Work Text:
“Lu tau Bang Chan ga?” tanya Minho ke (y/n) yang sedang duduk bersebelahan, tidak terlalu memerhatikan kelas. Toh dosennya juga tidak sedang menjelaskan sesuatu.
(Y/n) mengernyitkan dahinya lalu mengangguk.
Bang Chan, semua mahasiswa di fakultasnya yang memang aktif dalam mengikuti proker-proker pasti akan mengenalnya. Ia terlalu ramai dan pintar bercakap setiap kali mengikuti acara sehingga dikenal banyak orang.
Termasuk (y/n), ia berkali-kali bekerjasama dengan Bang Chan untuk kepengurusan sehingga dirinya dipaksa untuk kenal dengannya.
“Dia dideketin sama anak sebelah,” ucap Minho, membuat (y/n) sedikit terkejut. “Hah— eh tapi wajar sih, kan dia emang approachable.”
Minho menganggukkan kepalanya, (y/n) tidak terlalu memerhatikan setelahnya.
“Lu ga cemburu?”
“Lu ngajak tengkar ya Min?” Minho langsung tertawa kencang saat (y/n) bertanya itu dengan ketus sembari memukul pelan lengannya.
Iya, pada kenyataanya (y/n) adalah salah satu orang dari sekian orang yang sempat menyukai seorang Bang Chan. Dirinya menghela nafasnya, toh dirinya sudah move on kan?
Itu yang ia pikirkan sampai ia berkali-kali berpapasan dengan Bang Chan sehingga mau tidak mau ia harus menyapanya.
“Jangan gini dong anjir kan gue jadi suka lagi?!” batin (y/n) saat Bang Chan menyapanya di kantin.
“Mau pesen apa?” tanya Bang Chan. (Y/n) meringis sembari melihat menu yang sudah ia lihat berkali-kali. “Jujur bingung.”
Dirinya diam-diam melihat kearah Bang Chan berkedok melihat lorong di belakangnya, gemas ingin memukulnya tanpa alasan. “Saran dong.”
Bang Chan menaikkan kedua alisnya, “nasi goreng ayam?”
“Bosen.”
“Kwetiau?”
(Y/n) tampak berpikir sejenak. “Boleh juga.”
Bang Chan langsung memesan pesanannya dan pesanan (y/n), membuat (y/n) sedikit melotot. Padahal ia bisa memesannya sendiri. Mereka berdua berakhir membicarakan banyak hal sembari menunggu pesanannya jadi. Bang Chan being Bang Chan, ia mampu mencairkan suasana dengan bercerita banyak hal. (y/n) juga bercerita sambil sesekali menanyakan organisasi yang sudah tidak ia ikuti lagi.
Makanannya sudah jadi, mereka berdua saling berpamitan karena akan berjalan ke arah yang berbeda.
Melihat Bang Chan yang sudah jauh, (y/n) menghela nafasnya. Minho yang sedang duduk pada salah satu kursi kantin melihat reaksi (y/n) menaikkan salah satu alisnya, “kenapa lu?”
(Y/n) menggeleng-gelengkan kepalanya.
Beginilah hubungan (y/n) dan Bang Chan selama ini, hanya sekedar teman angkatan yang suka saling berbasa-basi untuk menjalin silahturahmi. Tidak akan lebih dari itu.
“Ayo woy, gitu aja udah males. Situ niat kuliah atau ga?!”, ucap Minho dengan posisinya seperti mama yang sedang melihat anaknya dengan tatapan kecewa.
“Mau jawaban jujur? ga niat bang,” jawab (y/n) dengan lesu. Minho yang mendengar jawaban temannya langsung menghela nafasnya. Hari ini memang hari yang sangat memalaskan untuk pergi kuliah. Cuacanya sangat mendukung untuk berdiam diri di kasur terbungkus oleh selimut tebalnya.
Namun jadwal kuliahnya berkata lain. Masih ada beberapa kelas yang harus mereka ikuti supaya bisa mengikuti ujian, walaupun mereka sendiri juga tidak seberapa memerhatikan saat sedang kelas.
“Duh mana gue juga aslinya lagi ga niat,” gumam Minho yang langsung dibalas (y/n), “KAN.”
Hening, Minho sudah terlihat mulai malas membujuk (y/n) untuk beranjak dari tempatnya dan (y/n) masih duduk di gazebo sembari melihat sekitar.
“Bolos yuk, tipsen lewat Changbin.”
“Yuk.”
Bang Chan yang sedang jalan-jalan berkeliling mencari udara segar langsung menyapa mereka berdua. Mau tidak mau Minho dan (y/n) juga menyapanya.
“Udah kelar kelasnya?” tanya Bang Chan, pertanyaan yang sangat basa-basi ketika bertemu dengan teman angkatannya.
“Belom,” jawab (y/n).
“Baru mulai malahan,” timpal Minho, membuat Bang Chan mengerutkan dahinya, “Lah?? Ga kelas?”
Yang tentunya tidak akan ada yang menjawab, mereka berdua malah memberikan senyuman tengilnya.
“Oalah dasar,” cibir Bang Chan lalu tertawa.
Mereka bertiga berakhir menghabiskan waktunya berbincang satu sama lain. Saling berbagi informasi mengenai kuliah dan tugasnya yang dibagi satu angkatan.
“Kelompok gue udah kelar sih,” ucap Bang Chan, bercerita bahwa kelompoknya sudah selesai mengerjakan tugas yang diberi oleh dosennya untuk semua kelas dengan deadline yang masih jauh hari.
Kali ini Minho yang mencibir, “Sorry ga bisa relate.”
Kelas Bang Chan memang berbeda dengan kelas Minho dan (y/n), isinya penuh dengan anak ambis yang gemar sekali memerhatikan pelajaran dan mencatat setiap kelasnya. Sangat berbeda dengan kelas Minho dan (y/n) yang merupakan kelas Internasional, terkenal lebih fleksibel dan tidak terlalu ambis. Semuanya terlihat setiap nilai ujian dikeluarkan, anak yang akan mengikuti remidi kebanyakan dari kelas mereka.
Setiap mata kuliahnya pun sudah dipaketkan oleh fakultasnya, sehingga tidak perlu melakukan ritual rebutan kelas dan teman kelasnya pun tidak terlalu banyak berubah dari semester awal hingga akhir.
((hayo tebak fakultas))
Kembali ke mereka bertiga.
Minho tiba-tiba berdiri dan langsung lari terbirit-birit. “Kemana??”
“TOILET,” teriak Minho dengan tangannya yang melambai-lambai ke mereka sembari berteriak lagi bahwa ia akan kembali.
Menyisakan Bang Chan dan (y/n), rasanya (y/n) juga ingin ikut ke toilet alias kabur.
Ia tidak bisa hanya berduaan dengan Bang Chan saja.
“Jadi…—.”
Ah, (y/n) tahu betul apa yang akan ia bicarakan setelah ini. Ia masih ingat pertemuan terakhirnya dengan Bang Chan adalah dimana ia melompat ketakutan karena ada jangkrik yang tiba-tiba terbang kearahnya.
Membuat Bang Chan berkali-kali menggodanya sembari menertawakannya setelahnya melalui instagram setiap kali (y/n) mengupload sesuatu melalui snapgram.
“Diem Chan,” potong (y/n) dengan menunjukkan telunjuknya ke Bang Chan, mengisyaratkan untuk diam.
Yang disuruh diam malah ketawa kencang setelah itu.
Setelah tawanya mereda, Bang Chan menyenderkan dagunya di atas kedua tangannya yang sedang di atas meja, menatap (y/n) yang sedang melihat ke arah lain (enggan untuk membalas tatapannya).
“Pernah ada yang bilang ga kalo lu itu cantik?” Ucap Bang Chan, membuat (y/n) mengernyit dahinya sembari membuat ekspresi jijik.
“?? I never knew kalo kamu bakal jadi buaya darat,” ucap (y/n) dengan ketus, sedikit terkejut karena tidak pernah melihat Bang Chan bersikap seperti itu. Seumur hidupnya, ia tidak pernah terlalu suka apabila ada yang mendekatinya seperti itu, walaupun ia sendiri pun juga tidak yakin Bang Chan sebenarnya begitu karena ingin mendekatinya atau hanya memujinya.
“Whoops, sorry. Wrong move, tapi gue tau ada kafe yang nyajiin pastry sama caramel pudding. Mau kesana ga?”
“Sama Minho kan?”
“… iya sama Minho.”
Minho melotot ke arah (y/n) sembari mengetikkan sesuatu ke ponselnya. (Y/n) yang ditatap hanya bisa ketawa-ketiwi.
Ponselnya bergetar, (y/n) tau dengan sangat kalau Minho yang baru saja mengirim pesan. Terlihat enggan membuka ponselnya, Minho melotot lagi ke (y/n). Setelah Minho kembali dari toiletnya, (y/n) langsung menyeret Minho untuk ikut dengan ajakan Bang Chan. Berakhir mereka bertiga benar-benar pergi dari kampus untuk ke kafe.
Changbin sebagai orang yang dititipkan absen oleh Minho dan (y/n) cuma bisa mengangguk pasrah.
Minho
EH GUE DISERET YA INI???
MONYET
(Y/n) cuma bisa tersenyum sekali lagi.
Bang Chan benar-benar bersikap aneh hari ini, setidaknya itu yang (y/n) pikir. Berkali-kali Bang Chan berinisiatif menanyakan pertanyaan ke (y/n) sehingga percakapannya kebanyakan lebih kearah Bang Chan dan (y/n), Minho cuma ngontrak.
Bahkan Bang Chan berinisiatif untuk mengantarkan (y/n) pulang, Minho pulang dengan kendaraannya sendiri.
Tentu saja setelah itu hari diakhiri dengan (y/n) mengirim pesan ke Minho bahwa ia panik dengan perubahan Bang Chan.
Tapi toh hanya begitu saja kan? (Y/n) sudah berasumsi bahwa pertemuan dan tingkah aneh Bang Chan akan berakhir di situ saja.
Ternyata tidak, Bang Chan berakhir mengajak (y/n) pergi ke banyak tempat. Kadang ia mengajak Minho juga, kadang hanya mereka berdua.
(Y/n) terlalu asik berpergian sampai lupa kalau dinding gosip di fakultasnya sangat tipis. Banyak yang mengetahui kalau Bang Chan dan (y/n) sering pergi berdua kemana-mana. Terlalu suspicious untuk pergi berdua sebagai teman.
Walaupun kenyataanya memang mereka hanya teman sih.
(Y/n) menggaruk tengkuknya, hari itu kelasnya hanya dua jam sehingga banyak temannya dia kelas memutuskan antara tipsen atau datang karena kasihan pasti hanya sedikit yang datang kelas. (Y/n) sendiri sudah membuat janji dengan Bang Chan bahwa ia akan bertemu dengannya untuk pergi ke mall.
Tentu saja (y/n) akan keluar lebih cepat sebelum teman-temannya menyadari bahwa dirinya telah menghilang, sebelum ia diejek lebih jauh karena memilih untuk pergi dengan Bang Chan daripada dengan temannya.
(Minho yang akan paling semangat mengejek)
Baru saja yang diomongi muncul.
“EH LU YE,” teriak Minho yang hanya bisa dibalas tawaan oleh (y/n).
“Kok lu tau sih gue di sini?” tanya (y/n) sembari berjalan dengan Minho ke arah yang dijanjikan oleh Bang Chan sebelum ke mall.
Minho mengernyitkan dahinya dan melihat (y/n) dengan ekspresi jijik, “first of all, ini jalan gue pulang— lu udah temenan sama gue selama tiga tahun dan bisa-bisanya lupa? pede banget gue kesini buat lu?”
“Siap maaf kak.”
Minho mengedikkan bahunya, tatapannya ke depan. (Y/n) daritadi berjalan sembari memeriksa ponselnya, mencari pesan apakah Bang Chan sudah ada di tempat.
Tiba-tiba Minho menarik tangan (y/n), membuat yang ditarik langsung berhenti dan siap untuk memarahi Minho. Sebelum (y/n) bisa berkata sesuatu, Minho menaruh telunjuknya di depan mulut (y/n) dan menunjuk ke depan. Mau tidak mau (y/n) menoleh ke depan.
??????
“The fuck?” gumam (y/n) tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“The fuck indeed,” timpal Minho, siap untuk menegur orang yang ia lihat di depannya persis.
Lengan Bang Chan dipegang oleh perempuan yang (y/n) bisa asumsikan adalah teman seangkatannya. Lebih tepatnya yang pernah dirumorkan pernah mendekati Bang Chan.
“Bisa-bisanya dia begitu padahal semua orang tau kalo dia lagi deket sama lu?” ucap Minho dengan posisi tangannya dilipat depan dada.
(Y/n) menghela nafasnya, salah satu ketakutannya terkabul. Selama ini dia takut kalau Bang Chan hanya bermain-main dengannya.
“Udah Min, kita puter balik aja—.”
“Owh lu salah pilih temen sih, karena gue bakal kesana,” ucap Minho lalu berjalan mendahului (y/n). Membuat (y/n) berdesis sebal, “Min? Anjiiingg?????”
Yang diucapin anjing cuma tersenyum tengil sembari melanjutkan jalannya ke arah Bang Chan.
“WIH SIAPA NIH?” bless Minho and his loud mouth, perempuan yang tadi memegang lengannya langsung melepas dan Minho langsung berdiri di antara Bang Chan dan perempuan tersebut.
“Minho?” tanya Bang Chan sedikit terkejut, “(y/n) mana?”
Minho malah menoleh ke perempuan tersebut, “hai! ngapain di sini?”
Perempuan yang ditanya hanya tersenyum, “Ngobrol bentar sama Chan habis itu mau pulang.”
“Lu pulang arah sini? yuk sama gue aja.”
“Hah—“
“Yuk.”
Dan begitu lah, tiba-tiba perempuan tersebut sudah diseret oleh Minho yang sempat menoleh sekilas ke Bang Chan dan menunjukkan jari tengahnya. Membuat Bang Chan sedikit terkejut, tidak tahu salahnya dimana.
(Y/n) yang melihat semua kejadiannya hanya bisa menepuk jidatnya, tidak bisa berkata-kata lagi. “Bukan temen gue dah,” gumamnya yang tidak sengaja didengar Bang Chan. Ia menoleh ke arahnya dan langsung berjalan dengan wajah bahagia, “yok jalan!”
“Lu tuh aslinya ada yang deketin lu kan?,” ucap (y/n) yang langsung membuat Bang Chan tersedak dan terbatuk-batuk. Kedua alisnya dinaikkan dan membuat wajah keheranan ke (y/n).
“Kalo yang deketin gue sih gatau, tapi gue emang lagi deketin lu,” kali ini (y/n) yang langsung batuk-batuk, Bang Chan langsung panik dan ketawa di saat yang bersamaan.
“So forward?? emang boleh seblak-blak an ini??”
“Lah kan lu duluan yang mulai,” ucap Bang Chan yang langsung membuat (y/n) menutup wajahnya dengan kedua mukanya, malu. Melihat reaksinya, Bang Chan hanya bisa tertawa lagi.
(Y/n) langsung menyibukkan dirinya dengan makanannya, mengalihkan perhatiannya agar tidak terlalu malu. Bang Chan daritadi melihat kearahnya membuatnya pusing.
“Tapi lu sadar kan kalo gue deketin lu? kalo gue suka sama lu?” Kali ini kunyahan (y/n) langsung berhenti dan menatap Bang Chan, membuat Bang Chan terkejut karena (y/n) tidak segera menjawab.
“Lu ga sadar????” tanya Bang Chan dengan nada tidak percaya.
(Y/n) langsung menyodorkan tangannya di depan muka Bang Chan, mengisyaratkan bahwa ia akan menghabiskan makanan yang ada di mulutnya baru menjawabnya.
“Sabar dong lagi ngunyah. Gue sadar kok,” ucap (y/n) dengan santai walaupun aslinya ia ingin berteriak saat ini.
Bang Chan tersenyum tangannya tiba-tiba menggenggam tangan (y/n), membuatnya sedikit terkejut. “Jadi gimana? Gue berhasil ga deketin lu?”
“??? Maksudnya?”
“Lu mau ga jadi pacar gue?”
(Y/n) langsung memukul ringan lengan Bang Chan, membuat yang dipukul mengadu kesakitan sambil kebingungan. “KOK GITU??”
“Kalo ga gue yang bahas duluan, ga bakal dah lu nembak gue,” ucap (y/n) dengan ketus. Membuat Bang Chan meringis pelan, “tapi hari ini gue emang rencana mau nembak lu setelah dari mall, bunganya udah siap di mobil.”
“Anying ga jadi surprise dong??”
“YA ELU??”
Berakhir dengan (y/n) dan Bang Chan tertawa.
“Tapi lu beneran ga sadar kalo ada yang lagi deketin lu Chan?” tanya (y/n), membuat Bang Chan memiringkan kepalanya dan berpikir keras. “Ngga??— OH lu pasti mikir si Devi ya?”
Kali ini (y/n) cuma bisa menampakkan wajah kebingungannya. Bang Chan menghela nafasnya, “Yang waktu lu temuin sebelum ke mall? Yang diseret sama Minho??”
(Y/n) langsung terkejut, “ITU NAMANYA DEVI???”
“Kemana aja lu? kocak.”
(Y/n) langsung meringis dan memegang tangan Bang Chan sembari berkata maaf berkali-kali.
Devi merupakan saudara Bang Chan, semua orang tahu itu. Bagaimana bisa (y/n) melupakan wajahnya? Mari salahkan Minho yang sudah membuatnya berpikir yang tidak-tidak.
“Jadi gimana? Tetep mau jadi pacar gue kan?”
“Waduh, mau ga ya…”
“KOK GITU.”
“HAHAHAHHAHAHAH iya iya mau kok.”
Minho
ANJING
TADI TUH TERNYATA DEVI
SEPUPUNYA CHAN
telat nyet gue dah tau
Ingatkan (y/n) untuk tidak selalu menelan mentah-mentah semua informasi dari Lee Minho.
