Chapter Text
Dua belas tahun lalu
Yibo berlari secepat kaki-kaki kecilnya sanggup membawanya sepanjang jalan menuju sebuah kafe tak jauh dari rumahnya. Jaraknya hanya sekitar 300 meter tapi bagi Yibo kecil, jarak itu lumayan membuatnya terengah.
Kafe kecil yang ditujunya berada di sudut jalan yang tenang. Berdiri di antara jejeran toko lain dan berhadapan langsung dengan toko peralatan olah raga yang mana ayah Yibo kerap membawanya untuk membeli peralatan mendayung. (Ayah Yibo sangat terobsesi dengan mendayung dan rajin mengikuti kejuaraan bersama paman-paman di lingkungan mereka. Menurut Ibu, jiwa kompetitif Ayah itu menurun pada Yibo. Yibo tak paham apa maksudnya).
Mengintip dari pintu kaca, sedang tidak ada pengunjung di kafe itu. Hanya ada seorang pemuda berdiri di balik konter, melakukan sesuatu. Tangan kecil Yibo mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Bunyi denting pelan bel yang menggantung di atas pintu menyambutnya. Pemuda yang berdiri di balik konter mengangkat kepala. Sebuah senyum manis dan lebar menghiasi wajahnya begitu dia melihat Yibo.
“Halo, adik kecil,” sapanya ramah sambil melambaikan tangan pada Yibo. Wajahnya sangat cantik dan Yibo sangat suka memandangnya. Menurut Yibo, kakak ini adalah orang paling cantik yang ada di dunia ini. Dia juga sangat ramah dan baik hati. Pertama kali bertemu, dia membantu Yibo naik ke kursi bar dan merekomendasikan tart lemon yang asam dan tak begitu manis. Sejak itu, Kakak Cantik™ adalah pujaan hati Yibo.
Sekarang, Yibo sudah bisa naik sendiri ke kursi bar tapi kakak itu selalu menghampirinya dan berjaga, memastikan supaya Yibo tidak jatuh. Kali ini pun sama tapi Yibo sudah sangat mahir memanjat kursi jadi Yibo sudah berhasil naik sebelum Kakak Cantik™ sempat menghampirinya.
“Halo, Gege ,” balas Yibo dengan cengiran lebar. “Aku mau kopi,” ujarnya sambil meletakkan selembar uang yang sedari tadi digenggamnya erat.
Kakak Cantik™ tertawa renyah. Dicondongkannya tubuhnya ke atas konter supaya wajahnya sejajar dengan Yibo. “Hmm, bagaimana kalau coklat panas saja? Kopi tidak baik untukmu,” tawarnya ramah.
Yibo merengut, “Tapi aku baru saja ulang tahun yang keenam! Aku sudah besar! Ibu bilang aku boleh minum kopi kalau sudah besar!”
Kedua mata Kakak Cantik™ melebar, “Oh ya? Wah, selamat ulang tahun!” ujarnya antusias sambil bertepuk tangan. “Kalau begitu, ini uangnya disimpan saja. Aku traktir strawberry parfait untuk merayakan ulang tahunmu ya.” Jari-jarinya yang lentik mendorong uang yang tadi disodorkan Yibo kembali ke arah Yibo.
Kedua mata Yibo melebar dengan antusias. Strawberry parfait!! Ibu hanya mengijinkan Yibo makan parfait pada saat-saat tertentu saja karena menurut Ibu, Yibo tak akan bisa diam sepanjang hari kalau terlalu banyak makan es krim! Jadi kalau ditawari es krim, tentu saja Yibo tak akan menolak! Dengan segera, keinginannya untuk mencoba minum kopi tergeser. Kepala kecilnya mengangguk dengan semangat. “Mau!”
Kakak Cantik™ tertawa renyah seraya mengulurkan tangan untuk mengacak rambut Yibo dengan gemas. “Anak baik. Oke. Tunggu sebentar ya. Ini uangnya disimpan dulu,” ujarnya mengingatkan. Yibo pun menurut dan memasukkan uang itu ke dalam kantung bajunya dengan baik.
Yibo meletakkan kedua lengannya di atas konter dan menggunakannya untuk menopang dagu dan pipinya. Matanya yang bulat memperhatikan Kakak Cantik™ meracik parfait dengan cekatan. Kakak Cantik™ tidak hanya cantik tapi juga mahir berbagai macam hal: membuat kopi, menyeduh teh, meracik parfait, memotong cake, dan banyak hal lainnya. Hari ini Kakak Cantik™ mengenakan kacamata dan menurut Yibo, Kakak Cantik™ tampak lebih memikat dengan kacamata itu.
“ Gege , mau menikah denganku tidak?” tanya Yibo spontan.
Gerakan tangan Kakak Cantik™ terhenti sesaat sebelum tertawa pelan. “Tidak bisa ya. Kita baru boleh menikah setelah umur dua puluh dua.”
Yibo tercenung sesaat. Kepalanya menunduk untuk menghitung dengan jari-jarinya yang bulat. Tak berhasil, Yibo memiringkan kepalanya dengan tak senang. Tapi tak masalah kan? Karena dia sudah enam tahun dan sudah besar, jadi seharusnya tidak lama lagi!
“Kalau begitu, waktu aku dua puluh dua, Gege menikah denganku ya,” ujar Yibo lagi.
Kakak Cantik™ kembali tertawa. “Tapi saat kamu dua puluh dua, aku mungkin sudah jadi om-om ya,” selorohnya sambil meletakkan potongan strawberry ke atas es krim di dalam gelas tinggi.
“Tidak mungkin! Gege paling cantik di dunia! Tidak mungkin jadi seperti om-om!” Yibo hanya tahu para paman yang selalu berkumpul dengan ayahnya untuk mendayung. Sebagian besar dari mereka sudah kehilangan rambut, terobsesi pada mendayung, selalu bicara dengan suara keras, dan suka meludah sembarangan! Tak mungkin Kakak Cantik™ jadi seperti mereka!
Kali ini, Kakak Cantik™ tergelak. Kedua pundaknya berguncang keras dan kedua matanya terpejam membentuk dua bentuk bulan sabit. Cantik sekali. Sesaat kemudian, Kakak Cantik™ melepas kacamatanya. Menggunakan ujung celemek yang dikenakannya, Kakak Cantik™ menyusut air mata yang terbit karena tertawa terlalu keras. Mengenakan kembali kacamatanya, Kakak Cantik™ kembali tersenyum manis pada Yibo. “Terima kasih. Yibo juga tampan sekali loh,” ucap Kakak Cantik™ dengan tulus.
Ada rasa hangat yang menjalar di dalam dada Yibo saat melihat senyum itu. “Mn.”
Tak lama, segelas strawberry parfait diletakkan di hadapan Yibo. Digenggamnya bagian bawah gelas dengan antusias, siap melahap parfait dengan senang. Kakak Cantik™ meletakkan segelas air putih, mangkuk kecil bergambar anjing, dan sendok kecil di dekatnya.
“Kalau susah makannya, dipindah sedikit-sedikit ke mangkuk ini ya,” ujar Kakak Cantik™ dengan ramah. “Bisa sendiri?”
Yibo mengangguk lagi. Dia sudah enam tahun dan sudah bisa melakukan semuanya sendiri!
“Anak pintar,” puji Kakak Cantik™ sekali lagi dan Yibo membusungkan dada dengan bangga.
***
