Actions

Work Header

Pacaran Tidak, Sih?

Summary:

Begitu banyak pertanyaan dalam diri March saat menyaksikan interaksi teman seangkatannya dengan teman masa kecilnya.

Notes:

Gak pakai beta reader so read at your own risk! selamat baca :D

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Kalau menurut March, Dan Heng itu terlalu sering dimanja Jing Yuan.

 

Bagaimana proses penarikan kesimpulannya?

 

Begini, kalau tiba-tiba dirimu dipeluk dari belakang, pastinya terkejut, kan? Nah, itu satu. Kepekaan Dan Heng sudah hilang jika Jing Yuan yang melakukannya.

 

Yang kedua, kalau seseorang mengelus pipimu dengan pipinya, bukankah pipinya akan sakit? Nyeri? Karena serangkaian kulit bertemu kulit?

 

Nah, lagi-lagi Dan Heng tidak merasa seperti itu. Saat Jing Yuan memeluknya dari belakang dan mendekatkan pipinya dengan pipi Dan Heng, si hijau itu seolah sudah terprogram untuk membalas tempelan itu dengan menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, seperti anak kucing berbulu yang menerima belaian.

 

Tapi Dan Heng kan bukan kucing!? Dia tidak punya bulu!

 

Kemudian yang terakhir, setiap Jing Yuan tidak ada di sekitarnya, Dan Heng akan memperlakukan temannya seperti pengganti Jing Yuan!

 

Contohnya? Seperti saat Jing Yuan ada urusan kepanitiaan selama beberapa hari, di hari itu juga Dan Heng mengikuti pergerakan Stelle dengan menggandeng ataupun memeluknya dari belakang. Dan Heng sendiri tidak mengatakan secara langsung bahwa perilaku itu sebagai coping mechanism atas hilangnya Jing Yuan selama beberapa hari di hidupnya, tapi Stelle yang ditempeli pun hanya mampu memberi reaksi, "Bejir kiamat nih bentar lagi."

 

Dan March sangat amat setuju dengan celetukan tak beradab Stelle.

 

Begini, kalau seandainya Dan Heng juga terbiasa clingy dengan teman lainnya, mungkin March dan yang lainnya bisa mewajari hal ini. Tapi selama ini, dan heng benar-benar hanya clingy dengan Jing Yuan. Jadi, ketika mendapati perilaku Dan Heng satu ini, tentu saja celetukan Stelle masih terasa valid.

 

"Mana kadang dia tuh numpuin berat badannya di gue. Dan Heng kan berat, yak. Gue segede ini juga gak sekuat itu buat nahan dia. Keren, ih. Abang Yuan. Manyala Jing Yuannya Dan Heng." Ujar stelle pada akhirnya, ditambah pose 'menyala abangku'.

 

Semua insiden di segmen tiga berakhir saat Jing Yuan kembali. Tentu saja naga kecil itu kembali pada kebiasaannya menempeli Jing Yuan, meletakkan kepalanya untuk bersandar manja di bahunya dengan mata terpejam, mendengkur saat jemari Jing Yuan mengelus pipinya. Kepala yang terlihat berusaha menyesuaikan ritme elusan, seperti kucing yang menikmati sentuhan tuannya.

 

Kembali lagi pada topik, tahu apa yang paling mencengangkan dari semua ini?

 

"Aku dan yuanyuan? Tidak, kami tidak pacaran."

 

March masih ingat betapa mencengangkannya suasana di siang itu, bahkan hampir-hampir Stelle akan mencari serta mengarahkan tinjunya pada Jing Yuan kalau tidak ditahan Guinaifen dan Sushang yang di masa itu tengah numpang ngadem di sekre.

 

"T-tapi kalian seperti orang pacaran loh—b-bahkan lebih intens..."

 

Dan Heng terdiam cukup lama, nampak berpikir keras akan ucapan March. Dan ucapannya lebih mengejutkan dari insiden di atas.

 

"Bukannya wajar, teman baik seperti itu?"

 

Bahkan Guinaifen dan Sushang yang mendengarnya pun ikut tercengang, melihat betapa santainya Dan Heng saat mengucapkan rangkaian kata tersebut.

 

Belum saja March sempat menjelaskan, biang masalah utama hadir dan melakukan hal yang masih membuat seisi ruangan tercengang. Jing Yuan mengecup pipi Dan Heng, sebelum kembali menjarah rambut Dan Heng dengan memberikan suara kecupan berisik. Si empunya kepala hanya berusaha menyesuaikan dengan pergerakan Jing Yuan.

 

"Hm? Kenapa pada ngeliatin?" Ucapan yang sangat tidak membantu saat si surai putih kini malah bergerak menuju aarea leher dan bahu Dan Heng, tanpa malu menggesekkan batang hidungnya di perpotongan leher Dan heng. Si surai hitam hanya membalas dengan memberi elusan pada kepala Jing Yuan.

 

Mulut March yang semula terbuka kembali mengatup, enggan melanjutkan percakapan saat objek percakapan ada bersama mereka. 

 

Namun lagi-lagi seisi ruangan dibuat tercengang. 

 

Jemari Jing Yuan bergerak menuju pinggang Dan Heng, kemudian meremasnya pelan tanpa membutuhkan tenaga banyak. Yang disentuh juga ikut mengalungkan tubuhnya pada tubuh besar itu—mencari afeksi dengan elusan di pipi, total abai akan tatapan mata emas bagaikan predator yang kini mengunci pandangannya kepada March. Tangan di sisi lain ikut terangkat, mengarahkan telunjuk panjangnya untuk diletakkan tepat di atas mulut Jing Yuan sendiri.

 

Biasanya March bodoh jika disuruh menebak sesuatu, namun kali ini entah bagaimana March paham akan maksud isyarat yang diberikan.

 

Diam. Itulah yang diisyaratkan Jing Yuan.

 

Degup jantung di dalam diri March semakin kencang terdengar, memberi ruang bagi Jing Yuan untuk membawa Dan heng yang saat ini telah bersemayam dalam dekapannya.

 

"Aku dan A-heng pergi dulu, sampai jumpa, astral mini."

 

Setelah ucapan terakhir Jing yuan dan keduanya meninggalkan ruangan, Seisi ruangan yang tersisa bersepakat untuk menganggap apa yang mereka lihat tadi tidak pernah terjadi.

 

 


ANOTHER VIEW

 

Deep down, Jing Yuan tahu bahwa dirinya lah yang paling mengerti soal Dan Heng.

 

Cara Dan Heng makan, makanan apa yang dibenci dan disuka, kebiasaan dirinya menggigit kuku saat pikirannya penuh,  ac yang harus dimatikan saat jam 4 pagi atau Dan Heng akan menggigil sepanjang hari, hal pertama yang Dan Heng lakukan saat mandi, di hari apa Dan Heng membasuh rambutnya (dan bahkan meminta Jing Yuan untuk bantu bersihkan rambutnya), bagaimana rambutnya begitu halus karena berbagai treatment yang ia gunakan guna menutrisi helai rambutnya, kulit lengan Dan Heng yang dikeluhkan kurang lembab namun halus dalam genggaman, atau pipi yang memerah saat mulutnya menggerayangi sudut cuping dan mengemutnya, atau di titik mana ia akan klimaks saat kelaminnya menerima kuluman Jing Yuan.

 

Semua Jing Yuan tahu.

 

Ia tidak perlu status jika Dan Heng tidak membutuhkannya. Yang ia perlukan hanya Dan Heng yang akan terus menatapnya, mengelusnya, dan bergantung padanya.

 

Hanya padanya saja.

 

Tawa kecil keluar dari mulut Jing Yuan, memancing Dan Heng untuk kembali menatap figur besar yang saat ini tengah mendekapnya di tengah tontonan malam mereka.

 

"Kenapa?" Tanya Dan Heng singkat, merasa janggal saat mendengar tawa Jing Yuan yang tidak sinkron dengan betapa mencekamnya tontonan yang mereka saksikan.

 

Deheman terdengar sebelum Jing Yuan membalas, "Nggak. Bed head kamu keliatan tadi. Lucu."

 

Dan Heng hanya mendengus dan kembali bersandar pada diri Jing Yuan, melewatkan kesempatan untuk melihat bagaimana tatapan Jing Yuan yang kini terkunci dan berpusat padanya. Dan beruntung saja Dan Heng tidak melihat tatapan itu, karena tidak ada seorang pun akan merasa nyaman bersitatap dengan Jing Yuan saat ini.

Notes:

MAKASI SUDAH MAU BACA SAMPAI AKHIR!!

find me as @sunedeay on twitter (x)