Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-05-22
Words:
1,011
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
22
Hits:
428

Antara Mimpi dan Delusi

Summary:

Taesan bermimpi buruk tentang Myung Jaehyun, tetapi apakah itu benar-benar mimpi?

Notes:

disclaimer: ini au pertamaku, jadi maaf banget kalo semisal sangat terlihat nubi dan mungkin kurang ngena T_T

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Malam itu, Taesan sedang melamunkan pacar mungilnya.

Pacar mungilnya, Myung Jaehyun, terlihat sangat sibuk dengan perkuliahan dan skripsi sialannya itu. Taesan diabaikan seharian ini. Tidak ada satupun pesannya yang dibalas sejak pagi hari.

Tiba-tiba notifikasi ponselnya berbunyi, menyadarkan Taesan dari lamunannya.

Isi percakapan Taesan dengan pacar mungilnya

Taesan pun mematikan ponselnya dengan perasaan senang. Ya, memang sih dia sempat merasa kesal karena kebiasaan Jaehyun yang sering kali menghilang di saat sedang stres, membuat Taesan khawatir sendiri. Tapi, mengingat sebentar lagi pacarnya akan datang, membuat dia tak sabar untuk memeluk dan mencium pacar mungilnya tersebut. Taesan merasa kasihan juga sih, mahasiswa tingkat akhir itu pasti lelah karena revisi skripsi yang tak ada habisnya.

Sembari memikirkan cara untuk menghibur pacarnya, Taesan memutarkan LP Nirvana hadiah dari Jaehyun. Taesan ikut bersenandung ria sesekali. Waktu terus berjalan dan entah sudah berapa lama Taesan menunggu, tetapi batang hidung Jaehyun tak kunjung terlihat. Ia mulai mengantuk. Pikirnya, mungkin Jaehyun terjebak macet. Taesan akhirnya tertidur diiringi dengan alunan musik dari LP kesukaannya tersebut.


Dalam tidurnya, Taesan memimpikan Jaehyun.

Mimpi itu diawali dengan Jaehyun yang sedang bersiap-siap untuk pergi dengan motor kesayangannya. Saat sudah setengah jalan, Jaehyun mampir terlebih dahulu ke salah satu toko kue favoritnya. Dalam mimpi tersebut, Taesan dapat melihat tulisan “Happy 3rd Anniversary” dengan dekorasi indah pada kue yang sedang dipegang oleh Jaehyun. Jaehyun pun keluar dari toko tersebut dan menggantungkan plastik berisikan kue tadi pada bagian depan motornya. Sepanjang perjalanan, dapat terlihat Jaehyun yang sesekali menggerutu dan terus-menerus mencuri tatap ke plastik bawaannya tersebut. Ah, Jaehyun takut kuenya akan hancur karena terguncang-guncang di jalan dan hal itu membuat Jaehyun sering kali tidak fokus.

Rasanya, Taesan ingin tertawa karena mimpi tersebut sangat menggambarkan sifat pacarnya yang ceroboh dan kerap kali menyusahkan diri sendiri. Padahal ada alternatif lebih mudah bagi Jaehyun, misalnya memakai jasa antar tanpa harus membawa kue itu sendiri. Mau bagaimanapun juga, sifatnya itulah yang membuat Taesan semakin jatuh ke dalam pesona seorang Myung Jaehyun. Namun, perasaan senang tadi langsung luntur begitu ia melihat pengemudi truk ugal-ugalan yang terlihat akan menabrak Jaehyun dari belakang.


Sebelum tabrakan itu terjadi, Taesan terbangun dari mimpinya dengan kondisi penuh keringat dan jantungnya yang berdetak tidak karuan.

Taesan berusaha menenangkan diri karena ia tahu hal tersebut hanya mimpi. Ia segera memeriksa ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 12 malam, tanpa ada notifikasi satu pun dari Jaehyun. Taesan panik. Ia sudah mulai memikirkan hal yang tidak seharusnya ia pikirkan. Nada dering telepon yang tak kunjung diangkat juga tidak membantunya sama sekali. Sampai akhirnya nada dering tersebut berhenti dan terdengar suara yang sangat ia kenali. Jaehyun menjawab teleponnya dengan suara serak seperti habis tertidur.

Jaehyun: “Taesan? Kenapa?”

Taesan: “Kamu di mana? Kenapa belum sampe juga di kosku? Kamu gapapa, kan?”

Jaehyun: “Huh ...? Hah ...? Kapan aku bilang kalo aku mau ke kos kamu? Kamu ngehalu, ya?

Taesan: “Bukannya tadi kamu bilang mau ke kosku karena butuh recharge energi?”

Jaehyun: “Enggak sayang, kayanya kamu mimpi deh. Udah ya, aku mau lanjut tidur dulu, capek banget gak kuat. Kamu juga jangan tidur malem-malem.”

Jaehyun pun mematikan sambungan telepon tersebut. Taesan hanya bisa terdiam sembari berpikir. Setelah menenangkan dirinya, Taesan menghela napas karena setidaknya kejadian buruk yang baru saja ia alami hanyalah mimpi. Akhirnya, Taesan mencoba untuk melanjutkan tidurnya dengan harapan tidak ada mimpi buruk lagi yang menghantuinya.


Pagi harinya, Taesan terbangun dan segera menelepon Jaehyun karena ia butuh konfirmasi kembali bahwa Jaehyunnya memang sedang baik-baik saja.

Alih-alih suara Jaehyun, malah suara operator yang menyambutnya dengan pernyataan bahwa nomor yang ia tuju tidak dapat dihubungi. Taesan panik, untuk kesekian kalinya. Beberapa kali ia mencoba, tetapi hanya suara operator yang lagi-lagi terdengar.

Akhirnya, Taesan memutuskan untuk menelepon teman satu tempat kosnya Jaehyun.

Sungho pun mengangkat telepon Taesan dan Taesan segera menjelaskan tujuannya tanpa berbasa-basi. Sungho terdiam sejenak, diikuti dengan suara helaan napas. Sungho tidak tahu sudah berapa kali Taesan melakukan hal ini dan sampai kapan Sungho harus mengulangi perkataannya setelah ini agar Taesan benar-benar mengerti.

Sungho menjawab pertanyaan Taesan mengenai keberadaan Jaehyun dengan nada sehalus mungkin.

Sungho: “Taesan, gua udah gak 1 kos lagi sama Jaehyun sejak 2 tahun yang lalu. Jaehyun udah gak ada, San. Dia kecelakaan karena ditabrak pengemudi truk ugal-ugalan 2 tahun yang lalu, di tahun ke-3 anniversary kalian. Gua paham sampai sekarang lu masih shock berat dan belum bisa mengikhlaskan kepergian Jaehyun. Entah udah ke berapa kali juga lu menanyakan hal yang sama di 2 tahun terakhir ini. Tapi, gua yakin Jaehyun pun gak mau ngeliat kondisi lu kaya begini, San. Gua harap lu bisa mulai mengikhlaskan dan berhenti berharap Jaehyun bakal kembali ke dunia ini lagi. Gua yakin Jaehyun pun pengen lu tetap bahagia. Semoga lu bisa berdamai dengan semua skenario palsu yang masih berputar di pikiran lu itu ya, San.”

Usai Sungho berbicara, Taesan segera mematikan telepon tersebut. Ia terdiam, merenungi dan meresapi rentetan kalimat yang baru saja Sungho lontarkan untuknya. Rasanya ia seperti habis dihantam oleh batu bata besar tepat di kepalanya.


Sakit. Kepalanya sakit. Hatinya sakit.

Ia tertawa miris, masih menolak percaya dan berpikir bahwa ini semua hanya mimpi.

Ia melirik sekilas ke seluruh penjuru ruangannya. Tersadar. Kamar yang ia tempati saat ini bukanlah kosnya 2 tahun yang lalu, tetapi rumah orang tuanya. Dinding kamar kos yang dipenuhi dengan foto dirinya bersama Jaehyun sudah hilang, tergantikan dengan dinding kosong yang terlalu asing baginya.

Taesan masih tidak percaya. Ia membuka kembali ponselnya dan membuka isi percakapannya dengan Jaehyun. Isinya ternyata masih sama dengan 2 tahun yang lalu, hanya ditambah dengan missed call yang tidak pernah terangkat. Pesan di awal tadi ternyata adalah hasil percakapannya dengan Jaehyun 2 tahun yang lalu. Pesan terakhir yang ia putar di kepalanya berkali-kali layaknya kaset rusak.

Miris. Selama ini ia terjebak dalam mimpi dan delusinya sendiri. Kenyataan bahwa Jaehyunnya masih baik-baik saja hanyalah skenario akan apa yang Taesan inginkan, bukan realita sesungguhnya.

Taesan meringkuk, menangis dalam diam. Tampaknya setelah 2 tahun pun ia masih termakan oleh kebohongannya sendiri. Gelap mata terhadap fakta bahwa Jaehyun telah pergi selamanya.


Sakit. Kepalanya sakit.

Gemuruh kencang di pikirannya tidak membantu sama sekali.

Sakit. Hatinya sakit.

Gempuran realita menghunjam hatinya bertubi-tubi.

 

Ia ditinggal sendiri.

Tidak ada Jaehyun di dunianya lagi.

Taesan harap mimpi buruk ini lekas berhenti.

Notes:

thank u for reading, semoga au ini bisa berkontribusi sedikit utk memajukan kapal taesjae agar semakin jaya jaya jaya ৻( •̀ ᗜ •́ ৻)