Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-07-25
Completed:
2024-07-26
Words:
5,675
Chapters:
3/3
Comments:
16
Kudos:
49
Bookmarks:
5
Hits:
314

Rahasia Sang Juragan

Summary:

"Sudahlah, terima aja. Memangnya Hamin itu kurang apa, sih?"

"Hamin itu sekarang banyak diincar, tapi dia maunya sama kamu. Harusnya kamu merasa beruntung, dong, dia enggak lirik-lirik orang lain."

Pertimbangan Nam Yejun sangatlah banyak. Termasuk, mencari tahu bagaimana Yu Hamin yang dahulunya kuli serabutan ujug-ujug kaya raya.

Notes:

PLAVE adalah milik VLAST. Nama dipinjam hanya untuk keperluan hiburan. Apa yang tertulis, terpisah dari segala yang terjadi di realitas. Tidak ada keuntungan materiel yang didapat dari fiksi penggemar ini.

Fanfiksi ini adalah hasil daur-ulang (dengan beberapa perubahan dan penyesuaian) dari karya lawas saya untuk fandom lain.

Chapter Text

 

 

 

Yu Hamin, 25 tahun, kaya mendadak. Beritanya tersiar ke penjuru desa. Para petani, tengkulak, tuan tanah, bahkan bocah-bocah ingusan yang hobi main gundu pun tahu. Rumah kayu reyot warisan mendiang orang tua yang halaman depannya kerap ditumbuhi ilalang telah ditinggalkan. Seminggu lalu, kabarnya ia baru saja membeli vila mentereng di puncak bukit yang sering disewa orang kota setiap akhir pekan. 

Biasanya Hamin bekerja serabutan. Jasa angkut hasil panen, antar susu, potong rumput, apa saja. Dalam kurun waktu singkat, ia membuka beberapa bisnis waralaba yang sebelumnya hampir tidak mungkin masuk desa. Mulai dari swalayan mini Keluarga Mart, ayam goreng tepung Pak Kumis, sampai kopi kekinian Hore. Pembangunan fasilitas tersebut awalnya mendapat pertentangan dari penduduk desa karena dikhawatirkan bakal mematikan usaha kecil milik para pedagang setempat. Semua dibungkam oleh santunan sembako dan gelontoran dana investasi. Yang protes makin sedikit. Lambat laun habis.  

Pemuda-pemudi desa sekarang lebih senang bekerja dengan Hamin. Entah itu bantu-bantu di vila sebagai pekerja rumah tangga atau pegawai toko dan kedai waralabanya. Tempat-tempat itu adem, dilengkapi alat penyejuk udara. Bekerjanya pun pakai seragam. Prestisius, kata mereka—meminjam istilah yang sering digunakan orang kota. Tidak bikin badan bau keringat. Upahnya juga lumayan untuk tabungan nikah atau sekadar hura-hura.

Banyak orang tua yang akhirnya ingin menjadikan Yu Hamin sebagai menantu. Namun, sang pengusaha muda sudah punya tambatan hati yang diincarnya sedari dahulu, sejak celana kolor melarnya basah pada malam pertama ia menginjak usia lima belas. Tersebutlah Nam Yejun, anak semata wayang pemilik pasar. Pemuda berparas menawan yang lebih tua dua tahun darinya. Bola matanya berbinar biru keunguan persis kelereng kaca yang suka disentilnya sewaktu masih bocah. Senyumnya manis dan pipinya akan terlihat seperti pangsit mulus ketika senyum itu melebar. 

Yejun ialah satu-satunya pemuda desa yang mengenyam pendidikan di kota dan berhasil pulang membawa gelar sarjana. Sekembalinya ke kampung halaman, ia membuka sekolah dan mengajari anak-anak. Hamin paling semangat jika mendapat proyek sambilan mengantar susu segar ke sekolah Yejun. Ia bisa melihat sang pujaan hati dari dekat, lalu mendengarnya berkata, "Makasih, ya, Hamin," dengan suara lembut yang lebih empuk dari ambing sapi. Pun girang bukan kepalang, ia selalu merasa rendah diri begitu mengingat pencapaian hidup mereka yang jomplang. Berniat pendekatan, keburu minder duluan. Yejun priayi berharum kesturi, sementara dirinya kuli bau matahari. 

Dahulu, mobil pikap butut pengangkut sayur (lagi-lagi masih warisan) tidak mampu bersaing dengan mobil sedan milik Han Noah, anak sulung Sekretaris Desa, yang kebetulan juga naksir Yejun. Sekarang lain cerita. Hamin sudah punya nyali dan amunisi untuk menawari Yejun tebengan. Setiap melihat mobil Noah hendak menepi di samping Yejun yang mau berangkat kerja, Hamin bakal segera menyalip. Kemilap bodi mobil seri paling gres mencundangi sedan keluaran tahun lawas. Keluaran tahun kelahirannya! Ah, andaikan takabur itu tidak dosa, mungkin Hamin bakal puas mentertawakan keadaan yang telah berbalik.   

"Pagi, Kak Yejun," sapa Hamin begitu menurunkan kaca jendela. "Mau ke sekolah? Bareng, yuk. Kebetulan kita searah." 

Dari spion, ia dapat melihat Han Noah sedang manyun. Tampangnya kecut sekali. Tampak kesal berat karena sudah diserobot. Pikir Hamin, bukan salahnya. Salah mobilnya yang tidak lagi lincah. 

"Makasih, tapi aku mau mampir ke toko kelontong dulu, beli kertas lipat. Kamu duluan aja." 

Wah, tidak bisa. Noah pasti akan menyundul dan mengambil kesempatan kalau begini caranya.

"Aduh, untung Kakak menyebut toko kelontong. Aku baru ingat ada perlu ke sana juga."

"Oh, ya? Beli apa?"

Beli apa? Hamin berpikir keras. Ia sudah kaya raya. Segala kebutuhan ada. Semua barangnya dibeli di kota dengan kualitas terbaik. Kurang apa lagi?

"Sandal jepit," jawabnya. 

Hamin lupa kalau tiga hari yang lalu ia sempat bertemu Yejun di pasar dengan memakai sandal jepit mahal berlogo centang. 

"Sandal jepit merek Naiki kamu yang lama ke mana?"

"Masih ada. Cuma, jujur, enggak ada yang senyaman sandal jepit merek Walet."

Pernyataan itu separuh benar. Hamin jadi teringat masa-masa susahnya dahulu. Sandal jepit Walet hijau menemani setiap langkahnya mengais rezeki. Termasuk saat menemukan kunci dalam meraih kekayaannya yang sekarang. Soal kenyamanan, sudah jelas bohong. Naiki ibarat kasur pegas, sedangkan Walet serupa kasur kapuk kempis yang dijemur pun sudah tak ada harapan mengembang. Akan tetapi, Walet menang karena penuh kenangan. Beruntung Yejun tidak menganggap jawabannya aneh. Ia menerima tawaran Hamin, kemudian duduk tanpa sungkan di kursi samping kemudi sambil mendekap ransel. 

"Beli kertas lipat buat apa, Kak?" Hamin bertanya, memulai obrolan.

"Pelajaran matematika. Materi minggu ini tentang geometri, sekalian mau melatih persepsi visual. Anak-anak pasti lebih suka kalau langsung praktik bikin objek baru pakai kertas warna-warni." 

Hamin manggut-manggut, meskipun tidak mafhum benar istilahnya. Baginya, matematika itu yang penting bisa tambah-kurang-kali-bagi. Biar tidak salah hitung uang. 

Perjalanan ke toko kelontong terasa singkat, padahal Hamin sudah sengaja melambat. Setelah mendapatkan barang yang diperlukan, perjalanan mereka memasuki episode dua. Tujuannya, sekolah Yejun. Kali ini, Yejun tidak banyak bicara. Ia kelihatan sibuk dengan selembar kertas lipat yang baru dibelinya. Mungkin sedang menyiapkan properti untuk mengajar. Sesungguhnya, Hamin tak keberatan. Yejun berada di sisinya saja, ia sudah senang. Bersuara maupun diam. 

Mobil Hamin memelan begitu plang bertuliskan 'Yayasan Pendidikan Samudra Cendekia' mulai kelihatan, kemudian berhenti tepat di depan gerbang bercat warna pelangi. Yejun menurunkan kaca jendela dan disambut sapaan gerombolan murid yang baru datang.

"Pak Guru Yejun! Selamat pagi!"

"Pagi," balasnya sembari membuka pintu mobil.

"Ciyee, sama Paman Hamin lagi."  

"Sekarang diantar teruuus."

"Kayaknya sebentar lagi bakal ada kenduri, nih."

"Hush!" Yejun mendelik. "Cepat masuk sana."   

Anak-anak yang kena sembur gurunya segera berlari ke dalam sekolah masih dengan bersenda gurau. Diam-diam, Hamin tersenyum. Mendapatkan restu dari murid-murid Yejun bikin hidungnya mengembang. Ia membatin 'aamiin' berkali-kali soal kenduri.

"Maaf, ya, mereka suka asal ngomong." 

"Enggak apa-apa, Kak. Namanya juga anak-anak." 

"Oh, iya. Makasih sekali lagi buat tebengannya."

"Sama-sama." 

Tangan Yejun melintasi jendela, lalu meletakkan sesuatu di atas dasbor. Prakarya dua dimensi dari kertas lipat. Sebuah hati berwarna merah. "Dadah, Hamin," ucapnya. Setelah itu, ia berlalu menjauhi mobil dan memasuki gerbang tanpa tolah-toleh lagi. 

Hamin dibuat mesam-mesem sendiri. Riang hati tak dapat disembunyikan. Ia memekik gemas sambil memukul-mukul setir. Tanpa sengaja menekan klakson, bikin sewot rombongan ibu-ibu yang terlonjak kaget saat mengantar anak mereka sampai gerbang. 

Yejun memilih kertas merah, tetapi Hamin yakin itu adalah tanda hijau untuk perasaannya.

 

*

 

Orang bilang penjajakan haruslah dilakukan berkali-kali, tidak cukup sekali dua. Biar tidak beli kucing dalam karung. Yejun tidak buta terhadap perasaan Hamin. Para tetangga dan koleganya bahkan merongrong untuk segera jadian.

"Sudahlah, terima aja. Memangnya Hamin itu kurang apa, sih?" kata Pak Choi Youngjae, pedagang pakan dan pupuk di pasar ayahnya. 

"Hamin itu sekarang banyak diincar, tapi dia maunya sama kamu. Harusnya kamu merasa beruntung, dong, dia enggak lirik-lirik orang lain." Chae Bonggu, rekan sesama guru, bilang begitu sewaktu mereka jadi panitia pekan olahraga.   

Sebenarnya, Yejun tidak sangsi. Ia telah mengenal Hamin sejak remaja. Pemuda itu ulet, rajin, juga sopan. Senyumnya polos seperti bayi, padahal badannya tegap seksi berisi. Yejun pernah melihatnya menurunkan pasokan beras di koperasi. Wow, urat lengannya menyeruak timbul persis aliran sungai deras. Sempat Yejun iri pada karung beras, ingin berganti posisi dibopong di bahu dan punggung Hamin yang luas. 

Setelah menjadi pengusaha sesukses sekarang, penampilan Hamin kian hari kian necis. Dahulu ia sudah menarik, kini semakin menarik. Yejun tidak tahu apakah dalamnya masih sama. Harta dan takhta ialah ujian duniawi. Bisa bikin orang berubah. Maka dari itu, Yejun sangat berhati-hati sebelum menyambut perasaannya. Ia butuh melihat lebih banyak demi memastikan. Tidak mau sudah telanjur bilang 'ya' ternyata berakhir mendapatkan Hamin yang berbeda. 

Belum lagi dengan gosip miring yang santer beredar dalam beberapa hari terakhir. 

Rumor kurang sedap menyebutkan kalau kekayaan Hamin tidak halal. Didapat dengan cara tidak realistis yang melibatkan unsur mistis. Yejun tidak langsung percaya dan lantas menelannya bulat-bulat. Menimba ilmu di kota membuat wawasan serta pemikirannya lebih jembar dan terbuka. Sekarang ini sudah milenium ketiga. Apa-apa berlandaskan iptek. Masa iya, sih, masih ada yang berupaya meraih kesuksesan dengan menempuh jalur klenik? 

Banyak, sayangnya. 

Terkadang Yejun lupa kalau ia sudah menginjakkan kaki di desanya lagi. Kepercayaan penduduknya terhadap mistikisme masih kental. Dalam memecahkan hal-hal misterius, mereka lebih mudah menerima sebab musabab metafisika dibandingkan memakai logika.

Suatu hari pada malam Minggu, Yejun tanpa sengaja mendengar sekumpulan pemuda menggunjingkan Hamin di pendopo desa. Han Noah ada di antara mereka. Bukannya ia sengaja menguping. Suara mereka saja yang memang terlampau riuh. 

"Si kuli serabutan itu ujug-ujug kaya, apa menurut kalian wajar?" Noah membuka introduksi diskusi yang lebih mirip provokasi. "Buatku, sih, terlalu mencurigakan. Aku enggak nemu alasan yang masuk akal selain dia minta bantuan penunggu kaki gunung." 

Masuk akal, katanya. Akal yang mana? Pilihan kata Noah sungguh ngawur. Yejun agak dongkol mendengar tuduhan negatif itu dilayangkan kepada Hamin. Jiwa penegak keadilannya tersulut dan bergejolak. 

"Kalau enggak ada bukti jangan ngomong sembarangan." Para pemuda di pendopo sontak menoleh ketika Yejun sekonyong-konyong menyela. "Bicara tentang hal yang belum tentu benar, sama aja dengan menyebar fitnah." 

Noah bangun dari kursi, meladeni. "Kami bicara kenyataan. Buktinya sudah banyak."

"Contohnya?" 

"Kamu perhatikan enggak kalau Hamin suka menghilang setiap Sabtu-Minggu?"

Sepertinya sudah jadi rahasia umum kalau mobil Hamin sering terlihat meninggalkan desa setiap akhir pekan. Hampir selalu di waktu yang sama; berangkat hari Sabtu subuh-subuh, pulang hari Minggu tengah malam.

"Itu yang kamu sebut bukti? Kalau itu, aku sudah tahu."  

"Pernah nanya, dia ke mana?"

"Pernah."

"Terus, dia jawab apa?"

Yejun diam. Benar, ia pernah bertanya, tetapi ketika itu Hamin langsung mengalihkan topik dan seperti tidak ada niat melanjutkannya kembali. Mau bertanya ulang, kesannya memaksa. Menurut Yejun malah tidak sopan. Jadilah pertanyaan itu menggantung, kemudian berlalu, dan tak pernah dibahas lagi.   

"Kutebak, dia enggak jawab. Benar, ‘kan?" Diamnya Yejun membuat Noah merasa di atas angin. "Sabtu-Minggu bisa jadi jadwal ritual dia, Junnie. Waktunya kasih tumbal."

"Heh, kamu ngawur, ya," tukas Yejun.

"Dengar dulu. Konon, kata sesepuh desa, orang yang bersekutu dengan dedemit itu energinya bakal diserap sebagai tanda pengikat. Otomatis badan akan jadi lemah setelah menjalani ritual. Nah, persis dengan yang terjadi sama Hamin. Setiap habis akhir pekan sudah kayak orang enggak punya tenaga." 

"Tahu dari mana kalau Hamin kayak gitu?"

"Ada, deh, pokoknya. Yang jelas dari sumber tepercaya. Mestinya, sih, kamu juga tahu. ‘Kan, sering diantar ke sekolah sama dia."

Sekali lagi, benar. Kondisi Hamin selalu kelihatan lebih kuyu pada hari Senin dibandingkan hari lain. Lingkar bawah matanya kadang menggelap seperti kurang tidur. Beberapa kali ia pernah mendapatinya banyak menguap selama berkendara. Sejujurnya, itu bikin Yejun khawatir. 

"Kalau energi badan dirasa sudah enggak cukup, biasanya dedemit bakal minta tumbal nyawa makhluk hidup. Bisa hewan atau manus—"

"Cukup," potong Yejun. "Omonganmu makin melantur. Katanya mau kasih bukti, tapi semua yang kudengar cuma asumsi." 

"Susah banget, sih, dibilangin." Noah geregetan karena Yejun masih saja keras kepala. "Semua sayang kamu, Junnie. Kamu kebanggaan desa ini, dan kami enggak pengin kamu terlalu dekat sama orang enggak benar kayak dia. Takut kenapa-kenapa."

Pemuda yang lain mengangguk-angguk, sepakat dengan Noah. Tahulah Yejun jika ia tidak punya sekutu dalam perdebatan ini. Percuma saja adu argumen kalau kalah jumlah. 

"Makasih sudah peduli, tapi aku bisa jaga diri." 

Ia pun beranjak pergi meninggalkan pendopo. Sebelum benar-benar jauh, seorang pemuda terdengar menceletuk, "Jangan-jangan, Yejun sudah kena guna-guna."

Sialan.  

Dirinya pun berakhir ketiban tuduhan. Namanya turut tercemar. Yejun menendang kerikil penuh emosi sembari mengepalkan jemari. Dalam hati bertekad ingin mencari tahu sendiri. 

 

***