Work Text:
Melukis adalah hidup Chanyeol. Dia sudah pada bakatnya sejak menginjak usia tiga. Dan itu berkembang hingga dia berkepala dua seperti sekarang.
Ayahnya memegang peran paling besar dalam mimpi Chanyeol menjadi pelukis. Pria 56 itu merawat juga membiayai segala fasilitas yang Chanyeol butuhkan dengan tangannya sendiri. Bahkan bukan hanya Chanyeol, kenyataannya Chanyeol memiliki satu anggota keluarga perempuan yaitu kakaknya. Ibunya meninggal saat Chanyeol bahkan belum mampu mengucapkan 'mama, papa'.
Saat itu Chanyeol yang masih memiliki 3 gigi atas dan 4 gigi bawah menonton serial televisi dengan seorang pelukis yang berkeliling dunia menjadi pembicaraan utama. Saat itu juga Chanyeol berkata pada ayahnya bahwa dia ingin menjadi seperti paman yang ada di televisi.
Masih Chanyeol ingat ayahnya terbahak saat mendengar ucapannya tapi tidak pernah menganggap remeh mimpi sang putra. Dia terus mendukung Chanyeol hingga pria 23 itu kini menjadi salah satu pelukis termuda yang mempunyai bayaran selangit.
Dua tahun yang lalu, dia membawa lelaki mungil ke rumahnya dan dikenalkannya pada sang ayah meminta izin ingin dinikahinya. Ayahnya setuju juga pada orang tua si mungil.
Mereka menikah, membangun rumah sendiri dengan uang yang Chanyeol hasilkan dan berencana mengadopsi seorang anak untuk menambah kebahagiaan keluarga kecil mereka.
"Bisakah kau sedikit menunduk, Baek. Itu akan terlihat lebih baik," ucap Chanyeol mengarahkan si mungil yang sedang duduk pada kursi tinggi di depannya.
Byun Baekhyun, begitulah nama orang yang Chanyeol nikahi dua tahun yang lalu. Dia menghela napas lelah sebelum menuruti permintaan kesayangannya.
"Tegakkan bahumu. Itu akan membuatmu terlihat lebih gagah." Chanyeol kembali berucap tidak peduli wajah muak milik Baekhyun di sana.
"Aku ingin kakimu sedikit ditekuk. Tapi apa itu akan membuatmu pegal?" Chanyeol bertanya namun sepertinya dirinya tak membutuhkan jawaban Baekhyun. Baekhyun pun rasanya enggan untuk menjawab.
"Chan, bisakah kita bicara?" Baekhyun bertanya, jelas sekali nada lelah di sana.
"Sebentar, Baek, aku sedang fokus sekarang," ucapnya tanpa mengalihkan matanya pada Baekhyun.
"Lalu kapan? Kau selalu mengul-"
"AKU BILANG AKU SEDANG FOKUS!"
Ucapan Baekhyun terhenti seketika saat Chanyeol membentaknya, sedang matanya menatap Baekhyun marah sebelum di detik berikutnya kembali cerah dengan binar seperti sebelumnya.
Baekhyun menatap Chanyeol sendu, Chanyeol membentaknya tapi Baekhyun malah kembali menemukan semangatnya untuk mengajak pria bertelingga peri itu bicara baik-baik.
"Ini sudah setahun lebih kau begini, Chan, tidakkah kau lelah?" tanya Baekhun hati-hati. Benar menjaga ucapannya jangan sampai membuat Chanyeol sakit hati.
Yang lebih tinggi terdiam sebelum menaruh kuasnya pelan. Menatap pada hasil lukisannya yang belum separuhnya selesai dengan tatapan kosong. Itu berhasil membuat Baekhyun mencelos seketika namun Baekhyun harus tetap pada tujuan awalnya.
"Hei, tidakkah kau lelah untuk berpura-pura, hm?" Chanyeol tetap diam bahkan saat Baekhyun berpindah di sampingnya.
"Mungkin kau tidak, tapi aku lelah, Chan. Sakit, memang sakit tapi ini sudah cukup." Tangan Baekhyun menyentuh bisep Chanyeol yang sebenarnya tidak benar-benar tersentuh.
"Kau menyakiti dirimu sendiri...juga aku, bisakah kau lepas aku?" Baekhyun benar menatap Chanyeol dengan tatapannya yang selembut kapas.
Chanyeol balik menatapnya dengan terluka dan jelas sedang memikirkan kata untuk menyanggah perkataan si mungil.
"Tapi aku tidak bisa, aku tidak sanggup, tolong mengertilah," mohon Chanyeol.
Tangannya berusaha menggapai jari lentik yang mengelus rambutnya tiap malam.
"Chanyeol lihat aku dan apa yang terjadi padaku. Kita memang sudah seharusnya berpisah." Tegas Baekhyun sebelum mendapat tatapan terluka milik Chanyeol untuk kesekian kalinya.
"Aku tidak bisa hidup denganmu lagi. Dan jawab pertanyaanku, bukankah ini menyakitimu?"
Manik mata Chanyeol membola menatap nanar pada lantai. Sakit, memang sakit, dia sakit dan dia tahu Baekhyun juga sakit. Tapi akan lebih sakit lagi jika dia melepas Baekhyun untuk pergi.
Melihat Baekhyun dengan tubuh yang transparan itu benar membuat lubang besar pada hatinya. Namun, dia tidak bisa melepas Baekhyun dan berakhir dia tidak pernah melihatnya lagi untuk selamanya.
Dia tidak bisa!
"Chanyeol, aku sudah mati. Ingat! Tolong ikhlaskan aku. Aku tidak bisa di sini lagi. Kau tidak bisa menahanku lebih lama lagi." Baekhyun menangis itu menyakiti Chanyeol lebih banyak.
Ucapan Baekhyu mengingatkan Chanyeol akan kejadian setahun yang lalu. Mereka masih di usia muda dalam berumah tangga juga sedang masa-masanya berpacaran setelah menikah. Chanyeol bahagia juga Baekhyun. Mereka berencana mengadopsi anak untuk ada di tengah-tengah mereka.
Pagi itu Chanyeol menyetir mobil dengan Baekhyun yang menggenggam sebelah tangannya. Mereka akan menuju panti asuhan untuk melihat peri-peri kecil yang akan mereka ambil untuk menjadi bagian kisah manis mereka.
Chanyeol tertawa dengan guyonan ringan Baekhyun dan Baekhyun mengatainya berisik dengan suara banjir bandangnya. Itu bertahan cukup lama sampai sebuah truk pengangkut barang melaju cepat kearah mobil mereka juga mobil-mobil sekitarnya.
Decitan keras terdengar dan Chanyeol tidak mampu menghindar dengan cepatnya truk itu ambruk menghantam mobil Chanyeol.
Kepulan asap mengudara juga suara ledakan yang Chanyeol dengar namun itu tidak bisa mengalihkan fokusnya pada suaminya yang terjepit pada kursi penumpang. Darah dimana-mana, Chanyeol panik juga rasa sakit pada kakinya.
Dia mendekat, meneriakan Baekhyun dengan jumlah tak terhingga. Sampai saat mobil meledak untuk kedua kalinya, pandangan Chanyeol terhalang api juga asap dan Chanyeol berubah emosi dengan Baekhyun yang berada di dalam mobil.
Namun, sakit di kepalanya ditambah rasa sakit akibat beberapa tulangnya yang patah menarik Chanyeol pada hitam yang menenggelamkan Chanyeol selama beberapa hari di rumah sakit.
Chanyeol mendapatkan kabar Baekhyun meninggal 3 hari setelah pemakaman. Tepat saat dirinya bangun dari koma. Kabar itu benar menjatuhkan Chanyeol pada kehidupan yang kelam dan tak berarah.
Dari reaksi tidak terimanya dan bayang-bayang Baekhyun yang masih di sisinya membuat Chanyeol menciptakan Baekhyunnya sendiri. Dialah yang berdiri di samping Chanyeol dengan tatapan sayang yang masih sama sejak mereka pertama bertemu.
"Kau akan pergi, hilang dan aku tidak suka."
"Tapi bukankah itu lebih baik? Tidak ada bedanya, aku akan tetap selalu mencintaimu apapun itu. Bahkan aku berhasil menepati janjiku untuk mencintaimu sampai mati, kan?"
Pria tinggi itu terlihat berpikir keras dengan genangan pada mata yang mulai mengumpul. Chanyeol menangis, untuk pertama kalinya di depan Baekhyun. Bahkan saat kematian Baekhyun saja Chanyeol hanya mengurung diri di kamar dan berubah depresi. Tapi tidak ada setetespun air mata yang keluar.
Lalu kini dia menangis tersedu hingga beberapa kali tersedak liurnya sendiri. Baekhyun mengiba, tapi dia bisa apa. Memeluk pun hanya akan menembus badan Chanyeol. Jadi dia hanya mampu mengucapkan kalimat-kalimat bahwa dia cinta Chanyeol dengan sangat.
"Ma-maaf sudah menyakitimu begitu lama," Chanyeol tersedak, "maaf membuatmu menunda ketenanganmu, aku hanya tidak sanggup tidak melihatmu, sayang."
"Aku tahu, aku tahu dengan sangat, Chanyeol. Tapi kita sudah berbeda dunia. Jadi mengertilah dan ayo lanjutkan cerita kita masing-masing."
"Kau tahu, kan, aku mencintaimu sangat banyak?"
Baekhyun mengangguk cepat, sampai Chanyeol khawatir jika kepala itu lepas dari tempatnya.
Chanyeol terkekeh melihat betapa imutnya Baekhyun dengan rambut yang bergoyang akibat anggukannya, bahkan saat tubuhnya transparan memperlihatkan beberapa perabotan rumah di belakangnya.
"Aku mencintaimu dengan segala hal yang kau miliki, Baek." Baekhyun menjawab dengan bibir bergerak tanpa suara 'aku tahu'.
"Tuhan sangat baik padaku memberikanmu untuk hidupku, sungguh, Baek. Kau yang pertama mendatangiku dengan segala kepolosanmu dan membuatku memaksamu memasuki hidupku. Aku mengikatmu dalam janji pernikahan, berjanji untuk selalu memberikan kebahagiaan dan bersumpah melindungimu. Tapi lihat, aku gagal, kan?"
Baekhyun mendekat meletakkan tangannya di pipi Chanyeol walau kenyataannya itu hanya mengambang saja.
"Tidak-tidak, kau membahagiakanku, kau melindungi, kau membuatku merasa yang paling sempurna di dunia. Jadi tolong jangan bicara begitu. Kau tidak gagal, Chan, tapi ini takdir. Tuhan mengambilku lebih dulu mencegah aku bertemu pria lain dan hanya kau pria yang bisa mengukir namanya dengan dalam di hatiku. Tuhan baik, Tuhan paling mengerti apa yang kita butuhkan." Baekhyun juga tersedak dalam tangisnya, "jadi mulailah dengan hal baru. Hidupmu adalah hidupku juga. Tolong lanjutkan itu dengan penuh semangat dan tuliskan banyak hal indah di sana. Kumohon."
Baekhyun mengemis benar mengemis untuk hal ini.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan mata basahnya, tapi Baekhyun tahu Chanyeol telah kehilangan beban berat dalam hatinya kini. Itu melegakan. Baekhyun dapat pergi dengan tenang dan mempercayakan separuh hidupnya pada Chanyeol agar hanya diisi dengan hal indah.
Chanyeol menunduk sebelum berbisik tertahan. "Pergilah."
Dia menangis dengan keras tidak peduli jika mungkin saja tetangganya mendengarnya. Dia meremas dadanya sendiri, sakit, namun anehnya dia merasa lega luar biasa.
