Actions

Work Header

Red Bookmark

Summary:

Bunga mawar merah darimu saat hari kelulusanku, selama ini kujadikan sebagai penanda halaman buku.

Notes:

Disclaimer:

-Cerita ini hanyalah fiksi semata.
-Karakter atau tokoh yang digunakan dalam cerita ini adalah milik Furudate Haruichi (Mangaka Haikyuu!!).
-Cerita ini dipublikasi untuk event #KembangHaikyuu yang diselenggarakan oleh @hqfanworksparty dengan tema: Taman Shiratorizawa - Red Rose.
-Penulis tidak mengambil keuntungan apa pun dari cerita ini.
-Inspired by Song: 青い栞 (Aoi Shiroi) by Galileo Galilei.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

TIGA tahun ternyata berjalan sangat sebentar. Rasa-rasanya baru kemarin Kiyoko Shimizu mengikuti Upacara Penerimaan Siswa Baru di SMA Karasuno. Tetapi, kini ia justru sudah sampai di penghujung masa remajanya, Upacara Kelulusan SMA.

Tidak ada hal yang benar-benar berubah pada diri Kiyoko. Namun, bukan berarti ia tidak berubah sama sekali. Banyak perjalanan hidup, kerja keras, tangis, dan tawa yang akhirnya ia rasakan bersama Tim Bola Voli Putra, terlebih semuanya bermula sejak ia masihlah menjadi satu-satunya perempuan yang berada di sana. Ia pun memulainya sejak merasa hampir terpuruk dan mengira tak akan pernah lagi bersinggungan dengan kegiatan olahraga.

Sedikit banyak ada perasaan tidak rela untuk meninggalkan segalanya. Lantaran semuanya terasa begitu berharga dan mungkin akan sangat sulit untuk dilupakan begitu saja. Lantas ketika rangkaian bunga dan pita kecil sudah tersemat di atas dada sebelah kiri, sekelebat terlintas dalam benak Kiyoko bahwa ini semua tidaklah nyata.

Netranya pun mulai berkelana ke seluruh penjuru aula, melihat berbagai ekspresi dari teman-teman satu angkatan yang sesaat lagi akan memulai perjalanan hidup di berbagai tempat yang mungkin sesuai dengan cita-cita mereka atau bahkan tidak terduga. Ada yang fokus mendengarkan pidato kepala sekolah, ada yang menjahili teman yang berada di depan atau sebelahnya, ada yang terlihat malas, menguap, dan menunjukkan ekspresi ingin upacara ini segera berakhir, bahkan ada pula yang sudah memulai ritual untuk meminta dan memberi kancing kedua dari gakuran.

Kiyoko hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum sekilas melihatnya.

Usai memberi pidato, kepala sekolah pun memberikan penghargaan kepada siswa-siswi berprestasi dan dilanjut dengan penyerahan sertifikat kelulusan untuk seluruh siswa. Satu per satu siswa menaiki podium, membungkuk sebagai tanda penghormatan, menerima sertifikat menggunakan kedua tangan, dan kembali duduk di kursi masing-masing.

Langkah demi langkah yang Kiyoko lakukan untuk naik ke atas podium cukup membuatnya merasa asing. Sesaat ia pun merasa sedang menjadi pusat perhatian. Namun, seketika saja perasaan asing itu teralihkan berkat pandangannya yang tanpa sengaja menangkap keberadaan para juniornya di bagian belakang aula.

Yachi dan Hinata melambaikan tangan dengan hebohnya, Tanaka dan Nishinoya yang terlihat memberontak karena kerah bajunya ditahan oleh Ennoshita, sementara Kageyama, Tsukishima, Yamaguchi, Kinoshita, dan Narita hanya berdiri mengamati jalannya upacara kelulusan.

Setelah segala rangkaian acara pada upacara tersebut terlaksana, seluruh siswa berhamburan ke sana-kemari, memeluk para sahabatnya, menghampiri guru-guru yang selama ini mengajari mereka, dan masih banyak lagi.

Daichi, Asahi, dan Suga berjalan bersamaan dengan Kiyoko untuk menghampiri para junior mereka. Kemudian secara serempak para junior mengucapkan “Selamat atas kelulusannya!”

Mata Asahi terlihat berkaca-kaca dan Kiyoko nyaris tertawa karenanya. Sementara Daichi merangkul Tanaka dan Nishinoya karena hampir bertindak gegabah untuk mendekati Kiyoko, dan Suga yang tersenyum lembut sambil mengelus kepala Hinata.

“Ayo kita ke lapangan!” teriak Daichi yang telah menyerahkan Tanaka dan Nishinoya pada Ennoshita.

Lantas semua orang pun mengikuti langkah mantan Kapten Tim Bola Voli Putra SMA Karasuno tersebut untuk meninggalkan aula.

“Ah … rasanya baru kemarin kita bermain di tingkat nasional. Tapi, sekarang kita sudah lulus saja,” ujar Suga.

“Suga …,” Asahi merengek dan hanya ditertawakan oleh Suga.

“Bagaimana tanggapannya, Shimizu?” tanya Daichi.

Kiyoko tersenyum. Ia menghentikan langkah kakinya dan membuat semua orang terheran melihatnya. Kemudian Kiyoko membungkuk seraya berujar, “Terima kasih banyak atas kerja keras kalian semua selama ini. Tetap semangat! Perjalanan kalian tidak akan berakhir di sini.”

Seketika saja Yachi langsung memeluk Kiyoko dengan air mata yang berlinang. Sepertinya dia sudah menahan-nahan air matanya sejak tadi.

“Kiyoko senpai, aku masih belum rela kita berpisah seperti ini.”

Kiyoko balas memeluk Yachi dan mengelus punggungnya. “Kau masih bisa menghubungi kapan pun kau butuh bantuan,” responsnya diiringi senyuman.

“Kiyoko-san … aku juga mau dipeluk!” ujar Tanaka dan Nishinoya bersamaan.

Sontak keduanya diberi bogem mentah di kepala oleh Ennoshita.

Tsukishima tertawa tanpa suara sambil memalingkan muka dan Yamaguchi yang berada di sebelahnya jadi ikut tertawa karenanya.

Usai mengurai pelukannya pada Yachi, Kiyoko lanjut berjalan di sebelah Suga. Namun, tiba-tiba saja Yachi menginterupsi. “Eh … anu … Senpai, tunggu sebentar!” ucapnya sedikit berjeda sebab jemarinya sibuk merogoh saku blazernya untuk mengeluarkan kamera.

“Untuk kenang-kenangan. Mari berfoto bersama!”

“Wah! Yachi-san …!” Hinata berseru heboh sambil memberikan dua jempol pada Yachi.

Yachi langsung tersipu.

“Ya, oke, oke. Langsung saja kita berpose!” ujar Suga.

“T-Tapi, bisakah kita mulai dari senpai berempat terlebih dahulu?” tanya Yachi.

“Oh … oke,” respons Suga. “Daichi, kau di tengah, Asahi di kanan, Shimizu di Kiri, aku di tengah juga tapi sambil berjongkok saja,” ucapnya mengatur posisi.

“Kenapa Shimizu tidak di tengah saja?” tanya Asahi.

Suga memicing matanya. “Demi keamanan dan kenyamanan bersama!”

“Lagi pula aku kan kaptennya, harus aku yang menang banyak!” respons Daichi.

Suga dan Asahi serentak langsung memelototi Daichi.

“Kenapa tidak ada yang meminta pendapatku terlebih dahulu untuk posisinya?” ujar Kiyoko.

Lantas ketiganya memandang Kiyoko dengan saksama. Kiyoko nyaris tertawa melihat ekspresi mereka yang seakan serius tetapi segan.

“Aku setuju dengan usulan Koushi.”

Sontak Suga dan Daichi bersorak kegirangan, sementara Asahi hanya melongo tak percaya. Lagi-lagi Tanaka dan Nishinoya heboh karena tidak terima, ingin berfoto bersama Kiyoko juga.

“A-Anu … bisa kita mulai sekarang untuk ambil fotonya, Senpai?” Yachi mencoba menginterupsi kembali.

“Ayo, ayo!” ujar Suga.

Kini keempatnya sudah berada di posisi yang Suga usulkan. Kemudian Yachi meminta Asahi, Daichi, dan Kiyoko untuk berdiri lebih rapat. Alhasil, tangan kiri Daichi memegang pundak kiri Kiyoko, Asahi merangkul pinggang Daichi dengan tangan kirinya, dan Kiyoko pun meletakkan tangan kanannya di punggung Daichi, sementara Suga berlutut dengan lutut kanan yang menyentuh lantai aula. Mereka semua tersenyum sambil memegang gulungan sertifikat kelulusan dan membentuk ‘V’ dengan jari tangan mereka yang lain.

Yachi menekan tombol kameranya beberapa kali untuk mengambil gambar. Lantas selanjutnya mereka benar-benar berjalan menuju ke lapangan tempat biasa mereka berlatih bersama.

Lontaran-lontaran tentang segala kenangan yang terjadi selama berada di sana pun berjalan selaras dengan ingatan yang juga bermunculan di kepala. Mereka benar-benar bernostalgia dan berakhir tertawa bersama. Tak lupa mereka pun mengambil foto bersama di lapangan voli tersebut setelah Yachi mengatur waktu pengambilan gambar dengan kameranya, sehingga tidak ada yang menjadi korban untuk tidak terfoto.

Tak lama kemudian, Pelatih Ukai bersama Takeda sensei datang dan berkata akan mentraktir semua anggota Tim Bola Voli Putra SMA Karasuno untuk merayakan kelulusan dari para siswa kelas 3 dengan barbeku di rumah Pelatih Ukai Senior.

Tentu saja semuanya senang bukan kepalang, terutama Tanaka, Nishinoya, Hinata, dan Kageyama. Mereka langsung berteriak dan melakukan ritual seperti yang pernah mereka lakukan saat latih tanding di Tokyo.

“Bar … be … ku …,” ujar Tanaka, Nishinoya, dan Hinata bersahutan.

“Oniku, niku, niku, oniku, niku. Awasete niku niku. Oniku banzai! Genki hyakubai! Ujuju! Hallelujah, hallelujah! Oniku Kami-sama! Oniku Kami-sama!

Lantas Daichi berjalan menghampiri keempatnya dan menggetok kepala mereka. “Berisik! Minimal ucapkan terima kasih terlebih dahulu!”

Secara serentak mereka berempat membungkuk ke arah Pelatih Ukai dan Takeda sensei seraya berkata, “Terima kasih banyak!”

Dan, yang lain pun akhirnya melakukan hal serupa.

Setibanya di rumah Pelatih Ukai Senior, mereka semua disambut bukan hanya oleh sang empunya rumah, tetapi oleh para murid pelatih yang lainnya. Mereka telah menyusun segala perlengkapan dan seketika saja Kiyoko turun tangan untuk membantu. Yachi dan yang lainnya pun langsung mengikuti Kiyoko.

Lantaran Asahi dan Daichi memiliki postur tubuh yang lebih besar dari yang lainnya, keduanya jadi bertugas untuk memanggang daging, meskipun pada akhirnya dibantu oleh Kinoshita dan Narita. Sedangkan Suga, Ennoshita, Yamaguchi, Yachi, dan Tsukishima mendistribusikan daging-daging yang sudah selesai dipanggang kepada semua orang beserta minumannya.

Setelahnya Kiyoko duduk di tempat yang kosong seorang diri. Ia mengamati semua tingkah teman-teman dan juniornya. Mereka semua tampak bahagia. Kiyoko merasa bersyukur sekali bisa menjadi bagian dari tim yang begitu luar biasa.

Hati Kiyoko serasa penuh. Ada perasaan yang ingin meluap-luap, tetapi ia bingung bagaimana harus mengekspresikannya. Tiba-tiba saja pandangannya menjadi buram dan air mata secara perlahan mulai membasahi pipinya.

Secepat kilat Kiyoko melepas kacamatanya dan mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Dalam hati ia sepenuhnya berharap semoga tidak ada satu pun yang menyadari bahwa ia menangis seperti ini.

Kiyoko tidak ingin merusak suasana. Kiyoko tidak ingin perhatian semua orang jadi tertuju padanya. Kiyoko tidak ingin hari ini ditutup dengan air mata, meskipun air mata itu bukanlah untuk menunjukkan kesedihan atas perpisahan yang entah sifatnya sementara atau bahkan mungkin selamanya.

Kiyoko hanya ingin sekali lagi menciptakan momen bahagia bersama mereka. Kiyoko hanya ingin hari ini tidak berakhir percuma.

Selama acara makan-makan berlangsung, Yachi tidak lupa untuk memotret segala momen yang ada dengan kameranya. Kemudian acara tersebut diakhiri dengan foto bersama dalam posisi yang lebih tertata.

“Oke, teman-teman. Nanti aku akan mencetak foto-fotonya, ya. Untuk senpai-senpai yang sudah lulus, fotonya nanti aku titipkan ke Tanaka senpai, ya. Sekali lagi aku ucapkan selamat atas kelulusan kalian,” ucap Yachi panjang lebar dan seketika wajahnya kembali bersimbah air mata.

Mereka semua saling berpelukan dan mengakhiri perpisahan hari itu dengan yel-yel kebanggaan sebelum bertanding.

 


 

KIYOKO baru saja menerima paket dari orang tuanya yang disusun sedemikian rupa di dalam kardus tebal dan kardusnya terasa berat sekali.

Padahal Kiyoko sudah bilang jika ia sengaja meninggalkan sebagian barang-barangnya di sana supaya tidak mempersempit ruangan unit apartemennya. Namun, orang tua Kiyoko bersikeras berkata bahwa dirinya akan berterima kasih pada mereka lantaran barang-barang tersebut terlihat sangat berharga bagi Kiyoko.

Kiyoko menghela napas usai bersusah payah membawa kardus tersebut ke ruang tengah. Kemudian ia mencari pisau kecil yang biasanya memang digunakan untuk membuka perekat pada paket.

Tatkala kardus tersebut telah terbuka, seketika saja Kiyoko tersenyum melihat isinya.

Benar saja, itu adalah benda-benda yang selama ini Kiyoko simpan di dalam kardus yang lebih tipis dari ini dan tersembunyi di bawah tempat tidurnya.

Ah, rasanya benar-benar nostalgia.

Aku akan menelepon orang tuaku nanti.

Secara perlahan Kiyoko mengeluarkan satu per satu benda. Mulai dari buku diari, pigura kecil yang berisi foto kelulusan SMA-nya bersama Asahi, Daichi, dan Suga; catatan lamanya mengenai hasil pertandingan bola voli yang terlihat acak-acakan, sementara catatan yang telah dirapikan ia berikan semua pada Yachi jauh sebelum hari kelulusan. Ada pula album foto yang berisi kompilasi foto masa kecil Kiyoko sampai dengan foto pernikahannya.

Namun, pandangan Kiyoko tiba-tiba terpatri pada album foto lainnya. Kiyoko ingat betul dengan sampul albumnya. Di sana terdapat banyak sekali foto anggota Tim Bola Voli Putra SMA Karasuno. Mulai dari foto saat latihan harian, latihan tanding, pertandingan prefektur, hingga pertandingan nasional yang kebanyakan diambil oleh Takeda sensei ataupun media yang membagikannya secara cuma-cuma di dunia maya. Kiyoko juga mengumpulkan artikel atau berita dari koran yang menyebut nama sekolah mereka meskipun terkadang tidak ada fotonya.

Halaman demi halaman album foto Kiyoko lihat dengan saksama. Ingatan akan gelora masa muda yang haus akan kemenangan rasanya kembali mengudara di kepala.

Lantas tibalah Kiyoko pada halaman foto yang diambil pada hari kelulusan SMA-nya. Semua foto ini benar-benar hasil kerja keras dari seorang Yachi Hitoka. Kiyoko tidak bisa tidak tersenyum saat melihat foto-foto tersebut.

Dalam albumnya juga terdapat bagian foto yang sengaja Yachi ambil secara individu. Akan tetapi, di halaman selanjutnya Kiyoko mendapati setangkai bunga mawar merah kering dan telah ia tempatkan di dalam plastik yang diatur secara presisi serta diberi perekat.

Sontak Kiyoko tertawa. Kiyoko ingat betul dari mana mawar merah ini berasal. Kiyoko ingat betul sejak kapan ia memilikinya. Dan, Kiyoko ingat betul siapa yang memberikannya.

Mawar merah yang begitu indah. Merah dan merekah dengan sempurna. Seperti benar-benar dijaga sedemikian rupa sehingga sulit untuk mengabaikannya begitu saja. Kiyoko tahu benar apa makna yang terkandung dari tanaman berduri ini. Kiyoko tahu benar tanpa perlu bertanya maksud dan tujuan dari sang pemberinya.

“Ki-Kiyoko-san, selamat atas kelulusanmu,” ucap Tanaka. “Tolong terima bunga ini,” lanjutnya dengan pipi yang bersemu.

Tanaka memberikan setangkai mawar merah pada Kiyoko usai berjalan melalui gang-gang lain yang menjadi jalan pintas menuju ke rumah Kiyoko. Lantaran Tanaka tidak ingin terlihat seperti seorang penguntit jika melalui jalan yang biasa dilalui Kiyoko. Tanaka pun berusaha keras menghindar dari para anggota timnya setelah buru-buru pulang ke rumah untuk mengambil mawar yang ia tanam dan rawat selama beberapa bulan belakangan. Kemudian ia lapisi satu tangkai bunga mawar terbaik dengan plastik transparan dan juga pita kecil berwarna merah muda.

Tanaka jadi terlihat salah tingkah ketika Kiyoko menerima pemberiannya.

“Dia sepertinya serius jatuh cinta padaku,” batin Kiyoko.

Sebab benar, mawar merah dapat disimbolkan sebagai bentuk dari rasa cinta, jatuh cinta, dengan perasaan yang begitu kuat dan juga indah.

“Terima kasih, Ryū.”

Secara tiba-tiba wajah Tanaka bersemu. Dia berbalik badan dan berteriak, “Aaaah …!!”

Kiyoko nyaris tertawa melihat reaksi Tanaka. Sebab memang benar bahwa ini adalah kali pertama Kiyoko memanggil nama sang lelaki bukan dengan nama marganya.

Setelah tahun lalu Kiyoko memutuskan untuk menikah dengan Tanaka, ia pun masih sering bertanya, “Apa yang membuat sang pria begitu mencintainya?” Dan, tentu saja Tanaka akan menjelaskan seribu satu alasan mengapa dia begitu mencintai Kiyoko sejak SMA.

Di lubuk hatinya, Kiyoko juga merasa bersyukur karena bisa dicintai dengan perasaan yang sehebat itu oleh pria yang luar biasa hebat pula.

Lantas ketika Kiyoko melihat ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan jam kepulangan Tanaka. Benar saja, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.

“Aku pulang!”

“Selamat datang!” sambut Kiyoko yang langsung bangkit dari posisi duduknya seraya menyimpan album foto dan bunga mawar merah kering itu di atas meja.

“Eh, sedang apa?” tanya Tanaka yang keheranan dengan barang-barang yang berserakan di lantai dan meja.

“Ayah dan ibu mengirimkan barang-barang lama dari kamarku. Yah, beginilah,” jawab Kiyoko.

Kemudian Tanaka mendekat ke arah meja dan mengambil sebuah bingkai foto yang terdapat fotonya bersama anggota tim voli kelas tiga. “Ah, aku masih kesal dengan foto yang ini. Aku kan ingin foto bareng juga.”

Kiyoko hanya tertawa mendengarnya.

“Eh, yang ini apa?” tanya Tanaka yang pandangannya teralihkan pada setangkai mawar merah kering yang terbungkus plastik.

“Hmmm? Kau tidak ingat?”

Tanaka memasang ekspresi wajah keheranan. Alisnya mengernyit dan kepalanya miring ke kanan.

“Itu bunga mawar merah darimu saat hari kelulusanku dan selama ini aku menjadikannya sebagai penanda halaman buku. Terkadang aku pun berpikir sudah menghilangkannya, tapi ternyata terselip di album foto,” jelas Kiyoko sambil menunjuk album foto yang dimaksud. “Omong-omong, warna merahnya masih terlihat bagus meskipun berangsur-angsur berubah. Tidak seperti warna aslinya lagi.”

Tanaka membelalakkan matanya tak percaya. Sebab dalam benaknya ia tidak menyangka bila Kiyoko akan menyimpannya hingga saat ini.

“Kenapa? Kau pasti berpikir kalau aku sudah membuangnya sejak lama. Iya, kan?”

Tanaka bersedekap dan mendengus. “Huh, kenapa kau selalu bisa membaca pikiranku?”

Kiyoko pun tersenyum. “Karena aku adalah istrimu! Aku tahu segala tentangmu, Ryū.”

“Aaaa ….” Tanaka masih sering salah tingkah di hadapan Kiyoko. Dia masih belum menyangka jika cinta sepihaknya terbalaskan dan justru mereka akan menjadi teman hidup selamanya hingga maut memisahkan. “Terima kasih banyak, Shimizu. Aku benar-benar mencintaimu,” ujar Tanaka sambil mendekap Kiyoko dan memberikan kecupan penuh kasih sayang pada puncak kepalanya.

Lantas Kiyoko membalas pelukan Tanaka dan berujar, “Aku juga mencintaimu.”



 

Fin. 

 

 

Notes:

Whoaaah, setelah 2 tahun akhirnya bisa benar-benar berpartisipasi di event ini huhu. Terima kasih kepada admin @hqfanworksparty atas kerja kerasnya. Mohon maaf bila karya ini masihlah belum seberapa :")

Terima kasih juga kepada siapa pun yang sudah membaca ceritanya <3