Chapter Text
“.. temu ..kava ..”
Mimpi?
Apa bahkan artinya mimpi?
Aventurine bahkan sudah lupa rasanya hidup di dunia nyata. Dia mungkin sudah lama lupa bagaimana unutk hidup, benar-benar menjalani hidup. Dia hanya pernah tahu bagaimana untuk bertahan hidup. Menjudikan hidupnya untuk meraih kemengangan demi kemenganan dan kehampaan setelahnya.
Kali ini kehampaan itu terasa menjalar. Kehampaan seperti tanaman rambat yang mengkonsumsinya dari ruang kosong di dadanya ke seluruh anggota tubuhnya. Rasa sakit dari duri tajamnya cukup untuk membuatnya sesak, namun tak cukup untuk membunuhnya.
Ah.. apakah ini kematian?
“.. Ka.. kav..”
Aventurine bisa mendengarnya, suara samar di tengah kegelapan. Asalnya seperti dari ratusan kilometer jauhnya, namun terasa dekat seperti bisikan di samping telinganya. Suaar itu asing, namun hangat. Dia tidak tahu apakah dia ingin berlari dan bersembunyi atau mengejar suara itu, mengais secuil kehangatan walau hanya secicip.
Aventurine memutuskan bahwa hal yang harus dia lakukan sekarang adalah membuka matanya. Walau sakit dan sesak, walau napasnya mengikis, walau dia tidak bisa merasakan tubuhnya dan kelopak matanya terlalu berat, dia harus membuka mata.
Kelopak matanya terbuka dengan usaha yang besar, matanya berkedip berat, sekali dua kali, lalu tertutup lagi. Aventurine menghela nafas panjang dari mulutnya, rasa lelah ekstim menjalar ke seluruh tubuhnya, dia tidak bisa merasakan setiap bagian dari sendinya.
Diantara kenyataan dan mimpi, Aventurine dapat mendengar suara di sekitarnya. Nada rendah dan nada tinggi bersautan, beragam emosi berkecambuk di sekitarnya, namun dia terlalu lelah untuk mengerti apa yang dilontarkan. Terlalu lelah untuk sadar.
Kesalahan pertamanya adalah dia kembali tidur.
Aventurine kembali ke kesadarannya lama setelah itu. Dia tidak tahu berapa lama, namun jika dirasa dari sakit yang dia rasakan di seluruh tulangnya, dia bertaruh bahwa dua telah berbarng setidaknya beberapa hari.
Kali ini, Aventurine tidak segera membuka matanya. Dia coba mengontrol tubuhnya, merasakan bagaaimana paru-parunya mengembang dan mengempis di setiap tarikan nafasnya, mencicipi udara lembab di tempatnya berbaring.
Huh, kenapa udara di sini lembab? Apakah staf rumah sakit lupa menyalakan humidifier? Tentunya dia sedang berada di rumah sakit kan? Dia tahu menghancurkan cornerstone akan memaksanya menghadap langsung dengan Diamond, namun tentunya IPC tidak akan membuangnya begitu saja bukan?
Aventurine baru kembali ke alam kesadaran dan otaknya segera terjerumus ke lubang kecemasan. Dia menghela napas kesal pada dirinya sendiri.
Kembali dengan berat hati dia membuka matanya.
Hal yang pertama dia lihat bukan lampu LED putih menyilaikan, langit-langit putih rumah sakit pun tidak terlihat. Yang ada di depannya sekarang adalah langit-langit hijau yang dia curigai terbuat dari daun.
“Demi Qlipoth..” perkataannya terpotong oleh batuk keras, tenggorokannya terasa menyengat dan suaranya serak.
Aventurine berdeham, mengatur napasnya dan mencoba untuk bangun.
Bangun bukanlah hal yang mudah.
Tubuhnya terasa terlalu panjang. Setiap sendi di tubuhnya kaku, dan dia bersumpah jarinya tidak sepanjang ini. Apakah dia masih bermimpi? Apakah kepalanya masih dibawah pengaruh bajian Sunday itu?
Aventurine tidak mendapat jawaban dari siapapun.
Dia kembali berusaha untuk bangun, dan pertempuran dimulai. Usahanya dalam mencoba bangun dan duduk seperti orang normal pada umumnya kandas, kini dia harus bertarung dengan tubuhnya sendiri dan mendorong secuil tenaganya yang tersisa untuk setidaknya bergerak.
Pertempuran itu terbukti sia-sia saat dia gagal dengan spektakuler dan jatuh ke lantai kayu dengan bunyi kedebug yang keras.
Tubuhnya yang lemah ditambah lantai yang dingin hampir mengirimnya kembali ke koma. Dia bahkan tidak sempat melihat sekeliling untuk mencari benda yang bisa membantunya bangun.
Namun sepertinya dia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu karena yang selanjutnya dia dengar adalah derap langkah kaki dari beberapa orang dan seruan.
“Archon!” Seseorang memanggil. Aventurine tidak mengerti satu kata pun yang keluar dari mulut orang itu.
Sebuah tangan kemudian membantunya duduk dan dengan sangat perlahan mengangkatnya kembali ke tempat tidur.
Aventurine menutup matanya, membolehkan dirinya untuk sebentar saja merasakan kehangatan yang diberikan kepadanya. Tangan di tubuhnya kekar, familiar, dan hangat. Kepalanya membayangan mata scarlet yang akan menatapnya dengan kesal, wajah tampan dibalik tirai biru rambutnya.
“Kau baik-baik saja?”
Aventurine membuka matanya. Pupilnya membelalak. Itu bukan suara Ratio, dan tangan yang masih mensuport tubuhnya juga bukan tangan Ratio. Lalu siapa-?!
Aventurine tidak pernah melihat pria di depannya ini selama hidupnya. Dia telah bekerja selama bertahun-tahun di IPC, dia memang tidak mengingat setiap wajah yang dia temui, namun jika dia pernah melihat pria dengan tubuh kekar, wajah tampan dan mata tajam yang ada di depannya, dia pasti akan mengingat orang berambut abu-abu ini.
“Archon! Aku hanya meninggalkanmu beberapa menit dan kamu sudah ada di lantai!” suara lain terdengar.
Aventurine mengalihkan pandangannya ke orang lain di ruangan. Hal pertama yang dia sadari dari orang kedua ini adalah dua telinga panjang yang berdiri di atas kepalanya.
Foxian? Apakah dia dikirim ke Xianzou? Tapi pakaian yang dipakai kedua orang ini tidak terlihat seperti dari Xianzou, dan Avenurine sangat yakin Aliansi Xianzou tidak memiliki bangunan yang masih terbuat dari kayu dan daun.
Telinga pria foxin itu berkedut, wajahnya jelas memperlihatkan kekhawatidak dan kekesalan, mengingatkannya pada seorang doktor.
“Kamu sangat pendiam, apakah tubuhmu sakit?” pria berambut abu-abu bertanya.
Aventurine terkejut sesaat, kemudian ingat bahwa kedua tangan pria asing ini masih menyentuhnya. Tangannya yang lemah berusaha mendorong dada kekar pria ini, yanng untungnya langsung dimengerti dan pria ini mundur perlahan, menjaga jarak yang cukup nyaman namun masih cukup dekat kalau-kalau Aventurine kehilangan keseimbangannya.
Kesalahan kedua Aventurine adalah membuka mulutnya.
“Maaf, tapi siapa kalian?”
Berbagai ekspresi terlihat di wajah kedua orang di depannya. Keterkejutan, kebingungan, kekhawatiran, dan amarah. Di detik itu pula Aventurine sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan besar.
Sebelum dia sempat mengatakan apa-apa untuk setidaknya mengendalikan keadaan, pria foxian yang masih berdiri di sisi lain ruangan mengomelinya dengan kekesalan yang tidak disembunyikan.
“Kaveh, itu tidak lucu.” Dia menghela napas, ekor hijaunya bergerak dari kiri ke kanan dengan kekesalannya. “Kamu koma selama setidaknya tiga hari. Kita semua mengkhawatirkanmu.”
Kaveh?
Siapa Kaveh?
Tunggu, apa dia seedang berbicara dengannya? Mata Aventurine membelalak dengan keterkejutan dan panik yang mulai mencakar leher dan dadanya. Apa mereka salah mengiranya sebgai seseoran bernama Kaveh?
Apakah ini masih mimpi? Apa Aventurine tidak lagi bisa membedakan relita dan mimpi? Setelah pertemuannya dengan Acheron, Aventurine mengira bahwa kekuatannya yang berasal dari Persevation cukup untuk melindunginya dari bayangan Nihility. Atau apakah ini pengaruh dari kekuatan Sunday?
Aventurine bisa mempertanyakan semua itu nanti. Namun sekarang dia sedang berada dibaawah tatapan tajam dari dua orang asing yang sepertinya benar-benar mengkhawatirkannya. Mengkhawatirkan Kaveh lebih tepatnya. Tidak ada yang mengkhawatirkannya seperti ini.
Aventurnie mersa sangat bersalah untuk berbohong pada mereka, namun dia setidaknya harus terlihat baik-baik saja untuk bisa memahami keadaannya sekarang.
“Kamu benar. Maafkan aku.” Aventurine menjawab dengan suara yang serak dan lemah. “Aku masih sangat lelah.”
Ini terbukti efektif karena si rambut abu-abu segera mundur darinya untuk mengambil air dan memberikannya padanya. Aventurine mengucapkan terima kasih kecil dan meneguk air itu habis.
Foxian berambut hijau kemudian membantunya berbaring dan mulai memeriksa kondisinya. Sepertinya dia adalah seorang dokter di sini.
Aventurnie hanya diam, memperhatikan bagaaimana dokter ini memeriksanya dan mengoleskan ramuan herbal ke tubuhnya. Aventurnie yakin saat ini matanya berpendar dengan penasaran dengan betapa terbelakangnya pengobatan di sini.
Apakah dia dikirim IPC ke tempat antah berantah untuk menutupi kematiannya? Tapi itu tidak menjelaskan kenapa dua orang ini mengiranya sebagai seseorang bernama Kaveh.
“Tighnari, aku harus pergi ke akademiya untuk mengurus sisa berkas.” Pria berambut abu-abu berkata pada si dokter yang sekarang Aventurine tahu bernama Tighnari.
“Baik, terima kasih Alhaitham. Dan jika kau bertemu Cyno, beri tahu dia.” Tighnari membalas.
Pria bernama Alhaitham itu mengangguk dan berbalik ke luar tanpa sedikitpun melihat ke Arah Aventurine. Namun sebelum tubuhnya menghilang di balik daun besar yang Aventurine tebak adalah pintu, Alhaitham berkata. “Aku senang bisa melihatmu bangun, Kaveh.”
Aventurine seketika merasa bersalah karena telah berbohong. Kedua orang ini terlihat benar-benar memperdulikan Kaveh. Aventurine merasa seperti seorang impostor, mendapatkan semua kepedulian dan perhatian yang bukan miliknya. Dan tidak akan pernah menjadi miiknya.
“Kaveh, aku akan bertanya beberapa hal, tolong jawab sejujurnya.” Tighnari berkata dengan profesionalitas seorang dokter, lengkap dengan sebuah catatan keci dan pena.
Aventurine membuka matanya. Nafasnya cepat dan pendek, dia bisa merasakan keringat dingin dari punggungnya. Mimpi buruk menghantamnya seperti truk.
“Aku bahkan tidak stahu kapan aku tidur.” Aventurine bergumam, menutup matanya dan mengatur napasnya.
Dari ingatannya yang kabur, dia beru saja menjawab pertanyaan-pertanyaan Tighnari kemudian dipaksa makan oleh si foxian, dan sekarang dia terbangun di tengah malam hampir terkena serangan jantung.
Aventurine memaksa dirinya untuk duduk, yang untungnya kali ini tidak menyebabkan wajahnya menyentuh lantai kayu dingin.
Hanya saja kali ini dia hampir berteriak terkejut saat dia sadar seseorang berada di dekat tempat tidurnya. Tak jauh darinya, Pria bernama Alhaitam itu duduk di kursi, tangannya menyilang di depan dadanya dan kepalanya miring ke sisi yang tidak nyaman. Dia tertidur lelap.
Pria ini mengorbankan tidur nyaman dan sendi-sendinya untuk menemani Kaveh. Aventurine terdiam, menggelengkan kepalanya dan memaksa tubuhnya untuk bangkit.
Dengan usaha penuh untuk tidak mengeluarkan suara, Aventurnine berjalan ke sekitar ruangan, berpegang ke dinding dan furnitur yang terlihat cukup kuat untuk akhirnya menemukan wastafel.
Aventurine membahahi wajahnya dengan air dingin, menghela napas panjang dan mengeringkan wajahnya dengan lengan bajunya. Sebelum akhirnya mendongak untuk melihat ke cermin.
Seorang pria berambut pirang dengan mata merah yang cantik menatapnya balik. Pria itu pucat, pipinya cekung dan berkantung mata, jelas terlihat sakit namun kecantikannya tidak bisa ditutupi.
Pria di depannya memilki bulu mata yang panjang dan lentik, rambut pirang yang hampir senada dengan warna rambut Aventurine sendiri membingkai indah wajah yang feminim dan mata merah yang tajam.
Tunggu dulu.
Aventurine mengangkat satu tangannya dan menyentuh kaca di depannya, pria bermata merah itu mengikuti gerakannya.
Teror mengguyurnya seperti seember air dingin saat kesadaran menghantamnya seperti batu bata.
Orang-orang ini tidak salah mengiranya sebagai Kaveh, namun dia sedang berada di tubuh Kaveh.
