Actions

Work Header

The Name is Also Effort

Summary:

Yoon Jeonghan emang pecundang.

Notes:

ini universe yang sama dgn duda gemes series | kenapa gk dimasukin? krn yunongnya bukan duda lagi wkwkwkwk | ak kangen nulis aja pokonya, jadi asal taruh apa yg mau aku taruh | kok tau2 udah nikah aja? iyak soalnya draft nikahannya lupa | makasih udh baca

Work Text:

**

 

Jeonghan berencana untuk berhenti merokok besok.

 

Harusnya hari ini, tapi gak jadi. Karena di luar rencana, ada yang nawarin dia rokok gratis pas lagi nongkrong. Jadilah pindah ke besok. Itupun bisa aja bergeser jadi lusa, atau hari setelahnya lagi, karena Jeonghan gak tahu apa yang bakal terjadi di masa depan. Bukannya dia gak niat, niat banget malah. Cuma keadaannya aja yang kurang mendukung.

 

Ini akan menjadi kali ketiga dalam hidup Jeonghan untuk berhenti merokok. Di kali pertama dan kedua, semua lebih mirip jeda beberapa bulan atau kurang dari lima tahun ketimbang berhenti permanen. Kali pertama, karena menikah dengan Haseul dan cewek itu menuntutnya untuk berhenti karena rumah jadi bau. Tapi itu cuma bertahan beberapa bulan karena stres pekerjaan dan kesulitan dalam adaptasi pernikahan bikin Jeonghan kembali pada kebiasaannya. Lalu percobaan kedua adalah waktu Chan lahir, kali ini Haseul bener-bener ultimatum Jeonghan untuk berhenti tanpa kompromi apapun lagi. Jeonghan berhasil, sampai kemudian rumah tangganya dan Haseul tidak berjalan dengan lancar hingga akhirnya mereka memutuskan bercerai, dan Jeonghan…balik ngerokok lagi.

 

Tapi itu dulu, sebab kali ini Jeonghan sangat yakin untuk berubah dan berhenti merokok selamanya. Karena dia dan Jisoo sudah menikah, karena dia peduli dengan Jisoo, dan dia cuma ingin udara yang paling nyaman untuk Jisoo dan Hanna di rumah. Cuma emang…gak semudah itu.

 

**

 

Jisoo dari tadi udah bolak balik ngider di rumah karena selain beres-beres di hari libur itu, dia juga lagi ngecentang catatan yang dia tempel di kulkas soal apa aja yang perlu dilakukannya tanggal segini. Dia lalu melirik Jeonghan yang lagi bengong gak beranjak di teras sejak selesai nyuci motor tadi. Jisoo lalu menghampiri suaminya.

 

“Han, nanti kamu bisa tolong ambilin laundry gak? Mas yang biasa anter lagi gak masuk, dan Hanna perlu seragam buat lusa.”

 

Jeonghan terlonjak sejenak, “O-oh, bisa kok, bisa. Tutup jam berapa laundrynya? Aku jalan sekarang, ya?”

 

Jisoo melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tiga sore, “Masih jam lima sih, terserah kamu aja,” dia lalu berhenti sebentar dan mengamati suaminya yang lagi ngambil kunci motor dari wadahnya, “Kamu…gak apa-apa?”

 

“Hah? Maksudnya?”

 

Jisoo menggerak-gerakkan tangannya seperti mencoba menggambarkan situasi, “Kamu kayak…gelisah? Uring-uringan? Terus aku nyadar kalo udah semingguan ini kotak rokok yang terakhir kali kamu beli cuma berkurang dua batang.”

 

Itu bukan tebakan cenayang, karena apa yang dikatakan Jisoo memang begitu adanya. Jeonghan menghela napas sejenak, sementara Jisoo menanti jawabannya.

 

“Jadi, untuk satu dan lain hal, aku mutusin untuk berhenti merokok,” ujarnya.

 

Jisoo memiringkan kepala, merasa pertanyaannya belum benar-benar terjawab, “Karena alasan kesehatan…?”

 

“...Emm…iya dan nggak,” Jeonghan masih seolah gak yakin dengan responnya sendiri. “Intinya aku lagi menuju ke sana –berhenti total maksudnya. Kamu gak usah kuatir, aku cuma struggle. Dikit aja.”

 

Jisoo akhirnya mengangguk, dia kemudian mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Jeonghan, “Bilangin aja ya kalo ada yang bisa aku bantu,” dia tersenyum. Jeonghan lalu meraih tangan yang mengusap itu dan mengecup buku-buku jari Jisoo.

 

“Iya, makasih ya.”

 

**

 

Hari udah berganti besok, yang mana idealnya adalah titik awal Jeonghan memulai hidup barunya sebagai non-perokok. Tapi mengubah kebiasaan yang udah dijalani selama bertahun-tahun sama sekali gak mudah. Selain harus menahan diri untuk gak refleks nyebat, Jeonghan juga harus menahan diri untuk gak bersikap cranky. Harus fokus pada kegiatan lain yang dia lakukan, harus mengalihkan diri tiap ada rasa-rasa asem di mulut. Setidaknya sampai jam 12 siang usahanya cukup sukses, sampai tibalah waktu makan siang alias jam-jam ngelemesin badan sama ngaso-ngaso di warung budhe.

 

Jeonghan, kayak biasa, makan bareng sama Seungcheol dan Soonyoung. Mereka baru aja selesai makan dan nambah ngopi, sementara Soonyoung milih es doger. Seperti biasa juga, pas momen begini mereka bertiga bakal ngobrol ngalor ngidul sambil nyebat, kecuali Soonyoung.

 

Seungcheol menarik sebatang samsu dari kotaknya sebelum kemudian menggeletakkannya di meja, “Sianjir, udah ke berapa kali ini gue dapet spam message nyuruh gue nyekolahin BPKB,” Seungcheol membuka percakapan. “Tau aja sendernya kalo ini udah tanggal tua,” Seungcheol menghembuskan asap dari hidungnya.

 

“Kaga sekalian suruh bimbel tuh BPKB lu biar pinter,” Jeonghan gak menyadari tangannya meraih kotak samsu milik Seungcheol dan otomatis menyisipkan rokok di antara bibir sebelum kemudian menyulutnya. Dia langsung kepas kepus bak cerobong asap dan hal itu bikin Soonyoung melotot. Dia buru-buru meneguk habis es dogernya dan menegur Jeonghan.

 

“Bang, woi. Eling bang, eling!” Soonyoung sebagai yang pertama tau soal rencana Jeonghan berseru. Jeonghan cengo sesaat sebelum kemudian menutup mulutnya.

 

“Kenapa, nyong?” Seungcheol melirik Soonyoung.

 

“Bang Han kan lagi pengen berhenti,” Soonyoung menyahut.

 

“Widiiih canggihhhh,” Seungcheol sambil cekikikan nepuk-nepuk bahu Jeonghan yang langsung madesu setelah menyadari kebodohannya. “Kirain bakal gue duluan yang bertobat.”

 

“Gimana yak, ini kalo gue buang sayang,” Jeonghan mengambil satu hirupan lagi.

 

“Sianjir malah nambah, matiin woy, matiin!” Seungcheol ngeplak Jeonghan biar sadar, mendekatkan asbak ke arah anak itu. Tapi Jeonghan malah mengulangi perbuatannya sambil menatap nanar.

 

“Oke, gimana kalo sebatang ini jadi yang terakhir…”

 

Soonyoung merogoh sakunya, “Gua ada yupi nih bang, mau gak? Kali-kali aja bisa ngedistract hobi udud lo itu.”

 

Kejadian ini berulang, gak sekali-dua kali, tapi berkali-kali. Intinya, Jeonghan masih belum berhasil menghentikan kebiasaannya.

 

**

 

Yoon Jeonghan tuh emang pecundang. Gak salah. Pagi niat, siang gak niat. Sekarang sore, agak kendor. Nanti malem, dia bakal menyelinap keluar buat ngudud karena sejak menikah dengan Jisoo, Jeonghan gak mau merokok di rumah. Soalnya Jisoo terlalu apik, lalu Jisoo gak pernah ngeluh soal bersih-bersih. Makanya Jeonghan juga membuat batasan sendiri demi mengimbangi Jisoo; Jeonghan berusaha gak bikin kotor atau berantakan di sudut manapun di rumah mereka.

 

Makanya sore itu, setelah memarkir mobil di garasi, Jeonghan keluyuran bentar ke taman kecil dekat rumah dan mulai merokok. Lagi. Dia gak menyangka kalo ini bakal begitu sulit, jadi mungkin ada baiknya dia memulai pelan-pelan. Dengan wajah madesu, Jeonghan mulai ngecek ponselnya. Ternyata Hanna ngechat di WAG rumah mereka.

 

Hanna: @ ayah @ papa nanti kita makan malam apa?

Ayang: kayaknya kita beli aja malam ini, Hanna lagi pingin apa?

 

Jeonghan lalu melihat sekitar dan menemukan beberapa gerobak dagangan mulai buka lapak.

 

You: sate kambing mau gak? Papa udah di rumah nih, nanti mau ke tempat jajan

Hanna: mauuu sate, tapi ayam terus pake lontong ya pa 🤤

You: ok 👍 kamu apa @ ayang?

Ayang: samain aja sama Hanna. Hanna udah selesai les? Tungguin Bi E’et yah, nanti beliau telat sedikit soalnya anter anaknya dulu

Hanna: siap yaaaahh 

 

Tenda abang sate belum benar-benar selesai didirikan, maka itu Jeonghan bengong di bangku taman seraya menunggu. Tangannya seolah sudah autopilot aja untuk merogoh saku jaketnya dan mengambil rokok yang baru dinikmati 3 batang hari ini –biasanya bisa lebih. Tapi kali ini dia mengepalkan tangannya, membiarkan batang itu hanya terselip di antara bibir tanpa menyalakannya.

 

Kalo gini harusnya aman-aman aja, kan? Begitu pikir Jeonghan. Tukang sate terlihat udah selesai bersiap dan mulai membuka dagangannya. Jeonghan akhirnya melangkah untuk jadi pemesan pertama di situ. Dia melepas rokoknya sejenak, “Bang, sate ayam 10 tusuk pake lontong. Abis itu sate kambingnya 5 tusuk, bungkus nasi satu,” ujarnya. Si abang manggut-manggut dan mulai menyiapkan pesanan, tapi kemudian fokus Jeonghan tertuju pada korek yang digeletakkan di meja gerobak.

 

Jeonghan memutar rokok mati di tangannya dengan galau seraya berdecak.

 

“Mau korek, mas?”

 

Jeonghan termenung sesaat. Hari ini dia udah ngerokok 3 batang, dan tadinya berniat stop. Tapi lalu dia mikir, 3 itu angka ganjil yang mana gak enak diliat –menurut Jeonghan aja, meskipun gak ada yang peduli. Tangannya lalu meraih kotak korek api itu dan menyalakannya sebatang, sebelum kemudian dia mengibaskan korek itu perlahan saat rokoknya sudah menyala.

 

Sekarang genap 4, pikir Jeonghan. Dia tau dia tidak bersikap masuk akal.

 

**

 

Jeonghan merokok seperti penuh penghayatan dalam setiap hirupannya, seraya menunggu abang sate menyelesaikan pesanan. Dia bengong sambil duduk di bangku yang menghadap ke jalanan. Tak lama kemudian, sebuah motor dengan pengemudi dan penumpang berhelm ijo berhenti di depannya. Dari jaketnya yang familiar, ternyata itu Jisoo yang dianter ojol. Jisoo langsung menghampiri Jeonghan setelah mengembalikan helm abang ojolnya.

 

“Gapapa bang, saya turun sini aja. Itu ada suami saya,” Jisoo menjelaskan pada abang ojol. Jeonghan yang melihat Jisoo dari kejauhan buru-buru mematikan rokok soalnya dia malu. Kemarin udah yakin banget dia bakal berhenti, sekarang malah kegep. Jisoo menghampirinya, melambai kecil sambil tersenyum, bikin Jeonghan tersipu.

 

“Jalanan lagi lancar, ya?” tanya Jeonghan begitu Jisoo duduk di sisinya.

 

“Iya, gak semacet biasanya, at least. Kamu udah pesen?”

 

“Udah, tuh lagi dibikinin,” Jeonghan nunjuk abang sate yang lagi kipas-kipas. Jisoo lalu mengerling ke arah Jeonghan, menatapnya sejenak sebelum kemudian meringis jahil.

 

“Jadi gimana progress kamu berhenti…sebat?”

 

Jeonghan cuma bisa cengengesan canggung, “Progress sih sekitar 1,5% dibanding sebelumnya.”

 

“Kok gak pakai pembulatan, sih?”

 

“Kan aku lagi ngomong angka ke orang finance. Harus persis dong titik komanya,” sahut Jeonghan. Jisoo terkekeh kecil, kemudian Jeonghan merasakan Jisoo bersandar di bahunya.

 

“Gak apa-apa, Han.”

 

“Apanya?”

 

“...Berhenti dari kebiasaan buruk kan emang gak mudah. Yaa aku berharap kamu berhenti, karena aku pengen kamu sehat-sehat. But you can do it at your own pace. Gak perlu memaksakan diri demi kami,” ujar Jisoo.

 

“Aku gak maksain diri, kok. Walaupun sulit, aku bener-bener pengen lakukan,” Jeonghan meraih tangan Jisoo, menimang jemari di mana jari manisnya tersemat cincin yang kembaran sama yang Jeonghan pakai.

 

Mereka lalu diam sejenak, menikmati suasana sambil melihat pemandangan sekitar di mana para pedagang kaki lima mulai berjualan untuk malam, “Nanti malem mau aku kasih hadiah?” Jisoo ketawa jahil.

 

“Haish, jangan ngomongin gituan di tukang sate,” tepis Jeonghan. Walaupun dia gak bakal nolak juga. Kali ini Jisoo terbahak. Rasa lelahnya bekerja seharian seperti hilang entah ke mana. Hatinya terasa penuh karena dia gak menyangka bakal merasakan dicintai seperti ini oleh orang lain.

 

“Ayaaaah! Papaaapppp!” suara Hanna tiba-tiba terdengar, gadis kecil itu tampak turun dari motor dan melambai ceria ke arah orang tuanya. Hanna menghambur memeluk keduanya. “Bi E’et tadi datengnya kayak biasa yah, tadi aku minta dia turunin aku pas liat ayah sama papap di sini!” ujar Hanna.

 

“Ini pesenannya ya,” celetuk abang sate yang udah bungkus semua ke dalam kresek. Jeonghan segera beranjak untuk membayar. Mereka bertiga lalu jalan bergandengan ke arah rumah, dengan Hanna di tengah yang mengayun-ayun genggaman tangan Jeonghan dan Jisoo dengan riang. Dari sini, Jeonghan merasa diyakinkan kalo dia harus berusaha lebih keras untuk berhenti merokok.

 

Jeonghan berhasil, 6 bulan kemudian. Dengan segenap perjuangan, mulai dari mengurangi jatah, cuma ngerokok kalo ada yang nawarin sampai berhenti sama sekali. Semakin yakin saat Jisoo dengan polosnya bilang kalo ciuman sama Jeonghan lebih enak rasanya sejak dia berhenti.

 

**

 

“Wiih gilaaa segeran nih muke lu semenjak tobat,” Seungcheol mengomentari sambil menyalakan sebatang. Soonyoung manggut-manggut setuju di sebelahnya sambil makan sop buah.

 

“Iyalah, gue gitu loh,” Jeonghan menepuk dada dengan jumawa. Tapi tangannya seolah bergerak otomatis mengambil bungkus rokok yang tergeletak di sisi Seungcheol, membuat Seungcheol dan Soonyoung berseru,

 

“ELING ANJIR!”

 

**

Series this work belongs to: