Work Text:
Tepat setelah pesan terakhirnya terkirim, layar handphone-nya menggelap, lalu mati sepenuhnya. Satu harapannya pupus.
Jowen memutar otak, ia mengedarkan pandangan. Pagar rumahnya menjulang tinggi di hadapannya. Pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu tak mungkin ia panjat.
Pagar beton di sebelahnya yang dihiasi ukiran itu meski nampak memungkinkan, juga dilengkapi kawat besi pengaman di atasnya. Dapat dipastikan tangan atau kakinya akan sobek jika ia berusaha melewatinya.
Ia menggigit ujung kuku jempolnya.
Netranya lalu berpindah ke samping kiri rumahnya yang berupa lahan kosong, kakinya melangkah menyusuri hingga tak terasa memutari rumahnya sendiri dan kembali ke depan lagi.
Tak ada jalan masuk.
Jowen menggaruk kepalanya gusar. Ia merasa seperti orang bodoh. Semalam, semua orang di rumahnya sudah berpesan padanya kalau hari ini Mbak Ina mengambil cuti sampai 3 hari ke depan dan Pak Adi akan menemani Papi keluar kota. Yang artinya, ia harus mengambil kunci rumahnya yang dipegang kakaknya saat ia pulang dari kampus.
Namun dengan kapasitas otak yang seperti ikan mas itu, Jowen melupakan pesan kakak dan ayahnya. Ia langsung pulang ke rumah alih-alih ke rumah sakit tempat kakaknya bekerja.
Dan seperti Dewi Fortuna yang ia pikir tak pernah berpihak padanya, handphone-nya mati saat ia sampai di rumahnya dan menyadari bahwa ia salah tujuan. Kini, ia tak bisa lagi memesan taksi online untuk ke rumah sakit.
Sebagai topping runtutan naasnya, hari itu hujan mengguyur langit Jakarta tak kenal ampun. Dan ia tak melihat ada tempat untuk meneduh di sini.
Lagi-lagi, kakaknya datang bak malaikat penolong melalui kasih sayang dan perhatiannya yang selalu menaruh payung lipat di dalam ransel Jowen, juga mengingatkannya untuk memakai pakaian yang hangat karena cuaca dingin hari itu.
Apa jadi hidupnya tanpa sang kakak.
Baiklah, ia menghembus nafas. Mendudukkan pantatnya di pinggiran pot bunga beton yang memanjang di depan pagar rumahnya. Kembali mengedarkan mata ke jalanan sekitar yang sunyi.
Dua rumah yang paling dekat dengan rumahnya itu mutlak tak berpenghuni, karena ayahnya sendiri yang membeli rumah tersebut agak tak ditempati orang lain dan berpotensi menimbulkan kegaduhan tak diinginkan yang bisa mengganggu istirahat anaknya sehari-hari.
Hanya satu tetangga yang ia kenal saat ini, menempati rumah di seberang kanannya. Jowen memperhatikan rumah itu, yang juga nampak jelas dari jendela kamarnya sendiri di lantai dua.
Pasangan muda yang keduanya bekerja itu baru akan pulang ke rumahnya larut malam. Seringkali saat Jowen baru selesai mandi dan hendak tidur.
Tak ada harapan untuk mencari pertolongan kesana.
Satu-satunya yang masih terbesit di benaknya adalah satpam kompleks yang masih berjaga di gate masuk. Namun lagi-lagi, perasaan berat hati untuk meminta pertolongan itu menahan tubuh Jowen di tempat.
Ia masih bisa menunggu kakak. Kakak akan pulang. Atau mengirimkan kunci rumahnya saat ia membaca pesan darinya barusan. Pasti.
Lima belas menit berlalu.
Pasang sepatunya yang tak terlindungi dari cipratan air hujan mulai basah. Ia mulai kehilangan sensasi di ujung kakinya akibat dingin.
Jowen melihat jam tangannya. Ia tak yakin kapan kak Wina akan pulang. Sekarang, apa yang sebaiknya ia lakukan?
Kalaupun ia berjalan kembali ke gerbang masuk perumahannya dan menemui satpam, ia tak punya sisa uang untuk membayar taksinya nanti.
Lima puluh ribu terakhirnya sudah ia gunakan untuk pulang tadi. Semua uangnya ada di rekening bank, dan ia tak bisa menggunakan ponselnya. Bagaimana ia membayar nanti?
Tunggu.
Jowen membuka tasnya saat mengingat sesuatu. Lalu tergesa merogoh isi tasnya. Ia pikir ia bisa mengisi daya ponselnya di taksi jika ia membawa kabel charger-nya sendiri. Atau mungkin menemukan lembaran uang yang terselip di dalam ranselnya.
Namun, nihil.
Yang ia temukan hanya gulungan earphone kabel usang yang ia masukkan sembarang tadi. iPAD-nya juga sudah mati bahkan sebelum kelasnya usai. Satu harapannya kembali menguap, menyatu dengan rintik hujan yang tak kunjung reda.
Jowen kembali menutup kancing tasnya dan menghela nafas panjang.
Sekarang, harapan terakhirnya yang tersisa makin terasa berat.
Pertama, ia harus merepotkan satpam kompleks yang tak begitu ia kenal. Lalu sampai di rumah sakit, jika kakaknya tak bisa ia temui, mau tak mau ia juga harus merepotkan seseorang yang mau meminjaminya uang untuk membayar taksi.
Argh, kepala Jowen sudah lebih dulu pusing membayangkan skenario itu.
Agaknya, menelan konsekuensi atas tindakan bodohnya dengan menunggu sang kakak lebih masuk akal dan bisa ia toleransi saat ini.
Lagipula, kakaknya akan pulang tak lama lagi. Ia kembali melihat arloji, kurang lebih setengah jam lagi. Jika kak Wina pulang sesuai jadwalnya hari ini, pukul lima sore.
Ia masih memiliki payung yang melindungi sebagian besar tubuh bagian atasnya. Ia masih memakasi hoodie tebal yang kak Wina paksa untuk pakai tadi pagi.
It’s not so bad, right? Clearly thirty minutes will pass without him even knowing.
Lima menit berlalu.
Perlahan kadar adrenalin tubuhnya menurun, membuat fokus Jowen kembali pada tubuhnya sendiri dan lingkungan yang ia tempati saat ini.
Perlahan, suhu di sekitarnya mulai terasa menusuk kulit dibalik pakaiannya.
Jowen mengusak ujung hidungnya dengan punggung tangan. Berusaha menghilangkan sensasi dingin yang menempel.
Saat tubuhnya mulai rileks, rasa kantuk pun menyapanya.
Ia melirik arloji.
Hampir pukul lima. Kak Wina akan pulang sebentar lagi. Tidak lebih dari setengah jam jika ditambah dengan waktu perjalanan dari rumah sakit, dan potensi macet karena hujan.
Jowen menelan ludah. Sesekali menggosok kedua tangannya dan meniupinya mempertahankan suhu tubuhnya tetap hangat.
Tak lagi bisa dibendung, ia akhirnya mengalah pada rasa kantuknya. Jowen mendudukkan dirinya di paving carport, tak peduli celananya basah.
Ia melipat kaki panjangnya dan meringkuk, memeluk lututnya sendiri dan menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada dinding pagar rumahnya.
Pantulan cahaya kekuningan pada genangan air di depannya yang menandakan lampu-lampu pagar rumahnya menyala karena sensor itu tertangkap netra tepat sebelum kelopak matanya menutup sepenuhnya.
Anak itu tertidur di sana bahkan lebih dari satu jam dari perkiraannya sang kakak akan pulang.
—
Wina baru menyelesaikan pekerjaannya saat matahari sudah tenggelam. Jantungnya nyaris copot saat ia memeriksa ponsel dan membaca pesan adiknya.
Buru-buru ia membersihkan dirinya, mengambil tasnya di kantor dan meminjam jas hujan salah satu nurse di sana. Pulang di jam-jam seperti ini membawa mobil tak akan membantunya.
Ia mencari ojek pengkolan tak jauh dari rumah sakit, membayar 3x lipat ongkosnya demi mendapat jaminan ia akan sampai di rumahnya lebih cepat.
Sedikit ia berharap Jowen sudah mencari pertolongan orang lain dahulu saat mengetahui kakaknya tak membaca pesannya selama dua jam.
Namun memahami sifat adiknya, Wina meragukan hal tersebut. Anak bodoh itu pasti lebih memilih mengorbankan dirinya sendiri daripada harus merepotkan orang lain.
Dan, firasatnya benar.
Adiknya itu masih terduduk di depan rumahnya. Satu kakinya yang terlentang sudah basah kuyup tak terlindungi payung yang juga nyaris terbang ditiup angin, kalau saja ujungnya tidak tersangkut tangan Jowen yang memeluk dirinya sendiri. Hanya sebagian kecil tubuhnya yang masih kering.
Perempuan itu segera membuka gerbang rumahnya dan juga pintu garasi, melepas jas hujannya, lalu menepuk pipi adiknya yang sedingin es. Nafasnya tertahan di dada sampai Jowen akhirnya membuka mata.
Wina membuang nafas kasar. “Bangun, ayo masuk.”
Jowen menurut meski kebingungan. Ia bangkit dan perlahan berjalan masuk ke rumahnya dibantu sang kakak, sampai terhenti di depan pintu samping kolam saat kak Wina kembali untuk menutup pagar.
Ia menutup payungnya dan memperhatikan dirinya sesaat. Lalu melepas kedua sepatu dan kaos kakinya yang basah, dan menaruh tas punggungnya di lantai garasi.
Setelah Wina kembali, ia lebih dulu masuk ke dalam rumahnya untuk mengambilkan adiknya handuk. Satu ia taruh di bawah kaki Jowen untuk menampung tetesan air dari tubuhnya.
“Buka bajunya, semuanya.” Perintah Wina tanpa basa basi.
Jowen mengikuti. Ia melepas hoodie, crewneck katun, dan celana jeansnya.
“Celana dalemnya juga.” Tambah Wina.
“Here?” timpal adiknya kecil. Suaranya gemetar karena kedinginan. Deretan giginya sudah saling bertemu menimbulkan bunyi gemeletuk. Bibirnya nyaris membiru.
“Nobody is home and you’re freezing.” Nada suara Wina meninggi. “Come on, kakak tutupin.” Ia merentangkan satu handuk lainnya, menutupi bagian perut adiknya hingga kebawah.
Jowen menelan ludah. “Jangan liat.”
Spontan Wina membuang pandangannya ke atas, menghargai privasi adiknya. Meski dalam kondisi tertentu, seperti saat Jowen sakit, ia sudah biasa memandikan adiknya tanpa busana apapun.
Jowen melepas boxer dan celana dalamnya, lalu menggantinya dengan yang kakaknya sudah siapkan, juga memakai celananya. Terakhir, Wina membantunya memakai kaus berlengan panjang dan sweater rajut tebal.
Ia lalu menuntun adiknya masuk ke ruang tengah dan mendudukkannya di sofa. Sejenak membereskan pakaian kotor Jowen dan memasukannya ke dalam mesin cuci.
Mengambil beberapa selimut tebal untuk ia gunakan membungkus tubuh Jowen yang meringkuk di sofa, memakaikan adiknya sepasang kaos kaki baru, dan memberinya heating pad untuk ia peluk. Wina lalu mulai mengeringkan rambut adiknya yang juga basah dengan hair dryer.
Setelahnya, ia mengambil syal rajut bekas mereka pakai saat musim dingin di Jepang. Ia gunakan syal lebar itu untuk menutupi kepala Jowen seperti tudung sebelum melingkarkannya pada leher adiknya untuk menambah sensasi hangat di tubuh Jowen.
Wina lalu menggosok kedua telapak tangannya dan ia tempelkan di pipi Jowen, membantunya merasa lebih hangat. Beberapa kali mencium wajahnya sebelum membenamkan wajah adiknya yang masih menggigil ke rengkuhannya.
Ia memeluk kepala Jowen erat, menciuminya sambil merapalkan kata maaf berulang kali.
“I’m sorry … I’m sorry, sayang.”
Ia memeluk adiknya untuk beberapa menit sampai ia rasakan tubuh Jowen sudah tak gemetar dan lebih rileks. Wina melonggarkan dekapannya, mengusap kepala adiknya sayang.
“Maaf ya … kakak tadi ada operasi.” Kata Wina lagi. Perasaan khawatir tak luput dari wajahnya.
Jowen lantas menyeka hidungnya yang baru ia sadari terasa gatal. Tak tertahan, ia kemudian bersin kencang. Spontan mengantarkan rasa nyeri ke seluruh kepalanya yang berat. Ugh. Ia menutup matanya dan kembali bersandar pada bahu kakaknya.
Ia merasa sangat lelah.
Matanya perih. Lubang hidungnya seperti tersumbat hingga nafasnya terasa pendek dan tersengal. Kepalanya sakit. Telinganya sakit. Seluruh tubuhnya terasa sakit.
Jowen masih belum mencerna berapa lama ia tertidur kehujanan di depan rumahnya maupun apa yang terjadi padanya saat ini.
Namun yang ia tahu pasti sekarang, kak Wina sudah bersamanya. Itu artinya, ia aman. Ia akan selalu aman. Kak Wina di sini. Ia aman.
Ia bisa melemaskan otot tubuhnya yang sedari tadi mengejang karena dingin. Ia bisa menyerahkan dirinya pada kegelapan saat kesadarannya kembali menurun. Ia aman.
Memahami bahwa adiknya mungkin sudah terlelap, Wina lalu meluruskan kedua kaki Jowen ke atas sofa, menarik bantal di belakangnya dan perlahan merebahkan tubuh adiknya.
Satu bentang selimut tebal ia balutkan ke kaki adiknya, satu potong lainnya guna ia tutupi bagian atas tubuh Jowen, tak lupa menaruh heating pad di lengan kiri adiknya, lalu menambahkan satu layer comforter pada Jowen.
Wina kemudian terduduk di lantai, memperhatikan adiknya yang sudah pulas. Kulit wajahnya sudah tak sedingin tadi, tanda bahwa suhu badannya juga sudah normal. Mungkin justru akan naik setelah ini, tebak Wina.
Tak peduli.
Wina tak peduli jika ia harus repot mengurus Jowen yang sakit berulang kali. Rasa bersalah karena merasa bertanggungjawab atas adiknya sudah menghapus pemikiran di benak Wina untuk menyalahkan Jowen atas keteledorannya.
Apalagi mengutuknya dengan mengatakan kalau ia pantas mendapat penderitaan rasa sakit itu akibat perbuatannya sendiri.
Bagaimanapun, sebodoh apapun, anak itu tetap saudara kandungnya. Satu-satunya yang ia punya. Yang paling ia sayang seutuhnya.
Malam itu, Papi yang seharusnya pulang dari Bogor esok pagi, memutuskan untuk kembali ke Jakarta saat mendengar kabar anak bungsunya sakit.
Wina bisa mengurus adiknya sendiri, tentu, apa saja selain menggendong adik bongsornya dari lantai satu menuju kamarnya di lantai dua karena ia tak tega membangunkannya. Ia butuh bantuan Pak Adi.
Malam itu, juga keesokan paginya.
—
Jowen melewatkan makan malamnya dan hanya diberi analgesik, dekongestan, dan antihistamin melalui injeksi oleh kakaknya. Ia kembali membuka matanya saat matahari sudah setinggi atap rumah.
Sinar cahaya masuk melalui tirai jendela kamarnya yang lebar meski sudah dilengkapi blinder. Cuaca hari ini jauh lebih cerah dibanding kemarin pagi.
Kembali terpejam, matanya masih terasa panas dan perih. Hembusan nafasnya terasa panas. Saat kesadaran kembali ke tubuhnya, Jowen terdiam sejenak. Tubuhnya terasa lebih lelah dari semalam.
Ia menggerakkan jari kanannya di bawah selimut. Oksimeter menjepit jempolnya. Of course. Lengannya juga terasa sedikit tertekan, yang ia tebak pasti dililit manset tensimeter.
Keduanya terhubung ke bedside monitor yang juga kakaknya sediakan di rumah. Sama halnya dengan instalasi tabung oksigen dibalik dinding kamarnya itu.
At some point, kamarnya sendiri tak jauh berbeda dari kamar rawatnya di rumah sakit.
Meski ia tak pernah mengeluhkan hal itu. Ia sadar itu merupakan bentuk kasih sayang orangtua dan kakaknya, dan ia memang membutuhkannya saat keadaan darurat.
Sudah lama ia berdamai dengan dirinya sendiri, termasuk menerima kondisi kesehatannya yang tak begitu menguntungkan.
—
Merasakan kehadiran orang lain di sana, Jowen lalu mengangkat tangannya. Spontan diraih oleh kak Wina yang sedari tadi memang duduk di tepi ranjangnya.
“Hey,” sapanya lembut, “good morning.”
Wina mengusap tangan adiknya lembut sebelum menaruhnya kembali. Ia merapikan comforter Jowen dan menata poni rambutnya. Dapat ia rasakan panas tubuh Jowen melalui sentuhan itu.
“Kakak....” Cicit Jowen lemah.
Wina mendekat. “Iya ... I’m here, sayang.”
Dengan susah payah, Jowen mengatakan kalau ia ingin membuang hajat. Membuat Wina menimbang apakah ia harus membantu adiknya kencing di sini atau mengantarnya ke kamar mandi yang masih berada di dalam kamarnya yang seluas apartemen mewah itu.
Wina memilih yang terakhir. Ia memanggil Pak Adi yang bersiaga di depan pintu kamar Jowen, memintanya menggendong si bongsor di punggung lebarnya.
Sampai di sana, driver sekaligus bodyguard pribadi itu perlahan menurunkan sang majikan di depan urinoir yang dilengkapi bar pegangan seperti pada toilet khusus disabilitas.
Sekali lagi, fasilitas di kamar anak itu memang didesain agar memudahkan sang pemilik, lebih tepatnya disaat seperti ini.
Berbeda dengan sang bodyguard yang lantas meninggalkan Jowen untuk memberinya privasi, Wina yang mengekor di belakang mereka lalu membantu adiknya.
Dengan sabar ia menunggu adiknya terdiam lebih dulu di depan urinoir. Satu tangan Jowen bertumpu pada bar pengaman, lalu yang lainnya ia gunakan untuk menurunkan celananya dan memulai kegiatan buang hajatnya.
Jowen lalu mengaliri sisa air kencing di kemaluannya dengan air setelah usai, kembali membenarkan celana lalu menyiram air kencingnya.
Ia kembali terdiam menunduk, nafasnya memburu. Wajahnya masih pucat, matanya sayu seakan amat berat untuk membuka, bulir keringat dingin nampak di dahinya. Wina menyekanya saat sudut matanya menangkap pemandangan itu.
Detik selanjutnya, Jowen bergeser pada wastafel di sebelah urinoir. Dua langkah gontai lalu ditahan sebelah tangan yang kini menumpu pada counter.
Jowen tak yakin sampai kapan ia bisa menahan tubuhnya tak ambruk. Matanya kembali terpejam. Ia hanya ingin cuci tangan, Tuhan.
Tak bisa dipungkiri, kakak perempuan di sebelahnya itu menatapnya iba. Kedua tangannya kuat menahan lengan sang adik untuk menyokongnya berdiri.
“Mau cuci tangan?” Wina bertanya lembut.
Adiknya mengangguk kecil.
Namun belum sempat Jowen meraih keran air, pandangannya mendadak kabur, lalu gelap seketika. Tubuhnya tiba-tiba limbung.
Kakaknya yang terkejut refleks menahan dadanya dan meraih kepalanya yang nyaris terbentur keran air di depannya. Wina membawa adiknya ke pelukan, meski kesusahan menerima beban yang lebih berat.
Sesaat, ia mengusak rambut Jowen kasar. Satu detik lebih lambat, kepala adiknya mungkin sudah bocor atau patah hidungnya menabrak wastafel.
Ia berusaha tetap tenang. Pelan memanggil si bodyguard yang berdiri di depan pintu kamar mandi untuk membantunya menggotong Jowen yang pingsan. Pak Adi mengangkatnya dengan bridal style kali ini.
Wina menghela nafas sebelum mengikuti. Ia berbelok ke walk in closet Jowen, mengambil set piyama untuk ia gantikan pakaian adiknya. Tak lupa membawa dua lembar handuk kecil dan sebaskom air hangat yang ia dapat dari pantry, lalu menyusul Pak Adi ke ranjang Jowen.
Sampai di sana, adiknya sudah dibaringkan di sisi kanan ranjang. Ia menaruh handuk dan baskom airnya di meja. Lalu memeriksa laju nafas dan denyut jantung adiknya. Reaksi pupil matanya terhadap cahaya, juga tekanan darahnya yang menurun drastis di bawah batas normal. Tak heran anak itu kehilangan kesadaran.
Ia melepas kaus dan sweater yang Jowen pakai dari kemarin sore, mengekspos kulit putih yang nyaris pucat. Wina mulai menyeka tubuh adiknya dengan handuk yang ia basahi air hangat. Ia memulai dari wajah adiknya yang pucat pasi, dengan lembut ia bersihkan keringat dan minyak yang menempel.
Sesekali ia menepuk pipi dan memanggil nama adiknya, mencoba membangunkannya. Namun Jowen diam tak merespon.
Wina lalu melanjutkannya ke leher, dada dan perutnya, juga punggung dan kedua tangan Jowen. Ia menggunakan tisu basah untuk membersihkan kedua telapak tangan adiknya.
Selanjutnya, ia mengambil handuk yang masih kering untuk membilas tubuh adiknya sekali lagi, sebelum memakaikan piyama baru yang lebih lembut. Tak lupa mengganti celana Jowen juga.
Setelah itu, ia menempel satu plester penurun demam di dahi sang adik, sedikit berharap dapat membantu demamnya cepat turun. Terakhir, ia kembali menutup tubuh adiknya dengan selimut dan comforter.
Lalu mengecup pipinya.
Wina memandangi wajah adiknya untuk beberapa saat dengan perasaan sendu. Ia tersiksa melihat adiknya seperti ini. Sulit baginya menerima fakta bahwa dirinya hanya bisa melakukan sangat sedikit untuk membantunya.
Kalau ditanya, ingin rasanya ia mengubah takdir. Ingin rasanya ia menghilangkan semua yang membuat adiknya menderita.
Wina menghela nafas. Menarik dirinya kembali ke alam sadar. Ia lalu mengambil oksimeter di meja dan memasukkan jari adiknya. Angka indikator yang muncul tak terlalu mengusiknya.
Berbeda saat ia memeriksa tekanan darah sang adik. Tensinya masih sangat rendah. For some reason, mengingat kondisi medis adiknya, ia sudah menduga hal itu. Wina memang harus menyuntikkan obat Jowen untuk mempercepat ia pulih dan sadar kembali.
Ia melakukannya setelah mengemasi handuk kotor dan air kompresan tadi, juga membenahi kamar adiknya.
Ia lalu teringat perut Jowen yang terhitung belum diisi apa-apa sejak kemarin sore. Ia berniat membangunkan sang adik sebelum netranya menangkap wajah damai adiknya yang masih tertidur.
Pada akhirnya, Wina hanya menghabiskan waktu untuk menjaga adiknya dan memantau kondisinya. Seharian ia tak pernah meninggalkan Jowen lebih dari lima menit. Bahkan setelah Jowen akhirnya terbangun.
Tidak, ia tak lupa akan tanggungjawabnya sebagai dokter di rumah sakit. Hari itu, dirinya sudah meminta rekan kerjanya menukar jadwal shift dengannya sehingga ia bisa mengambil cuti untuk beberapa hari.
Ia hanya ingin fokus pada adiknya.
Namun kali ini, bukan karena ia merasa bersalah atas insiden kunci rumah itu. Melainkan karena ia terlalu sayang pada adiknya.
Or like some common sense, she thinks.
