Work Text:
Sekolah yang pulang lebih awal adalah surganya para siswa. Begitu juga para siswa SMA Yeoshon di pusat Gangnam. Bedanya, mereka pulang dengan keadaan setengah ngeri juga bingung.
Dua jam yang lalu seorang siswa penderita skizofrenia membunuh seorang temannya lalu ikut bunuh diri setelahnya.
Hal itu menjelaskan mengapa Chanyeol dan Baekhyun berada di halte seberang sekolah untuk menunggu bus. Sepasang kekasih itu terlambat untuk bus pertama dan menunggu untuk bus kedua.
Tiba-tiba, Baekhyun menyentak duduknya dan berdiri.
"Chan, buku tugasku tertinggal di kelas." Baekhyun berucap panik sedang memikirkan bukunya yang masih berada di laci mejanya.
Ada tugas untuk hari esok dan mungkin Baekhyun akan berdiri di tengah lapangan sepanjang hari jika tak mengambil bukunya untuk dikerjakan.
"A-aku akan mengambilnya."
Chanyeol membulatkan matanya dan dengan tegas berkata tidak.
Baru saja ada kejadian naas dan Baekhyun malah seperti melemparkan diri ke kandang singa. Namun, luluh juga ketika Baekhyun berkata berpuluh-puluh 'tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja' akhirnya Chanyeol melepaskan kekasihnya memasuki gedung dengan dominasi warna biru tua.
Lima belas menit menunggu namun belum terlihat juga tubuh mungil lelakinya itu. Langit bahkan sudah mulai menggelap juga hujan yang sepertinya sebentar lagi turun.
Bus kedua sudah berlalu lima menit yang lalu dan mereka melewatkannya lagi.
Chanyeol berubah gelisah memikirkan si mungil mengapa butuh waktu lama hanya untuk mengambil buku. Tangannya mendingin dan angin yang bertiup kencang menambah kadar pikiran negatif Chanyeol.
Dia tidak tahan dengan pikiran-pikiran negatifnya tentang Baekhyun lalu memutuskan menyusul kekasihnya yang masih di dalam gedung sekolah.
Gedung itu gelap. Karena sudah sepenuhnya gelap juga mendung mendera langit dan rintik hujan yang mulai terdengar. Chanyeol berjalan pelan menuju kelasnya dan Baekhyun dengan perlahan. Tetap menjaga mata dan telinganya agar selalu waspada.
Baekhyun tidak ada di kelas, Chanyeol berkeliling dan sama hasilnya. Panik dan ketakutan seperti menggerogotinya dari dalam. Baekhyun dan dimana dia sekarang menjadi pertanyaan.
Melewati kamar mandi dan taunya Baekhyun ada di sana.
"Astaga Baek, aku cari kemana-mana ternyata di sini." Lega sepenuhnya menyusupi hati pria bertelinga peri itu.
Baekhyun menengok dan tersenyum tipis, tipis sekali sampai-sampai Chanyeol tidak menyadari ada yang aneh di senyumnya.
"Ayo, Baek, kita harus cepat pulang sebelum hujannya semakin deras."
Bebarengan dengan itu petir menyambar dan kilat terlihat begitu terang, namun hujan masih sekedar gerimis.
"Sebentar, Chan." Baekhyun berucap tenang.
Chanyeol menunggu. Bersender pada dinding di belakangnya sambil menatap Baekhyun yang balik menatapnya lewat cermin.
Menit terlewati begitu saja dengan hening tanpa ada satu pun yang berbicara.
Baekhyun berbalik, "Chan, perutku tidak enak sekali rasanya. Aku akan masuk toilet lagi. Tunggu sebentar, oke?"
Baekhyun menuju toilet dekat pintu, baru saja Chanyeol ingin mencegah jemari lentik itu agar tak membuka pintu namun terlambat dengan Baekhyun yang sudah membuka lebar pintu tersebut.
Matanya reflek membola juga mulut menganga, jelas sekali ekspresi terkejut dari lelaki bermata sipit itu.
Namun, hanya sebentar tergantikan ekspresi datar juga tangan yang perlahan melepaskan knop pintu. Tanpa menyadari kekasihnya yang tersenyum miring.
Di sana, ada dua tubuh siswa yang sudah tak bernyawa. Satu terduduk di kloset sedang perut robek dengan usus terburai jatuh pada lantai serta leher yang patah hampir putus dari tempatnya.
Lalu, satunya duduk bersender pada tembok. Tangannya terlihat memegang pisau besar yang menusuk perutnya sendiri dan seperti menariknya ke bawah sehingga luka yang ditimbulkan berbentuk vertikal. Baju penuh darah dan mata yang masih terbuka lebar.
"Oh, aku lupa kalau sudah mati tadi pagi dan kau ikut bunuh diri setelah membunuhku."
