Work Text:
“Hahaha, Kak Mark kalau ngantuk tidur gih, lanjutin tugasnya nanti saja,” ujar Donghyuck yang sedari tadi menemani Mark mengerjakan tugas kuliahnya, namun sudah beberapa menit lalu yang dilakukan Mark hanyalah mengusap matanya dan menguap karena kelelahan.
“Gak bisa Hyuck,” ucapan Mark terputus sebentar karena tiba-tiba saja dia menguap, “deadline tugas ini besok siang dan nilai poinnya 25 di mata kuliah ini, aku gak mau sampai nilaiku jelek cuma karena aku gak ngerjain tugas ini,” kekeh Mark yang masih berjuang melawan rasa ngantuknya.
“Iya, aku tahu tugasnya penting tapi kesehatan Kakak juga penting, percuma nilainya bagus kalau Kakak malah harus di rawat di rumah sakit karena kekurangan tidur,” jelas Donghyuk yang masih ingin mempertahankan argumennya.
“Tapi ....”
“Gak ada tapi-tapian, besok pagi kelasku kosong, aku bakal bantuin kerjainnya biar cepat selesai jadi untuk sekarang mari kita tidur,” ucap Donghyuck sambil menatap Mark dengan lembut dan memberikan senyumnya yang menenangkan.
Pada akhirnya, Mark pun menyerah dan mulai merapikan tempat yang mereka gunakan untuk mengerjakan tugas dengan bantuan Donghyuck.
Setelah membantu Mark berbaring di tempat tidurnya, Donghyuck pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Mark dan mulai mengusap secara pelan rambut Mark, sambil bersenandung pelan.
“Hyuck, maaf ya, aku rasanya selalu ngerepotin kamu padahal aku yang lebih tua,” ucap Mark sambil menyembunyikan wajahnya di balik selimut yang ia gunakan.
“Aku merasa gak keberatan Kak, lagian Kakak gak pernah ngerepotin aku dan tolong di ingat ya Kak, kapan pun Kakak butuh aku, aku bakal selalu ada buat Kakak bahkan sekedar tidur sampingan kaya sekarang di saat Kakak ngerasa butuh aku,” tutur Donghyuk dengan suaranya yang tenang membuat Mark merasa nyaman.
“Makasih Hyuck, aku bersyukur banget jadi teman kamu walau pertemuan pertama kita gak elit banget tapi,” Mark menyembulkan kepalanya sedikit dari balik selimutnya dan memperlihatkan senyum tipisnya, “aku gak akan pernah nyesel sudah kenal sama kamu.”
Tak lama setelah percakapan singkat mereka, Mark sudah terlena dalam alam mimpi, meninggalkan Donghyuck yang menatap wajah orang yang tertidur di sampingnya dengan tatapan yang dalam dan penuh rasa tanda tanya pada dirinya.
‘Ini bukan apa-apa, Hyuck’
Donghyuck terbiasa berbulan-bulan mengucapkan kalimat tersebut dengan mudah, tapi semakin hari kalimat itu rasanya semakin terperangkap di tenggorokannya terlebih saat Mark sedang berada di sekitarnya, seakan ada rasa asing yang membuat perutnya tak nyaman dengan adanya banyak kupu-kupu yang beterbangan secara liar ke berbagai arah membuatnya tak bisa untuk bersikap tenang seperti biasanya saat sedang bersama Mark.
Matahari sudah menggantikan tugas rembulan dan hari sudah berganti, namun Donghyuck terjebak dalam kebingungannya, mengapa dia tidak bisa menghentikan perasaan asing ini kepada Mark? Bahkan saat raga mereka hanya berjarak sejengkal atau saat mereka hanya bisa saling memandang langit yang sama karena jauhnya jarak mereka, perasaan ini tetap ada dan semakin membuatnya pusing.
Donghyuck akan terus menunggu untuk jawaban akan pertanyaan-nya, berapa lama pun itu; besok, lusa dan selamanya.
Di waktu pekan yang luang ini, Donghyuck terus mengetik dan menghapus pesan yang ingin dia kirimkan untuk Mark, niatnya dia ingin mengajak yang lebih tua untuk jalan-jalan, namun apakah tak masalah untuk mengajak Mark keluar? Bagaimana jika dia sibuk? Atau, bagaimana jika Mark tak ingin menghabiskan waktu pekan dengan dirinya?. Merasa bimbang sangat lah menguras tenaga karena pada akhirnya Donghyuck hanya menatap layar ponselnya yang menunjukkan roomchat nya dengan Mark, sambil berbaring di atas kasur. Tak lama setelah dia berbaring, tiba-tiba saja ada notifikasi pesan dari Mark yang membuatnya langsung terduduk.
Donghyuck pun bergegas bersiap-siap untuk pergi, dengan setelan pakaian yang bisa dibilang santai namun tidak mengurangi kadar ketampanannya bahkan sebaliknya, dia terlihat semakin tampan dengan pakaian yang ia pilih, kaus hitam yang dipadu dengan celana jeans skinny fit hitam dan sepatu sneakers putih, tak lupa dengan jam tangan dan kacamata dengan frame transparan miliknya. Baru saja Donghyuck keluar dari pintu, dia bergegas masuk kembali kedalam kamar miliknya dan menyemprotkan sedikit parfum pada tubuhnya, setelah yakin tak ada lagi yang terlupakan, akhirnya dia bergegas untuk berangkat menjemput Mark di kediamannya.
Tak lama setelah mengabari Mark bahwa dia telah sampai di depan rumahnya, Mark keluar dari kediamannya dengan penampilannya yang terlihat manis di mata Donghyuck, baju polo bergaris dengan lengan panjang dan dipadukan dengan celana jeans loose fit dan sepatu berwarna cokelat.
“Ayo Hyuck, kakak sudah siap,” ucap Mark setelah masuk ke dalam mobil yang dikendarai Donghyuck.
Namun, bukannya menjawab Mark dan bersiap untuk berangkat sesuai dengan rencana, yang dilakukan Donghyuck hanya lah menatap Mark dengan pandangannya yang tanpa ia sadar terlihat seperti memuja sosok yang duduk di sampingnya.
“Hyuck?”
“Eh! Iya Kak, ayo berangkat,” ucap Donghyuck setelah sadar dari keterdiamannya, segera dia menyalakan kembali mobilnya untuk mendistraksi dirinya dari rasa malu yang tiba-tiba saja menghinggapi dirinya.
Saat sudah mau menjalankan mobilnya, Donghyuck melirik sekilas ke arah Mark dan segera melepas sabuk pengamannya dan bergerak ke arah Mark. Terkejut dengan tindakan yang tiba-tiba dilakukan yang lebih muda, Mark menatap Donghyuck dengan wajah yang terheran-heran.
“Nah, sip, sudah siap,” Donghyuck kembali duduk di kursinya, “Kakak nih kebiasan banget malas pasang seat belt, bahaya Kak,” omel Donghyuck sambil kembali memasang sabuk pengaman untuk dirinya dan menjalankan mobilnya.
“Hahaha, maaf maaf, lain kali Kakak janji bakal ingat dan lebih aware,deh.”
“Jangan cuma ngomong saja loh Kak,” gerutu Donghyuck dengan melirik sekilas ke arah orang yang duduk di kursi penumpang sebelahnya.
“Iyaaa, Adek Donghyucknya Kakak,” ucap Mark sambil mengusap lembut surai milik Donghyuck dan mencubit pipinya main-main.
Setelah agenda berbelanja yang terjadi sedikit drama —bagaimana tidak, Donghyuck terus-menerus ingin membayar segala apa yang dibeli oleh Mark, namun tentu saja ditolak karena Mark merasa dia masih mampu untuk membayar apa yang dia beli dan lagipula dia yang paling tua diantara mereka berdua, membuat egonya tersentil sedikit—, akhirnya mereka sampai di taman, tempat mereka biasa menghabiskan waktu luang saat penat karena selain tempatnya yang menyediakan orang-orang untuk beristirahat dan menikmati pemandangan, di tempat itu juga tersedia Pujasera sehingga pengunjung taman tidak perlu pusing mencari tempat untuk makan. Dan disalah satu stand terdapat telur gulung yang sangat enak dan tidak ada yang bisa menandinginya, saking sukanya terhadap jajanan tersebut, Mark sempat bersedih saat stand telur gulung tersebut tutup untuk sementara karena penjualnya pulang kampung.
“Jangan beli banyak-banyak Kak, nanti malah radang,” tutur Donghyuck dengan nada memperingati yang lebih tua karena terakhir kali Mark dibiarkan membeli telur gulung yang banyak, dia berakhir mengalami radang tenggorokan selama seminggu.
“Iyaaa, aku cuman beli 10 ribu kok.”
Selesai dengan membeli segala jajanan yang diinginkan, mereka akhirnya memilih untuk duduk di kursi yang letaknya sangat strategis karena tempatnya disamping pohon sehingga cabang dari dahannya bisa menjadi kanopi dari sinar mentari.
“Ah! Kakak mau ke kamar mandi dulu ya, Hyuck.”
Belum sempat Donghyuck menjawab ucapannya, Mark sudah bergegas pergi. Sambil menunggu, Donghyuck memainkan ponselnya; membalas pesan, melihat apa yang menarik di aplikasi media sosial miliknya dan berakhir bermain game.
Layar ponselnya berubah menjadi hitam untuk memuat permainan yang ia pilih, namun saat dia melihat wajahnya sendiri di layar ponselnya tiba-tiba saja Donghyuck kembali memikirkan perasaannya untuk Mark. Sejujurnya, Donghyuck tidak tahu apa yang terjadi padanya, mengapa tiba-tiba saja dia merasakan hal tersebut ataupun segala tingkah lakunya yang baru pertama kali dia lakukan bahkan sebelum dia tersadar apa yang sedang dia lakukan.
Mark adalah teman yang sudah menemaninya sejak dia di bangku menengah pertama, pertemuan pertama mereka terjadi saat di hari pertama sekolah Donghyuck kelimpungan mencari letak kamar mandi sekolah barunya dan karena kurang awas berakhir dia tidak sengaja menabrak kakak kelasnya, saat itu saking tidak tahannya dengan proses biologis yang sedang berlangsung dengan tubuhnya, Donghyuck berakhir sesegukan karena frustasi antara ingin buang air kecil, kebingungan mencari kamar mandi dan malu karena tidak sengaja menabrak orang. Untungnya, kakak kelas yang tidak sengaja ia tabrak berbaik hati mengantarkannya ke kamar mandi dan tidak butuh waktu lama, Donghyuck langsung segera memasuki salah satu bilik, melupakan orang baik hati yang sudah mengantarkannya. Setelah menyelesaikan kebutuhannya, Donghyuck teringat dengan kakak kelas yang mengantarnya, namun saat ia ingin mengucapkan terima kasih ternyata orang itu sudah pergi.
Seminggu semenjak kejadian memalukan yang dialami Donghyuck, dia akhirnya menemukan kakak kelas baik hati yang menolongnya saat dia sedang mengantri makanan. Lantas pada saat itu, akhirnya mereka saling berkenalan, Donghyuck pun tak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan Mark, Sang Kakak Kelas, pada saat seminggu lalu.
Di mulai dari pertemuan tidak sengaja mereka di hari pertama sekolah, takdir seakan mengikat mereka dalam benang merah yang terus-menerus mempertemukan mereka dimanapun dan kapanpun, dan seakan enggan untuk memisahkan mereka terlalu lama maupun terlalu jauh.
Saat sedang melamun dan bernostalgia tentang masa lalunya, Donghyuck tersentak saat merasakan pundaknya di tepuk, dia segera menoleh untuk mengetahui siapa pelaku yang menepuk pundaknya. Namun, saat dia menoleh yang dia dapati adalah Mark yang menatapnya secara terheran.
“Kamu ngapain, Hyuck? Aku panggilin tadi gak noleh,” ucap Mark sambil bergerak ke arah tempat duduk tepat di depan Donghyuck.
“Ehhh, tadi lagi kepikiran genshin, kapan kira-kira Dainsleif playable, gak sabar mau pull dia,” ujar Donghyuck dengan cengirannya yang lebar.
“Astaga, kupikir kenapa ternyata cuma kepikiran game,” cibir Mark dengan sedikit menggelengkan kepalanya sambil tangannya mulai mengambil telur gulung untuk dia makan.
“Ini bukan cuma, Kak! Aku sudah nungguin Dainsleif dari awal pertama kali dia muncul! Dan aku bakal nungguin dia mau seberapa lamapun itu,” protes Donghyuck dan diakhri senyuman yang memperlihatkan tekadnya yang berkobar.
“Iya-iya, maafin Kakak deh sudah meremehkan kecanduanmu itu,” ujar Mark dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Waktu tanpa terasa cepat berlalu, sekarang Donghyuck sudah kembali ke rumahnya, berbaring di kasurnya setelah membersihkan dirinya selepas berkegiatan dari luar, setelah menyamankan dirinya, Donghyuck terbawa ke dalam momen seharian yang dilakukannya dengan Mark dan kembali terjebak dalam kebingungan terhadap perasaannya sendiri.
Donghyuck terjebak dalam kebingungannya sendiri, tanpa ada satupun yang bisa dia percaya untuk membantunya memahami apa yang sebenarnya sedang dia rasakan. Tak ada keberanian dalam diri Donghyuck untuk sekedar bertanya kepada orang yang dekat dengannya dan perasaan aneh yang dia alami rasanya sangatlah asing sehingga membuatnya malu untuk sekedar bertanya apa yang sebenarnya terjadi karena itu dia memilih untuk menguburnya dalam-dalam.
Namun, rasa lelah termakan oleh rasa frustasinya yang terus-menerus seakan menyesakkan dan rasa penasaran yang sangat tinggi, Donghyuck pada akhirnya mengalah melawan egonya dan bergegas mengambil ponsel miliknya untuk menelepon seseorang yang selalu dia percaya, seseorang yang selalu bisa membantunya, dan seseorang yang menjadi objek dalam pikirannya yang berkabut, Mark.
“Hyuck, kenapa nelpon?” tanya Mark yang sedang bersender di kursinya, menonton drama korea dan sedang menyemil makanan ringan saat Donghyuck menelponnya.
“Kak Mark ....”
Merasa bahwa telfon ini akan membahas sesuatu yang serius, Mark menegakkan punggungnya dan bertanya dengan nada khawatir, “Hyuck? Kamu gapapa? Kok suaranya lemes banget?”
“Kak Mark ... A—aku bingung ....”
“Bingung kenapa, Hyuck? Pelan-pelan saja ngomongnya, Kakak ada disini,” Mark mencoba untuk sedikit menenangkan Donghyuck melalui kata-katanya karena ini pertama kalinya dia mendengar suara Donghyuck seperti ini. Donghyuck adalah personafikasi dari matahari, bersikap optimis adalah salah satu ciri khas darinya namun sepertinya sedang ada awan yang menutupi sinarnya.
“Aku ... aku gak tahu tepatnya kapan aku ngerasa kaya gini ke Kakak, aku bahkan gak tahu apa yang sebenarnya terjadi sama diriku sendiri, aku cari di internet katanya aku suka sama Kakak tapi memangnya suka itu apa??? Aku bahkan gak tahu arti suka itu sebenarnya apa!!!” pekik Donghyuck secara frustasi, sedangkan Mark di seberang sana tertegun diam; mencerna informasi yang baru saja dia dengar dan memberikan Donghyuck waktu untuk meluapkan segala keresahan hatinya.
“Google said I have a crush on you, but I don't even know what it means, Kak,” lirih Donghyuck seakan semua energi yang biasa ia pancarkan meredup seperti cuaca mendung yang selalu membuat orang-orang enggan untuk beraktifitas.
“Please please please, bantu aku Kak, bantu aku paham sama perasaanku sendiri, bantu aku untuk cari tahu kenapa aku gak bisa menghentikan rasa asing ini ke Kakak.”
Donghyuck memohon dengan sangat hingga diambang hampir menangis bahkan jika saat ini dia berhadapan langsung dengan Mark, ia takkan ragu untuk bersimpuh memohon belas kasihannya agar Mark dapat membantu menyelesaikan permasalahan dalam dirinya.
Hanya ada keheningan untuk beberapa saat —keheningan yang rasanya menyesakkan untuk Donghyuck— hingga sambungan telfon tersebut diputuskan secara sepihak oleh Mark.
Hancur. Seakan baru saja kehilangan nyawanya, Donghyuck terdiam dengan lemas di posisinya, bahkan sekedar untuk mengangkat jarinya saja dia tidak bisa, seperti boneka marionet yang kehilangan talinya. Pandangannya kosong, menatap lantai kamar tidurnya, tak ada satupun yang ada dalam pikirannya, kosong.
Hingga akhirnya dia mulai tersadar dan hanya ada rasa penyesalan dalam dirinya. Kepalanya dipenuhi dengan segala skenario pengandaian.
‘Seharusnya dia tidak bertanya’
‘Seharusnya dia atasi semua masalah ini sendiri’
‘Seharusnya perasaan asing ini tidak usah muncul!!!’
Dan skenario-skenario itu terus memenuhi isi kepala Donghyuck tanpa ia bisa hentikkan, membuatnya tenggelam dalam pikirannya.
Waktu demi waktu, Donghyuck habiskan bergelung di atas kasurnya, menyesali perbuatannya sampai seseorang masuk ke dalam kamarnya dengan tidak sabaran, Mark.
Mark terkejut dengan pemandangan di hadapannya, Donghyuck yang sedang menangis dan wajahnya yang terlihat sangat kusut. Mark menatapnya dengan tatapan yang bersedih dan ada rasa menyesal dalam hatinya.
Mark melangkahkan kakinya ke arah Donghyuck dan saat sudah dekat, ia mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata yang masih mengalir di wajah yang lebih muda.
“Why you hang up on me?”
“Donghyuck, Kakak gak bermaksud untuk matiin telpon kamu, Kakak bahkan gak sadar matiin karena tadi yang ada dipikiran Kakak cuma cepet-cepet ketemu kamu,” sesal Mark sambil membantu Donghyuck untuk duduk dan mendudukkan dirinya di samping Donghyuck.
Merasa takkan ada jawaban dari yang lebih muda yang masih senantiasa menatap lantai kamarnya, Mark melanjutkan ucapannya, “Untuk ucapanmu tadi di telpon, boleh ya Kakak cerita dulu. Kakak juga merasakan apa yang kamu rasakan, rasa berdebar saat di sampingmu, rasa nyaman karena Kakak bersamamu, dan rasa yang menyesakkan saat gak lagi bareng kamu. I never have any oppurtunity to tell you this since I’m afraid to ruin what we have but aku yakin sama perasaanku yang terasa asing ini kalau aku suka kamu, Hyuck.”
“Tapi ... seperti yang aku bilang ke Kakak, aku bahkan gak tahu apa yang kurasakkan sebenarnya.” Ucap Donghyuck dengan sangat lirih.
Tak lama setelah mengucapkan itu, Mark bergerak mendekat ke arah Donghyuck dan mengangkat dagunya.
Kedua bilah bibir saling bersentuhan, menempel untuk beberapa saat hingga yang paling muda melepaskan dirinya dan bergerak mundur.
“Kak Mark!” Donghyuck menutup bibirnya dengan telapak tangannya dan wajahnya yang berubah merah padam. Sungguh, demi apapun di muka bumi ini, dia tak pernah terpikirkan skenario dimana bibir mereka saling menempel satu sama lain bahkan rasa bibir yang lembut milik yang lebih tua masih bisa ia rasakan, mengingatnya saja membuat jantungnya seakan mau meledak dari tempatnya.
Bukannya langsung menjawab, Mark mengambil salah satu tangan milik Donghyuck dan meletakkannya di atas dada miliknya, “Kamu bisa merasakan, Hyuck. Bagaimana berdebarnya jantung Kakak setelah cium kamu, sama seperti jantung kamu yang berdebar selaras dengan Kakak.”
Mark memberikan waktu untuk Donghyuck mencerna segala apa yang terjadi, sambil menatapnya dengan pandangan yang tulus sarat akan cinta.
“Aku— suka Kakak?” Donghyuck perlahan menatap mata milik Mark, seakan mencari pembenaran dalam kalimatnya.
Detik berubah menjadi menit dan mereka masih tertahan di posisi mereka, Mark yang menggenggam tangan Donghyuck di atas dadanya dan Donghyuck yang menatap Mark tanpa henti.
“Astaga! Aku suka Kakak?! Aku— aku suka Kakak!” Dengan informasi yang baru ia sadari, Donghyuck akhirnya menyadari bahwasanya ia telah jatuh hati atas pesona Mark.
Mark terkekeh geli dengan keadaan Donghyuck yang terlihat sangat lucu di matanya, wajahnya yang masih terlihat bekas air mata yang sebelumnya mengalir, namun di wajahnya juga terlihat betapa terkejutnya dia dengan matanya yang terbuka lebar dan mulutnya yang menganga.
“Kak Mark! Jangan ketawa dulu!” rengek Donghyuck sambil menggoyangkan tangan milik yang lebih tua.
“Hahaha, maaf-maaf, habisnya kamu lucu banget.”
“Kakak juga cantik.”
“Ehhh, gimana gimana Hyuck, tadi kamu bilang apa,” Mark terkejut dengan ucapan Donghyuck yang tiba-tiba.
“Eh! Ehhhh, Astaga! Aku gak maksud! Aduh wait! Bukan begitu, Kakak memang cantik tapi aku gak sadar ngomong begitu! Beneran deh, Kak! Bukan sebaliknya, Kakak cantik, kok. Tapi aku gak maksud ngomong itu disaat keadaan kita kaya gini. Aaaa! Aku ngomong apa sih! Huhuhu, maafin aku, Kak,” Hanya ada kepanikan di dalam diri Donghyuck setelah sadar apa yang dia ucapkan sebelumnya.
Balasan dari ocehan atas kepanikannya hanyalah sebuah tawa dari Mark yang semakin lama, semakin lepas dan Donghyuck terpana dengan pemandangan yang ia lihat.
Setelah beberapa menit tertawa, Mark akhirnya mulai menenagkan dirinya, “Kamu nya jangan panik begitu, dong. Kakak kan jadinya ingin jailin kamu.”
“Tapi, ini kamu sudah yakin sama perasaan kamu?” tanya Mark kembali ke topik sebelumnya setelah melihat betapa merah padamnya paras yang lebih muda.
“Yakin! Kaya yang Kakak bilang, aku bisa merasakan berdebar kalau sama Kakak, aku juga merasakan nyaman kalau bareng sama Kakak, dan rasanya gak nyaman kalau gak ada di samping Kakak. Jadi ... I love you?”
“Hahaha, kenapa diakhir kesannya kaya kamu bertanya ke Kakak, sih.” Mark tertawa dengan lepas melihat Donghyuck yang terlihat seperti anak kecil yang sedang memohon persetujuan orang tuanya untuk membeli permen. Sedangkan, Donghyuck sendiri menggaruk pipinya karena merasa malu dan berdeham kecil untuk mengatasi kegugupannya.
Selesai dengan tawanya, Mark menghapus air mata yang ada di sudut matanya dan merasa sudah lebih tenang, dia berucap kepada Donghyuck dengan tubuhnya yang dicondongkan ke arahnya, “Coba sekarang bilangnya dengan nada yakin, Kakak mau dengar.”
“Kak Mark, walau aku masih belum paham banyak dengan apa yang kurasakan sekarang, satu hal yang pasti, aku yakin dengan yang kurasakan kalau aku suka Kakak. So, please listen to my selfish wish, could you be mine and help me in understanding my feelings towards you more, please?” Ucapnya dengan mantap sambil memandang iris mata Mark yang seakan menenggelamkan dirinya dalam pesona yang dimiliki oleh yang lebih tua.
Mark lantas memajukan wajahnya ke arah Donghyuck dan mengusap wajah yang lebih muda, perlahan namun pasti, bibir mereka berdua saling bersentuhan untuk yang kedua kalinya. Berbeda dengan yang sebelumnya, kini Mark bergerak lebih berani, dia mendudukan dirinya dipangkuan Donghyuck dan menyamankan dirinya, mengambil kedua tangan Donghyuck untuk menaruhnya di pinggangnya dan melingkarkan tangannya di bahu yang lebih muda. Ciuman yang terkesan polos dan penuh kelembutan, berisi lumatan-lumatan dan jilatan kecil yang dipimpin oleh Mark.
Mark mulai menjauhkan wajahnya untuk mengambil nafas dan berakhir melihat betapa terengah-engah dan kacau wajah milik Donghyuck; rona di kedua belah pipinya yang bisa menyaingi warna tomat, matanya yang terlihat berkabut, dan bibirnya yang mengkilat karena air liur mereka.
“Okay.”
“Okay?”
“Jawaban untuk pertanyaanmu sebelumnya, Hyuck.”
Masih belum tersadar mengenai apa percakapan yang sedang dilakukan, Donghyuck hanya bisa menatap Mark dengan bingung, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum manis dan mengusap sayang rahang miliknya hingga akhirnya dia paham apa yang di maksud oleh Mark dengan segera dia kembali menyatukan kedua bilah bibir mereka, membalik posisi mereka dan membaringkan tubuh Mark di atas ranjang miliknya.
Ciuman yang terkesan sangat amatir itu benar-benar berantakan, jilatan dan lumatan yang terus dilakukan oleh Donghyuck membuat ruangan miliknya penuh dengan suara decakan milik mereka. Setelah beberapa menit mereka habiskan dengan bercumbu dan mulai menenangkan diri, Donghyuck terpanah untuk kesekian kalinya, Mark yang terbaring di atas ranjangnya dengan wajah cantik miliknya yang terlihat sayu, helaian rambutnya yang menempel pada dahinya, bibirnya yang mengkilat dan memerah, dan tak lupa rona merah di pipinya.
Kepala Donghyuck dipenuhi beberapa kata pujian yang bisa dia ucapkan untuk Mark walau rasanya pujian yang ada di muka bumi tidak bisa menjelaskan dengan benar betapa indahnya Mark di matanya, namun dari semua yang ia bisa ia sampaikan kepada yang lebih tua hanya kalimat ini yang ia rasa pas untuk dia ucapkan.
“I love you.”
