Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 14 of The Mahardhikas
Stats:
Published:
2024-10-18
Words:
1,645
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
12
Bookmarks:
1
Hits:
130

A little us

Summary:

The war is over.

Notes:

no proofread im sick and bored and in dire need for some fluff

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jowen menarik sabuk pengamannya pelan dan menguncinya sampai berbunyi klik. Belum lolos sepatah pun kata dari mulutnya sejak ia keluar dari ruang konsultasi psikiaternya di rumah sakit.

Padahal, jantungnya sudah seperti ingin keluar dari rusuk. Sepanjang perjalanan dari unit psikiatri sampai parkiran ia menahan suka cita.

Ia menyandarkan bahunya dan memejamkan mata mengatur nafas. Tiga detik. Lalu melirik ke bangku pengemudi saat kakaknya juga menoleh, “udah? Gak ada yang ketinggalan?” anak itu mengangguk.

Pandangannya lalu jatuh. Dua ibu jari saling bertemu di pangkuan pertanda rasa grogi.

SUV Mercedes-Benz itu mulai bergerak pelan keluar parking area.

Jowen kembali menghela nafas panjang. Memutus rangkai pikiran sebelum jadi terlalu rumit. Dan memberi dadanya jeda untuk istirahat sebelum terasa nyeri.

Benar, bukan hanya perasaan-perasaan negatif yang perlu ia hindari, perasaan positif yang berlebihan pun tak baik untuk jantungnya. Secara harfiah. Apa saja yang membuat organ itu bekerja ekstra.

Jowen lalu meraih botol minum di sebelahnya dan menyesap air putih itu dengan nafsu. Beringsut merosot di bangkunya masih berusaha mencari posisi yang nyaman.

Ia ingin sekali memberitahu kakaknya kabar baik yang baru ia dapat dari sang terapis. Namun ia tak yakin bagaimana, atau harus mulai dari mana. Ia sendiri masih memproses emosi-emosi yang ia rasakan saat ini.

Sementara yang lebih tua hanya memperhatikannya dalam diam. Melihat gerak-gerik adiknya justru bikin Wina sedikit khawatir. Ia bahkan tak berani menanyakan adiknya langsung karena belum yakin akan kondisi hati si bongsor itu saat ini. Jowen biasanya sedikit lebih sensitif usai pertemuannya dengan psikiater. Salah-salah, ia malah menambah beban mental adiknya.

Mungkin ini yang Jowen maksud waktu ia bilang kakaknya menganggapnya begitu rapuh sehingga harus dijaga baik-baik perasaannya. Dan Jowen sangat benci hal itu.

Namun sungguh, buat Wina, ia melakukan itu karena ia terlalu sayang pada adiknya. Memang orang waras mana yang suka melihat adik satu-satunya sedih dan sakit? Tak ada.

Tetapi, ia juga berusaha memahami adiknya. Ia sendiri pun tak mau kalau terus-terusan dianggap lemah oleh orang lain. Ia sendiri juga tak mau menerima rasa sayang dalam bentuk kasihan.

Maka dari itu, perlahan ia mulai mencoba terbuka pada Jowen. Dan nyatanya, itu tak seburuk yang ia pikir.

Mobil terhenti saat Wina tak sempat melewati persimpangan di detik terakhir lampu kuning sebelum berganti ke merah.

Ia kembali menoleh pada adiknya yang kini menyangga dagu melihat keluar jendela. Larut dalam lamunannya.

“Adek?” panggil Wina, “you okay?”

Jowen mengiyakan.

Kakaknya hanya manggut-manggut. Tak mendapat ide untuk melanjutkan obrolan.

Helaan nafas kembali terdengar, Jowen lalu berdehem kecil membersihkan tenggorokan dan membenarkan posisi duduknya.

“Kakak?”

“Hm?”

“Do you want some coffee?”

Pertanyaan itu sontak menyita perhatian Wina dari lampu merah. Ia menoleh dan memperhatikan wajah Jowen seksama.

“I mean I would never turn down an offer for an iced coffee,” ia berkata pelan, “but why?”

Tak menghiraukan pertanyaan kakaknya, Jowen menyahut cepat. “Well let’s go grab some then?”

“I mean,” ralat Jowen, “for you … I’m not … drinking coffee. But, it’s on me. I … will pay for it.” Lanjutnya terbata-bata.

Spontan menambah kecurigaan dari sang kakak. Alis Wina sudah bertemu di tengah, matanya terpicing menatap adiknya heran.

“Okay, but why?” Wina mengulangi, kali ini disela dengan tawa berusaha mencairkan suasana. “Why so sudden? Kebanyakan uang kamu? Hah? Sini, tabung aja uangnya sama kakak.”

Wina mengadahkan tangan kirinya bercanda.

“I’m nooottt.” Jowen akhirnya merengek.

Perempuan itu kembali terkekeh saat melajukan mobilnya lagi. “Terus kenapa tiba-tiba mau traktir kakak kopi?”

“Well, I just … want to celebrate … something.” Jowen kembali berpaling ke jendela. Membuat suara anak itu hampir tak terdengar di ujung kalimatnya. Namun Wina dapat melihat daun telinganya mulai memerah.

“What is it to celebrate?”

Jowen tak langsung menjawab, ia menggigit bibir bawahnya ragu. “That I’m … finally off of my meds next month?”

Jawaban itu tentu membuat mata Wina membulat. Mulutnya terbuka, namun ia mendadak kehilangan kata-kata untuk merespon. Fokusnya pun kini terpecah antara jalan raya di depan, dan adiknya di bangku sebelah.

“What?”

Wina lalu membekap mulutnya sendiri. Ia sudah kehilangan fokus menyetir. Tak mau bertindak bodoh, ketika ia melihat supermarket dengan lahan parkir di depannya, Wina menepi.

Perasaan antusias sudah memenuhi pembuluh darah sang kakak sementara Jowen malah hanyut dalam rasa grogi dan malunya, tak berani memandang wajah kakaknya sama sekali.

Ia tahu pasti, kak Wina pasti akan menghujaninya dengan pujian dan ucapan manis seperti teteh Kirana beberapa bulan lalu saat mendengar bahwa preskipsi obat depresinya sudah mulai berkurang. Bikin Jowen salah tingkah meskipun obrolan mereka hanya lewat pesan di ponsel.

“Adek … really?” Wina mengulangi. Bola matanya berbinar diterpa cahaya matahari sore. Ada perasaan lega, bahagia, dan sebuah harapan besar tersirat di tatapannya yang hampir berkaca-kaca.

Sekali lagi Jowen mengangguk kecil. Kemudian badannya langsung ditubruk oleh sang kakak yang agresif memeluknya.

Ia terdiam sesaat memberi kak Wina ruang untuk merasakan emosinya. Sebelum mulai menjelaskan, “well, ini masih percobaan sih, lowkey. We’ll see how I’m going fully without meds.”

Wina yang sudah melepas pelukannya kini memperhatikan adiknya lekat, satu tangannya mengusap-usap punggung adiknya lalu menata rambut Jowen sayang. Acapkali ia menganggukkan kepala dan bergumam mengerti.

“Kalau adek bisa enggak konsumsi obat without having depressive or manic episode lagi, artinya kamu officially off meds, kan?”

“Yes, but-“ tanpa sadar Jowen buru-buru memotong, “but I may relapse anytime….”

“But you also may not relapse.” Wina menekankan kata not-nya untuk meyakinkan sang adik. “We never know. It’s a fifty-fifty chance,” lanjutnya.

“But for now,” perempuan itu menangkup kedua pipi adiknya dan menatap manik adiknya lembut, “adek aku udah lepas obat dari psikiater, and I’m so proud of him.”

“You know what? He has been through a lot … like, a loooooottt of shits that’s happened and still happening in his life. In his teenage years that’s supposed to be fun.” Wina sengaja membuat ekspresi sedih di akhir kalimatnya. “Can you believe that? Can you imagine how strong he was?”

Mengundang senyum kecil yang akhirnya terukir di wajah adiknya. Lucu.

“Well, maybe that’s necessary for me.”

“No it’s not.” Wina menyanggah.

“Why is it necessary to have both physical and mental illnesses in such young age? What doesn’t kill you makes you stronger? Baby you’re multiple times being this close to death. Do you feel any stronger?”

”Eh….”

”That’s such a lame belief.”

Sebuah tawa kini lepas dari anak laki-laki itu. “Yaudah aku jangan dimarahin.” Ia lalu merengek.

Wina ikut tertawa dan memeluk adiknya lagi. Ia kembali menghela nafas lega saat merasakan hangat pelukan itu.

There is hope in between them now.

Saat perhatian Jowen sudah lepas dari kakaknya, ia baru sadar akan jejeran toko di depan mereka. Netranya lalu menangkap neon box berwarna hitam ciri khas salah satu kedai pastry kesukaannya tak jauh dari sana.

Ia melonggarkan pelukan mereka, “kakak.” Panggilnya.

“Hm?”

“Di depan ada Harvest.”

Wina mengikuti arah pandang adiknya ke sebuah toko kecil dengan nuansa cat hitam di samping kanannya.

Tanpa melihat adiknya yang kini menengadahkan kepalanya dan memasang wajah memelas itu pun Wina mengerti maksudnya.

Ia menghela nafas dan mengakhiri pelukan mereka. Adiknya spontan melepas seatbelt-nya bersiap keluar.

Wina lalu membuka dompetnya, meraih salah satu kartu dari sana dan ia berikan pada sang adik yang malah menatapnya bingung.

“Uang aku cukup kok.”

“Pake kakak aja.”

Anak itu lalu meringis. “Makasih. Nanti aku ganti pake uang tabungan aku.”

“Udaah, sana.”

Setelah adiknya keluar dari mobil, Wina akhirnya menyandarkan bahunya ke bangku dan meraih botol minumnya sembari menunggu.

Tak lama, anak laki-laki itu kembali menenteng sebuah paper bag putih berisi dua potong kue kesukaannya.

Ia membuka bungkusannya dengan antusias, mengambil salah satu slice cake oreo dan melepas plastik mikanya, lalu menancapkan tiga buah lilin kecil yang juga ia beli dari toko pastry itu.

Perempuan itu tersenyum, hatinya menghangat melihat pemandangan di depannya saat ini. Fokusnya tertuju pada adik satu-satunya itu. Ia menatapnya lekat. Berusaha memasukkan tiap lekuk wajah manis itu ke memorinya yang paling dalam. Ia tak ingin melupakan momen ini sampai kapanpun.

“Kakak?”

Wina mengerjap. Lalu terkekeh karena tak sadar berapa lama ia melamun. “Hm?”

Matanya lalu menangkap kue di depannya yang sudah dihiasi lilin yang menyala. Entah darimana Jowen mendapatkannya.

Mereka lalu memulai perayaan kecil itu layaknya pesta ulang tahun pada umumnya. Masing-masing mengambil waktu memanjatkan doa, lalu meniup lilinnya sebelum memotong kue kecil itu dan melanjutkan obrolan mereka sambil memakannya.

Hari itu, sore itu, Wina merasakan sensasi yang sama sekali baru baginya. Nafasnya terasa lebih ringan. Otot-otot tubuhnya terasa melunak. Udara di sekitarnya terasa lebih sejuk. Bahkan langit terlihat bersih dengan awan-awan yang meneduhi.

The war is over.

The big chunk of that is over.

Adiknya sembuh.

“You know,” Wina mendengar adiknya mengucap.

“I’m no longer thinking about Mami constantly.”

Ia menoleh pada adiknya.

“I think that’s like, the turning point of all this. But I don’t know why.”

“I used to long for her … everything. Her presence, her voice, her hug. Like on daily basis. I think that’s what corrupt my mind mostly. Like hell that’s literally why I’m depressed. But I feel like it’s getting less and less day by day.”

“I’m not sure why.”

Anak itu menyuap satu potong besar kue itu acuh.

“I think because you happened.”

Wina berhenti mengunyah.

Matanya kini bertemu dengan sepasang manik hitam mungil milik sang adik.

“I stopped thinking about how Mami would react if she knows I’m sad, or I hit my head in the bathroom, or anything, and I started to think about you.”

Wina tak merespon.

“And you … are a lot different from Mami. That’s why to some extent it also feels a little bit frustrating to deal with, since I’m not at all familiar with the situation, but,”

“… but eventually, you feel safe.”

“And you grow bigger than Mami in my heart.”

Bulir air mata mulai berkumpul di pelupuk mata Wina.

“Thank you.” Lanjut Jowen.

Suaranya datar dan wajahnya sama sekali tak menunjukkan ekspresi tertentu secara berlebihan. Wina merasa seperti sedang bicara dengan adik laki-lakinya yang berumur lima tahun.

Anak itu sama sekali tak berubah.

Jowen Giovanne Mahardhika adalah Shoto Keisuke, adik kecilnya.

Anak yang tak ia minta kehadirannya di dunia, namun Tuhan beri untuknya sebagai hadiah.

Notes:

im going to take a long break not sure for how long so if im not coming back please consider this one as the endgame :)

jowen is taking non-surgery treatment for his heart so there will no life-altering occurance since one of the main source of his suffering which trapped him in a vicious cycle of being physically and mentally sick is gone from now on only the better days will come :)

thank you all for reading this series and sticking around. have a good one :)

full socmed au compilation on twitter is available here

Series this work belongs to: