Actions

Work Header

call me at seven and stay until eleven

Summary:

19.03 ricky
aku kayaknya malem ini gak bisa tidur deh kak
saking deg-degannya besok berangkat ldk basket

19.04 hanbin
mau call?
biar kamunya gak terlalu kepikiran

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Gue ketika jadi anak basket di sekolah. Eh, Fin, Fin, tangkep ya. Ah shit, sorry, sorry.” Tidak ada salam, tidak ada sapaan. Begitulah cara Hanbin dan Ricky memulai pembicaraan melalui telepon. Gurauan dari Hanbin direspons dengan gelakan tawa yang tidak lama setelahnya dilanjutkan oleh Ricky, “Ih, guys, guys! Itu kan Kak Bagas? Kak Bagas, Kak Bagas, minta foto dong?”

 

Sebenarnya candaan ini sudah berkali-kali didengar, tetapi masih tergolong lucu bagi mereka – apalagi karena salah satu dari keduanya memang anak basket yang cukup populer meski masih anak tingkat satu. “Kayaknya nanti kelas sebelas kamu bakal makin sering denger kalimat ini deh. ‘Kak Ricky ih, aku nge-fans banget, tutor dong, kak, dribble-nya’–” 

 

“–Kak Hanbin, plis aku merinding dengernya,” potong Ricky cepat sebelum Hanbin mampu melanjutkannya. “Boro-boro deh aku ngebayangin jadi anak basket pas kelas sebelas, ngebayangin LDK besok bakal kayak gimana aja aku udah keburu lemes,” lanjutnya, kekehannya pun perlahan hilang, menunjukkan bahwa ia memang tidak merasa santai untuk kegiatannya esok hari.

 

Jika saat ini mereka sedang berada di tempat yang sama, mungkin Hanbin dapat menenangkan anggota basket itu dengan sentuhan afeksi. Nyatanya mereka berdua sedang terpisah jarak, yang bisa ia lakukan hanyalah memberi afirmasi positif kepadanya, “Everything’s going to be alright, Ky.”

 

Yes! I will survive! I will make it out alive!” saut Ricky semangat tiba-tiba. “Tapi aku takut gak bisa jaga barang pas LDK gitu, kak, mana bakal baru tau bendanya pas udah di sana lagi.” Kobaran api yang semula ada sekarang redup begitu saja ketika kembali berimajinasi tentang latihan dasar kepemimpinan.

 

Padahal niat awal Hanbin menghubungi Ricky adalah untuk membantu mengentengkan pikiran pacarnya – iya, keduanya telah resmi sebagai sepasang kekasih setelah dua bulan berkenalan. Namun, kelihatannya yang lebih muda itu tidak bisa mengeluarkan berbagai skenario yang mungkin akan terjadi.

 

Kebetulan Hanbin sudah pernah melalui pelatihan tersebut semasa menjabat sebagai anggota OSIS, maka ia mencoba memberi gambaran untuk membantu Ricky. “Dulu aku amanahnya – bentar aku coba inget-inget ya sambil aku sebutin. Kayaknya tuh butir sereal, pohon toge, tali sepatu. Masih ada lagi, tapi yang paling epic name tag sih.”

 

Perbincangan mereka kemudian berlanjut dengan berbagai pertanyaan mendalam dari Ricky, ia meminta Hanbin untuk menceritakan keseluruhan berjalannya acara kepemimpinan itu. Dengan senang hati yang lebih tua menjawab dan menjelaskan, “Butir sereal waktu itu hampir semuanya gagal, sempet ada yang bisa, cuman akhirnya kehempas gara-gara disuruh duduk siap. Pohon toge aslinya tambahan untuk beberapa anggota aja, kayaknya random deh yang kena amanah itu. Tali sepatu, nothing special, bisa dijalanin.”

 

“Eh, kamu pernah megang gorengan pakai bare hands gak, Ky? Dulu beberapa menu sarapan juga dijadiin tanggung jawab,” tanya Hanbin tiba-tiba. Ricky membuat pose berpikir di balik teleponnya, “Maksudnya pakai tisu? Kayaknya pernah-pernah aja.”

 

“Bukan, megangnya yang kayak ditangkupin di telapak tangan dan dikepal sambil dibawa pergi. Tangan aku gapapa sih, paling berminyak dan basah aja,” jelasnya. “Tapi take it easy aja, Ky, seinget aku LDK Basket gak seribet LDK OSIS kok. If I can make it through, then so do you,” sambungnya, menambahkan beberapa kata semangat kepada kekasihnya. Akhirnya, yang lebih muda berterima kasih banyak karena keadaannya kini sudah lebih tenang.

 

Sepasang kekasih itu pun meneruskan dialog mereka. Hanbin sempat mengatakan baterai ponselnya berganti warna merah – tanda bahwa persentasenya tinggal sedikit. Ricky bilang, tidak apa-apa jika ingin menyudahkan panggilannya, tetapi wakil ketua OSIS tersebut menolak dan mengujarkan bahwa tidak apa-apa pula untuk melanjutkan percakapan sambil mengisi daya.

 

Setelah dirasa topiknya dari tadi kebanyakan tentang Ricky, ia pun mengganti fokusnya ke pasangannya, “Besok Kak Hanbin ada pendalaman materi?” Tentu saja itu pertanyaan retoris, jelas-jelas besok merupakan hari Jumat dan pekan ujian sudah mendekat, pastilah Hanbin memasuki masa-masa sibuk menghadiri kelas tambahan di pagi hari.

 

“Ada, di pertemuan sebelumnya anak-anak kelas disuruh bikin catetan sesuai dengan metode yang menurut kami masing-masing efektif, terus besok dikumpul deh hasilnya,” jawab Hanbin disertai suara cetekan pulpen, sepertinya ia sedang menuliskan sesuatu.

 

“Metode? Maksudnya kayak mind mapping atau rangkuman biasa gitu?” tanya Ricky. Hanbin mengangguk walau yang di seberang sana tidak dapat melihatnya. “Iya, Ky, tapi yang rangkuman gitu ada banyak jenisnya kan. Ada yang ditulis dari bagian umum ke khusus, ada juga yang dikasih kata kunci, sama ada yang – ini lebih ke teknis sih – dicoba inget-inget dulu isi materinya apa aja dibanding langsung salin fakta dari buku.”

 

Ricky menggumamkan seruan ‘wah’, entah sudah berapa banyak hal baru yang ia peroleh hanya dari telepon malam hari ini. “Aku juga baru tau tips and tricks kayak gini pas kelas dua belas, kalem aja kamu gak perlu ngerasa gimana-gimana karena baru tau,” lanjut Hanbin. Inilah yang paling Ricky suka dari kakak kelas kesayangannya, apa pun pengetahuan yang akan ditukarkan oleh Hanbin, ia akan memberi tahu tanpa membuat lawan bicaranya terlihat bodoh.

 

Waktu kini sudah menunjukkan pukul 11 malam ketika Ricky berkata ia sepertinya sudah mengantuk. Layaknya mengulangi peristiwa charge hp, Hanbin mengatakan tidak masalah jika ingin menyudahkan panggilannya, tetapi pemain bola basket tersebut menolak dan mengucapkan bahwa tidak masalah pula untuk tetap berkomunikasi hingga dirinya terlelap.

 

Beberapa saat setelah itu, Hanbin sudah tidak menangkap suara dari seberang sana – tanda bahwa adik kelasnya sudah sepenuhnya pergi ke alam tidurnya. Ditunggunya beberapa menit hingga durasi sambungan itu mencapai 4 jam bulat, setelahnya Hanbin menangkap layar tersebut dan mematikannya.

 

Tidak lupa juga ia mengirim pesan penutup di ruang obrolannya bersama Ricky, “Good night, Ky. Sampai ketemu besok di sekolah dan jangan sampai lupa bawa perlengkapan LDK-nya. Love you,” disertakan pula beberapa emoji dan stiker gemas sebagai pendukung kalimatnya.

Notes:

hi guys makasih udah bacaaa! ya ampun lucu banget ya remaja... really glad binrick (in this universe) experience this kind of young love T___T i’m so fond of them, they’ve grown so much in me... let me know your thoughts and this fic won’t happen without binrick’s recent selca so thank you as well binrick lololoveyou.

title from: 7pm by bss feat peder elias