohong, tante Sige pasti sengaja salah sebut, kayak kami gak tau aja kalo tante sige selalu bisa bedain kami dengan tepat. Papa aja kalah”

“Hihihi meskipun Ranielle udah gendong Cloyce, wajah merajuknya masih sama ya seperti waktu kamu sendiri masih toddler dulu” Sigewinne berjinjit mengusap rambut anak laki-laki di gendongan Ranielle.

“Sebentar, kalau kami manggil tante Sigewinne dengan tante berarti Cloyce manggilnya nenek dong?” celetuk Danielle.

“Eeehh... tapi aku belum cocok dipanggil nenek, kulitku masih kenceng gini lho” Sigewinne menyahut setengah tertawa.

“Oh aku panggilin papa dulu ya tante” Sahut Danielle beranjak naik ke lantai atas.

Sosok lelaki yang dipanggil papa oleh Danielle dan Ranielle menuruni tangga perlahan, kemudian duduk di hadapan sang Melusine “Halo Sigewinne”

“Monsieur Neuvilette bagaimana kabar Anda?”

“Kabarku baik”

“Syukurlah kalau kabarmu baik Monsieur. Rumah ini tetap hangat seperti biasa” Sigewinne tersenyum, menarik nafas dan melanjutkan. “Tidak terasa sudah satu bulan ya... rasanya baru kemarin Monsieur Neuvilette mengenalkanku pada Navia. Aku rindu mengantarkan produk kecantikan racikanku setiap cuti.”

“...benar dulu Navia bersikeras untuk mengenalkanmu padanya. Ia selalu berkata bahwa ia perlu merawat kulitnya agar bisa selalu tampak awet muda untuk bisa bersanding denganku yang memang tidak menua” jawab Neuvilette dengan suara bergetar bersamaan dengan rintik hujan yang terdengar menderas.

“hihihi Navia juga rajin sekali meminum milkshake anti aging racikanku dengan ekspresi yang sangat lucu” Sigewinne tertawa kecil, disambung tiga puluh detik jeda sunyi.

“Monsieur Neuvilette maaf jika pertanyaanku lancang dan insensitif, tapi apakah Monsieur tidak menyesal?”

“Menyesal?” Neuvilette mengerenyitkan dahinya.

“Uhmm... Maksudku... monsieur dan juga aku memahami bahwa manusia hanya bisa hidup sepersekian lama dari ratusan tahun yang sudah kita habiskan di dunia.” Sigewinne menarik nafas panjang sejenak. “Jika memang Monsieur tahu kebersamaan itu hanya sesaat, mengapa sejak awal harus dimulai? Tidakkah monsieur menyesal untuk memulai?”

Neuvilette menutup matanya, tersenyum tipis “Sigewinne... aku tidak menyesal, tidak pernah sekalipun aku menyesal”

Hujan yang awalnya deras seketika terhenti.

“Tapi aku lihat Monsieur terlihat sangat sedih di upacara pemakaman kemarin. Jika boleh jujur bahkan aku masih melihat kesedihan itu sekarang, setelah satu bulan berlalu.”

“Kesedihan memang selalu hadir bersamaan dengan perpisahan”

“Lalu... mengapa?” Sigewinne sekali lagi bertanya. Ia tak memahami logika di balik kata – kata yang dilontarkan sosok di hadapannya.

“Sigewinne perpisahan memang menyedihkan, namun sedih akibat perpisahan ini hanya sepersekian kecil dari rasa lain yang hadir saat aku memilih jalan ini. Jika perlu digambarkan dengan angka, kesedihan ini mungkin hanya dua persen dibandingkan ria bahagia yang dirasa dalam lima puluh enam tahun kebersamaan kami. Aku tidak menyesal sama sekali.”

“Tapi monsieur meskipun hanya dua persen, karena ia menjadi penutup bukankah artinya kau akan membawa kesedihan itu sepanjang hidupmu kelak? Ratusan tahun kemudian akan kau lalui dengan rasa sedih” Sigewinne masih tidak setuju.

“Iya dan tidak”

Alis Sigewinne terangkat, mulutnya terbuka hendak kembali bertanya namun Neuvilette lebih cepat menyambung jawabannya.

“Iya aku akan terus membawa sedih akibat perpisahan ini, tapi aku tidak akan melanjutkan hidup hanya dengan kesedihan karena aku juga akan terus membawa bahagia yang dirasa dari kebersamaan kami.”

“Meski sekarang bahagia itu hanya berupa kenangan Monsieur?”

“Ia berupa kenangan tapi bukan hanya kenangan. Kumpulan rasa yang muncul : tidak hanya bahagia, semua rasa termasuk kesedihan di penghujung inilah yang membentuk diri kita. Aku yang sekarang tak akan seperti sekarang jika aku tak memilih untuk membersamai Navia. Terlebih kehadiran Danielle dan Ranielle yang merupakan anugrah terbesar dalam hidupku takkan terjadi tanpa bersama Navia”

Neuvilette kembali menutup matanya dan melanjutkan “Sigewinne, kehadiran Navia di kehidupan panjangku memanglah singkat, tapi ia membekas begitu dalam, memberi pengaruh begitu kuat. Ialah cahaya mentari hangat yang membuat penghujung hujan dihiasi tujuh warna. Ialah kupu-kupu indah yang hinggap hanya sejenak di kuntum bunga namun menjadi penentu keberlanjutan hidup sang herba. Aku justru akan lebih menyesal dan akan membawa penyesalan itu sepanjang hidupku jika harus melepas wafatnya Navia tanpa mengambil kesempatan untuk bersamanya membangun keluarga kecil ini.”

Sigewinne tertegun, tak pernah ia melihat ekspresi begitu lembut dari sang hakim agung sebelumnya.

“Sigewinne, bolehkah aku mengetahui alasan kamu membuka percakapan ini?” Tanya Neuvilette mengaburkan lamunan Sigewinne.

“Aku ... cukup khawatir ... dengan kondisi Monsieur ... Syukurlah kalau Monsieur Neuvilette baik – baik saja dan bisa melanjutkan kehidupan tanpa penyesalan” Sigewinne menjawab dengan kikuk.

“Aku berterima kasih karena kamu mengkhawatirkanku Sigewinne, tapi apa kamu yakin alasannya hanya itu? You have someone in mind, don’t you?”

Sigewinne hanya menjawab pertanyaan Neuvilette dengan senyuman, tak mengiyakan maupun mengelak.

“Ahhh monsieur ini aku bawa milkshake dan beberapa bingkisan sisa seminarku tadi” Sigewinne mengalihkan pembicaraan. “Danielle! Ranielle! Ayo sini! Kebetulan banget lho kalian ngumpul di sini Ini pelembab, ini toner, tabir surya, dan oh aku juga bawa milkshake” Sigewinne membuka tasnya mengeluarkan botol beraneka ukuran. Kediaman keluarga kecil Neuvilette siang itu semakin ramai dengan kedatangan sang Melusine.

“Papa, tante Sigewinne, maaf tapi aku mau pamit pulang ya, Cloyce sudah kangen papanya” Ranielle memotong pembicaraan mereka, lanjut berteriak pada saudara kembarnya. “Danielle titip papa ya”

“Oh Ranielle kita jalan bareng aja, sepertinya aku juga mau pamit sebelum gelap” Sigewinne bangkit dan membereskan bawaannya. “Monsieur Neuvilette, Danielle, aku pamit dulu ya”

“Sigewinne, terima kasih telah datang berkunjung. Just follow your heart, before it’s too late”

Sigewinne menutup mulutnya dengan telapak tangan kecilnya. Ia tertawa berpura-pura tak mengerti maksud dari kalimat dan wejangan Neuvilette untuknya.

Sigewinne berpisah dengan Ranielle di persimpangan. Seharusnya ia kembali menuju benteng Meropide, namun kaki kecilnya melangkah menuju arah berlawanan. Ia mengeluarkan secarik kertas lusuh. Lusuh karena tepat lima tahun yang lalu seseorang mengirimkan surat itu padanya. Surat yang tak pernah sekalipun ia balas.

Langkahnya terhenti di sebuah kediaman sederhana. Tepat sebelum Sigewinne mengetuk, pintu terbuka. Tampak seorang pria berusia senja dengan kulit keriput dan rambut memutih.

“Your Grace!”

“Oh Dear Head Nurse, dingin sekali kau baru berkunjung sejak aku pensiun” Sang empunya rumah mengibaskan tangannya “dan ahh... tidak tidak tidak aku sudah bukan Duke of Meropide, kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan itu lagi”