Work Text:
Monkey D Luffy
Nama yang cukup menggemparkan tidak hanya di sebuah kota melainkan mengguncangkan dunia.
Pertama kali Law mendengar nama tersebut sebuah ketertarikan terpantik di benaknya, tersenyum penuh makna mendengar nama yang di kumandangkan di media bahkan dari mulut ke mulut. Sungguh aneh bukan? Apa yang membedakan ia dari bajak laut yang lain? Bak langkah sang pria muda dapat menjungkir balikan realita dan membentuknya baru. Saat itu Law masih bisa menggubris ketertarikannya, menganggap nya fenomena sementara, hanya sebuah fatamorgana media dan menutup matanya.
Saat di Shabody akhirnya dia melihat dengan kedua matanya sendiri sang pemuda. Dengan gila memukul celestial dragon dengan tangan kosongnya, menantang pemerintah, menantang bumi. Bagai sebuah janji siapapun yang berdiri menghalangi jalannya akan ia lawan dengan sepenuh hati dan jiwa, sang pemuda muda tidak menyadari pada hari itu dia menangkap kembali perhatian Law yang terus tersenyum seakan tidak percaya akan kegilaan yang terjadi di depan matanya.
Hari itu Law berpaling dengan rasa penasaran oleh jalan pikiran sang manusia karet yang terus tersenyum hampir melebihi kapasitas wajahnya.
Kali kedua mereka bertemu tidak dalam kondisi menyapa. Hidup dan mati nya ada di tangan Law, dengan luka menganga lebar yang di pastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyelamatkannya kecuali Law sendiri. Ironis. Setelah menantang langit dengan gagah berani akhirnya ia tumbang jua, bagai tersentil kehidupan bahwasanya ia masih hanya manusia yang kini kehilangan orang yang berarti baginya walaupun ia sudah mengerahkan seluruh kemampuan dan tekatnya.
Oprasi adalah sesuatu yang mudah di lakukan oleh sang dokter, tapi menyembuhkan mental adalah hal yang jauh berbeda ketimbang menyatukan kembali daging. Melihat dari jauh betapa hancurnya mental sang pria muda yang tak lama lalu ia lihat jauh berbeda, Law hanya bisa memandang dari jauh sembari menjaga topi berharga yang selalu sang pemuda pakai. Ia tahu benar apa yang di rasakan sang pemuda, keputusasaan dan meluapnya makna hidup. Law terlalu familiar dengan hal tersebut.
Jadi ketika dia melihat tekat membara kembali berkobar di mata sang pemuda, Law melangkah pergi dengan kini membawa perasaan pengertian dan hormat, tidak menyadari setangkai bunga yang sudah hampir sama rata dengan tanah mulai mendongak kearah matahari.
Kali ketiga mereka bertemu adalah sebuah kejutan, Law tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan sang pemuda di akhir akhir jurnal kehidupannya, menatap heran ke wajah pemuda yang telah kembali mendapatkan senyum lebarnya yang bahkan bisa menyaingi sang surya, dan Law adalah seorang oportunis, tentu saja ia tidak akan melewatkan ajakan untuk duduk di bangku depan untuk menyaksikan bagaimana sang pemuda-, tidak, topi jerami memporak porandakan dunia. Lagi pula ia bisa sembari mempermudah misinya dalam menjatuhkan Doflamingo, tentu saja ia akan menjulurkan tangan bagai melempar batu untuk mengenai dua burung sekaligus, Law berkata, kepada dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya Law melihat bagaimana cara sang topi jerami bekerja, melemparkan semua rencananya keluar jendela dan membuatnya begitu sakit kepala. Walau melalui semua lika liku masalah yang di tambahkan kru aliansi barunya, semuanya berakhir dengan semestinya, seperti menertawai Law yang telah susah payah merancang rencana 13 tahun lamannya, berkata semua akan baik baik saja asal dirinya percaya.
Law melihat bagaimana sang topi jerami menyatukan bahkan marinir ke sisinya, memperlihatkan betapa kuat tarikan gravitasi yang ia miliki menantang rasionalisasi dan logika. Law sendiri takjub melihat mereka bisa bergandengan tangan saling membantu bahkan sampai di akhir perpisahan, bahkan cenderung terkesan hangat dan bersahabat bagai teman lama yang kembali berjumpa.
Hari itu Law tidak melangkah pergi melainkan tinggal dan berlayar dengan perasaan campur aduk berkecamuk di hatinya yang ia tidak bisa point dengan pasti, membiarkan dirinya terhanyut sementara untuk saat ini. Tidak menyadari sang bunga mulai mengikuti kemana arah sang surya mulai pergi.
Di Dressrosa semua rencananya hancur berkeping keping, semuanya berjalan terbalik dan ada kalanya seperti buntu tak ada pengharapan. Bahkan ketika terikat di kursi hati yang membuka luka lamanya, ia kini menyesali mengapa dirinya menarik tangan topi jerami ke neraka bersamanya, dimana mungkin jikalau tidak di karenakan dirinya, mungkin sang pemuda masih punya masa depan cerah menunggunya di luar sana.
Harusnya ia jatuh sendirian.
Betapa bodoh dirinya yang telah membuat rekan rekannya menjauh ke tempat aman tapi malah mengantarkan tumbal tumbal yang lain, mengutuki dirinya dan mengutuki sang pria dengan bulu pink flamboyan yang sedari dulu menyiksa dirinya, meletakkannya di sangar burung emas yang terasa abadi. Mungkin memang menyerah saja adalah hal yang paling baik dan paling benar.
Harusnya ia mati sendirian.
Tapi bak mendengar jeritan hati Law yang terikat tak berdaya di kursi bagaikan seonggok sampah, topi jerami kembali menampakkan batang hidungnya, menolak mentah mentah perkataan menyakitkan yang terlontarkan oleh mulut Law, menolak menyerah. Membopong dirinya kemanapun ia pergi, menerobos dinding yang sekilas terlihat buntu, dan terus melawan tak kenal kata menyerah.
Ketika jaring laba laba putus dan sangkar yang selama ini membelenggu dressrosa dan dirinya runtuh di depan mata Law, ia tidak lagi meragukan sang topi jerami... Ah.. tidak, ia tidak lagi meragukan Luffy. Dalam kondisi ia masih hidup dan bernafas yang sama sekali tidak terbesit dalam benaknya akan keluar dari tempat terkutuk itu hidup hidup, menjadi salah satu saksi mata bagaimana ajaibnya sang pemuda dan segala rumor yang ia dengar benar adanya.
Bahkan kini setelah tidak perlu lagi memikirkan belenggu yang tidak lagi mengikat dirinya, Law akhirnya menyadari perasaanya kepada Luffy bertumbuh diluar sepengetahuannya entah dari mana dan kapan, membuat nya melebur dalam gundah dan gelisah. Matanya memandang ribuan manusia yang tidak luput dalam tarikan gravitasi Luffy yang begitu kuat, bak memang adalah sosok matahari dalam tubuh manusia yang di inginkan banyak orang selain dirinya, memandang matahari berharap untuk diberi penerangan sedangkan ia hanya setangkai hunga layu yang hampir rata dengan tanah, tidak pantas berharap rembulan apalagi matahari.
Di kapal Bartolomeo yang terlihat konyol dan memuakan, Law merasakan perasaan yang tidak pernah ia rasakan selama 26 hidup menjejakkan kaki di muka bumi ini. Setelah perhatiannya tak lagi berfokus kepada dendam pada mahluk pink yang menghantuinya selama 13 tahun belakangan, dia akhirnya menyadari betapa menempelnya seorang bernama Luffy itu, bagaimana ia merasakan hangatnya sentuhan dan dekapan di pinggang atau bahunya, membuatnya berdegup, membuatnya takut.
Ia tahu benar bagaimana tingkah Luffy selama berlayar dengan mereka, dan Luffy tentu saja selalu memeluk dan menyentuh teman temannya jua, Law tidaklah spesial, tapi bohong lah ia jika ia berkata jika sentuhan sentuhan yang ia dapatkan tidak membuatnya berharap, mendapat segelintir cahaya matahari dari sela sela bunga lain yang berdiri tegak.
Segelintir pun tidak masalah ujarnya dengan dusta.
Jika di gambarkan Law adalah setangkai bunga matahari dengan satu kelopak tersisa, tetap mengikuti matahari walau sudah tidak enak dilihat oleh mata. Bak ibarat kelopak adalah hatinya yang tersisa, tersiksa oleh rasa cinta yang di berikan orang orang di sekitarnya lagi dan lagi, Law menggenggam kelopak terakhirnya dengan putus asa.
Mungkin cinta memang bukan untuknya.
Jadi ketika kelopak terakhir berdegup untuk sang matahari, Law hanya bisa tertawa rilih menertawai humor roda dunia yang seakan mempermainkan dirinya, ingin merenggut kelopak terakhirnya dengan paksa dan membakarnya sampai abu akan cinta yang bertepuk dengan angin.
Meskipun mengetahui kenyataan pahit, sang bunga matahari terus menatap sang surya dengan damba.
Saat perjalanan ke Wano, perasaan gusar yang sering ia rasakan saat terperangkap di lingkaran tangan karet yang menolak melepaskannya berganti menjadi rindu, bahwasanya Luffy harus pergi untuk sementara menjemput kokinya yang entah mengapa pergi tanpa sebab, berjanji pada Law untuk kembali bertemu di Wano, memberikan kesempatan Law untuk berpikir jernih tanpa distraksi.
Tapi bagai manusia yang sudah tersihir oleh gemerlap bayang bayang cinta, Law tentu saja tidak bisa berpikir jauh jauh dari sang pemuda membuat krunya yang kini sudah kembali bersamanya mengendus curiga dengan seberapa banyaknya Law melamun memandangi sebuah kain merah melambai di tiup angin.
"Akhirnya kapten kita pubertas" ujar pinguin mencari mati, termutilasi sebanyak 20 bagian banyaknya.
Canda dan tawa tidak berlangsung begitu lama, bersama dengan situasi yang semakin genting dan mengancam nyawa, melawan 2 yonko tentu saja bukanlah tugas yang mudah. Dengan berat hati Law harus turun untuk mengurusi Big Mom bersama Kid, meninggalkan Luffy sendirian di atas karena ia percaya jika ada seseorang yang bisa menumbangkan Kaido, ia adalah Luffy.
Tapi ketika tubuhnya yang sudah babak belur dan penuh luka mendengar kabar dari mulut Kaido untuk ke kedua kalinya bahwa Luffy sudah tiada. Law hanya bisa mendongakkan wajahnya kearah langit dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata kata.
'KAU BOHONG!!!'
Ia ingin berteriak ke arah wajah Kaido yang penuh keangkuhan dan puas, ingin berdiri dan memukulnya sekali saja walau ia tahu tubuhnya sudah mencapai batasnya, kelopak terakhir sang bunga bergetar kuat kehilangan matahari menatap langit mendung yang mulai menyelimuti.
'BOHONG!!!'
Luffy tidak mungkin mati, Luffy tidak mungkin mati di sini, terputar di benaknya seperti mantra. Menepis berita yang di sertai tawa puas sang naga dan mulai gemuruh isak tangis orang orang yang langsung di selimuti keputusasaan. Law masih menggenggam kelopak terakhirnya dengan kuat, berdoa entah kepada siapa, memohon dan memanggil sang matahari untuk kembali, lagi pula menyangkal lebih mudah di lakukan saat memejamkan mata.
'LUFFY TIDAK MUNGKIN MATI'
Entah mungkin karena dia mulai gila atau apa, Law merasa ia bisa mendengar suara hatinya bergema di dunia nyata, yang nyatanya butuh beberapa saat untuknya menyadari bahwa Nami yang telah meneriakkan pikirannya dengan gagah berani ke wajah Kaido, mendapatkan hadiah semburan ganas yang hampir merenggut jiwa nya.
Tapi bagai masyarakat tertampar dengan ke gagah beranian Nami, berbondong bondong mereka berdoa, berharap, memanggil sang matahari untuk kembali.
Dan kembali lah ia.
Kelegaan adalah salah satu emosi awal yang menyeruak di dada Law setelah melihat siluet putih di antara reruntuhan di sertai dengan tawa has yang tidak bisa di samakan dengan siapapun, mengagetkan bahkan Kaido dengan perubahan drastis sang manusia karet yang kini terlihat agung bak dewa mulai membalikan keadaan dan akhirnya memenangkan pertarungan, menjatuhkan Kaido, membebaskan Wano.
Satu kelopak terakhir sang bunga menari senang dengan datangnya kembali cahaya hangat sang surya.
Dengan tumbangnya Kaido selesai sudahlah perjalanan mereka bersama, menatap laut dengan suara tengkaran Luffy dan Kid yang seperti tidak ada habisnya, membuat dirinya tersenyum tipis meresapi suasana mungkin yang akan menjadi terakhir kalinya, bukan karena tidak bisa bertemu kembali namun lebih karena hatinya yang mulai menunjukkan tanda tanda ketamakan.
Ia takut jika ia terus bersama Luffy hatinya tidak akan kuat menahan rasa yang meletup letup di dadanya, membuatnya melakukan hal yang dia akan sesali, membuang semua yang sudah mereka bangun merobek kelopak terakhirnya ke tanah.
Sang bunga yang malu akan betapa rusaknya ia terus bersembunyi di antara bunga bunga lainnya, menatap diam, memandang cahaya matahari yang berangsur angsur menjauh, tenggelam pergi berganti malam, dan pada akhirnya berlayar kembali lah mereka juga ke samudra.
.
.
.
.
Dua tahun lagi telah berlalu semenjak mereka berpisah, waktu yang begitu lama telah berlalu, tapi tak sedikitpun perasaan Law pada sang manusia karet berubah. Kadang rasa sepi dan sunyi menenggelamkan dirinya pada kalbu rindu menyesakan, membuatnya resah, bahkan membuat emosinya kadang tidak karuan.
Bahkan setelah Luffy di kabarkan telah berhasil meraih takhta menjadi raja bajak laut yang baru dan mengadakan pesta besar besaran merayakan pencapaiannya, mengundang Law secara personal dengan secercah amplop merah maroon dibalur goresan ceker ayam emas yang cukup di yakinkan adalah tulisan Luffy sendiri, Law menolak untuk datang ke pesta tersebut. Masih tidak kuat untuk bertatap muka apalagi untuk sekedar menyapa, tak sanggup untuk melihat senyum yang ia yakin akan menariknya dan membelenggu dirinya selamanya jika ia berani terlalu dekat.
Law yang tidak bisa mengambil resiko tersebut, menyimpan sang amplop di laci beserta foto buronan Luffy yang telah terlaminasi rapih dan terkunci rapat seperti perasaanya.
Tentu saja krunya menyadari sesuatu berubah dalam diri Law, mereka mungkin saja selalu bertingkah bodoh tapi tetap saja diam diam memperhatikan kaptennya yang kini selalu memandangi jendela sembari merenung, sedangkan dirinya sendiri selalu berpaling dari tatapan krunya yang memandanginya dengan iba, berusaha meyakinkan mereka bahwa mereka salah dan Law baik baik saja, berusaha meyakinkan dirinya sendiri dalam diam.
Di bulan ke 3 setalah Law tidak menggubris amplop undangan dari sang raja baru, Sachi, Pinguin dan Bepo menjadi luar biasa berisik bukan main meminta liburan. Berkata bahwa mereka pengap selalu berada di dalam kapal selam dan berkata ini adalah saat yang bagus untuk liburan dan membangun kastil pasir dan berenang. Sungguh kekanakan, tapi di sisi lain Law berfikir mungkin ini adalah cara yang baik untuk mengalihkan dirinya dari perasaanya yang tidak kunjung reda dan akhirnya setuju untuk berlabuh ke pulau terdekat dengan di bantu oleh navigasi Bepo yang handal, membawa mereka ke sebuah pulau yang cukup kecil yang sepertinya tidak berpenghuni.
Mengunakan kemeja hawai kuning terbuka dan celana pendek selutut casual, Law kini berjalan jalan di tengah pasir pantai yang luas membiarkan krunya yang lain untuk bersenang senang dan menggila. Terus berjalan menyusuri tepi pantai di temani dengan deburan ombak yang mendiamkan pikirannya untuk sesaat, Law menarik nafas panjang memenuhi paru parunya dengan oksigen.
"Disini indah"
Menatap deburan ombak sembari mendengarkan suara sayup sayup krunya yang diredam jarak, telinga Law menangkap suara asing yang berasal dari arah berkebalikan dari tempat krunya berasal, membuatnya langsung memasang pose siaga yang tidak bertahan lama melihat sesosok manusia yang terlihat familiar berlari ke arahnya.
"TARAO!!!!"
Suara yang begitu familiar walau telah berubah lebih berat dari yang biasa ia dengar menyerang gendang telinga nya, membangkitkan emosi terpendam menyala di kedua iris matanya walau ia sendiri pun tidak menyadarinya. Ia tahu ia harus kabur, harus lari dari sosok yang sudah menghantuinya selama beberapa tahun belakangan sebelum terlambat, tapi bagai hatinya yang tak rela untuk berpaling, kakinya pun diam terpaku dengan tanah, membiarkan tubuhnya di dekap oleh sang pria yang kini sialnya telah tumbuh besar dalam waktu singkat, melampaui tingginya, membuat Law terjerembab di bawah dagunya.
"...sejak kapan kau setinggi ini topi jerami?"
"Shishishi benarkah?? Aku kira kau yang menyusut Torao! Sekarang kau terlihat sangat kecil!"
Jika bukan karena perasaannya yang sedang campur aduk sembari mencoba tidak memuntahkan jantungnya yang berdegup kencang di dadanya, mungkin Law sudah mencekik Luffy akan kata katanya yang cukup berkesan mencemooh walau ia tahu Luffy hanya mengucapkan apa yang ada di pikirannya. Dan oh, betapa ia baru menyadari betapa ia merindukan tawa has dari pria riang bodoh satu ini, bagai musik di telinga nya yang ia ingin dengar lagi dan lagi.
Membiarkan dirinya di dekap cukup lama, membanjiri dirinya dengan kehangatan yang ia rindu rasakan selama 2 tahun yang sangat panjang, ia merasakan jari jemari Luffy mendarat ke kepalanya, memijat pelan.
"Kau tidak datang ke pesta perayaan ku menjadi raja bajak laut"
Suara sedih yang keluar dari bibir Luffy sangat asing di telinga Law, bahkan jika bukan karena tidak ada seorang pun selain mereka, Law tidak akan percaya bahwa Luffy lah yang mengeluarkan nada lirih tersebut, membuat Law merasa begitu bersalah hanya dalam satu kalimat singkat.
"...aku...punya urusan penting yang harus aku tangani....maaf"
"Lagi pula tidak ada aku juga tidak begitu berbeda bukan?, aku yakin teman temanmu dari seluruh penjuru dunia itu pasti datang " tambah Law dengan suara yang sangat kecil hampir tak terdengar.
"Tapi kalau tidak ada kau rasanya tidak sama Tarao"
Dengusan kesal Luffy membuat Law mendongakkan kepala untuk beradu argumen sebelum suaranya tertahan di tenggorokannya, matanya tertuju lurus dengan aksesoris baru yang baru melingkar di leher sang manusia karet, memantul cahaya logam mulia dengan bandul yang membuat Law sedikit ternganga.
Sebuah cincin tergantung sebagai bandul kalung emas putih berkilau yang tidak di ragukan lagi keasliannya, menampar kembali Law ke realita.
Tentu saja Luffy pasti sudah menggandeng orang lain, siapa pula yang tidak mau bersanding dengan seorang raja yang baik hati dan tampan parasnya, bahwasanya sebelum menjadi raja pun banyak putri dari seluruh penjuru negeri berbaris untuk mendapatkan perhatian sang pemuda yang terlihat tidak tertarik pada romansa. Tapi nyatanya kini bukti fisik yang sudah tidak bisa ia tepis sebagai tameng untuk menyangkal realita, setitik air mulai mengenang di pelupuk mata pemuda bertato tersebut.
Tak dapat lagi menggenggam kelopak terakhir yang tersisa, terasa seperti ter robek paksa dan tercabik cabik dan seketika layu, sang bunga tersungkur jatuh menyatu dengan tanah.
Sang bunga mendambakan matahari
Tapi harus menerima matahari akan terus bersinar walau tanpanya.
Sang bunga berangsur angsur layu, meringkuk di bawah bayang bayang bunga lain yang lebih cantik dan perlahan mati.
"A-ah...tolong lepaskan aku topi jerami"
"Huh? Kenapa?"
Entah di karenakan tidak menyadari gemuruh hati Law yang berusaha keras memalingkan wajahnya dan menahan air mata yang sudah berkumpul hampir jatuh ke pipinya, atau justru menyadarinya Luffy semakin mengeratkan pelukan yang melingkari pinggangnya.
'ayolah Luffy jangan sakiti aku lebih dari ini' jerit Law lirih dalam hati.
"Kalau orang lain melihat kita mereka akan salah paham, tolong lepaskan!"
Mulai meronta dari pelukan Luffy yang kini terasa seperti magma panas yang membakar kulitnya, Law mulai mendorong pelan permukaan dada bidang Luffy, berusaha menjauh walau sang pelaku sendiri tidak bergeming sedikitpun.
"Kau ini kenapa sih? Hei? Lihat aku!"
"SUDAHLAH LEPASKAN AKU!"
"TIDAK MAU! SEMENJAK MENINGGALKAN WANO KAU TIDAK MAU BERTEMU DENGANKU, BAHKAN KAU TIDAK DATANG SAAT KU UNDANG, AP- apa aku ada salah kepadamu? Tolong aku mungkin bodoh tapi aku akan berusaha kau tahu, tolong jelaskan padaku apa salahku Law"
Suara Luffy yang bergetar penuh rasa bersalah membuat Law tidak lagi bisa menahan bendungan air mata yang kini tumpah bebas di wajahnya, membenamkan wajahnya di dada Luffy untuk setidaknya menyelamatkan harga dirinya.
"...kau...tidak salah apapun Luffy, tapi kau tidak seharusnya mendekap orang lain selain pasanganmu seerat ini..."
Kesunyian pekat yang menyelimuti suasana membuat Law kesulitan untuk bernafas, membuatnya berfikir apakah ia salah bicara demikian pada Luffy, atau sang pemuda hanya tidak mengerti akan perkataannya barusan, mengenal sosok Luffy kemungkinan itu adalah pilihan yang kedua. Jadi ketika ia menarik nafas dan membuka mulutnya untuk menjelaskan untuk kedua kalinya, ia terkejut ketika Luffy mengambil inisiatif pertama.
"...huh? Apa kau marah jika aku suka memeluk teman temanku? Aku tidak tahu kau se-pencemburu itu Torao"
Statemen yang sungguh di luar nalar serta jelas suara garukan kepala membuat Law harus berhenti sejenak bahkan memberhentikan tangisnya untuk memproses kata kata yang keluar dari bibir manusia yang berada di depannya.
"H-huh?"
Hanya kata singkat yang bisa terlontar dari mulut Law seperti orang idiot sembari mendongakkan wajahnya, lupa bahwa ia sudah semakin acak acakan karena air mata, membuat mata Luffy terbelalak kaget dan mulai panik sembari membekap kedua pipi Law dalam tangannya yang kini begitu lebar.
"KAU KENAPA? APAKAH SAKIT PERUT? APA PERLU KU PANGGILKAN CHOPPER!? CHOPPERRRRR-"
Teriakannya yang begitu lantang membuyarkan Law dari kondisi mematung dan berhasil menamparkan tangannya ke mulut Luffy, menghentikan teriakannya.
"DIAM BISA GA!! APA MAKSUDMU DENGAN KATA KATA TADI!?"
"Hah? Yang mana?"
"YANG TADI?!"
"........yang mana?????"
Law tidak percaya dia harus mengulang perkataan yang sungguh memalukan di tambah lagi ia bisa merasakan pipinya yang mulai memerah panas bukan karena teriknya matahari.
".....i-itu apa maksudmu kau tidak tahu aku se c-cemburu itu?"
Persetan suaranya yang patah patah dan gugup, persetan dengan jantungnya yang sepeti habis lari maraton, persetan dengan wajah Luffy yang terus memandanginya seperti orang idiot, Law benar benar ingin menceburkan dirinya ke laut dan meninggal saja.
"Kau bilang aku tidak seharusnya memeluk yang lain yang bukan pasanganku bukan?" Kedip Luffy tidak mengerti
'ingin ku tonjok saja wajahnya' ujar Law dalam hati dengan wajah yang hampir menyamai tomat segar di kebun.
"IYA TAPI ITU BERLAKU KE PASANGANMU, KENAPA KAU MENGATAKAN AKU YANG CEMBURU?"
".....kita kan sudah menikah? Bukankah artinya kau pasanganku?"
Kalau tadi otak Law sudah seperti terkena kejut listrik, sekarang otaknya seperti di sambar petir Enel dari bulan.
"M-M-MENIKAH? KAPAN ? KAU JANGAN SEENAKNYA BICARA YA!!"
"KAU YANG MENGAJAKKU MENIKAH DI PUNK HAZARD KAU YANG NANYA GIMANA SIH?!"
"HAH?!"
"HAH??"
Memaksa mengambil satu langkah mundur untuk mengambil nafas sesudah berteriak teriak tidak jelas dengan pria di depannya, Law kembali mengingat perkataan Sanji dan Usopp bahwa persekutuan di mata Luffy sedikit berbeda, tapi ia tidak menyangka akan se berbeda ini!
"Sebentar, jadi...jadi kita sudah menikah semenjak di Punk Hazard? "
Luffy mengangguk mantap.
"Dan selama ini aku ....kau....aku....adalah pasangan??"
Luffy kembali mengangguk dengan mantap.
"...."
Seluruh informasi yang di dapatkan oleh Law terlalu di luar nalar untuk langsung ia cerna, seakan seperti sedang bermimpi dan ini terlalu bagus untuk benar benar terjadi di dunia nyata, tapi setelah ia mencoba mencubit pergelangan tangannya, rasa perih yang tersisa berkata lain.
"Aku ingin memberikan cincin setelah aku sudah jadi raja bajak laut, tapi kau tidak pernah datang"
Dengus Luffy sembari merogoh kantong dan mengeluarkan kotak kecil berwarna maroon yang sama dengan warna amplop yang masih tersimpan di laci mejanya dengan rapat, membukanya memperlihatkan cincin yang identik dengan yang tergantung di leher Luffy, membuat Law tertegun menatap cincin di depannya dengan expressi yang cenderung konyol.
"H-hah, kalau kita sudah menikah semenjak Punk Hazard kenapa kau tidak pernah mencoba untuk-.....untuk-" merahnya wajah Law bahkan sudah bisa menyaingi kotak yang sedang di pegang Luffy.
"Ku kira kau tidak suka? Aku pernah mencoba mencium mu tapi kau selalu lari, ku kira kau tidak suka jadi aku berhenti-"
Penjelasan Luffy membungkam bibir Law, begitu simpel dan mudah bagi Luffy, meskipun begitu tentu saja masih ada beribu keraguan di hati Law yang mulai berenang ke permukaan.
"...Kenapa aku? Itu bahkan bukan lamaran pernikahan, itu hanya tawaran kerja sama! Kenapa pula kau terima ajakan pernikahan dari orang asing! Apalagi itu dariku! Lihat aku! Apa kau benar benar tidak apa apa bersamaku?!"
"Huh sama saja di mataku, lagi pula aku suka padamu, apa butuh alasan lain? Lagipula kau itu keren, apa salahnya dengan itu?"
Simpel, bagai semuanya tidak perlu di buat rumit dan memang akan baik baik saja, Luffy memandang Law dengan mata yang begitu tulus tanpa maksud lainnya, berkata ia suka dengan Law dan sesungguhnya perasaanya telah terbalas bahkan jauh lama sebelum ia mabuk akan perasaan cintanya.
Bahwasanya sang matahari balas menatap seonggok bunga buruk rupa di antara hamparan bunga indah di sekitarnya, hanya menatap dirinya.
Ah benar benar, persetan dengan semua ini! Kini seperti perasaan bisa menyeruak bebas keluar dari tenggorokan Law tampa belenggu, ia menatap Luffy dengan genangan air mata yang kini bukan di dasari oleh perasaan putus asa melainkan bahagia.
"Cium aku"
"Bukannya kamu tidak su-"
Kesal akan lamanya respons yang di berikan Luffy, Law menarik kerah sang manusia karet dan menabrakkan bibir mereka berdua secara kikuk, merasakan Luffy yang langsung mendekap pinggang dan mengelus rambutnya, menciumnya kembali seperti orang kelaparan, hanya berpisah untuk mengambil nafas sebelum lanjut menciumi satu sama lain seperti akhir dunia sudah dekat.
Sang bunga dengan satu petal yang telah robek dan terkulai, menyatu dengan tanah, menyemburkan benih benih bibit bunga kecil yang mulai tumbuh perlahan, menghasilkan ribuan bunga matahari yang berdiri kokoh dengan indah, membuat bahkan sang surya merasa bangga.
.
.
.
.
.
.
Ah ya dia harus berbicara empat mata dengan ketiga temannya tentu saja secara empat mata setelah ini.
Lihat saja mereka.
