Work Text:
(Y/n) berdecak kesal, membuat Seungmin di sebelahnya menoleh ke arahnya. “Gue tebak pasti masalah proker.”
Mendapat anggukan dari temannya membuat Seungmin ikut berdecak kesal, “kata gue samperin sih terus tegur.”
Mahasiswa tahun kedua memang lagi rajin-rajinya mengikuti banyak proker, berbeda dengan mahasiswa tahun ketiga yang sudah mulai pensiun dan mahasiswa tahun pertama yang masih dalam fase mencari jati diri. Termasuk (y/n) yang banyak mengikuti proker sembari mencari kenalan.
“Tegur?? Ini tuh kating anjir? Gue bisa-bisa dikata ga sopan terus dimusuhin satu angkatan dah!” gerutu (y/n).
“Lagian tahun ketiga ngapain masih ikut proker dah? mana jadi pasangan lu lagi, duh apes betul kata gue,” ucap Seungmin lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak sanggup memikirkan dirinya sebagai (y/n).
Dari semua proker yang (y/n) ikuti, saat ini terdapat satu proker yang menjadi prioritasnya. Namun juga menjadi salah satu proker yang ia anggap apes karena mendapat partner kakak tingkat yang rawan menghilang.
“Ini proker terakhirnya tahun ketiga, makanya masih ada beberapa yang dipegang sama mereka,” jawab (y/n) sambil menatap ponsel dengan kesal.
Lee Minho, partner kerjanya di proker yang sedang ia prioritaskan. Kali ini (y/n) menjadi ketua divisi Liaison Officer dan Lee Minho menjadi ketua Humas. Ntah apa yang ada di pikiran ketua proker saat memisahkan divisi Humas dan divisi LO, padahal selama ini kedua divisi tersebut biasa dijadikan satu.
Kak Changbin selaku ketua proker mengadakan rapat untuk semua ketua dan wakil ketua divisi dalam rangka follow-up kerja masing-masing divisi selama ini karena hari acara semakin mendekat.
Kerja Humas bisa dibilang tidak terlalu bagus, setidaknya itu yang (y/n) pikir. Mereka buruk dalam mencari peserta dan melakukan promosi acara.
Masalahnya, karena kerja mereka buruk akhirnya mereka memutuskan untuk menyeret divisi lainnya. Termasuk divisi (y/n), ia mendengus sebal membaca pengumuman yang telah dikeluarkan oleh badan pengurus inti.
(Y/n) hanya ingin yang terbaik untuk divisinya, ia tidak ingin membebankan anggota divisinya dengan tugas yang tidak terlalu berhubungan dengannya karena ia tahu dengan pasti bahwa mereka akan yang paling banyak kerja saat hari H acara.
(Y/n) hanya ingin mereka mendapatkan proporsi kerja yang pas, tidak dilebih-lebihkan. Namun divisi sebelah malah membuatnya naik darah.
Belum lagi masalah eksternal yang juga sedang menimpa dirinya, rasanya (y/n) ingin membelah diri.
Doakan saja semoga (y/n) tidak ngomel di rapat nanti.
(Y/n) bertengkar di rapat dengan Minho menjadi tontonan rutin para ketua dan wakil ketua divisi.
Tidak ada yang berani membela karena dua-duanya memang benar.
Rapat harus diakhiri dengan Changbin memaksa Minho dan (y/n) bersalaman saling meminta maaf. Ara sebagai wakil ketua divisi Humas dan sahabat Minho hanya bisa ketawa kencang melihat Minho yang mukanya kusut.
“Diem anying, gue cepuin Bang Chan kalo lu kemarin yang ngabisin snacknya,” gerutu Minho yang membuat Ara makin kencang tawanya.
Yeji sebagai wakil ketua divisi LO hanya bisa menepuk kedua bahu (y/n) dari belakang sembari menenangkannya.
Minho dan (y/n) disuruh diam di tempat sementara ketua dan wakilnya lainnya diperbolehkan untuk meninggalkan tempat.
Tersisa Changbin, Minho, dan (y/n).
“Kalian tuh ya….” Gerutu Changbin sambil bergumam bahwa ini adalah prokernya yang terakhir berkali-kali.
“Kalian tuh divisi yang harusnya adem ayem! Saling kerjasama, saling bantu kalo ada yang kesusahan— dahlah gue ga mau tau, pokoknya ga mau tau harus baikan.”
“Dih ogah.”
“Tuhkan kak, gimana gue mau baikan kalo dia aja gini?”
“Jing ga usah sok-sokan, lu sebenernya juga ogah kan?!”
Changbin yang pusing.
Ternyata mereka bermusuhan dalam jangka waktu yang lama, hal ini merambat keluar ranah kerja mereka.
“(Y/n)!!” Sapa Ara saat (y/n) memasuki kantin, (y/n) langsung menyapa balik kepada Ara dan Bang Chan yang juga duduk di bangku kantin sebelahnya.
Sebenarnya ada Minho juga namun (y/n) masih malas untuk menyapa.
Seungmin yang disebelahnya (y/n) hanya menunduk untuk menyapa karena secara pribadi ia tidak mengenal kakak tingkat di depannya ini.
Minho yang melihat (y/n) tidak menyapanya langsung menaikkan salah satu alisnya, “mereka berdua doang yang disapa? Gue nggak? Mana adab lo? Mulai ga sopan ya sekarang.”
Ara yang di depannya langsung meringis dan memukul pelan lengan Minho, “ga boleh gitu.”
“Minimal cari sponsor dulu sih kak buat prokernya, dananya udah mulai ga cukup,” ucap (y/n) dengan sebal, membuat Minho juga ikut sebal.
“Minimal ikut kerja sih —“
Bang Chan yang di tengah langsung angkat tangan, “udah oy udah, ini kelima kalinya gue ngeliat kalian tengkar mulu. Baikan aja napasih??”
Ara yang di sebelahnya langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, “trust me Chan, gue udah liat lebih dari itu dan gaada habisnya mereka berdua.”
(Y/n) yang tidak mau membuat kejadian makin runyam langsung izin pergi untuk membeli makanan. Awalnya Minho mau protes karena kabur begitu saja namun langsung dihentikan oleh Bang Chan.
Tidak hanya itu, Minho bisa-bisa jalan dan menyenggolnya lalu minta maaf karena tidak sengaja. Padahal mereka berdua tau kalau itu adalah sengaja.
(Y/n) tidak mau diam begitu saja, ia akan membalas semua perbuatannya sama persis. Seperti mengambil pesanannya di kantin, menyenggolnya, saling beragumen, dan lain-lain.
“Lu tuh ga sopan ya?”
“Lah gue bakal sopan kepada orang yang pantes dapetin itu sih kak.”
“MAKSUD LO APA ANJING.”
“Kak, becus ga sih jadi ketua? Anggotanya masih pada gatau apa-apa gitu.”
“Lah lo? Keteteran gitu ngerjain tugasnya lewat deadline mulu, becus ga jadi ketua?”
Hari itu kuliah selesai agak larut, (y/n) bisa merasakan bagian pinggulnya sudah lemas dan kebas karena terlalu lama duduk di posisi yang sama. Seungmin izin pulang duluan karena ia harus mengurus prokernya, mau tidak mau ia harus menunggu jemputan sendirian.
Ponselnya ia mainkan terus menerus, kadang-kadang menjawab pesan dari Yeji ataupun Ryujin selaku teman sekelasnya.
“(Y/n)??” Seketika tubuh (y/n) merinding mendengar suara yang memanggilnya.
Ia tahu betul pemilik suara tersebut.
“Belum pulang?” Tanya Yeonjun, kakak tingkatnya yang pernah menjadi kakak kelasnya saat SMA.
(Y/n) menunduk sedikit lalu mengambil langkah lebih jauh dari Yeonjun, “belum kak.”
“Mau gue anterin? Gue anterin aja ya,” ucap Yeonjun lalu menarik tangan kiri (y/n), membuat yang ditarik ketakutan.
“Gausa kak, ini gue udah pesen—,”
“Udah jangan nolak, gue maksa,” ucap Yeonjun yang menarik tangannya dengan paksa, (y/n) sangat yakin tangannya akan memerah. Kedua kaki (y/n) berusaha keras untuk menahan posisi agar tidak diseret oleh Yeonjun.
“Kak—.”
“Ayo ikut! Jangan nolak!” Ucap Yeonjun lebih kencang membuat (y/n) menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ribut. Lingkungan kampus benar-benar sepi karena sudah mau malam, hampir semua mahasiswa telah meninggalkan kampus dan sedang tidak ada satpam yang berada di tempat.
Keadaan sedang tidak mendukung (y/n), ia hanya bisa berdoa semoga Seungmin atau seseorang ada di kampus dapat menolongnya.
“WOY (Y/N), MAU KEMANA LU? ADA RAPAT YA, GAUSA SOK-SOKAN JADI KETUA DIVISI KALO LU MAU KABUR RAPAT,” sebuah teriakan yang sumbernya tidak jauh dari mereka berdua berhasil membuat Yeonjun berhenti dan menarik namun masih menggenggam kencang lengan (y/n). Keduanya menoleh kearah sumber suara, menampilkan Lee Minho dengan baju kuliahnya berjalan tidak santai ke mereka berdua.
“Mau kemana lu hah?!” Ucap Minho dengan sedikit kencang dan nadanya yang marah membuat Yeonjun melepaskan genggamannya.
(Y/n) mengernyitkan dahinya, seingatnya tidak ada rapat proker hari ini— oh—
Minho berusaha menyelamatkannya.
“Ngaku, kabur kan lu?” Ucap Minho saat sudah di depan mereka persis.
Telunjuknya kini menunjuk ke arah Yeonjun, “LU? Ngapain di sini hah? Mau ngajak (y/n) kabur? Ga boleh! Dia masih ada pekerjaan nunggak, PERGI GAK LU,” ucap Minho dengan tidak santai, membuat Yeonjun langsung izin pergi meninggalkan mereka berdua.
Minho terus-terusan melotot kearah Yeonjun membuat Yeonjun jadi merinding, ia mempercepat jalannya menjauhi mereka.
Saat Yeonjun sudah tidak terlihat, Minho langsung menoleh ke arah (y/n), “gue denger desas desus dia obses ke adek tingkat, gue gatau itu yang dimaksud ternyata lu.”
(Y/n) meringis dan mengangguk pelan, “dia udah gitu semenjak SMA kak.”
Salah satu alis Minho naik, menunjukkan wajah keheranan, “orang se freak itu berhasil masuk fakultas kedokteran? Heran.”
Hening, Minho sibuk melihat sekitar untuk memastikan bahwa Yeonjun sudah tidak ada di sekitar dan (y/n) sibuk meringis melihat lenganya yang benar-benar merah karena ulah Yeonjun.
“Makasih kak,” ucap (y/n) dengan pelan, membuat Minho menoleh kearahnya.
“Karena?”
“Karena udah nyelamatin, gue bener-bener gatau mau gimana lagi kalo gaada kakak di sini.”
“Ya ya ya, serah lo, gue masih ga seneng sama lu by the way,” ucap Minho yang langsung pergi dari tempat, meninggalkan (y/n) sendirian lagi. Membuat (y/n) keheranan dengan tingkah kakak tingkatnya.
Tidak sepenuhnya sendirian karena Seungmin tidak lama setelah itu muncul dalam keadaan lari kearah (y/n).
“Mau tau ga kenapa tiba-tiba gue tau lu ada di sini?”
“Lah?? jir iya juga ya, kalo dipikir-pikir kayaknya gue belum chat lu kalo gue di sini?”
“Hehehehe, kak Minho yang kabarin gue. Katanya disuruh cepet ke sini jemput lu.”
“Hah.”
Rapat dimulai lagi.
“Gue harap ga ada yang tengkar ya di rapat ini,” ucap Changbin lalu berdeham sembari sekilas melihat kearah (y/n) dan Minho.
Pada kenyataannya mereka bertengkar lagi.
“DIVISI KALIAN KALO UPLOAD MEDIA KE SOSMED BISA GA YANG BENER?”
“YA GIMANA MAU BENER KALO YANG NGIRIM MEDIA KE KITA DARI AWAL UDAH GA BENER??”
“Ya terus gimana ini gue jing???? Divisi gue lagi dibantai massa.”
(Y/n) pusing tidak tertolong, daritadi ponselnya berbunyi notif dari peserta yang protes karena divisi humas salah upload gambar dan video.
Rasanya ia ingin menangis, padahal bukan divisinya yang bagian mengatur sosial media tapi dirinya yang harus mengeluarkan permintaan maaf berkali-kali pada peserta.
Sedangkan Minho juga pusing, media yang dikirim oleh peserta juga tidak sesuai ketentuan sehingga semua anggota harus menyesuaikannya lagi.
Daritadi kelabakan mencari sinyal dan tempat yang strategis agar lancar untuk mengatur sosial medianya.
Belum lagi dari divisi lain tiba-tiba menimpali, “eh gue minta anggota lu ya buat jagain ruangan.”
Minho dan (y/n) langsung melirik tajam ke arahnya. “KENAPA GA DARI AWAL BANGET PAS PENGATURAN JOBDESK LU NGOMONG BEGITU!!!!!”, batinnya.
Minho menghela nafasnya, “iya dah gampang, ntar anggota dari divisi gue tarik buat bantuin divisi (y/n). Jangan diganggu dulu itu anaknya, lagi pusing dicerca peserta.”
Belum lagi divisi acara tiba-tiba minta beberapa anggota lagi untuk membantu pas aktivitas tour, mintanya h-1 acara.
(Y/n) siap membelah diri.
Salahkan jadwal kelas yang berubah mendadak, hari H acara tapi tiba-tiba khusus kelas (y/n) malah ada kelas.
Fokus (y/n) terbelah menjadi dua, ponselnya daritadi berbunyi karena dicari oleh semua anggota divisinya dan divisi Minho. Mereka belum ada yang bisa memberi briefing pada anggotany.
Mau meminta bantuan dari ketua dan wakil divisi lain pun juga tidak mungkin karena bukan tugasnya dan mereka pasti juga sibuk menjalani tugasnya masing-masing.
“Ini kak Minho mana sih???” Batin (y/n), dirinya udah mau pingsan disaat itu juga. Ketua divisi humas itu belum muncul juga batang hidungnya.
Masalahnya ia sendiripun juga tidak bisa keluar dari kelasnya, ia harus presentasi.
“(Y/n), waktunya presentasi.”
“AAAAARRRGGHHH,” teriak (y/n) dalam hati.
Minho datang bersamaan saat (y/n) datang.
“Sorry kak gue tadi presentasi!”
“Sorry tadi mama gue minta buat anterin adek gue.”
Dua-duanya diam setelah mengutarakan alasan telatnya secara bersamaan. Berakhir dengan tertawa karena wajah konyolnya yang ditunjukkan satu sama lain.
“Yuk? Ada anak-anak yang harus di-briefing,” (y/n) mengangguk dan berjalan mengikuti Minho.
Although it feels weird mendengar kakak tingkatnya menyebut anggota divisinya sebagai anak-anak, (y/n) berusaha untuk tidak terlalu memerhatikan hal tersebut.
Hari acara 2 telah dimulai.
(Y/n) datang dengan tergesa-gesa. Berlari ke arah Minho dan anggotanya yang sudah berkumpul dan siap untuk berjalan ke tempat yang telah ditugaskan masing-masing anggota.
Minho menaikkan alisnya saat (y/n) di depannya, badannya naik turun mengambil nafas sebanyak-banyaknya. “Mending lu duduk dulu dah, udah kayak mau sakaratul gitu. Buat briefing tenang aja, udah gue handle kok.”
(Y/n) langsung duduk di tempat duduk belakang Minho yang disusul oleh ketua humas duduk di sebelahnya.
“Udah makan?”
“Udah kak.”
“Udah minum?”
“Udah kak.”
“Udah suka sama gue?”
“Ud— hah.”
Minho ketawa kecil mendengarnya, “canda, ayo keliling sambil mantau anak-anak pada butuh bantuan atau ngga.”
(Y/n) mengernyitkan dahinya lalu mengangguk pelan. Berjalan mendahului Minho ke ruangan-ruangan.
Ara bersiul setelah melihat Minho dan (y/n) yang daritadi jalan berdua, lebih tepatnya Minho yang mengikuti (y/n) dari belakang.
Ara langsung mendekat ke Bang Chan, pacarnya. “Lihatlah tom and jerry kita Chan.”
Bang Chan mengernyitkan dahinya saat melihat penampakan tersebut, “this feels so weird, gue udah terbiasa liat mereka adu mulut.”
Yeji dan Ara sebagai wakil divisi bertugas untuk menggantikan anggota yang berhalangan datang sehingga mereka berdua ditugaskan seperti anggotanya.
“Bapak ibu kamiii, lapaaar,” pinta Yeji saat Minho dan (y/n) datang pada salah satu ruangan.
(Y/n) terkekeh, “sabar bentar lagi istirahat kookk.” Tanpa menyadari telinga Minho yang sudah berwarna merah.
Bapak?? Ibu????
“Kata gue kak Minho seneng sama lu sih.”
“Glad to know that I’m not a delulu then.”
“LAH LU UDAH TAU???”
(Y/n) menghela nafasnya, ia bukan manusia yang terlalu bodoh untuk tidak mengetahui tingkah yang dilontarkan oleh kakak tingkatnya.
“Dia bahkan ngikutin lu dari awal sampe akhir acara anjir, seinget gue kak Minho kerjaannya kabur mulu tiap acara,” (y/n) mengangguk lesu.
Ini bukan pertama kalinya ia satu proker dengan Minho, walaupun ini pertama kalinya ia benar-benar bekerjasama dengan Minho. Ia tahu betul sikap kakak tingkat satu ini.
Mereka bilang, cinlok saat proker itu ada dan akan hilang saat prokernya selesai.
(Y/n) sangat yakin bahwa dirinya akan menjadi asing setelah proker ini selesai. Dari awal pun sebenarnya tidak ada yang bisa dianggap sebagai hubungan.
Minho dan (y/n) hanya sebatas ketua divisi humas dan liaison officer yang sering beradu mulut dan memutuskan untuk bersatu pada akhir proker.
“Evaluasi telah seleeai, dengan ini saya menyatakan bahwa proker ini telah selesai! Saya sebagai ketua izin undur diri dan mohon maaf apabila ada salah kata selama berjalannya proker. Sekali lagi makasih ya guys udah tahan sampai akhir!!!” Ucap Changbin yang langsung disusul oleh tepuk tangan banyak anggota.
Tidak akan ada lagi proker dimana (y/n) akan beragumen dengan Minho karena kini waktunya Minho untuk pensiun.
(Y/n) tersenyum kecut, inilah saatnya perpisahan mereka.
(Y/n) mengernyitkan dahinya saat Minho datang dengan ekspresi tidak enak. “Lah kenapa lu kak?”
“Kok udah kelar sih prokernya?”
“Hah?”
“Kan gue jadi ga ada alasan buat ngobrol sama lu?” (Y/n) hanya bisa bengong mendengar ucapan kakak tingkatnya, tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud.
Minho berdecak kesal melihat yang diajak bicara hanya diam saja, “lu tuh perkara proker aja langsung pinter debat, tapi pas gue ngomong beginian cuma diem doang,”
“Y-ya lagian??? Tiba-tiba banget kakak ngomong kayak gitu,” ucap (y/n).
“Jadi boleh ga?”
“Boleh apa tuh kak?”
“Boleh deketin lu ga? Take you out on a date,” tanya Minho membuat (y/n) semakin yakin bahwa wajahnya kini menjadi seperti kepiting rebus.
Dan mulai dari situlah, Minho dan (y/n) yang berawal dari sebatas ketua divisi humas dan liaison officer beranjak menjadi sepasang kekasih.
