Actions

Work Header

Hari Terakhir

Summary:

Hari terakhir Hatake Kakashi sebagai Hokage dan hari terakhir untuk apapun yang tidak akan ia sesali.

© Masashi Kishimoto

Work Text:

"Akhirnya besok aku meninggalkan ruangan ini."

Rokudaime Hokage merenggangkan tubuhnya dari kursi biru yang telah ia tempati selama belasan tahun. Tangannya membuang pena, juga mematikan monitor yang menjadi sumber sakit kepalanya selama ini.

Pria itu memutar kursi, lantas menatap keluar jendela. Jingga terukir pada langit yang tadinya biru, burung-burung bermigrasi, dan Konoha tampak serasi dengan kata tenang dan damai.

Hatake Kakashi memejamkan mata, deru napasnya lembut dan santai. Pikirannya melanglang buana jauh ke masa lalu: tentang hari pertamanya sebagai Hokage, tentang kesulitan yang ia hadapi, tentang masa di mana ia berhasil membawa Konoha menjadi desa yang modern, tentang orang-orang di desa yang sudah menjadi keluarganya, tentang Shizune.

Tentang Shizune.

Shizune adalah asistennya, begitu yang orang lain pikir tentang mereka. Nyatanya, Shizune jauh dari sekadar asisten bagi Kakashi. Belasan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk dapat membuat bongkahan gunung es mencair sebab dipeluk hangat sang mentari.

Suara ketukan pintu mengembalikan Kakashi pada posisi siap. Meski pekerjaannya telah usai, rasanya malu jika orang lain mendapati dirinya sedang bersantai.

Pintu kayu itu terbuka tanpa perlu menunggu jawaban. Dari sana, jelas siapa yang akan menjadi tamunya di tengah senja.

Wanita itu berjalan dengan anggun, seolah ia memakai sepatu roda alih-alih sepatu hak tinggi yang mengikat kaki. Senyumnya selalu sehangat musim semi. Kedua tangannya tak memegang apa-apa, lain cerita ketika tadi siang, kemarin, dan kemarin-kemarin-kemarin yang selalu dihiasi setumpuk dokumen.

"Kakashi-sama, pekerjaan Anda sudah selesai?"

Kakashi tersenyum kecil di balik maskernya. Ia menyukai suara lembut itu, meski satu kata yang ia benci terpaksa ia dengar. Namun, untuk kali ini, dia tidak akan protes atas panggilan -sama yang disematkan setelah namanya.

"Aku sudah selesai," jawabnya. Ia meninggalkan kursi setelah melirik arloji. Langkahnya menghampiri Shizune, berdiri di hadapan wanita yang usianya hanya lebih muda 2 bulan darinya.

Kakashi memblokade cahaya yang masuk melalui jendela. Onyx bertemu onyx. Dia dapat melihat jernihnya onyx itu dibanding onyx miliknya yang kelam. Cukup lama mereka saling pandang dan telah lebih dari 100 purnama hanya itu yang berani mereka lakukan: diam, membiarkan kecanggungan menari bebas pada atmosfer yang tidak jelas.

Shizune memotong jarak dan Kakashi tak bergerak. Jari-jemari lentik itu mendarat pada dada sang Copy Ninja, menyentuh jaket anti peluru yang dibuat khusus Hokage dan menelusurinya perlahan.

"Mulai besok, rompi hitam dengan ukiran "enam" dan "api" ini akan tersimpan di lemari."

Pria itu mengambil tangan Shizune dari dadanya. Namun, tak segera ia lepaskan, melainkan menggenggamnya tanpa peduli pada tembok besar di antara mereka yang diberi nama profesionalitas.

"Kau sedih karena tidak bisa bekerja denganku lagi?" goda Kakashi, seperti biasanya.

Kekehan Shizune lepas begitu saja. Onyxnya berganti menjadi garis yang sedikit melengkung.

"Seperti kita tidak akan pernah bertemu lagi saja," ujar Shizune.

"Hm... mungkin bisa bertemu, tetapi jarang sekali."

Shizune menyunggingkan senyum licik. Dia melepas genggaman tangan itu, lalu kedua tangannya pindah dan berlabuh pada dada Kakashi, mendorongnya perlahan sehingga pria itu menabrak meja kerja.

Kakashi? Mengikuti permainannya. Dia tidak selemah itu hingga tak berdaya atas dorongan Shizune yang kali ini sudah bersandar pada bagian depan tubuhnya. Justru otak Kakashi lah yang bekerja sedemikian keras untuk menerjemahkan tingkah laku Shizune yang sangat tidak biasa—yang sayangnya tidak berhasil Kakashi ketahui sebab Shizune sangat andal dalam menyembunyikan emosi, termasuk rona merah yang tak nampak dan debaran jantung yang tak terdengar.

"Mungkin bisa bertemu setiap hari. Beberapa waktu lalu saya baru membeli ranjang baru. Cukup untuk dua orang."

Dan tentu saja tiga kalimat itu menjadi serangan yang sangat bagus sehingga Kakashi tak mampu menahan senyumannya.

Tangan yang lebih besar melayang, lalu menyentuh pipi Shizune dan mengusapnya pelan dengan ibu jari. Kakashi baru menyadari bahwa pipi wanita yang ia temui hampir setiap hari itu sangat lembut. Wajah yang terpisah jarak cukup dekat itu membuat Kakashi semakin menyadari bahwa selama ini dia berada di sisi wanita secantik Shizune. Kakashi dapat melihat sedkit kerutan samar pada ujung mata Shizune, bayangannya pergi jauh menuju masa depan—entah 10 atau 20 tahun lagi, di mana rambut yang hitam itu akan berubah putih dan teka-teki akankah ada nama "Kakashi" dalam perjalanan hidup yang bernama menua.

"Shizune, hari ini memang hari terakhir kita sebagai rekan kerja, tetapi kau... sangat terburu-buru, ya," ujar Kakashi sembari menahan kekehannya.

Shizune cemberut. Dia menepis tangan Kakashi dari pipinya, lalu bergerak menjauhi pria itu.

Tawa Kakashi berhenti, digantikan wajah tegang karena takut Shizune akan membencinya.

"H-hei, aku hanya bercanda," Suaranya lirih dan merasa bersalah. "Shizune, kalau memang terburu-buru... di ruangan ini ada sofa, loh."

Duh, bahkan matahari belum terbenam. Dasar orang dewasa.