Work Text:
**
Jeonghan melangkah ke meja tempat Jisoo dan Hanna sudah menunggunya mengambilkan pesanan dari restoran fastfood. Di nampan ada nasi, ayam goreng, kentang goreng, persausan, nugget dan minuman bersoda. “Makasih ya, Han,” ujar Jisoo seraya menerima nampan untuk kemudian membagikan isinya sesuai orang yang memesan. “Kamu langsung makan aja, ini aku siapin makannya Hanna dulu,” Jisoo menambahkan, membuka sebungkus nasi yang uapnya masih mengepul lalu ditekan dan dilebarkan agar cepat dingin dan bisa langsung dimakan.
“Iya gapapa, aku bareng kamu aja,” Jeonghan menyahut, tangannya lalu mengambil sebatang kentang goreng untuk dicemilin sambil menatap ayah dan anak yang duduk di hadapannya itu. Hanna terlihat mencoba membelah dada ayamnya sebelum tangannya menyentak karena kaget.
“Panas, yah,” gadis kecil itu mengibaskan tangannya yang kena panas.
“Pelan-pelan aja, Hanna. Sini ayah suwirin,” Jisoo dengan cekatan mulai ngopekin ayam sebelum kemudian menyobek serat dagingnya menjadi potongan-potongan kecil di piring Hanna. Jeonghan jadi senyum-senyum sendiri memperhatikan mereka berdua. Jisoo ini kayaknya berbakat debus atau gimana ya, soalnya seperti gak ada istilah keselomot panas dalam hidupnya, pikir Jeonghan sambil lanjut cemilin kentang. Soalnya gak sekali-dua kali Jisoo suwirin ayam dengan gagah berani untuk Hanna. Dari mulai kopekin kulit kriuknya sampai dagingnya siap dimakan dan gak terlalu panas lagi.
Jisoo emang suka ngupas-ngupas, tangannya terampil melakukan hal-hal yang butuh presisi. Jeonghan yang udah gede tua aja masih sering dikupasin buah sama Jisoo, dan hasilnya selalu sempurna –potongan kulitnya cuma sangat sedikit menyentuh daging buahnya. Ibaratnya, kalo Jeonghan yang ngupas, buahnya kayak pitak. Sementara kalo Jisoo, buahnya bisa gundul tak bercela. ‘Kalo kamu yang potong, masih banyak sisa daging buahnya gitu, kan sayang’ kenang Jeonghan. Dia masih aja senyum-senyum sendiri.
“Ayah, Hanna kan udah gede, gak perlu disuwirin ayam lagi,” Hanna mulai makan sambil dengan hati-hati mencocol potongan ayam ke dalam saus sambal supaya gak kepedesan. Pandangan Jeonghan terfokus pada Jisoo, bagaimana sudut mulutnya membentuk senyuman serta matanya yang penuh sayang pada putrinya yang semata wayang.
“Ayah gak suwirin kamu ayam, ayah cuma nemenin kamu suwirin ayam,” sahut Jisoo. Jeonghan mengambil soda dan siap menyedot minumannya, kalo aja sedotan itu gak meleset dua kali saking matanya masih mengarah pada Jisoo. “Suatu hari nanti, Hanna gak bakal butuh ayah lagi untuk suwirin ayam, siapin makan, dan banyak hal lainnya. Jadi untuk sekarang, boleh ayah temenin, ya?”
Hanna tertawa lebar, “Tapi Hanna masih boleh kan, kalau minta tolong sama ayah? Walaupun Hanna udah bisa macam-macam hal sendiri?”
“Boleh dong,” Jisoo ikut tersenyum lebar, dan Jeonghan tanpa sadar sudah terpana sekian menit, sepotong kentang goreng menggantung di antara mulutnya. Jeonghan pikir, perasaan dia ke Jisoo udah cukup sedalam palung mariana, tapi melihat bagaimana Jisoo mencintai, Jeonghan merasa siap mencangkul ke inti bumi karena ternyata dia bisa dan jelas akan terperosok lebih dalam.
“Yuk Han, makan. Nanti keburu dingin,” Jisoo membuyarkan lamunan Jeonghan yang langsung salting, “Kenapa?” Jisoo mengerjap. Tapi Jeonghan cuma cengengesan seperti biasa. Di hari libur yang sangat biasa itu, dengan Jisoo yang juga bersikap sebagaimana dirinya yang biasa, Jeonghan jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
**
Hanna minta main ke playground sehabis makan, anak itu sibuk berkeliling ke sana kemari mencoba macam-macam permainan –kayaknya juga tadi dia kebanyakan makan manis sedikit lebih dari biasanya, jadilah anak itu jejingkrakan karena sangat enerjik. Jeonghan menatap Jisoo yang memperhatikan putrinya dari kejauhan. Jeonghan jatuh cinta pada cara Jisoo mencintai, meskipun perhatian tidak selalu ditujukan padanya, tapi membuat hatinya merasa penuh, berbunga-bunga walau cuma melihat.
Lalu tanpa sadar Jeonghan jadi cengengesan.
“Apa sihh? Dari tadi tampang kamu aneh, tau gak,” goda Jisoo. Jeonghan terkekeh, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan, badannya bergetar karena nahan ketawa. Dia lalu meraih tangan Jisoo di sisinya, menelusuri jemari itu sebelum kemudian menyisipkan jari-jarinya hingga tangan mereka bertaut.
“Nikah sama aku mau gak?”
Jisoo mengerutkan alis sebelum kemudian tergelak, “Cowok satu ini gak jelas banget, ya
Ngapain ngelamar orang yang udah dinikahin, coba?”
Jeonghan ikutan ketawa, memeluk Jisoo di tengah-tengah area main itu. Tawanya agak redam oleh suara-suara mesin mainan dan jerit bocah-bocah di sekitar. Di hari libur yang mereka habiskan dengan biasa, Jeonghan jatuh cinta pada Jisoo untuk kesekian kalinya.
**
