Work Text:
Hari ke-1
“If, from this hill, you watch the sky while the sun is setting for 51 days, your love will be reciprocated.”
Mark melanjutkan ucapannya setelah melihat tatapan bertanya dari orang di sampingnya, “Aku denger itu dari nenek dan aku fikir gak ada salahnya untuk dicoba.”
“Itu cuman takhayul, Mark. Kalau mau orang yang kamu suka bisa merasakan hal yang sama kaya kamu, kamu harus berusaha, bukannya malah percaya mitos seperti ini,” ucap orang yang menemani Mark.
“Huuu, Kak Hyuck gak seru,” seru Mark sambil mencebikkan bibirnya dan menatap malas Donghyuck, tetangganya sekaligus teman mainnya sedari kecil yang berumur dua tahun lebih tua darinya.
“Ayo pulang, sudah mau gelap,” ajak Donghyuck. Sikap skeptis Donghyuck terhadap kegembiraan dan harapan Mark tampak saat dia menatap langit musim panas.
Hari ke-6
“Kakak masih heran sama kamu yang percaya sama rumor gak jelas begini. Memangnya seberapa putus asa kamu sampai ngelakuin hal kaya gini?” Mark memutar matanya dengan malas setelah mendengar ucapan Donghyuck karena sejujurnya dia yakin bahwasanya dia tidak mempercayai rumor itu, tidak sama sekali, dia hanya sedang mencoba peruntungannya, syukur-syukur harapannya terkabulkan.
“Ughhh, Kak Hyuck! Stop liatin aku seakan-akan aku orang aneh gitu, please! Ini tuh cuma sebagai penyemangat dan jimat keberuntungan aja tau,” sanggah Mark dan disambung dengan lebih penuh harap, “lagian … kalau lagi putus asa, hal yang kaya gini tuh benar-benar diperlukan. Kalau kata orang, desperate times call for desperate measures.” Mark mengakhiri dengan senyuman tulus.
“Sebahagia kamu saja, deh. Memang ya, bocil tuh gampang banget kemakan rumor kaya gini, palingan minggu depan udah kelupaan sama ini semua” ujar Donghyuck dengan kekehan kecil.
Mark memutuskan untuk menganggap angin lalu ucapan Donghyuck karena tak akan ada yang bisa menggoyahkan keputusannya, sekalipun itu datangnya dari objek permohonannya. Mark pergi pulang dengan Donghyuck yang selalu di sisinya setelah merasa sudah cukup memandangi senja untuk hari ini.
Hari ke-26
Mark duduk dan menikmati pemandangan di hadapannya ditemani oleh Donghyuck, sama seperti hari-hari sebelumnya.
Di keheningan, Mark tenggelam dalam pikirannya, menyadari bahwa dia telah jatuh hati pada orang yang duduk di sebelahnya dan semakin tergila-gila setiap detik tanpa peringatan. Dia menjadi lebih sensitif, lebih ingin tahu, lebih cengeng dan lebih tak sabaran karena perasaan yang dia rasakan untuk Sang Pemilik Hati. Oleh karena itu, Mark mencoba mengumpulkan keberanian secara bertahap selama 51 hari dan memohon agar perasaannya mencapai langit.
Hari ke-38
Mark melirik Donghyuck yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi masam, sama persis saat dia sedang merajuk seperti biasanya.
“Serius ya Kak Hyuck, padahal kalau Kakak gak suka, Kakak kan gak perlu ikut terus sama aku setiap hari! Aku jadi kesel bawaannya” gerutu Mark sambil menatap sinis orang yang diajak bicara.
“Sudah mulai gelap, bahaya buat anak kecil berkeliaran saat sudah gelap,” tutur Donghyuck menghiraukan ucapan Mark yang diarahkan untuknya sebelumnya.
“Stop perlakukan aku seperti anak kecil, Kak Hyuck! Kita cuma berbeda dua tahun saja!” seru Mark dengan wajah yang tampak marah; alis yang menukik dan bibir yang merenggut ke bawah.
“Hahaha, iya deh, Mark sudah gede, bahkan sudah bisa menaruh hati kepada seseorang,” ledek Donghyuck dengan seringai tipisnya yang membuat Mark terdiam dan terpukau dengan pesona yang senantiasa ia nikmati setiap harinya, meskipun kewarasan Mark menjadi taruhannya.
Hari ke-43
Mark selalu bertanya-tanya, mengapa rasanya terasa begitu mudah dan damai ketika sedang jatuh cinta? Apakah itu karena perasaan yang ia miliki tertuju untuk Donghyuck? Meskipun saat ia menyembunyikan perasaan cintanya yang diharap akan terbalas, Donghyuck selalu ada disisinya melalui begitu banyaknya perasaan dalam hidupnya. Karena itu, Mark berharap perasaannya yang tulus ini dapat tersampaikan padanya
Namun, ketika mulai beranjak remaja, mereka tumbuh terpisah dengan segala kesibukan masing-masing. Mereka berdua tumbuh tinggi dan garis pandang Donghyuck menjadi lebih jauh ke depan. Banyak hal yang berubah, tetapi bagi Mark, hanya menjadi sebatas tetangga dan teman masa kecil tidaklah cukup. Rasanya tidak enak karena dia terus-menerus mengharapkan hubungan lebih bersama pria yang lebih tua darinya.
Hari ke-51
Ketika matahari terbenam untuk yang ke-51 kalinya, dua bayangan berdiri berdampingan di atas bukit menikmati senja yang terasa lebih indah dari hari sebelumnya.
“Kamu sebenarnya naksir sama siapa, sih? Sini biar Kakak bantuin daripada usahamu ngeliatin senja sampai 51 hari jadinya sia-sia,” ucap Donghyuck dengan sedikit menggerutu.
Mark pun meraih dan menggenggam tangan Donghyuck, lalu berkata dengan penuh yakin, “Aku suka Kakak! Kakak yang selalu nemenin aku di setiap fase hidupku, Kakak yang selalu jadi sandaranku, Kakak yang selalu memberikan aku alasan untuk senyum setiap harinya, dan masih banyak hal lainnya yang Kakak lakukan untukku yang bikin aku jatuh cinta ke Kakak.”
Dengan ekspresi wajah yang terkejut, wajah Donghyuck mulai memerah. Donghyuck segera menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangannya, cara dia menyembunyikan rasa malunya tidak pernah berubah. Namun bagi Mark, dia tetap menyukai sisi Donghyuck yang ini.
“Finally, I've been waiting for this moment for a long time,” ucap Donghyuck terpantri senyuman manisnya sambil mencubit gemas pipi Mark.
