Work Text:
but if the world was ending
you'd come over, right?
you'd come over and you'd stay the night
would you love me for the hell of it?
all our fears would be irrelevant
“Kamu takut, nggak?”
Ada sepotong napas berat yang dihela oleh Sungchan waktu sebuah pertanyaan diudarakan, bersumber dari Wonbin yang duduk di sudut lain ruangan. Laki-laki Jung itu sebetulnya paham lebih banyak dari yang acap dia suarakan, namun dia putuskan untuk tidak memberikan penjelasan atas tanya yang diajukan. Alih-alih dengan verba, rasa penasaran Wonbin dijawabnya dengan sebuah pelukan.
Takut akan apa?
Sungchan pikir dunia punya banyak sekali hal-hal di untuk ditakuti. Dia bisa memulai dari membahas langit yang sudah lama tidak disinggahi matahari, dilanjut dengan udara dan air yang mulai teracuni, dan manusia jaman kini yang hanya membawa destruksi. Lalu jika daftar itu belum cukup membuat takut, mungkin alinea ini akan diakhiri dengan fakta bahwa ada asteroid sebesar sebuah pulau tengah mengarah ke bumi.
Dia tetap pilih tidak menjawab.
“Ada yang mau kamu lakuin gak?” Sungchan berbisik di belakang telinga Wonbin, melonggarkan pelukan agar laki-laki yang lebih kecil bisa berbalik dan ditatapnya. Dia meremang merasakan dingin permukaan kulit rahang Wonbin di telapak tangannya. “Aku bisa angetin makanan, kalau kamu mau?”
Dalam rengkuhannya Wonbin melontar senyum yang tidak mencela. “Emang kita masih punya waktu berapa lama?”
Sungchan melirik pada layar televisi yang menyala; Emergency Alert System, 03:10:29. Suaranya dia usahakan tenang kala menjawab, “Tiga jam sepuluh menit, kata mereka.”
Wonbin mengangguk lantas berjalan mendahului. Satu telapak tangannya yang lembab menepuk bahu Sungchan satu kali. “Ayo kita mandi bareng aja. Aku punya sisa busa lavender.”
“Mandi?” Sungchan terangkat bingung alisnya. “Kamu mau mandi?”
Wonbin mengangguk. “Aku udah siapin jas kita.”
Jangan buru-buru, Wonbin. Kita masih punya selamanya.
“Kamu lagi pikirin apa sekarang?”
Gerak jemari Sungchan berhenti di antara helai rambut Wonbin yang basah waktu secarik pertanyaan mengiris dingin kamar mandi yang bengis. Kelopaknya dikedip beberapa kali, menghalau pedih di mata sebab air berhasil mengaliri alis. Wonbin hari ini bertanya lebih banyak dari kemarin, mungkin untuk mengisi diamnya Sungchan yang dianggap apatis. Tapi sejujurnya, untuk hari ini semua orang punya jutaan justifikasi untuk jadi melankolis.
Ancaman akan gugurnya eksistensimu sebagai manusia, salah satunya. Tapi Sungchan pilih tidak menyinggung apa-apa.
Jadi dia melanjutkan aktivitas membilas residu sampo di kepala laki-lakinya, menilik aliran air yang mengaliri tulang punggungnya lalu bermuara pada genangan di bathtub yang mereka duduki. “Aku lagi mikirin suara kamu. Senyum kamu. Kamu.” Kemungkinan ketemu kamu lagi di kehidupan setelah ini, kalau ada.
Punggung Wonbin lantas kaku sejenak sebelum bergerak bersandar pada dada laki-laki di belakangnya. Dalam sekon yang sama pula sepasang lengan Sungchan bergerak melingkari figurnya. Begitu erat hingga rasanya jantung mereka berdenyut dalam ritme yang sama. “Gombal banget.”
“Serius.”
Lalu Sungchan diam saja waktu jemari Wonbin mengait di antara miliknya yang sedikit lebih besar. Ada kerut-kerut kedinginan pada permukaan kulitnya. “Habis ini kira-kira ada apa, ya, Chan?”
Kebinasaan. Kehancuran. Kematian. Pertanyaan Wonbin retoris, Sungchan yakin dia tau jawabannya dengan persis. Namun si Jung pilih untuk memberi kecup pada tengkuk laki-lakinya sebelum bergumam pada kulitnya, “Nggak usah dipikirin, sayang.”
“Iya, sih. Nggak akan ngerubah apapun juga, ya?” Wonbin mendesah, menadah dagu di atas lututnya yang ditekuk di depan dada. Matanya berkedip pelan sebelum berangsur terpejam. “Aku cuma—i'm not sure. Takut, mungkin?”
Sungchan masih dengan hati-hati mengalkulasi jawab yang harus diberi pada otaknya yang mulai letih. Menjaga Wonbin dari semua yang menyedihkan adalah bahasa yang telah Sungchan pelajari hingga fasih namun kali ini dia merasa seolah tengah tertatih. Meski begitu, Sungchan masih belum bersedia mengizinkan dirinya untuk jadi ringkih.
“Wonbin—” Peluknya mengerat walau nada bicaranya melemah. Dari sini Sungchan bisa dengar dentum bebatuan yang membentur tanah dan riak yang air beranjak gelisah. Wonbin tidak berkata apa-apa meski napasnya berubah gundah. “Nggak apa-apa, ada aku.”
Satu kali lagi gemuruh bergema bising, bersamaan dengan munculnya retak pertama pada dinding. Cahaya mulai meredup sebab lampu kamar mandi kehilangan daya dan susunan botol di atas wastafel kini pontang-panting. Dua pasang mata yang menyaksikan sama-sama bergeming.
“Wonbin, hey,” Sungchan berujar buru-buru, berusaha mengimbangi berantakan dunia luar yang menderu. “Aku sayang kamu. Kamu cuma perlu ingat yang itu.”
Venesia, Roma, Osaka. Sungchan berusaha menenangkan diri, dalam bungkamnya mencoba mengabsen kota-kota yang Wonbin cita-citakan demi menghindari tenggelam dalam logikanya yang mulai diisi duka. Bibirnya kembali menjejaki bahu si Park yang bergetar, memberi banyak kecupan yang harapnya membawa lega. Barcelona, Praha, Athena. Matanya memanas, pasrah dengan lelah di kepalanya.
Sungchan mulai menyerah pada kenyataan kalau setelah ini Wonbin malah akan pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau olehnya.
“Aku juga.” Wonbin bergumam tiba-tiba, mengangguk satu kali setelah bahunya tidak lagi gemetar. Memberi Sungchan satu-satunya konfirmasi yang dia butuh. “Sayang kamu.”
Wonbin, persetan dengan Eropa. Aku cuma mau bawa kamu ke tempat yang lebih panjang usianya.
Wonbin tidak lagi terkejut waktu melihat luncuran bola api di langit lewat jendela. Wonbin tidak lagi terkejut melihat matahari terbit dari sudut lain cakrawala. Wonbin tidak lagi terkejut mendengar riuh teriakan takut manusia di luar sana.
Wonbin tidak lagi takut dan Sungchan pikir laki-lakinya itu lebih cantik dari biasanya.
Sungchan melirik televisi di depan ranjang yang dipunggungi oleh Wonbin. Emergency Alert System, 01:00:23. Mereka tidak punya lebih dari enam puluh menit. Tik, tok, tik, tok. Sungchan ingin sekali mengemis detik dari semesta yang pelit.
“Aduh!” Si Jung mengernyit, memegangi dahinya setelah yang disentil tiba-tiba. “Sakit, tau.”
Wonbin cuma tersenyum iseng di hadapannya, kini menunduk sambil mengelap ujung jemarinya di atas kaki yang menyilang. “Jangan bengong, Sungchan, nanti cat kamu tumpah ngotorin sprei.”
Oh. “Maaf, aku lupa.” Sungchan mengangguk, meraih lagi kuasnya yang sempat tergeletak. Matanya lamat-lamat memerhatikan helai rambut kuas yang menyesap legamnya cairan cat lantas melanjutkan tulisan pada permukaan papan di pangkuannya. “Harusnya kamu aja yang ngerjain punya aku. Punya kamu lebih bagus.”
Wonbin mengembus tawa ringan sambil beranjak dari ranjang lalu hilang di balik dinding. Sungchan sudah menyelesaikan papannya saat pemuda itu kembali dengan satu genggam bunga di tangan. “Ini. Hias pakai ini biar lebih bagus.”
Sungchan sempat melirik bergantian pada televisi dan bunga yang berserakan di atas ranjang; Emergency Alert System, 00:50:10. Kelopak pada bunga-bunga itu sudah layu sebagian. Tik, tok, tik, tok. Sungchan bertanya-tanya apakah mereka akan mati sepenuhnya ketika waktu tidak lagi tersisa. Tik, tok, tik, tok. Sungchan bertanya-tanya apakah semua ini ada gunanya.
“Menurut kamu.” Sungchan kini mengalihkan kembali atensinya pada Wonbin yang mendadak bersuara. Kepalanya tetap merunduk, dua tangan menempelkan berbagai warna di atas papannya dengan presisi. “Ada yang bakal bertahan hidup buat liat ini gak?”
Yang ditanya mengendik bahu, kini ikut menempelkan bunga pada papannya dengan sedikit lebih tidak teliti. “Mungkin.”
“Mungkin.” Wonbin merepetisi, menyisipkan harap pada intonasi. “Mungkin bakal ada peradaban baru habis ini. Nama kita bisa ditulis di sejarah karena kita ninggalin sesuatu.”
“Iya, mungkin.” Sungchan mengamini. “Terus habis itu kita dikenang orang-orang. Punya hari nasionalnya sendiri.”
Mungkin, mungkin, mungkin kita bisa jadi abadi.
“Ah, mulai ngaco.” Wonbin mendengus dan Sungchan meloloskan tawa. Mereka kembali bungkam di sepuluh menit selanjutnya dan berisik kembali saat berdebat tentang tempat untuk menaruh dua papan penanda. Pada akhirnya sepasang benda itu disandarkan bersisian di kepala ranjang.
Sungchan menghabiskan tiga menit ekstra untuk membersihkan lem yang mengering pada telunjuknya dan dua menit yang lain untuk menatap hasil kerja mereka.
2024. Sungchan Jung was here.
2024. Wonbin Park was here.
Sungchan menghabiskan lima tahun terakhir hidupnya mengamini sebuah teori yang menyatakan bahwa atom-atom yang menyusun tubuh Wonbin diramu langsung oleh Aphrodite yang memberi cantik begitu banyak. Barangkali dibantu Athena yang menderma setengah rasa berani lalu Aletheia dengan integritasnya. Entitas Wonbin dianggapnya tersusun atas hal-hal yang tidak bercelah.
Jemari Wonbin bergerak begitu lembut saat mengencangkan dasi yang melingkari lehernya, pun laki-laki itu tidak gusar waktu menutup satu-satu kancing jasnya. Tidak terlalu ketat, tidak pula terlalu longgar. Wonbin masih sempurna dan tepat dalam semua geriknya meski mereka tengah ada di babak yang paling berat.
Tik, tok, tik, tok. Seharusnya sekarang semua manusia mengutuk sisa waktu yang datangnya memaksa.
Sungchan menangkap rahang Wonbin pada dua tangannya, mengangkatnya hingga raut laki-laki itu bisa dia rangkum sepenuhnya. Pandangannya bergulir pada rambut lembab Wonbin yang disisir ke belakang, menuju dua matanya yang teduh, hidungnya yang bangir, belah bibirnya yang setengah terbuka lalu berhenti di lehernya yang dilingkupi kerah kemeja.
Keduanya diam seolah kehilangan lidah, pikiran berputar dalam frasa bagaimana jika.
Bagaimana kalau mereka bisa bertahan hidup? Bagaimana kalau semua ini cuma khayalan? Bagaimana kalau—ah, omong kosong. Sungchan benci dibuai harapan.
“Hey,” Sungchan lalu mengulas senyum setelah meredam pikirannya yang berisik, mengecup satu kali ujung hidung laki-lakinya. “You look beautiful, harusnya lebih sering pakai jas.”
“Ew. Gombal.” Wajah pias Wonbin diisi gradasi rona pada pipinya yang menghangat. Laki-laki itu tergelak ringan. “Kamu keliatan ... meh. Biasa aja.”
Sungchan sempat lupa diri ketika lantunan tawa Wonbin mengubur sayup-sayup dentuman di luar sana hingga hampir tidak terdengar. Dari jendela kamar, mereka bisa lihat langit yang lebih terang dari malam-malam sebelumnya sebab diisi dengan banyak bongkah batuan yang berpijar. Sungchan bahkan baru sadar kalau rerumputan hijau di halamannya sudah mengering dan pepohonannya meranggas.
Tik, tok, tik, tok. Berapa menit lagi yang kita punya?
Sungchan diam begitu wajahnya ditangkup oleh Wonbin sedikit terlalu kencang. Dia tidak melawan waktu dipaksa agar tidak lagi lihat ke arah jendela, toh genangan pada pelupuknya sudah sedari tadi memburamkan pandang. Yang dapat dia rasakan sekarang adalah jari-jari ramping Wonbin membingkai pipinya, memastikan dirinya bersedia dengar semua yang diucapkan.
Emergency Alert System, 00:15:24.
“Hey, sayangku.” Si Park berbisik, mengguncang wajahnya ringan. Sungchan takjub sekaligus tidak mengerti dengan cara Wonbin terlihat ikhlas. “Sungchan, kamu denger aku nggak?”
“Iya?” Sungchan berdeham, suaranya serak. Untuk sejenak netranya kembali kehilangan fokus. “I'm listening.”
“Udah malam, ayo kita tidur.”
Kali ini yang mendesak keluar adalah air mata kepunyaan Sungchan.
Emergency Alert System, 00:01:24.
Sebetulnya banyak sekali hal yang Sungchan ingin semesta kabulkan pada detik ini; dia tidak ingin mati. Dia tidak ingin dilupakan. Dia tidak ingin dipisahkan. Pun dia sadar pula bahwa dunia seringnya berjalan tidak sesuai keinginan, ada kalanya dia tidak lagi diberikan pilihan.
Pemikiran itu mengguncangnya secepat hantaman pertama pada bagian depan rumahnya. Sungchan pikir barusan dia mendengar dinding kamarnya ikut retak.
“My fellow beloved citizens, as we all know, catastrophe has struck today.”
Sirine mulai menggema di luar, diiringi suara benturan-benturan yang lebih cepat. Sungchan menggenggam jemari Wonbin lebih erat, meringsut untuk berbaring lebih dekat. Meskipun kelihatan lebih tenang, Sungchan bisa merasakan gugup laki-lakinya yang menguar dalam bentuk telapak tangan yang lembab.
“Chan, nggak apa-apa kalau kamu takut. Just breathe.”
Ada bisik yang kemudian Sungchan dengar, mendayu tenang mengungguli detak jantungnya sendiri. Disusul hangat yang melingkupi tubuh serta usap konstan pada dadanya. Aneh rasanya mengetahui bahkan setelah tahun-tahun berlalu, eksistensi Wonbin tetap memberikan tentram yang sama. Ada pinta yang merangkak, harusnya kita diberi waktu lebih lama.
“Aku tau.”
“Gather with your family, seek underground refuge and prepare an emergency kit.”
Sungchan menatap lampu kamar mereka yang berkedip. “Menurut kamu mati bakal sakit gak?”
Ada jeda yang mencekik. Sungchan tidak akan memaksa kalau Wonbin tidak tahu jawabnya.
“Nggak, Chan. Ada aku di sini.”
Validasi yang diberikan terasa lebih dari cukup.
“This broadcast will stop in five,”
Sungchan kini berbaring miring, menghadap Wonbin yang sudah lebih dulu menatapnya. Dahi mereka menempel meski lengket oleh keringat dan suhu yang memanas. “Wonbin, say something.”
“Oke.” Yang lebih muda mengangguk. Jemarinya bergerak menyelip di antara helai rambut Sungchan, diselip pada belakang telinga. “Sekarang kamu lagi mikirin apa?”
“Kamu.” Sungchan menjawab terlalu cepat, bersandar pada sentuhan Wonbin yang penuh sayang. Matanya bergerak nyalang dan putus asa. “Kamu. Kamu.”
Wonbin tersenyum meski kini tulang pipinya basah. Pemuda itu memaksa gelak meski paru-parunya mulai sakit menghirup udara yang berdebu. “Okay, that's good. You'll be okay.”
“Four,”
“Aku bakal kangen sama kamu.” Sungchan menyisipkan tangannya pada pinggang Wonbin, menarik laki-laki itu lebih dekat dan membawanya dalam sebuah ciuman yang merangkum. Selamat malam, aku sayang kamu, terima kasih, selamat tinggal.
“I love you, Sungchan..” Wonbin bergumam di antara ciuman mereka yang berpeluh dan langit-langit kamar yang mulai runtuh. Sekali lagi dia berbisik, khawatir getar tanah yang terbuka meredam suaranya. “I love you so much, you have no idea.”
“Aku juga.” Sungchan tersenyum, tidak lagi sibuk menghapus air mata atau menyembunyikan isaknya. Wonbin bilang tidak apa-apa untuk jadi takut. “Sayang kamu. Banget.”
“Three,”
“Wonbin, aku nggak mau mati.”
“Aku tau."
"Nggak mau pisah sama kamu."
"Aku juga.”
“Just—kiss me, will you?”
Selamat malam, aku sayang kamu, terima kasih, semoga kita bertemu lagi.
“Two,”
“Sampai nanti lagi, ya, Sungchan?”
“Aku bakal cari kamu di sana. Kamu gak akan sendirian.”
“Aku tunggu.”
“One.”
“I love you so much, you have to remember that.”
“I now am going to depart to a bunker under the house. Farewell, everybody. My heart is with you and may God have mercy on us all.”
if the world was ending
you'd come over, right?
the sky'd be falling and I'd hold you tight
and there wouldn't be a reason why
we would even have to say goodbye
