Chapter Text
“BANG SAAAATTTTTT.”
Teriakan seorang sersan laki-laki—berambut merah jambu—bergema di koridor kantor Divisi 1 Departemen Investigasi Kriminal Kepolisian Tokyo ketika dia berlari dengan kecepatan tinggi ke ruangan yang dia tuju. Satu per satu petugas polisi yang sedang berjalan di koridor terpaksa menepi supaya tidak tertabrak sekaligus tidak menghalangi pemuda ini lewat di koridor. Orang-orang yang ada di koridor saling menatap satu sama lain, bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi melalui sorot mata mereka. Namun, mereka serempak mengedikkan bahu mereka, tak ada satu pun dari mereka yang tahu dan mengerti, sehingga akhirnya membubarkan diri, kembali melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda dengan tenang.
Sesampainya sersan muda itu di luar ruangan yang dia tuju, dia menghentikan laju kakinya yang luar biasa dengan menabrakkan diri pada tembok terdekat. Bukannya mengaduh kesakitan akibat tabrakan itu, dia malah dengan semangat segera memasuki ruangan yang bertuliskan ‘Detektif - Tim Macan Putih’. Dia langsung membuka kenop pintu dengan cepat dan membanting pintu dengan keras. Orang-orang di dalam ruangan, yang sedang khusyuk dengan pekerjaan mereka di komputer, sontak menoleh ke arah sersan muda itu. Mereka menatap sersan itu dengan tatapan malas, terlalu lelah untuk terlibat dengan energi berlebihan sersan berambut merah muda itu.
“BANG SAAAATTTTTT,” teriak sersan muda itu dengan semangat.
“Yuuji, bisa ga lu ga berisik. Gue lagi pusing banget ngerjain laporan kasus minggu kemarin,” protes seorang wanita berambut amber. Matanya nyalang memandang sersan bernama Yuuji, penuh kemarahan.
“Yaudah gue ga akan berisik lagi, tapi lu liat bang Satoru ga, Nobara? Ini gue dapet info penting buat bang Satoru. Dia harus tau info ini ASAP!”
“Gue ga tau. Dari gue sampe di ruangan ini tadi pagi, ga sekalipun gue liat dia nongol batang hidungnya. Tapi, tadi Megumi dateng lebih awal dari gue sih. Tanya dia aja, ‘dah.” Nobara menunjuk pria berambut seperti sea urchin yang duduk disebelahnya—sedang mengetik sambil menggunakan headphone.
Yuuji mendekati Megumi dengan semangat dan dia melepas headphone yang dipakai Megumi dengan cepat lalu meletakannya di meja. “Gum, lu liat ban—”
“Ga,” potong Megumi dengan cepat.
“Belum juga kelar gue ngomong nya, Gum. Ye lah.” Yuuji melempar ekspresi tidak puas pada Megumi sambil mengguncangkan bahu rekannya itu.
“Tanpa gue nunggu lu selesai ngomong juga gue udah tau lu teriak-teriak nyariin dia. Lu seberisik itu sampe headphone gue ga bisa ngelindungin telinga gue dari keberisikan lu.”
Yuuji menghentikan guncangan pada bahu Megumi seraya berkata, “Ya maaf, Gum. Gue ga bisa menahan ke waku-waku-an gue. Ini info penting banget soalnya kita bakal dapet misi baru.”
“Eh, ini beneran, Ji? Lu ga halu, kan? Dapet info dari mana?” Tiba-tiba Nobara ikut nimbrung pada pembicaraan Yuuji dengan rentetan pertanyaan. Matannya berbinar-binar, antusias dengan kemungkinan yang ditawarkan Yuuji.
“Beneran. Gue disuruh pak Yaga langsung buat nyampein ini ke bang Satoru. Dia disuruh ngehadap pak Yaga sekarang juga. Gue udah teleponin bang Satoru dari tadi tapi ga diangkat-angkat. Jadi, gue nyamper ke sini sapa tau ada, eh taunya ga ada juga,” ujar Yuuji sambil berjalan ke meja kerjanya di samping Nobara.
“Itu orang pas dibutuhin suka ilang-ilangan gini, deh. Gue pengen cepet ditugasin di lapangan lagi nih. Gue udah suntuk banget sama kerjaan administrasi kayak begini. Butuh refreshing sekarang.” Nobara menggebrak meja sambil berdiri dari tempatnya duduk. “Yuuji, ayo kita cari bang Satoru sekarang!”
Yuuji menatap mata Nobara yang memiliki binar yang sama dengannya, semangat yang membara dan antusias tinggi. Dia segera bangkit dari kursi nya dan mengayunkan kepalan tangannya ke udara, dengan sebuah senyuman terpatri di wajahnya. Perasaan bahagia menyelimuti hatinya karena akhirnya ada orang yang berbagi semangat yang sama dan satu frekuensi dengannya.
“Come on, let’s go.”
Melihat semangat itu, tak ayal, Megumi memasang wajah datar. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi sambil melipat lengannya di depan dada, lalu mengembuskan napas. “Bar, kalo kata gue lu sekarang beresin dulu kerjaan lu biar ga molor baru keluyuran sama Yuuji. ‘Tar pas kita udah fix dapet misinya lu malah ga diajakin bang Satoru karena kerjaan lu ga beres. Dan ujungnya, lu recok minta bantuan ke gue beresin laporan lu. Gue ga mau.”
Nobara menyatukan seluruh jemarinya lalu memasang ekspresi seperti anak anjing imut ke arah Megumi, untuk meluluhkan hati rekannya, tentunya. “Megumi, lu bestie gue, kan? Iya, kan? Bantuin gue bikin laporan gue ya nanti please. Gue mau berjuang dulu sama Yuuji nyariin bang Satoru supaya kita dapet dulu misinya, Gum. Demi hidup kita yang lebih baik.”
“Ga,” jawab Megumi dengan singkat, padat, dan tegas.
“Jangan jahat gitu dong, Gum. Mau ya? Yayayaya? Pleeeeaaseee.”
“Ga. Laporan gue juga belum beres.”
Yuuji berjalan mendekati Megumi dan berdiri di samping kiri rekannya. Kedua telapak tangannya kembali diletakan di bahu rekannya persis seperti beberapa menit yang lalu. “Gum, gue mohon bantuin Nobara bikin laporannya nanti. Kita berdua harus nyariin bang Satoru sekarang. Gue takut misi ini malah dialihin ke tim lain.”
“Gue akan jawab ga sampe kalian diem.”
Nobara dan Yuuji kemudian mengguncangkan bahu Megumi sambil memohon—dengan pemaksaan—agar Megumi mau membantu mereka berdua. Namun alih-alih tergugah untuk menerima permintaan mereka, Megumi tidak sekali pun terpengaruh dan tetap kukuh pada pendiriannya. Dia memasang ekspresi acuh tak acuhnya dengan lantang, membuat Nobara dan Yuuji semakin rusuh, berisik, dan tidak terkendali—tetapi tetap saja dia tidak peduli.
Saat keributan semakin memanas di antara ketiganya, seseorang memasuki ruangan mereka tanpa mereka sadari. Orang bersurai putih itu bersandar pada pintu ruangan yang dia tutup, melipat tangan di depan dada sambil memandangi tingkah laku lucu ketiga sersan muda yang sedang adu mulut di depannya. Hingga tanpa dia sadari, sebuah tawa kecil lolos darinya.
Menyadari kehadiran seseorang, ketiganya lantas mengernyitkan alis mereka lalu mengalihkan tatapan mereka pada orang itu. Awalnya, raut wajah mereka terlihat tidak senang, terutama Yuuji dan Nobara, karena ada seseorang yang menginterupsi kegiatan mereka. Namun tidak lama setelah itu, wajah mereka bertiga dipenuhi kelegaan; orang yang mereka cari, secara ajaib, akhirnya muncul di depan mata mereka.
“Yo, adik-adik manis kesayangan bang Satoru,” sapa orang itu dengan ceria sambil mengangkat tangannya.
“BANG SAAAATTTTTT,” teriak Yuuji.
Air mata kebahagiaan menggenangi kedua sudut mata Yuuji dan sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya. Di sisi lain, Nobara dan Megumi bernapas lega bersamaan dan mereka tersenyum juga.
Yuuji berjalan menghampiri Satoru dengan semangat sambil menyeka air mata di matanya. “Bang, lu tadi di mana, sih? Gue nyariin lu kesana-kemari, bang. Gue udah nelponin lu juga tapi ga lu angkat. Gue disuruh pak Yaga buat nyampein pesen buat lu biar ngehadap dia,” jelas Yuuji.
Satoru mengusap kepala Yuuji pelan seraya tersenyum simpul. “Maaf ya, Ji. Gue emang baru banget datang ke kantor dan Hp gue emang mati, belum gue charge.”
Satoru mengeluarkan ponsel pintarnya dari tas selempang yang dipakainya dan menunjukannya pada Yuuji untuk membuktikan ponselnya kehabisan daya. Yuuji hanya mengangguk pelan, memahami situasi yang dialami Satoru.
“Oh iya, ada apa pak Yaga manggil gue? Ada misi?” tanya Satoru, matanya menatap satu per satu juniornya sedangkan tangannya sibuk memasukkan ponselnya ke tempat semula.
“Iya bang. Makanya yang paling penting sekarang, lu ngehadap pak Yaga. Soalnya, udah ditungguin dari tadi.”
“Iya, bang. Bener kata Yuuji. Biar kita dapet juga misinya, bang,” tambah Nobara.
Satoru mengerucutkan bibirnya. “Baru juga gue datang. Kalian bertiga semangat banget dapet misi sampe-sampe nyuruh gue buat ketemu pak Yaga secepetnya gini.”
“Gue ga bilang apa-apa,” protes Megumi.
“Muka lu yang bilang, Gum,” timpal Satoru.
Megumi tidak membalas lagi. Dia hanya memasang ekspresi wajah yang bisa diartikan sebagai ‘terserah lu aja, bang’, dan Satoru mendengus karena dia mengerti.
Tanpa menunggu lebih lama, Yuuji berinisiatif membukakan pintu untuk Satoru keluar. Lalu menepi ke arah dinding terdekat, dia mempersilakan Satoru untuk lewat dengan gestur tangannya. Satoru ternganga, kebingungan dengan perilaku Yuuji yang begitu bersemangat menyuruhnya keluar dari ruangan sampai-sampai bermain peran sebagai seorang pelayan laki-laki.
“Silakan, bang,” ujar Yuuji dengan senyuman terpatri di wajahnya, matanya menyipit.
“Semangat bang Satoru,” teriak Nobara dari bangkunya.
Satoru tertawa kecil. “Iya, iya. Gue berangkat, nih.”
Yuuji melambaikan tangan sambil tersenyum—memberi dukungan morel. Dan sebagai balasannya, Satoru menepuk pundak Yuuji sebelum dia keluar dari ruangan.
Setelah Yuuji menutup pintu ruangan, Megumi menepukkan kedua telapak tangannya untuk mengambil atensi kedua rekannya lalu bersabda, “Karena bang Satoru udah otw ke ruangan pak Yaga, Nobara lu harus kerjain laporan lu sendiri sekarang secepatnya. Dan lu juga Yuuji, lu kerjain laporan lu sekarang secepatnya yang kata lu dikit lagi itu. Demi hidup kita yang lebih baik.”
“Dih, lu juga kerjain laporan lu lah, Gum,” protes Nobara.
“Gue udah beres.”
Nobara dengan keras menggebrak meja dan matanya nyalang memandang Megumi. “Tadi katanya lu belum beres, Gum. Nyebelin banget sumpah. Harusnya kalo lu udah ya bantuin gue.”
Megumi hanya menggelengkan kepalanya pelan, menolak permintaan Nobara mentah-mentah. Tanpa peduli dengan protes lainnya dari Nobara, Megumi memasang headphone-nya dengan santai lalu melangkah ringan menuju pantry untuk membuat kopi. Nobara menggeram di meja kerjanya, merasa muak tidak kepalang dengan tingkah laku menyebalkan Megumi, sambil terus menyusun laporannya di komputer. Yuuji merasa bergidik saat melihat aura hitam yang menguar dari Nobara sehingga dia berjalan dengan hati-hati ke arah mejanya, lalu duduk tanpa menimbulkan suara. Di bangkunya, Yuuji menyusun laporannya tanpa bicara sepatah kata pun, takut-takut dia yang jadi objek pelampiasan kemarahan Nobara.
Sepeninggal Satoru, ketiganya sibuk dengan urusan masing-masing: Yuuji dan Nobara khusyuk dengan pekerjaan mereka, dan Megumi khusyuk menikmati kopinya sambil menaikkan level skill miliknya pada sebuah game online di meja kerjanya. Ruangan mereka berubah menjadi sangat sepi karena tidak ada satu orang pun yang berbicara, tipikal kantor pada umumnya. Satu-satunya sumber suara di ruangan mereka hanyalah suara papan ketik yang ditekan dengan brutal oleh Yuuji dan Nobara saking seriusnya mereka menyelesaikan laporan. Namun beberapa menit kemudian, kenop pintu ruangan mereka mengeluarkan suara khas ketika pintu akan dibuka. Mereka tidak menyadarinya terutama Megumi karena mereka sudah menganggap suara-suara di sekitar mereka sebagai white noise.
Saat pintu didorong dari luar oleh seseorang, Yuuji dan Nobara secara bersamaan berdiri, dan ketika pintu beringsut membuka, mereka berteriak, “SELESAI.”
“KAMISAMA,” orang yang membuka pintu, yang tak lain adalah Satoru, berteriak seperti bersahutan dengan teriakan Yuuji dan Nobara. Matanya membelalak, kaget karena teriakan tiba-tiba junior-juniornya.
Satoru mengusap dadanya dan mengembuskan napas dengan kuat. “Duh … jantung gue kayak mau copot gara-gara kalian teriak kenceng banget pas gue masuk,” keluh Satoru.
“Maaf, bang. Gue ga maksud ngagetin lu. Ini gue baru kelar ngerjain laporan aja saking senengnya gue teriak kenceng,” jelas Yuuji sambil menyatukan telapak tangannya. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah.
Nobara juga menyatukan telapak tangannya. “Gue juga minta maaf ya, bang. Gue juga barusan seneng banget baru beres ngerjain laporan.”
“Hmm … Yaudah gapapa santai saja. Gue cuma kaget aja kok.”
Megumi meletakan ponsel dan headphone-nya di meja miliknya lalu berkata, “Gimana, bang, dapet ga misinya?”
Satoru tersenyum miring, kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya. “Ta-da. Kita dapet misi baru.”
“HOREEEE,” teriak Yuuji dan Nobara bersamaan dengan penuh kegembiraan.
Yuuji dan Nobara berdiri lalu melompat-lompat sambil menautkan tangan mereka seperti anak kecil yang kegirangan, kemudian dengan spontan Yuuji menarik Nobara ke dalam pelukannya. Untuk beberapa saat, mereka saling berpelukan karena euforia yang masih menggebu dalam diri mereka. Namun saat rasa bahagia mereka mulai mereda, Nobara langsung melepaskan diri dari pelukan Yuuji dengan mendorong kuat badan Yuuji sampai rekannya itu kembali duduk ke bangkunya. Di samping mereka, Megumi hanya tersenyum. Meskipun begitu, dia juga sangat senang karena mereka mendapatkan misi baru.
“Karena udah fix kita dapet misi nya, nanti malem pukul 9, kita kumpul lagi di sini buat briefing dulu. Abis itu baru kita berangkat,” Satoru menjelaskan, “oh … ya satu lagi, bekel baju yang banyak juga. Misi kita kali ini jauh dari pusat kota dan kemungkinan bakal lama.”
“Oke, bang,” jawab Yuuji sambil memberi hormat pada Satoru.
Nobara dan Megumi memberi jempol pada ketua tim mereka.
“Sekarang gue mau pergi ke kantin dulu ya mau makan siang, kalian mau ikut ga?”
Yuuji bangkit dari kursi yang dia duduki. “Ikut, bang. Gue juga jadi lapar abis ngerjain laporan.”
Satoru mengalihkan tatapannya pada dua orang lainnya. Nobara dan Megumi juga menjawab ‘ikut’ pada akhirnya.
Setelah jam kantor selesai, mereka bertiga—Yuuji, Megumi, dan Nobara—bergegas pulang ke rumah sewaan yang mereka bertiga tinggali. Dan seperti hari-hari biasanya, mereka langsung mandi, masak, dan makan. Baru setelah menyelesaikan pekerjaan domestik, mereka mengemasi berbagai barang keperluan yang akan mereka bawa untuk misi: pakaian, produk perawatan badan, peralatan pribadi, dan peralatan untuk pertolongan pertama. Yuuji dan Nobara yang paling antusias ketika memilih barang-barang mereka, seperti akan pergi liburan.
“Bar, lu serius mau bawa dua koper gede ini?” tanya Megumi saat mereka berkumpul di ruang tengah, menunggu jemputan mereka datang.
“Iya. Ini isinya penting semua soalnya.” Nobara menepuk dua kopernya dengan semangat.
“Gue ga mau bantuin bawa tu koper.”
“Dih … gue ga akan minta bantuan lu ya, Gum. Gue udah punya Yuuji yang siap sedia bantuin gue.” Nobara menepuk bahu Yuuji yang berdiri di sampingnya.
Yuuji mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum lebar ke arah Megumi.
“Cih … mau-maunya lu, Ji.”
“Gapapa, Gum. Itung-itung latihan fisik,” ujar Yuuji, masih dengan senyumnya.
Saat Megumi akan menimpali ucapan Yuuji, ponsel Yuuji berbunyi, menandakan ada notifikasi masuk. Yuuji buru-buru memeriksa ponselnya dengan mengetuk dua kali layar ponselnya. Dalam beberapa detik, Yuuji menemukan sebuah pesan singkat dari supir taksi online muncul di lockscreen ponselnya. ‘Kak saya udah di depan.’ isi pesan itu.
“Gaes, jemputan udah datang. Let’s go.”
Tanpa menunggu lebih lama, mereka segera meninggalkan rumah dan menaiki taksi yang mereka pesan. Jam menunjukkan pukul 20:43 saat taksi mulai berjalan menuju kantor mereka. Masih ada cukup waktu sampai jam pertemuan mereka, sehingga mereka tidak cemas dan lebih bisa santai menikmati perjalanan mereka. Ketiganya menghabiskan waktu mereka dengan duduk bercengkerama di taksi mengenai hal-hal di luar pekerjaan mereka dan menertawai lelucon-lelucon yang mereka lempar untuk satu sama lain. Hingga tanpa terasa lima belas menit telah berlalu dan mereka sampai di depan kantor di mana mereka bekerja sebagai detektif.
Mereka lalu berjalan memasuki gedung dan menuju ke ruangan mereka sambil menarik koper masing-masing. Sesampainya mereka di ruangan, jam menunjukkan tepat pukul 21:00, dan mereka tidak menemukan Satoru di meja kerjanya, tetapi menariknya koper Satoru sudah ada di dalam ruangan mereka sehingga mereka bertiga memutuskan untuk menunggu di ruangan sampai ketua mereka datang.
Mereka menyibukkan diri dengan ponsel mereka untuk menghabiskan waktu: Yuuji dan Megumi memainkan permainan online yang sama, sedangkan Nobara sibuk membuka media sosialnya untuk melihat tren mode kekinian. Hingga tanpa mereka sadari, satu jam telah berlalu dan jam menunjukkan pukul 22:00 saat mereka bertiga melirik jam yang ada di ruangan. Dan dalam satu jam yang telah terlewat, tidak ada sedikitpun pertanda ketua mereka akan segera datang ke ruangan—membuat gelagat mereka bertiga mulai terlihat resah di bangku masing-masing.
Megumi merasa ada yang tidak beres. Dia tahu kalau Satoru sering telat ketika menghadiri pertemuan tetapi tidak pernah selama ini jika memang pertemuan itu adalah pertemuan yang dia janjikan sendiri. Apalagi, koper ketuanya itu sudah ada di ruangan. Itu menunjukkan ketuanya sudah sampai sejak tadi dan kemungkinan sedang berkeliaran di sekitar gedung kantor mereka.
Megumi mengembuskan napas untuk melepaskan rasa tidak nyaman dalam dirinya. Setelah itu, Megumi berkata, “Gue mau coba telepon bang Satoru.”
“Ok, Gum,” timpal Yuuji.
Yuuji bangkit dari kursinya sambil menguap, matanya berkaca-kaca. “Gue mau bikin kopi dulu, ‘lah. Mulai ngantuk gue gara-gara kelamaan nunggu. Kalian mau gue bikinin juga ga?”
“Gue mau juga, Ji,” balas Nobara.
“Gue juga,” ujar Megumi sambil menekan tombol panggil di layar ponselnya.
Setelah itu, Yuuji berjalan gontai ke arah pintu pantry di ruangan mereka—meninggalkan dua rekannya yang duduk di meja kerja mereka masing-masing. Sepeninggal Yuuji, Megumi terus-menerus, tanpa jeda, menekan tombol panggil pada layar ponselnya setiap kali panggilannya berakhir dengan pesan dari provider. Air muka Megumi mulai mengkeruh ketika panggilan ketiga yang dilakukannya juga tak diangkat oleh Satoru. Dia mendecakan lidah membuat Nobara yang duduk bersandar pada kursi di sampingnya mengembuskan napas—untuk menenangkan dirinya.
“Gaes,” panggil Yuuji pada rekan-rekannya dengan pelan.
Yang dipanggil menoleh ke arah Yuuji dengan wajah penuh tanya. Yuuji mengarahkan jempol tangannya ke dalam pantry yang pintunya baru saja dia buka beberapa saat lalu, dan matanya mengerling dari arah kedua rekannya ke dalam pantry lalu kembali ke rekannya lagi. Nobara dan Megumi mengernyitkan alis, tidak mengerti dengan kode yang diberikan Yuuji pada mereka.
“Bang Satoru ada di pantry lagi tidur di kursi pijet,” ujar Yuuji dengan setengah berbisik pada akhirnya.
Megumi—diikuti Nobara—berjalan cepat ke arah Yuuji. Mereka bertiga kemudian menjejali ambang pintu bersama-sama, melihat ke dalam pantry, dan menemukan orang yang mereka cari benar-benar berada di sana sedang tertidur lelap. Mereka bertiga melihat satu sama lain lalu mengembuskan napas lega. Setelah itu, mereka bertiga berjalan pelan ke arah Satoru.
“Bang … Bang Satoru bangun, bang.” Yuuji menepuk bahu Satoru sedikit kuat.
“Iya, bang. Bangun bang. Ayo briefing.” Nobara ikut menepuk bahu Satoru bersama Yuuji.
Beberapa saat kemudian, kelopak mata Satoru membuka perlahan-perlahan, memperlihatkan bola mata biru langit. Matanya berpendar, menilik satu per satu junior-junior kesayangannya. Mereka bertiga memperhatikan Satoru dengan wajah kesal yang kentara, membuat Satoru tertawa kecil ketika dia beranjak dari kursi pijat yang didudukinya.
“Ayo kita briefing dik-adik,” ujar Satoru sambil merangkul ketiga juniornya.
“Gue mau bikin dulu kopi. Lu mau gak, bang?” tanya Yuuji.
Satoru mengacak rambut Yuuji. “Mau. Gulanya yang banyak, Ji.”
“Ok.” Yuuji melepaskan diri dari rangkulan Satoru.
Satoru—diikuti Megumi dan Nobara—berjalan ke ruang kerja mereka. Nobara dan Megumi duduk kembali ke bangku mereka masing-masing sedangkan Satoru menyalakan proyektor dan laptop untuk briefing. Megumi mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen dari laci mejanya. Di samping Megumi, Nobara memperhatikan Satoru dari jauh sambil memasang ekspresi wajah bosan.
Yuuji lalu datang ke ruangan membawa empat gelas berisi kopi di nampan. Dia segera menyerahkan gelas tersebut sesuai dengan inisial nama di gelas. Uap masih mengepul dari setiap gelas yang dibagikan Yuuji—membuat mereka yang menerima gelas harus hati-hati saat memegangnya. Setelah selesai membagikan kopi, Yuuji duduk di kursinya, meniup pelan-pelan kopinya, lalu menyeruputnya dengan pelan juga. Satoru, Megumi, dan Nobara juga menikmati kopi mereka masing-masing dengan cara yang sama dengan Yuuji.
Satoru menepukkan tangannya dua kali, menarik perhatian junior-juniornya. “Ok. Kita mulai briefing sekarang.”
Yuuji mengacungkan jempol sambil meneguk kopinya sedangkan Megumi dan Nobara bersiap-siap menulis. Satoru mengacungkan jempolnya juga pada mereka bertiga dan segera membuka file powerpoint yang berisi materi tentang misi mereka di laptop lalu menampilkannya di proyektor.
“Briefing kita sekarang bakal ngebahas gambaran umum dari misi kali ini.”
Satoru mengarahkan pointer pada layar. “Misi kita ini bukan misi independen yang 100 persen kasusnya ditangani sama kita tapi kita bakal koordinasi sama kepolisian di daerah di mana pelaku dalam kasus ini terdeteksi. Arahan dari kantor pusat, kasus ini penyelidikannya harus dilakuin secara rahasia supaya warga setempat pada ga resah dan takut karena kasus yang kita hadepin terkait serial killer.
“Kepolisian daerah yang bakal kerja sama kita ini kepolisian Raikiri yang terletak di daerah bagian ujung Selatan Tokyo. Kantor mereka udah resmi dapet izin buat ngelakuin penanganan lebih lanjut buat kasus ini dari kantor pusat. Segala berkas terkait penyelidikan dan bukti tentang kasus ini udah mereka terima. Kita ditugasin sama kantor pusat sebagai tim detektif yang bantu dalam penyelidikan kasusnya.”
Satoru melanjutkan slide-nya dan mulai kembali bicara. “Kasus yang kita tanganin ini punya nama resmi Pembunuhan Berantai Hanami. Menurut informasi yang udah dikumpulin, dinamai Hanami karena kasus ini hanya terjadi di malam bunga Sakura mekar dan korbannya selalu ditemuin bersandar di bawah pohon Sakura. Selama tiga tahun terakhir, kasus ini belum berhasil diselesaikan dan udah memakan korban sebanyak 9 korban wanita dengan pola pembunuhan yang sama yaitu dicekik sampai mati, dipotong tangan kanannya, dan wajah mereka dilumuri darah dari tangan itu.”
Layar yang tersorot proyektor menampilkan slide selanjutnya.
“Identitas sebenarnya dari pelaku belum teridentifikasi tapi kita udah punya petunjuk untuk pelakunya dari jepretan rekaman kamera pengintai saat dia berakksi tahun lalu. Petunjuk yang berhasil diidentifikasi dari pelakunya adalah si pelaku ini punya tato melingkar berwarna hitam di kedua pergelangan tangan. Untuk detail selanjutnya, kita bakal dapet setelah liat semua berkas sama bukti yang ada di kepolisian Raikiri.”
Satoru meminum sisa kopi di gelasnya, menghabiskan seluruhnya dalam sekali teguk. Matanya melihat ke arah jam yang menempel di dinding. Sudah jam sebelas, batinya. Kepalanya dia sandarkan pada sandaran kursi, kemudian dia mengembuskan napas, memunculkan uap dari hidungnya.
“Ok pengarahan terakhir sebelum kita berangkat, karena misi ini harus dilakuin secara rahasia, selama misi nanti kita bakal nyamar jadi kelompok peneliti sekaligus sukarelawan yang minat mempelajari sistem pertanian di sana karena daerah yang bakal kita datengin ini terkenal banget pertaniannya. Jadi, selama kita nyeledikin kasus kita juga bakal terjun langsung ngamatin pertanian di sana.”
“Wah … kedengerannya misi kali ini bakal seru,” komentar Yuuji, matanya memancarkan antusiasme.
Megumi mengalihkan pandangannya pada Yuuji. “Ji, lu bukan mau liburan tapi mau nangkep pelaku kejahatan.”
Nobara mengangkat tangan kanannya, ingin mengutarakan pertanyaan pada ketuanya. Kemudian Satoru mempersilakan Nobara untuk berbicara lewat gestur tangannya.
“Bang, nanti kita jadi sukarelawan di pertanian bidang apa? Gue barusan nyari daerahnya di internet katanya daerah Raikiri ini bidang pertaniannya bervariasi.”
“Untuk urusan itu, kita udah di daftarin sama kantor pusat di kebun sayur-sayuran. Jadi, kita bakal bagi waktu antara penyamaran sama penyelidikan,” jawab Satoru, tangannya sibuk mematikan perangkat yang dia gunakan. “Karena semua udah jelas, kita berangkat sekarang.”
Setelah itu, mereka berempat meninggalkan ruangan mereka sambil menarik koper masing-masing—khusus Nobara salah satu kopernya dibawa oleh Yuuji. Mereka berjalan menuju parkiran mobil di rubanah. Sesampainya di sana, Satoru melemparkan kunci mobil dinas yang akan digunakan selama misi pada Megumi. Megumi segera menekan tombol pada kunci untuk membuka pintu mobil yang akan mereka gunakan—mobil jenis minivan yang pas digunakan untuk empat orang. Kemudian mereka semua memasukkan koper mereka ke bagasi mobil dan menyusunnya dengan rapi.
Setelah memastikan kopernya sudah masuk di bagasi mobil, Satoru berjalan ke arah motornya lalu memakai jaket, sarung tangan, dan memakai helmnya. Dia segera menaiki motornya seraya menyalakan mesin motornya.
Yuuji menoleh ke arah Satoru saat mesin motor bergema di rubanah. “Lho, bang. Kok naik motor? Kenapa ga bareng kita di mobil?” tanya Yuuji. Tangannya memegang pintu bagasi, bersiap untuk menutupnya.
“Buat jaga-jaga aja soalnya gue ga kenal wilayah di sana kayak gimana. Takutnya ada daerah yang ga bisa dilewatin mobil yang bikin pergerakan kita jadi makin sempit.”
“Oh … iya juga, sih bang. Kalo gitu, hati-hati bawa motornya. Kalo ngantuk kodein aja biar kita berenti dulu.”
Satoru menutup pelindung mata helmnya sambil tertawa kecil. “Santai aja, Ji. Kan tadi udah minum kopi juga ditambah gue udah biasa bawa motor kalo tugas. Cek grup chat. Gue udah bagi link maps lokasi tujuan kepolisian Raikiri. Kalian yang nuntun jalannya ke sana, gue ngikutin kalian dari belakang.”
“Udah masuk, bang,” timpal Nobara sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Satoru.
“Ok. Kita berangkat sekarang.”
Segera setelah persiapan mereka selesai, tanpa menunda, mereka mulai bergerak menuju daerah tujuan. Di kursi kemudi, Yuuji menginjak pedal gas tanpa ragu, membuat mobil yang membawa dia serta kedua temannya melesat cepat di jalan-jalan yang mereka lewati. Satoru mengatur kecepatan motornya sampai pada batas kecepatan tertentu agar dapat mempertahankan jarak yang tipis dengan mobil yang dijalankan oleh Yuuji.
Semakin tinggi kecepatan motor, deru mesin motor terdengar makin nyaring dan tiupan angin pun semakin kencang menerpa tubuh Satoru. Cahaya dari lampu-lampu yang ada di bahu jalan juga mengabur dalam pengelihatannya. Di balik kaca hitam helmnya, sambil tetap menjaga konsentrasi, mata biru nya berkilat-kilat saat kelopak matanya melebar dan kedua sudut bibirnya terangkat.
Selama perjalanan, Yuuji maupun Satoru tidak mengambil istirahat sama sekali, mengingat jarak yang mereka tempuh untuk sampai ke lokasi sangatlah jauh. Syukurnya, tidak ada hambatan yang mereka temukan selama perjalanan. Satu-satunya kesulitan di perjalanan mereka hanya rute perjalanan yang masih asing, membuat mereka harus berhati-hati dalam berkendara.
Fajar mulai menyingsing saat mereka memasuki daerah Raikiri. Berbagai warna di langit menggantikan gelap dan menciptakan gradasi warna yang cantik dengan cahaya jingga sebagai intinya. Kecantikan langit pagi membuat panorama alam di daerah Raikiri makin terlihat tidak nyata saking indahnya.
Di sisi kanan jalan, bukit-bukit yang ditumbuhi pepohonan yang mengelilingi seluruh kawasan Raikiri. Di bawah bukit terdapat area pertanian yang disusun begitu rapi dan padang rumput yang luasnya sampai mendekati bahu jalan. Di bahu jalan sebelah kiri mobil, pohon-pohon Sakura berderet rapih dan terlihat sedang tumbuh bunga. Jalan yang mereka lewati diapit oleh keindahan alam yang memesona.
Tak ingin kehilangan momen, Nobara menyuruh Yuuji untuk melambatkan kecepatan mobil, lalu mulai memotret pemandangan setelah kaca jendela mobil dia buka terlebih dahulu.
“Pemandangan alam di sini cakep banget. Gue liat di internet ga secakep ini perasaan,” ujar Nobara setelah berhasil memotret.
“Yang asli emang suka lebih cakep sih daripada yang di internet,” timpal Yuuji, matanya melihat Nobara dari spion mobil. Sebuah senyum tersungging di bibirnya, penuh arti.
“Ji, tumbenan lu bener.” Nobara mengacungkan jempol pada Yuuji, punggungnya dia sandarkan pada kursi dengan cepat. “Hah … seneng banget rasanya bisa kerja sambil healing gini. Ga sia-sia gue beresin laporan gue kemarin.”
“Fokus kita di sini bukan seneng-senengnya. Kita harus nyari pelakunya,” ujar Megumi, tatapannya terpaku ke ujung jalan yang mereka lewati. “Daerah ini dalam bahaya.”
Yuuji dan Nobara mengangguk sambil menggumam pelan.
Nobara mengalihkan perhatiannya dan menatap pemandangan dari balik jendela mobil di sampingnya. Dari kejauhan, petani-petani mulai terlihat berjalan ke kebun mereka. Hewan-hewan ternak mulai dilepaskan ke padang rumput oleh para peternak.
Selayang pandang, kondisi daerah Raikiri ini terlihat sangat damai meskipun hanya dilihat dari kejauhan. Terlihat jelas selama bertahun-tahun mereka telah mempertahankan keteraturannya. Namun, ironisnya tanpa mereka sadari tempat yang mereka tempati kini dijadikan tempat persembunyian pelaku kejahatan yang tidak seharusnya hadir.
Rasa kesal memercik di dalam hati Nobara hanya dengan memikirkan kemungkinan mereka semua dalam bahaya.
Akan kupastikan si brengsek itu tertangkap.
Tangan kiri Nobara mengepal erat, menggenggam tekad bulat dalam dirinya dan integritasnya sebagai seorang polisi.
“Gaes, kita udah mau sampe nih abis belokan di depan,” ucap Yuuji di tengah keheningan mereka bertiga.
Tak berapa lama dari pengumuman itu, mereka sampai di depan kantor kepolisian Raikiri. Seorang polisi menyambut kedatangan mobil mereka dan memberi tahu tempat parkir untuk anggota kepolisian berada di belakang gedung. Saat mereka masuk ke area parkir, tempat parkir sudah hampir penuh oleh sepeda dan juga sepeda motor. Untuk kantor kepolisian yang berbasis di daerah, kepadatan ini benar-benar di luar dugaan mereka. Dengan hati-hati, Yuuji memarkir mobil. Cukup sulit awalnya bagi Yuuji, tetapi akhirnya dia berhasil menempatkan mobil dengan presisi di tempat yang masih tersedia.
Mereka bergegas keluar dari mobil dan berjalan ke area depan gedung. Polisi yang menyambut mereka tadi langsung mengarahkan mereka ke ruang pertemuan. Satoru yang telah datang lebih dulu terdengar sedang berbincang dengan Kepala Kepolisian Raikiri saat mereka sampai di depan pintu ruang pertemuan. Polisi yang mengantar mereka membukakan pintu dan mempersilakan mereka untuk memasuki ruangan. Orang itu segera meninggalkan ruangan setelah memberi hormat kepada atasannya.
Megumi diikuti kedua rekannya segera memberi hormat ke arah Kepala Kepolisian Raikiri. Mereka kemudian dipersilakan untuk duduk di kursi yang tersedia. Setelah mereka mengisi kursi yang kosong, percakapan yang sempat terhenti kembali berlanjut.
“Jadi ini personel yang Anda ceritakan tadi Inspektur Gojo?” tanya Kepala Kepolisian Raikiri sambil menyunggingkan senyum ramah ke arah mereka bertiga.
“Betul, direktur Sato. Kami berempat yang ditugaskan untuk membantu jalannya penangkapan tersangka dari kasus yang Kepolisian Raikiri tangani,” jawab Gojo dengan nada santainya yang khas. “Biar saya perkenalkan anggota kebanggaan saya ini. Yang duduk di samping saya ini namanya Itadori Yuuji, di samping Itadori adalah Fushiguro Megumi, dan yang terakhir Kugisaki Nobara.”
Ketiganya mengangguk sopan kepada tuan Sato dan mengucapkan salam hormat.
“Selamat datang di Kantor Kepolisian Raikiri,” ujar tuan Sato. “Perkenalkan nama saya Sato Toshiro. Saya pejabat yang diberi tugas sebagai penanggung jawab dari kasus Pembunuhan Berantai Hanami ini. Kami berharap dengan adanya bantuan dari saudara-saudara penangkapan pelaku dapat berjalan lancar. Mohon bantuannya.”
“Kami akan melakukan yang terbaik direktur Sato. Mohon bantuannya,” jawab Satoru sambil mengangguk sopan.
Tuan Sato mencondongkan badannya sedikit ke depan dan meletakan tangannya yang bertautan di atas meja. “Sebelum saya akhiri pertemuan ini, ada hal yang ingin saya sampaikan perihal asrama yang kami siapkan. Sebelumnya kami ingin meminta maaf karena kami hanya dapat menyiapkan asrama untuk tiga orang saja untuk tim dari Tokyo. Namun, kami telah melakukan koordinasi dan menyiapkan satu tempat tinggal di daerah Raikiri yang terpisah dari kantor ini. Mohon dimaklumi atas keterbatasan kami.”
“Kami mengerti direktur. Saya dan tim sangat berterima kasih atas sambutan hangat dan kebaikan yang diberikan dari Kantor Kepolisian Raikiri.”
“Terima kasih Inspektur Gojo,” balas tuan Sato sambil mengangguk. “Saya mengerti perjalanan menuju daerah Raikiri tidaklah sebentar. Anda semua dapat beristirahat terlebih dahulu untuk hari ini. Penyelidikan bersama tim dari Tokyo akan dimulai esok hari.”
“Terima kasih direktur.”
Satoru dan ketiga anak buahnya bangkit bersamaan dari kursi kemudian memberi hormat. Mereka meninggalkan ruangan setelah itu. Seorang polisi langsung menyambut mereka. Orang itu dengan ramah menunjukkan area asrama yang akan ditinggali selama bertugas. Sebelum polisi itu kembali melanjutkan tugas hariannya, dia memberikan secarik kertas berisi alamat kepada Satoru.
“Kalian bertiga tinggal di asrama. Biar gue yang tinggal di alamat ini,” ujar Satoru sambil mengibas-ngibaskan kertas yang dipegangnya.
“Oke, bang,” jawab Yuuji, mengacungkan jempolnya.
“Kalian istirahat yang cukup. Jangan lupa baca dokumen-dokumen yang mereka kasih ke kalian terus jangan lupa laporin temuan-temuan yang kalian dapet ke gue. Nanti kita diskusiin bareng-bareng.”
Setelah mereka bertiga setuju, Yuuji mengantar Satoru ke area parkir dan membantu membawakan koper dari bagasi mobil. Dia juga membantu mengikatkan koper Satoru dengan tali pada jok motor. Satoru mengacak rambut Yuuji dan mengucapkan terima kasih sebelum menaiki motornya.
“Gue jalan dulu ya,” ujar Satoru sambil menutup kaca pelindung helmnya.
“Iya, bang. Hati-hati jangan sampe nyasar.”
Kekehan lepas dari bibir Satoru saat mendengar perhatian juniornya. “Tenang aja, Ji. Gue ga akan nyasar. Kalo GPS gue error, gue nanti nanya orang sekitar.”
Mereka berdua berpamitan dan perjalanan Satoru untuk menemukan tempat tinggalnya di Raikiri dimulai. 10 menit perjalanan pertama perjalanan berjalan mulus. Satoru berhasil mengikuti arahan GPS dari ponselnya yang dia letakan di penyangga yang dia pasang di motor. Namun, sialnya ponselnya mati tepat saat dia menghadapi persimpangan jalan. Dia mengedarkan pandangannya ke semua arah, tetapi dia tidak menemukan satu pun orang yang bisa dia tanyai perihal jalan yang harus dia ambil. Akhirnya, dia memilih berbelok ke sebelah kanan. 300 meter dari persimpangan tadi, dia menemukan seorang wanita di bahu jalan yang sedang duduk bersandar pada pohon Sakura. Tanpa pikir panjang, dia memarkirkan motornya dan segera menghampiri wanita itu.
Saat dia berjalan ke arah wanita itu, Satoru mengamati dan menilai segala gerak-gerik wanita itu dengan detail. Dari semua gestur yang ditampilkan, tidak ada satu pun yang membuatnya curiga. Semakin dekat jarak di antara mereka, dia tidak merasakan aura buruk dan bahaya yang terpancar dari wanita itu. Perasaan lega melingkupi hatinya dan sebuah senyum terpatri di wajahnya.
Sesampainya Satoru di hadapan wanita itu, dia berdeham untuk mengambil atensi wanita di hadapannya dari buku yang sedang dia baca. Namun, usahanya tidak berhasil. Wanita itu masih tidak menyadari kehadiran Satoru. Berjongkok tepat di hadapan wanita itu, Satoru menyapanya dengan ramah.
“Halo ... Selamat pagi, Nona.”
Terkejut dengan tindakan Satoru, bahu wanita itu terguncang dan buku yang dipegangnya terlepas dari tangannya. Wanita itu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Satoru yang sedang tersenyum ramah ke arahnya. Tatapannya dihiasi dengan kekesalan saat bertemu pandang dengan mata biru Satoru.
Wanita itu mengembuskan napas kuat-kuat lalu berkata, “Selamat pagi. Ada perlu apa sampai Anda harus membuat saya kaget?”
“Kalau harus jujur, gue ... uh maksudnya saya sudah berdiri di depan Anda dan berdeham untuk meminta perhatian Anda.”
“Oh ..." jawab wanita itu, wajahnya terlihat seperti sudah tertangkap basah melakukan kesalahan. "Baiklah saya akui sebagiannya memang salah saya. Ada perlu apa, ya?”
Satoru merogoh secarik kertas di saku jaketnya lalu dia perlihatkan pada wanita di hadapannya. “Saya mau mengunjungi alamat ini, tapi di tengah jalan, Hp saya mati dan saya kehilangan arah menuju lokasi tujuan. Apakah Anda tahu rute menuju alamat ini kalau saya mulai perjalanan dari sini?”
Wanita itu memerhatikan alamat itu dan dari sorot matanya terlihat jelas dia mengetahui alamat yang tertulis di kertas. “Kalau dari sini, tinggal ikuti jalan ini. Nanti di ujung jalan sebelum persimpangan di sana tujuan Anda berada. Rumah warna biru dengan pagar hitam.”
Senyuman tersemat di bibir Satoru. “Terima kasih atas bantuannya, Nona.”
Satoru segera beranjak dari posisinya dan berdiri kembali. Tak lupa dia mengembalikan kertas berisi alamat yang dia genggam ke dalam saku jaketnya. Namun bukannya segera kembali melanjutkan perjalanan, Satoru malah bergeming dan kembali menilai wanita di hadapannya. Wanita itu menyadari Satoru mengamatinya saat mata mereka bertemu kembali.
“Ada perlu apa lagi?” tanya wanita itu dengan nada suara datar.
“Ga ada,” jawab Satoru cepat. “Barusan gue sadar kalo lo bukan orang sini dan kemungkinan lo seumuran sama gue.”
“Terus hubungannya apa sama lo jadi pakai lo-gue-an sama gue? Kenal juga engga.”
Satoru tertawa. “Tuh lo juga pake. Fair dong.”
Menyadari kesalahannya, wanita itu mendecakan lidahnya. Air mukanya berubah menjadi keruh.
“Gue pendatang baru di daerah sini dan gue berniat buat bersahabat sama orang-orang di sini. Kenalin, gue Gojo Satoru.” Tangannya terulur ke arah wanita itu.
Wanita itu tidak langsung menyambut tangan Satoru. Dia hanya bergeming dan menatap kosong tangan di hadapannya seperti tidak berniat untuk menerima undangan pertemanan yang diberikan Satoru. Meskipun demikian, Satoru pun tidak berniat untuk menarik tangannya dan bersikeras menunggu wanita itu bereaksi. Akhirnya pada detik selanjutnya, wanita itu menghela napas, lalu menjabat tangan Satoru.
“Gue Ieiri Shoko,” mulai wanita itu, matanya menatap lurus ke arah mata biru Satoru.
Senyum simpul merekah di bibir Satoru saat menggoncang pelan tautan tangan mereka. “Senang berkenalan sama lo, Ieiri dan makasih buat bantuannya.”
“Iya. Sama-sama,” jawab Shoko sambil menarik tangannya kembali.
“Kalo gitu gue jalan, ya. Sampai jumpa lagi.”
“Iya.”
Satoru berbalik lalu berjalan menuju motornya. Sesaat sebelum Satoru berangkat, dia membunyikan klakson dan sebelah tangannya melambai ke arah Shoko. Namun, Shoko tidak memberikan reaksi apa pun dan hanya memperhatikan saja sampai sosok Satoru menghilang di ujung pandangnya. Pikirannya disibukkan dengan sesuatu yang membuatnya merasa keheranan. Perasaannya pun jadi tidak keruan.
“Gojo ... Satoru. Kenapa rasanya nama ini familiar?” bisik Shoko pelan.
Semilir angin berembus memainkan helai demi helai rambut coklat Shoko yang tergerai. Mata coklatnya terpaku pada ujung jalan di mana sosok Satoru tak terlihat lagi.
“Moo ... Moooo ...”
Suara itu memecah lamunan Shoko. Mengalihkan pandangannya, dia menemukan seekor sapi betina memerhatikannya. Shoko mengusap kepala sapi itu dengan lembut, mencoba menenangkan kekhawatiran yang terpancar dari sorot mata sapi itu. Dia segera berdiri kemudian menuntun sapi itu kembali ke padang rumput.
“Siapa orang tadi, Shoko?”
“Bukan siapa-siapa. Cuma orang yang nanya alamat, Sharon.”
“Oh, masa? Tapi kamu merhatiin dia terus tuh tadi sampe dia pergi malah ngelamunin dia juga kayaknya.”
“Hah ... enggaklah. Gue cuma ngerasa aneh aja sama itu orang.”
“Aneh, ya. Suka juga gapapa lah.”
“Sharon, please ...”
