Work Text:
Malam itu, sebotol liquor mahal dituangkan pada tiga gelas mini yang terletak di meja kaca ruang tengah apartemen. Rasa pahit yang membakar tenggorokan, tak dihirau oleh ketiga pria yang masih setia menyesapnya.
Bukan tanpa alasan, malam ini mereka bertiga mengadakan acara kecil-kecilan, guna menyambut keberhasilan di hari esok.
Rencana yang telah dipersiapkan dengan matang,
Rencana yang telah diprediksi tingkat keberhasilannya,
Rencana yang memiliki sekian banyak cadangan jikalau gagal,
Mereka telah memikirkannya.
Malam ini, salah satu dari mereka bertambah umurnya. Berkurang usianya. Kendati demikian, mereka merayakannya.
"Besok, aku akan jadi tameng kita! Kalian fokus saja dengan acara utamanya, biarkan aku yang menghabisi sisanya!"
"Hmph, membiarkanmu maju sendirian adalah keputusan yang ceroboh."
"Aah?! Memangnya ada yang sekuat diriku dalam menghalau serangan-serangan brutal? Lagi pula, kemampuanku adalah mengembalikan serangan mereka, sebanyak serangan yang kuterima."
"Kamu masokis, ya?"
Wajah mereka merona merah, entah karena efek dari alkohol, entah karena efek adrenalin yang mereka rasakan dalam penantiannya akan hari esok.
Yang berulang tahun hanya diam, tersenyum melihat dua rekannya yang lain masih berdebat ria.
Kedua pipinya bersemu, pandangannya mulai berkunang-kunang. Gelas liquor sudah diletakkan sejak tadi, sepasang kelopak matanya terasa berat.
Samar-samar, suara kedua rekannya memudar, ia memasrahkan diri pada kegelapan yang merengut kesadarannya.
Siapapun, tolong katakan padanya kalau ini hanya bunga tidur.
Siapapun, katakanlah bahwa ia belum pulih dari mabuknya semalam. Katakanlah, apa yang terjadi di depannya saat ini hanyalah ilusi.
Siapapun, mohon bangunkan dia.
Hei, bukankah hari ini ia sedang berulang tahun?
Dewa dan dewi sungguh kejam jika ini adalah hadiahnya.
"Jangan muntah di perjalanan."
"Sialan, aku tak selemah itu!"
"Siapa yang tahu? Lagi pula toleransi alkoholmu rendah, kenapa nekat minum banyak?"
"Ugh, itu liquor mahal."
"Lantas?"
"Nikmatilah seolah itu adalah terakhir kalinya kau menenggak minuman sialan itu."
"Bodoh."
Dan siapa yang menyangka, malam itu benar-benar malam terakhir si surai putih meminumnya?
Siapa yang menyangka, malam itu adalah malam terakhir mereka bersua dengan canda dan tawa?
Dinding kokoh yang akan menjadi tempat pertempuran mereka hari ini, telah diblokir oleh puluhan wanita. Menghalangi mereka supaya tidak menerobos lebih jauh.
Masing-masing orang menggenggam erat mikrofonnya.
Deru nafas tak beraturan.
Alunan nada yang kasar.
Muntahan lirik yang menyayat hati.
Satu per satu tumbang, namun tidak dengan pihaknya. Hah! Ini belum ada apa-apanya.
Divisi lain berpencar, demi efisiensi waktu, katanya. Sedangkan divisinya tetap menerobos maju.
Selagi dua rekannya berhadapan dengan para bawahan pemerintah, ia menyadap gedung tersebut untuk mempermudah akses mereka.
"Ketemu." Ia berujar dengan nada baritone yang khas, tegas, namun terselip kebahagiaan yang memuncah di dadanya.
Mereka akan bertemu hari ini.
Perang akan selesai dalam waktu dekat.
Semua akan kembali berkumpul dengan yang terkasih.
Ah, naifnya, dia.
"Aku bukan kakak yang baik."
"Kamu adalah kakak yang baik, dia pasti bangga padamu. Bukan salahmu, pemerintah sialan ini mengambilnya paksa darimu. Kamu sudah melakukan yang terbaik."
"Um, yah..."
"Lagi pula, kita akan melakukannya bersama-sama, kan?"
Para kroco telah tumbang, menyisakan suara nafas serta langkah kaki yang seolah diburu waktu.
Persimpangan.
Mereka akan berbelok, namun sesosok manusia menyita atensi salah satu dari mereka.
Suara hak tinggi yang bergema, tak seberapa, namun cukup memekakkan telinga. Surai seputih salju sebahu, sepasang iris semerah darah, tatapan datar, mikrofon dengan aksen perpaduan tengkorak dan pedang di tangannya.
Matanya tajam menatap salah satu dari mereka, seorang yang mirip dengan wanita tersebut.
"Biar saya yang menghadapinya. Kalian, tetaplah maju."
Namun, tepukan pada pundak menghalangi polisi tersebut untuk melancarkan liriknya. Gema sirine yang sempat menyalang ganas, seketika sirna.
"Biarkan kami menyelesaikan ini. Ini masalah keluargaku."
Nadanya rendah, sarat akan berbagai emosi.
Di matanya terpancar rindu, sedih, serta kasih sayang yang amat dalam.
Namun, mereka percaya.
Mereka seharusnya tidak memercayainya.
Kini tinggal mereka berdua. Mereka berlari menuju sel bawah tanah yang sangat tersembunyi di gedung ini.
Kemampuannya dalam membuat kode, sangat membantu untuk membuka pintu-pintu yang memerlukan akses dengan cepat. Sehingga tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk sampai di tempat tujuan.
Namun, sel penjara yang mereka bayangkan, bukanlah sebuah tempat gelap nan kosong, dengan panggung sandiwara di tengahnya.
Cahaya remang menyinari seseorang yang tengah berdiri di atas panggung tersebut, tepat di tengah-tengah.
Sebuah gumaman mengalir dengan mulusnya,
"Iojaku Ansho..."
seolah nama tersebut memang sudah terukir dengan baik dalam dirinya.
Pria yang dipanggil berbalik, menatapnya.
Dengan tatapan yang tak ia kenal.
Dengan raut wajah yang tak pernah ia ingat.
"Kenapa lama sekali?"
Hatinya mencelos.
Apakah ia terlambat? Apa yang lama? Kedatangannya, perjuangannya, pemantapannya, apa...?
Di sampingnya, sang polisi sudah memasuki pose siaga. Mikrofon dinyalakan, bersiap akan serangan bait lagu pertama.
"Busujima Mason Riou,
Sudah lama kau buat komandan ini menunggu.
Siapakah kamu? Masihkah jati diri tentara ada padamu?
Sepertinya kau perlu pendisiplinan ulang,
Bersiaplah untuk pertempuran yang 'kan datang."
Refleksnya membuat tubuhnya berlari melindungi sang rekan. Hantaman lirik tersebut cukup membuat mentalnya terguncang meski baru bait pertama.
Dirinya bukanlah seorang yang lemah. Satu serangan dan bisa melumpuhkan lawan, hanya satu jawabannya.
True Hypnosis Mic.
Dirinya bangkit, dengan pandangan yang buram dan kaki gemetar hebat. Dipaksakan otaknya berpikir, memutar segala kata yang lewat untuk disusun sebagai senjata.
"Sersan ini sudah melakukan segala cara untuk membebaskan sang pemimpin.
Misi-misi sulit sersan lakukan tanpa henti.
Ajaran, anjuran, gaya hidup, semua sersan lakukan sebagai bentuk pengabdian.
Namun mengapa yang sersan ini dapat adalah pengkhianatan?"
Iojaku Anhso tidak bergeming. Liriknya tak mampu menembus dinding hipnotis itu.
Serangan balasan diberikan, dan dalam satu bait, rekannya, jatuh.
Dengan darah yang mengalir dari telinga serta hidungnya, namun ia hanya bisa diam, dengan perasaan berkecamuk. Mempertanyakan berbagai "mengapa".
"Riou, bergabunglah dengan Chuohku."
Kata-kata tersebut, bagai sambaran petir di tengah teriknya matahari, di tengah tandusnya gurun. Kecewa, satu kata itu bahkan tak cukup menggambarkan perasaannya.
"Tugas kita adalah melindungi Jepang, namun jika kita bisa menguasai Jepang dan dunia ini, bukankah kita bisa mengatur kedamaian yang kita impikan itu?"
Ia yakin, di hadapannya bukanlah komandan yang ia hormati itu. Ia yakin, di hadapannya hanyalah kloning, seperti Amemura Ramuda serta puluhan kloningnya.
Langkah sepatu bergema di ruangan itu, sebuah tepukan menyapa bahunya.
Sentuhan itu, apa ini...? Kenapa begitu nyata? Kenapa begitu familiar? Kenapa begitu mirip?
"Ikutlah denganku, Riou."
Iojaku Ansho tidak mungkin mengatakan itu. Cara tersebut, adalah prinsip yang dibencinya. Yang tak mungkin akan ia lakukan. Namun semua tampak nyata.
Siapapun, tolong katakan padanya kalau ini hanya bunga tidur.
Siapapun, katakanlah bahwa ia belum pulih dari mabuknya semalam. Katakanlah, apa yang terjadi di depannya saat ini hanyalah ilusi.
Siapapun, mohon bangunkan dia.
Gemerlap cahaya yang tiba-tiba, menyapa penglihatannya.
Di sekelilingnya, stadion yang megah mengitari panggung tempatnya berpijak.
Seperti panggung Division Rap Battle.
Di atas stadion itu, para wanita menatap hina ke arahnya. Di arena seluas ini, terasa begitu sunyi, dilatarbelakangi bisikan-bisikan menyayat mental.
"Tentara itu, gagal menyelamatkan komandannya."
"Ah, rekannya bahkan tumbang di sampingnya, kau tidak lihat?"
"Dia bahkan tak bisa menyelamatkannya."
"Oh! Bagaimana dengan kakak dari Aohitsugi Nemu?"
"Dia tak jauh lebih baik, Nemu-chan menghabisinya tanpa ampun!"
"Eeehhh, tentara itu meninggalkannya?"
"Jadi, tak ada satupun yang selamat, ya?"
"Hanya dia?"
"Hanya dia."
Bisikan yang terus berdengung di telinga, tak ada hentinya. Dan sepertinya tak ada yang berniat menghentikannya.
Apa dirinya benar-benar seorang tentara? Bagaimana bisa ia masih menanggap dirinya tentara, sedang menyelamatkan orang-orang terdekatnya saja, ia gagal? Tentara macam apa itu?
"Sejak awal, seharusnya kau ikut denganku."
Itu Kubiki. Kenapa dia disini?
Dirinya berbalik, disana, Kubiki mengenakan seragam Chuohku. Berjalan ke arah Iojaku Ansho, berdiri di sampingnya selayak sersan yang patuh pada komandannya.
Tidak seperti dirinya.
Tidak seperti dia.
"Kuperintahkan sekali lagi, bergabunglah dengan Chuohku."
Ia bergeming, masih berlutut, tenggelam dalam kekalutan pikirannya. Sebuah bayangan melintasinya. Selayaknya anak kecil yang takut akan hantu, patah-patah, dia mendongakkan kepala.
"Aku, akan ikut dengan adikku."
Siapapun, katakanlah ini hanya mimpi.
Siapapun, mohon bangunkan dia.
"Saya akan menciptakan dunia dengan aturan baru disini. Riou, bersedia kah kamu untuk kembali membantu saya?"
Mereka berdua, berdampingan, dengan bekas darah yang diseka seadanya, serta kedua bahu yang diselimuti jubah Chuohku, mereka berdua, menawarkannya rumah, lagi.
Tak hanya mereka, komandan serta rekan seperjuangannya dulu, mengulurkan tangan mereka. Mereka, yang pernah menjadi rumahnya.
Rumah yang dulu maupun sekarang, tak lagi sama.
Rumah yang sudah hancur, digantikan dengan yang baru, yang tak sama seutuhnya, yang berbeda sepenuhnya.
Dia masih memegang erat prinsipnya, dia masih berpegang akan keyakinannya terhadap aturan dunia. Dia masih setia pada sumpahnya sebagai tentara dahulu, maupun sumpahnya sebagai anggota Mad Trigger Crew.
Namun, setelah dipikir lagi, apa arti tentara baginya? Seorang prajurit yang setia pada negaranya? Setia pada rekannya? Setia akan prinsip perang dan dunia?
Apa arti tentara?
"Ah, Riou..."
Pemimpinnya —bukan komandan— memanggilnya. Dengan senyuman, senyuman yang entah mengapa, terasa dingin, namun tulus, dengan setitik kehangatan di sana.
Di sebelahnya, sang polisi memandang dengan ekspresi yang sama. Mereka berdua, jiwanya masih sama, dengan pikiran yang sudah dicuci ulang.
"Selamat ulang tahun, Riou."
Setitik air mata jatuh dari pelupuknya. Dadanya sesak. Napasnya tersendat.
Dewa maupun dewi di atas sana, inikah balasan untuk pengabdiannya? Tega sekali engkau memberikan kejutan seperti ini.
Apakah ini nyata?
Siapapun, tolong, bunuh saja dia.
Supaya mimpi buruk ini berakhir.
Rasa sesaknya, kecewanya, sedihnya, amarahnya, semua tak berguna.
Dunia sedang melawannya.
Dirinya sendirian.
Siapapun,
tolong dia.
