Chapter Text
"Oke. Gapapa. Ini Mingyu juga di rumah kok."
Mingyu yang baru keluar dari kamar mandi menghentikan langkahnya demi mendengar perkataan teman serumahnya. Alisnya mengernyit, memandang ke arah Wonwoo, meminta penjelasan.
Wonwoo sendiri hanya menempelkan telunjuknya ke mulut, meminta Mingyu untuk diam dulu. Setelah beberapa gumaman dan, "Iya, kamu hati-hati ya nanti pulangnya. Love you." Wonwoo pun memandang Mingyu setelah menutup panggilannya.
"Jae Eon nggak jadi ke sini. Bantuin temennya shooting. Kamu udah makan belum, Gyu? Kalo belum, makan ini aja. Bantuin aku habisin."
Mingyu menatap ke meja makan yang penuh dengan berbagai jenis makanan. "Boleh. Kasian juga kalo lo makan sendiri."
Wonwoo mencebik, "Nggak usah rese deh!"
Mingyu menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan tersenyum kecil, "Sorry. Nggak lo bungkusin aja sih, kirim ke tempat shooting."
"Tadi aku udah nanya, katanya nggak usah. Repot kalo aku ke sana segala."
Mingyu mendengus, "Repot apa nggak mau ketauan kalo lagi pacaran sama orang lain."
Wonwoo memukul kepala Mingyu, "NGAWUR AJA KALO NGOMONG!"
"ADUH!!! APAAN SIH?!" Mingyu sontak memegang kepalanya yang berdenyut dan balik berteriak kepada Wonwoo. Sementara yang diteriaki hanya menatapnya dengan pandangan sinis. "Lo tuh sekedar denial apa emang goblok deh? Masa iya lo nggak sadar si Jae Eon ini selingkuh?"
Wonwoo maju, hendak memukul Mingyu lagi. Tetapi teman serumahnya itu bergerak lebih cepat dan segera mengunci tangan Wonwoo di dalam genggamannya.
"Terserah deh lo mau percaya apa enggak. Gue mau makan di balkon aja. Bisa benjol semua kepala gue kalo makan di deket lo." Mingyu mengambil sebagian makanan dan berjalan ke balkon. Meninggalkan Wonwoo yang masih mencebik, marah.
*******
Mingyu menikmati makanan di depannya sembari menatap pemandangan kota di malam hari dari balkon rumah. Wonwoo sudah masuk ke kamarnya. Tanpa sikat gigi dulu, tanpa membereskan makanan dan segala peralatan makan di meja.
Teman serumahnya itu punya kekasih, namanya Park Jae Eon. Menurut Wonwoo, Jae Eon sempurna. Menurut Mingyu (dan banyak teman mereka lainnya), Jae Eon sebaiknya binasa. Seperti kalimat Mingyu tadi, entah Wonwoo sekedar denial atau memang goblok, pada kenyataan bahwa Jae Eon kerap berselingkuh. Sudah tidak terhitung berapa kali Mingyu, teman mereka yang lain, bahkan Wonwoo sendiri memergoki Jae Eon sedang makan, clubbing, bahkan keluar dari hotel mencurigakan dengan orang lain. Setiap kali itu terjadi, Wonwoo selalu membela Jae Eon. "Cuma temen, tau sendiri lah Jae Eon emang friendly."
"Goblok." umpat Mingyu tanpa sadar saat mengingat semua kebodohan teman serumahnya itu. Untung yang diumpat sudah pulas tertidur di kamarnya.
******
"Nu, ntar malem gue nggak mau tau rumah harus bersih ya. Makanan sama piring-piring semalem udah gue bersihin. Tugas lo hari ini nyapu ngepelnya." Mingyu berkata sambil memasang sepatu.
"Iya iya bawel banget." sahut Wonwoo dengan nada kesal.
Mingyu mengernyit, tidak suka dengan nada Wonwoo. "Lah, kok lo yang marah? Harusnya gue lah. Lo tuh nggak ada peduli-pedulinya sama rumah. Males beberes, nggak bisa rapi sama barang. Pusing gue!"
"Lah aku emang gini dari dulu, dari sebelum kita serumah juga gini. Kamu kan tau. Ngapain juga kamu mau serumah sama aku kalo gitu."
Mingyu bangkit dari duduk, sudah selesai memakai sepatu. "Ya gue kan tanggung jawab ke Mama. Mama kan nitip elo ke gue ya, kucing!"
Wonwoo menjulurkan lidahnya, "Bodo amat! Mama udah nggak ada lama, ngapain juga masih dipikirin omongannya!"
Mingyu refleks berjalan maju, menghampiri Wonwoo. Dicengkeramnya lengan Wonwoo, "Lo tuh yang harus mikir sebelum ngomong! Ngehargain dikit sama mama! Anak apaan lo? Dikira mama nggak sedih di sana denger lo ngomong gitu?!"
Wonwoo menarik tangannya dari cengkeraman Mingyu. Bibirnya mengerucut, kesal. "Berisik deh, Gyu!"
Mingyu menghela nafas berat. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. Akhir-akhir ini berurusan dengan Wonwoo rasanya menyebalkan sekali. Tapi dia punya janji pada Mama, ibu Wonwoo yang sudah seperti ibunya sendiri juga. Untuk menjaga Wonwoo, untuk selalu ada di samping Wonwoo. Dan Mingyu, bersumpah untuk menepatinya.
******
"Napa sih bray, bete banget kayaknya dari pagi." Tegur Dokyeom sambil menempelkan sekaleng kopi ke pipi Mingyu.
"Ish, dingin!" Mingyu menepis kaleng itu dengan cepat.
"Lah, biasanya juga gitu lu kalo selesai kelas. Beli kopi kaleng, tempelin semuka-muka." Dokyeom meletakkan kaleng itu di depan Mingyu.
"Sorry." Mingyu berkata singkat, meraih kaleng itu, membukanya, dan segera menghabiskan isinya.
"Buset pelan-pelan ntar kesedak lu!" seru Dokyeom panik.
Mingyu hanya menggeleng kecil.
"Wonwoo nih pasti." tebak Dokyeom.
Mingyu hanya mengangkat alisnya sebagai jawaban.
"Semalem gue liat si Jae Eon sama cewek di Poe. Kokop-kokopan."
Mingyu menyeringai. "Kalo kata Wonwoo kerja itu broooo kerjaaaaa...."
Dokyeom ikut menyeringai.
Mereka berdua, dan beberapa orang lainnya, sudah hafal dengan kelakuan Jae Eon yang selingkuh sana-sini. Tetapi Wonwoo, teman mereka yang entah polos entah bodoh itu masih saja tidak mau mengakui fakta tersebut. Semua perkataan mereka mental dari telinga Wonwoo.
Dokyeom, Woozi, Soonyoung, dan yang lain bahkan sudah menyerah untuk laporan ke Wonwoo karena mereka tahu pasti percuma. Wonwoo akan selalu membela Jae Eon, dan mereka hanya akan jengkel sendiri. Tetapi untuk Mingyu, kasusnya berbeda. Karena tinggal serumah, Mingyu adalah satu-satunya yang bisa melihat bahwa sebetulnya Wonwoo pun menyadari semua itu. Tetapi anak itu terlalu keras kepala dan selalu denial.
"Lo nggak pindah aja bray?"
Mingyu menggelengkan kepala. "Nggak lah, Key. Gue udah janji sama mamanya dia."
"Ya kan itu dulu, pas kalian masih SMP. Sekarang kan kayaknya udah bisa lah Wonwoo ngurus diri sendiri."
"Kalo udah bisa ngurus diri sendiri ya mana ada dia pacaran sama cowok blangsak begitu. Lagian gue janji ke Mama tuh menjelang beliau meninggal. Bener-bener jeda beberapa menit doang sebelum beliau pergi. Nggak main-main, kan."
Mulut Dokyeom terbuka lebar, kaget. "Serius bray?"
"Serius lah. Makanya lo ngerti kan posisi gue, kenapa gue nggak akan pernah ninggalin itu kucing bego satu?"
Dokyeom mengangguk-angguk. "Iya bray. Berat beban janji lo soalnya."
"Tapi jangan bilang yang laen ya. Apalagi Wonwoonya sendiri. Takut jadi sedih."
Ibu jari Dokyeom teracung di depan wajah Mingyu, "Aman braaaaay!"
Mingyu menepis tangan Dokyeom dan terkekeh, "Biasa aja bang! Hahahahaha!"
****
Mingyu langsung menutup mata dan menghela nafas berat saat sampai di puncak tangga menuju ke lorong unit mereka. Lagi-lagi, Wonwoo membiarkan pintu terbuka. Sesuatu yang Mingyu sangat tidak sukai. Dan sesuatu yang sudah berulang kali pula menjadi keributan di antara mereka.
"Nuuu..." seru Mingyu begitu memasuki apartemen. Berusaha mencari keberadaan teman serumahnya itu. "Wonuuuuu!"
Tidak ada jawaban. Mingyu mulai memasuki satu persatu ruangan. Kamar Wonwoo, kamar mandi, balkon, gudang kecil di samping balkon, kamarnya sendiri. Tetap tidak dia temukan teman serumahnya itu. Dikeluarkannya ponsel dari kantong celana, dan cepat dia hubungi Wonwoo.
"Halo?" sapa suara di seberang sambungan dengan ceria. Seolah tidak sadar bahwa dia sedang terancam bahaya. Bahaya kemarahan Mingyu.
"Nu?! Lo yang bener aja deh! Gimana ceritanya rumah ditinggal tapi pintunya masih kebuka gini?" Mingyu langsung memberondong dengan nada tinggi, sama sekali tidak membalas sapaan Wonwoo terlebih dulu.
"Ooops! Iya ya Gyu? Aduh maaf ya. Lo udah di rumah berarti?"
Mingyu mendecak. Heran bercampur shock. Bisa-bisanya kucing satu ini ber oops-oops dengan nada tanpa dosa seperti itu?
"Lo tuh, geblek apa gimana sih? Ini udah keberapa kalinya, Nu? Lo mau rumah kemalingan dulu baru kapok teledor kaya gini?! Mikir nggak sih sebenernya?!"
Wonwoo terdengar ikut mendecak, namun pelan. "Kan gedung kita aman lho Gyu. Tetangga juga baik-baik. Jangan parnoan deh."
Sempurna sudah kemarahan Mingyu setelah mendengar ucapan Wonwoo tadi. "LO TOLOL APA GIMANA SIH? BUKANNYA INTROSPEKSI MALAH NGENTENGIN PERKARA?"
Mingyu lalu memutus sambungan telepon itu dan menyalakan mode jangan ganggu. Wonwoo pasti akan segera menelpon balik, atau setidaknya mengirim rentetan pesan panjang. Untuk balik marah-marah kepada Mingyu. Terimakasih, tapi nggak butuh. Batin Mingyu dengan kesal.
******
"Damn!" desis Mingyu saat menyadari bahwa pintu unit belum dia tutup. "Ah, bentar ini."
Mingyu bergegas ke arah basement gedung, kedua tangannya penuh membawa berkantong-kantong sampah. Seharusnya Sabtu minggu lalu jatah Wonwoo membuang sampah, tetapi sepertinya teman serumahnya itu lupa. Sehingga hari Rabu ini sampah mereka jadi bertumpuk tidak karuan. Lima menit lagi truk pengangkut akan pergi membawa sampah seisi gedung sehingga Mingyu harus bergegas. Membuat dia lupa menutup pintu unit tadi karena tergesa-gesa.
Setelah selesai membuang sampah, Mingyu segera kembali ke unitnya. Kaki jenjangnya bahkan melompati anak tangga tiga-tiga sekaligus.
"Hmm... Bagus..."
Langkah kaki Mingyu terhenti di ujung tangga menuju ke koridor unitnya. Deja vu. Sepertinya belum lama ini Mingyu mengalami hal yang sama. Terhenti di ujung tangga, pintu unit terbuka. Bedanya kali ini, ada Wonwoo yang berdiri di depan pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
Mingyu melanjutkan langkah kakinya, berpura-pura tidak paham apa yang terjadi dan masuk ke dalam unit. Tetapi kaki dan tangan Wonwoo lebih cepat. Belum sempat Mingyu masuk, Wonwoo sudah mencegatnya. Alis Wonwoo terangkat tinggi di balik kacamata bulatnya.
"Sendirinya juga ninggal rumah nggak pake nutup pintu dulu, ya?"
Mingyu merasa wajahnya memanas. Malu. "Gue keburu-buru buang sampah. Truknya lima menit lagi kan pergi."
"Emang nutup pintu butuh lima menit ya?" ujar Wonwoo dengan nada sarkas.
Mingyu memutar bola matanya. "Ya coba ada yang tertib hari Sabtu buang sampah sesuai jadwal, jadi kan hari Rabu ini gue nggak overwork terus keburu-buru."
Wonwoo mendengus, "Aku balikin ya... Lo tolol apa gimana sih? Bukannya introspeksi malah...."
Wajah Mingyu semakin terasa panas.
".....nyalahin aku? Ckckckck. Apa-apaan?!" Wonwoo mengakhiri kalimatnya dengan melempar pandang sinis ke arah Mingyu. Lalu dia berbalik dan masuk ke dalam unit. Meninggalkan Mingyu yang masih mematung di depan pintu. Tidak percaya bahwa Wonwoo baru saja, ngebalikin omongan gue? Sialan.
"Eh, lo tuh ya! Gue lupa nutup pintu tapi ke basement doang. Habis itu juga buru-buru balik. Lo? Lupa nutup pintu tapi ditinggal pergi nggak tau kemana. Nggak usah ngebalikin omongan gue deh!" Mingyu meneriaki Wonwoo sembari menutup pintu.
"Idih. Salah mah salah aja. Mau ditinggal lama mau bentar, intinya kan sesuai omongan kamu kalo ninggalin unit tapi nggak nutup pintu tuh salah. Aku salah, kamu juga salah. Jangan standar ganda." Wonwoo menyambar omongan Mingyu dengan nada yang mulai ikut naik.
Mingyu terdiam, merasa kena skakmat kalimat terakhir Wonwoo. Lidahnya seolah terikat, tidak bisa berkata apa-apa. Tidak peduli di dalam kepalanya kini muncul seribu satu sumpah serapah dan kekesalan terhadap Wonwoo.
"Ya, kan? Kamu tuh jadi orang terlalu ribet tau nggak? Udah gitu kegedean ego pula. Kurang-kurangin deh. Nggak semua orang kuat ya ngadepin orang kaya kamu gitu." Wonwoo nyerocos lagi, menuang bensin ke api amarah Mingyu.
"Heh, bangke! Gue sama siapapun nggak pernah ya sampe harus adu mulut gini. Lo tanya semua orang yang kenal gue? Nggak pernah gue ribut. Lo doang yang harus diributin karena lo rese banget jadi orang tau nggak?!" Mingyu menumpahkan semua kekesalan hatinya sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Wonwoo.
"Terus menurut kamu semuanya salah aku gitu? Kamu nggak ribut sama yang lain bisa jadi karena mereka yang terlalu sabar aja kali. Atau mereka belum liat segede apa egomu itu ya!"
Mingyu menjambak rambutnya sendiri, frustasi. "Salah apaaaa punya temen serumah kaya gini." Ucap Mingyu entah kepada siapa. Tuhan, mungkin.
Wonwoo mengernyit, "Ya udah sih kalo nggak sanggup lagi serumah sama aku. Minggu depan aku pindah deh. Kebetulan Jae Eon ngajakin pindah ke kondo dia yang baru juga."
Mingyu langsung menghampiri Wonwoo dan mencengkeram kedua lengannya. "Nggak. Nggak ada. Lo tetep disini sama gue. Nggak ada pindah-pindahan. Dah sana masuk kamar. Istirahat. Cukup berantemnya. Gue juga mau istirahat. Masuk masuk..."
Wonwoo kemudian didorong masuk ke kamarnya oleh Mingyu.
Selalu seperti ini ujung perdebatan mereka. Wonwoo yang mengusulkan Mingyu agar mereka pisah rumah. Kemudian Mingyu langsung menghentikan apapun yang tengah mereka ributkan dengan mendorong Wonwoo ke kamarnya, dan dia masuk ke kamarnya sendiri. Wonwoo sudah hafal, dan selalu tidak bisa menahan kikiknya setelah pintu kamarnya tertutup.
"Egonya aja gede kaya badannya, tapi daya juangnya kecil banget." desis Wonwoo pelan di antara kikik tawanya.
*****
"Bray, lo kayaknya harus nyari si kucing deh." Dokyeom yang baru masuk ke kelas langsung menghampiri Mingyu dan menyarankan seperti itu.
"Emang kenapa?"
Dokyeom menggigit bibirnya, seperti mempertimbangkan apa yang akan dia katakan berikutnya. "Jangan over-react ya, janji. Gue tadi denger dari Gaeul, katanya si Yoo Na Bi hamil anaknya Jae Eon."
"Yoo Na Bi, yang lo liat kokop-kokopan sama Jae Eon di Poe?"
Dokyeom mengangguk.
"Valid nggak nih si Gaeul?"
Dokyeom mengangkat bahunya. "Valid deh bray, kayaknya."
"Ck. Jangan kayaknya-kayaknya Key. Urusan panjang ini loh."
"Valid Gyu. Valid. Soalnya si Gaeul yang nemenin Na Bi lapor ke Jae Eon. Masalahnya, si Jae Eon kan bisa aja ngelak. Atau Na Bi mainnya ga sama Jae Eon aja. Nah, kalo itu kejadiannya kan di luar kuasa gue ya."
Mingyu mengangguk mendengar penjelasan Dokyeom. Tangannya sudah sibuk mengetikkan entah apa ke layar ponselnya. "Lo ada liat Wonwoo nggak?"
Dokyeom menggeleng.
Mingyu menempelkan ponselnya ke telinga, menghubungi seseorang.
"Jun, maaf. Masih kelas nggak ya? Oh, ok. Wonwoo masih di situ? Oh, ya? Katanya pulang apa kemana ya, Jun? Ok, ok ok. Gapapa sih. Makasih ya Jun."
Mingyu kembali memencet-mencet layar ponselnya kemudian menempelkannya lagi ke telinga. Dokyeom hanya melihat semua itu sambil tenang memakan lolipop.
"Pak, maaf saya Mingyu yang di unit 3 A. Iya pak, betul. Mau tanya Wonwoo, yang se unit sama saya keliatan di situ nggak ya pak? Oh, barusan ya berarti? Ya pak. Saya mau otw pulang pak, tolong kalau si Wonwoo ada keliatan mau pergi ditahan dulu suruh nunggu saya ya. Makasih banget pak."
Mingyu kemudian memberesi barangnya dengan tergesa sembari memberi instruksi ke Dokyeom, "Tipsen, Key. Balik gue."
Dokyeom hanya mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Makasih."
Dua ibu jari diacungkan lagi.
******
Mingyu diam berdiri di depan pintu. Tangannya terhenti di handle. Urung membukanya demi mendengar suara Wonwoo di balik sana. Teriakan, bercampur tangis. Putus asa, tidak percaya, bercampur jadi satu. Sementara suara satu orang lainnya, terdengar tenang. Bahkan cenderung dingin.
"Suka nggak suka ya memang harus gini akhirnya, Nu."
"YA AKU JUGA TAU!"
"Terus sekarang apa masalahnya?"
Mingyu mendengar isakan Wonwoo. Ditariknya tangannya dari handle pintu dan dikepalkannya kuat-kuat. Menahan diri dari membuka pintu dan memukuli orang yang sedang berbicara dengan Wonwoo itu.
"Kamu....serius nanya apa masalahnya?!"
"Iya."
Mata Mingyu membelalak dan mulutnya terbuka lebar, tidak percaya mendengar jawaban yang dingin dan tidak tahu diri seperti itu. Bukan dia yang sedang terlibat perdebatan itu, tetapi amarah Mingyu berkobar seolah dialah yang diserang oleh kata-kata itu.
"Kamu yakin itu anak kamu?"
"Gatau juga. Ini makanya mau nunggu janin agak gedean biar bisa tes DNA. Kalau ternyata bukan anakku, kamu mau jalan lagi sama aku?"
Terdengar suara sesuatu dilempar dan mengenai dinding. "ANJING! DIPIKIR AKU INI BAN SEREP?! KELUAR! JANGAN PERNAH LAGI LIATIN TU MUKA DI DEPANKU!"
Bersama dengan berhentinya teriakan itu, pintu terbuka dan tampak Jae Eon yang tengah didorong dengan kasar oleh Wonwoo.
Mingyu menggeser badannya, memberi ruang bagi Wonwoo untuk meneruskan dorongannya hingga Jae Eon keluar sepenuhnya. Tatapan matanya singgah di wajah Wonwoo sepintas, sebelum kemudian tertancap ke sosok Jae Eon dengan sorot kejam dan kemarahan yang jelas sekali terpancar.
"It's ok Nu. We are over ya. Thanks buat selama ini."
Si bangsat.... Batin Mingyu kesal. Bisa-bisanya bajingan satu itu berterimakasih dan melempar senyum dalam situasi selama ini. Mingyu sudah tidak paham lagi, bagaimana bisa ada manusia yang sesantai dan sedingin itu terhadap perasaan orang lain.
Mingyu maju dan memegang lengan Wonwoo. Dari sudut mulutnya Mingyu membisikkan, "Diem aja dulu. Jangan nangis lagi."
"Pergi, bro. Wonwoo biar gue yang urus."
Jae Eon hanya tersenyum tipis dan melambaikan tangannya lalu berjalan santai ke arah tangga. Meninggalkan Wonwoo dan Mingyu yang sama-sama menatapnya dengan pandangan yang tajam menusuk. Kalau ini kartun, punggung Jae Eon pasti sudah terkoyak hancur.
Setelah sosok Jae Eon tidak terlihat, pertahanan Wonwoo runtuh. Kakinya langsung lemas, tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Beruntung Mingyu sigap dan segera melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Wonwoo. Mendekap teman serumahnya ini untuk memberi support. Baik secara fisik, maupun mental.
"Ayo masuk dulu." ucap Mingyu lembut, kontras dengan rahang dan tangannya yang masih keras menahan amarahnya.
Dituntunnya Wonwoo ke dalam rumah, lalu ia dudukkan dengan perlahan ke sofa. Mingyu usap rambut Wonwoo dengan lembut. Sembari menatap air mata yang sekarang sudah deras bercucuran di kedua pipinya. Kacamata Wonwoo lalu diambil oleh Mingyu dan dia letakkan di meja. Dipeluknya teman serumahnya itu. Meminjamkan bahunya sebagai sandaran Wonwoo.
"Jahat banget dia Guuuu...." ratap Wonwoo di sela tangisnya.
Ya dia mah jahatnya emang udah dari dulu. Lo aja yang bego. Tanggap Mingyu, tapi dalam hati. Bisa jadi perkara kalau dia utarakan kalimat itu ke Wonwoo langsung kan
"Udah biarin aja. Biar kena karma." Mingyu mengelus punggung Wonwoo sekarang. Sementara Wonwoo masih terisak-isak di pundaknya.
"Aku salah apa sampe diginiin....."
Mingyu menahan dengan sekuat tenaga untuk tidak mendamprat Wonwoo, salahnya lo tuh denial banget sama kelakuan tu bajingan. Kena batunya kan lo sekarang!
"Nggak lo nggak salah apa-apa. Yang salah ya yang selingkuh lah Nu...."
Isakan Wonwoo semakin keras. Bahkan badannya sampai ikut terguncang.
"Udah udah... Nanti sakit semua kepala lo kalo nangisnya sampe gini." Mingyu berusaha menenangkan Wonwoo lagi. Tapi sepertinya yang Wonwoo butuhkan justru dibiarkan menangis, menumpahkan semua perasaan dalam hatinya.
"Ssshhh... Ya udah ya udah. Nangis dulu sampe lega. Gue temenin."
Wonwoo benar-benar menangis meraung-raung sekarang. Membuat Mingyu menyesali perkataannya yang terakhir. Alamat kena komplain unit lain nih habis ini.
*********
"Nu, gue keluar bentar ya. Kerkom. Dua jam doang. Lo mau dibawain apa nanti?" Mingyu melongokkan kepalanya ke dalam kamar Wonwoo.
Wonwoo yang sedang melingkar seperti anak kucing di kasur, sambil scroll entah apa di ponselnya hanya menggumam tidak jelas.
Mingyu menarik nafas, menahan sabar. "Nu," panggilnya ulang dengan nada yang lembut, "Liat gue dulu lah bentar."
"Nggak usah Gu. Aku nggak pengen apa-apa." Wonwoo melihat Mingyu sekilas, mematikan ponselnya dan menarik selimut menutupi tubuhnya. "Aku mau tidur aja deh. Ngantuk."
"Yaudah. TV gue nyalain ya biar nggak sepi. Kalo ada apa-apa langsung telpon, nanti gue balik."
Wonwoo hanya melambaikan tangannya. Mingyu menutup pintu kamar Wonwoo perlahan dan keluar dari rumah dengan seminimal mungkin suara.
Ini sudah hari keempat sejak insiden waktu itu. Mingyu hampir tidak pernah meninggalkan rumah. Kondisi Wonwoo masih belum stabil dan Mingyu takut jika ditinggalkan sendirian terlalu lama, Wonwoo melakukan hal-hal yang berbahaya.
Kabar kehamilan Na Bi dengan Jae Eon sudah menyebar ke seantero fakultas. Bahkan beberapa anak di fakultas sekitar juga sudah mendengar. Tapi bukan kabar kehamilannya yang membuat gempar, justru keputusan Jae Eon dan Na Bi untuk menikah yang membuat geger. Playboy dan playgirl kampus, menikah.
"Karma satu sama lain nggak sih?" ucap Dokyeom saat obrolan mereka menyinggung hal tersebut.
Tugas mereka sudah selesai di 30 menit pertama, thanks to Woozi. Teman mereka yang satu ini memang genius, sekaligus terlalu rajin. Judulnya tugas kelompok, tetapi Woozi sudah membuat semua outline dan mendapat segunung sumber bacaan. Sehingga tiga orang lainnya, Dokyeom, Mingyu, dan Soonyoung, hanya perlu bekerja selama dua puluh menit dan tugas mereka sudah selesai. Sekarang mereka menghabiskan sisa waktu dengan mengobrol, eh bergosip lebih tepatnya.
"Mau karma kek mau apa kek, ini sekarang si Wonwoo gimana? Udah denger belum dia kalo ayangnya itu akhirnya mau nikah?" ucap Soonyoung dengan tampang cemas.
"Iya Gyu, gimana deh?" Tanya Woozi.
Mingyu mengedikkan bahunya. "Gatau juga ya, dia di kamaaar terus. Jadi nggak ketemu siapa-siapa dari kampus. Tapi mana tau kan ada yang kontak dia apa gimana, ngasih tau."
Woozi dan Soonyoung mengangguk-angguk, sinkron. Mirip dua anak anjing lucu. Membuat Mingyu gatal ingin menjitak kepala keduanya.
"Maaf maaf nih ya bray, sejujurnya gue pengen ngetawain Wonwoo sih. Setelah semua pembelaan dia buat Jae Eon, ditinggal kawin dong ujungnya. Kocak nggak sih kalo dipikir?"ucap Dokyeom dengan hati-hati.
Mingyu tertawa. "Jangankan elo, sekarang, ya kan. Gue aja tuh pas hari H si kucing nangis-nangis neriakin si anjing, udah pengen ngetawain juga. Pengen gue mampus-mampusin depan mukanya."
Soonyoung dan Woozi yang duduk di kanan kiri Mingyu refleks meninju lengannya.
"Anjing apaan, sakit woy!"
Soonyoung berdecak, "Ck, ngawur aja lo Gyu."
"Ya lo selama ini juga kesel kan tiap ngasih tau si kucing tentang kelakuan cowoknya, ada aja alesan dia buat ngebelain?"
Woozi terkekeh, "Ya kesel sih, tapi kan kalo kita-kita nggak sekesel elo Gyu. Numpang lewat doang. Elo tuh yang sampe dendam kesumat."
"Lo enggak, Key?" Mingyu berusaha mencari sekutu.
Dokyeom mengangguk mantap. "Gue juga kesel banget bray. Inget banget yang gue ketemu Jae Eon keluar dari Hon Inn, tapi Wonwoo malah mencak-mencak ke gue nuduh gue fitnah cowoknya. Asu banget."
"Ya udah yang penting sekarang udah fix putus kan? Wonwoo udah nggak bakal balik lagi ke tu orang. Tinggal kita awasin aja biar nggak dapet modelan yang sama."
Mingyu menggelengkan kepalanya demi mendengar perkataan Woozi, "Susah Ji. Kayaknya dia nggak bisa move on deh dari si anjing. Ini udah hari keempat nih, si kucing masih nggak mau makan, nggak mau keluar dari kamar. Ntar kadang jam sebelas malem, jam dua pagi, kedengeran dia nangis di kamar. Pagi-pagi nangis lagi. Siang nangis lagi. Udah kaya selang bocor tu mata."
"Ya wajarlah Gyu... Patah hati ya emang sesakit itu. Apalagi ini patahnya gitu banget, ditinggal ngehamilin cewek. Bersyukur aja lo nggak ngerasain, jangan jahat-jahat lah ke Wonwoo."
Mingyu sewot, "Siapa yang jahat? Gue mah realistis aja. Selama ini udah jelas cowoknya kaya anjing begitu, tapi dia aja yang batu. Denial terus. Ya kalo ujungnya kaya gini, udah ketebak nggak sih harusnya? Ngapain juga ditangisin. Buang-buang tenaga sama waktu aja. Enek tau nggak dengerin orang nangis terus."
Woozi menggeplak belakang kepala Mingyu. Geregetan. "Ya kalo gitu nggak usah lah lo tungguin dia, sampe bolos bolos kuliah gini."
"Masalahnya ya Jiiiii, ntar kalo ditinggal terus dia aneh-aneh gimana? Kalo sampe amit-amit dia bunuh diri gitu gimana?"
"Atau ke rumah Jae Eon ngemis-ngemis minta balikan." sambar Dokyeom menambahkan.
"Asu, lebih horor lagi itu." tanggap Soonyoung dengan mata terbelalak lebar.
"Ya kan? Lo ngerti kan sekarang gimana dilematisnya posisi gue?" Mingyu bertanya kepada Woozi.
Yang ditanya mengangguk sembari mengulum senyum, "Iyaaa paham paham. Udah sekarang lo tarik nafas dulu. Minum gih, terus balik. Gue jadi takut juga nih kalo lo nggak buruan balik."
"Nggak papa kalo ini. Minumnya Wonwoo gue campurin obat tidur tadi."
"Anjing lo bray!" kali ini Dokyeom yang menggeplak kepala Mingyu.
"HEEEH! APA SIH LO PADA DARI TADI GUE KENA GEBUK MULU!"
Woozi, Soonyoung, dan Dokyeom malah tertawa bersama.
"Ya gimana ya, lo nya juga minta digebuk banget daritadi." sahut Woozi.
Mingyu mengelus-elus kepalanya sembari mengomel. Tetapi dalam hatinya dia bahagia karena setidaknya malam ini, dia bisa sedikit bebas dari 'kewajiban menjaga' Wonwoo.
Mingyu tahu, perkataan Wonwoo tempo hari ada benarnya. Juga perkataan teman-teman mereka yang lain. Bahwa Wonwoo sebenarnya kan sudah dewasa, sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Tidak perlu serumah terus dengan Mingyu. Tidak perlu penjagaan Mingyu seperti sekarang ini.
Tidak bisa dipungkiri, Mingyu sendiri juga sudah di ambang muak mengurusi dan peduli pada Wonwoo. Tetapi Mingyu tidak pernah bisa mundur dari janji itu. Mama, ibu Wonwoo, adalah orang yang selalu berada di sebelah Maminya saat Papi meninggal dulu. Saat maminya terpuruk karena tidak sanggup menghadapi fakta ditinggal suami untuk selama-lamanya, Mama adalah orang yang sabar menguatkan dan menjaga Mami.
Sehingga saat Mama jatuh sakit dan meminta Mingyu agar menjaga Wonwoo untuknya, Mingyu bersumpah menepati janji dengan sepenuh hati dan sekuat usahanya. Tidak akan Mingyu biarkan Mama khawatir di surga sana. Wonwoo harus, dan akan selalu, aman bersama Mingyu. Meskipun sudah terbukti, menjaga Wonwoo ternyata membuat lelah jiwa dan raga Mingyu.
"Gue balik ya, takut si kucing ternyata nggak minum jadi nggak tidur." Mingyu bangkit, mengantongi ponselnya, dan menyandangkan ranselnya ke satu pundak.
Ketiga temannya melambaikan tangan dan berpesan agar Mingyu hati-hati.
"Yang sabar Gyu ke Wonwoo. Masih rapuh banget anaknya. Kalo lo bosen, call kita aja. Ntar gantian jaganya." pesan Woozi.
Mingyu mengangguk. Dalam hatinya ia memanjatkan syukur, karena ada ketiga temannya itu yang selalu membantu dan mendukungnya menepati janji kepada Mama.
Mama tenang aja ya Ma. Wonwoo di sini banyak yang jagain.
