Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-08-14
Words:
2,468
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
36
Bookmarks:
8
Hits:
311

Big bro way to comfort

Summary:

Halilintar, anak sulung dari tiga bersaudara, dihadapkan oleh Blaze, adik pertamanya, yang tengah bimbang atas pilihan hidupnya. Sebagai seorang abang, ia berusaha untuk memberikan nasihat pada adiknya, meskipun cukup susah juga buat dipahami Blaze.

Notes:

Kayaknya lucu gitu kalo Hali, Blaze, dan Solar jadi saudara. Sifat mereka menggambarkan seorang kakak sulung, anak tengah, dan bungsu banget soalnya XD.

Dicerita ini mereka hidup cuma bertiga dan yatim piatu, yaa

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Halilintar merasakan tatapan sesorang yang memandanginya dari balik majalah yang sedang dibacanya. Risih, ia menurunkan majalah dari wajahnya.

"Apa?" ketusnya ketika mendapati adiknya pertamanya, Blaze, terbelalak kaget lalu buru-buru memalingkan wajah kikuknya, menatap apapun kecuali Halilintar. Alis putra sulung itu terangkat sebelah. Heran. "Blaze?" 

Blaze yang sedang duduk di sofa ruang TV itu tiba-tiba menjadi sibuk menyusun barang di atas meja kopi. Halilintar dapat melihat dengan jelas adiknya itu melirik-liriknya gugup seperti orang yang sedang menyontek. "Gapapa, bang." tanggapnya dengan suara kecil dan terkesan canggung. Mata dengan lensa merah milik Halilintar memicing. 

Blaze seperti menyembunyikan sesuatu. Halilintar tau benar. Adiknya itu orang yang ekspresif, apa yang ada dipikirannya mudah dibaca, dan kalau bohong kelihatan jelas. 

Tapi kali ini Halilintar memutuskan untuk mendiamkannya saja. Ia tidak ingin ambil pusing. Toh, kalau ada masalah paling adiknya sebentar lagi juga bilang. Maka, Halilintar lanjut membaca majalah fashion miliknya. Melihat-lihat referensi outfit yang mungkin dapat ia praktikan pada pakaian endorse-nya untuk memenuhi permintaan agensi. 

Yup, putra sulung dari tiga bersaudara itu merupakan seorang selebriti sosial media yang sedang naik daun dalam beberapa tahun terakhir. Semua konten yang dibuatnya pasti fyp, semua barang yang di endorse-kan padanya pasti trending dan sold out di mana-mana, dan wajahnya sering kali ditemukan pada iklan yang berseliweran di sosial media. Halilintar, meskipun diframing sebagai cowok cuek, dalam hatinya merasa bangga dan berterima kasih pada wajah tampannya yang dapat menghasilkan pundi-pundi duniawi dengan mudah. 

 

Memang menjadi good looking itu sebuah privilege

 

"Bang, kok nyengir-nyengir sendiri."

 

Halilintar langsung mendatarkan ekspresinya ketika mendapati Solar, adik bungsunya, menatapnya aneh. 

"Ngapain lu?" tanya putra sulung itu, mencoba mengalihkan topik. Netra merahnya kemudian tertuju pada paket setebal hebel yang dipeluk Solar. "Apaan, tuh?" 

 

"Ini adek ambil paket tadi. Kemaren beli buku latian SNBT buat pelajarin soal tahun lalu."

 

"Kan lu masih kelas 10?" timpal Blaze. Wajahnya tampak terheran-heran. Ketegangan yang menyelimutinya tadi seketika menguap seperti tidak terjadi apa-apa. 

Solar memutar kedua matanya, "Ya, kan tetep harus dipersiapin, bang. Lagian juga adek bosen sama materi sekolah, udah dipelajarin semua." ucapnya sambil mengangkat bahu. "Dah, adek mau unboxing dulu." lambainya seraya berjalan ke kamarnya di lantai atas.

 

"Anjir..." 

 

Halilintar yang tadinya menatap punggung Solar yang menghilang ke lantai atas, mengalihkan pandangannya pada adik pertamanya yang menunjukkan ekspresi cengo natural. 

"Lu gak belajar juga? Semester depan, kan udah SNBT lu." tanya Halilintar pada adiknya itu. 

Blaze tersentak, gugup, ia menggaruk bagian belakang kepalanya, "Itu... Tadi Blaze mau ngomong ke Bang Hali soal itu..." jawabnya ragu-ragu. Mata jingganya kembali melihat kemana-mana kecuali Halilintar.

 

"Apaan?" 

 

Majalah diletakkan Halilintar pada meja kopi di depannya. Blaze tampak berjenggit. Putra sulung itu mendelik heran kenapa adik pertamanya itu begitu was was padanya. Apakah Blaze menyembunyikan suatu masalah darinya? Takut ia akan memarahinya? Tapi belakangan ini adiknya itu jarang membuat masalah. Halilintar jadi penasaran akan pernyataan yang akan dilontarkan Blaze. 

"Tapi abang jangan marah, ya?" pintanya sambil menangkupkan tangannya membentuk pose memohon. 

Halilintar mengangkat alisnya, "Tergantung."

Blaze cemberut, pundaknya menurun lesu, "Yaudah gak jadi, lah, bang." ucapnya dengan nada kecewa. 

"Dih?" Halilintar mendadak kesal. "Yaudah bilang aja, sih, gua gak bakalan marah." ucapnya tidak sabar. Apalah adiknya ini tarik ulur tidak jelas. 

 

"Beneran, ya?" 

 

"Iya!" 

 

Blaze menarik napasnya. 

 

"Kecuali lu ngehamilin anak orang, ngamuk gua." koreksi Halilintar buru-buru. 

 

"Mana ada Blaze begitu!" seru adiknya itu spontan. Halilintar mengangguk, berarti Blaze memang tidak melalukan kesalahan kalo jawabannya tajam seperti itu. 

 

"Yaudah cepet ngomong."

 

Blaze meremas celana pendeknya, "Kalo Blaze gak lanjut kuliah boleh gak, bang?" tanyanya dengan suara lemah. Matanya menatap Halilintar dengan penuh kengerian. Wajah putra sulung itu tampak menggelap dibalik topi hitamnya.

"Kenapa emangnya?" tanya Halilintar yang sejujurnya betulan bingung, tapi entah kenapa Blaze menatapnya seperti melihat hantu.

"I-itu—" Blaze tampak bingung juga menjelaskannya, "Uhm... Blaze mau kayak Bang Hali aja."

"Ha?" ekspresi terheran Halilintar makin menjadi dengan mulut yang tanpa sadar menganga lebar. "Tapi gue kuliah?" 

 

"Maksudnya bukan itu, bang..." 

 

"Terus apaan???" ingin rasanya Halilintar mencekik gemas adiknya itu karena bertele-tele. "Ngomong yang jelas napa!" 

Remasan Blaze pada celana pendeknya semakin kuat, "Maksudnya Blaze mau kerja gitu, bang... Blaze ngerasa gak cocok buat lanjut kuliah."

Halilintar menyandarkan punggungnya yang sedari tadi berpostur tegak pada sandaran sofa. Ia membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu. Namun, Blaze melajutkan ucapannya. 

"Kayak apa, ya. Bang Hali tau sendiri, kan, nilai Blaze sejelek apa? Gak pernah Blaze dapet ranking kayak adek. Selalu dapet pas-pasan KKM. Udah gitu Blaze sering bolos dulu—iya, Blaze tau itu salah Blaze sendiri—sering kabur kelas, pelajaran dari kelas 10 gada yang masuk ke otak Blaze. Ada sih, cuma PJOK tapi. Kalopun dipaksa belajar sekarang buat SNBT juga Blaze gatau harus mulai dari mana karena sebingung itu harus mulai dari mana, bang," Blaze menundukkan kepalanya. Remasan pada celananya melemah. Halilintar merasa aneh pada adiknya yang tidak biasanya menunjukkan sisi ini. Jarang-jarang adiknya terlihat segalau ini. Namun, Halilintar juga ragu harus menanggapi seperti apa. Putra sulung itu memilih untuk tetap mengatupkan bibirnya rapat menunggu adiknya menyelesaikan curahan hatinya. "Blaze ngerasa kalo Blaze maksa lanjut kuliah, itu kayak Bang Hali ngelakuin investasi bodong ke Blaze. Blaze gak mau ngebebanin abang lagi, Blaze mau bantu abang aja buat kerja."

Memahami keadaan Blaze, Halilintar menghela napasnya, lalu tersenyum. Adiknya itu ternyata sudah besar. Ia baru menyadari hal tersebut setelah mendengar keluh kesah adiknya yang panjang lebar itu. Selama ini Halilintar selalu melihat Blaze sebagai adik kecil yang hanya tau main saja, adik kecilnya yang berisik, dan adik kecil manja yang selalu meminta atensinya ketika ia sibuk mengerjakan laporan praktikum semasa kuliah. Ia sedikit menyayangkan dirinya yang telat menyadari pertumbuhan adiknya yang terasa begitu cepat. Sekarang yang dihadapannya bukanlah lagi adik kecil polos yang selalu meminta perhatiannya, namun seorang pria dewasa yang sedang memikirkan masa depannya. 

 

"Jadi lu mau kerja kayak gua karena ngerasa gak pantes kuliah?" 

 

"Iya, bang." 

 

"Lu ngerasa kalo lu maksa kuliah ujung-ujungnya buang-buang duit gua aja?" 

 

Blaze tampak kembali gelisah, namun ia paksakan bicara, "Iya..." 

 

"Tapi pernah gak, sih, lu mikir," Halilintar menatap lurus Blaze yang kepalanya semakin tertunduk. Ia membuka mulutnya kembali, "kalo lu nyari kerja, dengan kelakuan lu yang lu sebutin tadi, ujung-ujungnya juga bakalan gagal? Emang ada perusahaan yang mau nerima orang lulusan SMA, nilai pas-pasan, sering bolos kelas lagi. Mau kerja di mana lu?" 

 

Blaze terdiam. 

 

Mereka berdua terdiam. 

 

Suasana di ruang TV itu dilingkupi keheningan yang abnormal.

 

"Kasih jawabannya ke gua kalo udah nemu." Halilintar berdiri dari tempatnya, pergi meninggalkan Blaze yang masih termenung dalam posisi tertunduknya. Ia harus memberikan Blaze ruang untuk berpikir lebih jauh. Adik pertamanya itu sepertinya belum melihat perspektif lain dari pilihan yang ingin diambilnya. Daripada ia memberi tekanan pada adiknya dengan keberadaannya di situ, yang nantinya menghasilkan jawaban dangkal, lebih baik ia ke dapur untuk membuatkan cokelat panas kesukaan adiknya. Cuaca di luar juga tampak mendung dan hawa di rumah itu sedikit dingin. Melanjutkan obrolan dengan cokelat panas pastinya akan lebih meredakan kekalutan Blaze saat ini. 

Halilintar kembali ke ruang TV setelah beberapa waktu menyiapkan kopi susu untuknya dan cokelat panas untuk adiknya, kedua netranya menangkap Blaze yang memandangnya dengan raut wajah resah, "Gimana? Udah nemu jawabannya?" tanyanya sambil menyodorkan cokelat panas kepada adiknya itu. 

Blaze menggeleng, "Blaze... Kayaknya orang gagal, ya, bang?" ujarnya putus asa. Kedua matanya menatap kosong cangkir berisi cokelat panas yang diberikan Halilintar di atas meja. "Blaze gak seganteng dan seterkenal Bang Hali buat dapet kerjaan... Apa Blaze ditakdirin jadi pengangguran bodoh, ya, bang? Gada yang bisa dibanggain dari Blaze."

Halilintar menempatkan dirinya kesebelah Blaze. Putra sulung itu menyesap kopinya sebentar, lalu meletakkannya di samping cangkir milik Blaze. 

 

"Lu mikir gitu?" 

 

"Iya, bang."

 

"Lu minder sama gua sama adek?" 

 

Blaze menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Halilintar dapat melihat cuping adiknya itu memerah. Aah, sepertinya ia malu mengakui kalau ia memang merasa rendah diri dengan saudara-saudaranya. 

"Lu minder sama gua sama adek?" tanya Halilintar kembali. Blaze hanya mengangguk. 

Halilintar kembali menyesap kopinya, "Gapapa, kok, itu perasaan yang wajar, Blaze." ujarnya menenangkan. "Gua juga suka kok minder sama lu, sama adek, kadang gua juga suka ngerasa gua gak berguna jadi abang. Gua juga pernah diposisi lu, gak yakin sama diri sendiri, selalu ngerasa diri gua kurang. Sekarang juga sebenernya gua masih ngerasa kurang sebagai abang dan sebagai orang tua kalian."

Blaze mengangkat wajahnya, menolehkan kepalanya menatap Halilintar dengan wajah cemberut.

 

"Jangan adu nasib, bang." 

 

Halilintar tergelak. Ia kemudian meletakkan kopinya ke atas meja. Tangan ia letakkan pada bahu Blaze. "Maksud gua, perasaa lu valid, kok, gua pahamin banget. Lu gak sendirian menghadapi ini." Ia menggosok punggung Blaze yang tegang karena banyak pikiran. "Tapi, Blaze, lu harusnya nyadarin sesuatu ketika ngerasa minder sama orang. Sesuatu yang lu gak punya di orang itu."

"Blaze gak ngerti, bang." ujar Blaze sambil nyengir. Ia mengambil coklat panas yang diberikan Halilintar tadi dan meminumnya. "Blaze tau Blaze gak setenar Bang Hali dan gak sepinter adek. Blaze sadar diri kok. Terus nyadarin apa lagi?" 

 

"Menurutlu ketenaran gua sama kepinteran Solar itu bisa dimilikin lu gak?" 

 

"Nggak, laah, kan, tadi Blaze udah bilaaaang, Blaze sadar diri—" 

 

"Menurutlu Solar bisa milikin ketenaran gua gak?" potong Halilintar cepat. 

 

Blaze tampak berpikir, "Nggak? Adek kan gak main sosmed." jawabnya heran. Ia bingung kenapa abangnya menanyakan hal itu. 

 

"Terus menurutlu gua bisa milikin kepintaran adek gak?" 

 

"Uhm... Bang Hali gak pernah menang olim, gak pernah ranking pas seumuran adek. Kayaknya gabisa?" 

 

Halilintar tersenyum, "Nyadarin sesuatu?" tanyanya dengan memandang wajah Blaze yang tampak masih berpikir. 

"Jujur, bang. Blaze masih agak bingung. Tapi maksud abang itu adek gabisa tenar kayak abang dan Bang Hali gabisa pinter kayak adek—" Blaze mengerjap, menyadari sesuatu, kemudian kedua matanya berbinar, "Tadi abang bilang 'sesuatu yang lu gapunya di orang itu', itu maksudnya Bang Hali juga ada yang abang gapunya di Blaze dan adek, dan adek ada yang dia gak punya di Blaze dan abang. Berarti kalo kayak gitu, Blaze punya sesuatu yang kalian ga milikin?" 

Putra sulung itu mengangguk, bangga dengan penalaran Blaze akan analogi-nya. "Betul. Itu namanya value. Coba lu pikir lagi apa yang gua sama adek gapunya dari lu? Value lu?" 

Blaze tampak senang dengan pujian abangnya itu kembali berpikir dengan semangat, namun senyum di wajahnya semakin lama smakin pudar semakin ia memikirkan pertanyaan Halilintar. Beberapa saat kemudian ia menatap Halilintar dengan alis mengkerut dan mata berkaca-kaca.

"Abang sama adek gapunya kenakalan..." ujarnya kecewa. "kenakalan itu gada valuenya, gak kayak ketenaran Bang Hali sama kepinteran adek, bang. Bener, Blaze emang ditakdirkan jadi orang gak guna huaaaaa"

Halilintar membelalakkan matanya terkejut melihat Blaze yang tiba-tiba menangis kencang. Ia tidak bermaksud untuk membuat adiknya itu menangis. Ia juga bingung harus menenangkannya bagaimana. Sebenarnya, ia tahu Blaze adalah orang lebih mudah ditenangkan dengan memeluk anak itu seperti yang sering dilakukan ibu mereka dulu. Pasalnya, ia gengsi untuk memeluk adik pertamanya itu karena ia jarang menunjukkan kasih sayang melalui sentuhan fisik meskipun Blaze sering melakukannya padanya—entah gelendotan atau memeluknya tiba-tiba ketika ia sedang mengerjakan tugas. Jadi, ia hanya bisa terpatung panik dihadapan Blaze. 

"Blaze gak guna, baaaang!" jerit Blaze meratapi dirinya sendiri. "Blaze gak punya valueee

 

"Aduh, bukan gitu!" 

 

Halilintar takut Solar terganggu dari kamarnya dan memergokinya tengah membuat Blaze menangis. Bocah jenius itu sering melontarkan komenan-komenan pedas untuk mengkritik Halilintar dalam segala tindakannya. Halilintar akan tambah kalang kabut yang ada karena ditekan dari Blaze yang menangis dan ocehan Solar. Ia memutuskan untuk kembali mengusap-usap punggung Blaze mencoba menenangkannya. 

"Blaze kadang orang suka gak sadar kelebihan apa yang dimilikinya." ujarnya dengan nada menenangkan. 

 

"Ta-tapi—tapi—" 

 

"Sebenernya Blaze punya value sendiri yang positif, yang gak dimiliki gua sama adek." 

 

Blaze melihatnya, menghentikan jeritannya meskipun masih sesegukan dan air matanya mengalir deras. "Masa?" 

Halilintar menghela napas lega dalam batinnya, setidaknya Blaze sudah lebih tenang sekarang. "Iya, kalo yang dari gua liat lu itu orangnya supel, gampang berkawan, jago olahraga—" 

 

Blaze menyedot ingusnya yang meler karena tangisnya tadi. 

 

"Lu kan sering menang turnamen. Segala bola lu mainin. Gua sama adek aja suka kalah ngelawan lu." Halilintar mengelap ingus Blaze dengan tisu di meja karena geregetan melihat adiknya itu masih sama menyedot ingus itu meskipun keluar lagi. "Itu piala berjejer di meja isinya cuma punya lu sama adek, gua gak pernah dapet piala kayak kalian. Adek juga pialanya karena lomba akademik, gada yang pialanya karena turnamen olahraga kayak lu. 

Terus, lu juga punya banyak kawan, segala temen lu jabanin. Tongkrongan lu banyak. Meskipun lu gak setenar gue, tapi orang-orang kenal diri lu dan lu nyaman sama mereka. Adek lu itu, gak bisa kayak lu yang punya banyak temen karena orangnya gak pedulian, gua juga kalo sama orang suka awkward dan sering matiin topik. Intinya skill sosial gua sama adek lebih jelek dari lo.

Maka dari itu, Blaze," Halilintar mengeringkan wajah Blaze yang tengah sesegukan. Tangannya yang tidak digunakan untuk mengeringkan wajah Blaze ia pergunakan untuk mengusap kepala adik cengengnya itu. "Value di diri lo itu banyak. Lu gak usah minder sama gua sama adek. Lu bisa lanjut kuliah jurusan yang sesuai sama value lo itu, lu juga bisa join akademi olahraga buat persiapan jadi atlet kalo lu mau."

 

"Tapi... Blaze gak yakin sama diri Blaze sendiri, bang. Emangnya ada yang mau nerima orang yang dulunya bandel?" 

 

Halilintar menjitak kepala adiknya yang diberi respon mengeluh dari empunya. "Lu gak usah mikir sejauh itu, kocak. Coba dulu aja daftar apa yang lu mau." hardik Halilintar gemas. 

"Sayang uang pendaftaran Bang Hali kalo Blaze gagal—aduh!" Blaze kembali meringis ketika sentilan mendarat di dahinya. "Abang kok main tangan, sih!" 

"Abisnya lu mikir jauh banget. Lu gak usah mikirin duit gue. Itu punya gua. Gua mau pake buat biayain lu kek, buat foya-foya kek, suka-suka gua, lah!" 

Blaze termenung, kemudian menatap abangnya kembali. Wajahnya menjadi sumringah. Tangis yang tadi hinggap di wajahnya terhapus sempurna. "Beneran abang gak keberatan?" tanyanya penuh harap. 

 

"Iya, adikku. Sekarang lu jadinya mau kuliah sesuai kemampuan lu atau persiapan kerja jadi atlet? Udah kepikiran belom?" 

 

Blaze menggelengkan wajahnya yang tersenyum lebar, "Nanti Blaze pikirin. Blaze udah ketemu gambaran dari penjelasan abang tadi, makasih, ya, Bang Hali!" 

Pelukan mendarat pada leher Halilintar, membuat putra sulung itu gelagapan. Rasanya gengsi untuk membalas pelukan tersebut. Namun, karena Blaze semakin mengencangkan pelukannya dan Halilintar merasa ia harus memberikan dukungan emosional pada adiknya itu, ragu-ragu ia membalas pelukannya. 

"Blaze bersyukur punya abang," bisik Blaze senang dari balik pelukannya, membuat Halilintar ikut tersenyum.

 

"Uhuy, so sweetnya berpelukan kayak teletubbies~" 

 

Halilintar lantas melotot dan menoleh ke sumber suara. Mendapati adik bungsunya, Solar, tengah berdiri sambil bersender di tembok dengan tangan terlipat di depan dada. "Tumbenan Bang Hali mau peluk-peluk. Pake ngomong adikku, adikku lagi. Gue mana pernah digituin huhuhu." ejek Solar dengan nada pura-pura sedih. 

"Kata siapa!" bentak Halilintar tengsin. 

Blaze memandang Solar kesal ketika abangnya itu melepaskan pelukannya tiba-tiba. "Lu mah ganggu, dek!" 

 

"Dih? Kenapa? Gak suka?" 

 

"Sini lu gua peluk juga!" 

 

"Bang Hali! Takut, bang! Bang Blaze jadi gilaaa" 

 

Halilintar hanya dapat mengurut keningnya melihat suasana rumah yang kembali seperti semula. Setidaknya, ia lega karena sudah menuntaskan kegundahan hati adik pertamanya itu. Semoga Blaze dapat segera menentukan tujuan selanjutnya setelah lulus SMA. 

Notes:

Terima kasih sudah membacaaa~
Kepikiran buat spin-off keluarga biru jugaa (Taufan dan Ais) sebagai sepupu mereka. Kira-kira dibuat gak ya? Semoga gak sibuk magang aku wwww