Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Mafia and His Prince(ss) Series
Stats:
Published:
2024-09-07
Completed:
2024-09-07
Words:
2,983
Chapters:
2/2
Comments:
6
Kudos:
145
Bookmarks:
15
Hits:
5,444

Mafia and His Prince(ss)

Summary:

Beneran, I'm so bad at making description. Intinya Wonwoo putra mahkota, Mingyu kepala mafia setempat wkwkw.

Chapter Text

Ini mengerikan. Ladang seluas ini hangus, rata dengan tanah. Berbagai tanaman yang sudah mulai memasuki masa panen sekarang menjadi arang dan abu. Sama sekali tidak ada satupun daun yang tersisa. Bahkan pagar di sekelilingnya pun sudah ikut terbakar.

“Pelakunya adalah pemberontak dari tanah tepian, Tuan Muda. Mereka bergerak di malam hari. Sekarang tim pemburu sedang melacak keberadaan mereka. Jejak yang ada menunjukkan mereka lari ke arah dermaga ujung. Sepertinya mereka berencana melarikan diri dengan kapal pedagang Siam yang akan pulang ke wilayahnya dua hari lagi.”

Wonwoo mendengar penjelasan orang kepercayaannya itu dengan serius. Alisnya sedikit mengerut dan mulutnya terkunci rapat. Tetapi tidak satu inchi pun wajahnya yang tidak menunjukkan gurat kemarahan. Sempurna sudah amarahnya saat ini.

“Pastikan kapal pedagang Siam itu mau bekerja sama. Kita jebak para pemberontak di sana.” Wonwoo akhirnya bersuara. “Hubungi Mingyu.”

Orang-orang di sekitarnya terperanjat mendengar kalimat terakhir putra mahkota mereka. Meskipun tidak ada yang berani membahasnya, tetapi semua orang tahu putra mahkota mereka dan Mingyu, kepala mafia di wilayah ini, adalah musuh bebuyutan. Keduanya harus dipisah dengan radius puluhan meter, atau keributan besar akan terjadi.

“Maaf, Tuan. Mingyu yang Tuan maksud, adalah Mingyu dari klan Kim, yang…..” orang itu kesulitan meneruskan kalimatnya.

“Yang adalah musuh bebuyutanku? Benar. Mingyu yang itu. Pastikan dia datang ke istana nanti sore.” Lalu Wonwoo berbalik, berjalan dengan iringan pasukan pengawalnya. Meninggalkan kepala ladang dan orang-orang lainnya yang masih kebingungan.

***

“Tuan, mohon maafkan hamba atas kelancangan ini. Tetapi sepertinya akan lebih baik jika kami yang mengatasi para pemberontak. Tidak perlu meminta bantuan Mingyu.” Kepala pasukan pengawalnya membuka percakapan setelah mereka semua sampai ke istana.

“Tuan Mingyu. Kalian tetap harus menunjukkan penghormatan kepadanya.” Wonwoo meralat kepala pasukan itu.

“Baik, Tuan. Maafkan kekeliruan hamba.”

Wonwoo mengibaskan tangannya, mengisyaratkan bahwa itu bukan sesuatu yang besar. “Sebagian dari kalian harus bersiaga di sekitar, sementara sebagian lain akan disebar ke seluruh penjuru wilayah. Pimpin kelompok-kelompok kecil untuk mengawasi dan menjaga area vital lainnya. Biarkan Mingyu dan kelompoknya yang menyelesaikan tugas kotor membereskan para pemberontak itu. Tangan kalian harus tetap bersih.”

Kepala pasukan itu mengangguk, memahami strategi Wonwoo.

“Dua jam lagi jika Mingyu tidak memenuhi panggilan, kalian harus menjemputnya paksa.”

“Baik, Tuan.”

*****

Ketika berkata “Baik, Tuan” kepada Wonwoo tadi, si kepala pasukan yakin bahwa dia tidak akan harus melakukannya. Menjemput Mingyu, maksudnya. Kepala pasukan itu yakin, Mingyu tidak akan menolak panggilan dari Wonwoo. Benar saja, bahkan belum ada satu jam sejak perintah Wonwoo tadi dan sekarang Mingyu beserta beberapa anak buahnya sudah berada di depan gerbang istana.

Kepala pasukan itu memberi isyarat kepada penjaga gerbang agar mempersilahkan mereka masuk. Saat Mingyu berada di depannya, ia ulurkan tangannya sembari sedikit membungkukkan punggung. Perkataan Wonwoo masih jelas terngiang di telinganya, kalian tetap harus menunjukkan penghormatan kepadanya.

“Wonwoo?” Mingyu bertanya singkat.

“Tuan muda,” kepala pasukan itu memandang dengan tatapan tajam ke arah Mingyu, menyampaikan pesan samar dalam kalimatnya, “Tuan muda Wonwoo ada di dalam. Mari saya antarkan.”

Mingyu menerima pesan samar itu. Tidak peduli bagaimanapun hubungan kalian, tolong tetap patuhi aturan sopan santun di sini. Tidak ada yang bisa seenaknya memanggil Tuan Muda Wonwoo hanya dengan nama. Senyum kecil muncul di wajahnya, terhibur dengan pertunjukkan kesetiaan dari kepala pasukan itu.

Mingyu memberi sinyal kepada anak buahnya untuk tetap tinggal di situ. Dia tahu Wonwoo tidak pernah senang melihat kumpulan orang seperti apa yang sekarang selalu mengelilinginya. Tetapi ini adalah hidupnya sekarang, orang-orang yang mungkin terlihat urakan dan berantakan di mata Wonwoo ini, adalah satu-satunya yang bisa Mingyu percayai. Jadi lebih baik tidak perlu mempertemukan Wonwoo dengan mereka. Ibarat Raja, Mingyu sedang tidak dalam mood mengakurkan permaisuri dengan selir-selirnya.

“Tuan Muda Wonwoo butuh pasukan untuk membersihkan para pemberontak yang membakar habis ladang tadi malam. Kerajaan akan menyiapkan seluruh persenjataan dan perbekalan yang kalian butuhkan. Dalam dua hari mereka berencana lari ke Siam dengan kapal dagang. Kalian akan menjebak mereka di sana.”

Mingyu mendengus. Kepala pasukan ini pikir dia siapa, mendikte strategi kepada dirinya. “Terlalu lama. Pastikan Wonwoo berbicara kepadaku tidak lebih dari sepuluh menit. Aku dan anak-anak akan segera mengejar mereka. Nanti malam, kalian akan menerima penggalan kepala-kepala para pemberontak.”

Kepala pasukan itu menghentikan langkahnya dan sempurna menghadapkan badannya ke arah Mingyu, memaksanya untuk ikut berhenti. “Tuan. Muda. Wonwoo.” Dia menekan kata per kata. Menyampaikan pesan yang terang benderang. Jaga ucapanmu!

“Itu untuk kalian, bawahannya. Aku beda. Mari, kita tidak boleh membuat Wonwooku menunggu. Kita tahu perangainya buruk jika sedang tidak sabar.” Mingyu melambaikan tangannya dengan gestur mengejek, mempersilahkan sang kepala pasukan untuk lanjut berjalan.

Kepala pasukan tidak punya pilihan selain berjalan kembali seperti yang diperintahkan Mingyu kepadanya. Tetapi tangan kirinya sudah siaga di sebelah belati di lipatan bajunya. Menunggu kesempatan untuk menancapkannya di manapun bagian tubuh musuh bebuyutan Tuan Muda Wonwoo ini.

*******

“Ah….kepala pasukanmu ini sepertinya lamban bergerak, Tuan Muda.” ucap Mingyu dengan seringai lebar di wajahnya. “Hamba sudah menyampaikan bahwa tidak perlu dua hari, nanti malam semua kepala pemberontak itu akan hamba jejerkan di halaman depan.” Mingyu yang berdiri di tengah ruangan, menatap ke arah Wonwoo dengan seringai kecil.

Wonwoo, yang duduk tenang di kursi tingginya, balas menyeringai. “Ini adalah orang yang mengalahkanmu dalam ujian terakhir untuk menjadi kepala pasukan pengamanan. Bagaimana mungkin dia lamban bergerak?”

Seringai di wajah Mingyu seketika hilang saat Wonwoo membahas ujian terakhir. Kilat kemarahan terlihat di matanya. Membuat seringai Wonwoo menjadi semakin lebar.

“Kalian mungkin bisa menyelesaikan ini dengan otot kalian dalam waktu singkat. Tetapi aku butuh ini diselesaikan dengan otak. Pastikan mereka tertangkap di Kapal Siam itu, dan bawa pula orang-orang di sana yang bekerja sama dengan para pemberontak ini.”

Kilat kemarahan semakin jelas berkelebat di mata Mingyu karena perkataan Wonwoo tentang otot dan otak. Mingyu tahu betul bagaimana pandangan Wonwoo tentang dirinya (dan terutama anak buahnya sekarang). Berotot, tetapi tidak berotak. Dan itu yang membuat Wonwoo terus merendahkan mereka. Membuat Mingyu tidak punya pilihan selain harus bermusuhan dengan Wonwoonya ini.

“Otak kami mungkin tidak sepandai kepala pasukan pengamanan, tetapi dua hari tetap terlalu lama, Yang Mulia. Kami sanggup menangkap mereka semua dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Saya harap Yang Mulia mau mempercayai kami.”

Wonwoo terdiam beberapa saat. Pertama, menyadari sarkasme Mingyu dengan memanggilnya Yang Mulia. Kedua, tidak yakin apakah Mingyu serius dengan ucapannya, atau hanya ingin menyombong di depan kepala pasukan pengamanan. “Tidak perlu gegabah dan besar kepala dalam misi ini. Para pemberontak pun cerdas dan persenjataan mereka setara dengan milik istana. Kita harus berhati-hati dan memastikan keselamatan semua yang bergerak untuk misi ini.”

“Ah…” Seulas senyum lebar terbit di wajah Mingyu. “Yang Mulia khawatir saya terluka? Manisnya. Jika itu alasannya, Yang Mulia bisa kirimkan saja orang yang mengalahkan saya ini.” Mingyu menunjuk ke arah kepala pasukan, dengan senyum mengejek.

“Kami bersedia, Tuan Muda.” Kepala pasukan langsung menanggapi ucapan Mingyu.

Wonwoo mengangkat telapak tangannya ke arah kepala pasukan. Mengisyaratkan kepadanya agar tidak berbicara sebelum diberi izin. Kemudian ditatapnya Mingyu yang sekarang sudah terang-terangan menggodanya dengan mengangkat kedua alisnya sambil mengulum senyum. Kurang ajar.

“Kita semua tahu pekerjaan ini akan lebih cepat selesai jika dikerjakan oleh pasukan pengawal. Tetapi pasukan pengawal sebaiknya tetap bersih. Lagipula, untuk apa kita punya kelompok ini,” Wonwoo melambaikan tangannya malas-malasan ke arah Mingyu, “kalau bukan untuk mengurus kekotoran yang ada. Biarkan orang bekerja sesuai kelasnya masing-masing.”

Mendengar kalimat-kalimat menusuk Wonwoo, Mingyu hanya tersenyum. Senyum yang berhenti di bibir, karena kedua matanya sekarang gelap. Amarah, kekecewaan, hingga benih dendam terbentuk di dalam kepalanya. Memancar jelas dari tatapan yang tajam menusuk Wonwoo. Mingyu memang mencintai Wonwoo, sepenuh hatinya, tetapi bukan berarti itu memberi Wonwoo hak untuk menjelek-jelekkan orang-orangnya.

“Kami akan memulai tugas, kalau begitu.” Mingyu memberi penghormatan kepada Wonwoo dan bergegas meninggalkan ruangan itu. Sama sekali tidak menunggu respon darinya. Membuat orang lain di dalam ruangan itu serentak menghela nafas, tidak percaya dengan kekurangajaran yang ditampakkan secara terang-terangan. Juga, membuat dirinya sendiri tidak tahu bahwa Wonwoo berbisik halus, “Hati-hati, dear.”

-end of chapter 1.