Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Wind Breaker Week 2024
Stats:
Published:
2024-08-09
Completed:
2024-10-31
Words:
23,566
Chapters:
6/6
Comments:
8
Kudos:
95
Bookmarks:
7
Hits:
2,381

CAPER PADA CAMER

Summary:

Kisah Suō, sang alpha yang berusaha keras untuk memenangkan hati calon mertuanya.

Day 1 of #WinBreWeek2024 - Pining.

Notes:

Halo!

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum membaca cerita "Caper Pada Camer (Cari Perhatian Pada Calon Mertua)":
-Cerita ini FIKSI belaka, tidak berhubungan dengan kehidupan nyata. Kebetulan cerita ini adalah cerita lama milik penulis yang pernah dipublikasi untuk fandom lain. Namun, sudah mengalami perombakan besar-besaran.
-Karakter yang digunakan pada cerita ini merupakan milik Nii Satoru (Wind Breaker), Amano Akira (Kamonohashi Ron no Kindan Suiri), Mo Xiang Tong Xiu (Heaven's Official Blessing/TGCF), dan Matsumoto Naoya (Kaiju No. 8).
-Ditulis menggunakan Bahasa Indonesia dan sedikit English. Pada dialog menggunakan bahasa semi-baku (menyesuaikan sedikit dengan sifat karakternya). Mohon maaf apabila terdapat kesalahan pengetikan (typo) meskipun telah diusahakan untuk menyesuaikan dengan EYD V dan KBBI.
-Cerita ini dipublikasi secara gratis untuk mengikuti event #WinBreWeek2024, penulis tidak mengambil keuntungan apa pun dari penulisan cerita ini.
-Cerita ini sedikitOut of Character (OOC).
-Jika cerita ini dirasa tidak sesuai dengan selera pembaca setelah melihat tagsnya, mohon diabaikan saja, ya. DLDR.

Ah, cerita ini slow burn. Semoga gak membosankan, ya.
Selamat membaca!

Chapter 1: Pertemuan Pertama

Notes:

(See the end of the chapter for notes.)

Chapter Text

Hari Jumat adalah hari yang membuat hati para pekerja bahagia. Hari Jumat adalah pembuka untuk menikmati kejayaan hidup sebagai manusia. Hari Jumat adalah hari yang ditunggu-tunggu kedatangannya sebab keesokan harinya adalah hari Sabtu, hari libur, dan seringnya dimanfaatkan untuk tidur.

Apa itu kerja? Akhir pekan kok kerja? Begitulah kata orang-orang, walaupun kenyataannya Suō secara teknis tak ada bedanya dengan sedang bekerja.

Sialnya, perusahaan tempat ia menyambung hidup berulang tahun di tanggal yang judulnya libur akhir pekan itu. Apa lagi? Pasti adalah acara, tentu ia harus hadir kalau masih mau terus mencari uang di perusahaan ini.

Sudahlah tidak punya gandengan, menikmati liburan yang tak sepanjang truk gandeng dengan rebahan manja pun cuma khayalan bagi pria ini.

Kita perjelas sekali lagi. Suō Hayato, seorang alpha, jomlo pula.

Padahal ia pun berencana untuk pulang kampung ke tempat orang tuanya di China barang sebentar saja. Lantaran rindu dengan dimsum buatan sang papi. Belum pernah Suō menemukan tempat penjual dimsum yang sesuai seleranya di perantauan.

“Papa, Papi, sori … aku gak bisa pulang kali ini,” ujar Suō via panggilan video.

“Gak usah pulang kalau belum bawa gandengan!” ucap Papa Hua Cheng.

“Ya, elah! Padahal anaknya kangen pengin makan dimsum buatan Papi!”

“Hahaha. Papi gak mau bikinin kalau kamu gak dengerin kata Papa,” respons Papi Xie Lian.

“Makanya doain anaknya cepat ketemu sama mate-nya!”

“Halah! Dasar aja kamu yang gak berusaha!" komentar Papa Hua Cheng.

Suo pun mendecak sebal. Wibawa dan citranya sebagai orang yang tenang serta berpikiran panjang selalu berubah total jika berurusan dengan orang tuanya.

Sementara itu, Nirei yang ingin pergi ke acara tersebut justru mengalami kesulitan.

Ayahnya terlalu protektif.

“Hari apa tadi acaranya?” tanya Ayah Ron.

“Hari Sabtu.”

“Dari jam berapa sampai jam berapa?”

“Mulainya jam 7 malam, Ayah. Kalau jam selesainya aku gak tahu.”

Sang ayah bersedekap dengan ekspresi sedang menimbang-nimbang. “Hmm. Memangnya harus, ya?”

“Gak harus. Tapi, aku pengin datang, Ayah. Tahun lalu kan aku gak datang,” ujar Nirei dengan puppy eyes-nya.

“Hmmm.”

“Udah, ih. Biarin aja anaknya mau pergi. Akihiko udah besar loh! Dia pasti bisa jaga diri. Lagian kamu juga kan nantinya yang antar-jemput dia,” saran Papa Toto.

Ayah Ron menatap ke arah Papa Toto. “Tapi, ini kan anaknya gak tahu selesai acaranya kapan?!”

Papa Toto mendengus. “Ya, nanti tinggal ditelepon aja! Beres!”

Nirei hanya duduk terdiam mengamati perdebatan orang tuanya. Dan, pada akhirnya sang ayah mengizinkannya juga. Namun, ia tetap tidak diizinkan untuk minum alkohol oleh ayahnya. Karena sang ayah khawatir Nirei kenapa-kenapa.

 

🍵 📒

 

Ruang display patung karakter game, robot, dan segala figurin benar-benar disulap menjadi tempat pesta. Karyawan dari seluruh departemen berbaur menjadi satu, apa pun jenis kelamin atau gender keduanya. Hanya saja, tim medis pun ada yang siap siaga di belakang, kalau-kalau saja terjadi hal di luar perkiraan.

Kemudian beberapa pasangan mulai turun ke lantai dansa, sedangkan Suō magernya luar biasa. Ia hanya duduk manis di kursi yang tak begitu jauh dari pintu masuk, melihat-lihat suasana yang ada.

Ya … namanya juga pesta, segala sudut ruangan pastilah dipenuhi berbagai ornamen yang turut meramaikan suasana. Tak lupa pula makanan dan minuman beraneka rasa, warna, dan rupa tertata di atas meja.

Sembari menggerak-gerakkan kaki mengikuti irama musik dari kursinya, Suō pun membatin, Moon Goddes, kapan aku akan dipertemukan dengan seorang omega? Aku sudah bosan menjomlo dan selalu main solo.”

Suō kemudian menggelengkan kepalanya dan berharap semoga Moon Goddes tak menghukumnya karena sekelebat pikiran yang hina. Tetapi, bukannya mendapat karma dari Yang Kuasa, justru jawaban dari pertanyaannya datang dengan cara tak terduga.

Ada seseorang yang tidak sengaja menabrak punggungnya. Tentu Suō terkejut karenanya. Namun, sosok yang menabrak justru terlihat lebih terkejut dan panik.

Lantas inner wolf Suō berteriak, “Mate! Mate!”

Seketika saja detak jantung Suō serasa aritmia. 

 

🍵 📒

 

Saat Nirei hendak mengambil minuman lemon soda, sontak penghidunya mencium aroma yang membuat jantungnya berdebar luar biasa. Aromanya menyegarkan, menenangkan, dan terkesan sangat mewah sekali. Baru kali ini Nirei merasakan hal semacam ini.

Sampai tanpa sadar ia berjalan ke arah sumber aroma tersebut. Kemudian kepala Nirei pun membentur punggung seseorang.

Hanya perlu waktu sepersekian sekon saja untuk pandangan mata mereka bertemu. Dan, secara perlahan sosok yang ditabrak pun tersenyum lantaran ia juga mencium aroma yang menarik hatinya.

Aroma yang begitu manis, namun juga hangat.

Lantas Nirei beringsut mundur dan berteriak panik sambil membungkuk berulang kali. “Maaf! Maafkan aku! Maaf! Aku tidak sengaja! Maaf sekali. Maaf.”

Sosok yang berada di hadapan Nirei pun ikut panik. Karena tiba-tiba saja mereka menjadi pusat perhatian. Semua orang mulai memandang ke arah mereka.

Dia sudah mencoba untuk menghentikan Nirei melakukan ritual minta maafnya. Namun, sepertinya Nirei tidak mendengar ucapannya. Sampai akhirnya dia menarik tangan Nirei dan membawanya ke tempat yang agak sepi.

“Oke. Oke. Aku terima permintaan maafmu. Tapi, cukup. Cukup. Tak perlu meminta maaf terus-terusan, ya, Manis,” ujarnya sambil menyunggingkan senyum.

Ekspresi wajah Nirei masihlah panik serta bingung dengan situasi yang terjadi. Inner wolf yang bersarang di tubuhnya meneriakkan “Mate” berulang kali tatkala ia dibawa pergi oleh sesosok alpha.

Seketika saja pipi Nirei bersemu dan ia pun menunduk.

“Sekali lagi, aku minta maaf."

“Hmm … cukup, Manis. Kau tidak salah apa-apa. Kali ini aku yang meminta maaf jika kurang sopan, kau omega, ‘kan?”

Nirei mengangguk dan kembali menundukkan pandangan karena terlalu malu untuk menatap Suō.

“Sepertinya kau adalah mate-ku.” Suō berkata blak-blakan.

Nirei menegakkan kepalanya dan matanya membelalak dengan sempurna. Kemudian Nirei pun membatin, “Apa memang seperti ini rasanya saat bertemu dengan belahan jiwa?”

Nirei bingung dan ragu. Namun, seketika saja inner wolf-nya yang bernama Nini menyahut, “Bodoh! Dia memang mate-mu!”

“Kenapa aku jadi dikatai bodoh?! Menyebalkan!” Nirei merespons Nini.

Suō masih setia menunggu respons Nirei. Hanya saja pria berambut pirang itu seperti terjebak dengan dunianya sendiri. Warna merah yang awalnya menyembul di tulang pipinya, kini telah menjalar ke telinga bahkan lehernya.

“Ah, sepertinya dia memikirkan kita. Iya, kan, Haya?” Suō berusaha berkomunikasi dengan inner wolf-nya.

“Ajak dia berdansa! Cepat! Cepat!” respons Haya.

Lantaran Suō merasa bahagia bukan kepalang, ia mendekat ke arah Nirei dan berbisik, “Would you dance with me?

Bisikan Suō mendistraksi Nirei. Ia terlalu malu untuk menjawab menggunakan kata-kata sehingga hanya merespons dengan anggukan disertai senyuman dan berakhir menunduk.

Ada sensasi yang lucu di hati Suō ketika melihat senyum pria mungil itu. Sebab lagi-lagi membuat jantungnya berdegup tak menentu.

Suō membawa Nirei menuju lantai dansa. Diletakkannya tangan kanan sang omega pada pundak kirinya, sedangkan tangan lainnya saling bertaut mesra. Tak lupa tangan kiri Suō diletakkan pada pinggang kanan pria yang sedang bersamanya.

Padahal Suō belum pernah berdansa, hal-hal begitu cuma dia tonton di film saja. Akhirnya Suō heboh sendiri di dalam hatinya.

“Mimpi apa aku semalam, Haya? Sepertinya kita tak akan jadi bujang lapuk lagi. Ah … omong-omong, tanganku rasanya seperti mal-mal di Tokyo. Lokasinya sangat strategis, hihihi.

“Minimal kau tanya dulu siapa namanya!” Haya merespons dengan ketus.

“Oh, iya, ya.”

Lagu berjudul “Stand by me, Stand by you.” dari HIRAIDAI pun mengiringi setiap gerakan mereka di lantai dansa.

Seperti dirasuki, mereka menari dengan sepenuh hati. Menari dengan pikiran yang melayang ke sana-kemari. Menari dengan raut wajah saling mengagumi. Menari dengan berjuta tanya dalam hati. Dan, menari seakan momen semacam ini tak akan pernah datang lagi.

“Your name? ” tanya Suō akhirnya.

Yang ditanya hanya menunjukkan raut wajah bingung dan menaikkan satu alisnya ke atas. Ia tak mendengar dengan jelas ucapan dari sang penanya. Kemudian Suō mendekat dan berbisik di telinganya.

“Siapa nama sosok indah di depanku ini?”

“Ni-Nirei. Omega, Nirei Akihiko.” Ia menjawab dengan tersipu kala sang alpha menyebutnya indah.

“Cantik, sesuai dengan orangnya. Aku Suō. Alpha, Suō Hayato.”

Nirei menganggukkan kepala sambil tersenyum, kulit lehernya pun sedikit meremang karena napas Suō berembus saat membisikkan kalimat-kalimat tersebut.

Pria yang mendeklarasikan diri di dalam hati tak akan menjadi bujang lapuk lagi itu pun merasa hatinya tenang walau pikirannya melayang-layang tidak keruan. Pasalnya ia merasa sosok Nirei seperti ombak yang berdebur di tepi pantai dan ombak itu bisa membawa Suō hanyut sampai ke laut lepas hanya karena melihat senyum indah Nirei, apalagi saat melihat matanya yang menyipit bak bulan sabit.

Suō kagum. Suō takjub. Suō terkesima. Suō merasa malam ini benar-benar luar biasa. Sehingga muncul perasaan lain di dalam hatinya. Mungkinkah ini yang namanya cinta? Ingin rasanya memiliki sepenuhnya, karena tak puas hanya untuk sekadar mengagumi saja.

Setelah tiga menit tiga puluh detik berada di lantai dansa, akhirnya Suō membawa Nirei menuju sebuah kursi. Kemudian ia meninggalkan Nirei sebentar untuk mengambil minuman dan beberapa camilan. Suō grasak-grusuk tidak keruan, menyalip di antara orang-orang yang berdiri di dekat meja hidangan. Segera ia menghampiri kembali sang pria pujaan karena tak ingin waktu terbuang percuma. Maklum saja, serigala ini sedang dimabuk cinta setelah sekian lama.

Nirei hanya duduk tertunduk dan sempat beberapa kali melambaikan tangan pada teman-teman satu departemen yang berlalu-lalang melewatinya. Sejujurnya Nirei malu dan tak tahu harus berbuat apa. Bisa dibilang perlakuan Suō padanya tadi adalah hal pertama yang ia alami selama 25 tahun hidupnya.

Entah mengapa Nirei langsung mengiakan ajakan Suō untuk berdansa. Sesaat ia juga merasa seperti bukan menjadi dirinya yang biasanya. Tetapi, Nirei senang, Nirei suka. Inner wolf-nya pun merasakan hal yang sama.

“Maaf menunggu lama,” ucap sang alpha sembari menyodorkan gelas minuman dan juga camilan yang dibawa.

“Ah, tidak. T-Tidak lama, kok. Terima kasih.” Nirei tersenyum setelah mengakhiri kalimatnya yang sedikit terbata sambil menerima pemberian dari sang alpha.

“Bisa mati muda disenyumin terus begini. Suō berucap dalam hati.

Suō mengangguk sebagai respons dari ucapan Nirei. Ia melangkahkan kaki untuk duduk di samping Nirei dan menarik napas kemudian membuangnya sebelum benar-benar terduduk.

Suō juga sempat membatin, “Stay calm, stay cool,”; merasa sedikit gugup dan kaku. Tetapi, ia juga tak ingin kehilangan kesempatan emas untuk mendapatkan omega yang selama ini ia tunggu-tunggu.

“Nirei-kun.” Nirei menoleh ke arah Suō. “Kau bekerja di sini? Departemen mana? Divisi Apa? Sepertinya kita belum pernah bertemu,” tanya Suō.

Nirei mengangguk. “Aku juga belum pernah bertemu denganmu, Suō-san. Aku di Departemen Treasury and Finance. Akuntan. Bagaimana denganmu?”

“Ah, begitu. Aku di Departemen IT. Aku baru saja dipindahkan ke System IT Administrator untuk membantu mengurus komputer server. Sebelumnya aku Chief IT Technician. Pantas saja kita tidak pernah bertemu. Ibarat ikan nih, ya, kau adalah kepala dan aku adalah ekornya.” Suō menjeda sepersekian detik. “Hmm … apa terbalik, ya?” lanjutnya.

Nirei menaikkan sebelah alisnya keheranan. Lantas ia tertawa menanggapi analogi Suō yang terdengar konyol, ditambah ekspresi wajah yang terlihat lucu menurutnya. 

Tawa Nirei pun menular bak virus untuk Suō. Tawanya sangat candu, bahkan Haya bersorak-sorai di dalam pikiran Suō, begitu pula Nini, inner wolf Nirei. Suō jadi semakin ingin membuat Nirei tertawa.

“Tapi, Nirei-kun, tahu tidak kenapa ikan tak berenang di kolam renang?”

“Hmm? Karena kolam renang untuk manusia berenang, bukan untuk ikan.”

“Salah, bukan itu jawabannya.”

“Loh, lalu kenapa?”

“Karena nanti ikan bisa kena hak cipta,” jawab Suō dengan raut wajah serius serta tangan yang bersedekap.

Nirei berkedip-kedip keheranan. “Hak cipta gimana? Kok, bisa?”

“Iyalah, bisa. Karena …,” Suō mendekat ke arah Nirei dan membisikkan sesuatu di telinganya, “… karena kolam renang mengandung copyright.”

“Hah?” Nirei terkejut mendengar jawabannya. Sesaat kemudian ia menyadari maksud ucapan Suō. Nirei tertawa dan refleks memukul Suō. “Ih! Kaporit loh itu! Bukan copyright!”

Suō pun tertawa kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Meskipun garing, Suō tak peduli, yang penting Nirei tertawa karenanya.

Malam itu akhirnya mereka lewati bersama penuh dengan canda tawa.

Nirei dan Nini merasa nyaman mengobrol bersama alpha yang baru satu jam ditemui ini, ditambah Nini berulang kali menyerukan “Mate”, meskipun Nirei memilih untuk mengabaikan hal itu terlebih dahulu. Nirei terlalu malu untuk menyinggung lebih lanjut perkara itu sehingga ia hanya mengikuti alur yang Suō ciptakan.

Semakin malam, Suō rasanya semakin tidak rela untuk berpisah dengan sang omega. “Mau culik aja bisa gak, sih?” tanyanya kepada Haya.

“Lo courting aja, kek! Gue juga mau sama omega,” respons Haya.

Suō berkutat dengan pemikiran-pemikiran ajaibnya bersama Haya. Sedangkan Nirei, yang pasti dia lelah tertawa, sampai akhirnya harus buang air kecil juga. Tetapi, sekembalinya dari bilik berukuran 1 x 1 meter itu, Nirei terfokus pada ponselnya dan tak peduli lagi pada sekelilingnya.

Bagai Cinderella di negeri dongeng yang kehabisan energi sihirnya, Nirei terpaksa harus meninggalkan pesta karena sang ayah telah menjemputnya, tepat saat jam 11 malam. Satu jam lebih cepat dari Cinderella malah.

Akhirnya, Nirei pergi tanpa bisa berpamitan dengan benar kepada Suō sebab ia tak menemukan sang alpha di tempat semula.

Tatkala Nirei meninggalkan Suō ke toilet, pria bersurai cokelat tua itu mendapatkan panggilan dari atasannya untuk datang ke ruangan aula samping karena terdapat masalah pada laptop yang digunakan untuk acara tersebut. Padahal dari awal Suo sudah mengingatkan pada teknisi untuk membawa 2 bahkan 3 laptop untuk berjaga-jaga. Masih untung Suō mengingatkan karena sebetulnya hal semacam itu sudahlah bukan tanggung jawabnya lagi.

Setelah permasalahan selesai, Suō kembali lagi ke tempat ia bersama Nirei sebelumnya. Namun, tak ada siapa pun di sana. Pergilah ia menuju toilet untuk mencari sang omega. Namun, tak jumpa juga.

“Wah, Nirei-kun ke mana?”

Suō mendadak lemas. Ia pun menyugar rambutnya yang sedikit berkeringat usai berjalan ke sana-kemari mencari keberadaan Nirei.

Dalam hati ia merasa kesal. Sungguh rasanya apes. Apes sekali.

Suō melupakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang akan menjadi pembuka jalan. Sesuatu yang bisa merubah kehidupan. Sesuatu yang memang seharusnya ditanyakan sejak awal.

Kontak Nirei. Suō lupa menanyakannya karena keasyikan bercanda. Ya, walaupun candaan yang dilontarkan kebanyakan krik-kriknya.

Lantas Haya pun berkomentar, “Huh! Gimana ceritanya mau courting kalau nomor hp aja gak punya?”

 


 

Bersambung ~

Notes:

Sampai sini dulu, ya!
Terima kasih sudah membaca ceritanya ^^