Work Text:
Pekat coklatnya berkilau seperti madu yang menggugah, Michimiya Yui menatap langit langit gedung olahraga dengan rasa bangga. Menjadi kapten klub voli putri SMA Karasuno adalah kebanggaannya, meskipun mungkin ia tidak sehebat di kapten klub voli putra tapi Yui bangga dengan apa yang ia sandang saat ini.
Tapi semua itu hanya bertahan sampai awal pertandingan, sebab setelahnya Yui tau bahwa ia bukanlah kapten yang cukup baik, ia bahkan tidak pantas disandingkan dengan kapten klub voli putra mereka. Ia adalah kapten yang gagal.
Timnya kalah telak, Yui cukup sadar kalau mereka memang kurang latihan, tapi tidak menyangka bahwa tidak ada yang benar benar berusaha.
Ditambah berita bahwa tim putra menang, ia semakin merasa dikalahkan. Mungkin, ini memang bukan untuknya.
“Michimiya?”
‘Aish, sialan, kenapa datang saat sekarang?’ batinnya tanpa segera berbalik untuk menyambut suara yang memanggil namanya.
“Hei, anak-anak tim voli putri mencarimu.” katanya lagi.
Terpaksa ia berbalik, mau sembunyikan juga percuma jadi disana topengnya hancur tanpa sisa. Madunya bertemu kelabu yang menenangkan, ah pantas saja..
“Hei, ah.. maaf— Aku sepertinya kurang sensitif, biar ku sampaikan ke anak anak tim putri.”
“Sawamura.”
Lelaki itu berhenti, berbalik sejenak untuk menatap Yui yang belum melanjutkan ucapannya. Kapten tim putra itu menunggu dengan sabar, seraya melempar tatapan paling menenangkan yang Yui pernah lihat.
“Bisa tolong jangan bilang ke yang lain?”
Anggukan pelan dari si tuan yang lebih tinggi menjadi penenang untuk Yui, ia cukup mengerti kalau mungkin saat ini kapten tim voli putri hanya butuh sendiri, karena tidak semua orang senang membagi sisi yang disembunyikan selama ini.
Diakhiri dengan satu senyuman yang menenangkan lelaki itu beranjak pergi dan Yui dapat melihat punggungnya berjalan menjauh dari posisinya saat ini, ia baru menyadari bahwa Daichi memang seseorang yang sangat bisa diandalkan. Bahkan ia mau menyimpan rahasia orang asing sepertinya.
Tatapnya tak lepas sampai lelaki itu benar-benar menghilang dari pandangan, dan seolah tersadar sedang diburu waktu Yui bergegas merapikan diri untuk kembali ke timnya yang sudah menunggu dari tadi, hari itu selesai dan ketimbang memikirkan kekalahannya Yui malah sibuk memikirkan sesuatu yang lain, memikirkan tentang laki-laki dengan nomor punggung 1 dari tim voli putra sekolahnya.
Kejadian sederhana yang terjadi saat pertandingan itu berputar-putar dalam kepala Yui, entahlah mungkin karena dia selama ini sudah menanti-nanti atau karena dia memang baru menyadari, tapi sejak saat itu tatapannya pada Daichi tidak pernah sama lagi.
Ada sedikit kekaguman dalam binar matanya, ada sedikit pengharapan dari tiap nada bicara yang terlontar saat mereka sedang berdua, kalau dipikir-pikir lagi sudah nyaris 3 tahun ada di kelas yang sama tapi Yui baru menyadari semua yang luar biasa dari seorang Sawamura Daichi. Baru sekarang ia menyadari seorang Daichi.
Mungkin sederhananya seperti saat waktu istirahat Daichi pasti selalu bertanya pada Yui. Apakah perempuan itu sudah makan? Apakah Yui akan pergi ke kantin? Apakah Yui butuh ditemani.
Dulu Yui pikir hanya sekedar basa-basi, berhubung mereka duduk bersebelahan tapi lama kelamaan perhatian-perhatian sederhana itu agaknya membuat Yui memikirkan hal yang lain. Ia jadi berandai bagaimana ya rasanya menjadi orang yang dapat merasakan perhatian dari seorang Sawamura Daichi?
“Michimiya, mau ke kantin?”
“...”
“Michimiya?”
“Eh?”
“Kamu termenung lagi, apa sedang sakit?”
Pertanyaan itu buru-buru membuat Yui menggelengkan kepalanya, ia tidak sakit hanya tenggelam dalam pikiran-pikirannya tentang lelaki yang bicara. Tentunya dia tidak mungkin katakan yang sebenarnya kan?
Yui belum pernah jatuh cinta jadi dia tidak tahu pasti apakah yang dia rasakan saat ini hanya merasa kagum atau yang lainnya, tapi biarkan saja tetap seperti ini saja untuk sementara waktu.
Karena pada akhirnya tidak banyak yang bisa dipahami untuk saat ini, menurut Yui, biarkan saja apa yang ada tumbuh seiring berjalannya waktu, jika memang akan ada kesempatan untuk i a dan Daichi menjadi satu, mungkin itu tandanya si tuan memang untuknya. Tapi untuk saat ini, Yui masih menganggap yang ia rasakan hanya sekedar rasa kagum terhadap sesama teman, terhadap sesama kapten.
Namun pastinya kekaguman itu bukan sesuatu yang dapat dikendalikan, jatuh cinta itu bukan sesuatu yang dapat kita perkirakan. Waktu yang berjalan jauh lebih cepat dibandingkan apa yang kita persiapkan, secepat satu tindakan sederhana dapat merubah hati seorang manusia, yang semula ya rasa sekedar kagum saja kini Yui sadar kalau ia sepertinya jatuh cinta.
Tindakan sederhana itu sebenarnya hal yang biasa saja, bahkan kalau orang-orang sekarang bilang ya itu adalah bere minimum seorang manusia tapi untuk Yui yang belum pernah mengenal cinta, apa yang Daichi lakukan padanya buat hatinya bergejolak terkena panah Asmara.
“Hei Michimiya, bajumu basah apa kamu ada bawa baju ganti?”
Hujan sedang deras membasahi Miyagi hari itu Yui ada tugas yang harus ia selesaikan, dan berakhir menyisakan dirinya sendirian. Ia pun sedikit berlari dari ruang ganti klub voli putri ke gedung utama sekolahnya, buat baju yang dipakai jadi sedikit basah akibat derasnya hujan yang membasahi kota di sore hari ini.
Ia terlampau fokus dengan isi kepalanya sendiri, hingga tidak sadar kalau kapten voli tim putra juga masih ada di sini. Laki-laki itu melepas jaket klub voli putra sekolahnya dan tanpa menunggu lama langsung disampirkan di bahu Yui.
"Ah, maaf, aku sedikit kaget. Kupikir siapa," ucap Yui.
"Pakailah. Maaf tadi aku tidak sengaja melihat bajumu basah. Ngomong-ngomong, kamu pulang sendiri? Ada bawa payung?"
"Sepertinya aku harus menunggu sedikit lebih lama. Payungku rusak, dan aku lupa membawa cadangannya."
"Ya sudah, aku temani saja. Atau, mau menerobos hujan bersama-sama?"
Ada kekehan kecil di ujung kalimat pertanyaan yang laki-laki itu lontarkan, dan saat itulah Yui sadar hatinya berdebar kencang. Laki-laki itu manis sekali.
"Boleh, siapa takut? Lagi pula, besok kita libur."
"Ya sudah, kalau begitu simpan bukumu di loker. Terobos hujan ini sama-sama, ya?"
Seperti itulah awal mulanya. Di bawah guyuran air yang membasahi kota, dua insan muda berlarian menerobos hujan bersama-sama. Kedinginan, tentu saja, tapi Yui senang, dia bahagia. Padahal awalnya Daichi hanya berniat meminjamkan jaketnya agar Yui tidak kedinginan dan agar tidak memberikan pemandangan berlebihan, tapi berakhir dengan ia mengantar si nona pulang kerumah, dan kini mereka sudah sampai didepan rumah keluarga Michimiya.
"Daichi, hujannya semakin deras. Mau mampir dulu? Sepertinya orang tuaku ada di dalam. Ayo, biar kupinjamkan baju ganti dan tinggallah sampai makan malam," ajak Yui.
"Oh, aku mau, tapi sepertinya tidak sekarang. Lain kali ya? Adikku minta diajarkan pelajaran. Sebenarnya, dia mau ikut lomba," jawab Daichi.
"Kau yakin? Setidaknya mampirlah untuk ganti baju. Nanti biar ayahku yang antarkan kamu pulang dengan mobilnya," Yui menawarkan dengan nada sedikit memaksa.
"Tidak perlu, rumah kita kan dekat. Aku pulang dulu ya," Daichi menolak dengan sopan.
Ada tatapan tidak rela saat Yui melihat Daichi pergi menjauh, seolah berharap Daichi akan mampir dan menghabiskan lebih banyak waktu dengannya. Di saat itulah dia sadar, mungkin dia sudah jatuh cinta karena tidak ingin berjauhan dengan Daichi terlalu lama. Di saat yang bersamaan, Yui juga sadar bahwa mungkin percintaannya tidak akan semulus yang ia bayangkan.
Pasalnya, Daichi itu orang yang lurus-lurus saja. Memang bukan maniak voli, tapi tetap saja dia laki-laki yang punya tujuan. Dia juga seorang anak pertama yang punya banyak beban. Jadi, sepertinya tentang cinta tidak masuk dalam daftar prioritasnya. Belum apa-apa, Yui sudah sedikit pupus harapan. Tapi mungkin kalau dia sedikit mencoba, Yui bisa sedikit mengubah daftar prioritas yang Daichi punya.
"Kenapa pulang hujan-hujanan?" tanya ayah Yui saat melihat putrinya masuk ke rumah.
"Payungku rusak. Tadi aku ditawari temanku untuk pulang bersama, ternyata dia tidak bawa payung juga. Jadi, ya sudah, kami menerobos saja. Toh, besok libur," jawab Yui sambil tersenyum.
"Ya sudah, ganti bajumu sana. Ibu sudah memasak. Kita siap-siap untuk makan malam, ya," ucap ayahnya lembut.
"Iya, Ayah. Aku akan segera mandi. Sampai bertemu saat makan malam nanti," kata Yui sambil berjalan menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamar, Yui mulai melepaskan pakaiannya. Saat itulah dia sadar bahwa jaket Daichi masih tersampir di bahunya. Jaket itu basah dan sepertinya harus dicuci, walau sedikit tidak rela karena jaket itu beraroma khas seperti Daichi yang entah kenapa menenangkan dan menyenangkan.
Tapi, namanya orang jatuh cinta, pikiran itu hanya sekelebat saja. Sekarang dia malah memikirkan, "Jaket ini kira-kira bisa dipakai untuk apa ya? Mungkin aku bisa pakai untuk alasan menghubungi Daichi dan mengajaknya keluar. Tidak ada salahnya mencoba, kan?" pikir Yui. Mungkin nanti setelah selesai makan malam, dia bisa menghubungi Daichi untuk mengobrol sedikit perihal jaket tersebut.
Pesan yang ia kirimkan sama sekali tidak mendapat balasan, jujur saja Yui jadi pesimis. Kalau begini jalan satu satunya hanya menunggu hari senin.
Hari Senin yang ditunggu akhirnya datang. Yui membawa kantong berisi jaket milik Daichi yang sudah ia cuci bersih, sambil menunggu Daichi datang. Yang ia dapati hanya Sugawara berjalan membawa selembar surat untuk Yui. Gadis itu bingung, dan penjelasan setelahnya membuat hati Yui mendadak merosot.
Daichi dilarikan ke rumah sakit akibat demam tinggi yang membuatnya sampai kejang-kejang. Bodohnya laki-laki itu, tahu tidak boleh terkena hujan terlalu lama tapi masih saja memaksa menerobos hujan. Bahkan, ia yang pertama memberi ide untuk menerobos hujan bersama. Yui merasa bersalah, karena ia tidak tahu apa yang bisa dan tidak bisa Daichi lakukan.
Yui bertanya pada Sugawara apakah ia boleh mengunjungi Daichi.
"Tentu boleh, kan kamu teman sekelasnya. Nanti sore aku dan Azumane juga akan ke sana. Mau ikut?" jawab Sugawara.
"Boleh. Nanti kita singgah beli buah dulu ya? Aku sangat merasa bersalah dengan Daichi. Gara-gara mengantarku pulang, dia sampai masuk rumah sakit."
"Tidak masalah, maksudku, ya apa sih hakku untuk bicara soal itu? Toh, menurutku Daichi melakukannya karena dia peduli denganmu. Asal kau tahu, dia sering berbicara tentangmu sampai aku heran, kenapa kalian belum pacaran ya?" ungkap Sugawara.
"Memangnya dia suka denganku?" tanya Yui, sedikit terkejut.
"Kalau itu bukan bagianku untuk mengatakannya, tapi kurasa begitu. Dari apa yang aku tangkap selama ini, Daichi cukup memperhatikanmu. Ya, tapi aku tidak bisa bilang banyak selain kalau kamu memang tertarik, dekatilah dia. Usahakan saja, cuma si bodoh itu sedikit tidak peka. Jadi mungkin butuh waktu yang cukup lama sampai dia berani menyatakan apa yang dia rasakan. Dan Yui, kamu benar-benar buruk dalam menyembunyikan perasaan. Jadi, sepertinya peringatanku yang terakhir itu tidak terlalu perlu. Toh, aku yakin dia akan cepat sadar kalau ada seseorang yang menyukainya," kata Sugawara sambil tersenyum seraya berlalu pergi seolah tidak habis mengatakan sesuatu yang penting.
"Apa maksudmu? Hei, sejak kapan? Maksudnya, Sugawara! Jangan tinggalkan aku! Hei, jelaskan maksudmu apa? Kok malah kabur, Sugawara!" Yui memanggil, bingung dengan pernyataan temannya itu.
Percakapan itu selesai di situ saja, dengan banyak pertanyaan yang tidak terjawab. Yui terlalu bingung untuk memikirkan jawabannya. Urusan jawaban nanti saja, yang penting hari ini ia akan pergi mengunjungi Daichi yang katanya sedang sakit, dan sakit itu gara-gara dia.
Hari itu, suasana rumah sakit terasa sunyi. Hanya suara langkah-langkah perawat dan deru mesin medis yang terdengar di lorong-lorong. Yui berjalan cepat, merasa gugup dan cemas.Tadi pagi ia mendengar kabar bahwa Daichi dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi. Sejak saat itu, hatinya tidak tenang, terus memikirkan kondisi Daichi.
Sesampainya di depan pintu kamar rawat inap Daichi, Yui berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. Tangannya menggenggam kantong plastik berisi buah-buahan yang ia beli di perjalanan. Setelah menguatkan diri, ia mengetuk pintu pelan dan membuka pintu dengan hati-hati.
"Permisi, boleh masuk?" Yui berkata dengan suara lembut, setengah berbisik.
Di dalam kamar, Daichi tampak terbaring di ranjang, wajahnya sedikit pucat. Sugawara dan Azumane, dua teman satu tim voli Daichi, duduk di kursi di sebelah ranjang, langsung menoleh ketika melihat Yui masuk.
"Yui! Silakan masuk," kata Sugawara, tersenyum hangat. Azumane juga menyapa dengan anggukan ramah.
Yui tersenyum tipis, berjalan masuk dan menaruh kantong plastik berisi buah di meja kecil di samping ranjang. Matanya tertuju pada Daichi, yang sedang menatapnya dengan pandangan lemah namun hangat.
"Hai, Daichi. Gimana perasaanmu?" tanya Yui dengan suara lembut, duduk di kursi sebelah ranjang.
Daichi tersenyum kecil, meskipun terlihat jelas bahwa ia masih lelah. "Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih sudah datang, Yui."
Yui merasa lega mendengar itu, meskipun masih ada sedikit kekhawatiran dalam hatinya. "Aku bawa buah-buahan, semoga bisa membantumu pulih lebih cepat."
Azumane tersenyum, berdiri dari kursinya. "Baiklah, kami akan meninggalkan kalian berdua. Kasih waktu buat ngobrol lebih pribadi."
Sugawara ikut bangkit, tersenyum jahil. "Jangan berlebihan ya, kalian masih di rumah sakit, ingat," candanya, yang membuat Yui merasa pipinya sedikit memerah.
Setelah Sugawara dan Azumane keluar, keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Yui dan Daichi saling memandang, seolah mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
"Aku benar-benar khawatir waktu dengar kamu masuk rumah sakit," kata Yui akhirnya, suaranya terdengar tulus dan penuh perhatian.
Daichi menatap Yui dengan lembut. "Maaf bikin kamu khawatir. Aku tidak menyangka bakal separah ini."
"Aku juga tidak menyangka. Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu tidak enak badan? Kita bisa cari cara lain waktu itu," balas Yui, suaranya sedikit bergetar karena kekhawatiran yang dirasakannya.
Daichi tersenyum lemah, mengangkat bahu. "Aku pikir cuma demam biasa. Lagipula, aku tidak mau kamu jatuh sakit lebih dulu, kemarin bajumu benar benar basah tau.."
Yui menggigit bibirnya, merasa campuran antara marah dan sedih. "Daichi, kamu nggak perlu khawatirkan itu, aishh harusnya kemarin kuseret kamu singgah ke rumahku dulu.”
“Aku lebih khawatir kalau kamu sakit seperti ini." bisik si nona dengan suara yang sangat pelan.
Daichi menundukkan kepala, merasa bersalah. "Aku tahu, maaf ya Yui.”
Yui mengangguk pelan, tersenyum tipis. "Tolong jangan diulangi, aku khawatir sekali waktu Sugawara bilang kamu demam sampai masuk rumah sakit."
Mereka terdiam lagi, tapi keheningan kali ini lebih nyaman. Yui meraih apel dari kantong plastik dan mulai mengupasnya. Daichi memperhatikan Yui dengan pandangan penuh rasa terima kasih.
"Kamu selalu baik padaku, Yui. Aku sangat menghargainya," kata Daichi pelan.
Yui hanya tersenyum, memberikan potongan apel kepada Daichi. "Makan ini, biar kamu cepat sembuh."
Hanya itu cara satu satunya yang bisa Yui lakukan untuk menghindari percakapan mereka berlanjut ke arah yang lebih serius.
Sejak kunjungan Yui ke rumah sakit beberapa hari lalu, hubungannya dengan Daichi terasa semakin membaik. Mereka jadi lebih sering berbicara dan saling menghubungi lewat pesan teks hingga larut malam. Sebenarnya Yui sendiri tidak terlalu paham, tapi mungkin inilah yang dinamakan fase pendekatan. Apakah artinya Daichi juga tertarik dengannya?
Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Yui, dan rasanya gatal ingin menanyakan semua itu langsung pada yang bersangkutan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bukankah terburu-buru? Yui juga baru sadar soal perasaannya baru-baru ini, dan rasanya aneh saja menanyakan perihal perasaan padahal semua ini belum lama berjalan. Dalam penantiannya, Yui berharap meskipun hanya sedikit, Daichi juga merasakan hal yang sama.
Yui sadar bahwa ia yang memulai semua ini dengan rasa kagum terhadap sosok kapten tim voli putra. Kini, rasa itu tumbuh dan sudah mekar menjadi cinta.
Mau dibilang tidak berharap, tapi sebenarnya ada banyak sekali yang diinginkan. Yui ingin setidaknya ada sesuatu yang lebih antara dirinya dan Daichi. Meskipun Yui belum pernah mengatakan ini pada siapapun, bahkan pada dirinya sendiri, Yui cukup sadar kalau ia ingin sesuatu itu terjadi. Ia ingin setidaknya tahu bahwa apa yang ia rasakan tidak hanya miliknya sendiri.
Namun, sekali lagi, Daichi adalah orang dengan pandangan yang jelas, lurus ke depan, prioritas yang pasti, dan kepala yang keras seperti batu. Dia bukan pria yang mudah mengubah apa yang sudah ia jalani selama ini, bukan juga orang yang bisa dengan enteng mengganti prioritas hidupnya saat ini. Jadi, tentu saja tidak mudah untuk mengubah Daichi yang sudah cukup jelas dengan apa yang ia inginkan.
Apalagi sampai memasukan cinta dalam prioritas hidup si tuan, memangnya dia siapa, kan?
Malam itu, setelah beberapa hari intens berkomunikasi, Daichi dan Yui sedang saling mengirim pesan teks. Percakapan berlanjut hingga topik yang lebih pribadi.
Daichi: Kamu sering kali kirim pesan malam-malam, nggak takut aku nggak bales?
Yui : "Hehe, aku tahu kamu pasti bakal bales. Kalau nggak, ya aku nunggu aja sampai kamu bales."
Daichi : "Kamu tau nggak, aku tuh jarang banget ngobrol panjang kayak gini sama cewek lain."
Yui : "Beneran? Kenapa emangnya?"
Daichi : "Gak tau ya, mungkin karena aku terlalu fokus sama banyak hal. Tapi kamu beda, ngobrol sama kamu tuh asik, bisa ngalir gitu aja."
Yui : "Oh, aku senang dengar itu. Kadang aku juga ngerasa gitu, ngobrol sama kamu tuh seru."
Daichi : "Kamu ngerasa nyaman ngobrol sama aku?"
Yui : "Iya, aku merasa nyaman. Kamu juga?"
Daichi : "Iya, aku nyaman. Kamu orang yang enak diajak ngobrol."
Yui terdiam sejenak, jantungnya berdebar lebih kencang. Ia ingin mengungkapkan perasaannya, tapi merasa belum siap.
Yui : "Daichi, aku senang kita bisa ngobrol kayak gini. Aku berharap kita bisa lebih sering kayak gini."
Daichi : "Aku juga. Mungkin kita bisa ngobrol langsung lagi kapan-kapan, kayak waktu di kafe. Kamu suka tempat itu, kan?"
Yui : "Iya, aku suka. Mungkin kita bisa pergi lagi suatu waktu."
Ada keheningan sejenak. Keduanya tampak merenung, tapi Yui memutuskan untuk menunda pertanyaan tentang perasaan mereka.
Yui : "Ngomong-ngomong, gimana kondisi kamu sekarang? Sudah merasa lebih baik?"
Daichi : "Udah jauh lebih baik. Terima kasih buat perhatiannya. Kamu baik banget."
Yui : "Aku cuma khawatir aja, jangan sampai kamu sakit lagi. Kamu harus jaga kesehatan."
Daichi : "Iya, aku usahakan. Terima kasih, Yui."
Yui tersenyum, merasa sedikit lega. Walaupun belum ada kejelasan tentang perasaan mereka, setidaknya hubungan mereka semakin akrab. Bagi Yui, itu sudah cukup untuk saat ini. Namun, dalam hatinya, ia berharap suatu hari nanti mereka bisa berbicara lebih terbuka tentang perasaan masing-masing.
Hari kelulusan akhirnya tiba. Keduanya resmi lulus dari status mereka sebagai siswa SMA. Daichi dan Yui berdiri di depan gymnasium sekolah, menatap gedung itu cukup lama. Banyak kenangan yang mereka buat di sana. Mereka pasti akan merindukan tempat ini. Daichi merasa ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini kepada gadis yang berdiri di sampingnya, sementara Yui hanya menatap dalam, pikirannya penuh dengan pertanyaan. Apakah ini akan menjadi saat terakhir mereka bertemu? Atau nanti mereka akan bertemu lagi? Yui tidak berani bertanya.
“Kamu mau pulang?” tanya Daichi.
“Sebentar lagi. Aku ingin di sini sebentar lagi,” balas gadis itu pelan.
“Sudah tahu mau masuk ke mana?” Daichi bertanya untuk kedua kalinya.
Yui mengangguk, tidak melanjutkan percakapan mereka. Hening menyelimuti mereka; tidak ada yang berani bertanya lagi setelahnya. Keduanya tidak mempersiapkan jawaban untuk ke mana mereka akan pergi setelah ini. Biarlah semesta yang menjawab, dan jika memang mereka akan bertemu lagi, mungkin itu adalah sebuah pertanda.
“Setelah dari sini, mau makan ramen tidak?” tanya Daichi.
“Yang benar saja, kamu mau makan shoyu ramen lagi, kan?” balas Yui dengan nada sedikit malas.
Daichi hanya tertawa, lalu menyimpan kedua tangannya ke dalam saku celana. Setelah menghela napas panjang, dia berbalik badan. “Agar suasananya tidak terlalu sedih, sudah yuk, aku mulai lapar.”
Yui hanya mendengus kecil. Ia tahu dirinya tidak akan menang jika berdebat soal ramen dengan laki-laki ini.
“Ya sudah, kalau begitu, kamu yang bayar ya. Aku capek pergi denganmu, makan ramen, dan kamu pesan ramen yang sama terus. Jadi, kali ini kamu harus mengobati rasa capekku itu dengan membayar porsi ramenku.”
“Tenang saja, kamu mau pesan sepuluh porsi pun pasti aku bayar. Tapi jangan deh, uangku sepertinya tidak cukup hari ini,” kata Daichi sambil tersenyum.
Dengan begitu, mereka pergi menjauh dari sekolah menuju kedai langganan Daichi yang memang sudah sering mereka kunjungi. Mereka makan dalam keheningan, tidak seperti biasanya yang banyak bicara. Seolah-olah mereka mempersiapkan ini sebagai makan bersama terakhir mereka, karena setelah ini, tidak ada yang tahu kapan mereka akan bertemu lagi.
Hari pertama masuk kuliah, Yui berjalan santai di kampusnya, sebuah tempat baru yang akan sering ia datangi beberapa tahun ke depan. Ia tidak mengharapkan apapun dan tidak berharap bertemu siapapun. Namun, saat ia mendengar suara yang memanggilnya, buru-buru Yui menoleh. Ia melihat Daichi berdiri di sana dengan senyuman lebar, melambai padanya.
"Kamu juga masuk di sini ternyata," kata Daichi setelah ia berlari menghampiri Yui.
Setelah makan ramen terakhir di kedai dekat sekolah, Daichi dan Yui tidak sempat bertemu lagi. Keduanya disibukkan dengan persiapan masuk kuliah, menyiapkan berkas-berkas, dan berbagai hal lainnya. Yui mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar kota, sementara kabar Daichi, jujur saja, tidak diketahui. Kesibukan yang menyita waktu membuat mereka sulit untuk sekadar bertukar kabar.
Yui mulai merindukan Daichi karena beberapa bulan terakhir hidupnya diramaikan dengan kehadiran pria itu, dan absennya Daichi membuat dirinya merasa ada yang kurang. Syukurlah sekarang mereka bertemu kembali. Seolah semesta bekerja untuk mempertemukan mereka, Yui bertanya-tanya apakah mungkin di sini kisah mereka akan berlanjut dan menuju ke babak baru.
"Kebetulan aku mendapat beasiswa di sini. Kupikir kau akan tetap di Miyagi," ujar Daichi.
Dengan senyumannya yang lebar, Daichi menjelaskan, “Sama seperti kamu, aku juga mendapatkan beasiswa. Kebetulan jurusan yang aku inginkan hanya ada di sini, jadi aku berusaha dan akhirnya bisa masuk lewat beasiswa olahraga.”
"Tuh kan, kamu memang luar biasa. Dari kemarin sudah kubilang, kamu pasti bisa masuk ke kampus yang kamu impikan. Benar kan, kita bertemu lagi di sini," kata Yui.
Kedua orang itu akhirnya berjalan, entah kemana langkah mereka membawa. Daichi dan Yui menyusuri kampus yang luas sambil mengobrol banyak tentang persiapan mereka sampai masuk kuliah.
"Ngomong-ngomong, kamu di sini sendiri? Ada anak-anak Karasuno yang lain?" tanya Yui.
Daichi diam sejenak, merasa sedikit bingung. “Kalau dibilang teman-teman dari Karasuno, sepertinya tidak ada di sini. Kebanyakan rekan-rekanku pergi ke tempat yang berbeda, dan siapapun yang ada di sini, paling hanya kenalannya dari sekolah lain.”
“Setahuku, Sugawara melanjutkan kuliah di Miyagi. Ibunya sedang sakit, kan? Kalau Azumane, dia dapat beasiswa ke luar negeri. Aku tidak menyangka kalau temanmu yang satu itu sampai pergi ke luar negeri,” ujar Yui.
“Aku harap Azumane baik-baik saja. Dia kan terlalu polos. Aku curiga dia bisa diculik di luar negeri nanti,” kata Yui dengan cemas.
“Aku setuju denganmu,” kata Daichi, mengangguk setuju.
Perkuliahan ternyata cukup berat. Banyak waktu yang diperlukan hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah atau bahkan belajar. Yui tidak mempersiapkan diri untuk hal ini dan semakin lama waktu berlalu, meskipun kesibukan mereka luar biasa padat, selalu ada waktu yang bisa disisihkan untuk bertemu. Seperti hari ini, Daichi sempat menghubunginya tadi dan mengajak Yui makan malam setelah kelas selesai. Saat Yui keluar kelas, Daichi sudah menunggunya di sana.
"Kamu mau makan malam apa malam ini?" tanya Daichi.
"Kumohon, kita jangan makan ramen lagi ya. Minggu kemarin kita tiga kali makan ramen dan kamu terus memesan ramen yang sama," balas Yui dengan nada sedikit jengkel, merasa muak dengan obsesi Daichi terhadap Shoyu ramen.
Daichi hanya tertawa. "Ya bukan salahku kalau aku sangat suka Shoyu ramen, kan?" Akhirnya, mereka memutuskan untuk mencoba nasi kari yang baru buka di dekat apartemen si tuan. Daichi tinggal di apartemen bersama seniornya di klub voli kampus, sementara Yui memilih tinggal di sebuah flat sendirian yang letaknya tidak terlalu jauh dari kampus mereka.
"Nanti tidak usah antar aku pulang ya," kata Yui.
"Tidak bisa. Aku harus memastikan kamu pulang dengan aman. Lagipula, tidak terlalu jauh kok."
"Bukannya aku menolak niat baikmu, tapi ini sudah mendung. Kalau kita selesai makan nanti, aku yakin sudah mulai hujan. Terakhir kali kamu mengantarku pulang hujan-hujanan, kamu masuk rumah sakit, ingat tidak?"
Daichi hanya tertawa dan mengiyakan ucapan Yui. Urusan mengantar pulang nanti biar dipikirkan kemudian; yang penting mereka makan dulu. Yui sudah cukup lapar karena hari ini ia banyak melakukan praktek dan belum sempat makan sejak siang. Ia yakin suara perutnya pasti terdengar oleh Yui.
"Selamat datang," ucap pelayan restoran.
"Apakah ada tempat untuk dua orang?" tanya Daichi.
Pelayan mengangguk dan mengantar mereka ke meja untuk dua orang. Pelayan kemudian menawarkan promo spesial untuk mereka.
“Kebetulan, berhubung kami baru buka, ada diskon untuk pasangan. Apakah kalian mau mengambilnya?” tanya pelayan.
Yui sejenak menatap Daichi, bingung harus mengatakan apa. Dengan sedikit egois, ia membiarkan Daichi yang memutuskan. Ternyata, Daichi juga tidak mau rugi.
“Tentu boleh, saya ambil promo itu yang untuk pasangan.”
Meskipun Yui tahu itu semua hanya untuk menghemat kantong mahasiswa, ia sedikit senang mendengar keputusan Daichi. Harapannya kembali tumbuh bahwa mungkin nanti mereka akan bisa menjadi pasangan.
Pelayan itu mencatat pesanan mereka dan meninggalkan Daichi dan Yui di meja. Ada hening sejenak sebelum akhirnya Yui membuka suara. Daripada canggung, lebih baik ia ganggu saja Daichi.
“Jadi, aku pasanganmu?” tanyanya dengan jahil.
Daichi tertawa dan menatap Yui dengan tatapan dalam. Pandangan itu sering ia dapati, dan kini ia berani menatap Yui lebih lama. Meskipun begitu, apa yang keluar dari mulut Daichi agak sedikit berbeda dari maksud tatapannya.
“Bagaimana ya, malam ini kita berpasangan. Kalau besok, terserahmu saja.”
Ucapan itu sedikit menusuk hati Yui, tapi ia bisa apa? Sepertinya Daichi juga tidak berniat ke arah sana, meskipun Yui juga takut melewati batas yang mereka punya.
“Okay, baiklah. Pasangan diskonku. Awas saja kalau kamu mencari yang lain untuk dapatkan diskon pasangan. Aku marah nanti,” kata Yui dengan nada bercanda.
Tidak ada balasan selain kekehan pelan dari Daichi, dan mereka akhirnya melanjutkan percakapan, membicarakan hal lain tentang hari mereka, perkuliahan, tugas, dan sedikit harapan tentang masa depan.
“Jadi, kalian pacaran tidak sih?” pertanyaan itu terlontar dari Akira Kouji, teman dekat Yui selama kuliah.
Yui yang mendengar hal itu hanya tersenyum kecil dan memilih untuk diam aja, ia tidak punya jawaban untuk itu, meskipun harapannya mereka bisa berpacaran. Ia sudah sering dapat pertanyaan ini, terlebih dirinya dan Daichi memang sering habiskan waktu bersama dan terlihat berdua kemana mana.
Hubungan mereka memang semakin dekat tapi tidak tampak akan ada perubahan, jadi Yui juga tidak mau memberi jawaban.
Hingga waktu terus berlalu dan beberapa kali Yui hampir saja menyatakan perasaannya terhadap Daichi yang selama ini ia pendam. Namun, untungnya hal itu tidak terjadi karena Yui terlalu takut hubungan mereka akan merenggang dan Daichi akan menjauh.
Padahal, Yui sudah berani menatap mata Daichi lebih lama, tapi terlalu takut untuk sekadar memahami arti tatapan dalam yang sering dilemparkan kepadanya saat ia tidak memandang, mungkin semuanya akan jauh lebih mudah.
Setelah mereka selesai kuliah, mereka mulai mencari jalan karir masing-masing. Yui dengan pilihan karirnya sendiri, dan Daichi pun sama. Namun, ada satu pesan dari Daichi yang membuat Yui sedikit kecewa. Daichi mengatakan bahwa ia akan pergi untuk sementara waktu karena akan mendaftar ke kepolisian, dan karena itu, sepertinya dia tidak bisa menjaga komunikasinya dengan Yui sampai selesai pendidikannya.
Sebenarnya, Yui cukup paham dengan pilihan karir Daichi yang sudah lama ia dengar, dan jurusan kuliah Daichi pun sejalan dengan cita-citanya. Namun, namanya cinta, tentu ada rasa tidak rela untuk berjauhan dalam waktu yang lama, meskipun di antara mereka belum ada hubungan yang jelas.
Sebelum Daichi pergi, Yui ingin mengucapkan perpisahan dan mengajak Daichi keluar untuk menghabiskan satu hari bersama sebelum mereka berpisah dalam waktu yang cukup lama. Pilihan mereka jatuh pada pantai yang cukup sepi.
Yui belum pernah kesana sebelumnya, tetapi hari ini ia ingin duduk berdua dalam keheningan bersama Daichi dan kemudian pulang ke tujuan masing-masing. Tidak ada yang berbicara, hanya keheningan. Ada kesedihan dalam tatapan Daichi yang diarahkan ke lautan, dan Yui paham betul hal itu, namun ia sendiri tidak bisa mengungkapkan apapun karena menyadari bahwa semua ini adalah akibat dari kepergiannya nanti.
Hingga matahari sore tenggelam, Daichi tidak mengucapkan apa-apa, sama halnya dengan Yui yang masih diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Jatuh cinta memang bukan pilihan yang mudah; banyak perasaan kompleks yang harus dihadapi, terutama jatuh cinta dalam diam seperti Yui saat ini.
Dia berpikir diamnya akan menjadi bantuan bagi dirinya sendiri, namun ternyata dia salah. Diamnya malah membuatnya semakin larut dalam pikiran yang berkecamuk. Bahkan hingga mereka pulang dan berpamitan, hanya satu kalimat yang diucapkan Daichi:
"Nanti kita bersama lagi jika aku sudah selesai dan kamu masih sendiri. Aku pergi dulu ya."
Mendengar itu, Yui tidak mengerti maksud dari kalimat Daichi. Apakah itu berarti Daichi meminta Yui untuk menunggunya dan tetap sendiri sampai ia selesai? Gadis itu tidak tahu, dan jawaban atas pertanyaan itu belum terpikirkan di benaknya.
Namun, yang bisa Yui lakukan hanyalah satu: menunggu dan tidak terburu-buru untuk menyelesaikan perasaannya, biarkan waktu yang menjawab, biar waktu yang atur hatinya.
Selama ia menunggu Daichi, Yui hanya menjalani hidupnya sebagai seorang gadis biasa—bekerja, pulang, dan beristirahat setiap hari—seraya menunggu Daichi pulang kembali setelah menyelesaikan pendidikannya.
Setahun, dua tahun, tiga tahun, empat tahun, lima tahun—rasanya waktu berlalu begitu cepat tapi disaat yang sama terasa sangat lama.
Apakah pendidikan kepolisian memang memakan waktu selama itu? Kenapa Daichi belum kunjung kembali? Pikiran-pikiran buruk mulai muncul, merindukan lelaki yang selama beberapa tahun ini telah mengisi relung hatinya. Sudah hampir satu dekade, dan Yui tidak mengerti apakah Daichi lupa dengan janji yang pernah diucapkannya saat mereka berpisah terakhir kali, atau apakah ia hanya berhalusinasi.
Sejujurnya, Yui sangat menantikan kepulangan Daichi dan berharap mereka bisa menyelesaikan apa yang belum selesai di antara mereka. Sudah hampir tujuh tahun sejak perpisahan terakhir mereka.
Pagi itu, di apartemennya, Yui mendengar bel berbunyi—sesuatu yang agak jarang terjadi karena hari itu adalah hari Minggu, seharusnya tidak ada siapapun yang datang. Dia juga tidak memesan apapun dan tidak ada orang yang dijadwalkan akan mampir ke rumahnya. Jadi, ketika Yui membuka pintu untuk mengecek siapa yang ada di depan, ia terkejut melihat seseorang yang tidak asing berdiri di sana. Dengan rambut yang sudah cukup panjang, sosok itu tampak seperti Daichi. Yui merasa tidak percaya dan perlahan membuka pintu yang membatasi mereka.
Akhirnya, penantian panjang Yui berakhir—laki-laki itu pulang juga.
Ada tangis yang tak bisa dicegah—kerinduan, kesedihan, dan kebingungan. Setelah diminta menunggu sekian lama, Yui hanya ingin tahu ke mana perginya Daichi selama ini. Ia hanya ingin tahu mengapa waktu yang dibutuhkan begitu lama dan mengapa tidak bisa sesekali menghubunginya untuk sekadar memberi kabar. Bukankah itu tidak terlalu sulit untuk dilakukan, mengabari seorang teman yang mungkin sudah lama tidak ditemui?
Tidak ada penjelasan yang memadai untuk dijelaskan. Daichi hanya meminta maaf dan menjelaskan bahwa ia diterima di divisi khusus dan harus pergi untuk waktu yang lebih lama dari perkiraannya. Ia harus menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepadanya sebelum bisa kembali. Daichi bertanya apakah Yui marah padanya. Apakah kepergiannya yang lama ini membuat Yui merasa tersinggung? Tatapan tidak percaya yang terlempar menunjukkan bagaimana Yui bisa marah kepada seseorang yang hingga detik ini masih menjadi cintanya, pria yang ia idam-idamkan untuk disambut pulang. Bagaimana bisa Yui marah pada Daichi, yang sampai saat ini masih sangat ia cintai?
Hanya perlu beberapa saat untuk akhirnya tangis mereka pecah. Rindu yang menggerogoti selama bertahun-tahun akhirnya tumpah. Entah ini perasaan romantis atau hanya sebatas rasa rindu dari teman lama, Yui tidak terlalu peduli. Ia hanya merasakan kepuasan dan kenyamanan saat tubuh mereka bersentuhan, saling memeluk erat, dan menumpahkan semua perasaan. Yui merindukan Daichi lebih dari apapun, dan semakin erat pelukan Daichi, semakin Yui merasa bahwa laki-laki ini juga merindukannya.
Pagi itu di apartemen Yui, setelah usai melepas rindu suasana terasa tegang kembali. Setelah bertahun-tahun terpisah, Daichi akhirnya pulang, dan Yui merasakan campuran emosi yang mendalam. Mereka duduk di ruang tamu yang sederhana, dengan jendela yang membiarkan sinar matahari pagi menyapu ruangan dengan lembut. Daichi, dengan penampilan yang sedikit lebih matang dan berwibawa dibandingkan saat terakhir kali mereka bertemu, menghela napas sebelum mulai berbicara.
"Yui," katanya dengan suara yang berat, "Aku minta maaf karena telah membuatmu menunggu begitu lama. Aku tahu ini bukanlah waktu yang singkat, dan aku mengerti jika kamu merasa kecewa atau marah. Maaf aku memintamu menunggu tanpa memperkirakan bahwa waktunya harus sampai selama ini."
Yui menatap Daichi dengan tatapan yang campur aduk. "Aku ingin tahu kemana kamu pergi selama ini. Kenapa kamu tidak bisa memberiku kabar?"
Daichi mengangguk perlahan, memahami kebingungan dan kesedihan di mata Yui. "Aku diterima di divisi khusus saat ini aku masih dibawah sumpah untuk tidak membocorkan apapun, dan aku ditugaskan untuk pergi jauh dari rumah dan menjalankan tugas yang sangat penting. Aku tahu aku seharusnya memberimu kabar lebih sering, tapi pekerjaan ini benar-benar menyita seluruh waktuku dan energiku. Aku harus menyamar dan menyelesaikan berbagai tugas yang dirahasiakan."
Daichi menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Sekarang aku sudah dalam masa cuti, dan aku akan dipindah ke divisi lain, yang tidak memerlukan aku untuk pergi bertahun-tahun. Aku berharap bisa kembali ke kehidupan normal dan mulai membangun kembali apa yang telah kita tinggalkan."
Yui mendengar penjelasan itu dengan penuh perhatian, namun hatinya masih terasa berat. Ia merasa tertekan oleh waktu yang telah berlalu dan oleh perasaan yang selama ini ia pendam. Setelah beberapa saat terdiam, Yui akhirnya membuka suara dengan penuh tekad.
"Daichi, aku tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanku," katanya dengan suara bergetar. "Selama bertahun-tahun ini, aku merasa sangat merindukanmu. Aku tahu kita belum pernah benar-benar menjalin hubungan yang jelas, tapi aku mencintaimu lebih dari apapun."
Yui tidak dapat marah, ia sudah terlalu lelah menunggu, hanya sedih dan rindu yang terpancar dalam manik matanya yang indah itu.
“Aku, aku pikir aku hanya berhalusinasi, tentang kamu yang memintaku menunggu sampai kamu kembali. Daichi boleh aku tau apa alasanmu untuk itu?”
Daichi menatap Yui dengan penuh perhatian, mencoba memahami setiap kata yang diucapkannya. "Yui, aku... aku juga sangat merindukanmu. Selama semua waktu ini, aku selalu memikirkanmu dan berharap bisa kembali untukmu. Maaf ya, aku yakin kamu pasti kesal mendengar ini, ingat tidak waktu kamu kalah dulu dan aku menghampirimu yang sedang menangis?"
Anggukan pelan sebagai jawaban, tentu Yui ingat perasaannya kan bermula dari sana.
“Aku lihat wajahmu yang menangis, dan di mataku itu manis sekali. MAAF! JANGAN PUKUL AKU”
“Kau menyebalkan sekali padahal sudah 7 tahun tidak pulang.”
“Hei jangan serang aku seperti itu.. Baik biar ku lanjutkan, sampai mana tadi? Oh wajahmu yang menangis dan manis itu menghantuiku, aku tertarik denganmu. Lucu ya? Kita sekelas selama tiga tahun dan aku baru tertarik denganmu saat hampir lulus.” jelas Daichi seraya menatap lembut pada Yui yang berada di sisinya.
Sempat ada hening sebelum akhirnya Daichi lanjut bicara, “Aku jatuh cinta padamu saat itu dan kupikir aku mau menyatakan cintaku setelah aku memiliki pekerjaan yang pasti, maaf aku malah buat kamu menunggu selama ini.”
Yui mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Daichi, ternyata Sugawara benar, ah menyebalkan. Kamu benar benar menyebalkan.
“Dengarkan aku baik baik, aku tahu ini mungkin terdengar tiba-tiba, tapi aku sudah menunggu terlalu lama. Aku ingin kamu tahu bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
Dengan penuh harapan dan sedikit keraguan, Yui melanjutkan, "Daichi, aku melamarmu. Aku ingin kamu menjadi suamiku. Aku tahu kita sudah melalui banyak hal, dan aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu didalamnya. Aku ingin kita membangun masa depan bersama. Kamu harus membayar untuk 7 tahun aku menunggumu dengan terus bersamaku seumur hidupmu, mengerti?"
Daichi terdiam sejenak, matanya tampak berbinar dan penuh emosi. Ia merasa seolah seluruh beban dan waktu yang berat selama ini akhirnya terbayar dengan kata-kata Yui. Perlahan-lahan, Daichi mengeluarkan cincin dari saku jasnya, cincin yang sudah ia simpan untuk saat yang tepat. Ia tidak mengira pertemuan pertama sejak 7 tahun lamanya, dan malah ia yang dilamar oleh si nona.
"Yui, kamu mencuri bagianku, curang sekali. Padahal aku sudah siapkan cincin.” kata si tuan, merasa kalah cepat dengan gadis cantik di depannya ini.
Tapi tak lama Daichi tersenyum tipis, ia mencintai gadis yang tepat “Yui, terima kasih aku sangat bahagia mendengar pernyataanmu soal apa yang kamu rasakan. Aku juga mencintaimu, masih sangat jatuh cinta denganmu dan ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu," katanya dengan suara bergetar. "Aku menerima lamaranmu. Aku berjanji akan berusaha menjadi suami yang terbaik untukmu."
Fin.
