Actions

Work Header

Tuhan Datang

Summary:

Prolog — Padang rumput terhampar di semua tempat kecuali petak kecil di bawah kakimu. Di sana, kau berdiri, di atas sebuah lubang hasil galian tanganmu sendiri.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Lebaran masih sama, debarannya terasa.

Sejauh mana kau kelana, kembalinya tetap sama: kepada sungkemanmu terhadap yang dituakan, kepada sujudmu terhadap yang diagungkan.

Desas-desus dan gerayangan mereka akan nasibmu akan terus menjamah. “Pripun kabare?” tanya pertama. “Sing mana pacare?” tanya kedua. “Saiki gawe ning ndi? ” tanya ketiga. Pada setiap kesempatan, bising 'kan selalu merasuki telingamu. Kau tak pernah benar-benar sendiri; tanya mereka kekal, mengendap di bilik hatimu. Hari-harimu penuh berkabung, menangisi mimpi-mimpi terlajur membusuk. Makam-makam mereka tak bernisan, dan rerumputan telah lama tumbuh liar, menutupi kuburan tempat badan-badan mereka digerogoti belatung, yaitu doa-doamu.

“Si Wisnu, akeh pol tanggungan'e. Endi lake sing ngebantoni maning...”

Di sini, tak ada lagi harapan. Langit telah menjelma menjadi abu-abu hampa. Mimpi terasa sukar menjadi nyata. Malam tak lagi menemukan dirinya sendiri. Dalam gelap, kau lukai dirimu.

Terbunuh ekspektasi, kau berdoa.

“Sepisan wae, bantoni kite.”
Sekali saja, tolonglah saya.

“Kite ayun isungaken kabeh.”
Saya akan berikan segalanya.

Akan ada penyesalan. Selalu akan ada penyesalan. Seharusnya, kau berpikir lagi.

“Kangge sampean, mung kangge sampean.”
Untukmu, hanya untukmu.

Padang rumput terhampar di semua tempat kecuali petak kecil di bawah kakimu. Di sana, kau berdiri, di atas sebuah lubang hasil galian tanganmu sendiri. Lumpur dan tanah mengotori tanganmu, pula darah, di sela-sela kukumu.

Tuhan datang, dia tersenyum padamu. Bisiknya pelan, seraya dia ambil tanganmu.

"Rasakan lukaku," dan kau rasakan seluruh isi badannya, seluruh sisi-sisi yang telah membusuk dan dipenuhi belatung. Harum bangkai menyelinap masuk ke dalam rongga hidungmu. Di tenggorokan, muntah menantang untuk keluar dari mulutmu.

Tuhan datang, dalam bentuk seorang pria berbalut kafan dan bercak merah di wajah kelamnya. Tuhan datang, dengan busuk dan muntah dan tanah melekat di kulit terbakar yang menyelimuti tulang berulang.

Tuhan datang. Namun, ketika kau sadar bahwa dia bukanlah yang semula kau agungkan, semua sudah terlambat.

"Sujudlah padaku," maka kau lakukan, semua perintahnya. Sesuai doamu, dia berikan bantuan-Nya, dan kau?

Dulur-dulur sedanten sing kula hormati,
Dinten puniki, kula ayun ngenalaken,

Ini adalah sambutan.
Sambutan kepada-Nya.
Sambutan kepada-MU.

Sing tercinta, PERJAKA MERAH.
Mugi-mugi, sire selalu dalam lindungan.
Mugi-mugi, sire selalu ditresnani oleh-Nya.

Akan ada penyesalan. Selalu akan ada penyesalan.

Seharusnya, kau berpikir lagi.

Notes:

Ditulis di tahun 2021 dengan penuh cinta dan harapan akan THR.

Series this work belongs to: