Work Text:
"Semuanya keluar." terdengar perintah menggelegar dari Kepala Pasukan kepada seluruh pekerja di ruangan tersebut. Tanpa suara, semua orang langsung meninggalkan pekerjaannya dan berangsur keluar. Pria tinggi besar di hadapan mereka ini, Kepala Pasukan, adalah salah satu tangan kanan Tuan Muda Wonwoo sehingga perintahnya tidak bisa dibantah.
Setelah semua pekerja keluar, Kepala Pasukan menutup setiap pintu serta jendela. Memastikan tidak ada yang bisa melihat ke dalam sebelum dia menjalankan misinya: memeriksa alas tidur Tuan Muda Wonwoo dengan seksama. Mencari apa yang otaknya sebut sebagai 'barang bukti kejahatan Kim Mingyu'.
Satu kali memeriksa, tidak ada. Dia balik dan periksa lagi, berharap tadi hanya terlewat. Masih tidak ada. Sekali lagi, dan tetap tidak ada.
Tanpa sadar tangannya bergetar hebat. Wajahnya memucat. Mulutnya merapal doa pada penguasa bumi dan langit, agar Tuan Muda Wonwoo bisa selamat dari 'kejahatan Kim Mingyu' ini.
*****
Sudah hampir dua bulan sejak pemberontak dari Tanah Tepian dihabisi oleh Mingyu dan anak buahnya. Ladang yang dibakar sudah mulai ditanami. Patroli pasukan keamanan di pemukiman dilonggarkan. Malam hari tidak lagi dihantui oleh para perampas. Rakyat bisa beraktivitas dengan tenang. Semua berbahagia.
Kecuali dua orang.
Pertama, Kepala Pasukan. Pembawaannya yang memang serius cenderung kaku, menjadi semakin parah. Kini ia selalu terlihat ekstra waspada pada apapun yang terjadi di sekitar Tuan Muda Wonwoo. Semua kegiatan Tuan Muda ia awasi dan temani. Pengamanan di sekitar istana kecil ini diperketat.
Orang kedua, mengejutkannya, adalah Tuan Muda Wonwoo sendiri. Di saat Raja memberi pujian dan limpahan hadiah atas keberhasilannya menumpas para pemberontak; rakyat memberi penghormatan dan persembahan, Tuan Muda Wonwoo justru terlihat tidak bersemangat. Fokusnya terpecah oleh entah apa. Tenaganya seperti mudah habis. Berujung pada performa yang tidak prima seperti biasanya. Hingga berkali-kali mendapat teguran dari para guru karena latihannya berantakan.
Belum lagi kenyataan bahwa Tuan Muda Wonwoo seperti kehilangan selera makannya. Apapun yang disajikan oleh dapur istana kecil ini, selalu berakhir nyaris tidak tersentuh. Alasan Tuan Muda selalu sama, tidak berselera. Tubuh Tuan Muda yang memang cenderung ramping itu menjadi semakin tipis.
Kabar tersebut sampai kepada Raja di istana besar dan Kepala Pasukan dipanggil. Dengan suara lugas Kepala Pasukan berusaha meyakinkan raja bahwa Tuan Muda hanya terlalu banyak beban pikiran menyusul semakin beratnya tingkat latihan yang harus dijalani. Tetapi Raja dengan senyum ringannya menawarkan sudut pandang lain. Yang terus terang saja, sangat dibenci oleh Kepala Pasukan.
"Panggil Mingyu untuk tinggal di istana kecil. Sepertinya Wonwoo merindukan anak itu. Beri dia pekerjaan. Toh pada saat tes dulu, dia mendapat hasil yang nyaris sama denganmu. Kemampuannya mengendalikan manusia-manusia di lorong gelap itu, dan keberhasilannya menumpas para pemberontak Tanah Tepian juga luar biasa. Pasti dia akan berguna juga untuk yang lain." titah sang Raja.
Kepala Pasukan sedang menyusun argumen yang bisa digunakan untuk menolak titah tersebut tanpa membuatnya terlihat membangkang, tetapi sang Raja sudah menambahkan, "Mingyu akan bisa membantumu untuk menyeleksi calon jodoh Wonwoo."
Satu kalimat singkat yang membuat semuanya terang benderang bagi Kepala Pasukan. Tidak peduli bahwa dia datang dari salah satu keluarga bangsawan paling terhormat di kerajaan ini, selamanya ia tidak akan pernah dianggap setara dengan Tuan Muda Wonwoo dan bisa meminangnya. Kalimat Raja tadi, adalah bentuk peringatan halus agar dia memahami batasan.
Kepala Pasukan menunduk dalam, memberi penghormatan, dan mengundurkan diri dari hadapan Raja. Bergegas menuju ke lorong gelap, mencari keberadaan Kim Mingyu. Orang yang saat ini paling ingin dia habisi tetapi juga harus dia lindungi. Demi Tuan Muda Wonwoo.
Sialan. Batin Kepala Pasukan geram.
*****
"Tidak ada yang bisa menjadi bukti atau saksi bahwa ini perintah Raja." ucap Kim Mingyu dengan nada mengejek.
Kepala Pasukan menarik nafas dalam, berusaha meredam amarah yang sudah semakin bergejolak di dalam dirinya. "Aku tidak akan berani berbohong menggunakan nama Raja."
Mingyu menggaruk dagunya sembari lekat mengamati Kepala Pasukan, seolah sedang menilai kejujurannya. "Masuk akal."
Kepala Pasukan menyadari nafasnya tertahan, cemas menunggu keputusan Mingyu. Sebagian dirinya tercabik ingin Mingyu menuruti perintah sang Raja, tetapi bagian lainnya kencang berdoa pada penguasa bumi dan langit agar Mingyu menolak semuanya. Dia tidak tahu mana yang lebih buruk: kemarahan Raja karena ia gagal membawa Mingyu ke istana kecil, atau kemungkinan bahwa dia harus melihat Mingyu setiap hari setiap waktu di sekitar Tuan Muda Wonwoo.
"Sampaikan pada Raja, terimakasih. Tetapi tempatku bukan di sana." ucap Mingyu dengan seringai.
Tanpa sadar Kepala Pasukan menghela nafas lega. Ternyata, kemungkinan harus melihat Mingyu setiap hari setiap waktu ada di sekitar Tuan Muda Wonwoo terasa lebih menakutkan.
Dengan anggukan singkat, Kepala Pasukan pergi meninggalkan lorong gelap itu. Sepanjang memacu kuda di perjalanan kembali ke istana kecil, dia tidak bisa menahan senyumnya. Persetan jika setelah ini dia akan dipanggil ke istana besar dan diamuk oleh Raja. Yang penting, Kim Mingyu si pelaku kejahatan itu tidak akan berada di sekitar Tuan Muda Wonwoo.
*****
"Dua bulan lalu, kamu memeriksa alas tidur Tuan Muda, bukan?"
Kepala Pasukan tersedak makanan yang sedang dikunyahnya demi mendengar pertanyaan Kepala Dapur, orang yang dulu menjadi emban Tuan Muda Wonwoo di masa kecilnya.
"Kamu mencari sesuatu, dan tidak bisa menemukannya, kan?" tambah Kepala Dapur, sukses membuat Kepala Pasukan langsung kehilangan nafsu makannya.
"Apa yang Bibi tahu?" tanggap Kepala Pasukan, berusaha terlihat setidakpeduli mungkin.
"Tuan Muda Wonwoo sedang hamil anak Kim Mingyu."
Kepala Pasukan sudah tidak mengunyah apa-apa tapi ia kembali tersedak. Pernyataan Kepala Dapur tadi bukan sesuatu yang baru dalam pikirannya, bahkan sudah beberapa hari menghantui tidurnya setiap malam, tetapi mendengarnya terucap dari mulut orang lain seperti ini tetap saja membuat dia terguncang.
"Da..dari..darimana…." Kepala Pasukan, untuk pertama kali dalam hidupnya, tergagap.
"Aku yang mengurusi anak itu sejak dia keluar dari rahim Permaisuri. Aku yang tahu selera makan anak itu dengan detail. Dan kabar bahwa Tuan Muda tidur dengan Kim Mingyu saat para pemberontak yang tertangkap diantarkan ke sini, sudah menjadi rahasia umum di dapur ini."
Kepala Pasukan seperti kehilangan darah di wajahnya, pucat pasi dan ekspresinya kosong. "Bagaimana bisa?"
Meski saat mendengar aktivitas kamar antara Tuan Muda dan Kim Mingyu dia merasa marah, tetapi otaknya saat itu masih berpikir jernih dan langsung menjauhkan semua orang dari dekat kamar Tuan Muda. Memastikan bahwa tidak ada orang lain yang tahu kejahatan Kim Mingyu pada saat itu.
Ya, dua bulan lalu saat kalap memeriksa alas tidur Tuan Muda, Kepala Pasukan sebetulnya mencari bekas sperma Kim Mingyu. Saat tidak ditemukan, dia yakin bahwa sperma itu memang tidak pernah menyentuh udara karena langsung masuk dan tertanam ke dalam tubuh Tuan Muda Wonwoo. Membuahi Tuan Muda Wonwoo. Atau dalam istilah di kepalanya: kejahatan Kim Mingyu.
"Ada Kepala Pasukan yang mabuk dan tidak sadar meneriakkan tentang itu. Untung hanya didengar oleh pekerja dapur sehingga aku bisa mengendalikan agar berita itu tidak semakin tersebar." jelas Kepala Dapur dengan sorot mata tajam. "Dan setelah dua bulan tidak mau makan apa-apa, mendadak Tuan Muda Wonwoo hanya ingin memakan yang berasa asam. Benar-benar seperti Permaisuri saat mengandung dirinya dulu."
Kepala Pasukan terkejut dan jatuh merosot dari kursi tempatnya duduk. Tidak menyangka bahwa dia sendiri lah yang membuat kejadian itu jadi diketahui orang-orang lain. Selama ini dia kira, hanya dirinya yang tahu apa yang terjadi di ruang Tuan Muda pada saat itu. Hanya dia yang tahu tentang kejahatan Kim Mingyu sialan itu.
"Bahkan kalau sekarang kau masih bersikeras Tuan Muda tidak membutuhkan Kim Mingyu, cepat atau lambat keadaan ini akan diketahui semua orang dan Kim Mingyu harus ada di sini. Lebih baik, kita bawa Kim Mingyu ke dalam istana ini sebelum Tuan Muda sendiri mengetahui kondisinya." terang Kepala Dapur lugas.
Kepala Pasukan hanya bisa menatap manusia berusia lanjut di hadapannya ini dan dengan pahit menerima kenyataan bahwa ucapannya benar.
"Bibi bisa meyakinkan Kim Mingyu? Sudah aku bilang tadi dia menolak mentah-mentah, meski tahu bahwa itu adalah perintah Baginda Raja."
"Antar aku ke sana."
Pergilah Kepala Pasukan dan Kepala Dapur ke lorong gelap, menemui Kim Mingyu dan sekali lagi menyampaikan apa yang menjadi titah Raja. Hanya saja, dengan hasil yang berbeda. Kepala Dapur dengan kecerdikannya berhasil memainkan ego Kim Mingyu dan menjebaknya pada perangkap cemburu. Sambil lalu ia bercerita tentang bagaimana Raja sudah mulai mencari calon jodoh bagi Tuan Muda Wonwoo dan tampaknya, "Dia salah satu kandidat kuat. Mengingat statusnya dan kemampuannya melindungi Tuan Muda selama ini, Raja mempertimbangkannya juga." jelas Kepala Dapur sambil menepuk-nepuk bahu Kepala Pasukan.
Sigap menyadari apa yang sedang dilakukan Kepala Dapur, Kepala Pasukan langsung ikut bermain peran. Dia lemparkan senyum sinis dan alis yang terangkat ke arah Kim Mingyu. Seolah kurang, ia menambahkan api ke dalam bara dengan berkata bahwa, "Maaf, sepertinya untuk kali ini aku lagi yang akan bisa mendapat tempat di samping Tuan Muda Wonwoo."
Dengan sorot mata yang menggelap cepat, Mingyu memanggil salah satu anak buahnya dan memberikan sebuah pedang kecil yang terselip di pinggangnya. "Untuk sementara ini, kau pegang kendali atas semuanya. Aku harus memenuhi perintah Raja untuk tinggal di istana kecil."
Kepala Dapur tersenyum samar sementara Kepala Pasukan kembali tercabik. Dia ingin tertawa terbahak melihat betapa mudahnya Kim Mingyu termakan perangkap. Tetapi di saat yang sama ia juga takut akan apa yang harus dia hadapi mulai saat ini. Dimana Mingyu menyetujui untuk pindah ke istana kecil berarti ia akan berada di dekat Tuan Muda Wonwoo setiap hari setiap waktu.
Tetapi baik Kepala Dapur maupun Kepala Pasukan tidak bisa berlama-lama berdiam dalam kemenangan ataupun kebimbangan masing-masing karena mendadak seluruh anak buah Mingyu riuh rendah saling berbicara, berseru, bahkan berteriak histeris.
Ah, mereka terbagi dua. Batin Kepala Pasukan dengan getir saat akhirnya bisa menangkap dan memilah suara-suara yang saling kusut berkelindan itu. Sebagian merasa ini adalah kehormatan bagi Mingyu dan memberinya salam perpisahan dengan penghormatan, sementara sebagian lainnya tegas menentang keputusan Mingyu. Jika dibiarkan, kedua kubu ini mungkin akan segera terlibat baku hantam.
Kepala Pasukan dengan cepat menarik pedang di punggungnya dan menempatkannya di depan leher orang yang paling kencang menentang keputusan Mingyu.
"Ini adalah titah Raja dan ketua kalian memang tidak punya pilihan selain menurutinya. Jika sekarang, setelah dia menyatakan persetujuan, ada dari kalian yang berani menentangnya, maka aku akan mengerahkan seluruh pasukan keamanan untuk membasmi kalian semua tanpa ampun."
Orang itu mundur ketakutan, diikuti oleh semua orang lain yang masuk dalam kubu menentang. Mereka tahu ini bukan ancaman kosong. Mingyu juga memberi anggukan yang jelas maksudnya: kalian lebih baik menurut saja.
Maka sore itu, diiringi tangis tidak rela namun juga sorak sorai dukungan, Mingyu mengikuti Kepala Pasukan dan Kepala Dapur untuk tinggal di istana kecil. Berpikir bahwa ini hanya untuk sementara waku. Tanpa tahu bahwa sesungguhnya sudah ada permainan nasib besar yang menunggunya di sana.
*****
Sesampainya di gerbang istana kecil, Mingyu menghentak kudanya untuk menghadang laju kuda Kepala Pasukan. Memberi isyarat bahwa ia ingin berbincang sebentar.
"Terimakasih." ucap Mingyu dengan anggukan samar.
Kepala Pasukan menjawab dengan mata yang memicing. Tidak mengerti untuk apa ucapan tersebut.
"Terimakasih sudah membantu meyakinkan anak buahku tadi."
Seringai mengejek muncul di wajah Kepala Pasukan. "Kau pasti ada tahu kan umpan sebelum jebakan selalu terlihat manis dan menyenangkan bagi buruan?"
"Aa…" tanggap Mingyu santai, "Jadi aku sedang dijebak?"
Kepala Pasukan kembali melempar seringai, "Terserah bagaimana caramu memahami situasi saja."
Keduanya kemudian menyusul kereta kuda yang membawa Kepala Dapur. Terlihat pasukan istana kecil berjejer rapi mengelilingi akses masuk ke bangunan yang berisi tempat tinggal Tuan Muda Wonwoo. Mingyu tertawa terbahak-bahak karena yakin ini semua atas perintah Kepala Pasukan.
"Kau kira aku tidak bisa mencari cara lain untuk menerobos masuk ke sana?"
Kepala Pasukan hanya diam, tidak mau menanggapi konfrontasi Mingyu. Dilihatnya ada satu orang pasukan yang berlari ke arahnya. Wajahnya terlihat cemas dan kebingungan.
"Tuan Kim, dan….. Tuan Kim." ujarnya memberi penghormatan kepada kedua lelaki di atas kuda yang sekarang terdiam karena baru sadar bahwa mereka sebetulnya memiliki marga yang sama.
"Ada apa?"
"Tuan Muda Wonwoo memerintahkan kami untuk memindahkan tempat tinggal Tuan Kim Mingyu ke sayap selatan, di dekat saung para pandai besi."
Mingyu paham, Wonwoo menempatkan dia sejauh mungkin dari tempat tinggalnya sendiri. Mereka mungkin bercinta dengan menggebu-gebu seperti kekasih dimabuk asmara saat terakhir bertemu dua bulan lalu, tapi sekarang mereka kembali menjadi dua orang yang seperti musuh bagi satu sama lain.
Entahlah, bagi Mingyu, Wonwoo tidak akan pernah menjadi musuhnya. Tidak peduli sekejam apapun perkataannya, sedingin apapun sikapnya, sejauh apapun jarak terasa di antara mereka, baginya Wonwoo akan selalu punya tempat sendiri di dalam dirinya. Orang yang akan dia lindungi meskipun itu berarti perutnya harus robek dan butuh empat puluh hari serta rangkaian ramuan obat amat pahit untuk menyembuhkan. Orang yang dengan memikirkan saja sudah membuatnya bahagia. Dan orang, satu-satunya orang, yang Mingyu tahu akan selalu dia puja sampai waktu yang memutuskan berhenti bekerja di kehidupan ini.
Tetapi sepertinya bagi Wonwoo, Mingyu tidak seperti itu. Bahkan membiarkannya tinggal dekat pun, Wonwoo jelas tidak mau.
"Bukan masalah. Keinginan Wonwoo lebih penting." ucap Mingyu dengan senyum. "Oh, tidak perlu. Saya tahu tempat ini dengan baik." tambah Mingyu saat dilihatnya orang tersebut bersiap untuk menunjukkan jalan.
Kepala Pasukan memberi isyarat kepada pasukan tersebut untuk kembali ke latihannya. Dia kemudian berpamitan kepada Mingyu dan segera masuk ke bangunan tempat tinggalnya yang berdiri persis di sebelah bangunan istana kecil Wonwoo. Seolah sengaja memamerkan fakta tersebut pada Mingyu.
Mingyu menatap semuanya dengan senyum di wajah, tetapi ada yang mulai terbakar di dalam dadanya. Kemarahannya tumbuh. Egonya seperti dihantam angin bergemuruh. Baik, kita ikuti saja permainan ini. Batin Mingyu untuk menenangkan dirinya sendiri.
*****
Kepala Pasukan dan Kepala Dapur berdiri bersisian, lekat mengamati dua orang yang sedang berdebat sengit. Entah apa topiknya. Tidak penting juga bagi keduanya. Keduanya: ya yang melihat, ya yang berdebat alias Mingyu dan Wonwoo. Pada prinsipnya, kedua orang itu akan berdebat untuk berdebat saja. Tidak perlu topik tertentu, tidak perlu penyebab. Asal mereka bertatap muka, mereka akan segera berdebat.
Sementara bagi yang melihat alias Kepala Pasukan dan Kepala Dapur, mereka juga sudah tidak peduli pada topik perdebatan kedua orang tersebut karena memang kerap tidak masuk akal. Hari pertama Mingyu bangun di sini, mereka berdebat tentang kuda. Hari kedua, tentang sumber air. Sorenya sudah terjadi perdebatan lain tentang gudang senjata. Beberapa hari lalu, tentang bentuk daun pegagan. Kali ini, tentang warna lapisan kain Mingyu. Melihat kedua orang tersebut berdebat seperti melihat anak-anak yang tengah bertengkar konyol. Tidak penting apa topiknya, yang penting ada bahan adu mulut.
Padahal semenjak Mingyu pindah ke istana kecil ini, Wonwoo meningkatkan jadwal latihan dan tugas kerajaannya menjadi dua kali lipat. Waktunya nyaris habis sejak pagi hingga petang untuk belajar dan bekerja. Tetapi lucunya, Wonwoo selalu punya waktu untuk berkeliling seluruh penjuru wilayah istana kecil dan setiap kali bertemu Mingyu, mereka akan segera berdebat.
Mingyu, di sisi lain, kebingungan karena ternyata di istana kecil ini tidak ada tugas atau pelatihan khusus baginya, seperti yang dulu pernah ia jalani saat masih tinggal di istana. Ia dibiarkan mencari kegiatan sendiri. Pelayan dan pasukan selalu siap sedia untuk meladeni dan mendampingi, tapi tidak ada yang bisa dia kerjakan dengan jelas. Jadi buat apa juga?
Akhirnya Mingyu hanya berkeliling dari satu bagian ke bagian lainnya. Tabib istana, dapur, persenjataan, pengawas pekerja, penyelesai sengketa, pengirim barang. Seluruh penjuru istana kecil dia sambangi. Menyapa orang-orang yang sudah mengenalnya sejak dulu, dan berkenalan dengan yang baru.
Senyumnya selalu cerah, tangannya juga ringan membantu. Tetapi begitu bertemu dengan Wonwoo, maka ekspresinya akan menjadi masam dan tidak perlu waktu lama sebelum mereka berdua saling melempar kata-kata pedas dalam perdebatan yang sudah seperti agenda rutin harian.
Ya, pikir Mingyu getir, ternyata ada kok kegiatan khusus untukku. Bertengkar dengan Wonwoo.
Mingyu kesal. Dia pikir pindah ke dalam istana kecil akan memberinya kesempatan untuk sedikit demi sedikit memperbaiki komunikasi dan hubungan dengan Wonwoo. Siapa tahu mereka juga bisa bercinta lagi seperti waktu itu. Tapi apa ini, yang dia dapati hanya Wonwoo yang kemana-mana selalu ditemani dan diawasi oleh Kepala Pasukan.
Berlebihan, menurut Mingyu. Dulu saat Wonwoo masih remaja dan belum sekuat sekarang saja, tidak ada pasukan kerajaan yang ditugaskan untuk mengikutinya kemana-mana seperti ini. Lalu kenapa sekarang, saat Wonwoo bahkan sudah sanggup memimpin satu batalyon ke medan perang sesungguhnya, Kepala Pasukan sialan itu malah harus mengikuti dan menjaganya kemanapun. Mingyu bahkan pernah melihat Kepala Pasukan menggendong Wonwoo turun dari kereta kerajaan.
Memang Wonwoo terlihat pucat dan lemah saat itu, tapi sampai harus digendong? Hah. Tidak masuk akal.
"Bibi, apa ini yang ada di pikiran Baginda Raja saat meminta Mingyu pindah ke sini?" tanya Kepala Pasukan tanpa melepas tatapan matanya dari dua orang yang masih sibuk berdebat itu.
"Tuan Kim. Jangan sampai kau ditegur Tuan Muda lagi. Biasakan untuk memanggilnya Tuan Kim."
Kepala Pasukan mendengus, "Aku pun juga dipanggil Tuan Kim di sini. Tapi Tuan Muda sepertinya tidak masalah jika berandalan itu memanggilku hey, hoy, kepala, dan entah apa lagi kemarin."
Senyum samar muncul di wajah Kepala Dapur yang memahami bahwa kedua Tuan Kim ini sebetulnya sama-sama memiliki perasaan terhadap Tuan Muda mereka. Tetapi kedua-duanya juga mendapat impresi yang salah. Bagi Tuan Kim yang sedang berdebat di sana, Tuan Kim di sampingnya ini yang memenangkan hati Tuan Muda. Tetapi bagi Tuan Kim di sampingnya ini, Tuan Kim yang kerap ia sebut sebagai berandalan itulah yang terpilih sebagai pemenangnya.
Kepala Dapur sendiri, yang mengenal Tuan Muda seperti punggung tangannya sendiri, tahu bahwa tidak perlu lagi ditanyakan siapa pemenangnya. Kehidupan baru di dalam perut Tuan Muda lah pemenangnya. Anak itu lah yang akan selalu memenangkan hati Tuan Muda kelak; dan sekaligus memilihkan Tuan Kim mana yang memenangkan hati Tuan Muda.
"Aku juga tidak memanggilmu Tuan Kim."
Kepala Pasukan mendengus lagi, "Ya itu kan Bibi. Beda. Bibi bebas memanggilku apa saja."
"Bebas menasehatimu juga?"
Anggukan kepala datang sebagai jawaban.
"Menyerahlah. Mereka berdua memang berdebat seperti itu, tetapi bukan karena saling membenci. Justru karena mereka terlalu menyayangi satu sama lain. Mereka membawa perasaan yang terlalu besar, sampai tidak sanggup menanggungnya dan justru keluar dengan cara yang salah seperti itu."
"Menyerah dari apa? Aku bahkan tidak sedang mengusahakan apapun. Aku tahu tidak akan pernah ada kesempatan untukku bersama dengan Tuan Muda. Ini adalah yang terdekat aku bisa berada di sisinya, menjadi Kepala Pasukan yang akan selalu memastikan keamanannya dan wilayah ini."
Kepala Dapur menepuk pelan lengan Kepala Pasukan, memberi penghiburan demi mendengar nada sang pemuda yang terdengar sendu menyayat hati. "Menyerahlah juga dari memusuhi Kim Mingyu. Cepat atau lambat kehamilan Tuan Muda akan diketahui semua orang, termasuk Baginda Raja. Saat itu terjadi, Kim Mingyu akan berada dalam bahaya besar. Raja mungkin akan berpikir untuk menghabisinya, juga bayi di dalam perut itu."
"Bibi…jangan bercanda…"
"Kau juga tahu bagaimana perangai Raja. Bagaimana pandangannya tentang jodoh macam apa yang pantas menikahi Tuan Muda."
Kepala Pasukan diam, namun sepenuhnya menyetujui pernyataan Kepala Dapur. Baginda Raja memang terlihat baik dan tenang, tetapi di balik punggungnya ada keras hati yang tidak segan-segan menghabisi apapun yang dianggap menghalangi ambisinya. Salah satu ambisi Raja, sayangnya, adalah menikahkan Tuan Muda dengan sosok yang kuat dan berpengaruh luas, agar kerajaan ini bisa semakin besar dan berjaya.
"Kim Mingyu punya garis tangan luar biasa. Kemakmuran dan nasib yang hebat tergambar jelas di sana. Mendiang ayah dan ibunya adalah pekerja di istana besar. Kemampuannya? Tidak main-main. Dia pembelajar yang cepat dan antusias. Baru tiga minggu di sini dan dia sudah banyak menguasai ilmu dari Tabib dan Pandai Besi. Beberapa minggu lagi dan mungkin dia sudah akan bisa menyaingi keduanya. Perangainya juga menyenangkan. Tidak ada pekerja maupun rakyat di sini yang tidak merasa senang bercakap dengannya. Kekuatannya tidak tertandingi. Dua malam lalu dia menyelamatkan Tabib dan pekerjanya dari serangan anjing liar di hutan. Apa lagi? Intinya, Kim Mingyu adalah kandidat yang sebetulnya sangat pantas untuk menjadi jodoh Tuan Muda. Apalagi kita tahu bagaimana sebetulnya perasaan di antara mereka berdua. Tapi Kim Mingyu tidak punya pengaruh sebesar yang disyaratkan oleh Baginda. Sehingga akan sangat sulit untuk meyakinkan beliau nanti…"
Tanpa dijelaskan panjang lebar seperti itu, Kepala Pasukan juga sebetulnya sudah menyadari semua hal tersebut. Dia tahu bahwa Mingyu lebih dari pantas untuk menjadi jodoh Tuan Muda. Menjadi ayah dari janin di perut pria yang diam-diam dia kasihi itu. Tetapi itu tidak cukup bagi Baginda Raja.
"Menyerahlah dari memusuhi Kim Mingyu." ulang Kepala Dapur saat menyadari Kepala Pasukan masih terdiam. "Saat Raja tahu tentang kehamilan ini, Mingyu pasti akan dihabisi dan Tuan Muda pasti mengerahkan kalian semua di sini untuk melindunginya. Jika Kepala Pasukannya masih menyimpan rasa permusuhan terhadap orang yang harus mereka lindungi, kau pikir akan seperti apa nanti kejadiannya?"
Kepala Pasukan membungkuk dan menumpukkan kedua tangannya ke lutut. Gelombang lelah tiba-tiba menghantamnya. Perang belum dimulai, tetapi semua tenaganya seperti sudah terkuras habis.
"Lindungi Mingyu saat waktunya tiba. Itu yang bisa kau lakukan untuk Tuan Muda, jika benar kau peduli padanya." Kepala Dapur menepuk punggung Kepala Pasukan pelan dan mundur, berjalan kembali ke dapur.
Sendiri, Kepala Pasukan mulai menyusun antisipasi dan rencana untuk ke depan. Semoga, penguasa bumi dan langit mau berpihak padanya.
*****
Guru ilmu pedang istana berkacak pinggang. Tidak paham bagaimana mungkin baru dua putaran dan Tuan Muda sudah kehabisan nafas. Sepintas Tuan Muda tidak terlihat sakit atau mengantuk. Tetapi staminanya buruk sekali. Konsentrasinya juga tidak sebaik biasanya.
"Fokus, Tuan Muda. Ini bukan pedang yang bisa digunakan dengan sembarangan. Jika terus seperti ini, lebih baik kita kembali dengan pedang yang biasa."
Wonwoo, sembari terengah-engah, menggeleng dengan cepat. Menolak ancaman tersebut. "Beri aku waktu sebentar."
"Peperangan dan musuh tidak akan memberi Tuan Muda waktu untuk menghela nafas seperti ini." desak Guru itu lagi.
Wonwoo memaksa dirinya berdiri tegak dan bersiap lagi. Berhasil. Sepanjang sisa latihan, tidak ada lagi teguran dari sang Guru dan Wonwoo berhasil meningkatkan kemampuannya mengendalikan ayunan pedang tersebut. Sasaran palsu yang dipasang berhasil dia cacah dan jatuhkan sesuai instruksi dari sang Guru.
Selesai latihan, Wonwoo merasa puas dengan dirinya karena berhasil bertahan dan tidak membuat kekacauan lagi. Tapi dia juga mendadak dikuasai rasa murka serta frustasi. Jika sudah begini, obatnya hanyalah berburu di hutan Timur. Dipanggilnya salah satu prajurit untuk diperintah mempersiapkan kuda serta senjata berburu.
Wonwoo menunggu semua itu datang sembari berbincang dengan sang Guru. Mereka membahas kerajaan di kepulauan Selatan yang konon kabarnya sedang berambisi melebarkan wilayah dan sudah menyerang beberapa kerajaan kecil di sekitar mereka. Wonwoo dan sang Guru membahas kemungkinan mereka kemari. Nyaris tidak mungkin, ucap sang Guru. Mengingat jaraknya yang butuh dua bulan sendiri untuk perjalanan laut dan darat.
Suasana hati Wonwoo sudah mulai membaik dan tubuhnya santai lagi. Tetapi saat dilihatnya prajurit yang ia perintah tadi datang dengan sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang yang bukan dia perintahkan, murka Wonwoo muncul lagi.
"Mana kuda dan peralatan berburuku?" tanya Wonwoo dengan nada dingin.
Prajurit tersebut hanya memberi penghormatan lalu mundur dan berdiri di samping orang yang dibawanya tadi. Kepala Pasukan.
"Tuan Muda, maafkan kelancangan hamba. Tetapi kami tidak bisa membiarkan Tuan berburu sekarang."
Wonwoo memicing. Marah. "Kalian siapa berpikir bisa melarangku?"
"Ini demi kebaikan Tuan Muda." jawab Kepala Pasukan dengan kepala tertunduk dalam. Selain sebagai bentuk penghormatan, yang diharapkan bisa sedikit menurunkan emosi Tuan Muda, juga karena dia tidak bisa menatap mata Tuan Muda. Takut pertahanannya runtuh dan terlepas bicara perihal kehamilan.
"Kebaikan? Kebaikan apa? APA?!"
Semua orang di sekitar mereka terkejut mendengar Tuan Muda mereka yang mendadak meninggikan suara seperti itu. Selama ini, semarah apapun, Tuan Muda tidak pernah meninggikan suaranya sama sekali. Kemarahannya memang selalu jelas dipertunjukkan, tetapi tidak dalam volume suara.
Salah seorang pekerja diam-diam menyelinap pergi dari kerumunan saat Wonwoo mulai berteriak marah-marah lagi. Dia tahu hanya ada satu orang di istana ini yang akan bisa menghadapi Tuan Muda mereka. Orang yang selama hampir satu bulan ini selalu berdebat dengan Tuan Muda: Kim Mingyu.
****
"Tuan Muda benar. Setidaknya berikan alasan." ucap Mingyu kepada Kepala Pasukan.
Tadi dia sedang di dapur, membantu sekaligus belajar menguliti seekor lembu yang akan dipakai dalam pesta esok hari. Seorang pekerja istana datang tergopoh-gopoh dan memberi tahu bahwa Tuan Muda sedang mengamuk di pelataran depan karena dilarang berburu oleh Kepala Pasukan. Tanpa pikir panjang Mingyu langsung melesat lari menuju lokasi. Sementara Kepala Dapur bangkit dan menyusul dalam langkah-langkah lebar.
"Dalam satu minggu terakhir sudah ada beberapa laporan serangan hewan buas di sana."
Mingyu mengernyit, hanya perasaannya atau Kepala Pasukan tidak terdengar setegas biasanya? Dia juga kentara menghindari pandangan Mingyu maupun Wonwoo.
"Hamba akan menemani kalau begitu. Bolehkah, Tuan Muda?" tanya Mingyu kepada Wonwoo.
"Apa bedanya?" sambar Kepala Pasukan cepat.
"Maaf hamba menyela. Tuan Kim Mingyu pasti sanggup melindungi Tuan Muda Wonwoo jika ada serangan. Beberapa kali kami harus berburu bunga malam di hutan, dan Tuan Kim Mingyu selalu berhasil menghalau hewan-hewan liar yang ada." ucap seseorang yang jika dilihat dari pakaiannya adalah asisten Tabib.
"Tetap…" ucapan Kepala Pasukan terpotong saat Kepala Dapur datang dan langsung menggenggam lengannya. "Bibi…"
"Ikut aku. Kau juga, Tuan Mingyu. Maaf Tuan Muda, hamba perlu berbicara bertiga saja dengan mereka."
Wonwoo, yang wajahnya masih merah padam, mengangguk.
Setelah cukup jauh dari kerumunan, Kepala Dapur melepas cengkeraman pada lengan Kepala Pasukan dan menatap Mingyu tepat di manik matanya.
"Tuan Muda sedang hamil."
Mingyu diam saja. Berusaha mencerna perkataan Kepala Dapur dengan perlahan. Dilihatnya Kepala Pasukan berubah menjadi pucat pasi dan diam seperti monyet kena bidikan ketapel.
"Hamil?" tanya Mingyu sambil memandang dua orang di depannya secara bergantian.
"Anakmu." akhirnya keluar suara lagi dari mulut Kepala Pasukan.
Apa? Anak siapa?
"Anak siapa?!" Mingyu mulai panik.
Kepala Dapur maju dan memegang kedua lengan Mingyu dengan kencang. "Dengar…"
Lima menit dihabiskan Kepala Dapur untuk menjelaskan kepada Mingyu tentang apa yang sudah ia dan Kepala Pasukan amati selama tiga bulan terakhir. Ekspresi Mingyu berubah dari kaget, bingung, kaget lagi, dan bingung lagi. Sementara Kepala Pasukan hanya diam dan semakin pucat.
"Lalu, kalian tidak memberitahu Wonwoo? Padahal dia yang seharusnya tahu…"
Kepala Dapur menghela nafas berat, "Sayangnya, itu bukan hak kami. Tuan Muda harus menyadarinya sendiri."
Mingyu tertawa sinis, "Harus tahu sendiri? Lalu sekarang, karena tidak tahu, dia mau sembarangan berburu begini. Jadi kalian pikir kapan dia akan tahu? Saat terjadi hal buruk pada kandungannya sebagai akibat dari berburu? Dari mengendarai kuda di medan hutan yang berat itu?"
"Itulah, kenapa kami butuh pertolongan untuk mencegah Tuan Muda berburu sekarang."
"Haha! Bagaimana caranya orang biasa seperti kita melarang putra mahkota? Persetan. Aku beritahu Wonwoo sekarang." Mingyu berbalik, dan bergegas ke arah kerumunan lagi. Tetapi Kepala Pasukan gesit mencegat.
"Itu bukan hak-mu, Kim Mingyu." terdengar suara Kepala Dapur. Tegas memperingatkan.
"Bibi, dengan segala hormat, aku tidak peduli lagi apa yang menjadi hak dan bukan hak-ku. Ini anakku juga, aku punya kewajiban untuk menjaga keselamatannya. Juga keselamatan Wonwoo."
Kepala Pasukan mengangkat kedua tangannya dan menahan laju Mingyu, "Dengar. Dengar dulu. Kalau kau gegabah, bisa-bisa dihabisi kerajaan. Mau?"
Mingyu tertawa sinis lagi, "Coba saja. Kemarin saat menghadapi pemberontak saja kau gagal menyabotase aku dan anak buahku…"
Wajah Kepala Pasukan memerah menyadari betapa kekanakan sikapnya saat itu. "Aku menyesali perbuatanku. Tapi Mingyu, tolong pahami bahwa akan berbeda cerita jika pasukan Raja sendiri yang turun tangan. Pemberontak kemarin akan dengan mudah dibasmi, apalagi kau."
"Dia benar." tanggap Kepala Dapur cepat saat dilihatnya Mingyu membuka mulut, hendak membantah Kepala Pasukan. "Bersabarlah dahulu. Jangan gegabah mengambil tindakan karena orang yang paling akan berat menanggung konsekuensinya nanti justru Tuan Muda. Jika kau peduli pada Tuan Muda, kau akan berpikir matang sebelum bertindak."
Mingyu langsung terdiam. Matanya memandang ke arah Wonwoo yang masih berdiri dengan raut wajah kesal.
"Hamil, hah." ucap Mingyu dengan nada tidak percaya. "Hamil. Anakku. Anak kami."
Kepala Dapur tidak bisa menahan senyum sedihnya. Sejak hari pertama Mingyu dan Wonwoo berteman dan tidak bisa dipisahkan, dia sudah tahu bahwa hari seperti ini akan datang. Hanya saja dia pikir, akan melalui proses yang lebih biasa dan lumrah. Pernikahan, lalu kehamilan. Bukan sebaliknya begini. Kehamilan, dan belum jelas bisakah ada pernikahan di antara mereka berdua. Bagaimana jika yang datang justru amarah dari kerajaan?
"Bibi tahu, kemarin kami hanya melakukannya sekali."
"Simpan saja informasi seperti itu untuk dirimu sendiri. " Alih-alih Kepala Dapur, justru Kepala Pasukan yang menanggapi Mingyu.
Kepala Dapur dan Mingyu bersitatap dan menahan tawa masing-masing. Mereka sadar Kepala Pasukan merasa pahit atas fakta ini. Tetapi yah, apa daya…
"Biar aku bujuk Wonwoo. Bibi tolong buatkan makan malam untuk Wonwoo. Dan kau, tolong siapkan satu kuda yang paling besar serta halus geraknya."
Kedua tangan Kepala Pasukan mengepal di sisi tubuhnya. Menahan diri dari kemungkinan maju dan menghantam rahang berandalan di depannya ini. Siapa dia, seenaknya memberi perintah begini…
*****
Kepala Pasukan melahap makanan di depannya dengan ganas. Pertama, dia memang kelaparan setelah sesi latihan yang kejam dan berat. Kedua, dia butuh sesuatu untuk melampiaskan rasa kesalnya kepada seseorang.
"Apa lagi kali ini?" tanya Kepala Dapur sembari meletakkan semangkuk buah-buahan ke depan Kepala Pasukan.
"Bibi tahu, anak kesayangan bibi itu benar-benar bodoh." jawab Kepala Pasukan dengan mulut yang masih penuh makanan. Membuat Kepala Dapur melempar tatapan mengingatkan.
"Tidak ada anak kesayangan. Kau, Tuan Muda Wonwoo, Kim Mingyu, dan semua di sini adalah anak-anakku semua sama rata." tanggap Kepala Dapur dengan suara yang berlapis tawa. "Habiskan dulu makanmu."
Kepala Pasukan mengangguk dan segera kembali fokus pada makanannya. Sementara Kepala Dapur kembali masuk ke area memasak untuk memberi beberapa instruksi kepada para pekerja.
Seorang asisten tabib masuk dan mencari Kepala Dapur. Rupanya ingin meminta beberapa rempah segar, sekaligus menitipkan sebotol ramuan. Sesuatu yang rutin terjadi selama dua minggu terakhir.
"Kim Mingyu yang menyuruhmu?" tanya Kepala Pasukan dengan nada sinis.
Asisten tabib itu hanya mengangguk, kemudian berterimakasih dan pamit setelah mendapat apa yang dia cari.
"Sialan." maki Kepala Pasukan pelan.
"Ada apa? Kenapa sampai memaki seperti itu?" tanya Kepala Dapur menyelidik, urung kembali ke area memasak.
"Anak kesayangan Bibi itu memang bodoh sekali. Dia pikir Tabib tidak akan curiga jika setiap hari dia membuat ramuan untuk Tuan Muda begini." jawab Kepala Pasukan dengan nada kesal.
Kepala Dapur tertawa lepas, "Kau masih cemburu pada Mingyu rupanya?"
"Hah? Enak saja. Aku hanya benci dengan kecerobohannya ini."
"Biarkan saja. Justru bagus jika Tabib istana mencurigai tindakannya."
"Bagus? Kenapa bagus?"
Kepala Dapur mengedipkan satu mata, "Tunggu saja."
Oh, Kepala Pasukan benar-benar tidak menyukai apa yang sedang terjadi akhir-akhir ini di istana. Kalau saja waktu itu dia tidak kecolongan dan Mingyu tidak bisa masuk ke kamar Tuan Muda…
*****
"Siapa?" tanya Tabib istana lagi dengan nada yang lebih mendesak.
Mingyu, sementara itu, hanya bisa membuka menutup mulutnya seperti ikan mencari air karena kaget dan bingung bagaimana caranya menjawab pertanyaan Tabib.
"Pekerja dapur mana yang kau hamili, Tuan Kim?" desak Tabib istana lagi.
"Tidak ada. Tidak…"
"Jangan berbohong. Aku tahu kau membuat ramuan penguat kandungan setiap hari dan meminta tolong Chan untuk mengantarkannya ke dapur. Lebih baik kau jujur sebelum Chan yang ku interogasi dan ku hukum."
Mingyu panik. Chan sudah sangat berbaik hati menolongnya selama ini, jadi kalau malah Chan yang kena hukum dari Tabib, Mingyu tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Tunggu, aku…aku panggil Kepala Pasukan dan Kepala Dapur dulu untuk membantu menjelaskan situasinya." ucap Mingyu dengan nada memohon nyaris memelas. Berharap itu bisa meluluhkan hati sang Tabib.
Berhasil, dia diperbolehkan untuk memanggil kedua orang tersebut.
Mingyu langsung melesat berlari. Pikirannya riuh rendah dengan banyak suara. Banyak pertanyaan. Bagaimana caranya dia akan menjelaskan nanti? Apakah Kepala Pasukan dan Kepala Dapur bisa memberinya ide? Bagaimana jika Chan benar-benar menjadi kambing hitam dan dihukum oleh Tabib? Juga, apakah masalah ini bisa cepat diselesaikan sehingga Mingyu bisa memenuhi janjinya untuk mengajak Wonwoo ke hutan melihat kucing liar lagi.
Tempo hari saat Wonwoo mengamuk karena dilarang berburu di hutan, Mingyu berhasil membujuknya dengan cara mengajak melihat seekor induk kucing hutan liar yang baru saja melahirkan anak-anak lucu. Sepanjang sore itu, Wonwoo terus menerus terpukau dan memekik kagum saat melihat mereka. Membuat Mingyu sendiri merasa penuh dengan perasaan hangat dan bahagia di hati.
Jika interogasi Tabib nanti berjalan lama, maka sepertinya Mingyu tidak akan bisa mengajak Wonwoo melihat anak-anak lucu itu. Aduh. Padahal dalam dua minggu ini hubungan mereka sudah mulai membaik. Perdebatan mereka berkurang, obrolan mereka mulai beradab dan diselingi canda tawa. Yang terutama, Mingyu bisa mencuri-curi pandang ke arah perut Wonwoo. Ke tempat dimana anaknya sedang nyaman bertumbuh.
Semoga penguasa langit dan bumi memberi pertolongan, rapal Mingyu dalam hatinya.
*****
"Ini berbahaya. Tuan Muda harus segera tahu kondisi dirinya sendiri." tegas Tabib istana.
Kepala Dapur mengangguk, "Iya. Aku setuju. Tapi kita harus berhati-hati karena ini bukan hak kita untuk membuka fakta kepada Tuan Muda."
Tabib istana meraup wajahnya sendiri dengan frustasi. Seperti Kepala Dapur, dia sudah puluhan tahun mengabdi dan tahu betul aturan kerajaan, sehingga mau tidak mau harus menyetujui perkataan sang Kepala Dapur. Tapi, ini kehamilan. Bukan suatu hal sepele. Tuan Muda Wonwoo harus segera mengetahui keadaannya sendiri.
"Apa pelajaran Tuan Muda hari ini?" tanya Kepala Dapur kepada Kepala Pasukan.
"Perkelahian tangan kosong." Mingyu yang menjawab.
"Kau akan ada di sana juga?" Kepala Dapur kembali bertanya kepada Kepala Pasukan.
"Iya."
"Katakan padanya bahwa setelah pelajaran dia harus memeriksakan diri ke Tabib karena…ototnya terlihat tidak luwes? Gerakannya tidak natural? Terserah. Katakan apapun yang bisa meyakinkannya bahwa dia harus memeriksakan diri ke sini." perintah Kepala Dapur yang disambut dengan gumam persetujuan dari Tabib. Ide brilian.
"Baik."
"Tugasmu untuk menyampaikan kabar ini pada Tuan Muda. Ingat, berpura-puralah kau belum tahu bahwa Tuan Muda hamil anak Mingyu." pesan Kepala Dapur kepada Tabib.
Mereka membubarkan diri untuk kembali ke kegiatan masing-masing. Kepala Pasukan sempat membisikkan, "Dasar merepotkan!" ke arah Mingyu saat mereka berjalan bersisian.
Mingyu diam saja karena dia pun setuju. Dirinya memang sudah merepotkan banyak orang. Terutama Wonwoo. Wonwoonya.
*****
Wonwoo termenung. Apa kata sang Tabib? Hamil?
"Maafkan lancang tutur kata hamba, Tuan Muda." ulang sang Tabib sembari memberi tunduk hormat.
"Tidak… tidak apa-apa." tanggap Wonwoo dengan lambaian tangan lemah.
Hamil. Dia sedang hamil. Anak Mingyu.
Ya, Wonwoo yakin bahwa ini anak Mingyu karena siapa lagi yang pernah bercinta dengannya selain Mingyu? Hanya Mingyu, dan selalu hanya akan dengan Mingyu.
Anak Mingyu. Batin Wonwoo lagi.
Dia ingin menangis, menyadari betapa serius kondisi yang sedang ia hadapi sekarang. Baginda Raja dan Permaisuri bisa saja akan menggantungnya hidup-hidup jika ternyata kabar ini tidak membuat mereka senang. Tetapi di sisi lain Wonwoo juga merasakan kebahagiaan luar biasa. Ada kehidupan yang sedang tumbuh di dalam dirinya. Kehidupan yang ia buat bersama dengan Mingyu. Mingyunya.
"Berapa usia kehamilan ini?" tanya Wonwoo kepada Tabib istana.
"Dilihat dari penebalan perut, Tuan Muda sudah hamil selama kurang dari dua puluh minggu."
"Berapa minggu lagi sampai anak ini akan terlahir?"
"Kehamilan biasanya berlangsung selama tiga puluh delapan hingga empat puluh minggu, Tuan Muda."
Wonwoo mengangguk. Otaknya langsung sibuk memikirkan banyak hal. Bagaimana caranya memberi tahu Mingyu. Memberi tahu orangtuanya. Meyakinkan mereka semua agar dia bisa menikah dengan Mingyu. Bagaimana hidupnya akan banyak berubah setelah ini. Dan berpuluh bagaimana lainnya.
"Ada pantangan?"
Tabib istana mengangguk hormat. "Aktivitas berat seperti berkuda dan pelatihan fisik, makanan yang terlalu kuat rasanya, waktu tidur yang kurang, emosi yang berlebihan, Tuan Muda harus menghindari semua itu untuk sementara waktu."
"Baik." tanggap Wonwoo. "Terimakasih, Paman. Tolong bantu aku menjaga anak ini sampai dia terlahir nanti." tambah Wonwoo.
Tabib istana langsung tersungkur dan menangis. Terharu dengan cara Wonwoo memanggilnya, sekaligus kewalahan merasakan gejolak batinnya. Seperti baru kemarin ia membantu Permaisuri melahirkan Tuan Muda, dan sekarang anak itu juga akan melahirkan. Benar-benar luar biasa indah namun kejam permainan nasib kali ini.
*****
Wonwoo menarik nafas dalam, menenangkan dirinya sendiri. Ditatapnya pintu kokoh di depannya. Di balik sana, ada seseorang yang harus segera dia temui dan ajak bicara. Tapi Wonwoo butuh kepala dingin dan ketenangan agar semuanya bisa dilakukan dengan benar. Tangannya terangkat dan mengetuk dengan mantap.
Tidak lama seraut wajah muncul di balik pintu yang membuka.
"Won… Tuan Muda…"
"Aku masuk." ucap Wonwoo tegas sambil melangkah ke dalam.
Pintu tertutup dan Wonwoo langsung menatap lurus ke manik mata orang tersebut, Mingyu. "Aku hamil. Anakmu."
Tadi, Wonwoo pikir saat mendengar kabar ini Mingyu akan terkejut, atau mungkin marah dan menyangkal sekalian. Tetapi lihat, pria itu hanya berdiri diam dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Dia sudah tahu, batin Wonwoo. Entah dia harus merasa senang atau takut dengan kenyataan bahwa Mingyu sudah tahu tentang kehamilannya tetapi memilih diam begini. Sikap Mingyu yang seperti ini membuatnya ragu. Apakah dia diam saja karena sebetulnya hanya tidak berani bertanya kepada Wonwoo? Atau karena ternyata dia tidak mau menerima janin dalam perutnya ini?
Wonwoo mengalihkan pandangannya ke mana saja, asal bukan Mingyu.
"Tuan Muda…"terdengar suara Mingyu memanggilnya. Wonwoo susah payah mengembalikan tatapannya ke arah Mingyu.
"Wonwoo, panggil aku Wonwoo saat tidak ada orang lain."
Mingyu mengangguk dengan senyum di wajahnya dan dia melangkah maju, membawa Wonwoo ke dalam pelukannya.
"Maaf." ucap Mingyu sembari menciumi puncak kepala Wonwoo.
Wonwoo melingkarkan tangannya ke tubuh Mingyu, balas memeluk. "Kenapa meminta maaf…"
"Seharusnya hari itu aku tidak menyelinap masuk ke kamarmu. Maaf karena sudah membuatmu jadi kerepotan begini… Aku hanya bisa membantu dengan menyiapkan ramuan. Maaf…"
"….ramuan?" tanya Wonwoo bingung. Tapi dua detik kemudian dia paham. Minuman yang selama dua minggu terakhir ini selalu menjadi bagian dari sarapan paginya.
Pelan Wonwoo urai pelukan mereka berdua dan dia tarik Mingyu agar duduk bersebelahan dengannya di ranjang. "Mingyu, tolong jawab jujur pertanyaanku."
Mingyu mengangguk, matanya masih berkaca-kaca.
"Apa ini alasanmu mendadak tinggal di dalam istana? Karena tahu aku sedang hamil?"
Mingyu menggeleng tegas. "Bukan, aku masuk ke sini atas titah Baginda Raja. Aku juga baru tahu dua minggu terakhir ini."
Wonwoo memucat, "Berarti ayahku yang tahu?"
"Entah. Aku tidak tahu, aku bahkan tahu kamu hamil dari Kepala Dapur dan Kepala Pasukan."
Semakin pucat wajah Wonwoo. Benar-benar seperti seluruh darah terkuras dari tubuhnya. "Cepat bawa mereka berdua kemari, juga Tabib. Sekarang." perintah Wonwoo dengan nada bergetar.
Mingyu yang kaget melihat betapa pucatnya Wonwoo langsung berlari keluar. Menjemput ketiga orang tersebut sesuai perintah Wonwoonya.
*****
"Aku harus menemui Baginda Raja. Aku akan meminta restunya untuk menikahimu dan bertanggung jawab atas semua kekacauan ini." ucap Mingyu gusar.
Kepala Dapur dan Kepala Pasukan berganti-gantian menceritakan semua kronologi kejadian kepada yang lain selama lima belas menit terakhir. Mulai dari kecurigaan mereka masing-masing. Bagaimana mereka kemudian saling memberi tahu dan berakhir memberi tahu Mingyu saat Tuan Muda bersikeras ingin berburu tempo hari. Tidak lupa bagaimana Tabib mencurigai Mingyu menghamili pekerja dapur dan berujung mereka harus mencari akal-akalan agar Tuan Muda bisa mengetahui kehamilannya sendiri.
"Tidak, Mingyu. Itu berbahaya." tanggap Wonwoo, sama gusarnya.
"Tapi kehamilanmu tidak bisa disembunyikan terus. Pada akhirnya perutmu akan membesar, dan bagaimana dengan semua pelajaran serta pekerjaanmu sekarang? Itu semua bisa membahayakan kalian berdua. Jika Raja tahu, semua itu bisa dihentikan dulu."
Wonwoo tertawa hambar, "Kau pikir, jika Raja tahu dan mendengar permintaanmu, beliau akan menyambut dengan tangan terbuka? Memberi izin dengan senyuman serta pelukan hangat? Kau sekedar naif atau memang benar-benar bodoh?"
"Lalu apa pilihannya? Membiarkan kau dan anak kita ada dalam bahaya karena kelelahan?"
"Memberi tahu raja juga membuat dia ada dalam bahaya, Mingyu. Kau bisa dihabisi, anak ini juga mungkin akan dihabisi!" jawab Wonwoo dengan penuh amarah, kedua tangannya melingkar di perutnya seolah memberi benteng perlindungan.
"Lalu bagaimana…" tanya Mingyu dengan suara yang bergetar lemah.
"Paman, tolong aku. Buatkan ramuan agar kandungan ini benar-benar kuat. Jadi aku bisa tetap berkegiatan seperti biasa tanpa membahayakan anak kami."
Tabib istana memberi penghormatan dalam. "Tuan Muda, untuk kali ini hamba memohon maaf karena tidak akan bisa memenuhi permintaan Tuan. Tidak ada ramuan yang bisa membantu. Hamba juga tidak mau menyembunyikan perkara sebesar ini dari Baginda Raja. Nyawa hamba mungkin tidak berharga bagi kerajaan, tetapi bagi keluarga hamba ini adalah tumpuan hidup. Maafkan kelancangan ini."
Wonwoo memeluk Tabib istana, menyampaikan permohonan maafnya sendiri dalam diam.
Sementara Kepala Dapur dan Kepala Pasukan bertukar pandang. Mereka berdua memahami rumitnya situasi ini. Mingyu hanya ingin melindungi Tuan Muda dan anak mereka, terutama Tuan Muda. Tidak peduli itu akan membuatnya berada dalam bahaya. Sementara Tuan Muda juga berusaha melindungi anak itu dan Kim Mingyu. Tidak peduli bahwa artinya dia harus menyembunyikan kondisi ini dari Raja. Di sisi lain, ada Tabib istana yang terjebak dalam situasi simalakama.
Biar bagaimanapun, anak dalam perut Tuan Muda Wonwoo ini adalah calon penerus tahta kerajaan setelah Tuan Muda kelak. Cucu mahkota. Sosok yang akan tumbuh menjadi orang terpenting ketiga di kerajaan ini.
Hadir dalam kondisi yang cukup rumit, sehingga mereka semua yang ada di sini harus berhati-hati memutuskan bagaimana cara mengabarkan keberadaannya kepada Baginda Raja. Agar tidak ada korban dari semua ini.
"Tolong aku. Tolong ikuti perintahku. Kita tunda dulu dari mengabari Raja. Sementara waktu, kau bisa coba mengatur ulang pelajaran dan pekerjaanku agar tidak terlalu membuatku lelah." perintah Wonwoo pada Kepala Pasukan. "Paman, tolong paman pastikan aku mendapat semua ramuan yang baik untuk kesehatanku dan pertumbuhan anak ini. Dan Mingyu," Wonwoo menatap Mingyu, "tolong gunakan waktu yang ada untuk mencari alasan agar ayahku bisa dibujuk menyetujui pernikahan kita dan anak ini."
Wonwoo menghela nafas panjang sembari memijit hidungnya. Kentara bahwa ia lelah. "Bibi, jika nasib baik tidak berpihak pada kita semua dan Raja murka nanti, tolong Bibi fokus pada Paman dan lindungi dia dari kemarahan Raja. Bibilah satu-satunya yang bisa melakukan itu."
Empat orang lain di ruangan itu akhirnya hanya bisa mengiyakan permintaan dan perintah Tuan Muda Wonwoo. Saat ini, sepertinya itu adalah solusi yang terbaik bagi mereka semua.
*****
"Mingyu…" panggil Wonwoo lembut.
Mingyu menanggapi dengan mengeratkan pelukannya. Saat ini mereka berbaring bersisian di ranjang Mingyu. Tangan kanan Mingyu menopang kepala dan leher Wonwoo sementara tangan kirinya terus menerus mengelus perut Wonwoo. Mengelus anak mereka.
"Tolong hati-hati saat berbicara mulai sekarang. Jangan biarkan anak ini sedih bahkan sebelum dia melihat dunia."
Refleks Mingyu menegakkan badannya agar bisa melihat wajah Wonwoo karena suaranya terdengar terlalu sendu. Ada apa?
"Aku tidak mau anak ini disebut sebagai kerepotan, kekacauan, perkara, dan kata-kata buruk lainnya seperti tadi."
Mingyu mengernyit, berpikir. Ah, dia ingat…
Maaf karena sudah membuatmu jadi kerepotan begini…
Aku akan meminta restunya untuk menikahimu dan bertanggung jawab atas semua kekacauan ini.
Hamba juga tidak mau menyembunyikan perkara sebesar ini dari Baginda Raja.
Mingyu ingat dua kalimat pertama ia yang mengucapkannya, dan yang terakhir diucapkan oleh Tabib. Sepertinya kalimat-kalimat itulah yang membuat Wonwoo menjadi sendu begini.
Dengan lembut Mingyu tarik seluruh tubuh Wonwoo ke dalam dekapannya. "Maaf…"
Wonwoo menggelung tubuhnya semakin rapat ke arah Mingyu. Mencari rasa tenang dan hangat untuk menyelimuti tubuhnya yang mendadak terasa lemah dan dingin. "Anak ini bukan perkara, bukan kekacauan, dan tidak membuat aku repot. Maafkan dia jika itu yang terjadi pada kalian semua."
Mingyu mengeratkan dekapannya. "Tidak. Tidak. Dia juga bukan itu semua untuk kami. Maafkan kami semua karena tidak berhati-hati dalam berbicara."
Mereka berdua diam dalam posisi saling mendekap selama beberapa waktu kemudian. Menikmati hangat tubuh dan detak jantung sama lain yang terasa menenangkan. Mingyu secara konstan mengecup puncak kepala Wonwoo, sementara yang dikecup halus mengusap punggung pria yang lain.
"Mingyu…" panggil Wonwoo perlahan.
"Ya?"
"Tolong berjanji untuk anak kita, kita tidak akan menyerah apapun reaksi Raja dan Permaisuri nantinya. Kita akan tetap melindungi dan berjuang untuk anak ini."
Mingyu terdiam cukup lama, membuat Wonwoo memukul punggungnya pelan. Meminta jawaban.
"Hmm. Aku akan melakukan segalanya untuk melindungimu, melindungi anak kita, dan melindungi diriku sendiri. Aku akan melindungi kita semua. Cintaku, duniaku."
Wonwoo memukul punggung Mingyu. "Menjijikkan."
Mingyu tertawa terbahak-bahak. Mereka berdua mungkin sudah banyak berdamai dan sedang saling memeluk dengan mesra. Tapi sepertinya ada yang tidak bisa diubah dari hubungan mereka, ya seperti ini contohnya. Berselisih pendapat karena perkara kecil. Tapi tidak apa-apa, Mingyu sudah sangat bersyukur. Semoga Wonwoo juga begitu.
*****
"Paman, harusnya hari itu jangan kita perbolehkan Tuan Muda Wonwoo tidur di tempat berandalan itu." Kepala Pasukan menerima bungkusan dari Tabib sambil bersungut-sungut. "Sekarang kita sendiri yang repot begini."
Tabib tersenyum, "Kita, atau kau Tuan Kim? Karena aku tidak merasa repot sama sekali."
Kepala Pasukan mencebik karena tahu Tabib sedang menggodanya. "Terserah paman saja."
"Kepala Dapur bilang kau dan Tuan Kim satunya bersaing mendapatkan Tuan Muda."
Mata Kepala Pasukan melotot demi mendengar ucapan Tabib baru saja. Bibi ini, benar-benar ingin membuatku malu saja. Batin pemuda itu.
"Tidak apa-apa. Bisa dimengerti karena Tuan Muda memang seseorang yang penuh pesona. Kau juga bukan orang biasa sehingga wajar berpikir bisa bersanding dengannya. Hanya saja sial bagimu, Tuan Kim Mingyu sudah lebih dulu ada di hidup Tuan Muda. Sudah tidak ada lagi tempat dan celah dalam hati Tuan Muda untuk kisah cinta yang lain. Hanya Tuan Kim Mingyu yang bisa masuk ke sana."
Kepala Pasukan mengangguk malas. Dia juga tahu semua itu. Tetapi jika dijelaskan oleh orang lain seperti ini, rasanya jadi benar dan semakin menyakitkan.
"Tapi, Tuan Kim, harus kuakui kau adalah manusia berhati mulia dan berjiwa besar. Sejak malam itu hingga hari ini, kau adalah orang yang ada di garis terdepan dalam melindungi Tuan Muda dan Tuan Kim Mingyu. Itu luar biasa."
Tangan Kepala Pasukan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia salah tingkah. Tidak menyangka akan dipuji begini. Tabib sontak terkekeh melihat reaksi pemuda di hadapannya itu.
Malam itu saat mereka berlima menyusun rencana sementara sebelum Raja tahu tentang kehamilan Tuan Muda Wonwoo, dia sudah bertekad untuk melindungi Tuan Muda sebaik mungkin. Bahkan jika itu termasuk harus melindungi Kim Mingyu, berandalan sialan yang membuatnya kehilangan kesempatan dengan Tuan Muda. (Yah, kesempatan itu memang sebetulnya tidak pernah ada juga. Tapi kalian paham maksudnya, bukan?)
Tuan Muda Wonwoo saat itu merengek ingin tidur bersama Kim Mingyu. Merengek. Sesuatu yang tidak pernah dilakukannya bahkan saat masih kecil dahulu. Tabib dan Kepala Dapur melarang karena berpendapat ini akan berbahaya jika sampai pekerja atau penghuni istana yang lain tahu. Mereka menyarankan bagaimana jika Mingyu saja yang tidur di istana Tuan Muda, tetapi ditolak mentah-mentah. Tuan Muda bersikeras ingin di tempat Mingyu saja karena anaknya yang meminta.
Tabib dan Kepala Dapur hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat itu. Kalau bukan Tuan Muda, putra mahkota, calon penerus Raja, Wonwoo pasti sudah kena marah oleh mereka berdua. Minimal kena omel. Tapi karena praktisnya ini adalah Tuan yang harus mereka layani di sini, kedua orang tersebut hanya bisa menelan rasa sabar.
Kepala Pasukan lah yang akhirnya maju menengahi. Ia berjanji akan berjaga dan mengatur semuanya agar Tuan Muda Wonwoo bisa tidur di tempat Mingyu dengan aman. Melihat ekspresi Tuan Muda saat itu yang langsung ceria berbinar-binar, Kepala Pasukan yakin dia melakukan hal yang benar.
Tapi sekarang, dia tidak yakin lagi.
Hampir setiap malam Tuan Muda jadi memilih tidur di tempat berandalan itu. Padahal sekarang sebelum tidur Tuan Muda harus meminum ramuan segar untuk menjaga kandungan dan staminanya. Alhasil, Kepala Pasukan lah yang harus mengambilnya dari Tabib dan mengantarkan ke sana.
Dia bahkan sampai menawarkan untuk bertukar tempat tinggal dengan Mingyu. Maksudnya adalah agar lebih mudah dan dekat bagi Tuan Muda. Ia juga akan lebih mudah melakukan pengawasan. Tetapi entah kenapa Tuan Muda menolak tawaran tersebut mentah-mentah. Alasannya, anak di dalam perutnya mau tidur di tempat Mingyu yang sekarang.
Entah memang begitu, atau Tuan Muda hanya menggunakan anaknya sebagai tameng agar semua orang mau menuruti permintaannya. Dan dirinya, adalah orang yang tidak akan pernah bisa menolak Tuan Muda. Tanpa alasan anak itu pun, dia akan tunduk patuh pada keinginan Tuan Muda. Apalagi saat anak itu dibawa-bawa begini.
Sialan.
"Penguasa langit dan bumi tahu apa yang kau kerjakan dan mereka pasti akan memberi balasan. Mereka akan mengirim orang lain yang lebih tepat untukmu. Percayalah." tambah Tabib sembari menepuk halus pundak Kepala Pasukan.
Semoga saja begitu, batin Kepala Pasukan.
*****
"Kalau laki-laki, dia akan kuajari berburu sejak kecil. Kalau perempuan…."
"Harus diajari berburu juga." potong Wonwoo dengan nada tegas. "Laki-laki atau perempuan, anak ini akan menjadi penerus tahta kerajaan jadi dia harus bisa berburu."
Mingyu tertawa dan mengangguk, menyetujui perkataan Wonwoo yang sekarang sedang tenang bersandar di dadanya. Mereka berdua sedang berteduh di bawah pohon besar di dekat sungai. Mencari ketenangan dan mendinginkan tubuh Wonwoo yang akhir-akhir mudah sekali merasa gerah.
"Masih gerah?" tanya Mingyu sembari menyeka kain basah di tangannya ke leher Wonwoo.
"Hmm." jawab Wonwoo sembari memejamkan mata. Menikmati sentuhan Mingyu dan rasa nyaman dari kain basah itu. "Mingyu, coba lihat…"
Wonwoo menyibak kain di perutnya, memperlihatkan bentuknya yang sudah semakin membulat dan menebal. Bukti bahwa benar ada kehidupan yang sedang bertumbuh di situ. Mingyu langsung mengelus lembut sembari memanggil anak mereka…
"Hei, kucing kecil. Baik-baik di dalam sana. Tumbuhlah dengan sehat, dan temui kami nanti dengan darah tergenggam di tanganmu."
Wonwoo tersenyum geli. Sudah beberapa kali Mingyu berpesan seperti itu. Dengan darah tergenggam di tanganmu.
Konon, anak yang lahir dengan darah tergenggam di tangan adalah pertanda bahwa ia akan tumbuh besar menjadi orang yang berkuasa dan kuat. Calon pemimpin besar. Wonwoo tidak seperti itu saat lahir, sehingga membuat Raja berpikir bahwa ia harus dijodohkan dengan orang yang berkuasa dan kuat.
"Melihat bagaimana caramu berpesan, dan betapa penurutnya anak ini padamu, aku yakin saat lahir nanti dia bahkan sudah memegang tombak atau busur panah. Siap berburu bersama denganmu." ucap Wonwoo yang diikuti dengan tawa keduanya.
Benar, anak ini entah bagaimana sangat penurut terhadap Mingyu. Jika Wonwoo mendadak kehilangan selera makan, hanya butuh Mingyu untuk memberitahunya agar mau makan dan mendadak Wonwoo seperti bisa menghabiskan seluruh jamuan di meja untuk dirinya sendiri. Lain waktu, bayi itu terus menerus menendang dan membuat Wonwoo merasa mual. Satu belaian dari telapak tangan Mingyu dan anak itu bergerak dengan tenang.
Belum lagi setiap malam Wonwoo selalu menjadi lebih manja dan maunya hanya bergelung dalam dekapan Mingyu. Meminta dielus kepalanya, diciumi pipinya, dan dibelai lembut perutnya. Benar-benar kehamilan membuat Wonwoo menjadi sangat manja dan harus selalu menempel pada Mingyu.
Siang hari pun akan dilewatkan bersama Mingyu. Sekedar berjalan-jalan di taman dan kebun istana, atau seperti sekarang. Menepi mencari tenang sembari mendinginkan tubuh. Mingyu duduk bersender pada batang pohon besar, dan Wonwoo nyaman bersandar di dadanya. Tangan Mingyu membelai perut bulat Wonwoo dan mereka berbincang tentang banyak hal.
Kecuali, tentang mereka sendiri.
Tidak ada satupun dari mereka berani membahas akan seperti apa reaksi Raja nanti. Apakah mereka akan bisa menikah dan hidup bersama membesarkan anak ini?Atau amarah Raja lah yang akan menang dan mereka harus berpisah? Mingyu dilenyapkan, anak ini dilenyapkan. Bahkan bisa saja Wonwoo yang dilenyapkan dan anak dari salah satu selir yang akan menggantikannya sebagai putra mahkota.
Mereka tidak berani membahas itu.
Mingyu tidak ingin membuat Wonwoo terbebani dengan pikiran buruk dan mempengaruhi pertumbuhan anak mereka. Sementara Wonwoo tidak ingin waktu mereka yang berharga diganggu dengan pemikiran buruk seperti itu.
Setiap malam, sembari saling memeluk dalam keheningan, keduanya memanjatkan permohonan pada Penguasa Langit dan Bumi agar pertolongan dan perlindungan datang bagi mereka dan anak ini. Agar ada jalan bagi Raja untuk menerima semua ini dengan lapang dada…
Permohonan itu benar terkabul, hanya ternyata, harga yang harus dibayar tidaklah kecil.
*****
"Jadi ketika kita membahas tentang kerajaan di Kepulauan Selatan itu, sebetulnya mereka sudah dalam perjalanan kemari untuk menyerang?" tanya Tuan Muda Wonwoo kepada Guru pedangnya. "Guru, bagaimana ini?"
Guru itu hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah. Sudah jelas sebetulnya, seluruh kerajaan harus bersiap untuk berperang. Dari laporan yang ada, kerajaan itu akan sampai di tepi pantai kerajaan ini dalam empat hari ke depan. Jika Raja memutuskan semua pasukan harus turun berperang, itu artinya Wonwoo juga harus ikut.
Kepala Pasukan yang juga menyadari situasi segera meminta Tuan Muda untuk menjauh sebentar dari sang Guru dan berbicara kepadanya.
"Tuan… Ini…."
Wonwoo mengangkat tangannya. Meminta Kepala Pasukan untuk menenangkan diri. "Tenang. Kita tidak bisa menghadapi situasi ini dengan rasa panik."
"Saya akan panggil Tabib dan Kepala Dapur. Seseorang harus menjelaskan kondisi Tuan Muda kepada Guru. Kita harus bisa mencari cara agar Tuan tidak diperintahkan turun ke medan perang…"
"Panggil Mingyu juga."
Meskipun seluruh bagian tubuhnya ingin menolak, tetapi Kepala Pasukan mengangguk hormat dan segera undur diri memanggil ketiga orang tersebut. Larinya kencang seolah kerajaan musuh benar-benar sudah berada di belakang mengejarnya.
"Bibi….tolong kami…" seru Kepala Pasukan begitu memasuki area dapur.
Kepala Dapur yang juga sudah mendengar kabar tentang serangan kerajaan lain segera menuju ke pelataran tempat Tuan Muda Wonwoo dan Gurunya menunggu. Sementara Kepala Pasukan segera pergi lagi menjemput Tabib dan Mingyu.
Kelimanya sekarang sudah berkumpul di depan Guru, dan Tabib istana mewakili semuanya menjelaskan kondisi khusus Tuan Muda. Awalnya Guru tersebut memucat dan hanya bisa terdiam karena terlalu terkejut.
"Jadi ini alasannya kau memintaku mengurangi porsi latihan Tuan Muda? Bukan karena Tuan Muda harus lebih banyak belajar tentang strategi pemerintahan tetapi karena harus menyembunyikan kenyataan bahwa Tuan Muda sedang hamil?" tanya sang Guru kepada Kepala Pasukan, yang hanya dijawab dengan penghormatan dalam, penanda permintaan maaf.
"Tolong aku, Guru. Aku tidak ingin membahayakan anak ini. Tetapi Baginda Raja juga belum tahu kondisiku. Dan aku tidak yakin jika beliau tahu, bagaimana reaksinya. Aku takut beliau justru akan menghabisi anak ini dan Mingyu. Semua pilihan bisa berujung membahayakan anak ini. Aku tidak mau, Guru." Wonwoo menggenggam erat tangan Gurunya dan langsung jatuh bersimpuh. Menangis. Menangisi permainan nasib yang ternyata semakin rumit dan mengancam kehidupan anak yang bahkan belum melihat dunia ini.
Mingyu langsung terduduk di samping Tuan Muda Wonwoo dan memeluknya erat. Menenangkan.
Sang Guru menatap ke arah kedua calon orangtua itu dengan tatap prihatin. Keduanya adalah muridnya yang paling istimewa. Tuan Muda Wonwoo, jelas karena dia adalah putra mahkota, calon penerus tahta kerajaan. Sementara Kim Mingyu, pemuda biasa ini punya kecerdasan dan kemampuan yang luar biasa. Seumur hidup menjadi Guru, belum ada muridnya yang punya kemampuan bahkan separuh dari Mingyu.
"Mingyu, boleh aku melihat telapak tanganmu?" tanya sang Guru.
Yang ditanya hanya mengerjap cepat, tidak memahami apa korelasi telapak tangannya dengan situasi ini. Tetapi ia ulurkan juga tangan kanannya ke atas.
Sang Guru menggenggamnya lembut dan lekat mengamati garis yang ada di sana.
"Kau melihat apa yang kulihat juga bukan?" tanya Kepala Dapur pada Sang Guru. Seringai puas muncul di wajah perempuan tua itu.
"Bahkan lebih."
Lima orang lainnya sekarang sepenuhnya fokus pada sang Guru. Kepala Dapur dan Kepala Pasukan penasaran apa yang dimaksud dengan lebih. Sementara Mingyu, Tuan Muda Wonwoo, dan Tabib istana sama sekali tidak memahami apa maksud semua itu. Apa yang dilihat? Dan apa juga yang lebih?
"Mingyu, ibumu sebetulnya adalah satu-satunya keturunan yang tersisa dari salah satu jenderal perang terkuat di kerajaan ini. Jenderal Kim Yu Shin adalah kakek buyutmu. "
Kepala Dapur menutup mulutnya, sementara empat orang lainnya tercekat demi mendengar informasi yang baru saja disampaikan oleh sang Guru.
"Identitasnya disembunyikan karena pada saat itu pemberontak dari Semenanjung Utara bertekad untuk memusnahkan seluruh keturunan Jenderal Kim. Mereka menyimpan dendam karena penyatuan dua Semenanjung saat itu dianggap hanya menguntungkan sisi Selatan dan merugikan mereka yang ada di Utara."
Mingyu mengerjap dan menatap Wonwoo seolah meminta konfirmasi. Selama ini yang Mingyu tahu, ibunya adalah salah satu pekerja istana Raja dan ayahnya adalah salah satu kepala keamanan wilayah namun mereka meninggal karena wabah penyakit yang sempat menyerang istana saat dia berusia dua tahun. Sehingga ia jadi tumbuh di lingkungan istana di bawah pengasuhan para pelayan dan pekerja di sana. Ternyata, bukan itu kebenarannya.
"Ibumu menikah dengan pria biasa dalam pengasingannya. Tetapi saat kau lahir, tanganmu terkepal dan ada darah merah segar di dalamnya. Para nelayan di pesisir malam itu melihat siluet Leng muncul ke permukaan di perairan dalam. Sementara penjaga tepian hutan mendengar nyanyian Burung Hong. Kami semua di istana percaya, itu adalah pertanda bahwa seseorang yang besar telah lahir di tanah Kerajaan ini."
"Sementara saat itu Tuan Muda adalah bayi kecil yang sakit-sakitan dan semua cemas bahwa dia tidak akan bisa bertahan hidup. Itukah mengapa kalian membawa Mingyu ke sini pada saat itu? Untuk menukarnya dengan Tuan Muda Wonwoo?" tanya Kepala Dapur cepat. Otaknya memutar semua kenangan dan informasi yang tersimpan di sana dan berusaha menghubungkan satu titik ke titik lainnya.
Sang Guru menggeleng tegas. "Tidak. Kami tidak pernah memiliki niatan seburuk itu. Raja memerintahkan kami untuk membawa Mingyu ke dalam istana agar bisa dididik menjadi calon Jenderal besar berikutnya. Agar kerajaan ini memiliki pelindung. Agar Tuan Muda Wonwoo mendapat tangan kanan yang bisa diandalkan."
Mingyu terperosok lemas, bahkan pelukannya di tubuh Wonwoo terlepas. Seluruh tubuhnya seperti mengawang dan kepalanya seperti mau meledak. Bagaimana tidak, sejarah hidupnya baru saja terbongkar dan ternyata serumit itu masa lalunya.
"Mingyu…" seru Wonwoo, mengusap keningnya yang bercucuran keringat. "Tenanglah…" dan Wonwoo memeluknya erat. Sedikit kikuk karena perutnya yang mulai membesar itu mengganjal di tengah.
"Kemana orangtua kandungku?" tanya Mingyu setelah sudah agak tenang.
"Mereka memang sudah meninggal saat kau berusia dua tahun, dan benar karena ikut terkena wabah. Tetapi mereka berdua adalah rakyat biasa yang sehari-hari bertanam di perkebunan Barat , bukan pekerja istana."
"Mereka membiarkan aku dibawa ke sini? Sukarela?"
Sang Guru mengangguk, "Ibumu miskin tetapi tidak bodoh. Dia tahu bahwa membiarkanmu dibawa ke dalam istana akan memberimu penghidupan dan pendidikan terbaik. Sesuatu yang tidak bisa ia berikan."
Mingyu tertunduk.
Semua orang lain ikut terdiam. Kecuali Kepala Pasukan.
"Maaf, aku bukan bermaksud merusak momen mengharukan ini. Tetapi kita harus kembali fokus pada masalah utama. Aduh! Bibi kenapa memukulku?!"
Kepala Dapur memang baru saja memukul lengan Kepala Pasukan. Membuat Guru dan Tabib tidak bisa menahan tawa mereka.
"Maafkan hamba, Tuan." ucap Tabib cepat saat dilihatnya Mingyu dan Wonwoo tidak ikut tertawa.
"Tidak apa-apa. Dia benar. Sekarang kita harus mencari cara agar Raja tidak mengirim Wonwoo ke medan perang." Mingyu berkata sembari menuntun Wonwoo agar ikut berdiri bersamanya.
"Izinkan hamba memberi saran." Ucap sang Guru sembari menunduk hormat ke arah Tuan Muda Wonwoo.
"Silahkan, Guru." jawab Wonwoo pelan.
"Saya akan antarkan Tuan Kim Mingyu ke hadapan Raja dan ceritakan kondisi Tuan Muda yang sebenarnya."
"Jangan!" seru Wonwoo panik. Mingyu sigap memegang sisi kiri tubuhnya yang limbung.
"Tuan…" Kepala Dapur maju dan memegang sisi lain.
"Bibi, tolong Bibi…" pinta Wonwoo memelas.
"Tuan Muda, bahkan jika denga bantuan para Dewa, Baginda Raja mau membiarkan anak itu dan melepaskan Tuan dari tanggung jawab terjun ke medan perang, masih ada masalah lain bukan? Tuan Muda dan Tuan Kim masih harus meminta izin dan restu Raja agar bisa menikah?"
Mingyu dan Wonwoo mengangguk seirama.
"Kita gunakan penyerangan ini sebagai senjata untuk meluluhkan hati Raja. Tuan Kim akan menawarkan diri untuk menggantikan Tuan Muda memimpin pasukan dari istana kecil. Kemenangan yang didapat akan ditukar dengan izin dan restu dari Raja agar Tuan sekalian bisa menikah dan membesarkan anak ini dengan tenang."
"Tapi…bagaimana kalau, kalau dia ka…"
"Tuan Kim Mingyu pasti akan memenangkan pertempuran, Tuan Muda. Percayalah kepadanya." kali ini, secara mengejutkan, jsutru Kepala Pasukan yang berkata begitu. Membuat Kepala Dapur menepuk punggungnya dengan senyum bangga. "Saya akan berada di sisi Tuan Kim Mingyu untuk membantunya sekuat tenaga."
Wonwoo memandang ke arah Mingyu dengan wajah yang sudah banjir airmata. Mingyu sendiri memandang semua orang yang ada di situ bergantian. Ekspresi wajahnya tidak terbaca.
"Raja sebetulnya pernah mempertimbangkan kau untuk menjadi jodoh Tuan Muda mengingat betapa dekatnya kalian berdua sejak dulu, serta kemampuan dan garis keturunanmu yang hebat itu. Tetapi begitu kau bergabung di lorong gelap, Raja menjadi ragu dan tidak lagi mempertimbangkanmu. Gunakan kesempatan ini untuk meyakinkan beliau kembali. Kami semua disini akan menjaga Tuan Muda sebaik-baiknya. Pergilah dan kembali dengan kemenangan." ucap Kepala Dapur kepada Mingyu dengan senyum keibuannya.
Mingyu diam cukup lama. Semua orang di sana menahan nafas. Sampai akhirnya Mingyu maju dan menarik Wonwoo ke dalam pelukannya. "Mungkin ini adalah cara para Penguasa Langit dan Bumi agar permohonan kita selama ini bisa terjawab."
…..tangis Wonwoo pecah. Dia tahu bahwa ini adalah penyelesaian terbaik untuk beberapa permasalahan yang sedang bertubi-tubi datang kepadanya. Kepada mereka semua.Tetapi dia juga tidak bisa membendung rasa cemasnya akan keselamatan Mingyu. Sekuat, secerdas, dan setangkas apapun Mingyu, perang tetaplah perang. Dimana hidup dan mati hanya berjarak setipis nadi. Bahaya mengancam di setiap sudut dan luka adalah hal mutlak yang tidak mungkin ditolak.
"Semoga Penguasa Bumi dan Langit memberi perlindungan." Rapal Wonwoo di sela tangisnya. Setulus hati memohon keselamatan bagi ayah dari anaknya. Mingyunya.
*****
"Astaga anak ini tidak sabaran sekali." omel Tuan Muda Wonwoo yang kesulitan mengikuti langkah kaki seorang anak kecil gembul dan bebek peliharaannya. "Benar-benar seperti Mingyu!"
Kepala Dapur yang mendampingi Tuan Muda Wonwoo tertawa keras, "Konon katanya, perangai anak meniru siapa yang membawanya di dalam perut dulu, Tuan Muda."
"Hah! Tapi aku tidak sabaran saat itu kan karena Mingyu, Bibi. Jadi tetap ini semua karena Mingyu!" jawab Tuan Muda Wonwoo sewot. "Semoga anak yang ini lebih penyabar dan tidak membuatku harus berlarian begini."
Kepala Dapur hanya bisa menanggapi dengan tawa.
Empat tahun sudah berlalu sejak serangan dari kerajaan kepulauan selatan dulu.
Malam itu, saat sang Guru menceritakan sejarah hidup asli Mingyu, keduanya segera berangkat ke pusat kerajaan dan menceritakan semua yang terjadi pada Raja. Seperti yang dicemaskan selama ini, awalnya Raja memang murka dan berteriak kepada para penjaga untuk menghabisi Mingyu. Tetapi sang Guru maju dan menenangkan Raja.
"Membunuh Mingyu artinya mengusik mereka yang berada di lorong gelap. Biar bagaimanapun, mereka semua sangat loyal kepada Mingyu dan bukan kekuatan yang bisa disepelekan juga." jelas sang Guru dengan suara tenang.
"Dengan membawa Mingyu ke medan perang, kita justru bisa memanfaatkan kekuatan mereka yang di lorong gelap, Yang Mulia. Kemampuan mereka juga sudah teruji saat menumpas pemberontak tempo hari." ucap sang Guru saat itu dan berhasil memenangkan hati Raja.
Mingyu berangkat bersama seluruh pasukan kerajaan dan pulang dengan kemenangan yang gilang gemilang. Membuat Baginda Raja tidak punya pililhan selain kembali mempertimbangkan Mingyu sebagai jodoh Wonwoo. Yah, apa juga yang harus dipertimbangkan dengan bayi berusia enam bulan di dalam perut putra mahkotanya, bukan?
Pernikahan keduanya digelar mewah dan meriah. Seluruh rakyat dan penghuni kerajaan merayakan keduanya dengan gegap gempita dan segenap sukacita. Kenyataan bahwa sebentar lagi akan hadir seorang bayi dari keduanya menambah kebahagiaan dan rasa syukur yang tiada tara. Penguasa Langit dan Bumi seperti menjawab lunas semua permohonan yang selalu dipanjatkan oleh Mingyu dan Wonwoo.
Hari ini Wonwoo sedang mengandung anak kedua mereka. Sementara Mingyu sibuk belajar menjadi Raja selanjutnya. Ya, Baginda Raja dan Tuan Muda Wonwoo sudah bersepakat bahwa Mingyu jauh lebih memiliki kemampuan dan keterampilan dalam meneruskan tahta dan kepemimpinan di kerajaan ini.
Bagi Wonwoo, dia hanya membutuhkan Mingyu dan kucing kecil mereka ini dalam hidupnya. Bahkan jujur saja, ada bagian besar dari dirinya yang merasa dibebaskan dari beban berat saat ini. Menjadi Raja bukan sesuatu yang mudah. Semua pelajaran dan pendidikan yang dia terima pun tidak akan benar-benar bisa mempersiapkannya menjadi Raja yang ideal. Akan selalu ada rintangan di depan. Akan selalu ada permasalahan untuk diselesaikan. Dan diantara dirinya dengan Mingyu, sudah jelas siapa yang lebih mampu.
"Kamu juga mampu, tapi pura-pura tidak mampu dan menumbalkan aku kan? Curang! Aku juga ingin seharian bersama kucing kecil kita! Bukannya menghadapi setumpuk perkamen dan dimarahi para Guru di istana besar!" kata Mingyu pada suatu malam.
Wonwoo tidak bisa bereaksi selain tertawa puas. Memang itu alasannya menyetujui untuk melepas posisi sebagai penerus tahta kepada Mingyu. Hahaha.
- End of the story
